• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Dari hasil dan pembahasan penelitian ini dapat dihasilkan beberapa saran

untuk regulator, manajemen perbankan dan peneliti.

1. Bagi investor, hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan

dalam menentukan efesiensi penanaman modal. Investor diharapkan lebih

menanggung risiko bisnis yang lebih besar. Serta investor diharapkan tidak

hanya melihat sistem permodalan pada sisi minimum persyaratan modal

yang ditetapkan oleh regulator saja, tetapi investor seharusnya menjaga

cadangan modal sesuai dengan kondisi perbankan itu sendiri.

2. Bagi manajemen bank, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan

pertimbangan dalam menetukan manajemen permodalan dan risiko

perbankan. Bank diharapkan lebih efesien dalam mengelolah kualitas aset

yang dimiliki agar bank memiliki kualitas aset yang bagus sehingga dapat

mengurangi tingkat risiko yang akan dihadapi oleh bank. Dengan hal ini

mungkin para investor akan menambah jumlah saham mereka.

3. Bagi peneliti yang ingin mengembangkan penelitian ini mungkin dapat

memilih objek penelitian dengan wilayah yang berbeda seperti sektor

perbankan pada negara lain. Serta dapat memberikan perbandingan

bagaimana kondisi permodalan dan risiko antara negara indonesia dan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Struktur Modal

Neraca perusahan (balance sheet) terdiri dari dua sisi yaitu sisi aktiva yang

menggambarkan struktur kekayaan sebuah perusahaan dan sisi pasiva sebagai

cerminan struktur keuangan. Sedangkan struktur modal merupakan bagian dari

struktur keuangan yang mencerminkan jumlah perbandingan antara hutang

dengan modal sendiri. Sebuah perusahaan harus menentukan tentang berapa

banyak jumlah utang sebuah perusahaan dalam strukturnya modal. Penentuan

tentang struktur modal ( capital structure ) berhubungan dengan keputusan

pembelanjaan ( financial decision ) yang akan dilakukan oleh perusahaan. (James

C. Van Horne dan John M. Wachowicz; 2008) Struktur modal merupakan

Campuran atau proporsi pembiayaan tetap suatu perusahaan dalam jangka

panjang yang diwakili oleh utang, saham preferen, dan ekuitas saham biasa.

Dalam pemenuhan pembiayaan perusahaan membutuhkan dana yang

diperoleh melalui internal perusahaan maupun secara eksternal. Bentuk pendanaan

secara internal (internal financing) adalah laba ditahan dan depresiasi. Pemenuhan

yang dilakukan secara eksternal dapat dibedakan menjadi pembiayaan hutang

dapat dipenuhi melalui pinjaman, sedangkan modal sendiri melalui penerbitan

saham baru.

Banyak teori yang membahas bagaimana struktur modal sebuah

perusahaan, dalam mentukan struktur modal dapat dilakukan dengan beberapa

teori pendekatan. Berikut uraian beberapa teori dari struktur modal :

1. Teori Pendekatan Tradisional (Traditional Approach)

(James C. Van Horne dan John M. Wachowicz; 2008) Pendekatan

tradisional untuk struktur modal merupakan Sebuah teori struktur modal yang

mengansumsikan struktur modal yang optimal (optimal capital structure) dimana

teori ini memungkinkan pihak manajemen untuk meningkatkan nilai total

perusahaan melalui penggunaan leverage keuangan yang bijaksana. Yang

dimaksud dengan struktur modal yang optimal (Optimal Capital Structure) adalah

struktur modal yang memaksimalkan nilai perusahaan dengan meminimalkan

biaya modal perusahaan.

Pendekatan ini beranggapan bahwa perusahaan pada awalnya dapat

menurunkan jumlah biaya modal dan meningkatkan nilai total perusahaan melalui

peningkatan leverage keuangan. Meskipun investor menaikkan tingkat

pengembalian ekuitas, namun peningkatan pengembalian ekuitas tidak

sepenuhnya menetralkan manfaat menggunakan modal utang yang lebih murah.

Karena semakin tinggi leverage keuangan yang muncul, akan menyebabkan para

investor semakin meningkatkan pengembalian yang diharapkan dari ekuitas.

