Z 1-a/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada a tertentu P = harga proporsi di populasi
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.3. Sistem Pernapasan saat tidur
gelisah dan waktu terjaganya menjadi lebih lama. Sedangkan pada orang muda 15 % waktu tidurnya dihabiskan pada fase 4. Fase 4 biasanya tidak ditemukan pada orang tua, demikian juga lama fase REM akan mengalami penurunan yaitu pasca pubertas menjadi 18% pada orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa tidur menjadi lebih singkat sehingga menyebabkan berkurangnya kesegaran sesuai bertambahnya usia (Arifin et al, 2010).
2.1.3. Sistem Pernapasan saat tidur
Pada orang normal, fungsi respirasi akan menurun selama tidur karena adanya hipoventilasi alveolar. Frekuensi pernapasan dan ventilasi mengalami perubahan saat tidur dan berbeda untuk masing-masing NREM sleep dan REM
sleep. Selama NREM sleep, ventilasi akan menurun dan volume tidal juga menurun sehingga frekuensi napas juga ikut menurun Ventilasi selama REM sleep
juga menurun dibandingkan saat kondisi bangun. Pada orang dewasa normal, selama tidur volume tidal menurun 15-20 % dan lebih dangkal pada stage REM dibandingkan dengan stage NREM (Pack, 2008).
Penurunan fungsi respirasi yang terjadi selama tidur pada orang normal pada fase REM akan meningkatnya tahanan atau resistensi dari saluran napas atas yang disertai dengan penurunan tonus otot genioglossus, soft palate, diafragma, dan interkostal. Penurunan mucocilliary clearance dan reflex batuk juga terjadi selama tidur sehingga akan menyebabkan retensi sputum. Keadaan ini kurang berpengaruh terhadap orang normal, tetapi merupakan keadaan yang mengancam jiwa pada penderita asma sleep apnea atau keadaan kelainan sistem pernapasan yang lain (Pack, 2008).
Pada penderita OSA, tahanan atau resistensi saluran napas atas meningkat 10 kali lipat dibandingkan dengan orang normal yang hanya meningkat 2-4 kali lipat. Sehingga pada keadaan tidur, sistem respirasi penderita OSA akan mendapat tambahan beban mekanik yang disebabkan oleh peningkatan tahanan saluran napas atas. Peningkatan tahanan saluran napas atas yang progresif menyebabkan penurunan atau penghentian aliran udara sehingga saturasi oksihemoglobin (SaO2) mengalami penurunan. Keadaan seperti adanya hambatan jalan napas,
Universitas Sumatera Utara
peningkatan resistensi saluran napas atas, hipoksia, dan hypercapnia merupakan stimulus dari sistem pernapasan yang dapat memicu keadaan terbangun dari tidur (Arifin et al, 2010).
Oleh karena itu, pada penderita OSA sering terjadi episode terbangun yang berulang dan menimbulkan rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari. Hal tersebut yang dapat mengganggu aktivitas pada siang hari, mengakibatkan defisit pada neurokognitif serta menimbulkan kondisi medis yang sangat lemah seperti hipertensi, depresi, dan kecelakaan yang berhubungan dengan rasa kantuk (Downey, 2012).
2.2. Obstructive Sleep Apnea (OSA) 2.2.1. Definisi
Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau disebut juga dengan Obstructive Sleep Apnea-Hypopnea (OSAH) merupakan ganguan tidur yang melibatkan penghentian atau penurunan yang signifikan dari aliran udara dimana masih bisa ditemukan adanya usaha untuk bernapas. OSA merupakan salah satu tipe ganguan pernapasan saat tidur yang paling sering dan ditandai dengan episode berulang dari kolapsnya saluran napas atas saat tidur. OSA dengan gejala Excessive Day time Sleepiness (EDS) disebut juga dengan Obstructive Sleep Apnea Syndrome
(OSAS) maupun Obstructive Sleep Apnea-Hypopnea Syndrome (OSAHS). Meskipun penyakit ini umum, OSA adalah penyakit yang tidak terdeteksi oleh sebagian besar dokter di Amerika Serikat (Downey, 2014).
OSA merupakan bentuk umum Sleep-Disordered Breathing (SDB) yang telah dikenal secara umum dan berhubungan dengan berbagai masalah medis serta mempunyai dampak pada angka kesakitan dan kematian sehingga menjadi beban dalam pelayanan kesehatan masyarakat (Antariksa, 2010).
