BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.2. Saran

1. Bagi pihak sekolah diharapkan untuk memasukkan pendidikan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum pendidikan sehingga dapat menambah wawasan siswa tentang kesehatan reproduksi.

2. Bagi remaja diharapkan untuk lebih giat mencari informasi tentang kesehatan reproduksi tidak hanya dari media massa, internet, tetapi juga melalui sumber informasi lain, seperti petugas kesehatan dan orang tua agar lebih terarah dan tidak terjerumus ke arah perilaku yang menyimpang.

3. Bagi orang tua diharapkan untuk memberikan pendidikan seksual kepada anak-anaknya dan tidak menganggap bahwa membicarakan pendidikan

seksual terhadap anak remajanya merupakan hal yang tabu agar informasi mengenai kesehatan reproduksi yang diperoleh anak remajanya lebih terarah. 4. Bagi petugas pelayanan kesehatan diharapkan untuk memberikan penyuluhan

mengenai kesehatan reproduksi remaja terutama mengenai penyakit menular seksual karena tingkat pengetahuan remaja akan PMS masih kurang agar pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksinya menjadi lebih baik lagi.

5. Bagi peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian yang lebih lanjut berdasarkan hasil penelitian ini dan dapat meneliti variabel-variabel lain yang lebih luas yang tidak diteliti dalam penelitian ini, seperti perilaku dan meneliti hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual.

6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural (Adjie, 2013).

Millenium Development Goal 5 (MDG5) sampai sekarang masih menganut

pengertian kesehatan reproduksi yang ditetapkan oleh International Conference of

Population and Development di Kairo pada tahun 1994, yaitu kesejahteraan fisik,

mental, dan sosial yang utuh, bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, tetapi dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi serta prosesnya (WHO, 2014).

2.2. Remaja

2.2.1. Definisi Remaja

Menurut WHO, remaja adalah periode dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia yang terjadi setelah masa kanak-kanak dan sebelum dewasa, dari umur 10 sampai 19 tahun. Masa remaja ini disebut juga masa transisi. Transisi yang terjadi pada masa remaja mencakup pecepatan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial (UNFPA, 2009).

2.2.2. Perubahan yang Terjadi pada Masa Remaja

Perubahan-perubahan yang terjadi ketika seorang anak menginjak masa remaja dapat dilihat dari 3 dimensi, yaitu dimensi biologis, dimensi kognitif, dan dimensi moral dan sosial.

a. Dimensi Biologis dan Seksualitas

Pada saat anak menginjak remaja, di saat itu pula anak mengalami masa pubertas. Tanda pubertas pertama yang dapat dilihat pada anak perempuan adalah perkembangan tunas-tunas payudara, yang dimulai seawalnya pada usia 8 tahun.

Tanda pertama pada anak laki-laki adalah pembesaran testis, yang dimulai seawalnya usia 9,5 tahun. Pada masa ini pula untuk pertama kalinya anak perempuan mengalami menstruasi (menarche) dan anak laki-laki mengalami mimpi basah (spermarche) (Behrman et al, 2012) .

Menarche dan spermarche pada remaja perempuan dan laki-laki menandakan bahwa sistem reproduksinya sudah mulai aktif. Selain mengalami menarche, anak perempuan mengalami perubahan fisik, yaitu pertumbuhan payudara, tumbuhnya rambut di kemaluan, panggul membesar, dan tumbuhnya jerawat pada wajah. Sedangkan pada laki-laki mengalami perubahan seperti pertambahan massa otot, pertambahan panjang dan besar pada penis, pembesaran pada testis, tumbuhnya rambut pada kemaluan, tumbuh jerawat pada wajah (Mannheim, 2013).

