• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang diperoleh dan pengalaman selama penelitian, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut: 1. Perlu adanya peningkatan penelaah secara mendalam untuk

mengungkap adanya matematika dalam budaya yang tumbuh di Indonesia.

2. Mencermati etnomatematika sebagai jembatan ke matematika formal, lingko lodok bisa dijadikan sebagai alat atau media pembelajaran oleh guru untuk siswa di Manggarai agar pembelajaran matematika lebih bervariasi dan siswa bisa mengetahui budayanya sendiri.

3. Tatanan budaya orang Manggarai kiranya harus tetap dihidupkan salah satunya lingko lodok ini agar lingko lodok tetap bisa dilestarikan. Selain itu, pengetahuan atau sejarah asli tentang lingko lodok ini kiranya terus diturunkan kepada anak cucu orang Manggarai agar sejarahnya tidak hilang.

4. Semua masyarakat baik pemerintah daerah setempat maupun kaum muda diharapkan bisa terus menjaga kelestarian persawahan lingko lodok agar lahan persawahan lingko lodok tidak dialihfungsikan.

5. Peneliti yang ingin melakukan penelitian berupa hasil-hasil budaya Manggarai diharapkan untuk melakukan penggalian data lebih mendalam agar data yang diperoleh bisa lebih bervariasi.

129

DAFTAR PUSTAKA

Bakker, J. W. M. 1984. Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar.Yogyakarta: Kanisius.

Berlinghoff, William P dan Q. Gouvea. 2004. Math Through The Ages: A Gentle History for Teacher And Others.

Chemiller, Marc. 2002. Ethnomusicology, Ethnomathematics. The Logic Underlying Orally Transmitted Artisticpractices. In G. Assayag., H.G. Feichtinger, J.F. Rodrigues, Mathematics and Music, 161-162. NY: Springer. Dagur, Anthony Bagul. 1990. Kebudayaan Manggarai Sebagai Salah Satu

Khasanah Kebudayaan Nasional. Surabaya: Ubhara Press.

Deki, Kanisius Teobaldus. 2011. Tradidi Lisan orang Manggarai-Membidik persaudaraan dalam Binagkai Sastra. Jakarta: Parrehesia Institute.

Didi Haryono. 2014. Suatu Tinjauan Epistemologi dan Filosofis: Filsafat Matematika. Bandung: Alfabeta.

Edy Tandililing. 2013. Pengembangan Pembelajaran Matematika Sekolah Dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Budaya Lokal Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika Di Sekolah. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika, 9 November 2013. Yogyakarta.

Ghony M. Djuanaidi & Fauzan Almanshur. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif .Ed. Revisi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Hemo, Doroteus. 1987. Sejarah Daerah Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ruteng.

I Putu Wisna Ariawan. 2014. Geometri Bidang. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Jacob Sumarjo. 1990. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta. KoO, Fransiskus Xaverius Do. 1984. Jiwa Sesuai Paham Manggarai Asli dan

Pergeseran Pengaruh Pandangan Kristiani. Skripsi. Maumere: STFK Ledalero. Lexy J. Moleong. 1988. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan Direktorat jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Janggur, Petrus. 2010. Butir-butir Adat Manggarai. Ruteng: Yayasan Siri Bongkok. Ndia, Yustina Maria. 2012. Kajian Semiotik Pernikahan Adat Budaya Flores Kabupaten Manggarai Barat Nuda Tenggara Timur. Skripsi. Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahas dan Seni. Yogyakarta: Univ. Negeri Yogyakarta.

Nggoro, Adi M. 2006. Budaya Manggarai: Selayang Pandang. Flores: Nusa Indah. Pixten, R. 1994. Ethnomathematics And Its Practice: For The Learning Of

Mathematics. 23-25.

Rahmat Nuri. 1985. Geografi Budaya Dalam Wilayah Pembangunan Daerah NTT. Jakarta: Departemen P dan K Proyek Investarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Rossa, M. & Orey, D. C. 2001. Ethnomathematics: The Cultural Aspects of Mathematics. Revista Latinoamericana de Ethnomathemqatica.

Subagyo, P. Ari dan Sudartomo Macharyus. 2009. Peneroka Hakikat Bahasa. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi, Arikunto. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Verheijen, Jilis, A.J., 1977. Manggarai Text 2. Stensilan. Regio SVD Ruteng

1.

2.

3.

4.

