BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait identifikasi terhadap isolat
bakteri tangan untuk mengetahui macam-macam bakteri yang terdapat
pada bakteri tangan dan aktivitas antibakteri daun beluntas terhadap
berbagai macam bakteri tangan tersebut.
2. Perlu dilakukan uji ALT (Angka Lempeng Total) pada isolat bakteri
tangan untuk mengetahui jumlah bakteri yang terdapat pada tangan.
3. Perlu dilakukan uji KHM dan KBM terhadap ekstrak etanol daun beluntas
untuk melihat kadar hambat minimum dan kadar bunuh minimum ekstrak
4. Perlu dilakukan penelitian sejenis dengan menggunakan gelling agent
yang sama namun dengan variasi yang lebih banyak agar dapat ditentukan
pengaruh gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less).
67
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, G., 2009, Teknologi Bahan Alam (Serial Farmasi Industri 2), Edisi revisi, Penerbit ITB, Bandung, pp. 31.
Allen Jr. dan Loyd V., 2002, The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical Compounding, 2nd Edition, American Pharmaceutical Assosiation, USA, pp. 305, 311.
Ansel, H. C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV, Universitas Indonesia Press, Jakarta,
Apriyani D., 2012, Perbedaan Perilaku Mencuci Tangan Sebelum Dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Pada Anak Usia 4-5 Tahun, Jurnal Keperawatan Soedirman, Volume 7, p. 70
Ardiansyah et al., 2003, Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea Indica (L.) Less) dan Stabilitas Aktivitasnya pada Berbagai Konsentrasi Garam dan Tingkat pH,Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 16(2):90-97. Attwood, D., Alexander, T.F., 2008, Fast Track: Physical Pharmacy,
Pharmaceutical Press, London, p. 43.
Badan POM, 2008, Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia HK.00.05.42.1018, Bahan Kosmetik, http://www.pom.go.id/index.php /home/search/kosmetik/ hukum_perundangan/3 , diakses tanggal 18 Juli 2014.
Barel, A.O., Paye M., dan Maibach H.I., 2009, Handbook of Cosmetic Science and Technology, 3nd Edition, Informa Healthcare USA Inc., New York, p. 115, 771.
Boyd R.F., 1984, General Microbiology, West Publishing Company, St. Paul, pp 167-168.
Dalimartha, S., 1999, Tanaman Obat di Lingkungan Sekitar, Puspa Swara, Jakarta, p.5.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1986, Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Jakarta
Djauzi, S., 2009, Raih Kembali Kesehatan, PT Kompas Media Nusantara, Jakarta, p.8.
Ducel, G., 2002, Prevention of hospital-acquired infections, A practical guide, 2nd Edition, Department of Communicable disease, Surveillance and Response, New York, p .107.
Exerowa, D., dan Kruglyakov, P.M., 1998, Foam and Foam Films:Theory, Experiment, Application, Elsevier, Netherlands.
Garg, A., Aggarwal, D., Garg, S., dan Sigla A.K., 2002, Spreading of Semisolid Formulation:An Update, www.pharmtech.com , diakses tanggal 17 Juli 2014.
Gusviputri, 2013, Pembuatan Sabun Dengan Lidah Buaya (Aloe Vera) Sebagai Antiseptik Alami, http://www.academia.edu/3431586/pembuatan_ sabun_dengan_lidah_buaya aloe_vera_sebagai_antiseptik_alami , diakses tanggal 21 Oktober 2013.
Harborne, J.B., 1996, Metode Fitokimia, diterjemahkan oleh Padmawinata K.dan Soediro I., Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Hariana, H. A., 2002,Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Puspa Swara, Jakarta, p. 38.
Hugo dan Russel, 1987, Pharmaceutical Microbiology, 6th Edition, Blackwel Scientific Publication, London, pp. 20-21.
Istyastono, E.P., 2012, Mengenal Peranti Lunak R-2.14.0. for Windows dan Open Source, Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Izhar, H., Sumiati, dan Moeljadi, P., 2010, Analisis Sikap Konsumen Terhadap Atribut Sabun Mandi, Wacana Vol. 13, Issn. 1411-0199.
Jones, D., 2008, Pharmaceutics Dosage Form and Design, Pharmaceutical Press, London.
Kurniawan, F. W., 2013, (Pena, L. E., 1990), Optimasi Natrium Alginat dan Na-CMC sebagai Gelling Agent pada Sediaan Gel Antiinflamasi Ekstrak Daun Petai Cina (Leucaena leucocephala (lam.) de Wit) dengan Aplikasi Desain Faktorial, Skripsi, Universitas Sanata Dharma.