Seksualitas tidak hanya meliputi perilaku seksual, tetapi juga keinginan dan fantasi, orientasi seksual, sikap terhadap seks, dan hubungannya dengan emosi, dan kesadaran terhadap aturan dan adat istiadat yang ditentukan dalam kehidupan sosial. Sebagian besar mempunyai beberapa informasi mengenai risiko kehamilan, AIDS dan penyakit lain yang ditularkan secara seksual, akan tetapi informasi itu tidak secara konsisten mengendalikan perilaku seksual (Behrman et al, 2012).

b. Dimensi Kognitif dan Moral

Dalam teori Piaget, remaja mengalami peralihan dari karakteristik pemikiran operasional anak usia-sekolah yang nyata ke perbuatan logis yang formal. Perbuatan formal meliputi kemampuan memanipulasi gagasan seperti tanda-tanda aljabar, memberi alasan dari prinsip-prinsip yang diketahui, mempertimbangkan berbagai sudut pandang sesuai dengan berbagai kriteria, dan memikirkan mengenai proses pemikirannya itu sendiri (McGraw-Hill Education, 2006).

Berbagai ahli teori berdebat bahwa peralihan dari pelaksanaan nyata ke formal mengikuti peningkatan kuantitatif pengetahuan, pengalaman dan efisiensi kognitif, bukannya re-organisasi kualitatif pemikiran. Dari pandangan tersebut, data-data menunjukkan peningkatan yang mantap dalam kecepatan pemrosesan

8

kognitif dari masa kanak-kanak akhir sampai awal masa remaja (Behrman et al, 2012).

Perkembangan pemikiran moral secara kasar sejajar dengan perkembangan kognitif. Kebanyakan anak praremaja melihat benar dan salah sebagai hal yang mutlak dan tidak dapat dipertanyakan. Kemudian selama masa remaja akan timbul pemikiran abstrak, mempertanyakan lebih banyak hal, terpusat pada diri sendiri, kemudian akan terbentuk idealisme dan absolutisme (Raising Children Network, 2010).

c. Dimensi Sosial

Pubertas biasanya mengakibatkan hubungan yang tegang dan renggang antara remaja dan orang tuanya. Pada awalnya, remaja meminta penambahan kebebasan kepada orang tuanya dan lebih memilih untuk mendekatkan diri kepada teman sebayanya. Selanjutnya melanjutkan usahanya untuk mendapatkan autonomi yang lebih besar. Kelompok sebaya menjadi kurang penting dan lebih mementingkan hubungannya dengan teman kencannya. Pada remaja akhir, sudah memiliki kebebasan praktis , tetapi menganggap bahwa keluarga tetap yang paling aman. Di dalam hal pertemanan, yang lebih penting adalah keakraban dan mungkin janji (komitmen) dengan pasangan (Mannheim, 2013; Behrman et al, 2012; Raising Children Network, 2010).

2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan reproduksi remaja dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu: kebersihan alat-alat genital, akses terhadap pendidikan kesehatan, hubungan seksual pranikah, penyalahgunaan NAPZA, pengaruh media massa, akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau, dan hubungan yang harmonis antara remaja dengan keluarganya, penyakit menular seksual (PMS).

2.3.1. Kebersihan organ-organ genital

Kesehatan reproduksi remaja ditentukan dengan bagaimana remaja tersebut dalam merawat dan menjaga kebersihan alat genitalnya. Alat reproduksi yang lembab dan basah akan meningkat keasaman dan memudahkan pertumbuhan jamur. Remaja perempuan lebih mudah terkena infeksi genital bila tidak menjaga

kebersihan alat genitalnya karena organ vagina yang letaknya dekat dengan anus (Donggori, 2012).

2.3.2. Akses terhadap pendidikan kesehatan

Remaja perlu mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi sehingga remaja mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan hal-hal yang seharusnya dihindari. Remaja berhak untuk mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi dan informasi tersebut harus berasal dari sumber yang terpercaya. Agar remaja mendapatkan informasi yang tepat, kesehatan reproduksi remaja hendaknya diajarkan di sekolah dan di dalam lingkungan keluarga (WHO, 2014).

