• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.3 Saran

Adapun saran yang dimiliki terhadap keterbatasan penelitian ini yaitu: 1. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan ruang lingkup penelitian

yang lebih luas, mengambil objek perusahaan perbankan yang go public maupun yang belum. Hal ini dimaksudkan agar hasil

penelitian ini dapat digeneralisasikan untuk seluruh perusahaan perbankan yang terdapat di Indonesia.

2. Indikator penelitian ini dapat ditambah, seperti untuk variabel audit internal ditambah dengan jumlah audit yang dilakukan, untuk variabel

good corporate governance dapat ditambah dengan indikator kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional serta beberapa indikator lain yang dapat digunakan, sehingga hasil penelitian dapat lebih memprediksi faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan.

3. Periode pengamatan lebih dari tiga tahun, sehingga dapat melihat kecenderungan pelaporan dalam jangka waktu lebih panjang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kinerja Keuangan

Performance atau kinerja merupakan suatu pola tindakan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang diukur dengan mendasarkan pada suatu perbandingan dengan berbagai standar. Kinerja adalah pencapaian suatu tujuan dari suatu kegiatan atau pekerjaan tertentu untuk mencapai tujuan perusahaan yang diukur dengan standar. Penilaian kinerja perusahaan bertujuan untuk mengetahui efektivitas operasional perusahaan. Pengukuran kinerja perusahaan dapat dilakukan dengan menggunakan suatu metode atau pendekatan.

Kinerja merupakan suatu pola tindakan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan, yang diukur dengan mendasarkan pada suatu perbandingan dengan berbagai standar (Lestari, 2011). Dijelaskan pula bahwa kinerja adalah pencapaian suatu tujuan dari suatu kegiatan atau pekerjaan tertentu untuk mencapai tujuan perusahaan yang diukur dengan standar dan penilaian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas operasional perusahaan. Menurut Fahmi (2012), kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar seperti dengan membuat laporan keuangan dengan memenuhi standar dan ketentuan dalam SAK, GAAP dan ketentuan lainnya.

Pendapat lain dinyatakan oleh Muna (2014), bahwa kinerja keuangan dapat diartikan sebagai prestasi yang dapat dicapai organisasi dalam periode tertentu. Kinerja inilah yang digunakan manajemen untuk melakukan penilaian secara periodik mengenai efektivitas operasional perusahaan, bagian perusahaan dan karyawan berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan.

Laporan keuangan merupakan salah satu media yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dari aktualisasi aspek kinerja manajer. Penilaian kinerja keuangan adalah kegiatan yang sangat penting karena penilaian tersebut dapat dijadikan sebagai suatu ukuran keberhasilan suatu perusahaan selama periode waktu tertentu, selain itu juga bisa digunakan sebagai pedoman bagi usaha perbaikan atau peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan pada dasarnya diperlukan sebagai alat untuk mengukur kesehatan perusahaan.

Davis (1996) dalam Lestari (2011) mengemukakan bahwa Pengukuran kinerja perusahaan dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengukuran kinerja non keuangan (non financial performance measurement). Informasi yang digunakan dalam mengukur kinerja non keuangan adalah informasi yang disajikan tidak dalam satuan uang atau rupiah (non financial information) namun dengan satuan ukur non keuangan. Adapun informasi yang digunakan dalam mengukur kinerja keuangan adalah informasi keuangan (financial information), yaitu informasi akuntansi manajemen dan informasi akuntansi keuangan seperti laba sebelum pajak, tingkat pengembalian investasi, dan sebagainya.

Lestari (2011) menyebutkan kinerja keuangan merefleksikan kinerja fundamental perusahaan. Kinerja keuangan diukur dengan data fundamental perusahaan, yaitu data yang berasal dari laporan keuangan. Kinerja keuangan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan cash flow return on asset (CFROA). CFROA dihitung dari laba sebelum bunga dan pajak ditambah depresiasi dibagi dengan total aktiva.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan

Dalam praktiknya, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Menurut Samsul (2006) dalam Widyaningrum (2014) menyatakan bahwa kinerja perusahaan tercermin dari laba operasional dan laba bersih per saham serta beberapa rasio keuangan yang menggambarkan kekuatan manajemen dalam mengelola perusahaan. Selain itu, dinyatakan pula bahwa kinerja perusahaan dipengaruhi oleh faktor makro dan mikro ekonomi. Berikut ini faktor-faktor yang memengaruhi kinerja keuangan perusahaan:

1) Faktor Makro

Faktor makro ekonomi ini tidak akan seketika memengaruhi kinerja perusahaan, tetapi secara perlahan dalam jangka panjang. Faktor-faktor yang termasuk dalam Faktor-faktor makro yaitu tingkat bunga umum domestik, tingkat inflasi, peraturan perpajakan, kebijakan khusus pemerintah yang terkait dengan perusahaan tertentu, kurs valuta asing, tingkat bunga pinjaman luar negeri, kondisi perekonomian internasional, siklus ekonomi, paham ekonomi dan peredaran uang.