Lesmana, A.S., 2012, (Pelczar, 1986), Perbedaan Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Deodoran Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dengan Variasi Jumlah Sorbitan Monostearate sebagai Emulsifying agent, Skripsi,
Lieberman, H.A., Martin, M.R., Gilbert, S.B., 1996, Pharmaceutical Dosage Form : Disperse System, volume 2, 2nd Edition,, Marcel Dekker Inc., New York, p. 670.
Martin, A., Swarbick, J., dan Cammarata, A., 1993, Physical Pharmacy, Physical Chemical Principles in the Pharmaceutical Science, diterjemahkan oleh Yoshita, Edisi ketiga, Universitas Indonesia Press, Jakarta, pp. 1022.
Michael dan Ash, 2004, Handbook of Preservatives, Synapes Information Resources Inc., USA, p.535.
Mitsui T., 1997, New Cosmetic Science, Elsevier Science B.V, Amsterdam, pp. 476-477.
Moechtar, 1989, Farmasi Fisika, Bagian Larutan dan Sistem Dispersi, Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta, p. 124.
Myers, D., 2006, Surfactants Science and Technology, 3rd Edition, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey.
Paini, 2011, Seleksi Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) Sebagai Sumber Antioksidan Alami, Skripsi, Institut Pertanian Bogor.
Pelczar, 1986, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Edisi I, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Peoloengan, Chairul, Komala I., Salmah S., dan Susan, 2006, Aktivitas Antimikroba Dan Fitokimia Dari Beberapa Tanaman Obat, Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006, Insitut Pertanian Bogor.
Pratami,H. A., Apriliana, E., dan Rukmono, P., 2014, Identifikasi Mikroorganisme Pada Tangan Tenaga Medis dan Paramedis di Unit Perinatologi Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung, http://juke.kedokteran.unila.ac.id/ index.php/majority/ article/view/44 , diakses tanggal 20 Oktober 2013 Pratiwi, S. T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta, pp. 188-191 Purnomo, M., 2001,Isolasi Flavonoid dari Daun Beluntas (Pluchea indica (L.)
Less) yang Mempunyai Aktivitas Antimikroba Terhadap Penyebab Bau Keringat Secara Bioautografi, Tesis, Universitas Airlangga, Surabaya. Radji, M., 2009, Buku Ajar Mikrobiologi, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, pp.
10, 11.
Rieger, M.M., 2000, Harry’s Cosmetology, 8th Edition, Chemical Publishing Co. Inc.,New York
Rochimawati, 2013, Haduh, Ribuan Bakteri Hidup di Tangan Manusia,
http://www.solopos.com/2013/01/11/haduh-ribuan-bakteri-hidup-di-tangan-manusia-367132 , diakses tanggal 21 Oktober 2013.
Rowe, R.C.,Sheskey, P.J., dan Quinn, M.E., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th Edition, Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association, United Kingdom, pp.118, 283, 441, 592, 651, 754.
Saffan, S.E.S. dan El-Mousallamy, A.M.D., 2008, Allelopathic effect of Acacia raddiana leaf extract on the phytochemical contents of germinated Lupinustermis Seeds, Journal of Applied Sciences Research, 4(3): 270-277. Smolinske, 1992, Handbook of Food, Drug and Cosmetics Excipients, CRC Press,
USA, pp.199-200.
Sutedjo, M.M., Kartasapoetra, A.G., Sastroatmodjo, R.D.S., 1996, Mikrobiologi Tanah, PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, pp. 470-471.
Tarigan, J., 1988, Pengantar Mikrobiologi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan, Jakarta.
Tranggono dan Latifah, 2007, Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Wahyuningtyas, F. K., 2007, (Sagarin, E., 1957,), Aplikasi Desain Faktorial 23 dalam Optimasi Formula Gel Sunscreen Ekstrak Kental Apel Merah (Pyrus malus L.) Basis SodiumCarboxymethylcellulose dengan Humektan Gliserol dan Propilen Glikol, Skripsi, Universitas Sanata Dharma.
Widyawati, P. S., Wijaya, C.H., Harjosworo P.S.,dan Sajuthi, D., 2004, Pengaruh Ekstraksi Dan Fraksinasi Terhadap Kemampuan Menangkap Radikal Bebas Dpph (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil) Ekstrak Dan Fraksi Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less), Seminar Rekayasa Kimia Dan Proses 2010,
ISSN: 1411-4216 .
