PERAWATAN IBU POST PARTUM MENURUT
BUDAYA ACEH DI DESA GAROT
KECAMATAN DARUL IMARAH
KABUPATENACEH BESAR
NOZA SARY
NIM : 145102046
KARYA TULIS ILMIAH
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan
rahmatNya lah penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini sebagai salah satu
syarat untuk menyelesaikan program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan
USU Medan. Adapun judul yang diambil penulis dalam Karya Tulis Ilmiah ini
adalah “Perawatan Ibu Postpartum Menurut Budaya Aceh Di Desa Garot
Kecamatan Darul Imarah”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari
sempurna, walaupun demikian besar harapan penulis kiranya Karya Tulis Ilmiah ini
dapat menambah wawasan penulis mengenai Karya Tulis Ilmiah ini, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan di
masa yang akan datang.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara
2. Ibu Nur Asnah Sitohang, S.Kep, Ns, M.Kep selaku ketua pelaksana program D IV
Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universita Sumatera Utara
3. Ibu Nur Afi Darti, SKp, M.Kep selaku dosen pembimbing yang telah banyak
memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini
4. Seluruh staf dosen pengajar D IV Bidan Pendidik yang telah bayak memberikan
ilmu pengetahuan dan arahan selama penulis menyusun Karya Tulis Ilmiah ini
5. Secara khusus dan teristimewa kepada Orang tua saya yang terkasih, Ayah dan
baik secara moril maupaun material sekaligus kasih sayang yang sangat besar
kepada peneliti dalam pemyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini
5. Teman-teman D IV Bidan Pendidik yang telah banyak membantu dan memberikan
semangat dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini
Dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan saran dan kritik dari
pembaca yang bersifat membangun untuk memperbaiki Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis tidak lupa mendoakan semua pihak agar selalu dilimpahkan rahmat dan
karunia-Nya kepada kita semua. Amin
Medan, 03 Juli 2015
Penulis
DAFTAR ISI
BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Nifas ... 5
B. Perubahan Fisiologis Ibu Masa Nifas ... 5
1. Perubahan Sistem Reproduksi... 5
2. Perubahan Sistem Endokrin ... 10
3. Perubahan Sistem Pencernaan... 11
4. Perubahan Sistem Muskoskeletal. ... 11
5. Perubahan Sistem Integumen. ... 12
6. Perubahan Sistem Perkemihan. ... 12
C. Perawatan Ibu Nifas. ... 13
7. Seksualitas dan Penggunaan Alat Kontrasepsi. ... 18
E. Konsep Budaya Dalam Perawatan Postpartum. ... 19
1. Definisi Budaya. ... 19
2. Aspek Budaya Dalam Masa Nifas. ... 20
F. Metode Penelitian Kualitatif. ... 21
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. DesainPenelitian ... 24
B. Partisipan ... 24
C. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25
D. Pertimbangan Etik ... 25
E. Instrumen Penelitian ... 26
F. Pengumpulan Data ... 26
G. Tingkat Keabsahan Data ... 27
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Partisipan. ... 28
B. Pembahasan ... 49
C. Keterbatasan Penelitian. ... 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan. ... 61
B. Saran. ... 62 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Karakteristik Partisipan. ... 28 Tabel 4.2 Tema dan Sub Tema Perawatan Ibu Postpartum Menurut
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lembar Persetujuan Menjadi Partisipan Penelitian Lampiran 2 : Lembar Panduan Wawancara Penelitian
Lampiran 3 : Lembar Instrumen Penelitian Lampiran 4 : Transkrip Wawancara
Lampiran 5 : Line Wawancara Lampiran 6 : Daftar Riwayat Hidup Lampiran 7 : Surat Izin Penelitian
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu indikator kurang berhasilnya program kesehatan reproduksi
adalah tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Indonesia masih menduduki
peringkat tertinggi Angka Kematian Ibu (AKI) di kawasan Asia Tenggara
(ASEAN). Singapura mencatat paling rendah angka ibu hamil/melahirkan, hanya
3 ibu meninggal per 100.000 ibu melahirkan. Kemudian disusul Malaysia (5 ibu
meninggal/100.000 ibu melahirkan), Thailand (8-10/100.000), Vietnam
(50/100.000). Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menurut hasil Survei
Demografi dan Kesehatan (SDKI) 2007 menurun dari 307 per 100.000 kelahiran
hidup pada tahun 2002 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007
akan tetapi kembali naik menjadi 380 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun
2010 dan kembali menurun menjadi 358 per 100.000 kelahiran hidup. (SDKI,
2010).
Berbagai faktor yang mempengaruhi angka kematian ibu masih tinggi di
Indonesia, diantaranya oleh hipertensi dalam kehamilan (32%), infeksi pasca
persalinan (31%), PPB (20%), abortus (4%), APB (3%), kelainan amnion (2%),
partus lama (1%), dan penyebab lainnya penyebab obstetrik langsung lainnya
(8%), dan penyebab tidak langsung (7%). (Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes
RI, 2010).
Kondisi sosial budaya (adat istiadat) dan kondisi lingkungan (kondisi
geografis) berpengaruh juga terhadap kesehatan reproduksi. Situasi budaya dalam
kesehatan reproduksi di Indonesia (Muhammad,1996). Misalnya pada ibu hamil
dan keluarga di sejumlah daerah di Indonesia yang menyambut masa-masa
kehamilan, sangat sering dilakukan upacara-upacara yang diselenggarakan mulai
dari kehamilan 3 bulan, 7 bulan, masa melahirkan dan masa nifas sangat beragam
menurut adat istiadat daerah masing-masing (Syafrudin, 2009).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wuryanto dan Winaryati tahun
2007, Banyak hal dilakukan ibu nifas berkenaan dengan pantangan yang harus
dilakukan oleh ibu nifas, karena budaya yang berlaku di masyarakat lebih kental.
Ada 4l orang (63,1%) ibu nifas melakukan beberapa pantangan aktifitas,
disebabkan oleh budaya yang telah turun temurun, karena bila tidak dilakukan
tidak elok/tidak baik, yang akan berdampak pada ibu dan anaknya. Sedang
pantangan pada makanan tertentu lebih cenderung demi kesehatan ibunya, agar
segera cepat pulih kembali.
Suryawati (2007) juga menuturkan hasil penelitiannya bahwa Dalam hal
praktek perawatan selama masa nifas (setelah ibu melahirkan sampai dengan
sekitar 35-40 hari) terdapat beberapa aturan seperti minum jamu, pantangan
mengkonsumsi daging, ikan serta pijat badan untuk mengembalikan kebugaran
tubuh setelah bersalin.
Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan dengan
mewawancarai 1 orang ibu nifas, ibu nifas masih menjalankan semua kebiasaan
dan tradisi perawatan masa nifas sesuai dengan adat dan budaya Aceh dimana ibu
melakukan kompres panas pada perut dengan meletakkan batu yang sudah
dipanasi, Setelah melahirkan ibu dan bayinya harus dipijat atau diurut, diberi pilis
atau lerongan dan tapel, membilas vagina dengan air sirih, mengurut daerah perut
semula, dan menjaga kerampingan tubuh dan perut ibu dengan memakai
bangkung/stagen. Hal ini tentunya masih menjadi pertentangan dikarenakan
seharusnya untuk memastikan involusi uterus berjalan normal tanpa adanya
intervensi seperti peletakan batu yang sudah dipanasi karena hal itu tentunya
akan menggangu proses involusi uterus. (Anggraini,2010)
Berdasarkan uraian diatas peneliti merasa masih perlu dilakukan
pengkeksplorasian yang jauh untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana
perawatan nifas ibu postpartum menurut budaya Aceh di desa Garot Kecamatan
Darul Imarah.
B. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi perawatan
nifas pada ibu postpartum di desa Garot Kecamatan Darul Imarah.
C. Manfaat Penelitian
Adapun penelitian ini berguna untuk :
1. Praktik Kebidanan
Sebagai masukan bagi para tenaga kesehatan untuk mengadaptasikan
perawatan nifas berdasarkan budaya ke perawatan nifas yang sesuai standar
kesehatan.
2. Penelitian Kebidanan
Dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan data dasar untuk penelitian
lain yang meneliti tentang perawatan ibu postpartum menurut budaya aceh
di desa garot kecamatan darul imarah.
3. Pendidikan Kebidanan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi bagi
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Masa Postpartum (Nifas)
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar
dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil).
Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu, atau masa nifas adalah masa
yang dimulai dari beberapa jam setelah lahir plasenta sampai 6 minggu
berikutnya. (Saifudin,2002)
B. Perubahan Fisiologis Ibu Masa Nifas
Selama hamil terjadi perubahan pada sistem tubuh wanita, diantaranya terjadi
perubahan pada sistem reproduksi, sistem pencernaan, sistem perkemihan, sistem
musculoskeletal, sistem endokrin, sistem kardiovaskuler, sistem hematologi, dan
perubahan pada tanda-tanda vital. Setelah kelahiran bayi dan pada pengeluaran
plasenta, Menurut Ball 1994, Hytten,1995 ibu mengalami suatu periode
pemulihan kembali kondisi fisik dan psikologisnya. (Nurjannah, dkk, 2013).
Adapun perubahan-perubahan dalam masa nifas adalah sebagai berikut:
1. Perubahan sistem reproduksi
a. Uterus
Involusio uterus meliputi reorganisasi dan pengeluaran
desidua/endometrium dan eksfoliasi tempat perlekatan plasenta yang
ditandai dengan penurunan ukuran dan berat serta perubahan pada lokasi
uterus juga ditandai dengan warna dan jumlah lokia. Banyaknya lokia dan
kecepatan involusi tidak dipengaruhi oleh pemberian rangkaian preparat
pendek. Akan tetapi, menyusui akan mempercepat proses involusi.
Desidua yang tersisa di dalam uterus setelah pelepasan dan ekspulsi
plasenta dan membran terdiri dari zona basalis dan bagian lapisan zona
spongiosa desidua basalis (pada tempat perlekatan plasenta) dan desidua
parietalis (melapisi bagian uterus). Desidua sisa ini mengalami
reorganisasi menjadi dua lapisan sebagai akibat invasi leukosit: lapisan
superfisial degeneratif dan nekrotik, yang akan terlepas sebagai bagian
dari rabas lokia, dan lapisan dalam yang fungsional serta sehat di dekat
miometrium. Lapisan dalam terdiri dari sisa kelenjar endometrium basilar
dalam lapisan zona basalis. Endometrium mengalami regenerasi melalui
proliferasi epitel kelenjar ini. Regenerasi endometrium lengkap pada
pertengahan atau akhir minggu ketiga pascapartum kecuali pada sisi
plasenta.
Regenerasi endometrium lengkap pada tempat perlekatan plasenta
memakan waktu hampir 6 minggu. Epitel tumbuh pada tempat perlekatan
tersebut dari samping dan dari sekitar lapisan uterus, dan ke atas dari
bawah tempat perlekatan plasenta. Pertumbuhan endometrium ini
membuat pembuluh darah yang mengalami pembekuan pada tempat
perlekatan tersebut rapuh sehingga meluruh dan dikeluarkan dalam
bentuk lokia.
Uterus, segera setelah pelahiran bayi, plasenta, dan selaput janin,
beratnya sekitar 1000g. Berat uterus menurun sekitar 500g pada akhir
minggu pertama pascapartum dan kembali pada berat yang biasanya pada
saat tidak hamil, yaitu 70g pada minggu kedelapan pascapartum. (Varney,
Involusi uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke
kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai
segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
Segera setelah plasenta lahir, tinggi fundus uteri (TFU) sekitar
pertengahan simfisis pubis dan umbilikus. Setelah 24 jam tonus segmen
bawah uterus telah pulih kembali sehingga mendorong fundus keatas
menjadi setinggi umbilikus. Pada hari pertama dan kedua TFU satu jari
dibawah umbilikus, hari ke 5 TFU setinggi 7 cm diatas simfisis atau
setengah simfisi-pusat, pada hari ke 10 tidak teraba lagi. Fundus turun 1-2
cm setiap 24 jam. (Sulistyawati,2009)
b. Lochea
Lochea adalah sekresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea
mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam
uterus. Lochea mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat
organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada
vagina normal. Lochea mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak
terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita.
Lochea yang berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi. Lochea
mengalami perubahan karena proses involusi. (Sulistyawati,2009),
Pengeluaran lochea dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya
seperti berikut ini: Lochea rubra ini keluar pada hari pertama sampai hari
ke-4 masa postpasrtum. Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi
darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo
Lochea sanguinolenta ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir,
serta berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum. Pada hari
ke- 8 mulai keluar lochea serosa yang berwarna kuning kecoklatan karena
mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta. Keluar
pada hari ke-7 sampai hari ke-14. Dan setelah hari ke 14, Lochea mulai
berwarna putih yang mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput
lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati. Lochea alba ini dapat
berlangsung selama 2-6 minggu post partum. (Varney,2008)
c. Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus.
Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks postpasrtum adalah bentuk serviks
yang akan membuka seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus
uteri yang dapat berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi,
sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks uteri
terbentuk semacam cincin. Warna serviks sendiri merah kehitam-hitaman
karena penuh pembuluh darah. Beberapa hari setelah persalinan, ostium
externum dapat dilalui oleh 2 jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi
retak-retak kareana robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama
hanya dapat dilalui oleh 1 jari saja, dan lingkaran retraksi berhubungan
dengan bagian atas dari canalis servikalis. Pada serviks terbentuk
otot-otot baru yang mengakibatkan serviks memanjang seperti celah. Karena
hiperpalpasi ini dan karena retralsi dari serviks, robekan serviks menjadi
sembuh, setelah 6 minggu persalinan serviks menutup. Walaupun begitu,
setelah involusi selesai, ostium externum tidak serupa dengan keadaannya
retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir
sampingnya. Oleh robekan ke samping ini terbentuk bibir depan dan bibir
belakang pada serviks. (Nurjannah,dkk,2013)
d. Vulva dan vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang
sangat besar selama proses melahirkan bayi dan dalam beberapa hari
pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam
keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada
keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur
akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol.
(Nurjannah,dkk,2013)
e. Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena
sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada
postnatal hari ke-5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar
tonusnya sekalipun tetap lebih kendur daripada keadaan sebelum
melahirkan. Tipe penurunan tonus otot dan motilitas traktus intestinal
berlangsung hanya beberapa waktu setelah persalinan. Penggunaan
analgetik dan anastesi yang berlebihan dapat memperlambat pemulihan
kontraksi dan motilitas otot. (Nurjannah,dkk,2013)
f. Payudara
Payudara juga akan mengalami perubahan meliputi, terjadinya
penurunan kadar estrogen dan progesteron dengan peningkatan sekresi
prolaktin setelah melahirkan. Kolostrum sudah ada pada waktu
Payudara lebih besar dan lebih keras terjadi karena laktasi
(pembengkakan primer). Kongesti berkurang dalam 1-2 hari. Didalam
payudara prolaktin menstimulasi, bayi baru lahir memicu pelepasan
oksitosin dan kontuksilitas sel-sel miopitelial, yang menstimulasi aliran
susu, ini dikenal sebagai reflek let-down, jumlah rata-rata ASI yang
dihasilkam selama 24 jam meningkat pada minggu pertama 6-10 ons, 1-4
minggu 20 ons dan setelah 4 minggu 30 ons.
2. Perubahan sistem endokrin
Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG
(Human Chorionic Gonadotropin) menurun dengan cepat dan menetap
sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke- 7 post partum dan sebagai onset
pemenuhan mamae pada hari ke-3 post partum. Prolaktin darah akan
meningkat dengan cepat. Pada wanita yang tidak menyusui, prolaktin
menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH akan meningkat pada fase
konsentrasi folikuler (Minggu ke-3) dan LH tetap rendah hingga ovulasi
terjadi.
Lamanya seorang wanita mendapat menstruasi juga dipengaruhi oleh
faktor menyusui. Seringkali menstruasi pertama ini bersifat anovulasi karena
rendahnya kadar estrogen dan progesteron. Setelah persalinan, terjadi
penurunan kadar estrogen yang bermakna sehingga aktivitas prolaktin yang
juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mamae dalam
menghasilkan ASI. (Sulistyawati,2009).
3. Perubahan Sistem Pencernaan
Ibu akan mengalami konstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan
menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan berlebih pada waktu
persalinan, kurangnya asupan cairan dan makanan, serta kurangnya aktifitas
tubuh.
Supaya buang air besar kembali normal, dapat diatasi dengan diet
tinggi serat, peningkatan asupan cairan, dan ambulasi awal. Bila ini tidak
berhasil, dalam 2-3 hari dapat diberikan obat laksansia. Selain konstipasi, ibu
juga mengalami anoreksia akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan
dan mempengaruhi perubahan sekresi, serta penurunan kebutuhan kalori yang
menyebabkan kurang nafsu makan. (Sulistyawati,2009).