2) Faktor Mikro

Faktor ini yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham perusahaan yang berada dalam perusahaan itu sendiri. Faktor tersebut meliputi variabel-variabel yaitu laba bersih per saham, laba usaha per saham, nilai buku per saham, rasio ekuitas terhadap utang, rasio laba bersih terhadap ekuitas dan cash flow per saham.

Tahap-tahap Analisis Kinerja Keuangan

Analisis kinerja keuangan digunakan untuk mengukur prestasi yang dimiliki perusahaan. Fahmi (2012) menyatakan terdapat lima tahap dalam menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan yaitu:

1) Melakukan review terhadap data laporan keuangan

Tahap pertama yaitu mereview dara laporan keuangan. Review dilakukan dengan tujuan agar laporan keuangan yang sudah dibuat sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam dunia akuntansi. Tahap ini pada akhirnya akan memberikan hasil laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan.

2) Melakukan perhitungan

Tahap kedua yaitu melakukan perhitungan terhadap data pada laporan keuangan. Penerapan metode perhitungan disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan, sehingga hasil dari perhitungan akan memberikan kesimpulan sesuai dengan analisis yang diinginkan.

3) Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh Tahap selanjutnya yaitu melakukan perbandingan pada hasil yang telah diperoleh. Hasil hitungan yang telah diperoleh kemudian dibandingkan dengan hasil hitungan dari berbagai perusahaan lainnya. Metode yang paling umum dipakai yaitu:

a) Time series analysis yaitu membandingkan secara antarwaktu atau antarperiode dengan tujuan akan terlihat secara grafik.

b) Cross sectional approach yaitu melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang sejenis yang dilakukan secara bersamaan.

4) Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan.

Tahap keempat, yaitu menginterpretasikan masalah-masalah yang ada. Melihat kinerja keuangan perusahaan setelah melakukan ketiga tahap, kemudian melakukan penafsiran untuk melihat permasalahan dan kendala-kendala yang dialami perbankan tersebut.

5) Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan.

Tahap terakhir setelah menemukan berbagai permasalahan yang ada yaitu mencari solusi. Mencari solusi guna memberikan suatu input atau masukan agar kendala dan hambatan dapat diselesaikan.

2.2 Audit Internal

Sawyer et.,al (2005) mengemukakan bahwa auditor internal memberikan informasi yang diperlukan manajer dalam menjalankan tanggung jawab mereka secara efektif. Audit internal bertindak sebagai penilai independen untuk menelaah operasional perusahaan dengan mengukur dan mengevaluasi kecukupan kontrol serta efisiensi dan efektivitas kinerja perusahaan. Auditor internal memiliki peranan yang penting dalam semua hal yang berkaitan dengan pengelolaan perusahaan dan risiko-risiko terkait dalam menjalankan usaha. Auditor internal di seluruh dunia melakukan pekerjaan mereka secara berbeda, tergantung pada lingkup audit yang diinginkan manajemen senior. Akibatnya, sulit mendefinisikan berbagai aktivitas yang dilakukan auditor.

Selanjutnya, dalam Sawyer et.,al (2005), American Accounting Association mendefinisikan Audit Internal sebagai proses sistematis untuk secara objektif memperoleh dan mengevaluasi asersi mengenai tindakan dan kejadian-kejadian ekonomis untuk meyakinkan derajat kesesuaian antara asersi ini dengan kriteria yang ditetapkan dan mengomunikasikannya ke pengguna yang berkepentingan. Definisi ini ditujukan untuk menggambarkan proses yang dilakukan di semua jenis audit; tetapi istilah “tindakan dan kejadian ekonomi” mengarah pada aspek keuangan atau akuntansi.

