BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.2. Saran
Agar kerja dari sistem informasi simpan pinjam yang dirancang lebih optimal, maka penulis memberikan beberapa saran, yaitu :
1. Perlu adanya pengembangan lebih lanjut, seperti sistem informasi yang berbasis Client Server / jaringan, sehingga penggunaan sistem informasi tersebut dapat melibatkan bagian-bagian yang lain.
2. Dalam penggunaan sistem yang terkomputerisasi ini diharapkan selalu melakukan Back up data (berupa CD), sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti harddisk rusak, maka datanya masih ada. 3. Pengembangan sumber daya manusia yang menjadi bahan utama sebagai
user dalam pengoperasian komputer harus sudah mengenal dan mengerti tentang pengaplikasian komputer, agar meminimalkan kesalahan –
kesalahan yang terjadi dalam pencatatan, karena ini akan berpengaruh pada ke efektifan waktu dan tenaga.
24 3.1. Objek Penelitian
Penelitan ini dilakukan untuk merancang suatu sistem informasi simpan pinjam, objek penelitian pada penyusunan tugas akhir ini adalah pada koperasi BAPPEDA JABAR Jln.Ir.H.Djuanda No.287 Telp 2516061 Bandung 40135
3.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan
Sejarah Singkat Berdirinya BAPPEDA Provinsi Jawa Barat
Pada tahun 1969 Provinsi DT 1 Jawa Barat telah memiliki suatu badan yang menangani pembangunan di daerah yang disebut Badan Perencanaan Daerah (BAPEMDA). Badan ini dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubenur Nomor 163 Tahun 1969 tertanggal 6 Agustus 1969. badan ini merupakan embrio dari pembangunan di Daerah Jawa Barat.
Pada Tahun 1972 Jawa Barat telah menyempurnakan Badan Pembangunan Daerah tersebut menjadi Badan Perencanaan Daerah yang disingkat BAPPEMDA untuk Daerah Tingkat 1 dan BAPPEMKA serta BAPEMKO untuk Kabupaten dan kotamadya. BAPPEMDA, BAPPEMKA serta BAPPEMKO merupakan badan perencanaan yang pertama di Indonesia yang bersifat regional dan lokal dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubenur Provinsi Jawa Barat No. 43 Tahun
1972. Setelah berjalan 2 tahun kedudukan Badan Perencanaan Daerah baru dikukuhkan dan diakui dengan Surat Keputusan Gubenur Provinsi Jawa Barat No. 15 tahun 1974, walaupun baru sampai tingkat I, sedangkan perencanaan pembangunan di Daerah tingkat II tersebut diakui secara rasional.
Beberapa tahun kemudian, dengan terbitnya Keputusan Presiden No. 27 Tahun 1980 maka lahirlah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat II atau BAPPEDA Tingkat II.
Bahwa dengan telah ditetapkan Peraturan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai daerah Otonom, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintahan Nomor 84 tahun 2000 tentang pedoman Organisasi Perangkat Daerah, perlu ditetapkan pembentukan, kedudukan,tugas pokok, fungsi, susunan organisasi dan tata kerja tentang Lembaga Teknis Daerah Provinsi Jawa Barat.
Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud diatas. Maka pembentukan, kedudukan, tugas pokok, fungsi, susunan organisasi dan tata kerja didasarkan pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat. Peraturan tersebut jugalah yang akhirnya merubah dari BAPPEDA Tingkat I Jawa Barat (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Provinsi Jawa Barat menjadi BAPPEDA Provinsi JABAR (Badan Perencanaan Daerah Provinsi Jawa Barat), yang dikepalai oleh Bapak Ir. H. Setia Hidayat sebagai kepala BAPPEDA yang kelima. Setelah itu kepala BAPPEDA diganti oleh Bapak Drs. H. Dudung Sumahdumin sebagai kepala BAPPEDA yang keenam. Kemudian pada bulan Februari 2002
Kepala BAPPEDA diganti lagi oleh Bapak Drs. H. Abdul Wachyan M.Si. Sebagai Kepala BAPPEDA yang ketujuh. Lalu selanjutnya BAPPEDA dikepalai oleh Prof. Dr. Ir. Deny Juanda Puradimaja, DEA. Sebagai Kepala BAPPEDA yang kedelapan sampai sekarang.
