BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
Saran yang perlu dikemukakan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Pelayanan Kesehatan
Diharapkan agar tenaga kesehatan selaku pelayanan kesehatan yang professional harus senantiasa memberikan pelayanan dan penyuluhan kesehatan bagi masyarakat dengan pertimbangan budaya sehingga diperolehnya perawatan kesehatan sesuai kebudayaan masing-masing daerah yang aman dan memuaskan sesuai kebutuhan masyarakat.
2. Pendidikan
Hasil penelitian diaharapkan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan untuk menambah pengetahuan bagi mahasiswa nantinya dalam menerapkan praktek budaya yang menjadi bahan asuhan kebidanan khususnya pada perawatan masa nifas yang baik dan mencegah angka kesakitan dan kematian pada ibu tersebut sesuai acuan kebidanan.
3. Peneliti Lanjutan
Diharapkan peneliti lanjutan dapat meneliti tentang efektifitas praktek budaya di masyarakat sehingga dapat diberikannya pelayanan kesehatan yang komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Yetti. (2010) Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Yogyakarta: Pustaka Rihama.
Ambarwati, E.Retna& wulandari, Diah. (2010) Asuhan Kebidanan Nifas.
Jogjakarta:Mitra Cendikia.
Bandiyah,S. (2009) Kehamilan, Persalinan & Gangguan Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika
Bobak, Lowdermilk, Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas / Maternity
Nursing (Edisi 4). Jakarta : EGC.
Bungin, B.(2006). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana.
Burroughs, Arlene & Gloria.L. (2001). Maternity Nursing. California: W.B Saunders Company
Cunningham,F.G. Gant,N.F, Leveno,K.J, dkk. 2006. Obstetri Williams. Jakarta: EGC Edjun, Judi J. (2002) Mempersiapkan Kehamilan Sehat. Depok: Puspa Swara
Moelong,Lexy. J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Mochtar,R. (1998) Sinopsis Obstetri Jilid I Obstetri Fisiologi dan Patologi. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Musbikin. Imam (2007) Persiapan Menghadapi Persalinan: Dari Perencanaan
Kehamilan Sampai Mendidik Anak. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Nurjannannah, N, Maemunah, A, Badriah, D. (2013) Asuhan Kebidanan Postpartum. Bandung: Refika Aditama
Prawirohardjo, Sarwono. (2002). PelayananKesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: YayasanBinaPustaka.
Polit & Hungler. (2001). Essential of Nursing Research Metthods, Appraisals and
Utilization. Philadelphia: Lippincott.
Polit, D,F. Beck, C. T. (2012) Nursing Research: Generting and Assessing Evidence
For Nursing Practice (9th ed). Philadelphia: Lippincott.
Potter, Perry (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik. Edisi 4. Alih Bahasa: Yasmin Asih. Jakarta: EGC
Saifudin. (2005) Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yogyakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saleha,Sitti. (2009). Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. Soepardan, Soeryani. (2007). Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC.
Stright, (2001). Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir, Jakarta: EGC Suherni, dkk (2009).Perawatan Masa Nifas.Yogyakarta:Fitramaya.
Sulistyawati, A. (2009) Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta: Andi offset
Syafruddin, (2009). Sosial Budaya Dasar Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media.
Varney,H. Kriebs,J.M, Gegor.C.L. (2008) Buku ajar Asuhan Kebidanan Volume 2. Jakarta: EGC
Lampiran 1
Lembar Persetujuan Menjadi Partisipan Penelitian
Perawatan Ibu Postpartum Menurut Budaya Aceh di Desa Garot Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar Tahun 2014
Dengan hormat,
Saya yang bernama Noza Sary, Nim: 145102046 adalah Mahasiswa Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Saya sedang melakukan penelitian yang berjudul “Perawatan Ibu Postpartum Menurut Budaya Aceh di Desa Garot Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar Tahun 2014 ”. Penelitian ini dilakukan untuk memenuhi tugas akhir sebagai salah satu syarat lulus program studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Universitas Keperawatan Sumatera Utara.
Saya berharap saudara berpartisipasi sebagai bagian dari penelitian ini untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Partisipasi saudara bersifat sukarela dan tidak dipengaruhi oleh orang lain. Jika saudara bersedia menjadi responden penelitian ini, saudara dapat mendatangani surat persetujuan ini.
