KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DAN AGAMA
(Studi Kasus Ustadz Fuadh Naim Pada Komunitas k-wavers) Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos)
Oleh :
SHOFIA NURWAHIDAH NIM: 11150510000076
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA TAHUN 2020 M / 1441 H
iii Shofia Nurwahidah (11150510000076)
Dai Komunitas Remaja Dalam Menghadapi Budaya Korean Wave Melalui Pendekatan Komunikasi Antarbudaya dan Agama (Studi Kasus Ustadz Fuadh Naim Pada Komunitas k-wavers)
Korean wave adalah fenomena mengalirnya budaya populer Korea Selatan termasuk industry kreatif, fashion dan kecantikan, masakan dan gaya hidup mereka ke dunia. Budaya K-wave membawa dampak positif maupun negetif yang mempengaruhi remaja di Indonesia. Dakwah hadir dengan mengajak kepada kebaikan sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis. Disinilah perlu adanya metode dakwah yang dimiliki seorang da’i untuk menyampaikan pesan dakwah terhadap mad’unya. Begitulah yang ustdaz Fuadh Naim lakukan dalam dakwahnya memiliki metode dan materi dakwah yang disampaikan kepada mad’unya yaitu komunitas remaja muslim yang mencintai budaya K-wave.
Dari masalah tersebut maka penulis memaparkan pertanyaan apa saja unsur budaya K-wave pada dakwah yang disamaikan ustadz Fuadh Naim melalui pendekatan komunikasi antarbudaya dan agama? Apa saja metode, materi dan media dakwah yang digunakan ustadz Fuadh Naim dalam menghadapi unsur budaya K-wave pada komunitas remaja k-wavers?
Pendekatan teori yang digunakan dalam penelitian ini melalui komunikasi antarbudaya dan agama. Yaitu bagaimana cara pandang agama Islam melihat budaya K-wave.
Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif. Dalam memperoleh data dilakukan dengan wawancara dan observasi langsung pada kagiatan dakwah ustadz Fuadh dan didukung dengan data melalui media dakwah yang digunakan ustadz Fuadh.
Temuan hasil penelitian bahwa unsur budaya negatif yang disampaikan ustadz Fuadh dalam komunikasi antarbudaya dan agama adalah adanya Kampanye LGBT, pergaulan bebas, pemakluman barang haram, standar kebahagiaan hidup di dunia,penyimpangan aqidah, hallyusinasi, kebermanfaatan harta dan barang. Sedangkan positifnya adalah tepat waktu, kerja keras, dan bahasa yang digunakan untuk berdakwah. Hal ini disampaikan melalui metode dakwah bil hikmah, mauidzatul hasanah, dan mujadalah dengan materi dakwah yang mengandung unsur budaya K-wave melalui berbagai media yaitu buku
#PernahTenggelam, Instagram, Youtube, Podcast, Telegram dan kajian konser AADK (Ada Apa Dengan Korea) yang sesuai pada komunitas remaja k-wavers.
Kata kunci: Metode Dakwah, Budaya, Komunikasi Antarbudaya dan Agama, Korean Wave (K-Wave), Remaja.
iv
Bismillahirrahmanirrahiim, Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,
Alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji bagi Allah atas segala limpahan rahmat, kasih sayang, dan nikmat jasmani maupun rohani yang tak pernah luntur diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Shalawat serta salam tak lupa untuk selalu kita curahkan ke Nabi Muhammad SAW yang telah membawa Islam dengan segala perjuangannya, semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat syafa’at di hari kiamat kelak.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak sekali mendapatkan pelajaran yang tentunya akan berguna bagi masa depan. Skripsi dengan judul “Metode Dakwah Ustadz Fuadh Naim Dalam Menghadapi Budaya Korean Wave Pada Remaja Melalui Pendekatan Komunikasi Antarbudaya dan Agama”. Bagi penulis bukanlah sekedar syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial, namun lebih dari itu, penelitian ini adalah bukti dari pembelajaran yang sudah penulis dapat di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak, sehingga pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa hormat penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar- besarnya bagi semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun materil baik langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai, terutama kepada yang saya hormati:
v
2. Dr. Armawati Arbi, M.Si sebagai Kepala Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sekaligus Dosen Pembimbing yang telah sabar dalam membimbing, memotivasi penulis serta meluangkan waktu, tenaga, pikiran di sela-sela kesibukannya.
3. Dr. H. Edi Amin, MA. Sebagai Sekertaris Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama menjalani proses perkuliahan.
5. Seluruh staff perpustakan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu komunikasi dan staff perpustakaan Umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan kemudahan penulis untuk mendapatkan berbagai bahan dan refrensi untuk skripsi ini.