Hingga akhirnya pengaruh ini akan memberikan efek lebih dari sekedar

Dalam salah satu variasi dari pendekatan tradisional, diasumsikan

pengembalian yang diminta atas ekuitas meningkat seiring dengan peningkatan

leverage keuangan. Sedangkan biaya modal yang berasal dari utang diasumsikan

meningkat setelah terjadinya peningkatan yang signifikan dalam leverage

keuangan. Pada awalnya, biaya rata-rata tertimbang modal akan menurun sejalan

dengan leverage karena kenaikan pengembalian yang diminta atas ekuitas tidak

sepenuhnya menetralkan penggunaan modal utang yang lebih murah. Akibatnya,

biaya rata-rata tertimbang modal akan menurun sejalan dengan penggunaan

leverage keuangan yang moderat.

Akan tetapi setelah titik tertentu, kenaikan pengembalian yang diminta atas

ekuitas lebih dari sekedar mengompesasikan penggunaan modal utang yang lebih

murah dalam struktur modal dan kapitalisasi keseluruhan mulai naik. Dengan

demikian pendekatan tradisional untuk struktur modal mengandung makna antara

lain bahwa :

1) biaya modal tergantung pada struktur modal perusahaan

2) terdapatnya struktur modal yang optimal.

2. Teori Prinsip Nilai Total (The Total-Value Principle)

Teori Prinsip Nilai Total (The Total-Value Principle) dikemukan oleh

Franco Modigliani dan Merton Miller (M&M). Teori ini muncul pada tahun 1958

melalui publikasi artikel yang ditulis oleh Franco Modigliani dan Merton Miller

(M&M) dengan judul “The Cost of capital, Corporation Finance, and TheTheory of Invesment. Modigliani dan Miller (M&M) berasumsi bahwa hubungan antara

leverage keuangan dan biaya modal dijelaskan melalui pendekatan laba bersih operasional (Net Operating Income). Teori M&M ini menyangkal teori struktur

modal tradisional, dengan memberikan justifikasi perilaku untuk membentuk

tingkat kapitalisasi keseluruhan perusahaan tetap konstan di seluruh rentang

kemungkinan leverage keuangan.

M&M berpendapat bahwa total risiko untuk semua pemegang sekuritas

dari suatu perusahaan tidak akan berubah dengan adanya perubahan struktur

modal perusahaan. Oleh karena itu nilai total perusahaan harus sama, terlepas dari

pencampuran pendanaan perusahaan. Sederhananya, asumsi M&M didasarkan

pada gagasan bahwa bagaimanapun cara Anda membagi struktur modal dari suatu

perusahaan antara utang, ekuitas, dan klaim lain, selalu ada konservasi atas nilai

investasi. Artinya, karena nilai total investasi perusahaan tergantung pada

profitabilitas dan risiko yang mendasarinya, nilai perusahaan tidak akan berubah

seiring dengan perubahan struktur modal perusahaan. Jadi, dalam keadaan tidak

adanya pajak dan faktor-faktor ketidaksempurnaan pasar lainnya, nilai total

perusaahan tidak berubah ketika dibagi menjadi utang, ekuitas, dan surat berharga

lainnya.

Asumsi ini didukung dengan gagasan bahwa investor dapat mengganti

leverage keuangan pribadi dengan leverage keuangan perusahaan. Dengan

demikian investor memiliki kemampuan melalui pinjaman pribadi, untuk

mereplikasi struktur modal perusahaan dengan struktur modal yang mungkin

diterapkan dalam perusahaan. Karena perusahaan tidak dapat melakukan sesuatu

dapat lakukan sendiri pemegang saham maka menurut asumsi M&M perubahan

struktur modal dalam pasar modal yang sempurna tidak memiliki nilai. Oleh

karena itu dua perusahaan sama dalam segala hal kecuali untuk struktur modal

harus memiliki nilai total yang sama. Jika tidak, maka dapat dilakukan arbitrase

yang akan menyebabkan kedua perusahaan untuk menjual saham di pasar dengan

nilai total yang sama. Dengan kata lain, arbitrase menghalangi subtitusi yang

sempurna terhadap penjualan saham dengan tingakat harga yang beragam dipasar

yang sama.

2.1.2 Teori Risiko

Dalam sebuah investasi hal yang menjadi perhatian adalah pengembalian

dari investasi (return) dan risiko (risk). Dalam teori investasi dikemukakan sebuah

asumsi “high risk high return, low risk low return”. Artinya dalam sebuah investasi yang memiliki risiko yang tinggi akan memberikan pengembalian yang

tinggi juga dan sebaliknya investasi yang memiliki risiko yang rendah akan

memberikan pengembalian yang rendah juga. Risiko memang identik dengan

investasi, risiko dalam keuangan dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu risiko

sistematis (systematic Risk)dan risiko tidak sistematis (Unsystematic Risk).

