BAB V PENUTUP
B. Saran
Dalam kesempatan ini, peneliti mengemukakan beberapa saran yang berhubungan dengan metode dakwah ustad Fuadh Naim dalam menghadapi budaya Korean wave pada remaja melalui komunikasi antarbudaya:
1. Penulis berharap semoga media dakwah yang digunakan oleh ustadz Fuadh Naim dapat terus berkembang sehingga dapat terus
menyampaikan pesan dakwah yang dapat diterima dengan mudah, mengajak dan merangkul remaja k-wavers di seluruh Indonesia.
2. Melihat semakin berkembangnya budaya Korean wave maka penting seharusnya remaja memperhatikan apa yang baik dan buruk dari budaya tersebut, maka penting pula ustadz Fuadh Naim untuk terus mengembangkan dan melebarkan dakwah juga pesan dakwah yang disampaikan kepada seluruh remaja di Indonesia.
3. Semoga dengan metode dakwah yang ustadz Fuadh lakukan dapat mencetak da‟i yang dapat berdakwah seperti yang dilakukan oleh ustadz Fuadh Naim dengan mengangkat isu tentang budaya Korean wave.
124 BUKU
A. Kadir Munsyi, 1978, Metode Diskusi Dalam Dakwah, Surabaya: Al-Iklhas
A. Rani Usman, 2003, Etnis Cina, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia Agus, Bustanuddin, 2006, Agama dalam Kehidupan Manusia: Pengantar
Antropologi Agama, Jakarta: PT.Grafindo Persada
Aloliliweri, 2011, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Agama, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar Offset
Arbi, Armawati, 2003, Dakwah dan komunikasi, Ciputat Tangerang: UIN Jakarta Perss
Bachtiar, Wardi, 1997, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Jakarta: Logos Bungin, Burhan, 2007, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan
Diskursus Teknologi Komunikasi dimasyarakat, Jakarta: Kencana Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Besar Bahasa Indoneisa,
Jakarta: Gramedia
Fred E. Jandt, 1998, Intercultural Communication, An Introduction, London:
Sage Publicatio
Gunawan, Imam, 2013, Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik, Jakarta: PT Bumi Aksara
Hasanudin, 1996, Hukum Dakwah, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya
Hurlock, dan Elizabeth B, 1999, Psikologi Perkembangan Remaja, Jakarta:
Erlangga
Ihromi, T O, 2006, Pokok-Pokok Antropologi Budaya, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Keontjardiningrat, 2000, Kebudayaan: Mentalitas dan Kebudayaan, Jakarta:
Rajawali Press
Larry A. Samovar, dll, 2010, Komunikasi Lintas Budaya, Jakarta: Salemba Humanika
Lexy J. Moloeng, 2007, Metode Penulisan Kualitatif , Bandung: PT Rosda Karya
M. Arifin, 1991, Illmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Mulyana, Deddy dan Jalaludin Rakhmat, 2006, Komunikasi Antarbudaya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset
Munir, Dkk, 2009, Metode Dakwah, Jakarta: Kencana
Munir, Muhammad dan Wahyu Ilahi, 2006, Manajemen Dakwah, Jakarta:
Prenada Media
Moh. Ali Aziz, 2004, Ilmu Dakwah, Jakarta: Kencana
Naim, Fuadh, 2019, #PernahTenggelam, Yogyakarta: Underblack Press South Korea National Statistical Office's 19th Population and Housing
Census (2015): "Religion organisations' statistics". Retrieved 20/12/2016
