• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis sangat berharap agar penelitian selanjutnya terhadap peranan orang tua terhadap pendidikan dapat diperluas untuk menambah pemahaman tentang peranan orang tua terutama pada pendidikan anak. Peranan orang tua sangat penting terutama dalam pendidikan, karena dengan adanya peran orang tua akan memicu semangat anak-anak untuk belajar lebih giat.

Novel Ibuk karya Iwan Setyawan ini sangat penting untuk dibaca karena di dalam novel ini memiliki banyak inspirasi yang membangun setiap pribadi seseorang, serta kita akan melihat sebuah perjuangan orang tua yang tidak pernah berhenti memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Novel ini juga sangat bagus untuk dikonsumsi setiap orang terutama bagi individu yang merasa keluarganya kekurangan dalam ekonomi, karena novel ini melihat bahwa kemiskinan bukanlah sebagai bentuk dari penderitaan tetapi awal dari sebuah keberhasilan.

DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Abu. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian P sikologi Sastra. Yogyakarta: Ikapi. Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Psikologi Sastra.Yogyakarta:

Ikapi.

Gunarsa. D. Singgih, Yulia. 2002. Asas-asas Psikologi Keluarga Idaman. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Partowisastro, Koestoer. 1983. Dinamika Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Rafiek, M. 2013. Pengkajian Sastra. Bandung: Refika Aditama.

Rokhmansyah, Alfian. 2014. Studi dan Pengkajian Sastra. Yogyakarta: Graha. Ilmu.

Suyanto, Bagong dan Sutinah. 2005. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Kencana.

Tri Priyatni, Endah. 2010. Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis. Jakarta: Bumi Aksara.

Tantawi, Isma. 2014. Bahasa Indonesia Akademik. Bandung: Citapustaka Media.

Taniputera, Ivan. 2005. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

Sugono, Dendy. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Setyawan, Iwan. 2012. Ibuk. Jakarta: Percetakan Gramedia.

INTERNET https://www.google.co.id/?gws_rd=cr,ssl&ei=0B9jVavfOsPwmAWakoEQ#q=%22S kripsi+yang+mengkaji+novel+ibuk+karya+iwan+setyawan%22.Diakses25Mei2015P ukul21:WIB. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=150989&val=937&title=WANI TA%20TANGGUH%20DALAM%20NOVEL%20IBUK%20KARYA%20IWAN%2 0SETYAWAN.Diakses25Mei2015Pukul20:00WIB. http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja& uact=8&ved=0CFAQFjAH&url=http%3A%2F%2Fjurnal.untan.ac.id%2Findex.php %2Fjpdp.Diakses20Mei2015Pukul20:09WIB. http://www.pbindoppsunisma.com/wp-content/uploads/2014/09/8.-Nurwakhid-Muliyono-343-360.pdf.Diakses25Mei2015Pukul20:15WIB. http://digilib.unimed.ac.id/nilainilai-moral-dalam-novel-ibuk-karya-iwan-setyawan-tinjauan-sosiologi-sastra-32683.html.Diakses25Mei2015Pukul20:30WIB. http://www.seputarpengetahuan.com/2015/02/15-pengertian-pendidikan-menurut-para.html.diakses26Juni2012Pukul21:30WIB.

SINOPSIS

Cerita diawali dari tokoh Ngatinah yang tidak dapat melanjutkan sekolah karena biaya yang tidak ada. Semenjak berhenti sekolah Ngatinah diasuh oleh kakek-neneknya. Ketika menginjak umur 16 tahun Ngatinah mulai membantu neneknya (Mbok Pah) berdagang baju bekas di Pasar Batu. Ngatinah juga membantu orang tuanya membayar uang sekolah adiknya (Sriyati). Ngatinah tumbuh menjadi gadis yang lugu, dan tidak banyak bergaul di pasar. Setiap paginya pasar batu selalu ramai dengan ibu-ibu yang berbelanja dan para sopir dan kenek angkot. Salah satunya, anak muda (Sim) berusia 23 tahun. Seorang kenek yang telah lebih dari setahun datang dan pergi bersama angkotnya di pasar batu. Ia terlihat berbeda dari sopir dan kenek lain. Pakainnya selalu rapi, tatapannya melankonis tetapi tajam. Badannya tidak tinggi tetapi gagah. Gayanya flamboyan ia dekat dengan semua orang, dari balik tumpukan baju Ngatinah melihat kenek angkot itu sedang menatapnya. Tatapan mata itu membekas di antara tumpukan baju. Sang playboy pasar terseret keluguan dan kesejukan Ngatinah. Tatapan mata sang kenek angkot diam-diam menyelinap di hati Ngatinah menyesakkan dadanya. Begitulah pertemuan itu terjadi sampai pada akhirnya Sim memberanikan diri mengunjungi rumah Ngatinah. Pertemuan Sim dan Ngatinah yang mengikat hati keduanya.

