BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.2 Saran

1. Tenaga medis (dokter anestesi dan perawat) sebaiknya memberikan terapi anti nyeri pasca operasi secara adekuat dan benar-benar melakukan follow- up pasien minimal dalam 24 jam setelah menjalani operasi mata dengan general anestesi sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kejadian nyeri dalam 24 jam pasca operasi mata.

2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menilai lebih lanjut prevalensi nyeri pasca operasi dengan general anestesi dan keterkaitan antara faktor

41

resiko operasi mata dan juga faktor resiko nyeri pasca operasi dengan angka kejadian nyeri dan menilai apakah faktor resiko tersebut memang ada hubungannya dengan kejadian nyeri

3. Bagi penelitian selanjutnya disarankan agar lebih memperluas cakupan penelitiannya, khususnya dalam jumlah sampel dan lokasi penelitian sehingga dapat lebih bermanfaat dalam perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran dan kesehatan.

4. Data hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi mengenai keefektivitasan pengobatan yang telah dilakukan untuk mencegah nyeri pasca operasi mata dan terus dilakukan evaluasi.

6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nyeri

2.1.1 Definisi nyeri

Secara umum nyeri adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2012). Menurut International Association for Study of Pain(IASP), nyeri sebagai suatu sensori subjektif dan pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan akibat terjadinya kerusakan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.

2.1.2 Fisiologi nyeri

Nyeri merupakan suatu mekanisme pertahanan tubuh manusia yang dapat mengindikasikan bahwa tubuh seorang mengalami masalah. Nyeri dapat berasal dari fisik atau psikologis (Avidan, M, 2003).

1. Reseptor nyeri

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima ransangan nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri juga nosireseptor, berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokan dalam beberapa bagian tubuh yaitu pada kulit (kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya berbeda-beda inilah nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda. Nosireseptor kutaneus berasal dari kulit dan subkutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan (Tamsuri, 2012). Reseptor jaringan kulit terbagi dua dalam dua komponen menurut Tamsuri 2012 yaitu :

7

1) Serabut A delta

Merupakan komponen cepat (kecepatan transmisi 6-30 m/ detik) yang mungkin timbulnya nyeri tajam, yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan.

2) Serabut C

Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan transmisi 0,5 m/detik) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri bersifat tumpul dan sulit dialokasikan.

2. Transmisi nyeri

Menurut Tamsuri (2012). Terdapat beberapa teori yang menggambarkan bagaimana nosiseptor dapat menghasilkan ransangan nyeri, yaitu :

1. Teori Spesivisitas (Specivicity Theory)

Teori dirasakan pada kepercayaan bahwa terdapat organ tubuh yang secara khusus menstransmisi rasa nyeri.

2. Teori Pola (Pattern Theory)

Teori ini menerangkan bahwa ada dua serabut nyeri, yaitu serabut yang mampu mengantar ransangan dengan cepat dan serabut yang mengantar rangsangan dengan lambat. Kedua serabut syaraf tersebut bersinapsis pada medula spinalis dan merusakan informasi ke otak mengenai jumlah, intensitas, dan tipe input sensori nyeri menafsirkan karakter dan kuantitas input sensori nyeri.

3. Teori Gerbang Kendali Nyeri (Gate Control Theory)

Teori gerbang kendali nyeri menyatakan terdapat semacam “pintu gerbang" yang dapat memfasilitasi atau memperlambat transmisi sinyal nyeri.

3. Perjalanan Nyeri

Ada empat proses yang terjadi pada perjalanan nyeri yaitu transduksi, transmisi, modulasi, dan persepsi(Smith Howard S., et al., 2008).

8

1) Transduksimerupakan proses perubahan rangsang nyeri menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf. Rangsang ini dapat berupa stimulasi fisik, kimia, ataupun panas. Dan dapat terjadi di seluruh jalur nyeri.