Sugiyono, 2010, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Alfabeta Suparta, Munzier dan Harjani Hefni, 2003, Metode Dakwah, Jakarta:
Prenada Media
Saputra, Wahidin, 2012, Pengantar Ilmu Dakwah, Jakarta: Raja Gerafindo Persada
Tasmara, Toto, 1997, Komunikasi Dakwah, Jakarta: Gaya Media Pratama The Korea Foundation, 2012, Koreana: Seni & Budaya Korea Seoul:
i-ePUB, Inc
Tim Pusat Bahasa Departmen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2011, Jakarta: Balai Pustaka
Yaqub, Ali Mustafa, 2000, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, Pejaten Barat:
Pustaka Firdaus
JURNAL DAN SKRIPSI
Frulyndese K.Simbar, 2016, Jurnal Holistik, Fenomena Konsumsi Budaya Korea Pada Anak Muda Di Kota Manado
Taufiq Halily, 2013, Skripsi, “Metode Dakwah Ustadz Syamsul Arifin Nababan dalam Membina Aqidah Santri Mualaf di Pondok Pesantren Pembinaan Mualaf Annaba Center Tangerang Selatan Banten”, Jakarta: UIN Jakarta
Inayatul Mahmudah, 2015, Skripsi, “Dampak Budaya Korean Pop Terhadap Penggemar Dalam Persfektif Keberfungsian Sosial, studi kasus penggemar Korean pop EXO pada komunitas maupun non komunitas di Yogyakarta”, Jakarta: UIN Jakarta
Desma Rina Mulia Sari, 2018, Skripsi, “Pengaruh Budaya K-Wave (Korean Wave) Terhadap Perubahan Perilaku Remaja di Bandarlampung”, Lampung: Universitas Lampung
Halim Pratama, 2016, Skripsi, “Komunikasi Antarbudaya dan Agama Penganut Kepercayaan Sunda Wiwitan (Studi Etnografi di Desa Cigugur Jawa Barat)”, Jakarta: UIN Jakarta
INTERNET
https://www.instagram.com/fuadhnaim/?hl=id diakses pada 04 Desember 2019 pukul 08.45 WIB
https://id.linkedin.com/in/fuadhnaim diakses pada 27 oktober 2019 pukul 13:57
http://fuadhnaim.com/#/xkwavers diakses pada 03 Desember 2019 pukul 21.34 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Hallyu di akses pada 24 September 2019 pukul 23:04 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Hidangan_Korea diakses pada 04 November 2019 pukul 10.39 WIB
https://kinibisa.com/news/read/perkembangan-korean-wave-di-indonesia diakses pada 04 November 2019 pukul 10:56 WIB
https://www.instagram.com/xkwavers/?hl=id diakses pada 03 Desember 2019 pukul 14.56 WIB
https://www.instagram.com/pernahtenggelam/?hl=id diakses pada 03 Desember 2019 pukul 14.56 WIB
https://open.spotify.com/episode/4M3m8A40w0M2jZAJKbBykM?si=0ej5L ml5TrSAhHLsNDySpQ diakses pada 04 Desember 2019 pukul 09.35
https://www.youtube.com/watch?v=JGhxZSbzhT0 diakses pada 04 Desember 2019 pukul 08.22 WIB
https://tempo-institute.org/berita/persentase-pengguna-media-sosial/ diakses pada 15 Januari 2020pukul 10.16 WIB
https://medium.com/@fiska.nurwantoro/apa-itu-podcast-dan-bagaimana-perkembangannya-di-indonesia-432a3577c9ce diakses pada 16 Januari 2020 pukul 14.01 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Telegram_(aplikasi) diakses pada 20 Januari 2020, pukul 14.14 WIB
LAMPIRAN TRANSKIP WAWANCARA
Nama : Ustadz Fuadh Naim
Hari / Tanggal : 06 Januari 2020 dan 08 Januari 2020 Tempat Wawancara : Via e-mail dan whatsapp
1. Menurut ustadz Fuadh Naim metode apa yang paling mudah dan efektif dalam berdakwah terhadap remaja muslim? Mengapa demikian?
