BAB V PENUTUP
B. Saran
1. Untuk Pihak Sekolah
a. Dalam meningkatkan kualitas guru dari pihak sekolah sebaiknya memberi pelatihan khusus, agar guru pada saat menerangan materi ke anak muridnya bisa dengan cepat dan dipahami oleh anak tunarungu.
b. Melengkapi sarana dan prasarana disekolah agar kegiatan belajar mengajar tambah efektif. Dapat pula menambah semangat belajar anak-anak SLB baik tunarungu maupun tunagrahita.
2. Untuk Pihak Orang Tua
a. Dapat bekerja sama dengan baik dengan guru agar dapat memantau perkembangan si anak
b. Lebih memperhatikan kembali kesehatan anak tunarungu agar anak dapat menerima ilmu tanpa terganggu oleh apa pun.
58
a. Lebih bersabar dalam menghadapi anak kebutuhan khusus khususnya anak tunarungu
b. Dapat bekerja sama dengan orang tua anak tunarungu agar meningkatkan prestasi anak
4. Untuk Pihak Masyarakat Sekitar SLB Negeri Lebak Bulus
a. Lebih ditingkatkan lagi rasa kepedulian terhadap SLB yang ada lingkungannya.
b. Memunculkan perasaan memiliki SLB tersebut
5. Untuk Pihak Pemerintah
a. Sebaiknya Pemerintah terjun langsung ke SLB tersebut guna melihat anak kebutuhan khusus yang berprestasi dan tidak sungkan untuk memberikan beasiswa kepadanya.
b. Membantu melengkapi sarana dan prasarana yang kurang lengkap.
c. Membentuk tim khusus, guna mengawasi SLB yang didalam terdapat anak berprestasi serta menyediakan wadah untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
59
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Atabik dan Muhdlor, Zuhdi. Kamus Kotemporer Indonesia Arab. Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1999.
Bittner, John R. Broadcasting and Telecommunication, An Introduction. New Jersey: Prentice- Hall, 1985.
Budyatna, Muhammad dan Ganiem, Leila Mona. Teori Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Kencana, 2011.
Depari, Eduard dan MacAndrews , Colin. Peranan Komunikasi Massa dalam Pembangunan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995
Departemen Pendidikan Nasional, Keterampilan Kompensatoris Bagi Anak Dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra) dan Gangguan Pendengaran (Tunarungu), Direktur Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa ,Jakarta : September, 2006
Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1996. DeVito, Joseph. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Proffesional Book, 1997. Effendy, Onong Uchjana. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda karya,
2008.
Effendy, Onong Uchjana. Hubungan Masyarakat Suatu Studi Komunikologis.
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.
Elliot, Barry and Elliot, Jamie. Financial Accounting and Reporting. Prentice Hall (UK) Ltd, 1993.
Fajar, Marhaeni. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktik. Jogjakarta: Graha Ilmu, 2009.
Hidayat, Kontribusi Orang Tua dalam Memberdayakan Anak Luar Biasa. Makalah dalam Seminar nasional Pemberdayaan Kemandirian anak luar Biasa menyongsong Abad XXI. 8 mei 1998. Jurusan KTP FIP IKIP MALANG. Liliweri, Alo. Komunikasi Antarpribadi, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991. Maulana, Deddy. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda karya,
60 Meleong, Lexi. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda karya,
2002.
Miller, Gerald R. & Steinberg, Mark. Between People: A New Analysis of Interpersonal Communication, Michigan State University Science Research Associates. 1975.
Nasuhi dkk, Hamid. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: CeQDA (Center For Quality Development and Assurance) UIN Syarif Hidayatullah , 2007. Al-Qardhawi, Yusuf . Ibadah Dalam Islam Terjemahan Umar Fanami. Surabaya:
PT Biru Ilmu, 1988.
Rahman, Afzalur Tuhan Perlu Disembah: Eksplorasi dan Manfaat Shalat Bagi Hamba. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002.
Rochyadi, Endang. Pengembangan Program Pembelajaran Individual bagi anak Tunagrahita. Jakarta: Depertemen Pendidikan Nasional, 2005.
Rogers, Edna. “Relation Communication Processes and Patern” in Rethinking
Communication Vol.2, 2002.
Sendjaja, S. Djuarsa. Teori Komunikasi. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2005.
Soemitro, Ronny Hanitijo. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: Ghila Indonesia, 1985.
Solicha, Agustyawati. Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN, 2009.