2) Transmisiadalah proses penyaluran impuls listrik yang dihasilkan oleh proses transduksi sepanjang jalur nyeri, dimana molekul molekul di celah sinaptik mentransmisi informasi dari satu neuron ke neuron berikutnya. 3) Modulasiadalah proses modifikasi terhadap rangsang. Modifikasi ini

dapat terjadi pada sepanjang titik dari sejak transmisi pertama sampai ke korteks serebri. Modifikasi ini dapat berupa augmentasi (peningkatan) ataupun inhibisi (penghambatan).

4) Persepsiadalah proses terakhir saat stimulasi tersebut sudah mencapai korteks sehingga mencapai tingkat kesadaran, selanjutnya diterjemahkan dan ditindaklanjuti berupa tanggapan terhadap nyeri tlersebut.

9

2.1.3Klasifikasi Nyeri

1. Berdasarkan Sumber Nyeri

Dapat dibagi diklasifikasikan menjadi(Benzon et al., 2005): a) Nyeri somatik luar

Nyeri yang stimulusnya berasal dari kulit, jaringan subkutan dan membran mukosa. Nyeri dirasakan seperti terbakar dan terlokalisasi. b) Nyeri somatic dalam

Nyeri tumpul (dullness) dan tidak terlokalisasi dengan baik akibat rangsangan pada otot rangka, tulang, sendi, jaringan ikat.

c) Nyeri viseral

Nyeri karena perangsangan organ visceral atau membran yang menutupinya (pleura parietalism, pericardium, peritoneum). Nyeri tipe ini dibagi lagi menjadi nyeri viseral terlokalisai, nyeri parietal terlokalisasi, nyeri alih viseral dan nyeri alih parietal.

2. Berdasarkan Jenisnya Nyeri

Dapat diklasifikasikan menjadi(Benzon et al., 2005): a) Nyeri nosiseptif

Karena kerusakan jaringan baik somatik maupun visceral. Stimulasi nosiseptor baik secara langsung maupun tidak langsung akan mengakibatkan pengeluaran mediator inflamasi dari jaringan, sel imun dan ujung saraf sensoris dan simpatik.

b) Nyeri neurogenik

Nyeri yang didahului atau disebabkan oleh lesi atau disfungsi primer pada system saraf perifer. Hal ini disebabkan oleh cedera pada jalur serat saraf perifer, infiltrasi sel kanker pada serabut saraf, dan terpotongnya saraf perifer. Sensari yang dirasakan adalah rasa panas dan seperti ditusuk-tusuk dan kadang disertai hilangnya rasa atau adanya rasa tidak enak pada perabaan.

c) Nyeri psikogenik

Nyeri ini berhubungan dengan adanya gangguan jiwa misalnya cemas dan depresi. Nyeri akan hilang apabila keadaan kejiwaan pasien tenang.

10

Tabel 2.1 Perbedaan Nyeri Akut dan Nyeri Kronis Sumber : Benzon et al., 2005

Karakteristik Nyeri Akut Nyeri Kronis

Awitan Mendadak Terus menerus/intermittent

Durasi Durasi singkat (kurang dari enam bulan)

Durasi lama (lebih dari enam bulan)

Respon otonom

Takikardia,tekanan darah meningkat, pucat, lembab, berkeringat, dilatasi pupil meningkat,

Tidak dapat repon otonom, penurunan tekanan darah, bradikardia, kulit kering, panas, dan pupil kontriksi Respon

psikologis

Cemas, gelisah, dan terjadi ketegangan otot

Depresi, putus asa, mudah tersinggung

2.2 Nyeri Pasca Operasi 2.2.1 Definisi

Nyeri postoperasi adalah nyeri yang dirasakan akibat dari hasil pembedahan. Kejadian, intensitas, dan durasi nyeri postoperasi berbeda-beda dari pasien ke pasien, dari operasi ke operasi, dan dari rumah sakit ke rumah sakit yang lain. Lokasi pembedahan mempunyai efek yang sangat penting yang hanya dapat dirasakan oleh pasien yang mengalami nyeri postoperasi. Nyeri postoperasi biasanya ditemukan dalam pengkajian klinikal, nyeri postoperasi merupakan topik yang menarik untuk dibahas dalam lingkup kedokteran. Dengan menggali nyeri postoperasi akan membantu orang lain untuk mengerti dan dapat mengaplikasikan nyeri postoperasi kepada pasien yang mengalami pembedahan. Aspek dari nyeri postoperasi adalah untuk menyelidiki adanya pengalaman nyeri yang mencakup persepsi dan perilaku tentang nyeri (Suza, 2007).