Pertanyaan pertama, terkait metode apa yang paling efektif. Kita harus tau terlebih dahulu sehebat-hebatnya, sepinter-pinternya kita berpuasa pasti lebih rapih, lebih hebat, lebih sempurna puasanya Rosulullah. Sekhusyu-khusyunya kita dalam sholat pasti lebih khusyu lebih bagus, lebih sempurna, sholatnya Rosulullah. Nah tapi kadang kita lupa, berdakwah malah pakai metode sendiri, padahal seunik-uniknya kita berdakwah, sekeren-kerennya kita berdakwah lebih keren, lebih efektif caranya Rosulullah. Nah jadi, kalo metode itu kita ga boleh pake metode lain, harus pakai metodenya Rosulullah. Nah itu beda lagi sama namanya uslub, jadi kalo metode dalam islam itu disebut thoriqoh, kalau uslub baru cara-caranya pendekatannya seperti apa. Tapi kalau metode itu ga boleh harus pakai metodenya Rosulullah SAW. Nah metodenya apa acara yang digunakan Rasulullah? Kita liat misalkan yang pertama, Rosulullah menggunakan metode dimana Tastqif yaitu pembinaan, jadi orang itu, dakwah sebenernya bukan dengan cara ceramah. Ceramah itu kan berarti kita ada di panggung, stage, mimbar dimana satu orang bicara yang lain mendengarkan itu sebenarnya metode yang justru lebih sering digunakan oleh gereja, dari jaman-jaman sebelumnya. Sedangkan dalam islam Rosulullah itu mengajarkan itu justru dengan Tastqif.
Tastqif itu apa? Pembinaan, jadi dengan persahabatan, pergaulan, makanya Rosulullah kan ga punya yang namanya jamaah Rosulullah, ia punyanya sahabat Rosul. Artinya Rosulullah itu mentrasfer ilmunya melalui persahabatan melalui pertemanan, jadi disitu lebih real dakwahnya, karna dakwahnya ga cuman ngomong doang tapi peraktek langsung, kita bilang ketemen kita “yuk kita sholat” kita juga sholatnya rajin ga? Kita bilang ketemen kita “yuk kita sedekah” kitanya sedekah ga? Karna perhabatan itu kan saling cek and re-cek antara satu dengan yang lain. Kita hidup terbuka, kita hidup bareng-bareng dengan temen kita disana transfer ilmunya akan jalan. Itu yang pertama, Tastqif. Jadi
akan keliru kalo pendekatan, ke siapa ajah ya ga cuman anak muda, itu metodenya menggunakan cara yang lain selain Tastqif. Itu akan sulit, itu yang pertama. Yang kedua ada Tafaul Maal‟ummah. Dimana dia dakwah seperti yang kita tau, bersentuhan dengan umat melalui media-media melalui ceramah, melalui aksi, melalui televisi, film dan lain-lain itu semua juga perlu. Ya jadi perlu juga cuman hanya sebagai syiar, tapi tidak akan mungkin lebih seefektif dari pada metode Tastqif. Tapi kalo secara mudah-mudahan yang kedua, Tafaul Maal‟ummah kan tanggung jawabnya lebih rendah ya, yang penting sampaikan di buat bagus orang suka, happy nonton, selesai. Secara tanggung jawab lebih rendah dibandingkan tanggung jawab, misalkan Taskif, diamana bener-bener unlimited, kita ga tau kapan berakhirnya, ya pokoknya terus ajah, terus menerus ga tau kapan selesainya, ya ga tau kapan dapetnya, ya kalo ta‟lim ya atau cara yang kedua tadi Tafaul Mal‟umah itukan hanya buat event, kumpul, atur seragam, kue, pembicara menyampaikan, pulang, selesai. Ya jadi gitu, tetap butuh, cuman memang bukan yang utama. Ya nanti metodenya akan terus berlanjut ya, tapi intinya metode itu ada banyak, tapi yang ini yang saya bahas tahap awal yang dibutuhkan saat ini, ya kurang lebih seperti itu.
2. Menurut ustadz Fuadh Naim media apa yang paling mudah dan efektif dalam berdakwah terhadap remaja muslim? Mengapa demikian?