Nama : Ambros Rima Usia : 83 tahun

Pekerjaan : Tu’a Golo Meler

Nama : Robertus Unggut Usia : 55 tahun

Pekerjaan : Sekretaris Desa Meler

Nama : Gabriel Fughs Gembira Usia : 38 tahun

Pekerjaan : Staff Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai

Nama : Maksi Usia : 47 tahun Pekerjaan : Petani

B. Transkrip Wawancara dengan Narasumber dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Manggarai 1. Wawancara dengan tu’a golo (Bpk. Ambros Rima )

P/N Wawancara dalam Bahasa Indonesia Wawancara dalam Bahasa Manggarai P Selamat siang ema, saya Melin yang hari Jumat datang kesini untuk

wawancara.

Tabe ema, aku Melin hot mai ce’e one pisa. Ho’o aku mai kut wawancara ite.

N Oh ia, saya masih ingat. Mau wawancara tentang lodok to nu? Oh, eng nuk kin laku, hot tentang lodok ho wa to? P Io ema, kalo begitu saya mulai saja ema e, bagaimana sejarah lingko

lodok ini dulu ema?

Io ema, jadi a mulai kat laku e.

Jadi, co danong sejaran lingko lodok ho wa ema? N Awalnya lingko lodok ini dulu nu, warisan turun temurun dari kita

punya nenek moyang. Sebelum saya cerita sejarah awalnya lingko lodok ini, enu harus tau dulu syarat untuk membuka suatu kampung. Syaratnya adalah harus ada tempat tinggal (mbaru bate ka’eng), kebun (uma bate duat), mata air (wae bate teku), halaman (natas bate labar), tempat persembahan (compang), dan kuburan (boa). Harus ada semua ini syarat dan tidak boleh ada yang kurang. Waktu nenek moyang mau bikin kampung dulu, hutan semua daerah ini dulu, sehingga saat mereka mulai membuka kampung, mereka pikir,

Awaln lingko ho’o danong wa wa na’a. Cama no a warisan apa so’o e. Jadi ngo’o, sebelum nunduk sejaran lingko ho’o, harus bae le meu syarat kudut panden ca beo. Syaratn ga harus manga mbaru bate ka’eng, uma bate duat, wae bate teku, natas bate labar, compang, agu boa. Harus manga taung apa situ. Jadi du pande beo ise nenek moyang so’o danong, ai danong pe puar taung tana so’o. Jadi du pande beo hitu dise ga, pikir lise co bagid lingko ho’o porong ngance dapat taung ca beo. Terus bantang cama lise danong

bagaimana cara membuat kebunnya sehingga nanti semua masyarakat kampung itu bisa dapat bagian dan adil juga. Kemudian mereka mulai musyawarah dalam forum lonto leok di rumah gendang tentang cara pembagian kebun ini supaya adil untuk semua masyarakat, gampang baginya dan sesuai dengan adat orang Manggarai. Terus mereka ikut bentuk rumah gendang yang bentuk bundar dengan satu tiang ditengahnya dan tiang-tiang lain ada di pinggir-pinggirnya.

one mbaru gendang co cara bagin uma mese one beo hitu, porong adil one ata ca beo ho’o, terus emong koe bagin, agu sesuai adak data Manggarai. Trus mai ise ga pande neho mbaru gendang dite, ai mbaru niang pe dite ho’o.

P Oh begitu ka ema, terus kenapa ikut bentuk rumah gendang? Nggitu ke ema, trus co tara heno mbaru gendang? S Begini nu, di rumah gendang itu ada simbol-simbol tertentu seperti

kolong rumah (ngaung) yang melambangkan dunia kegelapan, tempat manusia tinggal melambangkan dunia manusia, loteng dan lempa rae (tempat menyimpan bahan makanan) melambangkan perantara antara dunia manusia dan Tuhan, dan tempat mezba (ruang koe) melambangkan dunia Tuhan, terus ada siri bongkok yaitu tiang yang ada di pusat rumah gendang, di siri bongkok ini disimpan alat-alat musik tradisional. Itu bagian rumahnya nu, bagian atapnya ada makna sendirinya. Macam ada kayu yang panjangnya mungkin 50

