BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.2. Saran
Berdasarkan hasil-hasil penelitian dapat disarankan sebagai berikut:
1. Agar dilakukan penelitian lebih lanjut pada produk mie basah atau mie lainnya dengan menggunakan metode atau alat lain.
2. Agar dilakukan penetapan kadar pada sampel selain mie, seperti lontong, tahu, otak-otak atau kerupuk yang diketahui sering ditambahkan boraks pada pembuatannya di pasar-pasar besar lainnya. 3. Agar adanya penertiban dan kerja sama dari berbagai pihak dalam
memberikan informasi tentang penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak boleh digunakan pada makanan agar masyarakat dapat mengerti.
DAFTAR PUSTAKA
Basir. Keberadaan Asam Borat pada Bahan Makanan . Buletin penelitian dan pengembangan Industri.1992; 15,39-40
Cahyadi, wisnu. Analisa dan Aspek kesehatan Bahan Tambahan pangan.Bumi Aksara.Jakarta.2008; 4, 252 – 253, 266 – 267
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 49 -50,427-428 Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta :
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan 1979; 605,1061-1063 Departemen Kesehatan R.I. Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No.
1168/MENKES/PER/X/1999. Tentang Bahan Tambahan Makanan
.Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.1999
Des Rosier, N.W. Teknologi Pengawetan Pangan,edisi III.UI Press.Jakarta.1988;76-77
Dibble,W.T,Analytical Chemistry vol.26.1965;418-421
Dit. Jen. POM. Penggunaan pengawet, Pewarna dan Pemanis pada Produk Mie,
Bakso, Kerupuk, dan Minuman Ringan. Buletin Direktorat Jendral POM.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1994; 16, 22, 26, 29
Dreisbach, R.H.Handbook of Poisoning, 8th ed. Lange Medical Publication,Los Altos, Calirornia.1974; 314-315
Flanaga, R.J.,Braithwaite,R.A.,Brown,S.S.,Widdop,B.,de Wolff,F.A.Basic
Analytical Toxicology, World Healt Organization. Geneva1995; 85
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2009. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal: 18-19;199;456-474
Goodman, LS,, Gilman, A. The Pharmacological Basis of Therapeutics 5th ed.
Macmillan Publishing Co.,Inc,NY.1975; 994 – 995.
Gosselin, R.E.,Smith,Robert P.,Hodge,H.C.,Clinical Toxicology of Commercial
Products, 5th ed London.66-68.
Haddad, L.M.,Winchester,J.F.Borats on Clinical Management of Poisoning and
Drug Overdose.WB Saunders Co. Philadelphia-London-Montreal-
Toronto-Sydney-Tokyo.1990; 1447-1449.
Horwitz, Wiliam. Official Method of Analysis of the Association of official
Analytical Chemist International,17th ed.AOAC Inc, USA. 2002; 11-12.
http://dapurvie.multiply.com/journal/item/46/Mie_aYAm. 12 Juni 2009. pukul 17.25.
Ibrahim, slamet.,Sriwoelan S.Seri Farmakokimia Metode Volumetri.ITB press.2007
Mulya, Muhammad., Syahrani,Ahmad.Aplikasi Analisis Spektrofotometri Uv- Vis..Mechipso Grafika.Surabaya.1987; 3 -44.
Mujamil, jejen. Boraks pada Beberapa Jenis Makanan di Kotamadya Palembang
. Cermin Dunia Kedokteran.1997 ; No. 120 hal 17-21.
Reynold, J. E. F. Martindale The Extra Pharmacopoeia, 28th ed. The Pharmaceutical Press. London. 1982; 337, 432.
Roth, H.J.Pharmaeutische Analytic.George thime Verlag.Sutgart.1978;22-23. Soetanto.1992.Penetapan Kadar Boraks Dlam Bakso Dengan Metode
Spektrofotometri Sinar Tampak Menggunakan Pereaksi Kurkumin.skripsi
Proram Sarjana Farmasi.FMIPA-UNAIR.Surabaya.
Setiono, L.,Pudjaatmaka, A.H. Vogel, Buku Teks Analisa Anorganik Kualitatif
Makro dan Semimakro,ed 5. PT Kalman Media Pusaka. Jakarta.1985;368.
Winarno, F.G.,Sulistyowati, Titi. Bahan Tambahan untuk Makanan dan
Kontaminan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 1994; 104-105, 108.