4. Perubahan sistem muskuloskeletal
Sistem muskuloskeletal pada ibu selama masa pemulihan/post partum
termasuk penyebab relaksasi dan kemudian hipermobilitas sendi serta
perubahan pada pusat gravitasi. Adaptasi sistem muskuloskeletal ibu yang
terjadi mencakup hal-hal yang dapat membantu relaksasi dan hipermobilitas
sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran uterus. Stabilisasi
sendi lengkap akan terjadi pada minggu ke-6 sampai ke-8 wanita melahirkan.
5. Perubahan sistem integumen
Melanin menurun bertahap setelah persalinan, menyebabkan
penurunan hyperpigmentasi (namun warnanya tidak akan kembali ke keadaan
sebelum hamil), perubahan vaskuler kehamilan yang tampak akan hilang
dengan penurunan kadar estrogen (Stright,2001)
6. Perubahan Sistem perkemihan
Distensi yang berlebihan pada kantung kemih adalah hal yang umum
terjadi karena peningkatan kapasitas kandung kemih, pembengkakan,
meningkat. Kandung kemih yang penuh menggeser uterus dan dapat
menyebabkan perdarahan pasca partum, distensi kandung kemih dapat
menyebabkan retensi urin, pengosongan kandung kemih yang adekuat
umumnya kembali dalam 5-7 hari setelah terjadi pemulihan jaringan yang
bengkak dan memar. Laju filtrasi glomerulus (GFR) tetap meningkat
kira-kira 7 hari setelah melahirkan. Ureter yang berdilatasi dan pelvis renal
kembali kekeadaan sebelum hamil dalam 6-10 minggu setelah melahirkan.
(Cunningham,2004)
C. Perawatan Ibu Masa Nifas
Perawatan nifas adalah perawatan ibu yang telah selesai melahirkan,
dimana perawatan ini membantu ibu dalam pemulihan tubuh setelah melahirkan,
perawatan nifas yang meliputi: perawatan perineum, perawatan payudara,
pemulihan kesehatan, seksualitas dan pemilihan alat kontrasepsi (Reeder, et, al)
1. Perawatan perineum
Beberapa metode untuk merawat daerah perineum yang bertujuan
untuk memberikan rasa nyaman dan mengurangi resiko infeksi, beberapa
metode untuk ibu antara lain : terapi panas dingin, perawatan perineum, dan
cara duduk.
2. Perawatan payudara
Pada masa nifas perawatan payudara merupakan suatu tindakan yang
sangat penting untuk merawat payudara terutama untuk memperlancarkan
pengeluaran ASI. Tujuan perawatan payudara adalah untuk: Menjaga
payudara tetap bersih dan kering terutama puting susu dengan menggunakan
BH yang menyokong payudara, melenturkan dan menguatkan puting susu,
Perawatan payudara sangat penting dilakukan karena payudara
merupakan satu-satunya penghasil ASI yang merupakan makanan pokok bayi
yang baru lahir sehingga harus dilakukan sedini mungkin yaitu: 1-2 hari
sesudah bayi dilahirkan. Perawatan payudara dilakukan 2 kali sehari
(Anggraini,2010).
Perawatan payudara dapat dilakukan dengan cara: menjaga payudara
agar tetap bersih, dan kering, terutama puting susu, menggunakan BH yang
menyokong payudara, mengoleskan kolostrum atau ASI yang keluar sekitar
puting susu apabila puting susu lecet dan menyusui tetap dilakukan dimulai
dari puting susu yang tidak lecet, mengistirahatkan payudara apabila lecet
berat selama 24 jam, minum paracetamol 1 tablet selama 4-6 jam untuk
menghilangkan nyeri, melakukan pengompresan dengan menggunakan kain
basah dan hangat selama 5 menit apabila payudara bengkak akibat
pembendungan ASI, mengurut payudara dari pangkal menuju puting atau
menggunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah Z menuju puting.
ASI sebagian dikeluarkan dari bagian depan payudara sehingga puting susu
menjadi lunak, bayi disusui setiap 2-3 jam dan apabila tidak dapat menghisap
seluruh ASI sisanya dikeluarkan dengan tangan lalu meletakkan kain dingin
pada payudara setelah menyusui (Saifuddin, 2005)
D. Kebutuhan Ibu Masa Nifas 1. Nutrisi
Untuk memulihkan tenaga ibu setelah melahirkan ibu harus
mendapatkan diet yang bermutu tinggi dan cukup kalori, protein, cairan,
baik akan mempercepat proses penyembuhan ibu, makanan juga akan
sangat mempengaruhi produksi ASI.(Wijayanegara,1999)
2. Istirahat dan tidur
Kehadiran bayi dalam rumah tangga pasti akan mengurangi waktu
tidur ibu, inilah yang menjadikan alasan kelelahan sebagai alasan nomor
satu bagi ibu-ibu baru, ada beberapa cara untuk mengatasi lelah, antara
lain, makan dengan baik karena nutrisi yang tepat bisa meningkatkan
energi ibu, cobalah tidur disaat bayi juga tidur, usahakan tidur lebih cepat
daripada biasanya, sebelum tidur jangan makan terlalu banyak atau
minum minuman yang mengandung kafein. Kelelahan akan menjadi lebih
mudah dilawan jika membuat urutan kegiatan setiap hari, ibu dan bayi
akan merasa rileks, dengan menetapkan jadwal tidur, mandi, memberi
minum, dan menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya. (Wyeth,2007)
3. Ambulasi
Sehabis melahirkan ibu merasa lelah karena ibu harus istirahat dan
tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian ibu boleh
miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya trhombosis dan
tromboemboli (Mochtar,1998).
Sebagian besar pasien dapat melakukan ambulasi segera setelah
persalinanusai. Aktivitas tersebut amat berguna bagi semua sistem tubuh,
terutama fungsi usus, kandung kemih, sirkulasi dan paru-paru. Hal
tersebut juga membantu mencegah trombosis pada pembuluh tungkai dan
membantu kemajuan ibu dari ketergantungan peran sakit menjadi sehat.
Aktivitas dapat dapat dilakukan secara bertahap, memberikan jarak antara
untuk selekas mungkin berjalan. Klien sudah diperbolehkan bangun dari
tempat tidur dalam 24-48 jam post partum.
4. Mandi
Mandi teratur minimal 2 kali sehari. Mandi di tempat tidur dilakukan
sampai ibu dapat mandi sendiri di kamar mandi, mengganti pakaian dan
alas tempat tidur, serta lingkungan dimana ibu tinggal, yang terutama
dibersihkan adalah puting susu dan mammae dilanjutkan dengan
perawatan perineum. (Nurjannah,dkk,2013)
5. Eliminasi BAB/BAK
Kebanyakan pasien dapat melakukan BAK secara spontan dalam 8
jam setelah melahirkan. Selama kehamilan terjadi peningkatan
ekstraseluler 50%. Setelah melahirkan cairan ini dieliminasi sebagai urine.
Umumnya pada partus lama yang kemudian diakhiri dengan ekstraksi
vakum atau cunam, dapat mengakibatkan retensio urine. Bila perlu,
sebaiknya dipasang dower catheter untuk memberi istirahat pada otot-otot
kandung kencing. Dengan demikian, jika ada kerusakan kerusakan pada
otot-otot kandung kencing, otot-otot cepat pulih kembali sehingga
fungsinya cepat pula kembali. Buang air besar (BAB) biasanya tertunda
selama 2 sampai 3 hari setelah melahirkan. (Nurjannah,dkk,2013)
6. Latihan dan aktifitas
Setelah bayi melewati lubang vagina, liang vagina menjadi rata
(sebelumnya bergelembung), bengkak dan melar, sehingga membuka
selama 2-3 hari, namun selama 34 hari kemudian akan menyusut kembali,
walaupun tidak seperti semula. Agar otot vagina pulih kembali bisa
otot-otot vagina dan dubur seperti menahan kencing, latihan ini dapat
dilakukan sewaktu-waktu tanpa membutuhkan tempat khusus, bisa pada
waktu berjalan, berdiri, duduk, bahkan ketika waktu berbaring.
(Musbikin, 2007)
Pernafasan diagfragma dilakukan dengan cara letakkan tangan ibu
diatas perut sehingga ibu dapat merasakan perut yang menggembung saat
menarik nafas melalui hidung, kencangkan otot-otot perut saat
menghembuskan nafas melalui mulut. Mulailah perlahan dengan dua atau
tiga kali tarikan nafas panjang dalam setiap latihan untuk menghindari
hiperventilasi.