Ngo’o nu, one mbaru gendang manga muing simbol neho ngaung hot neho rapang nendep, tempat ka’eng ga neho rapang lino dite ho’o, ca’u agu lempa rae ga neho rapang perantara mori kraeng agu ite manusia, trus ruang koe ga neho rapang tempat de Mori kraeng, trus manga siri bongkok one mbaru. Siri hitu ga hot manga one reha mbaru gendang dite. One siri bongkok hitu na’an gendang agu gong. One wuwung mbaru ga nu manga kole artin. Manga haju sambungan one mai ngando, one haju hitu manga

cm yang sambungan dari ngando (bubung), di itu kayu nu, ada lukisan mukanya manusia, terus ada tanduk kerbau atau kayu yang dipotong macam tanduk kerbau yang disimpan di samping kiri kanannya itu lukisan, dan di ujung atasnya itu kayu nu potong macam bentuk gasing (mangka). Nah artinya itu lambang itu, mukanya manusia itu melambangkan kalo manusia itu adalah ciptaan yang paling tinggi dari ciptaan lain, terus itu tanduk itu melambangkan daya juang dan bersyukurnya orang Manggarai, sedangkan ujung kayu yang bentuk gasing itu nu melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan. Itu kayu bentuk gasing yang di atap rumah gendang itu nu, sama dengan bentuk ujung atas kayu teno yang ditancapkan di lodok yang biasa dinamakan tente teno. Kalau di lodok, kayu mengandung makna sebagai laki-laki dan tanah tempat tancap kayu teno itu sebagai perempuan. Sehingga tente teno itu maknanya penyatuan laki-laki dengan perempuan yang menghasilkan kehidupan baru. Dari simbol-simbol itu nu makanya

ada ungkapan orang Manggarai “gendangn one, lingkon pe’ang” ada

hubungan erat yang tidak bisa dipisahkan antara rumah gendang dengan lingko, karena kalo simpan kayu di lodok itu, bentuknya

gambar ranga manusia, baling main ga manga rangga kaba agu eta comongn ga coco neho coco mangka. Artin ranga manusia ga, ite ho’o ciptaan de mori, rangga kaba hitu ga syukur dite latang mori kraeng, dan mangka ga hubungan dite agu mori kraeng. Nggitu kole one lingko lodok, coco lise haju teno ho’o neho coco mangka kudut na’a one lodok sehingga sebut lite ga tente teno. One tente teno hitu, haju teno hot coco neho mangka artin ga ata rona, trus tana hitu wa ga artin inewai. Jadi artin tente teno hitu nu, permisi, neki ca ata rona agu ata ine wai porong manga mose weru dite one lino ho’o. Jadi one mai simbol-simbol situ nu, manga go’et dise empo danong, “gendangn one, lingkon pe’ang” jadi manga de hubungan mbaru gendang agu lingko. Ai eme hese lingko lodok ho wa heno mgaru gendang dite, nggitu kole eme pande to’o mbaru gendang dite, neho lingko lodok i. Sehingga nu ga, nggitu bentukn lingko lodok ho wa.

seperti rumah gendang. Sehingga nu ga, lingko lodok itu begitu bentuknya. Ada lodoknya dan adil baginya ke masyarakat.

P Oh jadi begitu dulu sejarahnya e ema, apakah dulu nenek moyang ini sadar kalo lingko yang mereka buat itu sama seperti sarang laba-laba?

Jadi ngitus danong ema, eng ta ema ise empo situ danong sadar ko toe lise lingko ho’o neho a sarang laba-laba?

N Mereka tidak sadar nu, karena dulu tu ka nu mereka buat saja seperti yang mereka sudah gambar itu macam rumah gendang itu. Belakangan baru mereka sadar kalau lingko ini sama seperti sarang laba-laba waktu mereka mulai bikin pagar di bagian cicingnya, setelah itu baru mereka sadar kalo lingko ini berbentuk macam sarang laba-laba.

Toe manga sadar lise, ai danong pe nu, pande kat neho hot gambar dise neho mbaru gendang hitu. Musi mai di sadar lise, setelah pande kena pe’angcicing’n ga, hitu di sadar lise bahwa lingko so’o bentuk bundar agu neho sarang laba-laba.

P Sekitar tahun berapa lingko lodok ini dibuat ema? Sekitar taung pisa panden lingko ho wa ema? N Aduh nu, saya tidak ingat dan tau pasti kapan bikinya ini lingko. Tapi

sekitar tahun 1955 lingko lodok ini sudah ada.

Ole nu, toe manga bae pastin taung pisa panden danong. Am sekitar tahun 1955 ta nu manga i lingko lodok ho wa ga.

P Bagaimana cara baginya lingko lodok ini ema? Co’o cara panden atau cara bagin lingko lodok ho danong ga ema?