Risiko sistematis (Systematic Risk) adalah (James C. Van Horne dan John

M. Wachowicz; 2008) risiko yang terjadi karena faktor-faktor yang

mempengaruhi pasar secara keseluruhan, seperti adanya perubahan dalam

keuangan global. Risiko ini tak dapat dihindari oleh investor walaupun sudah

memegang portofolio yang terdiversifikasi.

Komponen risiko kedua adalah risiko tidak sistematis (Unsystematic Risk)

adalah risiko yang hanya dialami oleh beberapa perusahaan tertentu, maksudnya

antara perusahaan yang satu dan perusahaan yang lainny memiliki risiko ayang

berbeda. Namun, dengan diversifikasi jenis risiko ini dapat dikurangi dan bahkan

dihilangkan jika diversifikasi efisien.

2.1.3 Capital Requirements

Permodalan bagi bank berfungsi sebagai penyangga terhadap

kemungkinan terjadinya kerugian. Selain itu modal juga berfungsi untuk menjaga

kepercayaan terhadap aktivitas perbankan dalam menjalankan fungsinya sebagai

lembaga intermediasi atas dana yang diterima dari nasabah. Untuk melihat

bagaimana modal melindungi sebuah lembaga keuangan dari risiko kebangkrutan,

maka definisi dari modal haruslah tepat. Ada banyak definisi modal yang berbeda

dimana definisi modal dari seorang ekonom mungkin berbeda dari definisi

seorang akuntan. Secara khusus, definisi modal untuk bankir memiliki arti khusus,

dimana modal merupakan saham yang dimiliki oleh pemilik lembaga keuangan

atau investor, yang dimaksud saham disini adalah uang atau sebagian dari

kekayaan investor yang ditempatkan di perusahaan keuangan dengan harapan

mendapatkan tingkat pengembalian yang kompetitif dari kontribusi dana.

Modal merupakan cushion yang dimiliki oleh bank dalam menghadapi

kewajiban. Modal dimaksudkan sebagai asuransi terhadap kebangkrutan bank

yaitu kondisi dimana kewajiban suatu perusahaan melebihi asetnya. (Stephen G.

Cecchetti: hal 295)

Modal memiliki 3 fungsi utama (Dahlan, siamat : 1993 hal 99) yaitu

fungsi operational, fungsi perlindungan, fungsi pengamanan dan pengaturan.

Penggunaan modal bank dimaksudkan untuk memenuhi segala kebutuhan

perbankan guna menunjang kegiatan operasi bank. Jumlah modal bank dianggap

tidak mencukupi apabila tidak memenuhi maksud-maksud tersebut. Namun dalam

prakteknya menetapkan berapa besarnya jumlah wajar kebutuhan modal suatu

bank adalah tugas yang cukup kompleks. Penetapan jumlah modal suatu bank

Merupakan tugas pengawas bank.

Menurut peraturan BIS lembaga perbanka harus memenuhi persyaratan

permodalan yang sesuai dengan aturan basle. Persyaratan modal ini dinamakan

dengan Capital requirements, yang mana minimum Capital Requirements yang

ditetapkan oleh BIS adalah 8 %. Capital Requirements dibuat pada tahun 1988

dalam Basel Accord dan hingga saat ini definisi dari Capital Requirements tetap

sama dan diterapkan dalam Basel II. Minimum Capital Requirements merupakan

pilar yang pertama dari Basel II. Dibawah Basel I dan Basel II, definisi dari

Minimum capital Requirements terdiri dari 3 level (atau tier) modal. Tier tersebut adalah:

a) Modal Tier 1 (modal Inti). Tier ini terdiri dari elemen yang memiliki

kapasitas terbesar untuk menyerap kerugian yang terjadi setiap saat.

nonkumulatif ditambah cadangan-cadangan dikurangi goodwill. Hal

ini mencakup saham pemilik bank, keuntungan tak terbagi (laba

ditahan), dan aset tak berwujud.

b) Modal Tier 2 (modal pelengkap). Tier ini dibentuk dari campuran

komponen ekuitas secara umum (a broad mix of near equity

components) dan modal hybrid/instrumen hutang. Tier 2 meliputi penyisihan (cadangan) untuk kerugian pinjaman dan sewa, saham

preferen atau instrumen utang yang bersifat subordinasi, tidak

memiliki jangka waktu, pembayaran dividen atau imbal hasil bersifat

non kumulatif, dan tidak memiliki fitur step up.

c) Modal Tier 3 (atau modal pelengkap tambahan) ditambahkan pada

tahun 1995 dan hanya digunakan untuk memenuhi persyaratan modal

pada risiko pasar.