Hal-hal yang diajarkan di dalam kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi remaja mencakup tentang tumbuh kembang remaja, organ-organ reproduksi, perilaku berisiko, Penyakit Menular Seksual (PMS), dan abstinesia sebagai upaya pencegahan kehamilan. Dengan mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja secara benar, kita dapat menghindari dilakukannya hal-hal negatif oleh remaja. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi remaja tersebut berguna untuk kesehatan remaja tersebut, khususnya untuk mencegah dilakukannya perilaku seks pranikah, penularan penyakit menular seksual, aborsi, kanker mulut rahim, kehamilan di luar nikah, gradasi moral bangsa, dan masa depan yang suram dari remaja tersebut (Blum, 2004; Kurniawan, 2008).

2.3.3. Hubungan seksual pranikah

Kehamilan dan persalinan membawa risiko morbiditas dan mortalitas yang lebih besar pada remaja dibandingkan pada wanita yang berusia lebih dari 20 tahun. Remaja putri yang hamil pada usia kurang dari 16 tahun mempunyai risiko kematian dan mengalami komplikasi pada saat hamil dan melahirkan yang lebih besar jika dibandingkan dengan wanita yang lebih dewasa. Komplikasi tersebut antara lain obstruksi jalan lahir, partus preterm, dan abortus spontan, serta masih banyak lagi komplikasi lain. (Mbizvo, 2010).

Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja seringkali berakhir dengan aborsi. Banyak survei yang telah dilakukan di negara berkembang menunjukkan bahwa hampir 60% kehamilan pada wanita berusia di bawah 20 tahun adalah

10

kehamilan yang tidak diinginkan atau salah waktu (mistimed). Aborsi yang disengaja seringkali berisiko lebih besar pada remaja putri dibandingkan pada mereka yang lebih tua. 5 juta remaja di seluruh dunia yang berada pada usia 15 – 18 tahun pernah melakukan aborsi yang tidak aman setiap tahunnya dan 70.000 di antaranya berakibat kematian (UNFPA, 2009).

Komplikasi dari aborsi yang tidak aman, antara lain: 1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat.

2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.

3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan. 4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation).

5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.

6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita). 7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer).

8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer). 9. Kanker hati (Liver Cancer).

10. Kelainan pada placenta/ ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.

11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy). 12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).

13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis) (Facts of Life dalam buku

Peyempuan, 2013)

Selain itu aborsi juga dapat menyebabkan efek samping dalam perkembangan mental. Efek samping yang berpotensial dalam hal ini, antara lain: penyesalan, kemarahan, rasa bersalah, rasa malu, merasa terasingkan, kehilangan kepercayaan diri, insomnia, mimpi buruk, percobaan bunuh diri, gangguan pola makan, depresi, dan ansietas (American Pregnancy Association, 2013).

2.3.4. Penyalahgunaan NAPZA

NAPZA adalah singkatan untuk narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Contoh obat-obat NAPZA tersebut yaitu: opioid, alkohol, ekstasi,

ganja, morfin, heroin, kodein, dan lain-lain. Jika zat tersebut masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi sistem saraf pusat. Pengaruh dari zat tersebut adalah penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri, ketergantungan, rasa nikmat dan nyaman yang luar biasa dan pengaruh-pengaruh lain. Penggunaan NAPZA ini berisiko terhadap kesehatan reproduksi karena penggunaan NAPZA akan berpengaruh terhadap meningkatnya perilaku seks bebas. Pengguna NAPZA jarum suntik juga meningkatkan risiko terjadinya HIV/AIDS, sebab virus HIV dapat menular melalui jarum suntik yang dipakai secara bergantian (Joit, 2014).

2.3.5. Pengaruh media massa dan internet

Media massa baik cetak maupun elektronik mempunyai peranan yang cukup berarti untuk memberikan informasi yang benar mengenai cara menjaga kesehatan khususnya kesehatan reproduksi remaja. Dengan adanya artikel-artikel yang dibuat dalam media massa, remaja akan mengetahui hal-hal yang harus dilakukan dan dihindari untuk menjaga kesehatan reproduksinya. Akan tetapi penggunaan internet pengawasan orang tua karena banyak informasi yang tidak layak bagi remaja (Azriani et al, 2011).