Nah terkait media, ini baru masuk ranah uslub, kalo uslub itu dipersilahkan kita sekreatif mungkin mengemasnya, menyesuaikan zaman, range umur target dakwah kita atau biasa disebut mad‟u dakwah itu bisa disesuaikan bebas asal tidak melanggar syariah. Media seperti apa? Ya media yang sesuai dengan zamannya, akalu sekarang saya bilang medianya bukan lagi media tulis, walaupun itu masih dibutuhkan hanya sekedar supporting. Kan zaman ke-zaman berubah tuh, ada zaman tulis ya, seperti Koran, novel, buku dan sebagai macamnya, kemudian kesini mulai radio, mulai televise, sekarang televise mulai ditinggalkan, mulailah youtube, media social dan seterusnya. Ya jadi, kalo mau di bilang yang paling bagus pendekatannya melalui media apa? Itu, media social, itu yang paling kenceng, yang kedua media audio visual seperti Youtube, yang ketiga podcast. Itu tiga media terkuat yang hari ini bisa kita pakai. Media lain untuk anak muda itu udah ditinggalkan. TV anak muda sudah meninggalkan, udah ga nonton lagi, terus apalagi, media seperti bacaan, anak muda sudah jarang membaca. Sekali lagi saya bukan bicara media yang benar ya, maksudnya benar tuh gini, kalo mau media yang benar ya buku, buku dibaca ya kitab para ulama itu udah benar, itu lewat buku, lebih bagus lagi dihafal, dipelajari, punya guru.
Itu kan metode yang bener. Tapi kan kalau mau uslub yang orang
tertarik mau ngaji pertama kali kan tidak dengan buku yang sangat tebal dengan bahasa arab gundul dan sebagainya, butuh pendekatan styping point, styping tone ajah, orang tu tertarik apasih? Akhirnya mau dateng ke kajian, nah itu menggunakan media social, kemudian yang kedua adalah Youtube, termasuk platform audio visual, film juga masuk, bagus, kemudian adalah media audio yaitu dalam bentuk podcast. Tiga media itu sekarang sedang berkembang. Muslim yang memang berniat untuk berdakwah, khusus anak muda harus punya tiga media tersebut. Media social juga harus tau bahwa media social itu berkembang, tidak semuanya bagus untuk dipakai dakwah hari ini, kemarin twitter, facebook. Sekarang sudah tidak lagi. Sekarang sudah menggunakan instagram, atau kedepan ada yang lain lagi,kita harus beralih lagi, jadi jangan merasa sudah berdakwah padahal kita tuh hanya disitu-situ ajah, karna sayang banget, contohnya sekarang banyak banget yang merasa sudah berdakwah padahal dia aktif di twitter, ya betul itu juga ada pahalanya dimana Allah tapi ga akan semasif instagram hari ini, karna kita harus ngikutin zaman. Jadi twitter tuh memang bagus, orang masih ada yang make, cuman ketinggalan, facebook juga sama. Asik sendiri akhirnya, seolah-olah ini ga dakwah padahal sebenernya ga ada yang melihat juga karna udah ditinggalkan, Instagram rasanya sekarang, Youtube juga lebih keren lagi kalau temen-temen bisa. Itu sih terkait media-media yang bisa dimanfaatin, film dan sebagainya, wallahu‟alam.
Menyambung dengan pertanyaan tadi juga, salah satu bentuk metode Tastqif ya, yang baik adalah dengan mempunyai guru. Jadi, teman itu penting. Pertemanan itu, artinya disini adalah sikap kita berteman. Tapi teman seperti apa adalah teman yang sholeh, dalam metode yang baik, misalkan kita ada halaqoh, ada liqo‟, ada kemudian talaqqi ya, itu akan lebih baik untuk mentransfer ilmu, cuman tadi konsepnya meskipun guru, kita pendekatanya seperti seorang sahabat, akhun wa abun, seperti seorang bapak terus seperti seorang kakak gitu, jadi tetep konsepnya bukan main ngalur kidul gitu juga, tetep belajar, berilmu tapi dalam bersahabat.
3. Apa saja hal positif dari budaya Korean wave yang tentunya remaja muslim harus perhatikan dengan baik sehingga bisa memahami dan mempelajarinya mana yang dapat ditiru dan tidak?
Jadi menurut saya tuh keliru kalau temen-temen itu mau mempelajari Korean wave untuk tau mana salah dan benarnya, yang bener mempelajari islam. Karna standar kita tu islam, dimana kita tau mana yang salah dan yang benar kalau kita ga belajar islam, jadi salah.
