• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Peneliti menyajikan saran sebagai berikut: jika peneliti selanjutnya bermaksud mengembangkan aitem-aitem pada alat ukur ini, sebaiknya instruksi tes yang direkam dapat diujicobakan terlebih dulu sehingga dapat ditemukan waktu yang pas untuk penyajian tes.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini dijelaskan teori mengenai memori, relative pitch,jenis-jenis interval, serta perancangan alat ukur relative pitch.

A. Memori

1. Definisi Memori

Memori, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dijelaskan sebagai “kesadaran akan pengalaman masa lampau yang hidup kembali; ingatan” (KBBI Daring Ed. III, 2015). Para psikolog mencoba menggunakan kesamaan antara cara pengoperasian komputer dengan otak manusia untuk menjelaskan teori mengenai memori. Pada kedua proses tersebut, informasi melalui tiga proses yang disebut input (masukan), storage (penyimpanan) dan retrieval (pemanggilan kembali). Informasi masuk ke sistem memori melalui alat indera. Proses ini disamakan dengan kegiatan mengetik untuk memasukkan informasi ke dalam komputer. Kemudian informasi yang penting dipilih untuk dimasukkan ke dalam penyimpanan memori jangka panjang, atau menyimpan file komputer ke dalam drive.Saat informasi yang telah disimpan diperlukan, informasi tersebut dipanggil kembali dari memori. Seperti halnya komputer, informasi dalam memori

terkadang hilang atau tidak dapat dipanggil kembali. Hal ini disebabkan karena adanya tiga tahap penyimpanan memori yang berbeda (Atkinson & Shiffrin, 1968; Baddeley, 1999; dalam Lahey, 2007).

Model memori berdasarkan pandangan information-processing menyatakan bahwa individu menyimpan memori dalam tiga gudang penyimpanan yang bertahap. Meskipun memiliki nama, proses dan tujuan yang berbeda, ketiga tahapan ini berhubungan erat satu sama lain, di mana suatu informasi harus melewati tahap pertama yang dapat menyimpan informasi dalam waktu yang sangat singkat, kemudian tahap kedua yang dapat menyimpan informasi selama tidak lebih dari 30 detik dan tahap ketiga yang dapat menyimpan informasi secara permanen (Lahey, 2007). Untuk memindahkan informasi dari tahap pertama ke tahap kedua hingga tahap ketiga diperlukan proses latihan yang terus menerus (Matlin, 2005).

2. Tiga Tahap Memori

a. Sensory register

Tahap penyimpanan pertama dari memori melibatkan stimuli yang merupakan replika dari pengalaman sensori masuk ke dalam alat indera. Informasi pada tahap ini tidak bertahan lama (Lahey, 2007).

b. Short-term memory (STM)

Untuk memasuki tahap penyimpanan memori yang kedua, individu hanya perlu memberikan atensi kepada informasi tersebut. Tanpa “pembaharuan”,

12

informasi dalam STM biasanya akan hilang dalam waktu beberapa detik (Ellis & Hunt, 1993; dalam Lahey, 2007). Untuk menghindari hal ini, individu dapat melakukan rehearsal, yaitu pengulangan informasi dan chunking, yaitu menyimpan memori dalam unit-unit kecil, biasanya lima hingga sembilan unit (Lahey, 2007).

c. Long-term memory (LTM)

Tahap penyimpanan ketiga melibatkan penyimpanan informasi yang dapat disimpan dalam jangka waktu lama. Dalam tahap ini, informasi disimpan secara permanen, sehingga “lupa” terjadi bukan karena informasi hilang dari memori, melainkan karena individu tidak dapat me-retrieve informasi dari LTM. Tulving (1972, 2002; dalam Lahey, 2007) menyebutkan tiga jenis LTM yang memiliki mekanisme yang berbeda, yaitu semantic memory, episodic memory dan procedural memory(Lahey, 2007).

Semantic memory adalah ingatan yang melibatkan makna informasi, misalnya individu dapat mengingat dan mengetahui fungsi gitar, foto, nasi, dan lain sebagainya. Episodic memorymelibatkan ingatan tentang pengalaman pribadi yang pernah dialami seorang individu, kapan dan di mana peristiwa tersebut terjadi secara spesifik. Procedural memory menyimpan informasi mengenai keahlian yang dimiliki individu, misalnya cara mengendarai mobil atau memainkan alat musik (Lahey, 2007 & Reed, 2007).

Pada bagian berikutnya akan dijelaskan mengenai cara-cara pengukuran memori.