2.3.6. Akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi

Pelayanan kesehatan juga berperan dalam memberikan tindakan preventif dan tindakan kuratif. Pelayanan kesehatan dapat dilakukan di puskesmas, rumah sakit, klinik, posyandu, dan tempat-tempat lain yang memungkinkan. Dengan akses yang mudah terhadap pelayanan kesehatan, remaja dapat melakukan konsultasi tentang kesehatannya khususnya kesehatan reproduksinya dan mengetahui informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi. Remaja juga dapat melakukan tindakan pengobatan apabila remaja sudah terlanjur mendapatkan masalah-masalah yang berhubungan dengan organ reproduksinya seperti penyakit menular seksual (Sentosa, 2010).

2.3.7. Hubungan harmonis dengan keluarga

Kedekatan dengan kedua orangtua merupakan hal yang berpengaruh dengan perilaku remaja. Remaja dapat berbagi dengan kedua orangtuanya tentang masalah keremajaan yang dialaminya. Keluarga merupakan tempat pendidikan yang paling dini bagi seorang anak sebelum ia mendapatkan pendidikan di tempat

12

lain. Remaja juga dapat memperoleh informasi yang benar dari kedua orangtua mereka tentang perilaku yang benar dan moral yang baik dalam menjalani kehidupan. Di dalam keluarga juga, remaja dapat mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan dan yang harus dihindari. Orang tua juga dapat memberikan informasi awal tentang menjaga kesehatan reproduksi bagi seorang remaja (Blum, 2004).

2.3.8. Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual adalah penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Cara penularannya tidak hanya terbatas secara genital-genital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital-genital, atau ano-genital-genital. Sehingga kelainan yang timbul akibat penyakit kelamin ini tidak hanya terbatas pada daerah genital saja, tetapi juga pada daerah-daerah ekstra genital. Penyakit menular seksual juga dapat terjadi dengan cara lain yaitu penggunaan peralatan pribadi yang bersamaan, seperti handuk, pakaian, termometer dan lain-lain. Selain itu penyakit menular seksual juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya ketika di dalam kandungan dan melalui jalan lahir apabila kelahirannya pervaginam (Donggori, 2012).

Penyakit menular seksual yang umum terjadi di Indonesia antara lain:

gonorrhea, chlamydia, vaginosis bakterial, herpes simpleks, trikomoniasis, sifilis, limfogranuloma venerium, ulkus mole, granuloma inguinale, dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) (Kurniawan, 2008).

2.4. Anatomi Organ Reproduksi

2.4.1. Anatomi Organ Reproduksi Wanita

Organ reproduksi wanita dibagi menjadi dua, yaitu organ reproduksi

eksternal dan organ reproduksi internal.

Organ reproduksi eksternal wanita terdiri dari:

1. Mons veneris (mons pubis) adalah bagian yang menonjol di atas simfisis yang

terdiri dari jaringan lemak. Setelah pubertas, bagian ini akan ditutupi oleh rambut kemaluan (pubes).

2. Labia mayora terdiri dari bagian kanan dan kiri, lonjong mengecil ke bawah,

mayora sinistra dan dekstra bersatu di sebelah belakang membentuk commisura posterior (frenulum) dan merupakan batas bagian depan perineum. Labia mayor homolog dengan skrotum pada laki-laki.

3. Labia Minora merupakan lipatan tipis di sebelah medial dari labia mayora.

Kedua lipatan tersebut bertemu di bagian atas klitoris membentuk prepotium

clitoris dan bagian bawah klitoris membentuk frenulum clitoris. Di bagian

belakang, labia minor mengelilingi orificium vaginea dan membentuk fossa

naviculare.

4. Klitoris kira-kira sebesar biji kacang hijau, tertutup oleh preputium clitoris

dam terdiri dari glans clitoridis, corpus clitoridis, dan dua krurayang menggantungkan klitoris ke os pubis. Glans clitoridis terdiri atas jaringan yang dapat mengembang, penuh dengan urat saraf, sehingga sangat sensitive.