KOPERASI BAPPEDA
Koperasi Bappeda dibentuk pada tahun 2006 dengan persetujuan para masyarakat terutama para pedangan dan karyawan swasta yang berjumlah 40
orang, dan sekarang sudah mempunyai anggota sebanyak 2000 orang. Koperasi
ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi maupun produksi serta kesejahteraan anggotanya dan membantu para pedagang untuk mewujudkan dan
meningkatkan kesejahteraan anggota beserta keluarganya dan memperdulikan
lingkungan masyarakat sekitar dalam rangka mencapai masyarakat adil dan
makmur.
Hal ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan koperasi baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai Badan Usaha, berperan serta untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan pancasilaa dan UUD 1945 dalam tata perekonomian nasional yang disusun sebagai Badan Usaha bersama atas azas kekeluargaan dan demokratis ekonomi.
Koperasi Beppeda diakui secara syah sebagai koperasi dengan badan hukum oleh departemen koperasi propinsi Jawa Barat dengan No.518 / BH. 23-DISKOP / 2006 Tgl. 19 Juni 2006.
3.1.2. Visi Dan Misi Perusahaan
Visi
Terpercayanya kualitas dan akunbilitas perencanaan pembanguanan daerah jawa barat.
Misi
1. Mewujudkan aparater BAPEDDA yang professional dan memiliki integritas.
2. Meningkatkan pelayanan prima di bidang perencanaan, penelitian dan pengembangan.
3. Mewujudkan siklus dan kualitas perencanaan pembangunan daerah berdasarkan prinsip shewhart cycle dan smart planning.
3.1.3. Struktur Ornganisasi Koperasi Bappeda Jabar
Manajer
Kasir Komite Pinjaman
Costumer Service
Anggota
Gambar 3. 1 Struktur Organisasi Koperasi Bappeda
(Sumber : Pengurus Koperasi Bappeda Jawa Barat)
3.1.4. Deskripsi Jabatan
1. Rapat anggota.
Tugas, tanggung jawab dan wewenang dari Rapat Anggota yaitu sebagai berikut :
a. Anggaran dasar.
c. Rencana kerja, rencana anggaran pendapatan belanja dan belanja koperasi.
d. Pengesahan pertanggung jawaban pengurus dan badan pemeriksa dalam pelaksanaan tugasnya.
e. Pembagian SHU, penggabungan peleburan pembagian dan pembubaran koperasi.
f. Menyelenggarakan rapat anggtota minimal 1x dalam dua bulan.
2. Pembina koperasi.
Tugas, tanggung jawab dan wewenang dari seorang Pembina yaitu sebagai berikut :
a. Mewakili koperasi dimuka dan diluar pengadilan
b. Memutuskan penerimaan dan penolakkan anggota baru serta pemberhentian anggota sesuai dengan ketentuan dalam anggaran dasar.
c. Melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan kemanfaatan koperasi sesuai dgn tanggung jawabnya dan keputusan rapat anggota.
3. Ketua koperasi.
Tugas, tanggung jawab dan wewenang dari seorang Ketua yaitu sebagai berikut :
a. Bertanggung jawab langsung kepada badan pemeriksa.
b. Menyusun rencana kerja koperasi, termasuk RAP dan RAB yang telah disahkan dalam rapat anggota tahunan.
c. Mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan tata kerja dan produk menurut ketentuan yang berlaku.
d. Mengkoordinasi kegiatan setiap bagian dan memeriksa administrasi keuangan koperasi tentang kebenaran dan kelengkapan laporan-laporan keuangan.
e. Memperhatikan kondisi koperasi.
f. Memperbaharui system pembukuan dan memperbaharui struktur organisasi sehubungan dengan perkembangan koperasi.
4. Sekretaris.
Tugas, tanggung jawab dan wewenang dari seorang Sekretaris yaitu sebagai berikut :
a. Menyelenggarakan dan memelihara buku organisasi dan semua arsip.
b. Memelihara tata kerja merencanakan peraturan khusus serta ketentuan lain.
c. Merencanakan kegitan operasional bidang ideal meliputi program pendidikan, pnyuluhan, dan sebagainya.
d. Bertanggung jawab dalam bidang administrasi organisasi kepada ketua.
e. Mengadakan hubungan antara bendahara dan manajer dalam bidang berkaitan.
5. Bendahara.
Tugas, tanggung jawab dan wewenang dari seorang Bendahara yaitu sebagai berikut :
a. Menyimpan rencana kerja dan pola pelaksanaan dibidang tugas kebendaharaan.
b. Mencari dana dan mengatur arus uang keluar masuk.
c. Membantu dan mengawasi pekerjaan ketua dalam hal penyelenggaraan administrasi keuangan koperasi.
d. Memelihara harta kekayaan koperasi.