3. Pengukuran Memori

Dalam Richardson-Klavehn & Bjork (1988), Memori dapat diukur dengan dua cara yaitu:

a. Tes memori langsung, yaitu tes dengan instruksi yang berhubungan dengan suatu kejadian di masa lalu, baik waktu, tanggal maupun lingkungan yang berhubungan dengan pengalaman partisipan. Tes memori langsung terbagi menjadi recognition test dan recall test. Pada recognition test, subjek diminta untuk membedakan stimuli yang ada dan yang tidak ada pada suatu kejadian. Pada recall test, subjek diminta untuk me-recall suatu kejadian, dengan atau tanpa petunjuk. Pada tes memori langsung, subjek dinilai berhasil menyelesaikan tes jika ia dapat membuktikan bahwa ia mengetahui kejadian tersebut.

b. Tes memori tidak langsung, yaitu tes yang meminta partisipan untuk melakukan aktivitas kognitif atau motorik yang tidak berhubungan dengan kejadian di masa lalu yang berkaitan dengan waktu, tanggal maupun lingkungan tertentu. Ada empat kategori tes memori tidak langsung, yaitu: (1) tes pengetahuan factual, konseptual, leksikal dan perseptual; (2) tes memori procedural; (3) tes respon evaluative; (4) pengukuran perubahan perilaku lainnya, termasuk respon neurofisik dan pengukuran conditioning.

Neath dan Surprenant (2003) menjelaskan empat kombinasi yang mungkin dalam pembelajaran dan pengetesan memori tidak langsung, yaitu:

14

Tabel 1. Kombinasi Pembelajaran dan Pengetesan Memori Tidak Langsung

Instruksi Tes Instruksi

Pembelajaran

Tidak langsung Langsung Insidental Sel 1 Sel 2

Disengaja Sel 3 Sel 4

Banyak studi mengenai memori tidak langsung yang menggunakan Sel 1, di mana subjek mempelajari aitem dengan tanpa disengaja dan tidak menyadari hubungan antara pembelajaran dan pengetesan. Pada Sel 3 dan Sel 4, pembelajaran dilakukan secara disengaja, tetapi subjek pada pengetesan Sel 3 tidak menyadari hubungan antara pembelajaran dan pengetesan, sedangkan subjek pada pengetesan Sel 4 menyadari hubungan antara pembelajaran dan pengetesan. Peneliti menggunakan Sel 2 dalam menjalankan penelitian Perancangan Alat Ukur Relative Pitch, di mana subjek tidak diinstruksikan mengenai tes saat proses pembelajaran berlangsung, tetapi saat tes mereka diminta untuk me-recall hal-hal yang sudah dipelajari.

Pada penelitian ini, peneliti mengukur relative pitch, yaitu salah satu memori implisit yang diukur dengan menggunakan tes memori tidak langsung. Pada bagian berikutnya akan dijelaskan mengenai relative pitch dan interval-interval nada yang menyusunnya.

B. Relative Pitch

1. Definisi Relative Pitch

Relative pitch merupakan kemampuan mengingat interval pitch yang cukup baik pada manusia (Deutsch, 2006; Trainor & Unrau, 2012). Interval pitch merupakan jarak antara dua nada. Trainor dan Unrau (2012) menambahkan dengan contoh lagu Selamat Ulang Tahun. Meskipun dimainkan dengan nada dasar yang berbeda, jika tetap memiliki interval nada yang benar, individu tetap akan mengenalinya sebagai lagu Selamat Ulang Tahun. Contoh ini menunjukkan bahwa individu lebih mengingat musik dalam lingkup relative pitchdibandingkan denganabsolute pitchlagu tersebut.

Kemampuan relative pitch dapat dilatih melalui pelatihan musik (Blake & Sekuler, 2006). Dengan kata lain, individu yang memiliki relative pitch yang baik merupakan individu yang telah menerima pelatihan musik dalam jangka waktu tertentu dan individu yang relative pitch nya belum terasah masih dapat mengembangkannya melalui pelatihan musik. Dijelaskan sebelumnya bahwa individu lebih mengenali musik menurut relative pitch dibanding absolute pitch. Absolute pitch adalah suatu kemampuan di mana seorang individu dapat dengan tepat mengetahui nada yang didengar sebagai do, re dan lain sebagainya (Blake & Sekuler, 2006). Sebagai tambahan, individu yang disebut amusia didefinisikan sebagai individu yang memiliki daya diskriminasi nada yang sangat buruk. Meskipun kemampuan relative pitch dapat dilatih, tetapi individu yang memiliki absolute pitch atau amusia secara otomatis mengutamakan penggunaan kemampuan tersebut dibandingkan relative pitch saat mendengar suatu nada.