Nyeri insisi umumnya terasa tajam dan terlokalisir dengan jelas karena kulit dan jaringan subkutis memiliki banyak nosiseptor. Apabila struktur yang terletak lebih dalam dengan reseptor nyeri yang lebih sedikit mengalami cedera, maka nyeri yang timbul cenderung tumpul dan kurang terlokalisir atau mungkin dirujuk apabila struktur-struktur visceral terlihat. Rasa takut dan cemas sering merupakan bagian dari aspek afektif-emosi pada nyeri akut dan cenderung

11

memperkuat satu sama lain. Dengan demikian, tindakan-tindakan untuk mengurangi nyeri juga mengurangi rasa cemas, yang cenderung mengurangi nyeri. Nyeri paska operasi akut biasanya menghilang seiring dengan menyembuhnya luka(Prince, 2006).

2.2.2 Penilaian Nyeri

Penilaian nyeri merupakan elemen yang penting untuk menentukan terapi nyeri pasca operasi yang efektif. Skala penilaian nyeri dan keterangan pasien digunakan untuk menilai derajat nyeri. Intensitas nyeri harus dinilai sedini mungkin selama pasien dapat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi nyeri yang dirasakan.

Ada beberapa skala penilaian nyeri pada pasien sekarang ini: 1. Wong-Baker Faces Pain Rating Scale

Banyak digunakan pada pasien pediatrik dengan kesulitan atau keterbatasan verbal. Dijelaskan kepada pasien mengenai perubahan mimik wajah sesuai rasa nyeri dan pasien memilih sesuai rasa nyeri yang dirasakannya(GarraG.et al., 2010).

Gambar 2.2Wong Baker Faces Pain Rating Scale

2. Verbal Rating Scale (VRS)

VRS adalah cara pengukuran nyeri dengan menanyakan respon pasein terhadap nyeri secara verbal dengan memberikan 5 pilihan yaitu tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang, nyeri berat, dan nyeri luar biasa yang tidak tertahankan.

12

Skala pada VRS merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pada penggunaannya, pemeriksa akan menunjukkan kepada klien tentang skala tersebut dan meminta pasien untuk memilih skala nyeri berdasarkan intensitas nyeri yang dirasakannya. VRS akan membantu pasien untuk memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan rasa nyeri yang dirasakannya (Benzon et a.l, 2005).

Gambar 2.3Verbal Rating Scale

3. Numerical Rating Scale (NRS)

Metode ini menggunakan angka-angka untuk mengambarkan range dari intensitas nyeri. Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkan angka 0 – 5 atau 0 – 10, dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka5 atau 10 menunjukkan nyeri yang hebat. NRS digunakan untuk menilai intensitas atau derajat keparahan nyeri dan memberi kesempatan kepada pasien untuk mengidentifikasi keparahan nyeri yang dirasakan (Benzon et al., 2005).

13

4. Visual Analogue Scale (VAS)

Cara lain untuk menilai intensitas nyeri yaitu dengan menggunakan Visual Analogue Scale(VAS). Skala berupa suatu garis lurus yang panjangnya biasaya 10 cm (atau 100 mm), dengan penggambaran verbal pada masing-masing ujungnya, seperti angka 0 (tanpa nyeri) sampai angka 10 (nyeri terberat). Nilai VAS 0 - <4 = nyeri ringan, 4-<7 = nyeri sedang dan 7-10 = nyeri berat.(Jensen MP., 2003).