Winarno, F.G.,Sulistyowati, Titi. Bahan Tambahan untuk Makanan dan
Kontaminan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 1994; 6-10.
Winarno, F.G.Kimia Pangan dan Gizi.Gramedia Press.Jakarta.1988; 224 – 225.
Windholz, Martha, et el.The Merck Index,10th ed.Merck & Co,Inc.New York, USA.1983; 255 – 257.
Zulharmita, Akmal. Kandungan Boraks pada Makanan Jenis Mie yang Beredar
di Kotamadya Padang. Cermin Duni
Kedokteran. Grup PT Kalbe
Farma,1995; 27
Lampiran 1. Sampel Boraks
Lampiran 2. Skema Kerja
a. Pembuatan larutan uji dan pereaksi.
Larutan Uji
NaOH 10 % Kurkumin 0,125% Asam Sulfat Pekat : Asam
asetat (1 : 1)
Timbang 100 gr NaOH
Larutkan dengan Aquadest hingga larut
Timbang 125 mg Kurkumin
Dilarutkan dengan asam asetat pekat 100
Siapkan 50 ml asam asetat pekat dan 50 ml asam sulfat
pekat
Masukan 50 ml asam asetat Pekat ke dalam labu ukur 100 Masukan ke labu
ukur 100 ml dan ad kan dengan Aquadest sampai garis tanda
Tambahkan 50 ml asam sulfat pekat sedikit demi sedikit
Kocok pelan-pelan hingga homogen
b. Pembuatan mie basah simulasi
Timbang tepung terigu 250 gr, garam 0,5 gr soda kue 0,4 gr dan 1
buah telur ayam
Campurkan semua bahan diatas aduk hingga homogen
Tambahkan air suling 15 ml
Aduk Kembali hingga homogen
Giling dengan alat penggiling mie
Ambil 20 gr dari adonan sebanyak 11 buah
Tambahkan boraks pada 20 gr adonan sehingga didapatkan deret boraks
dalam mie basah
Aduk hingga tercampur rata
Giling dengan alat penggiling mie
Cetak mie dengan alat pencetak mie
• 2.5 mg boraks untuk 6,25 µg/M • 4 mg boraks untuk 10 µg/mL • 5 mg boraks untuk 12,5 µ g/mL • 7mg boraks untuk 18,75 µg/mL • 8mg boraks untuk 20 µ g/mL • 10 mg boraks untuk 25 µg/mL • 12 mg boraks untuk 30 µg/mL • 12,5 mg boraks untuk 31,25 µg/mL • 15 mg boraks untuk 37µg/mL • 17,5 mg boraks untuk 43,75 µg/mL • 20 mg boraks untuk 50 µg/mL
c. Pembuatan larutan dari 11 mie basah simulasi yang mengandung boraks dengan kadar 6,25-50 µ g/ml
Timbang 5 gr mie basah yang sudah terdapat boraks
Masukkan ke dalam labu alas bulat kemudian tambahkan 20
ml H2SO4 pekat
Kemudian di refluks agar tercampur selama 5 menit sampai larutan bergerak dan
Labu didinginkan ke dalam air es ± 1 menit (jika ada asap
dibiarkan sebentar)
Tambahkan 20 ml H2O2 30%
Biarkan hingga bergulak dan timbul asap dan larutan menjadi
jernih
Dinginkan dalam air es, diamkan pada suhu ruangan
Pindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dan ditambahkan Aquadest sampai garis tanda
Gambar 11. Skema pembuatan larutan dari 11 mie basah simulasi yang mengandung boraks dengan kadar 6,25-50 µg/ml
d. Penentuan panjang gelombang maksimum pada larutan mie basah simulasi dengan kadar 25 µg/ml
Pipet 1 ml Larutan mie basah dengan kadar 25 µg/ml masukkan dalam cawan penguap
Tambahkan NaOH 10% 1 ml
Panaskan dalam water bath hingga kering (1,5 )
Masukkan Cawan dalam oven suhu 1000C ± 50C ± 30 menit
Pindahkan dan dinginkan pada suhu ruangan
Tambahkan 3 ml larutan kurkumin 0,125% aduk hingga homogen ±5 menit
Tambahkan 3 ml asam asetat – asam pekat (1 : 1) aduk hingga warna kuning tidak terihat