Sugiyo. Komunikasi Antar Pribadi, Semarang: Unnes Press, 2005
Tebba, Sudirman. Nikmatnya Shalat Jamaah. Jakarta: Pustaka irVan, 2008.
Trenholm, Sarah and Jensen, Arthur. Interpersonal Communication. Belmont, California: Wadsworth Publish-ing Company, 1995.
IGAK, Wardhani. Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta : Universitas terbuka, 2007.
Winarsih, Murni. Pendidkan bahas bagi Anak Gangguan pendengaran Dalam Keluarga. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Nasional, 2007.
61 Syah, Muhibbin. Psikologi Kependidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung:
Remaja Rosda Karya, 2000.
JAWABAN DARI BAPAK KASTONO
1. Kapan berdirinya SLB Negeri 1 Lebak Bulus ?
Berdirinya SLB Negeri Bagian A Jakarta adalah dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.2/SK/B/III tanggal 13 Maret 1962 terletak di jalan R.S. Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan. SLB Negeri Bagian A Jakarta dipindahkan dari R.S Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan ke kompleks SLB A Pembina Tingkat Nasional, Jl. Pertanian Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 1368/2007 SLB Negeri A (Persiapan BC) Jakarta menjadi SLB Negeri 1 Jakarta, yang melayani satuan pendidikan TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB. Sejak tahun 2006 SLB Negeri 1 Jakarta oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa ditunjuk sebagai Sentra Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus untuk wilayah DKI Jakarta.
2. Apa maksud dan tujuan didirikannya SLB Negeri 1 Lebak Bulus ?
Maksud dan tujuan dari SLB ini adalah membantu masyarakat yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan nasional
3. Apa visi dan misi SLB Negeri 1 Lebak Bulus ? Visi dan misi SLB 1 Lebak Bulus ada sebagai berikut : Visi
JAWABAN DARI BAPAK KASTONO
Terwujudnya pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus menjadi yang mandiri, beriman, bertaqwa, sehat, cerdas dan terampil dalam masyarakat Inklusif.
Misi
a. Mengurangi dampak ketunaan melalui rehabilitasi, tetapi ringan, keterampilan dan lain-lain.
b. Meningkatkan dan memperluas pengetahuan, wawasan, pengalaman dan sikap percaya diri melalui Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM).
c. Meningkatkan keterampilan dan memperluas peluang kerja melalui kursus dan pelatihandi Bengkel Kerja PLB DKI Jakarta.
Apa saja prestasi anak tuna rungu di SLB ini ?
4. Apa saja fasilitas yang ada di SLB ini, untuk menunjang potensi anak khusus bidang agama ?
Banyak fasilitas yang ada di SLB ini antara lain : LAB IPA, Ruang Keterampilan ( keterampila tata boga, tata busana, otomotif, ICT ) dll
5. Ada berapa jumlah peserta didik di SLB Negeri B-C 1 Lebak Bulus ? Jumlah peserta didik di SLB ini sekitar 220 anak terdiri dari anak tuna rungu 110 dan tunagrahita 110.
JAWABAN DARI BAPAK KASTONO
6. Bagaimana metode pengajaran yang digunakan oleh SLB Negeri 1 Lebak Bulus ?
Metode yang sering digunakan dalam pengajaran di SLB ini adalah metode demonstrasi yang diimbangi metode oral.
1. Apa itu metode demonstrasi ? metode yang memberikan contoh
2. Bagaimana pendapat anda tentang metode demonstrasi yang diterapkan ke dalam ibadah shalat?
Mencoba atau melakukan atau mengerjakan untuk shalat yang diajarkan oleh Pak Samsul
3. Faktor pendukung dan penghambat metode demonstrasi?
Faktor pendukung berupa buku, tulisan dipapan tulis dan video tentang shalat Faktor penghambat ialah surat-surat yang panjang