IIA (Institute of Internal Audit) memperkenalkan SPPIA (Standards for The Professional Practice of Internal Auditing) yang berisi definisi berikut ini: Audit internal adalah fungsi penilaian independen yang dibentuk dalam

perusahaan untuk memeriksa dan mengevaluasi aktivitas-aktivitasnya sebagai jasa yang diberikan kepada perusahaan.

Pada tahun 1998, IIA membentuk Kelompok Kerja yang Merumuskan Pedoman (Guidance Task Force – GTF) yang ditugaskan untuk mempertimbangkan perubahan-perubahan yang mungkin dilakukan terhadap Standar dan pedoman lainnya. Salah satu elemen terpenting GTF adalah mengembangkan suatu definisi baru untuk audit internal yang mampu menangkap esensi modern dari profesi tersebut secara jelas dan ringkas.

Ruang Lingkup Audit Internal

Dalam pelaksanaan tugasnya auditor internal mempunyai batasan dan lingkup yang dilaksanakannya. Menurut Cashin (Rahayu, 2012), ruang lingkup audit internal yaitu compliance, verification dan evaluation. Selanjutnya menurut Tugiman (Rahayu, 2012), ruang lingkup audit internal yaitu:

1) Penyampaian hasil pemeriksaan: pemeriksa internal harus melaporkan hasil-hasil pemeriksaan yang diperoleh dalam kegiatan pemeriksaannya. 2) Tindak lanjut hasil pemeriksaan: pemeriksa internal harus terus meninjau atau melakukan follow up untuk memastikan bahwa terhadap temuan-temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan tindak lanjut yang tepat.

Tanggung Jawab Audit Internal

Menurut Sawyers et.,al (2005), pada tahun 1947 IIA menerbitkan

Statement of Responsibilities of Internal Auditing (Pernyataan Tanggung Jawab Audit Internal). Hal ini merupakan langkah berani pada waktu itu karena mampu

menunjukkan perhatian auditor internal terhadap operasional perusahaan, meskipun masih ditekankan pada aspek akuntansi dan keuangan. Seiring berlalunya waktu, penekanan pada akuntansi dihilangkan, dan audit operasional semakin berkembang. Ima pernyataan yang diterbitkan setelah tahun 1947 (1957, 1971, 1976, 1981, dan 1990) menunjukkan kemajuan dalam disiplim ilmu yang sedang berkembang.

Satu perubahan penting mendasari perubahan-perubahan selanjutnya. Pernyataan tahun 1947 merupakan satu-satunya pernyataan tanggung jawab audit internal; namun, pernyataan tahun 1981 dan 1990 diterbitkan setelah penerapan standar dan berperan sebagai pelengkap standar. Pernyataan Tanggung Jawab Audit Internal yang asli diterbitkan oleh IIA pada tahun 1947. Pernyataan tersebut direvisi tahun 1990, dengan memasukkan konsep-konsep yang telah dibangun sebelumnya, termasuk perubahan yang diperlukan untuk profesi pada saat itu.

Unsur-unsur Audit Internal

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Susanto, disebutkan bahwa menurut Tugiman (2005) terdapat tiga unsur dalam audit internal, yaitu:

1) Memastikan/ memverifikasi (verification) 2) Menilai/ mengevaluasi (recommendation) 3) Rekomendasi (recommendation)

Maksud dari penyataan tersebut diatas adalah:

1) Memastikan/ memverifikasi (verification)

Merupakan suatu aktivitas penilaian dan pemeriksaan atas kebenaran data dan informasi yang dihasilkan dari suatu sistem akuntansi sehingga dapat dihasilkan laporan akuntansi yang akurat, yaitu cepat dan dapat dipercaya. Catatan yang telah diverifikasi dapat ditentukan oleh audit internal tertentu apakah terdapat kekurangan dan kelemahan dalam prosedur pencatatan untuk diajukan saran-saran perbaikan.

2) Menilai/ mengevaluasi (recommendation)

Merupakan aktivitas penilaian secara menyeluruh atas pengendalian akuntansi keuangan dari kegiatan menyeluruh berdasarkan kriteria yang sesuai. Hal ini merupakan suatu cara untuk memperoleh kesimpulan yang menyeluruh dari kegiatan perusahaan yang berhubungan dengan aktivitas yang dilakukan perusahaan.

3) Rekomendasi (recommendation)

Merupakan suatu aktivitas penilaian dan pemeriksaan terhadap ketaatan pelaksanaan dan prosedur operasi, prosedur akuntansi, kebijakan dan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan (tindakan korektif kepada manajemen).