Dalam pilar capital requirements perhitungan jumlah modal dihitung

berdasarkan risiko. Untuk mengukur jumlah risiko menurut Bank Indonesia dapat

digunakan 2 alternatif pendekatan yaitu pendekatan standar berlaku untuk seluruh

bank (standardised model) dan model yang dikembangkan secara internal sesuai

dengan karakteristik kegiatan usaha dan profil risiko individual bank (internal

model) sehingga lebih sophisticated. Komparasi di antara 2 pendekatan ini, diharapkan dapat menghasilkan perhitungan kebutuhan modal yang lebih tepat

sesuai dengan risiko yang dihadapi oleh bank dan memberikan insentif bagi bank

untuk memaksimalkan portofolio dari asset mereka. Rumus berikut merupakan

Regulator adalah pihak berwenang menentukan jumlah modal pada

perbankan yang menetapkan penambahan jumlah modal sesuai dengan

pertumbuhan aset berisiko. Dengan demikian fungsi modal sebagai cushion yang

menyerap kerugian dapat dijalankan.

2.1.4 Risiko Perbankan

Risiko dan lembaga perbankan memang tak dapat dipisahkan sebagai

lembaga intermediasi. Risiko usaha atau business risk (Dahlan Siamat: 2004 hal.

91) merupakan tingkat ketidakpastian mengenai pendapatan yang diperkirakan

akan diterima. Pendapatan dalam hal ini adalah keuntungan bank. Semakin tinggi

ketidakpastian pendapatan yang diperoleh suatu bank semakin besar kemungkinan

risiko yang dihadapi oleh bank. Sedangkan dalam PBI No.11/25/PBI/2009 risiko

Risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa (events) tertentu.

Secara umum risiko perbankan digolongkan sebagai berikut :

1. Risiko Kredit (Credit Risk)

Risiko aset paling dasar yang dihadapi oleh bank adalah risiko kredit, yaitu

risiko yang terjadi akibat adanya penurunan nilai dari aset pinjaman pada lembaga

keuangan. Hal ini disebabkan oleh kegagalan atau ketidakmampuan debitur

(counterparty) untuk mengembalikan jumlah pinjaman yang diterimanya dari lembaga keuangan. Secara teknis kondisi ini disebut default. Dalam PBI

No.11/25/PBI/2009 Risiko Kredit adalah Risiko akibat kegagalan debitur dan/atau

pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank. Hampir semua jenis

lembaga keuangan menghadapi risiko ini. Namun secara umum lembaga

keuangan yang memberikan pinjaman dengan jangka panjang lebih rentan akan

risiko ini dibanndingkan dengan lembaga keuangan yang mengeluarkan pinjaman

dengan jangka waktu singkat. Jika dilihat dari potensi risiko kredit yang akan

dihadapi oleh suatu lembaga keuangan maka lembaga keuangan perlu memonitor

aset berisiko mereka agar dapat lebih efesian dalam portofolio aset dan risiko

kredit dapat diminimalisir. Selain itu Pengelolaan manajemen risiko kredit

diperlukan oleh bank guna untuk memastikan bahwa kredit yang diberikan pihak

bank telah memenuhi prinsip dasar pemberian kredit yang sehat.

2. Risiko Pasar (Market Risk)

Menurut PBI No.11/25/PBI/2009 Risiko Pasar adalah Risiko pada

posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk Risiko perubahan harga option. Risiko pasar merupakan risiko yang terjadi dalam

perdagangan aset dan kewajiban suatu lembaga keuangan karena perubahan bunga

tarif, nilai tukar, dan harga aset lainnya. Sejak 1 Januari 1998, perbankan dinegara

yang tergabung dalam G10 dipersyaratkan untuk menyediakan modal dalam

mengcover risiko pasar (hal ini mengacu pada amandemen risiko pasar dari Basel

Accord).