Gambar 2.5 Visual Analogue Scale

2.3 Operasi Mata dan General Anestesi

Penggunaan general anestesi ataupun lokal harus dibuat pilihan bersama oleh pasien, anestesiologis, dan ahli bedah. Beberapa pasien menolak lokal anestesi karena takut akan kemungkinan terjaga saat prosedur bedah dan mendapat ingatan rasa sakit selama teknik regional. Meskipun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa salah satu bentuk anestesi lebih aman, regional anestesi tampaknya lebih kurang menyebabkan stress. General anestesi diindikasikan pada anak-anak dan pasien tidak kooperatif, karena bahkan gerakan kepala yang kecil dapa menyebabkan bencana selama bedah mikro (Morgan et al., 2006).

14

2.3.1. Pembagian Operasi Mata

Menurut Smith (2004),operasi mata dapat dibagi menjadi dua kategori yang berbeda: ekstraokular dan intraokular.

Operasi ekstraokular, dilakukan pada struktur sekitar mata itu sendiri, seperti kelopak mata dan konjungtiva. Jaringan ini memiliki suplai darah yang sangat baik. Oleh karena itu jaringan sembuh dengan baik dan jarang terinfeksi serius. Jaringan tersebut berada pada permukaan tubuh sehingga paparan terhadap pembedahan biasanya tidak menjadi masalah. Jaringan dapat dibius dengan mudah dengan infiltrasi jaringan menggunakan regional anestesi. Adrenalin (1 dalam 100.000) selalu digunakan dalam regional anestesi untuk mengurangi perdarahan karena jaringan ini sangat vaskular. Dengan semua alasan tersebut, prinsip-prinsip operasi ekstraokular adalah sama dengan untuk operasi umum. Namun jaringan ekstraokular agak kecil dan melakukan pembesaran biasanya membantu dokter bedah. Contoh operasi ekstraokuler adalah strabismus, trabekulektomi, repair ptosis, eksisi tumor, hecting palpebra dan lain lain.

Operasi intraokular, dilakukan pada mata itu sendiri. Struktur mata selain yang sangat kecil, juga sangat khusus dan rentan. Karena itu ada beberapa aturan dasar atau prinsip-prinsip lainnya untuk setiap jenis operasi intraokular. Karena bersifat khusus, mata hanya memiliki kekuatan terbatas dari pemulihan cedera termasuk cedera dari operasi. Bagian lain dari tubuh akan sering sembuh sepenuhnya sekalipun dari penanganan yang kasar pada operasi atau dari komplikasi seperti infeksi. Ataupun secara alternatif dapat dilakukan operasi lain untuk memperbaiki komplikasi pasca-operasi. Namun, hal tersebut tidak berlaku pada mata. Operasi yang buruk atau komplikasi pascaoperasi sering akan menyebabkan kehilangan penglihatan secara permanen. Contoh operasi intraokuler adalah operasi katarak, glaukoma, vitrektomi, reposisi IOL, eviserasi, trauma okuli dan lain lain

2.3.2. General Anestesi pada Operasi Mata

General Anestesi digunakan pada sekitar 35 % dari kasus operasi mata, dan yang paling umum digunakan adalah lengthy retinal surgery dan operasi strabismus pada pediatrik.

Indikasi untuk general anestesi meliputi berikut (Basta, 2008):

1. Ketidakmampuan pasien untuk bekerja sama dengan monitoredanesthesia care (MAC) misalnya, anak-anak, orang dewasa dengan defisit mental atau psikologis, tremor, ketidakmampuan untuk berbaring terlentang. 2. Akinesia okular lengkap diinginkan oleh dokter bedah.

15

3. Prosedur yang panjang (> 3-4 jam).

4. Bagian bedah tidak setuju untuk regional anestesi, lokal, atau topikal (misalnya, koagulopati).

5. Keinginan dokter bedah atau pasien.

Tujuan dari general anestesi untuk operasi mata mencakup induksi yang lancar dengan tekanan intra okular (TIO) yang stabil, penghindaran atau pengobatan refleks okulokardiak yang parah, dan pemeliharaan lapangan bergerak. Tujuan ini dapat dicapai dalam berbagai cara, yaitu dengan menggunakan anestesi inhalasi, agen IV, atau teknik gabungan (Basta, 2008). Relaksan otot terutama berguna selama bedah mikro intraokular, ketika gerakan pasien yang sedikit saja dapat menjadi bencana (Basta, 2008).