16

Interval dalam nada terbentuk dengan menaikkan atau menurunkan nada. Pada bagian berikutnya dijelaskan bagaimana menaikkan atau menurunkan satu atau setengah nada dapat mempengaruhi interval nada dan jenis-jenis interval yang dihasilkan.

2. Jenis-Jenis Interval Nada

Jenis-jenis interval nada yang dapat terbentuk antara lain:

Gambar 1. Diagram piano

Do – re – mi – fa – sol – la – si - do

Dengan menggunakan gambar 1 (Cabauzon, 2015) sebagai panduan, berikut dijabarkan jenis-jenis interval yang dapat terbentuk dengan nada dasar C dalam jangkauan satu oktaf (Justus & Barucha, 2002; Lee, 1995; Schmidt-Jones, 2008), yaitu:

Tabel 2. Interval Nada yang Membentuk Relative Pitch

Naik sejumlah Nada yang dihasilkan Interval dari C

1 semi-tone C♯(kres), D♭(mol) Minor second

2semi-tone D Major second

3semi-tone D♯(kres), E(mol) Minor third

4semi-tone E Major third

(Lanjutan) Tabel 2. Interval Nada yang Membentuk Relative Pitch 6semi-tone F♯(kres), G(mol) Tritone

7semi-tone G Perfect fifth

8semi-tone G♯(kres), A(mol) Minor sixth

9semi-tone A Major sixth

10semi-tone A♯(kres), B(mol) Minor seventh

11semi-tone B Major seventh

12semi-tone C Octave

(Disadur dari: Justus & Barucha, 2002; Lee, 1995; Schmidt-Jones, 2008)

Perlu diperhatikan bahwa banyaknya interval yang dapat terbentuk berjumlah ratusan sehingga tidak mungkin untuk dijabarkan satu persatu. Oleh sebab itulah peneliti hanya menggunakan contoh dengan nada dasar C sebanyak satu oktaf.

3. Major Scaledan Minor Scale

Berdasarkan tabel 2 yang ditunjukkan di atas, dapat terbentuk major scale dan minor scale yang terdiri dari:

a. Major scale:

C — D — E — F — G — A — B — C Do — re — mi — fa — sol — la — si — do b. Minor scale:

C — D — E — F — G — A — B — C

18

Scale atau tangga nada yang paling umum digunakan adalah major scale, maka perancangan alat ukur ini berfokus pada interval nada yang melibatkan major scale.Selanjutnya peneliti akan menjabarkan mengenai proses perancangan alat ukur relative pitch.

C. Perancangan Alat Ukur Relative Pitch

Alat ukur yang dirancang pada penelitian ini merupakan alat ukur berbentuk file dalam format mp3 yang disimpan dalam compact disc (CD). Perancangan alat ukur ini melibatkan penggunaan nada dasar yang dipilih secara random dari major scale. Setelah diperdengarkan nada dasar, subjek diminta mencari nada yang kedua. Nada yang kedua ini terbentuk dari major scale berdasarkan interval nada yang diperoleh dari tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 3. Interval Nada yang Digunakan

No Nama Interval Interval dari C Interval dari do

1 Major second C – D Do – re

2 Major third C – E Do – mi

3 Perfect fourth C – F Do – fa

4 Perfect fifth C – G Do – sol

5 Major sixth C – A Do – la

6 Major seventh C – B Do – si

7 Octave C – C’ Do - do

Nada yang kedua ini diperdengarkan kepada subjek dalam bentuk pilihan berganda dan subjek diminta untuk menjawab nada yang menurutnya benar dengan mengisi lembar jawaban. Setiap aitem yang disajikan meliputi:

1. Salah satu dari tujuh interval nada yang tertera di atas.

2. Nada dasar rendah dengan nada kedua tinggi (ascending) atau nada dasar tinggi dengan nada kedua rendah (descending). Nada yang disajikan bersifat ascending dan descending karena suatu rangkaian nada terdiri atas interval nada yang ascending (nada semakin tinggi) dan descending (nada semakin rendah).