Atas perhatian dan kesediaaan saudara untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, saya ucapkan terima kasih.
Lampiran 2
Panduan Wawancara Penelitian
Perawatan Ibu Postpartum Menurut Budaya Aceh Di Desa Garot Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Tahun 2014
No. Responden :
Tanggal :
Pertanyaan penelitian
1. Apa yang biasanya ibu makan atau konsumsi setelah melahirkan? 2. Bagaimana menurut ibu kebiasaan yang dilakukan setelah melahirkan? 3. Apa yang ibu lakukan untuk memulihkan kondisi ibu setelah melahirkan? 4. Apa yang ibu gunakan untuk membersihkan daerah kemaluan setelah 5. melahirkan?
6. Apa saja pantangan yang tidak boleh dilakukan setelah melahirkan? 7. Apakah ibu pernah melakukan kusuk setelah melahirkan?
Lampiran 3
Instrumen Penelitian
Perawatan Ibu Postpartum Menurut Budaya Aceh Di Desa Garot Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Tahun 2014
No Responden : Petunjuk Pengisian : Data Demografi 1. Umur : 2. Pendidikan : 3. Lama bekerja : 4. Agama : 5. Alamat :
PARTISIPAN A
Peneliti : Kalau boleh saya tau ibu suku apa ya? Partisipan : “Saya suku aceh”Peneliti : Ibu orang aceh asli bu? Partisipan : “iya”
Peneliti : Dari orang tua gimana bu?
Partisipan : “orang tua dua duanya dari aceh pidie” Peneliti : Kalau suami ibu?
Partisipan : “Kebetulan dari aceh besar/ aceh rayeuk”
Peneliti : Baiklah kalau begitu ibu orang aceh asli ya bu. Kalau begitu bagaimana dengan adat istiadat bu? Mana yang lebih kental yang sering ibu gunakan?
Partisipan : “hm... karna kita besar di keluarga aceh pidie jadi aceh pidie. Begitu kadang kadang ada campuran juga dari ayah orang ini. Ayah anak anak maksudnya”
Peneliti : Memangnya ada perbedaan bu antara adat aceh pidie dengan aceh besar?
Partisipan : “ Ga ada sih. Karna kan kita suku aceh hampir hampir sama gitu juga. Ga ada perbedaan yang signifikan”.
Peneliti : Owh begitu ya buk. Boleh ga ibu ceritakan kepada saya pengalaman ibu setelah melahirkan?
Partisipan : “itu maksudnya gimana”
Peneliti : Pengalaman ibu setelah melahirkan misalnya ya apa yang ibu rasakan, bagaimana perasaan ibu, apa yang ibu lakukan pada saat perawatan setelah melahirkan?
Partisipan : “ misalnya dulu setelah saya selesai bersalin, saya langsung dimandikan menggunakan air hangat yang ada jeruk purutnya juga di akhir oleh keluarga saya. ya kebetulan saya bersalin dirumah bidan. Ya tapi memang saya minum obat juga. Obat dari ibu bidannya. Kemudian saya difooding juga sama telur ayam kampung. Saya juga melakukan ya istilahnya melakukan adat ya. Tapi saya rasa sangat bermamfaat bagi saya jadi saya juga melaksanakan anjuran dari orang tua saya dan juga dari mertua”
Peneliti : Obat apa buk yang ibu minum saat itu?
Partisipan : “ dari bidannya sendiri ada obat tambah darah, ya mereknya saya sudah lupa tapi kata ibu bidannya obat tambah darah trus untuk kalsium juga trus untuk tambah asi. Ya seinggat saya itu sih”
Peneliti : Obatnya ibu minum secara rutin?
Partisipan : “ Biasanya saya minum sehari sekali. Tapi itu saya minum paginya. Kalau malam saya minumnya jamu. Malam harinya sebelum makan” Peneliti : Ibu rutin juga minum jamunya?
Partisipan : “iya. Setiap malam saya minum”
Peneliti : Bagaimana perasaan ibu setelah minum jamu?
Partisipan : “saat setelah melahirkan saya merasa luar biasa sangat kuat daripada saat hamil. Jadi saat minum itu ya jelas perasaan tidak pusing lagi ya perasaannya lebih kuatlah”
Peneliti : Kalau ibu lupa atau tidak minum dalam sehari itu bagaimana bu. Apakah ada perbedaannya?