2.3.3. Jenis Operasi Mata dengan General Anestesi 1. Strabismus

Strabismus berarti misalignment okuler atau penyimpangan dari satu mata relatif terhadap sumbu visual yang lain. Etiologinya mungkin berhubungan dengan kelainan penglihatan binokular atau masalah neuromuskular dari motilitas okular (Basta, 2008).

Koreksi bedah strabismus adalah reposisi otot ekstraokular. Koreksi ini memerlukan berbagai macam teknik untuk melemahkan otot ekstraokular dengan memindahkan insersinya pada bola mata atau untuk memperkuat otot ekstraokular dengan mengeliminasi sebuah strip pendek dari tendon atau otot (Barash, et al., 2009). Untuk memperkuat otot, dilakukan reseksi. Untuk melemahkan otot, dilakukan resesi. Pada kasus yang parah, reseksi mungkin dilakukan pada satu otot dan resesi pada otot yang berlawanan. Karena pematangan visual terjadi pada usia 5 tahun, koreksi strabismus biasanya dicoba pada awal masa kanak-kanak. Jika tidak dikoreksi, amblyopia, atau cacat dalam penglihatan sentral, dapat terjadi (Aitkenhead et al., 2013).

Jahitan yang dapat disesuaikan kadang-kadang digunakan untuk meningkatkan peluang alignment dengan sebuah operasi tunggal . Penyesuaian

16

dilakukan langsung dalam periode pasca operasi, ketika pasien sepenuhnya terjaga dan bisa fokus. Pada pasien yang mempunyai riwayat operasi strabismus atau trauma orbital sebelumnya, dokter bedah mungkin perlu untuk membedakan antara pergerakan mata paretik dan restriksi dengan melakukan forced duction test (Aitkenhead et al., 2013). Pasien anak banyak dan sering menjalani operasi strabismus dan membutuhkan general anesthesia. Beberapa pasien dewasa cukup baik dengan teknik regional dan sedasi secara intravena (Basta, 2008).

Kebanyakan pasien lebih memilih general anesthesia dan memberikan hasil yang sangat memuaskan dengan propofol, remifentanil, antagonis 5HT3, dan/atau deksametason ,dan non-opiat untuk nyeri (Basta, 2008).

2. Penetrating Keratoplasty

Penetrating Keratoplasty mengacu pada bedah penggantian sebagian kornea dengan jaringan donor. Jaringan donor yang berasal dari pasien disebut autograft. Jaringan yang berasal dari lain orang disebut allograft. Indikasi untukprosedur ini banyak yaitu opasitas kornea, keratokonus, infeksi, dan jaringan parut adalah beberapa diantaranya. Baik regional anesthesia maupun general anesthesia mungkin tepat untuk prosedur ini (Basta, 2008).

3. Katarak

Katarak adalah penyebab umum gangguan penglihatan pada orang tua. Karena tingginya prevalensi katarak, ekstraksi katarak adalah operasi mata yang paling umum(Uhr, 2003). Patogenesis katarak adalah multifaktorial tetapi pada dasarnya menghasilkan opasitas dari lensa. Lensa tertutup dalam lapisan yang disebut kapsul lensa. Operasi katarak memisahkan katarak dari kapsul lensa. Dalam kebanyakan kasus, lensa akan diganti dengan implan lensa intraokular (IOL). Jika IOL tidak dapat digunakan, lensa kontak atau kacamata harus dipakai untuk mengkompensasi kurangnya kemampuan lensa alami (Romito K. dan Karp, 2013).