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia menggunakan alat indera sebagai sarana komunikasi dengan lingkungannya. Alat indera menerima dan mengubah stimuli fisik (seperti gelombang cahaya dan getaran suara) menjadi impuls neuron yang menghasilkan sensasi (seperti mengalami adanya cahaya dan suara). Selanjutnya, sensasi diinterpretasi sehingga apa yang dilihat, didengar atau dirasakan oleh manusia dapat dikenali sebagai suatu benda, suara dan lain sebagainya, bukan hanya suatu stimuli yang tidak berarti. Proses ini disebut sebagai proses persepsi (Kassin, 2003; King, 2010; Zimbardo, Weber & Johnson, 2000).

Proses persepsi terbagi menjadi empat yaitu visual, auditori, atensi dan kesadaran (Matlin, 2005). Istilah kesadaran, atensi hingga working memory berhubungan satu sama lain namun sering kali penggunaannya tumpang tindih. Untuk menyadari dan mengetahui bahwa suatu kejadian sedang berlangsung, hal tersebut harus ada dalam working memory (Dowling, 2010; Miyake & Shah, 1999). Cowan (2008) menambahkan bahwa working memory meliputi memori jangka pendek dan mekanisme lain yang memiliki korelasi dengannya. Selanjutnya memori jangka pendek akan berpindah ke memori jangka panjang, yaitu tahap penyimpanan memori yang memiliki kapasitas yang sangat besar dan terakumulasi dari pengalaman dan informasi sepanjang hidup individu. Tiga jenis

memori jangka panjang adalah semantic memory, yaitu ingatan tentang makna suatu informasi, episodic memory, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi, dan procedural memory, yaitu ingatan mengenai keahlian yang dimiliki individu (Lahey, 2007 & Reed, 2007). Kemampuan memasak, mengendarai sepeda, hingga kemampuan untuk tetap dapat memainkan suatu alat musik meskipun individu tersebut telah lama tidak memainkannya adalah contoh dari procedural memory (Lahey, 2007). Spiro (2010, dalam Seluzicki, 2013) menyatakan bahwa kemampuan memainkan alat musik adalah bagian memori yang paling kompleks yang tidak dipengaruhi oleh penyakit Alzheimer. Berlatih memainkan alat musik bahkan menurunkan resiko terjangkit penyakit dementia sebanyak 63%, sedangkan pemusik yang telah didiagnosa menderita dementia tetap tidak kehilangan keahliannnya dalam memainkan alat musik. Sluming dkk (2002, dalam Seluzicki, 2013) menemukan bahwa pemusik yang berlatih memainkan alat musik selama bertahun-tahun mengalami peningkatan massa otak yang berkontribusi terhadap menurunnya resiko terjangkit penyakit Alzheimer.

Latihan merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk memindahkan informasi ke memori jangka panjang (Matlin, 2005). Individu yang ahli dalam suatu bidang tertentu selama jangka waktu lebih dari sepuluh tahun melalui proses latihan yang terus menerus dapat dengan mudah mengingat aspek bidang tersebut (Ericsson & Lehmann (1996) dalam Matlin, 2005). Studi mengenai memori yang digunakan untuk musik, khususnyapitchmerupakan salah satu topik yang paling awal dibahas dalam psikologi eksperimen (Levitin & Rogers, 2005). Dalam buku Psychology and its Allied Disciplines (Bornstein,

3

1984), Deutsch mengutip karya Aristoxenus yang mengatakan bahwa pemahaman terhadap musik bergantung pada persepsi indera dan memori dan bahwa hanya dengan dua bidang inilah manusia mengikuti perkembangan musik. Selanjutnya Dowling (2010) menambahkan bahwa persepsi sangat terikat dengan memori dan tidak dapat dipisahkan sebagai dua proses yang berbeda.

Musik memiliki dua aspek dasar yaitu ritme dan pitch. Ritme adalah ketukan dalam musik sedangkan pitch adalah nada atau melodi yang membentuk musik (Trainor & Unrau, 2012). Nada merupakan salah satu processing code dalam model kognitif pada manusia (Matthews, Davies, Westerman & Stammers, 2000). Tanpa nada, musik hanya berupa ketukan drum, percakapan hanya berupa bisikan (Yost, 2009), bahkan mencari sumber suara adalah hal yang sangat sulit jika stimuli suara tidak memiliki nada (Trainor & Unrau, 2012). Pada beberapa bahasa seperti bahasa Mandarin, nada digunakan sebagai fitur verbal; kata-kata dengan susunan konsonan dan vokal yang sama memiliki arti berbeda jika nada berbeda (Deutsch, 2002). Kemampuan mengingat intervalpitch—jarak antara dua not—yang cukup baik pada manusia ini disebut relative pitch (Deutsch, 2006; Trainor & Unrau, 2012). Interval pitch adalah jarak nada antara dua pitch— dengan kata lain, seberapa tinggi atau rendah nada yang satu dengan yang lainnya (Schmidt-Jones, 2008). Trainor dan Unrau (2012) memberikan suatu contoh praktis mengenai relative pitch.Kebanyakan orang dapat mengenali lagu Selamat Ulang Tahun meskipun nada yang digunakan dinaikkan atau diturunkan jika interval nada lagu tersebut benar. Berdasarkan perbandingan relative pitchdengan kemampuan visual, Deutsch (2006) menambahkan bahwa individu dapat