Teman-temen harusnya tuh apa? Belajar islam, dari situ temen-temen punya meteran atau garis terus, yang bisa buat mengukur mana yang
kebablasan mana yang engga. Jadi untuk tau mana yang salah dan yang engga dari dunia ini, jangan belajar dunia. Karna dunia itu kan terlalu luas, belajar agama karna panduannya jelas, ada kitabnya, ada panduannya, ada pembimbingnya Rosulullah, dan kemudian ada penurusnya yaitu para ulama, nah kita belajar itu, nanti ngeliat apa ajah? Ga cuman Korean wave, ngeliat apa ajh di dunia ini kita jadi ngerti, oh ini salah ni, ini ga bener ni, kenapa? karna ga sesuai dengan islam.jadi islam lah standar kita. Ga usah belajar semua hal belajar ajah rumusnya nanti hal yang salah kita jadi tau sendiri yang mana yang tidak sesuai dengan agama kita.
4. Bagaimana pandangan ustadz Fuadh Naim mengenai masyarakat korea terhadap budaya LGBT, pergaulan bebas, ideal kehidupan bahgia di dunia, sesuatu barang yang tidak diperbolehkan, dan sistem kepercayaan?
LGBT
Masyarakat Korea masih tabu dengan LGBT, hanya saja faktor nya bukan agama, td tapi budaya. Budaya Korea secara umum belum menerima lgbt. Maka sanksi nya baru sanksi sosial. Ini pun sudah mulai pudar, karena generasi muda nya sekarang mulai menerima kaum lgbt.
Pergaulan bebas
Korea sudah terbuka soal ini. Nikah, kumpul kebo, pacaran, sex bebas, club malam dll semua itu biasa. Bahkan bagi orang tua sekalipun
Sistem kepercayaan
Di Korea tidak ada agama. Di KTP juga tidak ada kolom agama.
Agama adalah pribadi, tidak diurus oleh negara. 50% lebih orang korea atheist. Sisanya beragama namun tidak benar benar beribadah. Hanya ikut orang tua.
5. Bagaimana pandangan ustadz Fuadh Naim mengenai budaya ramaja muslim di indonesia tentang budaya LGBT, pergaulan bebas, ideal kehidupan bahgia di dunia, sesuatu barang yang diharamkan, dan ketauhidan kaitannya terhadap budaya negatif yang sudah dijelaskan ustadz di berbagai media dakwah?
Anak muda Indonesia sudah hampir kayak Korea. Bebas. Hanya saja masih bersembunyi. Kenapa? Karena ada orang orang yang keras menyuarakan anti pergaulan bebas dll. Para pendakwah. Meskipun semakin hari semakin ditekan dakwah ini oleh orang-orang liberal. Hari dimana semua orang berhenti berdakwah, maka Indonesia, Korea, Amerika, sama saja. Bedanya, mereka bebas, mandiri dan maju. Kita?
6. Bagaimana seharusnya remaja muslim bisa bertahan dan tidak terbawa oleh budaya negatif dari Korean wave?
Itulah kenapa saya, dan semua pemuda muslim wajib tetap bersuara.
Menghambat arus besar yang mengancam generasi muda dan anak anak kita. Masuk ke arus nya sendiri. Arus Islam Harus ada usaha dan kesadaran dari diri sendiri untuk tidak lagi mengkonsumsi segala pemikiran dari luar islam. Dan paksakan diri untuk memperdalam islam.
Cinta itu menyusul. Setelah kenal. Kenalan dulu aja. Kenalan dengan Islam. Awal kita terkena Wave negara lain juga karena kenalan dulu.
Lama lama baru cinta.
FOTO OBSERVASI DAN WAWANCARA PENELITIAN 1. Foto Profil Ustadz Fuadh Naim
2. Screenshot Percakapan dan Permohonan Wawancara
3. Kajian Konser AADK (Ada Apa Dengan Korea) oleh Ustadz Fuadh Naim.
4. Friendsign pada media buku #PernahTenggelam
5. Poster isi pesan dakwah ustadz Fuadh Naim pada Instagram
6. Podcast BABO RADIO oleh ustadz Fuadh Naim
7. Buku #PernahTenggelam
8. Materi unsur budaya hallyusinasi