 Risiko tingkat suku bunga (Interest Rate Risk)

Risiko tingkat suku bunga (Interest Rate Risk) merupakan risiko yang

timbul akibat berubahnya tingkat suku bunga. Risiko ini terjadi apabila

dalam memenuhi kebutuhan likuiditas lembaga keuangan harus menjual

surat-surat berharga yang dimilikinya. Risiko tingkat suku bunga dapat

juga terjadi apabila bank menerima simpanan untuk jangka yang cukup

lama dengan tingkat suku bunga yang relatif tinggi kemudian tingkat

bunga mengalami penurunan dratis, hal ini akan menyebabkan bank

mengalami kerugian. Pada dasarnya risiko suku bunga timbul akibat bank

memiliki biaya dana yang relatif tinggi yang menyebabkan bank tidak

kompetitif.

 Risiko Perubahan Nilai Saham (Equity Position Risk)

Risiko Perubahan Nilai Saham (Equity Position Risk) adalah risiko yang

berpotensi terjadi akibat perubahan dari price of stocks suatu lembaga

keuangan yang dapat menimbulkan kerugian bagi lembaga keuangan

tersebut. Sejatinya apabila nilai terjadinya penurunan nilai saham yang

disebabkan oleh beberapa faktor akan menyebabkan berkurangnya jumlah

modal pada lembaga perbankan tersebut.

 Risiko Gejolak Nilai Tukar Valas (Foreign Exchange Risk)

Merupakan risiko yang terjadi akibat perubahan dari foreign exchange

rates (nilai tukar valuta asing). Risiko ini terutamadihadapi oleh bank-bank devisa yang melakuka transaksi yang berkaitan dengan valuta asing, baik

dari sisi aktiva maupun dari sisi pasiva (kewajiban). Selain itu ketidak

stabilan nilai tukar valas dapat mempersulit bank mengelola aktiva dan

kewajiban valas yang dimilikinya, sehingga akan berpotensi menyebabkan

kerugian.

 Risiko Perubahan Nilai Komoditas (Commodity Position Risk)

Merupakan risiko terjadinya potensi kerugian bagi bank sebagai akibat

dari perubahan commodity prices terhadap posisi bank yang terkait dengan

kontrak komoditas. Risiko ini terkait pula dengan semua commodity

related product position pada on balance sheet dan setiap derivative

commodity positions dalam kegitan off balance sheet bank.

3. Risiko Operasional

Risiko operasional didefenisikan oleh Basel Committee sebagai risiko yang

baik langsung maupun tidak langsung berasal dari ketidakmampuan atau

kegagalan proses internal dan sistem lembaga keuangan. Sedangkan menurut PBI

No.11/25/PBI/2009 Risiko Operasional adalah Risiko akibat ketidakcukupan dan

atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan

atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.

Risiko operasional juga dapat ditimbulkan oleh faktor eksternal suatu lembaga

keuangan. Efektifitas dari sistem operasional suatu lembaga keuangan

berpengaruh terhadap kelancaran pelayanan bank terhadap para nasabah. Risiko

operasional antara lain dapat berupa kemungkinan kerugian dari operasi bank bila

bank dan terjadinya kegagalan atas jasa-jasa dan produk-produk yang diciptakan

oleh bank.

4. Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)

Risiko likuiditas adalah risiko yang dihadapi oleh bank dalam memenuhi

likuiditasnya baik dalm bentuk penarikan dana oleh nasabah maupun dalam

bentuk pemenuhan permintaan pinjaman oleh kreditur. Faktor yang menyebabkan

risiko ini adalah permasalahan ketidaktahuan bank tentang kapan waktu dan

berapa jumlah dana yang akan ditarik oleh nasabah. Sementara dalam PBI

No.11/25/PBI/2009 disebutkan bahwa Risiko Likuiditas adalah Risiko akibat

ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber

pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat

diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank.

2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan Modal dan Risiko

Model persamaan simultan yang dikembangkan oleh Shrieves dan Dahl

(1992) digunakan untuk menilai bagaimana bank bereaksi terhadap Capital

Requirements yang ditetapkan oleh regulator pada struktur modal perbankan.