Partisipan : “ kalau obat tambah darah karna saya biasanya memang kurang darahnya dari hamil. Saya memang kadang kadang agak pusing gitu juga”
Peneliti : Jadi ibu kalau ibu tidak minum ibu merasa kurang darah. Memangnya berapa tekanan darah ibu normalnya?
Partisipan : “biasanya sih normal 110. Tapi pada saat hamil darah saya sering dibawah 100. Seringnya 90 gitu”
Peneliti : Ibu tadi berbicara kepada saya tentang adat adat yang ibu jalani. Adat seperti apa ya bu kalau boleh saya tau?
Partisipan : “adat istiadatnya maksudnya tidak boleh makan telur bebek gitu. Trus kalau makan nasinya ga bole makan pake kuah atau ikan laut yang bikin alergi katanya gatal-gatal. Trus harus banyak makan sayur yang pasti. Sayurnya direbus untuk tambah asi. Trus itu direbus. Itu yang paling sering saya makan. Setiap hari satu mangkuk. Saya hanya boleh makan tahu tempe sebagai lauknya kawan nasi. Gaboleh pake minyak.”
Peneliti : kenapa buk yang ibuk bilang tadi gak boleh makan telur bebek. Apa hubungannya?
Partisipan : “ telur bebek katanya sih larangan aja saya gatau juga gimana tapi katanya rahimnya ga bagus nanti cairannya keluar aja trus nanti juga bikin bau badan.
Peneliti : Ibu pada saat itu kan mengikuti semua adat istiadatnya. Bagaimana perasaan ibu?
Partisipan : memang kalau kita ikuti secara adat itu memang capek karena banyak banget aturannya seperti misalnya kakinya kalau tidur tidak boleh terbuka. Jalannya harus sepelan mungkin trus kalau kita buang air besar ga boleh jongkok lebar lebar itu mesti pake bangku atau secara duduk. Trus waktu tidurnya pake arang apa namanya yang di uapin atau diasapin gitu biar badannya lebih kuat trus darahnya lebih apa namanya maksudnya kan badan kita gitu lebih keras ga lembek lagi.
Peneliti : Ibu siapa yang menganjurkan seperti ini ? Partisipan : “ itu orang tua saya
Peneliti : Orang tua ibu yang mengajarkan siapa lagi bu? Tau darimana apakah dari tetangga atau bagaimana ?
Partisipan : “ hm... dari nenek nenek. Turun temurun
Peneliti : Oo dari nenek nenek berarti sudah diajarkan oleh keluarga ya buk. Kalau seandainya tidak ibu lakukan bagaimana?
Partisipan : “ kebetulan waktu, ini kan saya sudah tiga anaknya. Dulu pas anak pertama ngerasa ah itu tiduk tidak penting tapi tetap saya kerjakan. Kemudian pada saat melahirkan anak kedua ah, saya mau lihat penting gak sih ngelakuin hal-hal seperti itu. Jadi pada saat anak pertama dan kedua itu ada terasa perbedaannya. Perbedaannya pada saat anak pertama saya merasa lebih kuat, lebih muda, lebih segar hm.... tapi pada saat anak keduanya saya merasa lebih cepat lelah trus cepat merasa capek, ya seperti itu.
Peneliti : Trus tadi ibu bilang ibu ada banyak larangan kan seperti ga boleh jalan cepat cepat. Nah itu kenapa buk?
Partisipan : “ jalan cepat cepat nanti rahimnya turun, dikhawatirkan seperti itu. Saya juga harus pakai sandal trus kemana aja. Kalau ga pasti saya masuk angin.
Peneliti : Jadi ibu berapa hari tidak boleh jalan cepat-cepat?
Partisipan : Kalau dalam istiadat kami itu 100 hari harus betul-betul tidak boleh tidak pake mangkung atau gurita seperti itu.
Peneliti : Itu kapan saja dipakai bu mangkung atau guritanya ?
Partisipan : “ itu mangkung atau stagennya dipakai setiap hari seharusnya 3 bulan atau seratus hari kecuali saat kekamar mandi dan diganti setiap kali kekamar mandi.