2.3 Intellectual Capital (IC)

Dalam penelitiannya, Hendrawan menyatakan bahwa Terdapat berbagai definisi tentang intellectual capital dalam berbagai literatur. Diantaranya adalah definisi yang dikemukakan oleh Bukh et.,al (2005), Intellectual Capital

merupakan berbagai sumber daya pengetahuan dalam bentuk karyawan, pelanggan, proses atau teknologi yang dapat digunakan dalam proses penciptaan nilai bagi perusahaan.

Intellectual capital tidak memiliki definisi secara pasti. Beberapa mengartikan secara berbeda karena konsep mengenai Intellectual Capital sangat luas dan sering terbagi menjadi beberapa kategori. Dalam penelitian Widyaningrum (2014), Edvinsson menyatakan bahwa Intellectual Capital

merupakan pengalaman terapan, teknologi organisasional, hubungan pelanggan, keahlian yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan.

Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) dalam Adeline (2012) mendeskripsikan Intellectual Capital sebagai nilai ekonomi dari dua kategori aktiva tidak berwujud perusahaan: organizational (structural) capital dan human capital. Structural capital meliputi proprietary software dan

systems, distribution network, dan supply chains. Human capital mencakup

human resources dalam organisasi dari luar organisasi seperti pelanggan dan supplier. OECD menganggap Intellectual Capital sebagai bagian dari intangible asset.

Lebih lanjut, Hendrawan (2014) menyebutkan bahwa Bontis et.,al (2000) menyatakan secara umum, para peneliti mengidentifikasi tiga konstruk utama dari

IC, yaitu: human capital (HC), structural capital (SC), dan customer capital

(CC). Menurut Bontis et.,al(2000), secara sederhana HC merepresentasikan

individual knowledge stock suatu organisasi yang direpresentasikan oleh karyawannya. HC merupakan kombinasi dari genetic inheritance; education;

experience, and attitude tentang kehidupan dan bisnis. Selanjutnya, Bontis et.,al

(2000) menyebutkan bahwa SC meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi. Termasuk dalam hal ini adalah database,

organisational charts, process manuals, strategies, routines dan segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya. Sedangkan, tema utama dari CC adalah pengetahuan yang melekat dalam marketing channels

dan customer relationship dimana suatu organisasi mengembangkannya melalui jalannya bisnis (Bontis et.,al, 2000).

Dari beberapa definisi intellectual capital, terdapat kesamaan pokok pikiran yaitu intellectual capital merupakan berbagai sumber daya pengetahuan, pengalaman, dan keahlian yang berkaitan dengan keahlian karyawan, hubungan baik dengan pelanggan, dan kapasitas teknologi informasi milik perusahaan yang secara signifikan berkontribusi dalam proses penciptaan nilai sehingga dapat memberikan keunggulan kompetitif (competitive advantage) bagi perusahaan. Karakteristik Intellectual Capital (IC)

Menurut Sangkala (2006) dalam Soetedjo et.,al (2014) , Intellectual Capital umumnya memiliki karakteristik sebagai berikut:Non Rivalreus,

Komponen Intellectual Capital (IC)

Banyak peneliti yang mengungkapkan berbagai pendapatnya mengenai komponen dari IC. Pada umumnya peneliti menyatakan bahwa intellectual capital

terdiri dari tiga komponen utama, yaitu : 1) Human Capital (HC)

Human capital mencakup seperangkat kemampuan, sifat dan sikap dari karyawan suatu perusahaan (Choong, 2008). Human capital

merupakan lifeblood dalam intellectual capital. Human capital

merupakan sumber innovation dan improvement, karena di dalamnya terdapat pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan perusahaan. Human capital dapat meningkat jika perusahaan dapat memanfaatkan dan mengembangkan pengetahuan, kompentensi dan keterampilan karyawannya secara efisien. Oleh karena itu, human capital merupakan sumber daya kunci yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan sehingga perusahaan mampu bersaing dan bertahan di lingkungan bisnis yang dinamis. Dengan memiliki karyawan yang berkeahlian dan berketerampilan, maka dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan menjamin keberlangsungan perusahaan tersebut. Meningkatnya kinerja perusahaan juga akan meningkatkan persepsi pasar.