6. Seksi Simpan Pinjam
Tugas, tanggung jawab dan wewenang dari seorang Seksi Kredit yaitu sebagai berikut :
a. Bertanggung jawab langsung kepada ketua.
b. Memeriksa permohonan pinjaman baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan pimpinan atau yang ditunjuk.
c. Meminta informasi di lapangan mengenai keadaan calon peminjam yang akan diberi pinjaman.
d. Menganalisa hasil pemeriksaan di tempat kemudian mengajukan usulan ke pemimpinan baik usulan diterima atau ditolak.
e. Membuat analisa perpanjangan kredit, perubahan kredit dan sebagainya.
7. Pengawas koperasi.
Tugas, tanggung jawab dan wewenang dari seorang Pengawas yaitu sebagai berikut :
a. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan koperasi.
b. Membuat laporan tertulis tentang hasil pengwasannya.
c. Menyampaikan saran / masukan atas sesuatu hal kepada pengurus apabila diperlukan.
d. Meneliti pembukuan.
e. Mendapatkan segala keterangan yang diperlukan dari pengurus.
3.2. Metode Penelitian
3.2.1. Desain Penelitian
Untuk mendapatkan suatu proses yang teratur dan terarah dalam suatu penelitian sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik diperlukan metode pendekatan atau penyelesaian untuk menyelesaikan suatu penelitian. Pada desain penelitian ini termasuk kedalam penelitian yang bersifat deskriptif, yaitu metode dengan mengumpulkan, menjelaskan, menganalisis data yang diperoleh dan menggali permasalahan yang mungkin dengan harapan memperoleh pengetahuan baru sebagai kebijakan informasi. Dimana dalam penelitian ini dapat memperoleh gambaran kinerja program yang direncanakan dan diimplementasikan kepada pengguna (user) dalam perusahaan.
3.2.2. Jenis dan Metode Pengumpulan Data
Jenis metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
3.2.2.1. Sumber Data Primer
Data primer yaitu penulis mendapatkan data langsung dari obyek yang bersangkutan. Seperti melakukan wawancara, observasi, dll.
1. Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan metode pengumpulan data dengan mengamati secara langsung permasalahan yang terjadi dalam perusahaan ditempat kejadian. Adapun observasi yang dilakukan di koperasi simpan pinjam
BAPPEDA ke bagian USP yaitu mengamati proses jalannya kegiatan simpan pinjam.
2. Wawancara
Wawancara adalah salah satu cara untuk mengumpulkan informasi yang dilakukan dengan pihak-pihak terkait yang berkompeten guna melengkapi data-data yang dibutuhkan. Adapun wawancara yang dilakukan dengan Bapak Ricky selaku bagian pengelola USP di BAPPEDA meliputi seputar proses kegiatan simpan pinjam.
3.2.2.2. Sumber Data Sekunder
Data sekunder adalah cara pengumpulan data dengan mempelajari data yang telah tersedia atau telah diberikan oleh pihak yang bersangkutan kepada penulis. Cara yang digunakan untuk mengumpulkan data sekunder adalah metode dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dari sumber-sumber kebanyakan dari materi sejenis dokumen yang berkenaan dengan masalah yang diteliti. Metode ini digunakan untuk pengumpulan data yang berhubungan dengan sejarah, tujuan, kegiatan dan struktur organisasi.
3.2.3. Metode Pendekatan dan Pengembangan Sistem
3.2.3.1. Metode Pendekatan Sistem
Metode pendekatan sistem yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode terstruktur yaitu suatu proses untuk mengimpelentasikan urutan langkah untuk menyelesaikan suatu masalah dalam bentuk program.
Pemrograman terstruktur adalah suatu proses mengimplementasikan urutan langkah untuk menyelesaikan suatu masalah dalam bentuk program. Pendekatan terstruktur dilengkapi dengan alat-alat (tools) dan teknik-teknik (techniques) yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang dikembangkan akan diperoleh sistem yang strukturnya didefinisikan dengan baik dan jelas.
3.2.3.2. Metode Pengembangan Sistem
Metode adalah suatu cara atau teknik yang sistematik untuk mengerjakan sesuatu. Metode yang digunakan untuk sistem informsi simpan pinjam di BAPPEDA adalah prototype paradigma.