Klitoris analog dengan penis laki-laki.

5. Vestibulum merupakan rongga yang sebelah lateral dibatasi oleh kedua labia minora, anterior oleh klitoris, dorsal oleh fourchet. Pada vestibulum terdapat

muara dari 4 kelenjar, yaitu: 2 dari kelenjar Bartholini dan 2 dari kelenjar

Skene.

6. Glandula vestibularis mayoris Bartholini merupakan kelenjar terpenting pada

daerah vulva. Berfungsi untuk mengeluarkan secret mukus terutama pada waktu koitus.

7. Hymen merupakan lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dari introitus vaginae. Biasanya ukuran lubang hymen sebesar ujung jari, sehingga getah

dari genetalia interna dan darah haid dapat mengalir keluar. Hymen yang tertutup sama sekali disebut hymen occlusivum. Setelah partus, hanya tertinggal sisa-sisa dari pinggir introitus yang disebut carunculae myrtiformis.

Organ reproduksi internal wanita terdiri dari:

1. Vagina merupakan suatu saluran musculo-membranosa yang menghubungkan uterus dengan vulva. Terletak di antara kandung kemih dan rectum. Pada

dinding vagina terdapat lipatan-lipatan sirkular yamg disebut rugae. Setelah melahirkan, sebagian rugae tersebut akan menghilang. Pada puncak vagina menonjol ujung dari serviks. Bagian serviks yang menonjol ke dalam vagina

14

disebut portio. Vagina berfungsi sebagai saluran keluar dari uterus yang dapat mengalirkan darah waktu haid dan sekret keluar dari uterus, sebagai alat persetubuhan, dan sebagai jalan lahir saat partus.

2. Uterus merupakan organ yang berongga dan berbentuk seperti bola lampu

yang gepeng dan terdiri dari dua bagian, yaitu: corpus uteri yang berbentuk segitiga dan serviks yang berbentuk silinder. Bagian atas dari corpus uteri disebut dengan fundus uteri. Sebagian besar dari permukaan belakang uterus tertutup peritoneum, sedangkan permukaan depan hanya pada bagian atasnya saja. Bagian bawah dari permukaan depan melekat pada dinding belakang

vesika urinaria.

3. Tuba fallopi merupakan saluran ovum yang terentang antara kornu uterine

hingga suatu tempat dekat ovarium dan merupakan jalan ovum mencapai rongga uterus. Terletak di tepi atas ligamentum latum berjalan ke arah lateral mulai dari osteum tubae internum pada dinding rahim.

Tuba fallopi terdiri atas :

a. Pars interstitialis (intramularis) terletak di antara otot rahim mulai dari osteum internum tuba.

b. Pars istmika tubae, bagian tuba yang berada di luar uterus dan merupakan

bagian yang paling sempit.

c. Pars ampuralis tubae, bagian tuba yang paling luas dan berbentuk “s”. d. Pars infindibulo tubae, bagian akhir tubae yang memiliki lumbai yang

disebut fimbriae tubae. Fungsi tuba fallopi :

1. Sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai kavum uteri. 2. Untuk menangkap ovum yang dilepaskan saat ovulasi.

3. Sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi. 4. Tempat terjadinya konsepsi.

5. Tempat pertumbuahn dan perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai bentuk blastula yang siap mengadakan implantasi.

4. Ovarium ada 2, terletak di kiri dan kanan uterus, yang dihubungkan oleh ligamentum ovarii propium ke uterus dan dihubungkan ke dinding panggul

oleh ligamentum ifundibulo-pelvicum. Ovarium terletang di dinding lateral panggul pada sebuah lekukan yang disebut fossa ovarica Waldeyeri. Ovarium terdiri dari bagian korteks dan medulla. Pada korteks terdapat folikel-folikel primordial dan pada medulla terdapat pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfe.