Diamkan selama 15 menit
Larutkan dengan alkohol 96% kemudian dimasukkan ke labu ukur 100 ml dan tambahkan alkohol sampai garis tanda
Kemudian baca pada spektrofotometri Uv-Vis pada panjang gelombang 400 – 600 nm
Gambar 12. Skema Penentuan panjang gelombang maksimum pada larutan mie basah simulasi dengan kadar 25 µg/ml
e. Pembuatan kurva kalibrasi dan validasi metode
Pipet masing-masing 1 ml Larutan mie basah dengan kadar ,25 µg/ml,10 µ g/ml, 12,5 µg/ml, 18,75 µg/ml, 20 µg/ml, 25 µg/ml,30
µg/ml, 31,25 µg/ml, 37,5 µg/ml, 43,75 µg/ml, 50 µg/ml dan masing-masing dimasukkan dalam cawan penguap
Tambahkan NaOH 10% 1 ml
Panaskan dalam water bath hingga kering (2,5 – 3 jam)
Masukkan Cawan dalam oven suhu 1000C ± 50C ± 30 menit
Pindahkan dan dinginkan pada suhu ruangan
Tambahkan 3 ml larutan kurkumin 0,125% aduk hingga homogen ±5 menit
Tambahkan 3 ml asam asetat – asam pekat (1 : 1) aduk hingga warna kuning tidak terihat
Diamkan selama 15 menit
Larutkan dengan alkohol 96% kemudian dimasukkan ke labu ukur 100 ml dan tambahkan alkohol sampai garis tanda
Kemudian baca pada spektrofotometri Uv-Vis pada panjang gelombang 545,95 nm
f. Pengujian Sampel mie basah pasar 1. Uji Kualitatif
Uji Kualitatif
Uji nyala api Uji Kurkumi
Timbang sampel 5 gr masukkan pada cawan penguap
20 gr sampel di bubuhi hablur Natrium Karbonat
Tambahkan H2SO4 10 tetes Arangkan diatas nyala api
bunsen
Tambahkan 2 ml metanol
Abukan didalam tanur listrik
Bakar
Indikator positif jika nyala api berwarna hijau
Dinginkan
Tambahkan beberapa tetes asam klorida 5 N
Tambahkan 4 tetes asam oksalat jenuh dan 1 ml ekstrak etil
alkohol kurkumin
Uapkan di Water Bath
Indikator positif jika warna merahceri berubah jadi hijau kehitaman saat ditambahkan
NaOH encer
2. Uji Kuantitatif
Timbang 5 gr sampel mie basah
Masukkan ke dalam labu alas bulat kemudian tambahkan 20 ml H2SO4 pekat
Kemudian di refluks agar tercampur selama 5 menit sampai larutan bergerak dan
licin
Labu didinginkan ke dalam air es ± 1 menit (jika ada asap
dibiarkan sebentar)
Tambahkan 20 ml H2O2 30%
Biarkan hingga bergulak dan timbul asap dan larutan menjadi
jernih
Dinginkan dalam air es, diamkan pada suhu ruangan
Pindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dan ditambahkan Aquadest sampai garis tanda
Lanjutan
Pipet 1 ml Larutan sampel mie basah masukkan dalam cawan
Tambahkan NaOH 10% 1 ml
Panaskan dalam water bath hingga kering (2,5 – 3 jam)
Masukkan Cawan dalam oven suhu 1000C ± 50C ± 30 menit
Pindahkan dan dinginkan pada suhu ruangan
Tambahkan 3 ml larutan kurkumin 0,125% aduk hingga homogen ±5 menit
Tambahkan 3 ml asam asetat – asam pekat (1 : 1) aduk hingga warna kuning tidak terihat
Diamkan selama 15 menit
Larutkan dengan alkohol 96% kemudian dimasukkan ke labu ukur 100 ml dan tambahkan alkohol sampai garis tanda
Kemudian baca pada spektrofotometri Uv-Vis pada panjang gelombang 545,95 nm
5 45.95
Lampiran 3. Penentuan panjang gelombang maksimum
2.00 1.8 1.6 1.4 1.2 1.0 A 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0 -0. 20 450.0 500 550 600 650 700 750.0 nm
