• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk memformulasi ekstrak etanol dalam bentuk sediaan dengan mempertimbangkan pengujian toksisitas terlebih dahulu.

42

DAFTAR PUSTAKA

Abdollahzadeh, S.H., Masouf, R.Y., Mortazavi, H., Moghaddam, M.H., Roozbahani, N., dan Vahedi M. (2011). Antibacterial and Antifungal Activities of Punica Granatum Peel Extract Against Oral Pathogens.

Journal of Denstistry, Tehran University of Medical Sciences. 8(1): 6.

Akiyama, H., Fujii, K., Yamasaki, O., Oono, T., dan Iwatsuki, K. (2001). Antibacterial Action of Several Tannins Against Staphylococcus aureus.

Journal of Antimicrobial Chemotherapy. 48(4): 490.

BPOM RI. (2014). Menilik Regulasi Minuman Beralkohol di Indonesia. Info

POM. 15(3): 3-4.

Brooks, G.F., Butel, J.S., dan Morse, S.A. Medical Microbiology Twenty Second

Ed. Penerjemah: Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas

Airlangga. (2001). Mikrobiologi Kedokteran. Edisi pertama. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. Halaman. 93,235,317,371.

Depkes RI. (1986). Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 10,19,21.

Depkes RI. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman. 297-326, 333-340.

Depkes RI. (2001). Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Jilid II. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Halaman 195.

Difco and BBL Manual. (2009). Manual of Microbiological Culture Media. Second edition. Sparks : Becton, Dickinson and Company 7 Loveton Circle. Halaman 398,402.

Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 9,12, 33.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 7,896-898,1112.

Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Direktorat pengawasan Obat Tradisional. Halaman 10-11, 14-17, 31-32.

Dwidjoseputro, D. (1978). Dasar-Dasar Mikrobiologi.Jakarta: Djambatan. Halaman 17,119.

43

Farnsworth, N.R. (1966). Biologycal And Phytochemical Screening of Plants.Journal of Pharmaceutical Sciences. 55(3): 263-264.

Harborne, J.B (1984). Phytochemical Methods. Penerjemah: Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. (1987). Metode Fitokimia. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 147.

Heyne, K. (1950). De nuttige Planten Van nederlandsch Indie. Penerjemah: Badan Litbang Departemen Kehutanan. (1987).Tumbuhan Berguna

Indonesia. Jilid III. Jakarta: Halaman 1279.

Khare, C.P. (2007). Indian Medicinal Plants. New Delhi: Springer Science + Business Media, LCC. Halaman 366.

LIPI (2015). Hasil Identifikasi/Determinasi Tumbuhan. Cibinong : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Madduluri, S., Rao, K. B., dan Sitaram, B. (2013). In Vitro Evaluation of Antibacterial Activity of Five Indigenous Plants Extract Against Five Bacterial Pathogens of Human. International Journal of Pharmacy and

Pharmaceutical Sciences ISSN-0975-1491.5(3): 683.

Mailoa, M. N., Mahendradatta, M., Laga, A., dan Djide, N. (2014). Antimicrobial Activities of Tannins Extract From Guava Leaves (Psidium guajava L.) on Pathogens Microbial. International Journal Of Scientific and Technologi

Research. 3(1): 239.

Ngajow, M., Abidjulu, J., Kamu, V, S. (2013). Pengaruh Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Matoa (Pometia pinnata) Terhadap bakteri Staphylococcus

aureus secara In vitro. Jurnal MIPA UNSRATONLINE. 2(2): 131.

Pratiwi, S.T. (2008). Mikrobiologi Farmasi. Jogjakarta: Erlangga. Halaman 18,111-115,106-108, 136-138,188.

Poeloengan, M., dan Praptiwi. (2010). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn.). Media Litbang Kesehatan. 20(2): 68.

Rahman, M.A., Imran T. B., dan Islam, S. (2012). Antioxidative, Antimicrobial and Cytotoxic Effects Of The Phenolics Of Leea indica Leaf Extract.