Alasan mengapa penulis memakai metode prototype ini adalah karena metode ini terdiri dari tahap-tahap yang memberikan kemudahan jika pada satu tahap tidak sesuai maka dapat kembali ke tahap sebelumnya, sehingga cukup efektif dalam mendapatkan kebutuhan dan aturan yang jelas yang disetujui pelanggan ataupun pembuat perangkat lunak itu sendiri. Dengan prototype ini juga, pelanggan bisa langsung merasakan seakan-akan itu adalah sistem yang sebenarnya. Selain itu pengujiannya dilakukan oleh pembuat sistem atau
programmer itu sendiri.
Prototype paradigma dimulai dengan mengumpulkan kebutuhan. Pengembangan dan pelanggan bertemu dan mendefinisikan obyektif keseluruhan dari perangkat lunak, mengidentifikasi segala kebutuhan yang diketahui, dan area garis besar dimana definisi lebih jauh merupakan keharusan kemudian dilakukan
perancangan kilat, perancangan kilat berfokus pada penyajian dari aspek-aspek perangkat lunak tersebut yang akan nampak bagi pelanggan/ pemakai (contohnya pendekatan input dan format output). Perancangan kilat membawa kepada kontruksi sebuah prototype. Prototype tersebut dievaluasi oleh pelanggan/ pemakai dan dipakai untuk menyaring kebutuhan pengembangan perangkat lunak.
Iterasi terjadi pada saat prototype disetel untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dan pada saat yang sama memungkinkan pengembang untuk secara lebih baik memahami apa yang harus dilakukannya.
( Sumber : Pressman, Roger S., 2002, Rekayasa Perangkat Lunak:Pendekatan Praktisi jilid Dua, Penerbit: Andi Offset, Yogyakarta )
Secara ideal prototype berfungsi sebagai sebuah mekanisme untuk mengidentifikasi kebutuhan perangkat lunak. Bila prototype yang sedang bekerja dibangun, pengembang harus mempergunakan fragmen-fragmen program yang ada atau mengaplikasikan alat-alat bantu (contohnya refortgeneration,windows manager, dll ) yang memungkinkan program bekerja secara cepat.
3.2.3.3. Alat Bantu Analisis dan Perancangan
Pada langkah ini perancangan digambarkan dalam bentuk bagan alir dokumen (flowmap), diagran konteks (conteks diagram), diagram arus data (data
Flow Diangram) dan Kamus Data (data Doctionary).
1. Bagan alir dokumen (document Flowmap)
Merupakan alat bantu dalam menelusuri arus dokumen yang digunaan dalam sistem yang menggambarkan aliran dokumen didalam sebuah organisasi. Secara rinci bagan alir ini menunjukkan awal dokumen berasal, prosesnya dan tujuan digunakannya dokumen tersebut. Bagan alir ini bermanfaat untuk menganalisis kecukuan prosedor pengawasan sebuah sistem.
2. Diagram Konteks (conteks diangram)
Diagram kontek merupakan model yang menggambarkan hubungan sistem dengan lingkungan sistem. Diagram konteks adalah kasus khusus dari DFD atau bagian dari DFD yang berfungsi memetakan modul lingkungan yang dipresentasikan dengan lingkaran tunggal yang mewakili keseluruhan sistem.
3. Diagram arus Data (Data Flow Diagram)
Data Flow Diagram (DFD) adalah suatu gambaran secara logical. DFD biasanya digunakan untuk membuat sebuah model sistem informasi dalam bentuk jaringan proses yang saling berhubungan satu sama lainnya oleh aliran data. Keuntungan menggunakan DFD adalah untuk lebih mamudahkan pemakai (user) yang kurang menguasai dalam bidang komputer untuk lebih mengerti sistem yang
akan dikembangkan atau dikerjakan. Proses data pada Data Flow Diagram (DFD) merupakan sekumpulan program dapat juga merupakan transformasi data secara manual.
4. Kamus Data
Kamus data disebut juga dengan sistem (data dictionary) adalah catalog fakta tentang data dan kebutuhan-kebutuahan informasi dari suatu informasi. Pada tahapan alisis kamus data dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara analisis sistem dengan pemakai sistem (user) tentang data yang mengalir di sistem, yaitu tentang data yang masuk ke sistem, tentang informasi yang dibutuhkan oleh pemakai sistem, tempat penyimpanan definisi data, juga tempat untuk mengetahui istilah-istilah yang tidak dimengerti secara lengkap. Kamus data juga nerupakan suatu bagian yang berfungsi untuk merancang file basis data yang akan dibuat, sehingga file basis data akan lebih teratur dan sesuai dengan tujuan perancangan.