Gambar 16. Kurva absorpsi boraks dengan pereaksi kurkumin Keterangan : Panjang gelombang 545,95 nm
Lampiran 4. Pembuatan kurva kalibrasi
Tabel 1. Pengukuran serapan konsentrasi larutan boraks pada panjang geombang 545,95 nm Konsentrasi (µg/mL) Serapan (A) 6,25 0,0934 12,5 0,1623 31,25 0,3862 37,5 0,4752 43,75 0,5387
Lampiran 5. Penentuan batas deteksi dan batas kuantitasi boraks pada mie basah simulasi
Tabel 2. Hasil penentuan batas deteksi dan batas kuantitasi boraks pada mie basah simulasi
Konsentrasi ( g/mL)
Serapan
(A) y' y-y' (y-y')2
6,25 0,0934 0,083 0,0104 0,00010816 12,5 0.1623 0,158 0,0043 0,00001849 31,25 0,3862 0,383 0,0032 0,00001024 37,5 0,4752 0,458 0,0172 0,00029584 43,75 0,5387 0,533 0,0057 0,00003249 Jumlah 0,00046522 S (y / x)2 = y−y ² −2 = 0,000155073 S (y / x) = 0,000155073 = 0,01245284439 = 0,012453 a. LOD LOD = 3. S(y / x ) = 3 x 0,012453 = 3,1132 µg/mL b 0,012 b. LOQ LOQ = 10. S(y / x ) = 10 x 0,012453 = 10,3775 µg/mL b 0,01
Lampiran 6. Uji perolehan kembali mie basah simulasi Tabel 3. Hasil uji perolehan kembali mie basah simulasi
C sbnrnya ( g/mL) Absorban (A) C yang diperoleh ( g/mL) UPK (%) Rata-rata UPK (%) Rata-rata UPK±SD (%) 0,1295 10,125 101,25 0,1294 10,117 101,01 10 0,1294 10,117 101,01 101,09 0,2454 19,78 98,9 0,2454 19,78 98,9 20 0,2453 19,77 98,85 98,88 0,3656 29,8 99,33 0,3656 29,8 99,33 30 0,3655 29,79 99,33 99,33 99,767±1,114 X = 99,767
UPK = nilai yang diperoleh x 100 % Nilai yang sebenarnya
=
100 %
Lampiran 7. Uji Presisis mie basah simulasi Tabel 4. Hasil Uji Presisi mie basah simulasi
C sbnrnya ( g/mL) Absorban (A) C yang diperoleh ( g/mL) UPK (%) Rata-rata UPK (%) (x-x) ( (x-x) )2 0,1295 10,125 101,25 0,1294 10,117 101,01 10 0,1294 10,117 101,01 101,09 1,323 1,750329 0,2454 19,78 98,9 0,2454 19,78 98,9 20 0,2453 19,77 98,85 98,88 -0,887 0,786769 0,3656 29,8 99,33 0,3656 29,8 99,33 30 0,3655 29,79 99,33 99,33 -0,437 0,190969 X = 99,767 = 2,481028 a. SD = ( ( − ) = −1 2,481028 2 = 1,113783641 = 1,114 b. KV = 1,114 100 % 99,767 = 1,116601682 % = 1,12 %
Lampiran 8. Penetapan kadar boraks pada mie basah yang beredar di pasar Ciputat Tabel 5. Hasil Identifikasi boraks pada empat sampel mie basah pasar Ciputat.
Sampel Berats ampel (gr) absorban Kadar (ppm) Kadar rata- rata Kadar rata-rata ± SD (%) Sampel 1 5,0004 5,0004 5,0004 0.0538 0,0529 0,0527 3,8167 3,74167 3,725 3,76112 3,76112±0,0451 Sampel 2 5,0004 5,0004 5,0004 1,3112 1,3113 1,3108 108,6 108,6083 1008,567 108,592 108,592±0,02185 Sampel 3 5,0004 5,0004 5,0004 1,4232 1,4234 1,4235 117,93 117,95 117,9583 117,9461 117,9461±0,01455 Sampel 4 5,0004 5,0004 5,0004 0,0835 0,0834 0,0830 6,2917 6,2833 6,25 6,275 6,275±0,0221
Lampiran 9. Alat yang digunakan dalam penelitian
Gambar 17. Spektrofotometer Uv Vis
Gambar 18. Penggiling adonan mie
Lampiran 10. Sampel mie basah dari pasar Ciputat .
Lampiran 11. Hasil uji kualitatif mie basah dari pasar Ciputat Sumber Sampel Mie
basah
Uji nyala api Uji Warna dengan Kurkumin
Bandung
Ciputat 1
Ciputat 2
Parung
Tangerang
Gambar 21. Hasil Uji Kualitatif sampel mie basah dari pasar Ciputat
7 3