Universitas Sumatera Utara
Menurut WHO, Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan ganguan klinis yang ditandai dengan berulangnya episode obstruksi saluran napas atas sehingga dapat mengurangi aliran udara pada hidung atau mulut. Episode berulang ini biasanya disertai dengan suara mendengkur yang kuat dan hipoksemia, dan biasanya diakhiri dengan terbangun secara berulang, yang menyebabkan fragmentasi tidur. Pasien dengan sindrom Obstructive Sleep Apnea
(OSA) biasanya tidak menyadari dirinya terbangun secara berulang dan akhirnya akan mengakibatkan penurunan kualitas tidur yang menyebabkan kantuk di siang hari (WHO, 2007).
2.2.2. Epidemiologi
Obstructive Sleep Apnea (OSA) umumnya terjadi pada dewasa muda, biasanya antara umur 40-50 tahun, meskipun dapat terjadi juga pada anak-anak dan remaja. Mayoritas pasien OSA adalah kelebihan berat badan sekitar 60 % pasien OSA memiliki berat badan lebih dari 20% diatas ideal, ukuran leher, area distal faring dan indeks masa tubuh berhubungan dengan frekuensi apnea
(Antariksa, 2010).
Sleep-Disorded Breathing (SDB) adalah penyakit yang paling umum terjadi di Amerika Serikat. National commission on sleep disorder research
memperkirakan bahwa SDB ringan memiliki Respiratory Disturbance index (RDI >5) sekitar 7-18 juta orang dan kasus yang relative berat (RDI>15) sekitar 1,8-4 juta orang di Amerika Serikat. Pada penelitian epidemiologi di Pennysylavania menunjukkan prevalensi pada perempuan sekitar 2% dan 4% untuk laki-laki. Data dari Wisconsin cohort study menunjukkan bahwa prevalensi OSA pada orang yang berusia 30-60 tahun sekitar 9-24% untuk laki-laki dan 4-9% untuk perempuan (Downey, 2014).
Pada penelitian prevalensi terjadinya OSA pada pengemudi menunjukkan sekitar 17-28 % atau sekitar 2,4-3,9 juta orang terkena OSA (Kales et al, 2013).
Universitas Sumatera Utara
2.2.3. Klasifikasi
Klasifikasi derajat OSA berdasarkan nilai Apnea Hypopnea Index (AHI) yang ditetapkan oleh the American academy of sleep medicine, dapat dibagi menjadi 3 golongan :
1. Ringan (nilai AHI 5-15 ). 2. Sedang (nilai AHI 15-30). 3. Berat (nilai AHI>30).
Faktor-faktor lain juga berpengaruh pada derajat OSA adalah desaturasi oksigen, kualitas hidup dan tingkat mengantuk di siang hari (Antariksa, 2010). 2.2.4. Patofisiologi
OSA merupakan hasil dari proses dinamik penyempitan atau lumpuhnya (collaps) saluran napas selama tidur, tempat paling sering terjadi obstruksi pada populasi dewasa adalah dibelakang ovula dan velofaring (palatum molle),
kemudian pada oropharynx, atau kombinasi keduanya (Sumardi et al, 2009). Penelitian mengatakan bahwa adanya faktor anatomi dan neuromuskular yang merupakan faktor penting terjadinya OSA. Faktor anatomi (contohnya pembesaran tonsil, volume lidah, jaringan lunak, atau dinding lateral faringeal, panjang palatum mole, posisi maksila dan mandibular) dapat berkontribusi pada penurunan luas permukaan saluran napas atas dan meningkatkan tekanan disekitar jalan napas, keduanya merupakan predisposisi kolapsnya jalan napas. (Downey, 2014).
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.1 saluran napas atas normal dibandingkan dengan penderita mendengkur (sumber : Budhi Antariksa, 2010)
Aktivitas neuromuskular saluran bagian atas, termasuk aktivitas reflex akan menurun ketika tidur, dan penurunan ini akan lebih terasa pada pasien OSA. Berkurangnya ventilasi motor output pada otot saluran napas atas diyakini menjadi kejadian awal kritis untuk terjadinya obstruksi pada saluran napas bagian atas; efek ini yang paling menonjol pada pasien dengan jalan napas atas cenderung runtuh karena alasan anatomi (Downey, 2014).