Winaro dan Sundari, 1998, Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Obat Diare di Indonesia, Cermin Dunia Kedokteran, 109:25-32.
Voight, R., 1994, Buku Belajar Teknologi Farmasi, UGM Press, Yogyakarta, pp. 399-443.
Lampiran 1. Surat Keterangan Identifikasi Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less)
Lampiran 2. Certificate of Analysis Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari Laboratorium Penelitian Dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM)
Lampiran 3. Langkah Kerja Ekstraksi Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM)
Lampiran 4. Keterangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM)
Lampiran 5. Penetapan Kadar Total Fenolik Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM)
Lampiran 6. Sampel Ekstrak Etanol Daun Beluntas dan Foto Isolat Bakteri Tangan
Sampel Ekstrak Etanol Daun Beluntas
Lampiran 7. Foto Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan
Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas Pada Bakteri Punggung Tangan
Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas Pada Bakteri Telapak Tangan
Lampiran 8. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan
- Isolat bakteri punggung tangan
Konsentrasi 2%
Konsentrasi 4%
Konsentrasi 6%
Konsentrasi 8%
Lampiran 9. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan
a. Bakteri Punggung Tangan
b. Bakteri Jari Tangan
Lampiran 10. Uji Wilcoxon Diameter Zona Hambat terhadap Isolat Bakteri Punggung Tangan
a. Kontrol Positif dibandingkan dengan kontrol negatif
b. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 2%
c. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 4%
d. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 6%
e. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 8%
f. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 10%
h. Kontrol positif dibandingkan dengan konsentrasi 4%
i. Kontrol positif dibandingkan dengan konsentrasi 6%
j. Kontrol positif dibandingkan dengan konsentrasi 8%
k. Kontrol positif dibandingkan dengan konsentrasi 10%
l. Konsentrasi 2% dibandingkan dengan konsentrasi 4%
m. Konsentrasi 2% dibandingkan dengan konsentrasi 6%
o. Konsentrasi 2% dibandingkan dengan konsentrasi 10%
p. Konsentrasi 4% dibandingkan dengan konsentrasi 6%
q. Konsentrasi 4% dibandingkan dengan konsentrasi 8%
r. Konsentrasi 4% dibandingkan dengan konsentrasi 10%
s. Konsentrasi 6% dibandingkan dengan konsentrasi 8%
t. Konsentrasi 6% dibandingkan dengan konsentrasi 10%
Lampiran 11. Perhitungan Ekstrak Daun Beluntas dan Foto Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas 48 jam penyimpanan
Perhitungan Ekstrak Etanol Daun Beluntas
Kadar ekstrak etanol daun belutas yang digunakan dalam penelitian ini adalah 6% artinya 6 gram dalam 100mL sehingga untuk membuat sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas, dibutuhkan ekstrak sebesar:
100 gram aquadest steril memiliki volume 100ml
Ekstrak yang dibutuhkan :
x 100mg = 6 gram
Foto Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas 48 jam penyimpanan
Formula 1 Formula 2
Lampiran 12. Foto Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Setelah 28 Hari Penyimpanan
Formula 1 Formula 2
Lampiran 13. Uji Organoleptis dan pH Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan
a. 48 jam
Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4
Bau Khas Khas Khas khas
Warna cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih
Bentuk Gel Gel Gel gel
b. 7 hari
Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4
Bau Khas Khas Khas khas
Warna cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih
Bentuk Gel Gel Gel gel
c. 14 hari
Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4
Bau Khas Khas Khas khas