Saudi Journal of Biological Sciences. 20(2): 222.

Robinson, T. (1991). The Organic Constituents of High Plant. 6th edition. Penerjemah: Kosasih Padmawinata. (1995). Kandungan Organik

Tumbuhan Tinggi. Edisi keenam. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 154,

157, 191.

Salni, Marisa, H., dan Mukti, R.W. (2011). Isolasi Senyawa Antibakteri Dari Daun Jengkol (Pithecolobium lobatum Benth) dan Penentuan Nilai KHM-nya. Jurnal Penelitian Sains. 14(1): 40.

44

Staf Pengajar FK UI. (1994). Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Edisi Revisi. Jakarta: Binarupa Aksara. Halaman 103.

Tim Mikrobiologi FK Brawijaya. (2003). Bakteriologi Medik. Cetakan Pertama. Malang: Bayu Media Publishing. Halaman 29,32,33,132,133.

Voigt, R. (1984). Lehrbuch der Pharmaceutischen Technologie. Penerjemah: Soendani Noerono. (1995). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Jogjakarta: UGM Press. Halaman 573.

Volk, W.A., dan Wheeler, M.F. (1984). Basic Microbiology. Fifth Edition. Penerjemah: Soenartono Adisoemarto. (1990). Mikrobiologi Dasar. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga. Halaman 148,156.

Waluyo, L. (2010). Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. Cetakan Kedua. Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah. Halaman 40-42,185,186.

WHO (1998). Quality Control Methods For Medicinal Plant Materials. England: World Health Organization. Halaman 31-33, 228.

Wijayakusuma, M.H., dan Dalimartha, S. (1999). Ramuan Tradisional Untuk

Pengobatan Darah Tinggi. Cetakan V. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.

45

46

Lampiran 2. Bagan kerja penelitian

1. Pembuatan serbuk simplisia, karakterisasi simplisia dan skrining fitokimia

dicuci dari pengotor sampai bersih ditiriskan lalu ditimbang berat basah dirajang dan dikeringkan

sortasi kering

ditimbang berat kering

dihaluskan Daun titanus

Simplisia

Serbuk simplisia

Karakterisasi simplisia Skrining fitokimia

- Penetapan kadar air

- Penetapan kadar sari larut air - Penetapan kadar sari larut

etanol

- Penetapan kadar abu total - Penetapan kadar abu tidak

larut asam

- Pemeriksaan alkaloid - Pemeriksaan glikosida

- Pemeriksaan glikosida antrakuinon - Pemeriksaan saponin

- Pemeriksaan flavonoid - Pemeriksaan tanin

47

Lampiran 2. (Lanjutan)

2. Pembuatan ekstrak etanol danekstrak samsu putih daun titanus

dimasukkan kedalam sebuah bejana ditambahkan sebanyak 75 bagian etanol

96% /samsu putih ditutup

dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk

diperas

dicuci ampas dengan etanol 96% / samsu putih, disaring hingga diperoleh 100 bagian

dipindahkan kedalam bejana tertutup

dibiarkan ditempat sejuk dan terlindung cahaya selama 2 hari

dienap tuangkan atau saring

dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu tidak lebih dari 40 OC

di freeze dryer suhu -40 OC Ekstrak etanol kental / ekstrak samsu putih kental

Maserat Serbuk simplisia daun titanus Ampas Maserat Maserat

48

Lampiran 2. (Lanjutan)

3. Bagan uji aktivitas antibakteri

diambil 1 ose dengan jarum ose steril ditanam pada media nutrient agar miring diinkubasi pada suhu 37OC selama 18-24 jam

diambil 1 ose

disuspensikan ke dalam 10 ml nutrient broth diinkubasi selama 3 jam didalam inkubator diukur kekeruhan pada panjang gelombang 580 nm sampai diperoleh transmitan 25% menggunakan alat spektrofotometer

dipipet 0,1 ml ke dalam cawan petri dituang 15 ml media nutrient agar dihomogenkan, biarkan hingga memadat

diletakkan pencadang kertas yang telah direndam larutan uji dengan berbagai konsentrasi

diinkubasi pada suhu 37OC selama 18-24 jam diukur diameter daerah hambat disekitar pencadang kertas dengan menggunakan jangka sorong Stok kultur Media padat Hasil Suspensi bakteri Biakan murni

49

Lampiran 3. Gambar bagian makroskopik tumbuhan dari daun titanus (Leea

aequata L.)