Sikap tubuh ibu setelah melahirkan akan berubah akibat ligamen atau
jaringan yang menghubungkan tulang dengan otot, melemah, dan
meregang, tulang-tulang semakin mudah bergerak, ligamen mudah
mengalami gangguan, akibatnya ibu setelah melahirkan akan mengalami
sakit punggung, untuk menghindari gangguan punggung setelah
melahirkan lakukan tindakan :
a. Ketika menyusui duduklah bersandar pada kursi atau bantal yang
telah disusun, selipkan bantal kecil di punggung bagian bawah
sebagai pengganjal. Jika menyusui ditempat tidur naikkan kaki
ditempat tidur, dengan posisi semacam ini punggung ibu tidak
mendapat beban yang bisa menimbulkan penyakit
b. Memandikan, posisi bak mandi juga harus mendapatkan perhatian,
usahakan tidak terlalu rendah yang membuat ibu harus membungkuk
c. Jika ibu mengganti popok lakukan di tempat yang tidak membuat ibu
membungkukkan badan, misalnya diatas meja yang sejajar dengan
bagian pinggang ibu, jika ditempat rendah berlututlah sampai posisi
bayi berada sejajar dengan pinggang ibu. (Musbikin,2007)
7. Seksualitas dan penggunaan alat kontrasepsi
Secara fisik, aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah
berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jari ke dalam vagina
tanpa rasa nyeri. Begitu darah berhenti dan ibu tidak merasakan
ketidaknyamanan, inilah saat yang aman untuk memulai melakukan
hubungan suami istri kapan ibu siap.
Beberapa pasangan yang sudah melewati tiga minggu masa
postpartum dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi, walaupun ibu
belum mendapatkan masa ovulasi ataupun masa subur, karena kontrasepsi
merupakan cara yang tepat untuk menunda kehamilan. Pasangan suami
istri bila memilih alat kontrasepsi yang diinginkan ataupun alat
kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi tubuh ibu. (Sulistyawati,2009).
E. Konsep Budaya Dalam Perawatan Postpartum 1. Definisi Budaya.
Budaya berasal dari sangskerta (buddhayah) yaitu bentuk jamak
dari buddhi yang berarti “budi”atau “akal” semua hal-hal yang berkaitan
dengan akal. Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang
didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat
Kebudayaan adalah sebuah konsep yang defininya sangat
beragam. Kebudayan umumnya digunakan untuk seni rupa, sastra,
filsafat, ilmu alam, dan music, yang menunjukkan semakin besarnya
kesadaran bahwa seni dan lmu pengetahuan dibentuk oleh lingkungan
(Usman, 2003). Variasi biasa terlihat diantara kultur. Variasi eksis dengan
kultur. Variasi ini sering berhubungan dengan faktor sosial ekonomi dan
pendidikan. Efek dari perbedaan kultur dan individual pada perawatan
kesehatan. Persalinan merupakan tantangan bagi perawat untuk
mengevaluasi kembali harapan tentang pelayanan kesehatan. Perawat
perlu mengetahui isu-isu dari berbagai macam-macam kultur dalam
memberikan pelayanan kesehatan serta meletakkan perhatian pada
kompetensi kultural berupa keterampilan dan pengetahuan penting untuk
memahami dan mengapresiasikan perbedaan kultur dan dapat
mengaplikasikan keterampilan praktek klinik (Arlene & Gloria, 2001).
2. Aspek Budaya Dalam Perawatan Masa Nifas
Kebudayaan maupun adat istiadat dalam masyarakat indonesia ada
yang menguntungkan, ada pula yang merugikan bagi status kesehatan ibu
hamil, ibu bersalin maupun ibu nifas (Syafrudin, 2009).
Faktor yang paling mempengaruhi status kesehatan masyarakat
terutama ibu hamil, bersalin dan nifas adalah faktor lingkungan yaitu
pendidikan disamping faktor-faktor lainnya. Jika masyarakat mengetahui
dan memahami hal-hal yang mempengaruhi status kesehatan tersebut
maka diharapkan masyarakat tidak melakukan kebiasaan/adat istiadat
(syafrudin. 2009). Pengaruh sosial budaya sangat jelas terlihat pada ibu
hamil dan keluarga yang menyambut masa-masa kehamilan.
Upacara-upacara yang diselenggarakan mulai dari kehamilan 3 bulan, 7 bulan,
masa melahirkan dan masa nifas sangat beragam menurut adat istiadat
daerah masing-masing (syafrudin, 2009).
Pada masyarakat Maluku, pantangan makanan pada masa nifas
yaitu terong agar lidah bayi tidak ada bercak putih, nenas, mangga tidak
bagus untuk rahim (Syafrudin, 2009).
Dari berbagai adat istiadat terlihat bahwa, upacara, penanganan
bagi ibu hamil, melahirkan dan nifas berbeda-beda setiap wilayah dan
menjadi gambaran penting bagi bidan yang bertugas di wilayah seluruh
indonesia. Oleh karena itu ilmu pengetahuan sosial kemasyarakat sangat
penting dipahami oleh seorang bidan dalam menjalankan tugasnya.
Karena bidan sebagai petugas kesehatan yang berada digaris depan dan
berhubungan langsung dengan masyarakat, dengan latar belakang agama,
budaya, pendidikan dan adat istiadat yang berbeda. pengetahuan sosial
dan budaya yang dimiliki oleh seorang bidan akan berkaitan dengan cara
pendekatan untuk merubah prilaku dan keyakinan masyarakat yang tidak
sehat, menjadi masyarakat yang berprilaku sehat (Syafrudin, 2009).
F. Metode Penelitian Kualitatif Fenomenologi
Fenomenologi diartikan sebagai pengalaman subjektif atau pengalaman
fenomenologikal atau suatu studi tentang kesadaran dari perspektif dari
seseorang. Istilah fenomenologi juga sering diartikan sebagai anggapan
dan tipe subjek yang ditemui. Istilah fenomenologi juga mengacu pada
penelitian terdisiplin tentang kesadaran dari perspektif pertama seseorang.
(Moelong,2005)
Penelitian dalam pandangan fenemenologi berusaha memahami arti
peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam
situasi tertentu (Moelong,2005). Fenemenologi tidak berarti bahwa peneliti
mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti, yang
ditekankan oleh kaum fenemenologis ialah aspek subjektif dari perilaku
seseorang. Tetapi peneliti berusaha untuk kedalam dunia konseptual para
subjek yang ditelitinya sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu
yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupan
sehari-hari (Moelong,2005). Percakapan yang mendalam antara peneliti dan
partisipan. Peneliti membantu partisipan untuk menggambarkan pengalaman
hidup. Selanjutnya, dalam percakapan mendalam, peneliti berusaha
menambahkan jalan kepada partisipan untuk mendapatkan akses penuh
tentang pengalaman hidup mereka. (Polit,et,al. 2001)
G. Tingkat Keabsahan Data
Hasil penelitian diharapkan mempunyai data yang akurat dan dapat
dipercaya, sehingga hasil penelitian tersebut benar-benar dapat menjadi
sebuah karangan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan tanpa adanya
manipulasi atau pemalsuan data. Untuk itu perlu adanya cara agar penelitian
tersebut memenuhi keabsahan data. Ada beberapa kriteria yang dipenuhi,
sebagaimana menurut Lincoln dan Guba (1985) bahwa tingkat kepercayaan
meliputi: pertama, Credibility yaitu apakah hasil penelitian dapat dipercaya
atau tidak, hal ini dapat dilakukan dengan cara triangulasi, member cek, dan
wawancara atau pengamatan secara terus menerus (prologed engangment),
kedua, Dependability yaitu apakah hasil penelitian memiliki kendala atau
realbilitas, dimana hasil penelitian tersebut nantinya harus memiliki
kekonsistenan terhadap data yang dikumpulkan, dianalisis dan pada saat
dilakukan kesimpulan. Ketiga, confimability yaitu keyakinan akan kebenaran
terhadap data yang diperoleh. Dengan meminta bantuan kepada orang lain
yang berkompeten untuk memeriksa hasil dan mengoreksi hasil penelitian
yang diperoleh dan dikumpulkan oleh peneliti. Keempat, transferability
yaitu: mengandung makna apakah hasil penelitian ini nantinya akan dapat
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian dalam penelitian ini akan menggunakan desain kualitatif
femenologi. Femenologi adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk
menggambarkan pengalaman hidup seseorang (Polit&Hungler,1997) dengan
tujuan untuk menelaah dan mendiskripsikan sebuah fenomena sebagaimana
fenomena tersebut dialami secara langsung oleh manusia dalam hidupnya
sehari-hari seperti melahirkan (Asih, 2005). hal ini sesuai dengan tujuan peneliti yang
ingin mengidentifikasi pengalaman perawatan nifas yang dilakukan oleh ibu
dengan budaya Aceh.