2) Structural Capital (SC)

Structural capital adalah bentuk intellectual capital yang paling kompleks (Choong, 2008). Menurut Choong (2008), yang termasuk di

dalam structural capital adalah kebudayaan perusahaan, inovasi dan proses bisnis perusahaan. Structural capital merupakan kemampuan organisasi dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan struktur yang mendukung usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan, misalnya sistem operasional perusahaan, proses manufacturing, budaya organisasi, dan filosofi manajemen (Kuryanto, 2008).

3) Relational Capital (RC) atau Customer Capital (CC)

Relational capital mencakup hubungan baik antara perusahaan dengan seluruh stakeholder (Choong, 2008). Relational capital

merupakan hubungan harmonis association network yang dimiliki oleh perusahaan dengan para mitranya, baik yang berasal dari para pemasok, pelanggan dan juga pemerintah dan masyarakat. Relational capital dapat muncul dari berbagai bagian diluar lingkungan perusahaan yang dapat menambah nilai bagi perusahaan (Kuryanto,2008).

Peran Intellectual Capital (IC)

Intellectual capital berperan penting dalam kegiatan bisnis perusahaan, hal tersebut dikarenakan intellectual capital memiliki beberapa kelebihan (Sangkala, 2006), yaitu:

(1) Memberikan pandangan menyeluruh mengenai perusahaan, karena tujuan utamanya adalah menciptakan suatu kerangka kerja yang dapat

menjelaskan seluruh sumber daya perusahaan dan bagaimana sumber daya tersebut berinteraksi untuk menciptakan nilai

(2) Memberi dasar pengembangan pemahaman akan sifat dasar sumber daya dalam tindakan. Intellectual capital merupakan sumber daya yang memiliki perbedaan karakteristik bila dibandingkan dengan sumber daya fisik, yang menyebabkan adanya perbedaan dalam proses penciptaan nilai,

(3) Menyediakan suatu bahasa yang sama mengenai intangible asset, memfasilitasi pemahaman mengenai sumbangannnya terhadap penciptaan nilai di dalam dan antar perusahaan serta pada stakeholders

(4) Berfokus pada nilai, bukan pada biaya. Perspektif intellectual capital

memiliki potensi untuk menciptakan nilai bagi perusahaan atau melakukan transformasi sebagai suatu tujuan, tanpa memperdulikan asal atau sumber daya tersebut, sehingga perspektif ini melengkapi kerangka kerja akuntansi,

(5) Lebih bersifat praktek daripada konseptual.Intellectual capital

memberikan dukungan berupa konsep, alat-alat dan kerangka kerja yang telah dikembangkan dalam suatu proses iterative antara masyarakat praktisi dan akademisi, serta menggambarkan dengan jelas suatu pendekatan peneliti yang berorientasi pada praktek.

Pengukuran Intellectual Capital (IC)

Intellectual capital dianggap sebagai aset tak berwujud, dan tentu akan sulit untuk mengukur modal ini. Terdapat metode yang dikembangkan oleh Pulic

(Adeline, 2012) yang disebut sebagai Value Added Intellectual Capital (VAIC). Metode ini bertujuan untuk menyajikan informasi tentang value creation efficency dari aset berwujud (tangible assets) dan aset tak berwujud (intangible assets) yang dimiliki oleh perusahaan. VAIC merupakan alat untuk mengukur kinerja

intellectual capital perusahaan. Perhitungan dilakukan terhadap 3 komponen

intellectual capital yang telah dijelaskan di atas, sebagai berikut: 1) Value Added of Capital Employed (VACA)

Value Added of Capital Employed (VACA) adalah indikator untuk VA yang diciptakan oleh satu unit physical capital. Pulic (Adeline, 2012) mengasumsikan bahwa satu unit dari capital employed

menghasilkan return yang lebih besar daripada perusahaan yang lain. Dengan demikian, pemanfaatan intellectual capital yang lebih baik merupakan bagian dari IC perusahaan.

2) Value Added Human Capital (VAHU)

Value Added Human Capital (VAHU) menunjukkan berapa banyak Value Added dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Hubungan antara Value Added dengan Human Capital mengindikasikan kemampuan Human Capital untuk menciptakan nilai di dalam perusahaan.