Peneliti : Kenapa buk digantinya setiap ke kamar mandi. Berarti setiap ibu pipis ?
Partisipan : “ tidak. Setiap saya mandi. Akan tetapi setiap balik dari kamar mandi akan dibenarkan kembali cara pemakaiannya.
Peneliti : Itu panjangnnya berapa buk?
Partisipan : “ ada yang 2 meter ada juga yang model ikat pake tali Peneliti : Ibu selalu menggunakannya?
Partisipan :ya kadang-kadang saat itu anak pertama ya selalu. Anak kedua saya merasa itu tidak perlu jadi tidak saya pakai. Tapi kemudian saya pakai lagi pada saat saya melahirkan anak ketiga lagi.
Peneliti :Apa perasaan ibu ? kenapa ibu tidak menggunakan mangkung di anak kedua seperti pada saat melahirkan anak pertama dan ketiga ? Partisipan :saya ingin tau bagaimana kalau apakah yang dikatakan oleh orang tua
kami itu ada manfaatnya karena saya juga baca baca buku kesehatan katanya tidak ada yang sesuai dengan apa yang saya kerjakan seperti memakai mangkung, tidur tidak boleh ngangkang, jalan harus pelan-pelan, itu tidak ada di buku kesehatan. Jadi saya coba saja. Karena itu membuat saya sedikit tersiksa karena membatasi gerak, membuat pegal.
Peneliti : Jadi setelah ibu gunakan, apa manfaatnya bagi ibu
Partisipan :mamfaatnya pakai mangkung itu perut saya lebih datar, tidak kembung. Tidak ada meler-meler itu trus saya merasa lebih kuat dan saya jarang sakit perut.
Peneliti : Berapa hari ibu gunakan ?
Partisipan : seharusnya 100 hari tapi tidak pada anak kedua karna hanya sebulan. Tapi kemudian saya pakai 100 hari kembali pada anak ketiga
Peneliti :Ibu tadi menjelaskan pantangan soal makanan, tidak boleh minum banyak air putih ya buk?
Partisipan : boleh minum air putih banyak tapi tidak boleh sekaligus. Misalnya sekaligus itu jangan memang boleh minum air putih tapi dianjurkan minum air rebusan daun-daunan 44. Itu yang lebih bikin kita jadi kuat Peneliti :Dedaunan 44 itu apa buk?
Partisipan : kebetulan itu sejenis jamu yang dijual dipasaran. Bilang aja daun 44” Peneliti : Isinya apa ya bu?
Partisipan : isinya itu ada 44 macam daun direbus untuk diminum. Salah satunya daun peugaga, daun pacar (gaca), unseumpeung (Urang-aring). Sebaiknya memang setiap kali kita haus jangan minum air putih tapi air rebusan ini.
Peneliti : Seperti apa rasanya bu?
Partisipan : rasanya sangat pahit dan sangat kelat
Peneliti :Jadi setiap ibu minum, ibu minum rebusan ini. Tidak lagi mengkonsumsi air putih ?
Partisipan :saya minum. Apalagi perasaan saya tidak enak banget sesudah minum air rebusan ini karena pada dasarnya saya bukan orang yang suka minum jamu.
Peneliti : Jadi berapa lama ibu minum ini ?
Partisipan :Seharusnya minum ini 44 hari dan setiap hari diminumnya. Tapi saya masih ada bolong bolong juga kok, apalagi kalau ga ada orang tua saya. Hehehe
Peneliti : Apa perasaan ibu setelah minum rebusan ini ?
Partisipan :saya merasa bukan saat itu juga kita merasakan manfaatnya akan tetapi setelah 100 harinya kita sanggup mengurus anak sendiri. Sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga.
Peneliti : Siapa yang menganjurkan ibu ? Partisipan :orang tua juga “
Peneliti : Apakah ibu berdasarkan adat aceh buk ?
Partisipan : setau saya seperti itu. Karena mertua juga mengajurkan seperti itu. Peneliti : Jadi, ada tidak buk kepercayaan orang aceh yang lain ?
Partisipan : misalnya seperti apa ya ?”
Partisipan :kepercayaan orang aceh ya kalau belum 100 hari kalau bisa jangan keluar rumah dulu. Yang belum 44 hari jangan keluar sama sekali. Peneliti : Kenapa buk ?