5. Perancangan Basis data
a. Normalisasi
Merupakan proses yang menggunakan pendekatan formal untuk menelaah dan kemudian mengelompokkan data item ke bentuk yang lebih baik. Ada beberapa bentuk normalisasi antara lain :
Normalisasi I
Bentuk normal I sebagai relasi yang tidak mengandung group ulang
Normalisasi II
Sebuah relasi dalam bentuk normal II, jika relasi tersebut dalam bentuk normal I serta seluruh atribut (bukan primary key) tergantung secara fungsional sepenuhnya pada primary key (tidak hanya tergantung pada sebagian primary key).
Normalisasi III
Suatu relasi dalam normal III, jika relasi tersebut sudah dalam bentuk normal II dan setiap atribut tidak tergantung secara transitif pada primary key.
Normalisasi IV
Suatu relasi disebut dalam normal IV, jika relasi tersebut sudah dalam bentuk normal III dan seluruh atribut yang bukan primary key tidak tergantung bernilai banyak (multivalued dependencies).
b. Tabel Relasi
Didalam sebuah database, setiap tabel memiliki sebuah fields yang memiliki nilai untuk setiap baris. Fields ini ditandai dengan icon bergambar kunci di depan namanya. Baris-baris yang berhubungan pada tabel mengulangi kunci primer (primary key) dari baris yang dihubungkannya pada tabel lain. Salinan dari kunci primer di dalam tabel-tabel yang lain disebut dengan kunci asing (foreign key). Dan semua field bisa menjadi kunci asing. Yang membuat sebuah field merupakan kunci asing adalah jika dia sesuai dengan kunci primer pada tabel lain.
3.2.4. Pengujian Software
Pada penelitian ini dalam sistem informasi simpan pinjam untuk pengujian software penulis menggunakan pengujian dengan black box. Karena Pengujian
Black Box adalah pengujian aspek fundamental sistem tanpa memperhatikan struktur logika internal perangkat lunak. Metode ini digunakan untuk mengetahui apakah perangkat lunak berfungsi dengan benar. Pengujian Black Box merupakan metode perancangan data uji yang didasarkan pada spesifikasi perangkat lunak. Data uji dibangkitkan, dieksekusi pada perangkat lunak dan kemudian keluaran dari perangkat lunak dicek apakah telah sesuai dengan yang diharapkan. Pengujian Blackbox berusaha menemukan kesalahan dalam kategori :
1. Fungsi-fungsi yang tidak benar atau hilang
2. Kesalahan interface
3. Kesalahan dalam struktur data atau akses database eksternal.
7 2.1. Konsep Dasar Sistem
Terdapat dua kelompok pendekatan di dalam mendefinisikan sistem, yaitu yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponen atau elemennya.
Pengertian sistem menurut Jogiyanto (2005 : 1) yang lebih menekankan pada prosedurnya didefinisikan sebagai berikut : “Suatu sistem adalah suatu
jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.”
Sedangkan pendekatan sistem yang merupakan jarngan kerja dari prosedur lebih menekankan urut-urutan operasi di dalam sistem. Prosedur (procedure) didefinisikan oleh Richard F. Neuschel yang disadur oleh Jogiyanto (2005 : 1) mendefinisikan sebagai berikut :
“Prosedur adalah suatu urut-urutan operasi klerikal (tulis-menulis) biasanya melibatkan beberapa orang di dalam satu atau lebih departemen, yang diterapkan untuk menjamin penanganan yang seragam dari transaksi-transaksi bisnis terjadi”.
2.1.1. Pengertian Sistem
”Sistem adalah sekelompok sistem yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan .” Menurut McLeod dalam Al -barha bin ladjamudin (2005 : 8)
Begitu pula Robert G. (1993] dalam buku Al-barha bin ladjamudin (2005:8), mendefinisikan ”sistem sebagai seperangkat elemen-elemen yang
terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan bersama.”
Al-barha bin ladjamudin (2005 : 10)
Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur didefinisikan bahwa ”sistem yaitu suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan kegiatan atau
menyelesaikan suatu sasaran tertentu”Al-barha bin jadmudin (2005 : 10)
2.1.2. Karakteristik Sistem
Dalam sebuah sistem mempunyai karakteristik yang tidak terpisahkan antara satu karakteristik dengan karakteristik yang lain. Beberapa karakteristik tersebut antara lain :
1. Komponen (Components)
Suatu sistem memiliki sejumlah komponen yang saling berinteraksi, dimana setiap komponen akan membentuk satu kesatuan yang saling bekerja sama. Komponen sistem dapat berupa suatu yang merupakan bagian dari setim yang lebih besar.