Warna cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih
Bentuk Gel Gel Gel gel
d. 21 hari
Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4
Bau Khas Khas Khas khas
Warna cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih
Bentuk Gel Gel Gel gel
e. 28 hari
Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4
Bau Khas Khas Khas khas
Warna cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih cokelat jernih
Lampiran 14. Data Uji Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan Waktu Penyimpanan Formula 1 (d.Pa.s) Formula 2 (d.Pa.s) Formula 3 (d.Pa.s) Formula 4 (d.Pa.s) 48 jam 45 50 90 140 40 70 80 120 35 60 100 130 40 ± 5 60 ± 10 90 ± 10 130 ± 10 7 Hari 45 50 100 150 40 60 80 120 30 70 110 140 38,33 ± 7,63 60 ± 10 96,66 ± 15,27 136,66 ± 15,27 14 Hari 35 70 100 140 45 50 70 110 30 60 90 130 36,66 ± 7,63 60 ± 10 86,66 ± 15,27 126,66 ± 15,27 21 Hari 35 80 100 150 40 70 80 120 30 50 90 130 35 ± 5 66,66 ± 15,27 90 ± 10 133,33 ± 15,27 28 Hari 35 70 110 150 45 60 80 120 40 50 90 140 40 ± 5 60 ± 10 93,33 ± 15,27 136,66 ± 15,27
Lampiran 15. Hasil Uji Sifat Fisik Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas
a. Uji Normalitas Formula1 Formula 2 Formula 3 Formula 4 a. Uji Levene b. Uji Anava
Lampiran 16. Hasil Uji Stabilitas Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas
a. Uji Normalitas a. Formula 1 48 jam 7 hari 14 hari 21 hari 28 hari
b. Uji Post Hoc (t-test berpasangan)
a. Formula 1
- 48 jam dibandingkan dengan 14 hari
- 48 jam dibandingkan dengan 21 hari
- 48 jam dibandingkan 28 hari
- 7 hari dibandingkan 14 hari
- 7 hari dibandingkan 21 hari
- 14 hari dibandingkan dengan 21 hari
- 14 hari dibandingkan dengan 28 hari
Lampiran 17. Hasil Uji Sifat Fisik Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas
a. Data Uji Ketahanan Busa Formula/
Minggu
Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4
48 jam 1,2 1 1 0,8 0,6 0,4 0,9 1 1 0,8 0,8 0,7 0,93 ± 0,30 0,73 ± 0,30 0,9 ± 0,1 0,83 ± 0,15 7 hari 1 0,4 0,8 0,6 0,8 0,8 0,6 0,8 0,6 0,6 1 0,7 0,8 ± 0,2 0,6 ± 0,2 0,8 ± 0,2 0,7 ±0,1 14 hari 0,8 0 0,8 1 1 0,2 1 1,2 0,4 0,4 0,6 0,8 0,73 ± 0,30 0,2 ± 0,2 0,8 ± 0,2 1 ± 0,2 21 hari 1 1 1,2 0,7 0,5 0,8 0 1 0,8 0,6 1 0,9 0,76 ± 0,25 0,8 ± 0,2 0,73 ± 0,64 0,86 ± 0,15 28 hari 0,8 0 0 1 1 0,6 0,2 0,9 0,6 1 0,4 0,6 0,8 ± 0,2 0,53 ± 0,50 0,2 ± 0,2 0,83 ± 0,20 b. Uji Normalitas Formula 1 Formula 2
Formula 3
Formula 4
c. Uji Levene
d. Uji Anava
e. Uji Post Hoc (t-test tidak berpasangan) Formula 1 dibanding Formula 2
Formula 1 dibanding Formula 4
Formula 2 dibanding Formula 3
Formula 2 dibanding Formula 4
Lampiran 18. Hasil Uji Stabilitas Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas
a. Uji Normalitas
Formula 1
Formula 3
b. Uji Post Hoc (t-test berpasangan)
a. formula 1
- 48 jam dibandingkan dengan hari 7
- 48 jam dibandingkan dengan hari 14
- 48 jam dibandingkan dengan hari 21
- Hari 7 dibandingkan dengan hari 14
- Hari 7 dibandingkan dengan hari 21
- Hari 7 dibandingkan dengan hari 28
- Hari 14 dibandingkan dengan hari 21
- Hari 14 dibandingkan dengan hari 28
Lampiran 19. Foto Zona Hambat Sediaan Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan
Isolat Bakteri Telapak Tangan
Isolat Bakteri Jari Tangan
Lampiran 20. Diameter Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan
Kontrol positif Kontrol negatif Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4 Bakteri telapak tangan 6 0 5 3 5 6 8 0 7 5 7 7 5 0 4 4 4 8 6, 33 ± 1,52 0 5,33 ± 1,52 4 ± 1 5,33 ± 1,52 7 ± 1 Bakteri jari tangan 13 0 9 18 9 8 18 0 15 13 5 8 8 0 9 13 6 11 13 ± 5 0 11 ± 3,46 14,66 ± 2,88 6,66 ± 2,08 9 ± 1,73 Bakteri punggung tangan 8 0 5 6 11 4 6 0 6 0 13 8 16 0 5 7 16 11 D 10 ± 5,29 0 5,33 ± 0,57 4,33 ± 3,78 13,33 ± 2,51 7,66 ± 3,51
