TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang selalu dihadapi olehmanusia. Masalah kemiskinan itu sama tuanya dengan usia kemanusiaan itusendiri dan implikasi permasalahannya dapat melibatkan keseluruhan aspekkehidupan manusia walaupun seringkali tidak disadari kehadirannya bagi manusiayang bersangkutan. Kemiskinan menurut Rais (1995: 9) adalah kondisi depresiasi
terhadap sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar, sedangkan kesenjanganadalah ketidakmerataan akses terhadap sumber ekonomis yang dimiliki.
Substansi kemiskinan (Sudibyo dalam Rais 1995: 11) adalah kondisidepresiasi terhadap sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar yang berupasandang, pangan, papan, dan pendidikan dasar. Sedangkan substansi kesenjanganadalah ketidakmerataan akses terhadap sumberdaya ekonomis.
Masalahkesenjangan adalah masalah keadilan, yang berkaitan dengan masalah sosial.
Kemiskinan (Friedmann dalam Suyanto, 1995: 207) adalah ketidaksamaanKesempatanuntuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. Kemiskinanmemang merupakan persoalan multidimensional yang tidak saja melibatkan faktor
ekonomi tetapi juga faktor sosial dan faktor budaya.Menurut Suparlan (1993: 9) kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatustandar tingkat hidup yang rendah yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materipada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yangrendah ini secara langsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaankesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolongsebagai orang miskin.
Dalam ilmu sosial pemahaman mengenai pengertian kemiskinan dilakukan dengan menggunakan tolak ukur tertentu. Menurut Suparlan (1993: 10) tolak ukur yang pertama adalah tingkat pendapatan per waktu kerja, dengan adanya tolakukur ini maka jumlah dan siapa-siapa saja yang tergolong sebagai orang miskindapat diketahui, untuk dijadikan sebagai kelompok sasaran yang diperangikemiskinannya. Tolak ukur yangkeduaadalah tolak ukur kebutuhan relatif perkeluargayang batasannya dibuat berdasarkan kebutuhan minimal yang harusdipenuhi sebuah keluarga agar dapat melangsungkan kehidupannya secarasederhana tetapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak. Tercakup dalamtolak ukur kebutuhan relatif per keluarga ini adalah: kebutuhan-kebutuhan
yangberkenan dengan biaya sewa rumah, biaya-biaya untuk memelihara kesehatan dan
untuk pengobatan, biaya-biaya untuk menyekolahkan anak-anak, dan biaya untuk sandang yang sewajarnya dan pangan yang sederhana tetapi mencukupi danmemadai.
2.4.1 Karakteristik Golongan Miskin
Menurut Zelinsky (1996: 88) karakteristik penduduk dapat dikategorikandalam beberapa klasifikasi berdasarkan rumah tempat tinggal, tingkat pendidikan,jenis pekerjaan, penggunaan lahan, dan kecukupan gizi serta perawatan kesehatanbisa menjadi indikator peningkatan kehidupan sosial masyarakat.Karakteristik golongan miskin menurut Remi dan Tjiptoherijanto (2002:13) adalah:
1. Karakteristik demografi dari penduduk miskin.
Secara umum, rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin di Indonesia adalah 5,8 orang sedangkan yang bukan miskin adalah 4,5 orang. Banyaknyajumlah anggota rumah tangga adalah indikasi yang dominan dalammenentukan miskin atau ketidak-miskinan suatu rumah tangga. Bertambahbesarnya jumlah anggota rumah tangga maka bertambah besar pulakecenderungan menjadi miskin. Oleh karena itu dapat diketahui bahwaKeluarga Berencana (KB) memiliki tujuan untuk membatasi jumlah anggotarumah tangga adalah relevan dengan upaya-upaya pengentasan kemiskinan.
Karakteristik dari ekonomi rumah tangga mencakup informasi atas pekerjaankepala rumah tangga apakah sebagai karyawan atau sebagai pengusaha ataubahkan sebagai keduanya. Pekerjaan kepala rumah tangga mempengaruhijumlah pendapatan keluarga. Pola pengeluaran rumah tangga dapat dijadikanindikator kemiskinan. Jumlah pengeluaran rumah tangga untuk pangan sangatbesar perbandingannya dengan pengeluaran bukan pangan adalah salah satukarakteristik ekonomi penduduk miskin.
3. Karakteristik dilihat dari pekerjaan kepala rumah tangga.
Pekerjaan kepala rumah tangga terbagi menjadi dua jenis yaitu:karyawan/buruh dan pengusaha/majikan. Pekerjaan dengan statuskaryawan/buruh dalam istilah ini merupakan kepala rumah tangga yangmemperoleh upah atau gaji sebagai imbalan atau balas jasa dari pekerjaannyasebagai contoh pegawai negeri, karyawan perusahaan, buruh pabrik, pembanturumah tangga, pengemudi dengan sistem upah atau gaji.Kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan sebagai pengusaha misalnyasebagai pemilik tanah, nelayan yang mempunyai atau menyewa kapal danlain-lain. Di perkotaan dan pedesaan seperti di Jawa dan Bali, di bagian timurIndonesia, maupun di bagian barat Indonesia lebih banyak kepala rumahtangga miskin yang menjadi pengusaha ketimbang yang menjadi buruh.