mengenali warna begitu melihatnya, tetapi pada individu penderita sindrom color anomia, ia mengenali perbedaan warna tetapi tidak dapat memberitahukan dengan jelas nama dari warna tersebut. Relative pitch merupakan kemampuan yang sama seperti color anomia dalam bidang auditori tetapi relative pitch bukanlah gangguan, melainkan suatu kemampuan yang dapat dilatih (Blake & Sekuler, 2006).

Unrau (2006) menjelaskan relative pitch sebagai metode utama yang digunakan manusia dalam memproses musik. Hal ini penting dalam orkestra, penulisan lagu, dan mengenali karya musik. Hasil karya penulis lagu yang paling kreatif sekalipun akan menjadi sia-sia jika musik yang ia hasilkan tidak dapat diproses oleh telinga dan otak pendengarnya (Blake & Sekuler, 2006). Terlalu banyak hal yang baru dan berbeda dalam satu musik membuat musik tersebut tidak dapat dipahami manusia, sebaliknya jika terus diulang-ulang, lagu tersebut akan menjadi bosan (Dowling, 2010). Bukan hanya dalam musik, McDermott, Lehr dan Oxenham (2008) menyatakan pentingnya relative pitchdalam mengenali suara percakapan dan musik yang terdiri dari jangkauan nada yang berbeda-beda dan dihasilkan oleh alat musik dan pembicara yang berbeda pula sehingga relative pitchmerupakan fitur penting dalam kegiatan memproses suara pada individu.

Individu pada umumnya memiliki relative pitch, terutama pada musisi yang telah menerima pelatihan musik (Blake & Sekuler, 2006). Selain proses latihan, Hove, Sutherland dan Krumhansl (2010) menambahkan bahwa etnis berperan penting dalam pembelajaran relative pitch, diketahui bahwa individu

5

beretnis Asia bagian Timur memiliki relative pitch yang cenderung lebih baik. Penelitian ini mengukur relative pitch pada subjek dengan menggunakan empat jenis interval yang berbeda. Penelitian ini menggunakan dua nada dasar yaitu C dan F# dengan nada kedua bersifat ascending (nada semakin tinggi) dan menggunakan partisipan non musisi. Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh Hove, Sutherland dan Krumhansl (2010) adalah untuk membedakan kemampuan etnis dalam mengenali relative pitch. Berdasarkan komunikasi personal melalui email dengan salah seorang peneliti di penelitian ini, ia menyatakan bahwa nada dasar yang digunakan hanya C dan F# (Komunikasi Personal, 2013). Meskipun peneliti menyatakan nada dasar yang digunakan lebih baik diperbanyak, tetapi tes ini mungkin terlalu sulit bagi partisipan non musisi. Michael Hove (Komunikasi Personal, 2013) juga menyatakan bahwa ia tidak yakin ada alat tes yang dikhususkan untuk menguji kemampuan relative pitch.

Cara mengukur relative pitch yang dilakukan oleh Schellenberg dan Moreno (2009) adalah membandingkan musisi dan non musisi dalam mengenali kesalahan nada yang disengaja dalam lagu Happy Birthday to You dan Twinkle Twinkle Little Star. Metode ini juga digunakan dalam penelitian yang melibatkan pengguna implan koklea atau alat bantu pendengaran pada individu yang menderita gangguan pendengaran (Wang, Zhou & Xu, 2011), namun pengukuran ini tidak dapat mengukur relative pitch dengan tepat karena Halpern (1989), Jakubowski dan Müllensiefen (2013) dan Levitin (1994) membuktikan bahkan non musisi dapat mengenali nada dengan tepat dalam lagu-lagu popular yang

familiar, sehingga mereka dapat mengenali kesalahan nada tanpa harus melatih relative pitch.