2. Batas Sistem (Boundary)
Merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lain / lingkungan luar, dengan batasan ini kita dapat mengetahui ruang lingkup sistem.
3. Lingkungan Luar Sistem (Environment)
Apapun yang berada di luar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi suatu sistem.
4. Penghubung Sistem (Interface)
Merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan subsistem yang lainnya. Dengan penghubung ini akan mengalir data-data antara subsistem dimana keluaran (output) dari satu subsistem akan menjadi masukan (input) untuk subsistem yang lain, sehingga antara satu subsistem dengan subsistem lainnya dapat berintegrasi membentuk satu kesatuan.
5. Masukan (Input)
Merupakan energi yang dimasukkan ke dalam sistem, dimana masukan ini dapat berupa masukan perawatan (maintenance input) dan masukan sinyal (signal input). Maintenance input adalah energi yang dimasukkan supaya sistem tersebut dapat beroperasi. Signal input adalah energi yang diproses untuk didapatkan keluaran.
6. Keluaran (Output)
Merupakan hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan mampu menjadi masukan baru/informasi yang dibutuhkan.
7. Pengolah (Process)
Suatu sistem pasti mempunyai pengolahan data masukan untuk diolah menjadi sebuah informasi.
8. Sasaran Sistem (Objectives)
Merupakan penentu dari tujuan untuk menentukan masukan yang dibutuhkan dan keluaran yang akan dihasilkan sebuah sistem.
Gambar 2. 1 Karakteristik Sistem
[Sumber : Jogiyanto, H.M., MBA,Ph.D., 2005, Analisis & Desain Sistem, Andi Yogyakarta, Yogyakarta.]
2.1.3. Klasifikasi Sistem
Menurut Al-bahra bin ladjamudin (2005 : 6) Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, terbagi menjadi :
1. Sistem terbuka dan tertutup
Suatu sistem dikatakan terbuka menurut Ludwig Von Bertalanffy bila aktivitas didalam sistem tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, sedangkan suatu sistem dikatakan tertutup bila aktivitas-aktivitas didalam sistem tersebut tidak dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi dilingkungannya.
2. Sistem buatan manusia dan Tuhan
Suatu sistem bila diklasifikasikan berdasarkan asalnya, sistem tersebut bisa diklasifikasikan sebagai sistem yang ada secara alamiah (buatan Tuhan) atau buatan manusia. Sebagai contoh sistem tata surya, adalah sistem yang secara alamiah, sedangkan organisasi perusahaan adalah sistem buatan manusia.
3. Sistem barjalan dan konseptual
Suatu sistem yang belum diterapkan disebut sistem konseptual. Suatu sistem konseptual yang dapat diterima oleh pemakai sistem sehingga pemakai sistem tersebut menggunakannya untuk menunjang operasi sehari-hari maka sistem tersebut berubah menjadi sistem berjalan.
4. Sistem sederhana dan Kompleks
Sebuah sistem yang sederhana merupakan sebuah sistem yang terbentuk dari sedikit tingkatan dan komponen atau subsistem serta hubungan antara mereka sangat sederhana, misalnya sistem yang digunakan oleh pengantar koran. Sebuah sistem yang kompleks jelas terdiri dari banyak komponen atau tingkatan yang dihubungkan dalam berbagai cara yang berbeda, seperti perusahaan.
5. Kinerja bisa yang dapat dan tidak dapat dipastikan
Sebuah sistem yang dapat dipastikan kinerjanya artinya ditentukan pada saat sistem akan dan sedang dibuat. Sedangkan sistem yang tidak dapat dipastikan kinerjanya artinya tidak dapat ditentukan dari awal tergantung kepada situasi yang dihadapi.
6. Sistem sementara dan selamanya
Suatu sustem yang mungkin digunakan untuk selamanya mungkin juga digunakan untuk periode waktu tertentu.
7. Sistem secara pisik dan abstrak
Sistem dapat dilihat dari wujudnya misalnya kendaraan bermotor, sedangkan yang abstrak seperti organisasi.
8. Sistem, subsistem dan super sistem
Subsistem adalah sistem yang lebih kecil dalam sebuah sistem, sedangkan super sistem adalah sistem yang lebih besar.
9. Sistem yang bisa beradaptasi dan tidak bisa beradaptasi