B. Partisipan
Pada penelitian kualitiatif, jumlah partisipan tidak ditentukan dari awal tetapi
dengan menggunakan saturasi data. Apabila informasi baru yang didapatkan sama
dengan informasi sebelumnya maka data dikatakan telah sampai pada titik jenuh
dan pengambilan partisipan berikutnya dihentikan. Penelitian kualitatif
menggunakan partisipan dalam jumlah yang sedikit dan tidak acak. Jumlah
sampel (partisipan) dari penelitian kualitatif kurang lebih 10 orang. (Polit &
Beck,2012).
Pengambilan partisipan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive
sampling (Moelong,2005). Metode purposive sampling adalah metode pemilihan
partisipan dalam suatu penelitian dengan menentukan terlebih dahulu kriteria
populasi masalah yang diteliti (Saryono, Anggraini, 2013). Adapun kriteria
partisipan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ibu Suku Aceh yang sedang menjalani perawatan nifas/ dan masih melakukan
praktik nifas berdasarkan apa yang diajarkan oleh orang tua maupun
berdasarkan tradisi
2. Dapat berbahasa Indonesia
3. Melahirkan secara spontan/normal
4. Bersedia menjadi partisipan dalam penelitian ini
C.Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Februari dan akan dilaksanakan
di Desa Garot Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar dengan
pertimbangan kenaturalisasian data dan masih dilaksanakannya perawatan nifas
sesuai budaya dan tradisi Aceh di daerah tersebut.
D.Pertimbangan Etik
Pada penelitian ini dilakukan pertimbangan etik, yaitu memberi penjelasan
kepada calon partisipan penelitian tentang makna dan tujuan penelitian. Apabila
calon partisipan bersedia berpartisipasi dalam penelitian, maka partisipan
dipersilahkan untuk mendatangani lembar persetujuan atau informed consent yang
sebelumnya sudah dibaca oleh partisipan dan mengerti isinya. Peneliti tidak akan
memaksa jika partisipan menolak untuk diwawancarai dan tetap menghargai
haknya. Penelitian ini juga tidak menimbulkan risiko bagi individu yang menjadi
partisipan, baik risiko fisik maupun psikis. Selanjutnya, untuk menjaga
kerahasiaan identitas partisipan, lembar pengumpulan data (kuesioner) hanya
diberi nomor kode yang hanya diketahui oleh peneliti sehingga kerahasiaan
E.Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua jenis instrumen yaitu:
a. Kuesioner data demografi berisi tentang data umum partisipan pada lembar
pengumpulan data (Kuesioner) yakni: usia, agama, tingkat pendidikan,
pekerjaan, pengalaman berdasarkan penyuluhan, bantuan persalinan,
perawatan nifas, dan lokasi persalinan
b. Panduan wawancara mendalam (depth interview) berupa pertanyaan seputar
perawatan dan kebiasaan yang dilakukan selama masa nifas dan tujuannya.
F. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan setelah mendapat izin dari Ketua Program
Studi Ilmu Keperawatan USU dan meminta izin kepada bidan Sumi untuk
melakukan penelitian. Setelah itu peneliti melakukan wawancara awal sebagai
pilot studi dan membicarakan hasilnya dengan pembimbing untuk melihat teknik
wawancara yang dilakukan peneliti mulai dari probling sampai analisis data
sudah benar dan bisa dipakai untuk penelitian. Kemudian peneliti melakukan
prolog engagement dengan cara pendekatan dan memperkenalkan diri kepada
partisipan dan menjelaskan hal–hal yang terkait serta tujuan dari penelitian ini
sehingga peneliti dan pertisipan dapat saling mengenal dan patisipan dapat
mempercayai peneliti sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan.
Partisipan terlebih dahulu diminta mengisi kuesioner data demografi, setelah itu
memulai wawancara sebanyak 2 kali, dan atas kesediaan partisipan peneliti
merekam proses wawancara.
Setelah itu hasil wawancara ditulis dalam bentuk transkip dan dibaca
berulang-ulang. Peneliti menganalisa data yang telah dilakukan dan
membahas hasil penelitian sesuai dengan analisa data yang telah dilakukan. Jika
ada hal yang kurang jelas maka peneliti akan melakukan wawancara ulang
terhadap partisipan sampai data yang dibutuhkan terpenuhi sehingga memperoleh
saturasi data setelah itu wawancara dihentikan. Dan peneliti mengadakan member
chek terhadap data yang diperoleh. G. Analisa Data
Analisa data didahului dengan proses transkripsi hasil wawancara secara
verbatim. Kemudian setiap transkripsi diberi identitas, diperiksa keakuratannya,
kemudian dianalisa.
Menurut metode Collaizi (1978) hal ini meliputi :
1. Membaca transkrip berulang-ulang agar dapat menyaru dengan data
2. Merumuskan pernyataan-pernyataan spesifik
3. Menformulasikan makna dari pernyataan spesifik
4. Menformulasikan tema dan kluster tema
5. Membuat deskrpsi lengkap dengan cara memberikan deskripsi kepada
partisipan. (Asih,2005)
H.Tingkat Keabsahan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua prinsip dan kriteria dalam
menentukan tingkat keabsahan data, yaitu:
a. Prinsip creadibility karena untuk memenuhi kriteria ini, peneliti akan
melakukan member check. Member checking merupakan suatu teknik untuk
mempertahankan kepercayaan data dengan cara pertisipan memferifikasi dan
menguraikan data yang diperoleh. Jadi dengan cara ini peneliti
mengetahui kesesuainnya. Member checking di lakukan peneliti dengan
bertanya kembali kepada partisipan mengenai jawaban yang telah diberikan.
b. Prinsip confirmability karena untuk memenuhi kriteria tersebut peneliti
menginformasikan hasil penelitian kepada pembimbing, karena pembimbing
merupakan seorang yang ahli dalam penelitian kualitatif fenomenologi, dan
mendiskusikan kembali hasil wawancara dan proses member checking yang
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini diuraikan hasil penelitian perawatan ibu postpartum
menurut budaya Aceh di Desa Garot, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh
besar. yang telah dilaksanakan pada tanggal 15 Januari sampai 25 Maret 2015.
Penelitian fenomenologi ini bertujuan mengetahui dan mengeksplor secara
mendalam bagaimana tentang perawatan ibu postpartum menurut budaya Aceh.
Lima orang partisipan dalam penelitian ini berdomisili di Desa Garot, Kecamatan
Darul Imarah, Kabupaten Aceh besar. Dalam pengumpulan data peneliti
melakukan wawancara mendalam dengan para partisipan.
A. Karakteristik Partisipan
Lima orang partisipan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah
partisipan yang memenuhi kriteria dan bersedia untuk diwawancarai serta mau
menandatangani perjanjian sebelum wawancara dimulai. Partisipan dalam
penelitian ini adalah ibu yang mempunyai pengalaman post partum, bersuku
Aceh dan tinggal di desa Garot. Umur kelima partisipan berkisar antara 20-50
tahun. Rata-rata umur partisipan adalah 35 tahun.
kelima partisipan beragama Islam. Bersuku Aceh. Mayoritas partisipan
bekerja sebagai ibu rumah tangga yaitu empat orang, dua partisipan bekerja
sebagai Pegawai Negeri Sipil, satu orang partisipan bekerja sebagai wiraswasta.
Tiga orang partisipan pendidikan terakhirnya SMP, dua orang SMA dan dua
orang Perguruan Tinggi. Kelima partisipan menceritakan bagaimana perawatan
Tabel 4.1 Karakteristik Partisipan
B. Perawatan Ibu Postpartum Menurut Budaya Aceh
Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap sepuluh partisipan yang
telah melakukan perawatan ibu post partum menurut budaya Aceh, maka peneliti
menemukan delapan tema dalam upaya perawatan pada ibu postpartum dan telah
disebutkan oleh partisipan tersebut adalah: (1) Kebiasaan-kebiasaan / Ritual yang
dilakukan setelah ibu bersalin, (2) Nutrisi pada ibu postpartum, (3) Menyusui, (4)
Personal hygiene pada ibu postpartum, (5) Aktifitas pada ibu postpartum, (6)
Istirahat/ Tidur ibu postpartum, (7) Perawatan pada ibu selama postpartum, (8)
Pencegahan penyakit pada ibu postpartum
Tabel 4.2 Tema dan Sub Tema Perawatan Ibu Postpartum Menurut Budaya Aceh
No Tema Sub Tema
1. Kebiasaan-kebiasaan / Ritual yang dilakukan setelah ibu bersalin
1.1Larangan keluar rumah sebelum 40 hari
1.2Larangan berhubungan intim
1.3Larangan untuk tidur sekamar dengan suami selama masa postpartum
2. Nutrisi pada ibu postpartum 2.1Pemberian telur merah dan madu 2.2Banyak mengkonsumsi sayuran. 2.3Hanya boleh makan tahu dan
tempe.