N Ada kayunya untuk bikin ini lingko lodok dulu, namanya kayu teno. Ini kayu masih ada sampai sekarang. Ini kayu teno di potong seperti gasing. Kemudian dibuat sebuah lubang di pusat atau sentral dari tanah yang mereka pilih untuk ditancapkan kayu teno itu di sentralnya. Saat menancapkan kayu teno itu, tidak ditancapkan begitu saja, ada acara adatnya yaitu leang sose dimana disembelih seekor babi, dan darah babi ini harus diteteskan di lubang yang telah dibuat sebelumnya, kemudian kayu teno ditancapkan di lubang tersebut. Setelah itu, mereka membuat dua garis lurus sampe di cicing yang lewat dan berpotongan di kayu teno. Jadinya bagi empat itu garis dan namanya itu garis adalah langang waga. Langang waga ini jadi langang utama yang tidak boleh diganggu lagi karena langang waga ini mempermudah bagi per moso nanti, kemudian seutas tali dibentuk seperti lingkaran pada bagian luar kayu teno dan dinamakan lengker. Setelah itu barulah dibagi per moso dari lengker dengan cara, jari tangan di letakkan di lengker dan kayu dirancapkan

Pande lingko so’o dangong ga, manga i hajun danong. Haju teno ngasangn, haju hitu ga manga kin sampe leso ho’o trus mai ise ga coco haju ho’o cama no a coco mangka. Terus pande nua lise one pusat tana hitu kudut tente nitu wa haju teno hitu. Du na’an haju hitu danong, Toe na’a nggitu kaut, harus paki ela nitu wa trus eme nggerwa nua daran ela hitu, ngasang’n ga leang sose. Eme poli tente lise haju hitu ga, pertama-tama lise pande garis menengah haeng nggerpe’ang cicing lewat one reha haju, poli hitu ga garis kole cupu main, bagi empat lise musti hena haju teno hot one reha hitu. Garis pat situ ga ngasang’n langang waga. Jadi neka ganggu langang so’o ai hitu pertaman bagin. Jadi emong lise bagin poli hitu. Eme poli hitu, mai lise ga wengke can wase pe’ang mai haju teno hitu, pande lingkaran bulat wase hitu ngasang’n ga lengker. Poli hitu bagi lise ga, ukur ca moso one mai lingkaran koe hitu, trus na ca haju cupu

dibagian kiri dan kanan jari tersebut, ukuran jari tersebut yang telah ditandai oleh kayu disamping kanan dan kiri jari tadi diperuntukkan satu keluarga. Cara yang sama juga dilakukan untuk keluarga-keluarga lainnya. Kayu yang ditancapkan di kiri dan kanan jari tadi berukuran satu pagat dan jika sudah selesai membagi permoso, kayu-kayu itu akan membentuk lingkaran dan dinamakan lance dan jarak dari satu kayu kekayu lainnya dinamakan sor moso yang dijadikan patokan ukuran moso. Setelah lance dibuat, kemudian ditancapkan kayu lain dibelakang lance yang ukurannya lebih panjang sampai pada cicing sehingga kayu paling tinggi adalah kayu yang berada di cicing, dan paling pendek berada di lodok. Kayu-kayu itu harus lurus dengan kayu teno di lodok trus kayu teno tu tidak kellihatan dari kayu terakhir. Ada kalanya pake tali supaya lurus dan dinamakan lander, nah kayu-kayu itu akan menjadi langang. Satu lingko utuh dinamakan lingko sembong.

mai moso nggitu kole cupu main, ukur hitu ga kudut ncengata. Nggitu kole panden seterusnya. Haju koe so’o am ca-sua pagat kanang lewen. Sehingga haju so’o ga lingkar lorong lengker, ngasang’n ga lance am ca pagat lewen. Jarak ca haju agu haju cupu main ga ngasang’n sor moso kudut jadi patokan moso. Eme poli pande lance hitu, mai ise ga na’a haju bana hot lebih lewe one mai haju lance musi mai lance situ, nggitu terus sangge nggerpe’ang cicing. Pepe’ang haju situ semakin lewe agu jiri langang, trus haju situ harus sesuai/lurus one mai haju teno one lodok, agu eme lelo mai peang mai lite, toe manga itan haju teno one lodok, berarti ga, lurus letak haju-haju situ. Ada kalan ga nu, pake wase porong lurus sampe nggerpe’ang cicing ngasangn lander. Terus, eme bentuk ca lingko mese ngasangn lingko sembong.

N Caranya pake ukuran jari tangan ini nu. Caran ca pake ukuran lima moso lime ho’o.

P Bagaimana caranya? Co caran ge?

N Biasanya nu, tergantung kesanggupan penerima moso. Adakalanya dia minta hanya satu jari, ada juga yang minta tiga atau dua jari.