Partisipan :itu mungkin karena badan kita kan belum bersih, trus kan jangan kena matahari juga. Matahari pagi sih tidak apa. Tapi ditakutkan kena angin nanti jadi mudah sakit.
Peneliti : Ibu pernah tidak mengalaminya ?
Partisipan :ya saya udah pernah coba waktu anak kedua. Saya tidak mengindahkan anjuran adat bukan tidak sama sekali tapi tidak sepenuhnya saya lakukan dan sangat terasa perbedaannya antara anak pertama dan keduanya jauh banget. Saya merasa lebih tua pada saat itu.
Peneliti : Selain daun 44, ibu ada tidak mengkonsumsi jamu-jamuan yang lain ?
Partisipan :ada, kunyit atau induk kunyit trus jinten trus pakai gula merah, asam jawa, kemudian buah mangkeng sejenis jeruk nipis tapi setau saya hanya ada di aceh”
Peneliti : Bagaimana cara membuatnya ?
Partisipan :Kunyit dihaluskan kemudian, dicampur semua bahannya ditambahkan madu kemudian diminum dengan air hangat. Bagusnya minumnya sebelum makan
Peneliti : Berapa kali ibu minum setiap harinya ? Partisipan : sekali setiap pagi aja”
Peneliti : Bagimana perasaan ibu, apa yang ibu rasakan ?
Partisipan : egar, enak, rasanya saya bisa melakukan aktifitas sepanjang hari “ Peneliti : Kegunaannya apa buk ?
Partisipan :bisa membuat badan lebih segar dan mempercepat proses penyembuhan.”
Peneliti : Siapa yang mengajarkan ibu minum jamu ini ? Partisipan : “ orang tua saya. Ini adat istiadat keluarga saya”
Partisipan : Iya saya tidur di rangkang atau tempat duduk yang dari kayu istilahnya sale.
Peneliti : Seperti apa sale itu buk?
Partisipan : “ kebetulan itu disebuah rakit atau dipan tapi ga pake alas. Karena kalau pake alas ditakutkan terbakar dengan uap. Jadi gitu aja. Rasanya seperti di steam. Kayak kita pergi ke tempat sauna. Banyak keluar keringat. “
Peneliti : Sebanyak apa keringatnya buk?
Partisipan : “ sangat banyak. Dari rambut sampai ke daleman basah semua. “ Peneliti : Saya lihat ini rumah ibu lantainya keramik. Bagaimana cara ibu
melakukan sale ?
Partisipan : “ Saya memakai panci dari tanah diisi arang. Kemudian kita bakar dulu. Tapi bakarnya diluar rumah. Kita tunggu sampai tinggal arang merahnya saja tapi tidak ada api, kemudian kita bawa kembali ke dalam rumah, kita letakkan diatas tungku kaki tiga sebagai alas panci dan diletakkan dibawah dipan. Ya sudah kemudian saya tidur saja diatasnya.”
Peneliti : Apa ibu harus selalu tidur kalau sale ini ?
Partisipan : “ Bisa aja duduk kok, ada tempat duduk khususnya dia. Dibuat khusus yang dibagian alas duduknya ada ruang ruang sehingga asap bisa masuk. “
Peneliti : Berapa lama ibu melakukannya ?
Partisipan : “ hm... memang sebaiknya 100 hari tapi 44 hari saja sudah cukup saya rasa.”
Peneliti : Berapa lama ibu disale setiap harinya ?
Partisipan : “ itu tergantung kita sendiri. Kalau saya pada saat anak sudah tidur, saya mulai tidur diatas dipan sampai anak bangun, bagusnya sih 4-5 jam dalam sehari.”
Peneliti : Bagaimana perasaan ibu setelah disale ?
Partisipan : “ rasanya segar, seperti habis masuk sauna aja. Cuman yang gak enaknya pada saat tiduran diatas itu aja karena panas. “
Peneliti : Apakah setelahnya ibu langsung mandi ?
Peneliti : Kenapa harus tunggu kering buk? Kenapa ibuk tidak langsung mandi ?
Partisipan : “ perasaan saya saja yang tidak enak kalau saya langsung mandi “ Peneliti : Pernah tidak buk ibuk segera mandi dengan keadaan berkeringat ? Partisipan : “ kebetulan tidak pernah
Peneliti : bagaimana dengan aktifitas ibu sehari hari ?