2.4Larangan makan telur bebek dan ikan laut.
2.5Larangan makan makanan padat sesudah magrib.
3.3Minum air abu. 3.4Makan tape.
4. Personal hygiene pada ibu postpartum
4.1Memandikan ibu segera setelah bersalin dengan siraman dengan ie
boh kruet (jeruk purut)
4.2Menggunakan air sirih saat cebok
5. Aktifitas pada ibu postpartum 5.1Pembatasan gerak dan mobilisasi ibu
5.2Larangan bekerja pada ibu postpartum
5.3Saat jalan kaki ibu harus rapat dan melangkah sepelan mungkin
5.4Pemakaian bangku atau duduk saat BAB
5.5Berbicara dengan suara yang kecil.
6. Perawatan pada ibu selama masa postpartum
6.1Pemberian ramuan daun-daunan yang terdiri dari daun peugaga, daunpacar (gaca), unseumpung (ur ang-aring).
6.2Pemberian ramuan, dari kunyit. 6.3Mengkonsumsi jamu.
6.4Peletakkan batu panas di perut dan di peumadeung (disale).
6.5Membalurkan ramuan jeruk nipis diatas perut
6.6Muka dan badan ibu diberi bedak dingin
6.7Ibu harus dipijat atau diurut, diberi pilis atau lerongan dan tapel
6.8memakai stagen atau gurita.
7. Pencegahan penyakit pada ibu postpartum
7.1Minum segelas saripati kunyit 7.2Memakai sandal kemanapun ibu
pergi
1. Kebiasaan-kebiasaan/ ritual yang dilakukan setelah ibu bersalin Setelah ibu melewati masa kritis pada saat persalinan, ibu mulai
memasuki masa pemulihan/ masa postpartum. Pada masa ini ibu
memulihkan diri sendiri dengan cara istirahat menunggu semua alat alat
ibu juga mendapatkan dukungan penuh baik dari suami maupun keluarga.
Termasuk didalamnya perawatan ibu selama masa postpartum. Diantara
sekian banyak perawatan yang harus ibu lakukan, ada kebiasaan-
kebiasaan/ ritual yang harus ibu patuhi dan laksanakan. Ibu pospartum
suku Aceh meyakini bahwa kebiasaan-kebiasaan ini harus dilaksanakan
demi kebaikan ibu sendiri karena sesuai dengan perintah agama.
Diantaranya adalah larangan untuk keluar rumah sebelum 40 hari,
larangan tidak diperbolehkan berhubungan intim, serta larangan untuk
tidur satu kamar dengan suami selama ibu masa postpartum.
1.1Larangan keluar rumah sebelum 40 hari
Larangan keluar rumah sebelum 40 hari diketahui berdasarkan hasil
wawancara dari kelima partisipan yang mengatakan bahwa keluar
rumah sebelum 40 hari, Ibu tidak diperbolehkan untuk melakukan
aktivitas apapun diluar rumah. Ibu suku Aceh sangat meyakini bahwa
selama ibu masih dalam keadaan kotor karena darah postpartum,
haram hukumnya menginjak bumi walaupun ibu hanya berada di
halaman depan rumah. Hal tersebut didukung oleh pernyataan
partisipan berikut ini:
kepercayaan orang Aceh ya kalau belum 100 hari kalau bisa jangan keluar rumah dulu. Yang belum 44 hari jangan keluar sama sekali.itu mungkin karena badan kita kan belum bersih, trus kan jangan kena matahari juga. Matahari pagi sih tidak apa. Tapi ditakutkan kena angin nanti jadi mudah sakit.
(Partisipan a) Kalau adat Aceh dek 40 hari itu ga boleh kemana mana dulu. Belum suci kan badan kita, haram injak bumi kalau kata orang tua.
Kalau darahnya tidak habis habis artinya kakak tidak bisa keluar rumah kan dek.,
(Partisipam c)
Selama belum 40 hari, jangan keluar rumah. Menginjak halaman depanpun jangan.
(Partisipan d) Badan masih belum suci, jadi sebaiknya dirumah saja dulu. Tunggu sampai 40 hari. Baru keluar rumah.
(Partisipan e)
1.2Larangan berhubungan intim
Larangan berhubungan intim diketahui berdasarkan hasil wawancara dari
keempat partisipan yang mengatakan bahwa berhubungan intim hanya
akan menambah dosa karena melanggar perintah agama Islam. Akan
tetapi ini akan menjadi larangan yang bersifat sementara bagi ibu
postpartum selama ibu masih belum bersih dari darah postpartum. Hal
tersebut didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Agama melarang berhubungan badan, nanti aja kalau udah habis masa postpartumnya.
(Partisipan b) Tidak berhubungan suami istri juga, Orang menstruasi aja tidak.
(Partisipan c) Gak boleh tidur sekamar dan berhubungan badan dengan suami juga.
(Partisipan d) Saya juga tidak berhubungan intim dengan suami saya, karena belum bersih kan....
(Partisipan e)
Larangan untuk tidur sekamar dengan suami selama masa postpartum
diketahui berdasarkan hasil wawancara dari kelima partisipan yang
mengatakan bahwa untuk tidur sekamar dengan suami selama masa
postpartum sangat dipantang. Ibu akan dipindahkan ke kamar bagian
paling belakang rumah dan akan tidur bersama orang tuanya (dalam
hal ini ibunya). Karena ditakutkan jika mereka sekamar istri akan
cepat memiliki anak lagi. Hal tersebut didukung oleh pernyataan
partisipan berikut ini:
Suami dan saya tidak tidur satu kamar, dipantang sama orang tua, cepat berisi lagi katanya...
(Partisipan a) Tapi selama saya nifas, saya jadi agak kurang juga komunikasi sama suami saya. Karena kami tidurnya terpisah juga ya mau bagaimana lagi. Saya kan gamau cepat cepat kasih si adek bayi adek lagi.
(Partisipan b) kakak selama nifas tidurnya terpisah dari suami...
(Partisipan c) Gak boleh tidur sekamar dan berhubungan badan dengan suami juga.
(Partisipan d) Saya tidur sama mama. Katanya kalau suami tidur sama saya nanti saya cepat hamil lagi. Begitulah dek kalau menurut adat Aceh.
(Partisipan e)
2. Nutrisi pada ibu postpartum
Salah satu upaya untuk mengembalikan tenaga ibu yang terkuras selama
bersalin dengan cepat adalah dengan pemilihan jenis makanan yang tepat
pada masa postpartum. Adapun upaya tersebut ialah: pemberian telur
tanpa garam dan tanpa digoreng, dan larangan untuk makan telur bebek
dan ikan laut.
2.1Pemberian telur merah
Pemberian telur merah yang diketahui berdasarkan hasil wawancara
dari ketiga partisipan yang mengatakan bahwa mengonsumsi telur
merah setelah melahirkan akan mengembalikan tenaga. Hal tersebut
didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Kemudian saya difooding juga sama telur ayam kampung.
(Partisipan a) Telur merah itu bagus kalau kita habis lahiran dek. Fooding...
(Partisipam c)
Sesaat setelah saya melahirkan, saya langsung diberi telur untu diteguk...
(Partisipan e)
2.2Ibu dianjurkan banyak mengkonsumsi sayuran.
Ibu dianjurkan banyak mengkonsumsi sayuran yang diketahui
berdasarkan hasil wawancara berdasarkan dari keempat partisipan
menyebutkan bahwa sayuran sangat banyak manfaatnya. Sayur adalah
pilihan makanan wajib selama ibu postpartum. Hal tersebut didukung
oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Trus harus banyak makan sayur yang pasti. Sayurnya direbus Setiap hari satu mangkuk.
(Partisipan a) Sayuran juga wajib hukumnya kalau untuk ibu menyusui. Harus banyak makan sayur yang pasti dek
Saya hanya boleh makan nasi dengan sayur... biar banyak asi katanya sayuran khasiatnya sangat besar.
(Partisipan c) saya lebih banyak makan sayur.mengurangi minyak dan garam...
(Partisipan e)
2.3Hanya boleh makan tahu dan tempe tanpa digarami makanan harus
disangan/dibakar.
Hanya boleh makan tahu dan tempe tanpa digarami makanan harus
disangan/dibakar yang diketahui berdasarkan hasil wawancara dari kelima
partisipan menyebutkan bahwa ibu hanya boleh makan tahu dan tempe
yang tidak digoreng atau digarami. Hal tersebut didukung oleh pernyataan
partisipan berikut ini:
Saya hanya boleh makan tahu tempe sebagai lauknya kawan nasi. Gaboleh pakai minyak
(Partisipam a) Saya Cuma boleh makan tahu tempe saja dek...