6. Ustadz Fuadh Naim sebagai subjek penelitian penulis, terima kasih telah memberikan izin, berbagi ilmu dan waktu di sela-sela kesibukannya sehingga penelitian ini dapat terselesaikan.
7. Ka Vira sebagai istri Ustadz Fuadh Naim terimakasih sudah memberikan informasi terkait data yang penulis butuhkan.
8. Kedua orang tua penulis, Almarhum ayahanda Saeful Mubarok penulis berharap ia ditempatkan di taman syurga dan bisa bahagia melihat anak pertamanya telah menyelesaikan tugas ini, dan ibunda Dra. Hj, Djuariah yang dengan limpahan cintanya tidak pernah lelah mendoakan, menyemangati, dan mengasihi dalam bentuk moril
vi
selalu memberikan semangat dan doa. Dengan kekuatan cinta dan doa mereka memberikan banyak kekuatan bagi penulis.
9. Mutia, Nunu, Dini, Sonya, Vina, Shifa, Julia, Eka dan Aisyah teman seperkuliahan Khilaf Production yang telah memberikan semangat dan masukan. Terima kasih telah selalu ada di sisi penulis bagaimanapun keadaan penulis dan terimakasih untuk waktu dan tenaga kalian menemani hari- hari perkuliahan penulis dengan penuh kebahagiaan.
10. Teman-teman di Pondok Pesantren Modern An-Najah Nunu, Mutia, Afroh, Ila, Vivi, Aisyah, Widi, Dillah, Ela, Eli dan seluruh angkatan Pondok Pesantren Modern An-Najah 2015 terimakasih untuk saling mensupport hingga saat ini.
11. Terima kasih kepada rekan seperbimbingan dosen Nurbaeti, juga Dini yang telah memberikan motivasi dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini sampai akhir.
12. Seluruh teman-teman seperjuangan KPI 2015, terima kasih sudah menjadi penyemangat dalam perkuliahan penulis.
13. Kepada Seluruh rekan RDK FM 2015, kakak-kakak, dan adik-adik RDK FM, yang sudah memberikan wadah bagi penulis untuk mengembangkan minat dan bakat selama di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
14. Teman-teman komunitas content creator x-kwavers dan ka Irma sebagai ketua komunitas telah memberikan kesempatan penulis bergabung dan belajar mengenai k-wavers sebagai bagian dari data penulisan skripsi.
vii
Demikian ucapan terimakasih yang dapat penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang membantu, untuk pihak yang membantu namun tidak disebutkan dalam skripsi ini, itu tidak mengurangi rasa terima kasih sedalam-dalamya. Semoga kalian selalu diberi kemudahan untuk meraih kesuksesan dari Allah SWT. Akhir kata penulis mengucapkan Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Bekasi, 17 Februari 2020
Shofia Nurwahidah, NIM. 11150510000076
viii
L1EMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI... ix
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan Masalah ... 8
C. Rumusan Masalah ... 8
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
E. Kajian terdahulu ... 9
F. Metode Penelitian ... 12
G. Sistematika penulisan ... 16
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian dakwah dan Dai ... 18
B. Macam-macam Metode Dakwah ... 23
C. Pengertian Komunitas ... 30
D. Budaya dan Unsur-unsur Budaya ... 34
E. Komunikasi Antarbudaya dan Agama ... 36
F. Pengertian Remaja ... 43
ix
A. Biografi Ustad Fuadh Naim ... 48 B. Ustad Fuadh dan Komunitas k-wavers ... 51 C. Budaya Korean Wave ... 55 BAB IV TEMUAN METODE DAN MEDIA DAKWAH
USTADZ FUADH NAIM DALAM
MENGHADAPI BUDAYA KOREAN WAVE
A. Metode Dakwah Ustad Fuadh Naim ... 62 B. Media Dakwah Yang Digunakan Ustadz Fuadh
Naim ... 67 BAB VI METODE, MATERI DAN MEDIA DAKWAH
USTADZ FUADH NAIM DALAM
MENGHADAPI BUDAYA KOREAN WAVE PADA KOMUNITAS REMAJA K-WAVERS MELALUI PENDEKATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DAN AGAMA