Partisipan : tidak banyak aktifitas yang saya lakukan. Saya lebih banyak istirahat sambil meletakkan batu panas di sale. Saya tidak diperbolehkan jalan kecuali ke kamar mandi, atau mengambil bayi kalau dia nangis. Tapi saya dilarang untuk tidur siang atau saat magrib.
Peneliti : kenapa buk ?
: katanya nanti badan saya akan semakin gemuk. Kalau magrib gak bagus, bikin saya cepat lupa.
Peneliti : bagaimana dengan menyusui buk? Ibu menyusui tidak ?
: iyalah dek, kan asi harus diberikan untuk bayi saya. Untuk memperbanyak asi saya makan daun katuk, kates juga, trus payudara saya juga dipijat khusus supaya asinya lebih cepat keluar, saya juga dianjurkan makan tape sebagai selingan karna bagus untuk asi juga, Peneliti : siapa yang mengajarkan ibu ?
PARTISIPAN B
Peneliti : bagaimana dulu proses saat ibu melahirkan ?
Partisipan : Setelah melahirkan, saya disuruh mandi oleh mama saya. Airnya sudah dicampur sama jeruk purut. Kemudian saya disuruh minum obat
Peneliti : untuk apa jeruk purut buk ?
Partisipan : untuk menghilangkan bau amis dari darah. Peneliti : obat apa yang ibu minum ?
Partisipan : air mancur Peneliti : isinya apa ya bu?
Partisipan : pilis, param, untuk di kepala, badan
Peneliti : dikepala pada saat kapan kita mulai pakai buk? Partisipan : sesudah 40 atau 44 hari
Peneliti : sesudah 40 hari bu?
Partisipan : dari habis melahirkan sampai 44 hari
Peneliti : isinya apa saja ya buk? Darimana ibu mendapatkannya? Partisipan : saya beli di pasar
Peneliti : kalau jamu yang dikepala buk?
Partisipan : sama, satu paket dia. Pilis digunakan dikepala agar kita tidak sakit kepala, pusing, bagus untuk mata juga.
Peneliti : ada tidak yang ibu minum atau ibu gunakan selain yang tadi ibu jelaskan ?
Partisipan : ada yang bikinan sendiri untuk diminum. Air kunyit. Peneliti : kegunaannya untuk apa buk?
Partisipan : untuk menyembuhkan luka dari dalam. Kan pada saat melahirkan luka didalam. Kalau kita rutin minumnya ini bisa menyembuhkan luka tersebut. Juga bisa merapatkan kembali. Membuat kita awet juga. Peneliti : berapa hari ibu minumnya? Berapa kali ibu minumnya ?
Partisipan : sampai 44 hari. Satu kali sehari. Sesudah makan pagi.
Peneliti : ada tidak kebiasaan yang ibu lakukan lagi sesudah melahirkan ? Partisipan : ada. Bakar batu. Sesudah dibakar batunya diletakkan diatas perut Peneliti : batunya yang bagaimana buk ?
Partisipan : batu yang kecil. Kira kira beratnya tidak lebih dari 1 kg. Peneliti : bagaimana prosesnya buk ?
Partisipan : setelah dibakar diletakkan diatas perut. Kita pakai alas berupa kain karna kan panas. Supaya tidak langsung membakar kulit perut.
Peneliti : berapa lama batunya dibakar buk? Partisipan : ya sampai panas.
Peneliti : berapa lama ibu meletakkan batunya di atas perut buk ?
Partisipan : ya seterusnya. Kalau batunya sudah dingin dibakar kembali kemudian diletakkan kembali begitu seterusnya.
Peneliti : apakah ibu tidak kepanasan ?
Partisipan : kan tadi kita gunakan kain sebagai alas. Ah, saya lupa kita siram dulu batunya dengan air dingin baru kemudian kita alaskan kain dan letakkan di atas perut.
Peneliti : tujuan disiram air untuk apa buk ?
Partisipan : untuk menghilangkan debu dan abu arang yang menempel. Kemudian batu akan tahan lama panasnya jika disiram air terlebih dahulu.
Peneliti : tujuan meletakkan batu di atas perut untuk apa buk?