(Partisipan b) tidak boleh makan banyak, tahu tempe aja yang hambar, minum air banyak,
(Partisipan c) Saya hanya boleh makan nasi dengan sayur dan tahu atau tempe yang dibakar bukan yang digoreng dengan minyak dan ga pake garam.
(Partisipan d)
Mengurangi minyak dan garam, protein yang saya makan pun berasal dari telur, tahu, dan tempe...
(Partisipan e)
2.4Larangan makan telur bebek dan ikan laut
Larangan makan telur bebek dan ikan laut diketahui berdasarkan hasil
bebek dan ikan laut akan menyebabkan cairan yang keluar semakin
banyak dari vagina dan bau darah ibu akan menjadi amis dan ibu menjadi
gatal-gatal. Hal tersebut didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
adat istiadatnya maksudnya tidak boleh makan telur bebek gitu... atau ikan laut yang bikin alergi katanya gatal-gatal...telur bebek katanya sih larangan aja saya gatau juga gimana tapi katanya rahimnya ga bagus nanti cairannya keluar aja trus nanti juga bikin bau badan.
(Partisipan a) pada dasarnya orang Aceh ini makan nasinya harus ada ikan, tapi kata orang tua, kalau saya makan ikan nanti darah saya amis.
(Partisipan b) Saya hanya boleh makan nasi dengan sayur dan tahu atau tempe. Telur juga boleh. Tapi tidak dengan telur bebek serta ikan laut.
(Partisipan d) tapi saya ga makan daging atau ikan.
(Partisipan e)
3. Upaya Memperlancar ASI
Kualitas dan jumlah makanan yang dikonsumsi akan sangat berpengaruh
terhadap produksi ASI. Ibu menyusui harus mendapatkan tambahan zat
makanan sebanyak 700 kkal/hari yang digunakan untuk kebutuhan
produksi ASI dan untuk aktifitas ibu sendiri. Produksi ASI sangat erat
kaitannya juga dengan perawatan payudara ibu, apa yang ibu konsumsi,
serta upaya-upaya yang ibu lakukan sehingga ASI lancar dan tidak ada
masalah. Berbagai upaya turut diberikan oleh orang tua/keluarga kepada
ibu untuk mempercepat pengeluaran ASI dan memperbanyaknya seperti :
daun kacang panjang, daun katuk, dan juga ibu menyusui dianjurkan
untuk makan tape.
3.1Pemijatan pada payudara
Pemijatan pada payudara diketahui berdasarkan hasil wawancara dari
kelima partisipan menyebutkan bahwa ibu postpartum suku Aceh
meyakini bahwa pijat tidak hanya digunakan untuk orang patah tulang
dan cedera akan tetapi juga digunakan pada ibu postpartum. Pada ibu
postpartum, tukang pijit akan dipanggil kerumah ibu untuk
dilakukannya pemijatan. Khusus pada payudara, pemijatan bertujuan
untuk mempercepat produksi ASI pada ibu pasca salin, dan
memperbanyak produksi ASI pada ibu postpartum. Hal tersebut
didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
payudara saya juga dipijat khusus supaya asinya cepat keluar
(Partisipan a) ya satu badan. Paha juga. Payudara juga. Supaya air susunya keluar dan begitu diurut payudaranya pasti akan langsung keluar airnya.
(Partisipan b) itulah dek, yang pas badan dipijat, payudara juga dipijat khusus,
(Partisipan c)
Ada orang tua ahli kusuk kerumah, untuk kusuk badan sekalian payudara juga
(Partisipan d) Kan sesudah melahirkan kita capek. Payudara juga dipijat sekalian. hari hari pertama belum keluar ASI. Nah tujuan pijatan ini biar ASI nya cepat keluar.
(Partisipan e)
3.2 Minum air sari daun-daunan seperti daun kates, daun kacang panjang,
Minum air sari daun-daunan seperti daun kates, daun kacang panjang,
daun katuk, dan lain-lain diketahui berdasarkan hasil wawancara dari
ketiga partisipan menyebutkan bahwa sayuran juga merupakan salah
satu sumber ASI terbaik selain energi yang dibutuhkan oleh ibu
postpartum dari karbohidrat. Banyaknya kandungan didalam sayur
membuat produksi ASI menjadi lancar. Ibu postpastum suku Aceh
diwajibkan untuk mengkonsumsi sayuran setiap harinya. Hal tersebut
didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Untuk memperbanyak ASI saya makan daun katuk, kates juga...
(Partisipan b) Untuk memperbanyak ASI, kakak harus makan banyak sayuran, daun daunan seperti daun katuk,
(Partisipan c) Biar banyak asi katanya sayuran khasiatnya besar. Daun kates, sayur-sayuran hijau...
(Partisipan d)
3.3 Minum abu dari dapur yang dicampur dengan air.
Minum abu dari dapur yang dicampur dengan air diketahui
berdasarkan hasil wawancara dari ketiga partisipan menyebutkan
bahwa pada masa postpartum, ibu harus minum abu dari dapur yang
dicampur dengan air, kemudian disaring, dicampur garam dan asam
lalu diminumkan kepada si ibu supaya ASI banyak. Hal tersebut
didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Minum ramuan dari abu dapur yang udah disaring juga supaya ASInya banyak dek
(Partisipan d) Saya ada juga dek disuruh minum air abu yang udah disaring ditambahin asam sama madu kalau ga salah saya...
(Partisipan e)
3.4 Ibu yang menyusui juga dianjurkan untuk makan tape.
Ibu yang menyusui juga dianjurkan untuk makan tape ini diketahui
berdasarkan hasil wawancara dari ketiga partisipan menyebutkan
bahwa pada masa postpartum Ibu postpartum suku Aceh meyakini
bahwa mengonsumsi tape akan meningkatkan produktivitas dari pada
ASI. Hal tersebut didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Saya dianjurkan makan tape sebagai selingan karena bagus untuk ASI.
(Partisipan a)
Ya, makan tape biar air susunya banyak
(Partisipan b)
Harus makan sayuran, daun katuk, kates, makan tape, supaya ASInya tetap banyak
(Partisipan c)
4. Personal hygiene pada ibu postpartum
Ibu suku Aceh sangat mengutamakan kebersihan diri mereka. Terlebih
lagi saat mereka pada masa postpartum. Karena mereka meyakini dengan
menjaga kebersihan maka akan semakin cepat pulalah pemulihan mereka.
Banyak cara yang mereka lakukan seperti segera mandi setelah bersalin
menggunakan air jeruk purut atau dengan menggunakan air sirih setiap
kali mereka cebok.
4.1Memandikan ibu segera setelah bersalin yang siraman terakhirnya
Memandikan ibu segera setelah bersalin yang siraman terakhirnya
diikuti dengan siraman dengan ie boh kruet (jeruk purut) ini diketahui
berdasarkan hasil wawancara dari kelima partisipan menyebutkan
bahwa setelah melahirkan, dengan bantuan ibu/keluarga, ibu
dimandikan. Pada siraman terakhir, disiram dengan ie boh kruet (jeruk
purut) guna menghilangkan bau amis. Hal tersebut didukung oleh
pernyataan partisipan berikut ini:
saya langsung dimandikan menggunakan air hangat yang ada jeruk purutnya juga di akhir oleh keluarga saya.
(Partisipan a) Setelah melahirkan, saya disuruh mandi oleh mama saya. Airnya sudah dicampur dengan jeruk purut...
(Partisipan b) Setelah melahirkan, saya langsung dibantu ke kamar mandi oleh kakak dan mama saya untuk mandi....
(Partisipan c) Setelah melahirkan 1 hari, besok pulang kerumah dimandiin sama air jeruk purut dan daun-daunan.
(Partisipan d) Kemudian saya langsung dimandikan...
(Partisipan e)
4.2Menggunakan air sirih saat cebok.
Menggunakan air sirih saat cebok ini diketahui berdasarkan hasil
wawancara dari ketiga partisipan menyebutkan bahwa setiap kali ibu
cebok baik sesudah buang air kecil maupun mengganti pembalut, ibu
menggunakan air sirih sebagai air untuk mencebok. Ada juga yang hanya
menggunakan air hangat saja, atau ada juga yang membatasi penggunaan
ya setiap kali cebok kita pakai air sirih dan air hangat untuk cucinya.
(Partisipan b) Cebok bersih menggunakan air hangat. Bisa diselingi dengan air sirih sesekali.
(Partisipan c) hari ke dua ada memakai air daun sirih di ceboin.