Biasan nu, terhantung kesanggupan masing-masing kilo. Manga hot tegi ca moso, sua moso, nggitu.

P Ema, kenapa harus pake kayu teno di lodoknya? Kenapa bukan kayu lain?

Engp ta ema, co tara harus haju teno kudut panden lodok hitu? Co tara toe kat pake haju bana?

N Memang harus pake kayu teno tu nu, tidak bisa pake kayu lain karena ada maknanya itu kayu dulu. Seperti lingko di Laja, dulu itu sudah dibagi, kemudian di lepas, sekarang dikerjakan lagi dan tidak bisa pake lagi kayu teno untuk baginya, harus pake kayu lain saja di lodoknya. Karena kalo pake kayu teno lagi, harus ikut ulang sama seperti bagi waktu pertama kali dibagi

Musti haju teno i panden. Toe nganceng haju bana. Ai manga artin haju hitu danong. Macam neho lingko dami eta Laja so’o, jadi lego lingko situ pisa pulung taung. Hos ciwal koles ga, Toe ngance emi haju hitu (haju teno) laku wan na’an ga, mesti haju betong kat gi, tapi pas one lodok hitu. Sebab eme haju hitu laku, harus ikut cara hot olo dan pande acara neho danong kole.

N Satu lingko ini nu, bisa di bagi kurang lebih 30 keluarga. Jadi ca lingko hitu ngance bagi sampe pisan pulu anggota ca lodok hitu, ngance 30 anggota.

P Saya ada liat lingko disana ni ema, yang tidak bentuk bundar, seperti setengah lingkaran dan ada yang lebih kecil lagi tapi tidak bundar. Apa namanya itu?

Manga itan laku wa lingko so’o ema, ata toe bentuk ca lingko i, setengahn kanang. Apa ngasangn lingko hitu?

N Lingko salang cue namanya nu, setengah dari lingko sembong atau bisa lebih kecil lagi. Misalnya ada dua atau tiga lingko yang berdekatan, pasti ada lahan sisanya. Lahan yang sisanya itu nu, kalo dibagi pake sistem lodok namanya lingko salang cue tadi. Sama lingko salang cue itu juga nu, lingko yang dibuat karena ada beberapa penerima moso tidak dapat bagian di lingko sembong. Nah supaya semua masyarakat dapat bagian, makanya ada itu lingko salang cue itu.

Lingko salang cue hitu nu ga, stengah lingko one mai lingko mese atau lingko sembong. Umpaman manga lingko dion sale main, lingko dion ce main, lingko dion laun main, trus manga linga no’on. Sisan one mai lingko sembong situ nu ga, ngasangan lingko salang cue. Agu kadang kala nu, panden lingko salang cue hitu eme manga kilo hot toe manga dapat bagian one lingko mese.

P Cara baginya lingko salang cue ema? Caran bagin lingko salang cue hitu ga ema?

N Cara baginya sama seperti pembagian lingko sembong. Cama cara bagin agu lingko sembong, Toe manga bedan. P Lingko lodok ini bentuknya sama seperti apa ema? Neho bentuk apa i lingko lodok ho’o waga ema?

N Bentuk bulat nu, Cuma ada kalanya tidak bulat karena ketemu dengan lingko lain dan ada yang ketemu dengan kali. Mungkin panjangnya bisa 75 sampai 100 m.

Bentuk bulat i. Landing ada kalan ga, Toe bulat kole i wajol cumang agu lingko cupu main. Am 75 m atau 100 m lewen ai dong lingko banan kole cupu main pe.

P Brarti bukan bentuk lingkaran? Brarti toe bentuk lingkaran? N Ia, bukan lingkaran nu, pokoknya bulat bukan lingkaran. Pokoknya

kalo kita liat bentuk bulat itu lingko.

Eng, toe lingkaran. Pokoknya bulat kat eme lelo lite.

P Satu moso itu ema milik per orang kah? Ca moso hitu ga milik perorang ko co? N Bukan per orang nu, tapi per keluarga. Toe bagi kudut cengata i, tapi per kilo.

P Apakah moso di lingko lodok ini dimiliki secara turun temurun? Co’o moso one lingko lodok ho’o ga ema, danong main sampe te ho’on ata ca kilo ke morin ko co’o?

N Ia, karena moso itu merupakan warisan turun temurun. Eng. Ai wa wa na’a one masing-masing keluarga uma duat situ wa.

P Apakah lingko lodok ini ema hanya ada di sawah saja kah atau ada lagi di tanah kering?

Asa leng lingko so ema, hanya manga one tanah wae kanang

Dokumen terkait