Perubahan pada risiko dan modal memiliki komponen endogen dan komponen

eksogen. Perubahan eksogen modal dapat disebabkan oleh karena kenaikan

Capital Requirements oleh regulator atau perubahan tak terduga dalam pendapatan yang disebabkan oleh fluktuasi dalam pendapatan. Sedangkan

komponen eksogen yang mempengaruhi perubahan risiko dapat berupa

karakteristik perubahan portofolio pinjaman bank atau volatilitas pinjaman agunan

seperti real properti.

Dalam mendekati Minimum Capital Requirements bank akan

menyesuaikan modal dan risiko mereka. Menanggapi hal ini ada beberapa faktor

yang harus diperhatikan bank dalam menyesuaikan perubahan modal dan risiko

yang disebabkan oleh Capital Requirements. Faktor-faktor yang mempengaruhi

perubahan modal dan risiko perbankan yaitu sebagai berikut :

 Bank Size

Shrieves dan Dahl (1992) dan Rime (2001) menyatakan bahwa size dapat

mempengaruhi target risiko dan tingkat modal karena hubungannya dengan

diversifikasi risiko, sifat peluang investasi bank atau karakteristik kepemilikan

bank dan akses ke modal. Menurut Shrieves dan Dahl (1992) akses ke modal

dapat mempengaruhi kepentingan relatif dari menghindari biaya kebangkrutan.

Size merupakan besarnya kekayaan yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Size perusahaan dapat dinyatakan dalam total aktiva atau log size. Semakin besarnya

Size suatu perusahaan perbankan maka dapat menyebabkan bank memiliki peluang yang lebih besar dalam meningkatkan risiko.

 Current profit (ROA)

Mishkin (2011) Jumlah modal mempengaruhi imbal hasil bagi pemegang

saham karena pemilik bank harus mengetahui apakah banknya dikelolah dengan

baik, mereka membutuhkan pengukuran yang baik mengenai profitabilitas bank.

Menurut Rime (2001) bahwa ROA mungkin memiliki efek positif pada modal

bank. Sebagian bank yang memiliki keuntungan yang tinggi cenderung lebih suka

untuk meningkatkan modal melalui laba ditahan daripada melalui ekuitas. Bank

harus mengandalkan laba ditahan untuk meningkatkan modal. Pembalian atas aset

bank (ROA) masuk dalam persamaan modal dengan efek positif yang diharapkan

pada modal.

 Current loan losses

Current loan losses mempengaruhi rasio aset tertimbang menurut risiko (ATMR) untuk total aset karena kerugian saat ini dapat menyebabkan

menyebabkan penurunan jumlah nominal ATMR. Current loan losses

diaproksimasi dengan ketentuan baru untuk rasio total aset, karena itu Current

loan losses termasuk dalam persamaan risiko dan diharapkan memberikan efek negatif pada risiko (Rime ; 2001).

 Regulatory Preasure

Tekanan peraturan (Regulatory Presure) dimaksudkan untuk menangkap

dampak dari Capital Requirements (respon bank untuk standar modal berbasis

risiko 8%). Hal ini menggambarkan perilaku bank-bank yang mendekati peraturan

Capital requirements. Teori moral hazard memprediksi bahwa bank yang mendekati rasio minimum Capital Requirements mungkin memiliki insentif untuk

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Rangkuman Penelitian Terdahulu

No

Nama Penelitian dan

Tahun Penelitian

Judul Variabel Hasil

1. Shrieves dan Dahl (1992)

The Relationship betweenrisk and capital in

Commercial Banks

Variabel eksogen : Log Natural Size, Bank Holding Company, Regulation Influece, Perubahan Capital, Perubahan Risiko, Capital Tahun sebelumnya, Risiko Tahun sebelumnya Perubahan Capital, Perubahan Risiko Variabel endogen : Perubahan Capital, Perubahan Risiko Hasil menunjukkan bahwa perubahan Capital dan perubahan risiko memiliki hubungan yang positif. Dimana tingkat capital dan risiko secara bersamaan terkait, mayoritas bank menanggapi dampak kenaikan capital requirements dengan menaikan aset berisiko mereka. 2. Furlog dan Keeley (1989) Capital Regulation and Bank Risk Taking = A Note Variabel eksogen : current value of insured deposits, current value of assets, standard deviation of the rate of return on assets, Variabel endogen : value of the option.

Hasil menunjukkan bahwa bank dalam memaksimalkan nilai dan memenuhi rasio modal yang diperlukan bukan hanya dengan cara menjual aset dan simpanan

Dokumen terkait