(Partisipan d)
5. Aktifitas pada ibu postpartum
Ibu postpartum suku Aceh akan diperlakukan bak seorang ratu pasca
melahirkan seorang bayi. Keluarga sangat bersyukur dan berbahagia atas
pemberian anggota keluarga barunya yakni seorang bayi. Sebagai rasa
syukur mereka, Ibu postpartum suku Aceh akan dipenuhi segala
kebutuhannya dan keinginannya seperti kebutuhan harian ibu. Keluarga
akan menemani dan mengurus kebutuhan selama ibu postpartum. Ibu
hanya diperbolehkan jalan apabila ke kamar mandi dan menyusui,
larangan bekerja, larangan untuk membaca dan menjahit, pemakaian
bangku atau wc duduk saat ibu BAB, ibu juga harus jalan sepelan
mungkin, ibu juga tidak diperbolehkan untuk berbicara dengan suara yang
keras.
5.1Ibu hanya diperbolehkan jalan apabila ke kamar mandi dan untuk
menyusui.
Ibu hanya diperbolehkan jalan apabila ke kamar mandi dan untuk
menyusui ini diketahui dari hasil wawancara dengan kedua partisipan
yang menyebutkan bahwa ibu hanya diperbolehkan untuk bergerak hanya
dalam keadaan darurat atau kebutuhan ibu yang sangat mendesak. Seperti
kebutuhan dan keperluan ibu akan dilayani dan disediakan oleh keluarga.
Bahkan, pada saat jadwal makan tiba, makanan ibu akan diantarkan ke
kamar ibu dan ibu makan didalam kamarnya. Hal tersebut didukung oleh
pernyataan partisipan berikut ini:
Gak tidak diperbolehkan jalan aja kecuai ke kamar mandi atau mengambil bayi yang nangis.
(Partisipan a) Kalau dulu ibu nifas itu tidak boleh banyak bergerak. Tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu, hanya sebatas ke kamar mandi atau menyusui. Makan minumpun ditempat tidur.
(Partisipan b)
5.2 Larangan bekerja pada ibu postpartum
Larangan bekerja pada ibu postpartum ini diketahui dari hasil
wawancara dengan ketiga partisipan yang menyebutkan bahwa ibu
postpartum suku Aceh dilarang bekerja selama masa postpartum. Hal
tersebut didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Tidak banyak aktifitas yang saya lakukan, saya lebih banyak istirahat....
(Partisipan a) Kalau dulu ibu nifas itu tidak boleh banyak bergerak. Tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu,
(Partisipan b) tidak boleh mengangkat barang-barang berat... nanti rahimnya keluar.
(Partisipan d)
5.3 Saat jalan kaki ibu harus rapat dan melangkah sepelan mungkin
Saat jalan kaki ibu harus rapat dan melangkah sepelan mungkin ini
menyebutkan bahwa Ibu postpartum suku Aceh apabila berjalan harus
dengan langkah kecil dan pelan serta kaki ibu harus rapat. Hal tersebut
didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Jalannya harus sepelan mungkin...
(Partisipan a) Kalau Jalan harus rapat kakinya dan pelan-pelan.
(Partisipan c) Tidak boleh jalan cepat harus pelan-pelan jalan...
(Partisipan d)
5.4 Larangan membaca buku dan menjahit
Larangan membaca buku dan menjahit ini diketahui dari hasil
wawancara dengan kedua partisipan yang menyebutkan bahwa selama
masa postpartum, ibu tidak boleh membaca maupun menjahit. Hal
tersebut didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
orang postpartum tidak boleh baca buku, tidak boleh menjahit, nanti matanya rabun.
(Partisipan d) Ibu nifas ga bole membaca atau menjahit dulu, nanti otot-otot matanya capek karena kerja keras
(Partisipan e)
5.5Pemakaian bangku atau duduk saat buang air besar (BAB)
Pemakaian bangku atau duduk saat BAB ini diketahui dari hasil
wawancara dengan kedua partisipan yang menyebutkan bahwa Ibu
postpartum suku Aceh akan menggunakan wc duduk atau bangku
kecil pada wc jongkok jika ibu ingin buang air besar. Hal tersebut
didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
(Partisipan a) Kalau mau BAB, Harus di WC duduk biar gak keluar anusnya.
(Partisipan d)
5.6Berbicara dengan suara yang kecil.
Berbicara dengan suara yang kecil ini diketahui dari hasil
wawancara dengan partisipan yang menyebutkan bahwa ibu tidak
boleh berbicara dengan suara yang lantang dan keras. Hal tersebut
didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Mama saya marah kalau suara saya besar-besar, nanti putus pita suara saya katanya. Apalagi habis melahirkan, gak sama kayak orang sehat...
(Partisipan c) Kalau bicara suaranya ga boleh besar.
(Partisipan d)
6. Perawatan pada ibu selama masa postpartum
Berbagai macam upaya dilakukan oleh ibu postpartum suku Aceh dalam
mempercepat pemulihan dan kondisi tubuh ibu agar kembali normal ke
sedia kala. Mulai dari pemberian ramuan daun-daunan yang terdiri dari
daun peugaga, daun pacar (gaca), un seumpung (urang-aring), Pemberian
ramuan, dari kunyit, gula merah, asam jawa, jeura eungkot, boh
cuko (kencur), dan lada, Mengkonsumsi jamu, Peletakkan batu panas di perut dan di peumadeung (disale), Membalurkan ramuan jeruk nipis
diatas perut, Muka dan badan ibu diberi bedak dingin, Ibu harus dipijat
atau diurut, diberi pilis atau lerongan dan tapel, dan memakai stagen atau
7.1Pemberian ramuan daun-daunan yang terdiri dari daun peugaga, daun
pacar (gaca), un seumpung (urang-aring).
Pemberian ramuan daun-daunan yang terdiri dari daun peugaga, daun
pacar (gaca), un seumpung (urang-aring) diketahui dari hasil
wawancara dengan partisipan yang menyebutkan bahwa ibu diberikan
ramuan daun-daunan yang terdiri dari daunpeugaga, daun
pacar (gaca), un seumpung (urang-aring) daun-daunan ini diremas
dengan air lalu diminum. Hal tersebut berkhasiat untuk membersihkan
darah kotor. Hal tersebut didukung oleh pernyataan partisipan berikut
ini :
Dianjurkan minum air rebusan daun 44 isinya ada 44 macam daun rebusan untuk diminum. Salah satunya daun peugaga, daun pacar, urang-aring, sebaiknya setiap kali haus minum ini lebih bagus lagi.
(Partisipan a) Saya dikasih obat/minuman yang dibuat sendiri. Isinya banyak daun daunan obat pacar, urang-aring dan ada lagi isi lainnya...
(Partisipan e)
7.2 Pemberian ramuan, dari kunyit, gula merah, asam jawa, jeura
eungkot, boh cuko (kencur), dan lada.
Pemberian ramuan, dari kunyit, gula merah, asam jawa, jeura
eungkot, boh cuko (kencur), dan lada ini diketahui dari hasil
wawancara dengan kedua partisipan bahwa ibu diberikan ramuann
yang terbuat dari dari kunyit, gula merah, asam jawa, jeura eungkot,
boh cuko (kencur), dan lada, kemudian semua bahan ini ditumbuk
telur. Khasiatnya menambah darah dan membersihkan darah kotor.
Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan partisipan berikut ini:
Ada, kunyit atau induk kunyit trus jinten trus pakai gula merah, asam jawa, kemudian buah mangkeng, dan bahan bahan yang lain dihaluskan ditambah madu dan diminum dalam keadaan hangat.
(Partisipan a) Dikasih ramuan dari kunyit, gula merah, asam jawa, jeura eungkot, kencur dan lada. Semua bahan ditumbuk sampai halus lalu dicampur dengan air ditambah dengan madu dan kuning telur untuk diminum.
(Partisipan c) Buat sendiri isinya kunyit, telur ayam kampung, madu, asam jawa, kencur, lada, ditumbuk halus diminum setiap pagi
(Partisipan e)
7.3 Mengkonsumsi jamu.
Mengkonsumsi jamu ini diketahui dari hasil wawancara dengan ketiga
partisipan yang menyebutkan ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi
jamu. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan partisipan berikut
ini :
Kalau malam saya minumnya jamu.malam harinya sebelum makan
(Partisipan a) Jamu yang dijual di pasar yang siap minum. Tiap pagi minum jamu.
(Partisipan d) Minum jamu atau kunyit setiap pagi...
(Partisipane)
7.4 Peletakkan batu panas (tot batee) di perut dan di peumadeung (disale).
Peletakkan batu panas (tot batee) di perut dan di peumadeung (disale)