4. Karakteristik dari pola konsumsi rumah tangga miskin.
Gambaran tentang pola konsumsi makanan dan bukan makanan dari kelompokkomunitas (miskin dan bukan miskin), menunjukkan bahwa secara umumporsi konsumsi makanan dari rumah tangga miskin sampai sebesar
70%dibandingkan dengan porsi konsumsi bukan makanan yang hanya 29, 31%.dibandingkan dengan kondisi perkotaan porsi konsumsi makanan rumahtangga miskin lebih besar dibandingkan di pedesaan. Hal ini agak kurangdapat dipercaya mengingat rumah tangga miskin di pedesaan harus mengambilmakanan dari tanah mereka. Penjelasan yang paling memungkinkan untukkondisi ini adalah kemiskinan di pedesaan sudah sedemikian buruknya dimanakeluarga miskin harus mengkonsumsi porsi yang besar dari pendapatannyahanya untuk makan.
5. Karakteristik sosial budaya
Rata-rata orang miskin di perkotaan berpendidikan lebih tinggi daripada dipedesaan. Hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh tingkat pendapatan wargayang tinggal di perkotaan memiliki pendapatan yang lebih tinggi jikadibandingkan dengan pendapatan di pedesaan. Selain itu di perkotaan fasilitaspendidikan lebih lengkap dan lebih memadai jika dibandingkan dengan pedesaan.
2.4.2 Kemiskinan Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS)
Kemiskinandikonseptualisasikan sebagai ketidakmampuan dalammemenuhi kebutuhan dasar. Dengan kata lain,kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisiekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun nonmakanan yang bersifat mendasar. Pengukurannya dilakukandengan menghitung pengeluaran kebutuhan makanan dankebutuhan non makanan per kapita per bulan. Singkatnyapenduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-ratapengeluaran (makanan dan non makanan) per kapita perbulandibawah Garis Kemiskinan.
Komponen Garis Kemiskinan adalah Garis Kemiskinan makanan dan Garis Kemiskinan Non makanan. Garis Kemiskinan makanan adalah batas minimal kebutuhan dasarmakanan yang setara dengan pemenuhan kebutuhan kalori2.100 kalori per kapita perhari dimana paket komoditikebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi(padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur, susu, sayuran,kacang-kacangan, buah-buahan, minyak, lemak dan lain-lain. Garis Kemiskinan Non makanan adalah batas minimal kebutuhan dasar bukan makanan berupa kebutuhan minimumakan perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan dimanapaket komoditi kebutuhan dasar bukan makanan diwakili oleh51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi dipedesaan.
2.4.3 Kemiskinan Berdasarkan BKKBN
BKKBN menerapkan ukuran kemiskinan dengan pendekatan kesejahteraan. Keluarga dapat dibagi dalam beberapa kategori: prasejahtera, sejahtera I, sejahtera II, sejahtera III, dan sejahtera III plus.
Keluarga dimasukkan dalam kategori prasejahtera apabila tidak dapat memenuhi satu dari lima syarat berikut: melaksanakan ibadah menurut agamanya, makan dua kali sehari atau lebih, pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan, lantai rumah bukan dari tanah,dan bila anggota keluarga sakit dibawa ke sarana kesehatan.Miskin menurut BKKBN adalah mereka yang termasuk dalam kategori prasejahtera dan sejahtera I. Sedangkan keluarga sejahtera II adalah keluarga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan akan tabungan, makan bersama sambil berkomunikasi, rekreasi bersama 6 bulan sekali, menggunakan sarana transportasi. Keluarga sejahtera III sudah dapat memenuhi kebutuhan berupa tabungan
keluarga, makan bersama sambil berkomunikasi, rekreasi selama 6 bulan sekali, menggunakan sarana transportasi dan tidak aktif memberikan sumbangan materil secara teratur. Keluarga sejahtera III plus adalah keluarga yang sudah mampu memberikan sumbangan materil secara aktif dan teratur serta aktif sebagai pengurus organisasi kemasyarakatan.
2.4.4 kemiskinan berdasarkan bank dunia (world bank)
Istilah kemiskinan muncul ketika seseorang atau sekelompok orang tidak mampu mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari standar hidup tertentu. Dalam arti proper, kemiskinan dipahami sebagai keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Menurut World Bank (2004), salah satu sebab kemiskinan adalah karena kurangnya pendapatan dan aset (lack of income and assets) untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, perumahan dan tingkat kesehatan dan pendidikan yang dapat diterima (acceptable). Di samping itu kemiskinan juga berkaitan dengan keterbatasan lapangan pekerjaan dan biasanya mereka yang dikategorikan miskin (the poor) tidak memiliki pekerjaan (pengangguran), serta tingkat pendidikan dan kesehatan mereka pada umumnya tidak memadai.
Menurut World Bank, dalam definisi kemiskinan adalah:
”The denial of choice and opportunities most basic for human development to lead a long healthy, creative life and enjoy a decent standard of living freedom, self esteem and the respect of other”.
Dari definisi tersebut diperoleh pengertian bahwa kemiskinan itu merupakan kon-disi dimana seseorang tidak dapat menikmati segala macam pilihan dan kesempa-tan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti tidak dapat memenuhi keseha-tan, standar hidup layak, kebebasan, harga diri, dan rasa dihormati seperti orang lain.
2.4.5 Indikator Kemiskinan
Terdapat beberapa indikator kemiskinan yang biasa digunakan, yaituindikator:
1) Kemiskinan relatif seseorang dikatakan berada dalam kelompok