Ekstraksi katarak ekstrakapsular (ECCE) adalah metode yang paling disukai dari ekstraksi katarak rutin. Prosedur dilakukan melalui insisi yang lebih kecil dan kurang traumatis bagi endothelium kornea. Pengangkatan lensa dengan kapsul posterior utuh memberikan posisi yang lebih baik dari implan lensa

17

intraokular. Fakoemulsifikasi adalah teknik ECCE yang dilakukan melalui insisi 3-4mm. Inti katarak terfragmentasi dengan jarum ultrasonik dan kemudian diaspirasi. Ekstraksi katarak intrakapsular (ICCE) adalah teknik yang secara komplit menghilangkan lensa dengan kapsul melalui insisi yang jauh lebih besar. ICCE dilakukan pada kasus tertentu dan di lokasi di mana peralatan canggih tidak tersedia. Ekstraksi katarak biasanya dilakukan dengan injeksi retrobulbar atau peribulbar dan, jika diperlukan, blok saraf wajah. Sedasi intravena dan analgesia harus diberikan untuk menetapkan blok tersebut. Prosedur tersebut dapat dilakukan di bawah topical anestesi pada pasien tertentu (Basta, 2008). Walau demikian, saat ini pada pasien katarak pediatrik dan beberapa orang dewasa (misalnya, retardasi mental), general anestesi masih berperan dan digunakan (Shah, 2010).

4. Glaukoma

Glaukoma adalah istilah umum untuk kelompok penyakit mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokular. Goniotomi adalah prosedur dilakukan untuk mengobati glaukoma infantil. Sebuah sayatan dangkal dibuat di trabecular meshwork untuk meningkatkan aliran aqueous humor dari ruang anterior. Bayi dan anak-anak memerlukan general anestesi untuk prosedur ini. Trabekulektomi adalah paling umum dilakukan pada orang dewasa. Sebuah blok jaringan limbal akan diangkat di bawah scleral flap, memungkinkan aliran aqueous. Antimetabolit, seperti di mitomisin, dapat disuntikkan intraoperatif untuk membantu mencegah kegagalan bedah sekunder terhadap jaringan paru. Iridektomi biasanya dilakukan dengan sebuah laser yttrium - aluminium garnet – (YAG)namun, sebuah iridektomi insisional kadang-kadang diperlukan. Iridektomi adalah pengobatan definitif untuk glaukoma sudut tertutup. Anestesi untuk operasi glaukoma pada orang dewasa biasanya dilakukan dengan injeksi retrobulbar atau peribulbar dan , jika diperlukan , blok saraf wajah (Basta, 2008).

5. Bedah Vitreoretinal

Vitrektomi mengacu pada pembedahan ekstraksi isi ruang vitreous dan penggantian mereka dengan larutan fisiologis. Vitrektomi segmen anterior dilakukan untuk kehilangan vitreous selama operasi katarak. Vitrektomi segmen

18

posterior diindikasikan untuk pengangkatan badan asing di intraokular, manajemen dari retinal detachment yang sulit dengan membran intraokular, penghapusan kekeruhan media, dan pengentasan traksi vitreous pada retina. Karena operasi dapat diperpanjang dan banyak pasien memiliki kondisi medis yang menyertai (misalnya, diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit jantung), vitrektomi dapat memberikan tantangan yang sulit untuk para anestesiologis (Basta, 2008).

General anestesi telah secara tradisional digunakan untuk operasi vitreoretinal. Namun, dengan menggunakan regional anestesi dengan MAC telah menjadi alternatif yang menarik. General anestesi sesuai untuk kasus operasi dengan jangka yang lebih lama (Basta, 2008).

6. Bedah Orbital

Kebanyakan operasi orbital membutuhkan general anestesi kecuali prosedur terbatas pada anterior bola mata dan tidak melibatkan tulang orbita .

a) Orbitotomi

Orbitotomi dilakukan untuk mendapatkan akses bedah ke bola mata. Pendekatan yang dilakukan termasuk transkonjungtival, transseptal, dan transperiosteal. Indikasi untuk orbitotomi termasuk tumor, abses, benda asing, dan patah tulang orbital (Basta, 2008).

b) Dekompresi Orbital

Dekompresi orbital diindikasikan untuk koreksi eksoftalmus yang dihasilkan penyakit Graves. Akses ke orbita diperoleh dengan pendekatan transkonjungtival atau transperiosteal. Beberapa ahli bedah menggunakan sayatan koronal dengan refleksi dari kulit kepala secara anterior ke tingkat se-level orbita. Kasus bisa panjang (4+ jam), dan kehilangan darah bisa cukup besar untuk memerlukan transfusi (Basta, 2008).