5. Parametrium merupakan jaringan ikat yang terdapat di antara kedua lembar ligamentum latum. Bagian atas ligamentum latum yang mengandung tuba

disebut dengan mesosalphinx dan bagian caudalnya yang berhubungan dengan uterus disebut mesometrium. Pada sisi depannya berjalan ligamentum teres uteri, pada permukaan belakang ligamentum ovarii propium (Cuningham et al, 2005; Prawiharjo, 2011, Moore, 1999).

Gambar 2.1. Organ Reproduksi Wanita

Sumber: http://www.mydr.com.au/womens-health/female-reproductive-organs

2.4.2. Anatomi Organ Reproduksi Pria

Organ reproduksi pria juga dibagi menjadi dua, yaitu organ reproduksi

eksternal dan organ reproduksi internal.

Organ reproduksi eksternal pria terdiri dari:

1. Penis merupakan organ genetalia luar pada sistem reproduksi pria yang

berfungsi sebagai saluran keluar urine, cairan semen, dan sebagai alat untuk bersenggama. Struktur penis terdiri dari akar (radix) penis yang menempel pada dinding perut, badan (corpus) penis yang merupakan bagian tengaj dari penis, dan glans penis atau ujung penis yang berbentuk seperti kerucut. Pada

16

ujung glans penis terdapat meatus utrethra yang merupakan jalan keluar dari urine dan cairan semen. Penis terdiri atas tiga bangunan silinder berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan spons corpus

cavernosum. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan

spons corpus spongiosum, yang membungkus urethra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).

2. Skrotum adalah kantung (terdiri dari kulit dan otot) yang membungkus testis.

Skrotum terletak di antara penis dan anus serta di depan perineum. Pada wanita, bagian ini serupa dengan labia mayora. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (musculus

dartos). Musculus dartos berfungsi sebagai termoregulator agar spermatogenesis dapat berjalan dengan normal. Otot ini berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Otot mengerut dan menarik testis mendekati tubuh yang hangat bila suhu lingkungan dingin dan mengendur serta menjauhkan testis dari tubuh apabila suhu lingkungan naik. Perbedaan suhu tubuh dan suhu di testis agar spermatogenesis dapat berjalan dengan lancar sekitar 5 – 7 oC. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster (musculus cremaster).

Organ reproduksi internal pria terdiri dari:

1. Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval, agak gepeng dengan

panjang sekitar 4 cm dan diameter sekitar 2.5 cm. Testis berada didalam skrotum bersama epididimis yaitu kantung ekstraabdomen tepat dibawah penis. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan. Testis menghasilkan

Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) juga

1. Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di tubulus

seminiferus.

2. Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interstial.

2. Epidididimis merupakan sebuah saluran yang berasal dari testis dan bermuara

ke vas deferens. Epididimis terbagi menjadi 3 bagian, yaitu caput epididimis yang bertautan langsung dengan testis, corpus epididimis, dan cauda epididimis yang bermuara ke vas deferens. Epididimis berfungsi sebagai tempat transportasi, konsentrasi, pematangan, dan penyimpanan spermatozoa.

3. Vas deferens merupakan saluran transportasi spermatozoa dari cauda

epididymis menuju urethra. Ujung vas deferens menebal dan membesar membentuk ampula ductus deferens. Ujung ampula terdapat muara vesika seminalis. Setelah muara vesika seminalis ini, vas deferens diberi ductus

ejaculatorii. Duktus ini menembus prostat.

4. Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi bagian

tengah dari urethra. Cairan yang dihasilkan kelenjar prostat banyak mengandung enzim yang berfungsi untuk membersihkan dan menetralisir urethra dari bekas urine dan kotoran-kotoran lain sebelum ejakulasi. pH cairan ini berkisar antara 7,5 – 8,2.

5. Vesika seminalis merupakan saluran panjang dan berkelok-kelok yang terletak

di bagian posterior kelenjar prostat. Sekeret kelenjar pada saluran ini berupa

Dalam dokumen Tingkat Pengetahuan Siswa-Siswi SMA Negeri 1 Lubuk Pakam tentang Kesehatan Reproduksi Remaja Tahun 2014 (Halaman 44-82)