Lampiran 21. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan A. Bakteri telapak - Kontrol positif - Kontrol negatif - Formula 1 - Formula 2 - Formula 3 - Formula 4
B. Bakteri Jari Tangan - Kontrol positif - Kontrol negatif - Formula 1 - Formula 2 - Formula 3 - Formula 4 C. Punggung Telapak - Kontrol positif
-- Kontrol negatif
- Formula 1
- Formula 2
- Formula 3
Lampiran 22. Uji Kruskal-Wallis Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas
a. Bakteri Telapak Tangan
b. Bakteri Jari Tangan
Lampiran 23. Uji Wilcoxon Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas dibandingkan dengan Basis Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan
A. Bakteri Telapak Tangan
- Formula 1 dibandingkan dengan Basis
- Formula 2 dibandingkan dengan Basis
- Formula 3 dibandingkan dengan Basis
- Formula 4 dibandingkan dengan Basis
B. Bakteri Jari Tangan
- Formula 1 dibandingkan dengan Basis
- Formula 3 dibandingkan dengan Basis
- Formula 4 dibandingkan dengan Basis
C. Bakteri Punggung Tangan
- Formula 1 dibandingkan dengan Basis
- Formula 2 dibandingkan dengan Basis
- Formula 3 dibandingkan dengan Basis
Lampiran 24. Nilai Probabilitas Uji Wilcoxon: Perbandingan Antara Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Dengan Basis Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan
Bakteri Telapak
Tangan Bakteri Jari Tangan
Bakteri Punggung Tangan Formula Nilai probabilitas (p-value) Formula Nilai probabilita s (p-value) Formula Nilai probabilita s (p-value) 1 0,0369 1 0,0338 1 0,0338 2 0,0369 2 0,033 2 0,1213 3 0,0369 3 0,0369 3 0,0369 4 0,0369 4 0,0338 4 0,0369
Lampiran 25. Uji Wilcoxon Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas dibandingkan dengan Kontrol Positif
1. Bakteri Jari Tangan
a. Formula 1 dibandingkan dengan kontrol positif
b. Formula 2 dibandingkan dengan kontrol positif
c. Formula 3 dibandingkan dengan kontrol positif
d. Formula 4 dibandingkan dengan kontrol positif
2. Bakteri Telapak Tangan
a. Formula 1 dibandingkan dengan kontrol positif
b. Formula 2 dibandingkan dengan kontrol positif
c. Formula 3 dibandingkan dengan kontrol positif
3. Bakteri Punggung Tangan
a. Formula 1 dibandingkan dengan kontrol positif
b. Formula 2 dibandingkan dengan kontrol positif
c. Formula 3 dibandingkan dengan kontrol positif
Lampiran 26. Nilai Probabilitas Uji Wilcoxon: Perbandingan Antara Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas Dengan Kontrol Positif
Bakteri Telapak
Tangan Bakteri Jari Tangan
Bakteri Punggung Tangan Formula Nilai probabilitas (p-value) Formula Nilai probabilita s (p-value) Formula Nilai probabilita s (p-value) 1 0.3758 1 0,8248 1 0,0722 2 0,07652 2 0,6374 2 0,184 3 0,3758 3 0,8248 3 0,3758 4 0,5002 4 0,8248 4 0,6579
111
M
BIOGRAFI PENULIS
arcelina Widani Amanda Rompas
lahir pada tanggal 2 Juni 1992.
Penulis merupakan putri pertama dari
ayah bernama Sonny Abraham
Rompas dan ibu bernama Cornelia Tri Widayati.
Penulis telah menyelesaikan masa studinya di TK Strada Kampung Sawah
(1996-1998), SD Strada Kampung Sawah pada tahun (1998-2004), SMP
Strada Kampung Sawah pada tahun (2004-2007), SMA Pangudi Luhur II
Servasius Bekasi pada tahun (2007-2010). Selesai studi di SMA penulis
melanjutkan kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Penulis aktif dalam
Organisasi dan kegiatan Kemahasiswaan di Universitas Sanata Dharma, antara
lain koordinator Paduan Suara Komunitas Paingan Campus Ministry
(2011-2013), Ketua Panitia Tim 1 Panitia Paskah Universitas Sanata Dharma (2012),
Sekretaris Panitia Seminar Campus Ministry ‘Pernikahan Beda Agama’
(2012), Anggota konsumsi Paingan Festival (2012), Anggota akomodasi
Panitia IPSF Student Exchange Programme (2012), dan Divisi Administrasi dan Logistik dalam Panitia Leadership Training Komunitas Campus Ministry