3) Structural Capital Value Added (StVA)

Structural Capital Value Added (StVA) menunjukkan kontribusi

structural capital dalam penciptaan nilai. StVA mengukur jumlah

value added dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan structural capital dalam penciptaan nilai. Pengukuran dari intellectual capital yang paling sering digunakan dalam penelitian yaitu dari Pulic yang menggunakan VAIC. VAIC merupakan pengukuran yang membutuhkan informasi mengenai capital employed, human capital dan structural capital.

2.4 Good Corporate Governance (GCG)

Tangkilisan (2003) berpendapat bahwa Good Corporate Governance

adalah sistem dan struktur untuk mengelola perusahaan dengan tujuan meningkatkan nilai pemegang saham (stakeholders’ value) serta mengalokasi berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan (stakeholders) seperti kreditor, supplier, asosiasi usaha, konsumen, pekerja, pemerintah dan masyarakat luas.

GCGadalah sistem yang mengatur, mengelola, dan mengawasi proses pengendalian usaha menaikkan nilai saham, sekaligus sebagai bentuk perhatian kepada stakeholders, karyawan, kreditor, dan masyarakat sekitar. GCG berusaha menjaga keseimbangandi antara pencapaian tujuan ekonomi dan tujuan masyarakat. Tantangan dalam corporate governance adalah mencari cara untuk memaksimumkan penciptaan kesejahteraan sedemikian rupa sehingga tidak membebankan ongkos yang tidak patut kepada pihak ketiga atau masyarakat luas.

Khusus bagi penerapan GCG di dunia perbankan, maka tiga prinsip utama yang harus dipegang, yaitu: 1) kemandirian, 2) integritas, dan 3)

transparansi. Prinsip ini merupakan modal dasar menyelenggarakan bisnis perbankan secara efektif dan berkesinambungan.

2.5 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terkait dengan Audit Internal, Intellectual Capital

dan Good Corporate Governance terlah banyak dilakukan. Berikut ini adalah beberapa penelitian tersebut, diantaranya:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Sari tahun 2013.

Penelitian yang dilakukan oleh Eka Noviana Sari ini berjudul “Pengaruh Audit Internal terhadap Kinerja Keuangan Perbankan”. Penelitian ini dilakukan terhadap audit internal yang ada di perbankan Gorontalo . Penelitian ini menyimpulkan bahwa audit internal berpengaruh signifikan secara positif terhadap kinerja keuangan di kota Gorontalo. Penelitian ini hanya menggunakan satu variabel, yaitu audit internal yang memengaruhi variabel terikat, yaitu kinerja keuangan. Perbedaannya, penelitian ini menggunakan data primer yang secara langsung diambil melalui kuesioner. Sedangkan, penelitian yang sekarang menggunakan data sekunder. Perbedaan lain juga dapat dilihat dari adanya tambahan variabel lainnya, yaitu Intellectual Capital dan

Good Corporate Governance. Persamaan yang dapat dilihat adalah penggunaan objek penelitian yaitu perbankan dan penggunaan variabel yang sama yaitu audit internal.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Soetedjo tahun 2014.

Penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Intellectual Capital

terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Perbankan”. Sama dengan penelitian yang dilakukan sekarang, objek dari penelitian ini adalah perusahaan perbankan. Persamaan lainnya adalah jenis data yang digunakan, yang merupakan data sekunder. Berdasarkan penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan intellectual capital dalam suatu perusahaan, terutama pada perusahaan perbankan cukup mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Sehingga, semakin baik perusahaan mampu mengelola intellectual capital yang mereka miliki, maka akan semakin besar pula nilai Return on Aset (ROA) yang dihasilkan oleh perusahaan. Dari segi perbedaan, penetilitan ini hanya menggunakan satu variabel, yaitu Intellectual Capital yang mmpengaruhi variabel terikat, yaitu Kinerja Keuangan.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Windah dan Andono tahun 2013. Judul dari penelitian ini adalah ”Pengaruh Penerapan Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Hasil Survei The Indonesian Institute Perception Governance (IICG)Periode 2008-2011”. Berdasarkan judul penelitian ini,, dapat dilihat bahwa terdapat dua perbedaan diantara penelitian ini dan penelitian sekarang. Perbedaan pertama dapat dilihat dari variabel yang digunakan. Di dalam penelitian ini, hanya terdapat satu variabel, yaitu Corporate Governance yang mempengaruhi variabel terikat, yaitu Kinerja Keuangan Perusahaan.

Jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Hal ini membuktikan bahwa terdapat kesamaan dalam jenis data yang digunakan. Hasil dari

Dokumen terkait