Tumbuhan titanus

50

Lampiran 4. Gambarsimplisia dan serbuk simplisia daun titanus

Simplisia daun titanus

51

Lampiran 5. Gambar hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia daun

titanus(perbesaran 10x40)

Keterangan :

1. Rambut kelenjar 2. Rambut penutup

3. Kristal kalsium oxalat bentuk jarum 4. Stomata tipe parasitik

1

2

3

52

Lampiran 6. Karakterisasi simplisia

1. Perhitungan kadar air serbuk simplisiadaun titanus

No Berat sampel (g) Volume awal (ml) Volume akhir (ml)

1 5,0043 1,8 2,0 2 5,0035 2,0 2,2 3 5,0020 2,2 2,4 a. Berat simplisia = 5,0043 g Volume air = 2,0 – 1,8 = 0,2 ml Kadar air = 0,2 ml 5, 0043 gx 100% = 3,99% b. Berat simplisia = 5,0035 g Volume air = 2,2 – 2,0 = 0,2 ml Kadar air = 0,2 ml 5, 0035 gx 100% = 3,99% c. Berat simplisia = 5,0020 g Volume air = 2,4 – 2,2 = 0,2 ml Kadar air = 0,2 ml 5, 0020 gx 100% = 3,99%

Kadar air rata-rata = 3,99% + 3,99% + 3,99%

3 = 3,99%

Kadar air simplisia = Volumeakhir−volumeawal

53

Lampiran 6 (lanjutan)

2. Perhitungan kadar sari larut air serbuk simplisia daun titanus

No Berat sampel (g) Berat cawan kosong

(g) Berat cawan sari (g) 1 5,0002 47,8154 47,8977 2 5,0008 62,5579 62,6360 3 5,0034 47,8154 47,8986 a. Berat simplisia = 5,0002 g Berat sari = 0,0823 g Kadar sari =0,0823 g 5, 0002 g

x

100 20

x

100% = 8,22 % b. Berat simplisia = 5,0008 g Berat sari = 0,0781g Kadar sari = 0,0781 g 5, 0008 g

x

100 20

x

100%= 7,80 % c. Berat simplisia = 5,0034 g Berat sari = 0,0832 g Kadar sari = 0,0832 g 5, 0034 g

x

100 20

x

100 % = 8,31 %

Kadar sari rata-rata = 8,22% + 7,80% + 8,31%

3 = 8,11 %

Kadar sari = Beratcawansari−beratcawankosong beratsampel x

100

54

Lampiran 6 (lanjutan)

3. Perhitungan kadar sari larut etanol serbuk simplisia daun titanus

No Berat sampel (g) Berat cawan kosong (g) Berat cawan sari (g) 1 5,0069 62,5496 62,6460 2 5,0060 47,8132 47,9110 3 5,0046 62,5588 62,6535 a. Berat simplisia = 5,0069 g Berat sari = 0,0964 g Kadar sari =0,0964 g 5, 0069 g

x

100 20

x

100% = 9,62 % b. Berat simplisia = 5,0060 g Berat sari = 0,0978 g Kadar sari =0,0978 g 5, 0060 g

x

100 20

x

100%= 9,76 % c. Berat simplisia = 5,0046 g Berat sari = 0,0947 g Kadar sari =0,0947 g 5, 0046 g

x

100 20

x

100% = 9,46 %

Kadar sari rata-rata

=

9,62% + 9,76% + 9,46%

3 = 9,61 %

Kadar sari = Beratcawansari−beratcawankosong beratsampel x

100

55

Lampiran 6 (lanjutan)