Mengukur relative pitch bukanlah hal yang mudah karena relative pitch termasuk kemampuan mengingat yang implisit. Memori implisit sering disebut memori non-deklaratif karena individu tidak dapat menjelaskan memori ini secara verbal. Memori implisit bersifat nonconscious dan sering kali melibatkan ingatan tentang langkah-langkah melakukan sesuatu atau perasaan dan emosi yang spesifik (Hall, 1998). Tes memori implisit mengukur pengalaman pada tugas yang tidak membutuhkan performa yang ditampilkan secara sadar (Roediger III, 1990). Roediger III (1990) membuktikan bahwa ada perbedaan yang besar antara tes memori implisit dan eksplisit yang mungkin disebabkan oleh sistem memori yang berbeda antara memori implisit dan eksplisit. Memori implisit diukur melalui tes memori tidak langsung, yaitu tes di mana partisipan melakukan aktivitas kognitif atau motorik yang tidak berhubungan dengan kejadian di masa lalu (Richardson-Klavehn & Bjork, 1988). Pembelajaran mengenai memori implisit dapat memberikan manfaat penting dalam bidang lainnya, termasuk kognisi, pemecahan masalah, dan perkembangan kognitif (Roediger III, 1990). Dalam bidang perkembangan kognitif, penggunaan tes memori implisit memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan tes memori eksplisit, seperti pada percobaan terhadap partisipan amnesia (Kihlstrom, 1980 & Hashtroudi, Parker, DeLisi, Wyatt, & Mutter, 1984; dalam Roediger III, 1990). Selanjutnya, tes memori implisit dapat berkontribusi terhadap penelitian mengenai proses kognitif dan pembelajaran, khususnya kemampuan memecahkan masalah. Pada partisipan yang telah diberi

7

pelatihan, kemudian diberikan masalah yang baru, Gick & Holyoak (1983; dalam Roediger III, 1990) menunjukkan bahwa pelatihan yang pernah diikuti partisipan tidak membantu dalam menyelesaikan masalah yang baru, kecuali jika masalah tersebut sangat menyerupai masalah yang diberikan pada saat pelatihan sehingga partisipan dapat membandingkan dan menemukan penyelesaian masalah yang baru. Topik lain mengenai tes memori implisit yang mempengaruhi bidang pendidikan adalah sejauh apa materi yang dipelajari di sekolah dapat diaplikasikan untuk memecahkan masalah dalam konteks lain, misalnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan pembuatan alat tes relative pitch yang dilakukan peneliti, yaitu sejauh apa materi yang dipelajari subjek selama pelatihan musik dapat membantu subjek dalam menentukan relative pitch. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada alat tes yang dikhususkan untuk menguji kemampuan individu dalam menentukan relative pitch (Komunikasi Personal, 2013). Oleh sebab itu peneliti merancang tes memori implisit yaitu alat ukur relative pitchyang diharapkan dapat membantu menentukan tingkat relative pitch pada individu.

B. Rumusan Masalah

Sejauh ini belum ditemukan alat ukur relative pitch di Indonesia, maka peneliti merancang alat ukur untuk membantu mengukur relative pitch pada individu.

C. Tujuan Perancangan Alat Ukur

Perancangan alat ukur ini bertujuan memperoleh alat ukur relative pitch yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan individu dalam menentukan relative pitch.

D. Manfaat Alat Ukur

Alat ukur ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain: 1. Manfaat teoritis

a. Alat ukur ini diharapkan menambah wawasan teoritis mengenai memori. 2. Manfaat praktis

a. Alat ukur ini diharapkan berguna untuk mengukur tingkat relative pitch yang dimiliki individu untuk membantu proses seleksi minat dan bakat serta membantu perancangan metode dan strategi belajar siswa di bidang musik.

b. Alat ukur ini diharapkan dapat digunakan oleh peneliti selanjutnya yang bermaksud melakukan penelitian mengenai memori, khususnya relative pitch.

E. Sistematika Penulisan

Bab I : Pendahuluan memuat uraian mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan perancangan alat ukur, serta manfaat alat ukur. Bab II : Landasan teori berisi teori-teori yang berkaitan

9

dengan variabel yang diteliti.

Bab III : Metode penelitian, berisi uraian mengenai metode yang digunakan peneliti yang meliputi spesifikasi alat ukur, sampel, teknik sampling dan prosedur penelitian.

Bab IV : Analisa data memuat data subjek penelitian, analisa

Dokumen terkait