JAWABAN DARI BAPAK MUHAFID
1. Apakah yang dimaksud dengan metode demonstrasi ?
Metode demonstrasi adalah memeperagakan pembelajaran didepan anak bagi anak tunarungu yang mereka punya gangguan pendengaran dan tidak mampu berbicara maka metode demonstrasi harus ditunjang dengan metode-metode lain tidak cukup di sekedar demo tetapi harus digabungan dengan bahasa oral yaitu bahasa ceramah , kalau biasa orang menerangan, ketika guru mengajarkan tentang tata cara shalat selain demonstrasi, maka metode ceramah, tanya jawab, bercerita, simulasi, peragaan langsung harus digabungkan secara bersama-sama untuk mengajarkan ke anak, ketika anak tidak mampu mendengar maka guru lebih mengutamakan metode yang bisa merangsang visual anak untuk anak paham, karena anak tunarungu lebih mengandalkan penglihatan, ketika seorang guru menerangkan tata-tata cara shalat misalkan, maka guru meggerakan seluruh anggota badannya agar anak mengikutinya, kemudian masalah pendengaran ketika anak tidak mendengar, perlu alat bantu yang lain agar si anak bisa mendengar misalakan menggabungkan dengan komunikasi bahasa isyarat sebab anak tidak bisa mendengar maka guru mengisyaratkan tentang takbir allahu akbar artinya guru menjelaskan allah adalah maha besar begitu caranya itu dinamakan metode demonstrasi. Catatan saya bahwa mengajar anak tunarungu sesungguhnya totalitas metode harus dipakai tidak cukup dengan metode demo saja sebab guru harus berkomunikasi total dengan anak tunarungu jadi tidak hanya menggunakan lisan tapi body,isyarat, bahasa tubuh, mimik, sehingga anak paham apa yang diajarkan.
JAWABAN DARI BAPAK MUHAFID
2. Faktor pendukung dan penghambat metode demonstrasi?
Kalau demo bagus untuk anak tapi ada sisi kelemahan tidak dibantu dengan pendekatan metode lain tidak sampai arti sebuah demo sebab anak tidak paham yang diucapkan oleh guru. Kalau alat bantu biasanya ada yang namanya peraga edukatif yg misalkan alat bantu shalat, itu membantu anak memahami konsep yang di ajarkan guru, memang demo itu memperagakan tapi lebih efektif ada alat bantu yang lain misalkan puzzle, alat bantu gerak atau ICT kemudian dan video.
JAWABAN DARI BAPAK SAMSUL
1. Sudah berapa lama mengajar di SLB Negeri 1 Lebak Bulus ? Saya mengajar di sekolah ini dari 4 juni 2004 sampai 2013
2. Bagaimana cara menjelaskan pelajaran ke anak tuna rungu ?
Cara menjelaskan ke anak tuna rungu hampir sama dengan anak pada umumnya, dengan menggunakan semua metode yang ada, dengan menyesuaikan dengan si anak, contoh : lebih mengutamakan materi yang kongkrit ketimbang yang abstrak.
3. Bentuk komunikasi apa yang di gunakan untuk menyampaikan materi ?
Komunikasi yang digunakan adalah komunikasi yang bisa memahami karakter anak baik verbal maupun non verbal. komunikasi tersebut saling menunjang satu sama lain.
4. Bagaimana cara pendekatan ke anak tuna rungu ?
Cara pendekatan ke anak tunarungu dengan kita bersimpati dan empati dengan begitu kita dapat memahami karakter si anak.
JAWABAN DARI BAPAK SAMSUL
5. Efektifkah komunikasi Interpersonal di gunakan dalam menerangkan materi agama terutama tentang ibadah shalat ?
Sangat efektif, dengan adanya komunikasi interpersonal bisa memahami karakter si anak dan menjelaskan materi ibadah sahalat lebih mudah dapat dipahami.
6. Bagaimana cara meningkat kualitas ibadah shalat di kalangan anak tunarungu ? Membiasakan shalat di sekolah dan di ingatkan terus menerus.
STANDAR KOMPETENSI :
Melaksanakan shalat fardlu dengan tertib
KOMPETENSI DASAR :
Menyerasikan bacaan shalat dengan
gerakannya
TUJUAN
SISWA DAPAT MENYERASIKAN
BACAAN SHOLAT DENGAN
GERAKANNYA DAN DAPAT
MENGAMALKAN DALAM
TATA URUTAN SHALAT
1. Niat
2. Takbiratul ikhram
3. Membaca surah al-fatikhah
4. Rukuk’
5. I’tidal
6. Sujud
7. Duduk antara dua sujud
8. Duduk tasyahud awal
9. Duduk tasyahud akhir
Ketua : Samsul Huda S.Ag
Sekretaris : Umar S.HI
ANGGOTA :
Marfuatun,S.Ag
H.Mansyur, A.MApd
Siti Rahmah,S.PdI
Lili Muflihah, S.PdI
Endang Susilowati, S.Ag
Musringah,S.Pdi
Sumarto, S.Pd
Dra.Rosyita
C.Syahrul, S.Pd
FOTO BERSAMA DENGAN ANAK SMA TUNARUNGU SERTA GURU AGAMA