4. Perhitungan kadar abu total serbuk simplisiadaun titanus

No Berat sampel (g) Berat abu (g)

1 2,0012 0,1677 2 2,0066 0,1477 3 2,0014 0,1407 a. Berat simplisia = 2,0012 g Berat abu = 0,1677 g Kadar abu = 0,1677 2,0012x 100% = 8,37% b. Berat simplisia = 2,0066 g Berat abu = 0,1477 g Kadar abu = 0,1477 2,0066x 100% = 7,36% c. Berat simplisia = 2,0014 g Berat abu = 0,1407 g Kadar abu = 0,1407 2,0014x 100% = 7,03%

Kadar abu total rata-rata = 8,37 % + 7,36 % + 7,03%

3 = 7,58 %

Kadar abu total = Beratabu

56

Lampiran 6 (lanjutan)

5. Perhitungan kadar abu total tidak larut asam serbuk simplisia daun titanus

No Berat sampel (g) Berat abu (g)

1 2,0012 0,0151 2 2,0066 0,0141 3 2,0014 0,0101 a. Berat simplisia = 2,0012 g Berat abu = 0,0151 g Kadar abu = 0,0151 2,0012x 100% = 0,75% b. Berat simplisia = 2,0066g Berat abu = 0,0141 g Kadar abu = 0,0141 2,0066x 100% = 0,70 % c. Berat simplisia = 2,0014 g Berat abu = 0,0101 g Kadar abu =0,0101 2,0014x 100% = 0,50 %

Kadar abu total tidak larut asam rata-rata = 0,75 % + 0,70 % + 0,50 %

3 = 0,65 %

Kadar abu tidak larut asam = Beratabu

57

Lampiran 7. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan ekstrak samsu putih

daun titanus

1. Tabel hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan ekstrak samsu putih daun titanus terhadap bakteri Stapylococcus aureus

No. Konsentrasi (mg/ml)

Diameter daerah hambatan (mm)

Ekstrak etanol Ekstrak samsu putih

D1 D2 D3 D* D1 D2 D3 D* 1. 500 17,3 17,3 17,4 17,33 14,7 14,6 14,5 14,6 2. 400 16,8 17,0 16,9 16,9 13,3 13,5 13,4 13,4 3. 300 16,1 16,3 16,3 16,23 13,0 12,9 13,0 12,96 4. 200 15,5 15,3 15,6 15,46 12,4 12,4 12,2 12,33 5. 100 14,9 14,8 14,8 14,83 11,8 12,0 11,8 11,86 6 75 13,5 13,5 13,6 13,53 7,7 7,9 8 7,86 7 50 12,2 12,1 12,0 12,1 7,2 7,3 7,5 7,33 8 25 11,5 11,4 11,2 11,36 7,1 7 7,2 7,13 9 12,5 8 7,9 7,6 7,83 10 6,25 7 7,3 7,2 7,16 11 Blanko (DMSO) - - - - - - - - Keterangan :

D = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri 1,2,3 = Perlakuan

* = Rata- rata daerah hambatanpertumbuhan bakteri - = Tidak terdapat daerah hambatan pertumbuhan bakteri DMSO = Dimetil sulfoksida

58

Lampiran 7. (Lanjutan)

2. Tabel hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan ekstrak samsu putih daun titanus terhadap bakteri Stapylococcus epidermidis

No. Konsentrasi (mg/ml)

Diameter daerah hambatan (mm)

Ekstrak etanol Ekstrak samsu putih

D1 D2 D3 D* D1 D2 D3 D* 1. 500 17,2 17,1 17,3 17,2 14,9 15,0 15,0 14,96 2. 400 17,0 16,9 17,0 16,96 13,9 13,9 13,9 13,9 3. 300 16,7 16,5 16,7 16,63 13,5 13,6 13,6 13,56 4. 200 16,3 16,1 16,3 16,23 13,1 13,0 12,9 13,0 5. 100 15,5 15,6 15,4 15,5 12,0 12,1 12,0 12,03 6 75 13,2 13,1 13,4 13,23 8,9 8,7 8,4 8,6 7 50 12,4 12,0 12,2 12,2 7,8 8 7,9 7,9 8 25 11,2 11,2 11,0 11,13 7,4 7,5 7,5 7,46 9 12,5 8,4 8,5 8,6 8,5 10 6,25 7,3 7,5 7,5 7,43 11 Blanko (DMSO) - - - - - - - - Keterangan :

D = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri 1,2,3 = Perlakuan

* = Rata- rata daerah hambatan pertumbuhan bakteri - = Tidak terdapat daerah hambatan pertumbuhan bakteri DMSO = Dimetil sulfoksida

59

Lampiran 7. (Lanjutan)

3. Tabelhasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan ekstrak samsu putih daun titanus terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa

No. Konsentrasi (mg/ml)

Diameter daerah hambatan (mm)

Ekstrak etanol Ekstrak samsu putih

D1 D2 D3 D* D1 D2 D3 D* 1. 500 16,2 16,4 16,6 16,4 14,1 14,0 13,9 14,0 2. 400 15,8 15,8 15,6 15,73 13,6 13,6 13,5 13,56 3. 300 15,2 15,4 15,2 15.26 12,4 12,6 12,4 12,46 4. 200 14,6 14,6 14,8 14,66 11,5 11,9 11,5 11,63 5. 100 14,3 14,2 14,2 14,23 11,0 11,1 11.2 11,1 6. 75 12,9 13,2 13,0 13,03 7,6 7,6 7,4 7,53 7. 50 11,9 12,0 12,2 12,03 7,0 6,9 7,0 6,9 8. 25 11,0 11,0 11,1 11,03 6,5 6,6 6,6 6,56 9. 12,5 7,8 7,7 7,6 7,7 10. 6,25 7 7,1 7 7,03 11. Blanko (DMSO) - - - - - - - - Keterangan :

D1 = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri 1,2,3 = Perlakuan

* = Rata- rata daerah hambatan pertumbuhan bakteri - = Tidak terdapat daerah hambatan pertumbuhan bakteri DMSO = Dimetil sulfoksida

60

Lampiran 8. Gambar hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun titanus

1. Gambar hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus

6,25 mg/ml 12,5 mg/ml 75 mg/ml 50 mg/ml 300 mg/ml 400 mg/ml 500 mg/ml 100 mg/ml 200 mg/ml BLANKO 25 mg/ml

61

Lampiran 8. (Lanjutan)

2. Gambar hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

epidermidis 25 mg/ml 6,25 mg/ml 12,5 mg/ml 75 mg/ml 50 mg/ml 100 mg/ml 200 mg/ml 300 mg/ml 500 mg/ml 400 mg/ml BLANKO

62

Lampiran 8. (Lanjutan)

3. Gambar hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Pseudomonas

aeruginosa 6,25 mg/ml 12,5 mg/ml 75 mg/ml 50 mg/ml 25 mg/ml 300 mg/ml 200 mg/ml 100 mg/ml 400 mg/ml 500 mg/ml BLANKO

63

Lampiran 9. Gambar hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak samsu putih daun

titanus

1. Gambar hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus

50 mg/ml 75 mg/ml 100 mg/ml 200 mg/ml 300 mg/ml 400 mg/ml BLANKO 25 mg/ml 500 mg/ml

64

Lampiran 9. (Lanjutan)

2. Gambar hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

epidermidis 100 mg/ml 25 mg/ml 50 mg/ml 75 mg/ml 300 mg/ml 200 mg/ml 400 mg/ml 500 mg/ml BLANKO

65

Lampiran 9 (lanjutan)

3. Gambar hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteriPseudomonas aeruginosa

50 mg/ml 25 mg/ml 500 mg/ml 200 mg/ml 100 mg/ml 75 mg/ml BLANKO 300 mg/ml 400 mg/ml

Baca selengkapnya

Dokumen terkait