Dengan keberanian akhirnya Sim meminang Ngatinah. Keluarga Sim dikaruniai lima anak yaitu Isa, Nani, Rini, Mira dan Bayek. Dengan kasih sayang Ibu (Ngatinah) dan bapak (Sim) membesarkan kelima anaknya. Penghasilan sebagai sopir

angkot tidak dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan keluarga Sim, tetapi ibu (Ngatinah) berusaha menabung dari uang belanja yang diberikan bapak. Ibu (Ngatinah) memiliki tekad agar kelak anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik, untuk mewujudkan semua itu salah satu kuncinya adalah kelima anaknya mendapatkan pendidikan. Bapak dan ibu berjuang keras agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Sebelum ayam berkokok, bapak sudah terbangun, ia segera pergi bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Ketika Isa masuk SMP ibu menjual cincin mas satu-satunya untuk membayar uang pangkal, untuk membeli seragam dan membayar uang SPP di bulan pertama. Ibu selalu mengajarkan anak-anaknya bersabar, menghemat dan bersikap baik terhadap sesama.

Agar hidupmu tidak sengsara sepertiku, Nak. Aku tidak lulus SD. Tidak bisa apa-apa. Hanya bisa memasak saja. Jangan sepertiku ya, Nak. Cukup aku saja yang tidak sekolah. Itu yang selalu ibuk katakan dihadapan anak-anaknya. Ibu juga ingin agar anak-anaknya tidak ketinggalan dengan anak-anak yang lain. Begitulah kehidupan terus berjalan, setelah lulus SMA, Isa kursus komputer di Malang dan memberikan les privat di Batu. Ibuk sedih karena Isa belum berhasil kuliah. Anak kedua ibuk, Nani lulus SMA setahun kemudian dan kuliah di Universitas Brawijaya. Isa membantu membayar biaya kuliah dan keperluan sehari-hari Nani. Dua tahun kemudian Bayek lulus SMA dan mendapatkan PMDK dijurusan Statistika IPB. Berita penerimaan PMDK Bayek disambut dengan kebahagian dan air mata. Mereka belum tahu, bagaimana Ibuk dan Bapak mengirim Bayek ke Bogor. Membiyai Nani

saja sudah terasa sangat berat. Untuk sebuah kesuksesan tentu memiliki pengorbanan yang tidak sedikit. Ibu dan bapak akhirnya menjual angkot agar Bayek bisa kuliah di IPB Bogor. Perjuangan dan pengorbanan dari Bapak dan Ibuk tidak sia-sia, Bayek akhirnya dapat menyelesaikan kuliahnya, Bayek merupakan lulusan terbaik dari jurusan MIPA dengan IPK 3,52. Berpuluh-puluh tahun Bapak menelusuri jalanan untuk menghidupi keluarga, ia tidak pernah berhenti ia tidak pernah menyerah, terus berjuang untuk anak-anak dan keluarga. Tidak lulus SMP, beliau menjadi kenek angkot. Setelah menjadi kenek angkot. Menjadi sopir angkot. Menjadi sopir angkot untuk orang lain saja tidak cukup, Bapak mencoba menabung untuk membeli angkot bekas. Ia tidak pernah berhenti berjuang menghidupi kelima anaknya. Dengan apapun yang ia miliki. Hidup Bapak penuh dengan gelombang besar. Tidak mudah, tetapi Bapak selalu memikul tanggung jawab dengan berani. Perjuangan Bapak melahirkan harapan buat kelima anaknya. Semangat Bapak membakar semangat kelima anaknya. Tekad Ibu dan kerja keras Bapak menghantarkan kelima anaknya kemasa depan yang lebih baik. Isa bekerja sebagai Guru SD, Nani yang juga melanjutkan S2 dan bekerja di kantoran, Rini yang bekerja sebagai Guru SD, dan Mira yang melanjutkan studinya S2 keempat putri Ibu (Ngatinah) telah menikah dan memiliki masa depan yang lebih baik. Dan anak laki-lakinya Bayek telah banyak membantu keluarganya, Bayek yang pertama kali bekerja di Jakarta dan kemudian mendapat tawaran bekerja di New York, selama 10 tahun Bayek mengejar kariernya di New York dengan jabatan terakhir Director, internal Client Management di Nielsen Concumer Research.

Kemudian kembali ke Indonesia karena kerinduannya terhadap keluarga dan sekarang aktif sebagai penulis.

Cinta Ibuk dan bapak menghantarkan kelima anaknya kemasa depan yang lebih baik. Semua pengorbanan Ibuk dan Bapak tidak sia-sia semua cita-cita kelima anaknya tercapai sampai pada akhirnya Bapak meninggal dunia, perjuangan Bapak memberikan arti yang sangat besar bagi istri dan anaknya. Demikian juga Ibuk yang selalu sabar dan kuat menjalani persoalan kehidupan. Doa dan kerja keras dari Bapak dan Ibuk menyelamatkan masa depan kelima anak-anaknya.

Dokumen terkait