2.4 Konsep General Anestesi 2.4.1 Definisi General Anestesi

General anestesi adalah ketidaksadaran yang dihasilkan oleh medikasi (Torpy, 2011). General anestesi merupakan keadaan fisiologis yang berubah

19

ditandai dengan hilangnya kesadaran reversibel, analgesia dari seluruh tubuh, amnesia, dan beberapa derajat relaksasi otot (Morgan et al., 2006). Ketidaksadaran tersebut memungkinkan pasien untuk mentolerir prosedur bedah yang akan menimbulkan rasa sakit tidak tertahankan pada pasien dan akan menghasilkan ingatan yang tidak menyenangkan. Selama tindakan general anestesi, pasien tidak dalam keadaan sadar dan tidak juga dalam keadaan tidur yang alami. Seorang pasien yang dibius dengan general anestesi dapat dianggapsebagai berada dalam keadaanterkontrol, keadaantidak sadar yang reversibel (Press, 2013).

General anestesi tidak terbatas padapenggunaan ageninhalasi sahaja. Banyakobat yangdiberikan secara oral, intramuskular, danintravena yang dapat menambah ataumenghasilkankeadaananestesidalamrentang dosisterapi (Morgan et

al., 2006).Tetapi saat ini general anestesi biasanya

menggunakansediaanintravenadaninhalasiuntuk memungkinkan aksesbedahyang memadaike tempat yang akan dioperasi. Hal yang perludicatat adalah general anestesimungkintidak selalu menjadi pilihan terbaik karena penggunaannya yang tergantung padapresentasiklinispasien, dan anestesilokal atau regionalmungkin lebih tepat(Press, 2013).

2.4.2Obat-obatan dalam General Anestesi

Menurut Torpy (2011), beberapaobatyang paling umum digunakanuntuk general anestesi adalah:

1. Propofol, menghasilkanketidaksadaran pada pasien (induksi general anestesi). Pada dosiskecil, dapat digunakanuntuk memberikansedasi. 2. Benzodiazepin, mengurangi kecemasansebelum operasi. Beberapa obat-

obatan yangmengurangi kecemasanjuga dapat membantumenahan terjadinya ingatan darisebuah kejadian.

3. Narkotika, mencegah ataumengobati rasa sakit.

4. Agen anestesi volatil (mudah menguap), terhirupdalam campurangas yang mengandungoksigen. Kadang-kadang, untuk menghindarimemulai jalur

20

intravena(IV) pada bayidan anak-anak, agen volatile diberikanmelalui maskeruntuk induksi general anestesi.

5. Obat laintermasuk agenantiemetik(untuk melindungi terhadap mual dan muntah), relaksan otot, obat-obatanuntuk mengontroltekanan darahatau heart rate, dan sebagai obatantiinflamasi nonsteroid(NSAID).

2.4.3 Keuntungan dan Kerugian General Anesthesia

Penyedia anestesi bertanggung jawab untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi kondisi medis pasien dan memilih teknik anestesi yang optimalsesuai. Atribut general anestesi meliputi (Press, 2013):

1. Keuntungan

a) Mengurangi kesadaran dan ingatan intraoperatif pasien.

b) Memungkinkan relaksasi otot yang diperlukan untuk jangka waktu yang lama.

c) Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi.

d) Dapat digunakan dalam kasus-kasus alergi terhadap agen anestesi lokal.

e) Dapat diberikan tanpa memindahkan pasien dari posisi terlentang. f) Dapat disesuaikan dengan mudah dengan durasi prosedur yang tak

Dalam dokumen Prevalensi Nyeri Pasca Operasi Mata dengan General Anestesi Berdasarkan Jenis Operasi Mata di Rumah Sakit Sumatera Medical Eye Centre (SMEC) (Halaman 40-78)