A. Budaya Korean Wave Dalam Dakwah Yang Disampaikan Ustad Fuadh Naim Melalui Pendekatan Komunikasi Antarbudaya Dan Agama a. Unsur-unsur Kebudayaan Korean Wave ... 78 b. Budaya Negatif Dari Korean Wave Yang
Dihadapi Komunitas Remaja k-wavers Dalam Dakwah Ustadz Fuadh Naim ... 82
x
Dakwah Ustadz Fuadh Naim ... 93
B. Metode Materi, dan Media Dakwah Ustad Fuadh Naim dalam Menghadapi Budaya Korean Wave Pada Komunitas Remaja k-wavers... 102
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 121
B. Saran ... 122
DAFTAR PUSTAKA ... 124
LAMPIRAN... 128
xi
Gambar 1.1 Skema Penelitian ... 17
Gambar 1.2 Bagan Unsur-unsur Dakwah Dalam Penelitian ... 46
Gambar 1.3 Bagan Kerangka Konsep Metode Dakwah ... 47
Gambar 1.4 Foto Profil Ustadz Fuadh Naim ... 48
Gambar 1.5 Biografi ustadz Fuadh Dalam Web ... 51
Gambar 1.6 Kegiatan AADK Concert ... 68
Gambar 1.7 AADK Concert yang diadakan di UIN Jakarta ... 68
Gambar 1.8 Poster AADK Concert ... 69
Gambar 1.9 Konten Video Oleh Ustadz Fuadh Naim... 71
Gambar 2.1 Konten Poster Oleh Ustadz Fuadh Naim Pada Instagram ... 71
Gambar 2.2 Akun Instagram X-Kwavers ... 72
Gambar 2.3 Akun Instagram Buku #PernahTenggelam ... 72
Gambar 2.4 Buku #PernahTenggelam ... 73
Gambar 2.5 Telegram Fuadh Naim Channel ... 74
Gambar 2.6 Podcast BABO RADIO oleh Fuadh Naim ... 75
Gambar 2.7 Sorotan Instagram Q&A Ustadz Fuadh Naim ... 76
Gambar 2.8 Q&A Ustadz Fuadh Naim di Iinstagram ... 76
Gambar 2.9 Q&A Ustadz Fuadh Naim di Iinstagram ... 77
Gambar 3.1 Dakwah Ustadz Fuadh Naim Di Youtube ... 77
Gambar 3.2 Bagan Menghadapi Budaya Korean Wave ... 98
xii
Table 1.1 Perbedaan dan Persamaan Temuan Penelitian ... 11 Table 1.2 Perbedaan Budaya Positif dan Budaya Negatif Korean
Wave ... 95 Table 1.3 Pandangan Korean Wave ... 96 Table 1.4 Metode Materi dan Media Dakwah Ustadz Fuadh
Naim ... 102 Table 1.5 Unsur Budaya Korean Wave Pada Dakwah Ustadz
Fuadh Naim Melalui Komunikasi Antarbudaya dan Agama ... 114 Table 1.6 Metode, Materi dan Media Dakwah Ustadz Fuadh
Naim dalam menghadapi budaya Korean wave ... 117
1
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Tugas pokok dari seorang da‟i adalah meneruskan tugas Rasul Muhammad SAW, yang berarti menyampaikan ajaran-ajaran Allah yang termuat dalam Al-Qur‟an dan Al-Sunnah. Sedangkan fungsi seorang da‟i adalah meluruskan aqidah, memberi pencerahan dan memotivasi umat untuk beribadah dengan baik dan benar, amar ma‟ruf nahi munkar, menolak kebudayaan yang merusak, atau mampu mengubah tradisi dan budaya yang tidak sesuai dengan syari‟at.1 Untuk itu, melakukan aktifitas dakwah seorang da‟i harus menggunakan metode, materi dan media dalam berdakwah. Metode dakwah merupakan cara-cara tertentu yang dilakukan seorang da‟i kepada mad‟u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.2 Unsur dakwah yaitu Metode, materi dan media dakwah menjadi hal yang penting untuk digunakan dalam berdakwah sebagaimana seorang da‟i akan menggunakan unsur tersebut yang sesuai kepada mad‟u. Dengan menggunakan ketiga unsur dakwah yang tepat maka akan dengan mudah pula mad‟u menerima pesan, mengajak dan memberikan arahan yang baik kepada mad‟u nya.
Ustadz Fuadh Naim sebagai seorang da‟i menyampaikan materi dakwah atau pesan dakwah yang jarang dibahas oleh ustadz lainnya yaitu Korean wave (hallyu). Dengan materi dakwah tersebut ustadz Fuadh Naim memiliki metode dakwah yang sesuai dengan mad‟u nya yaitu para penikmat dari Korean wave (hallyu) yang biasa
1 Enjang dan Aliyudin, 2009, Dasar-dasar Ilmu Dakwah, (Bandung: Tim Widya Padjajaran) h. 73-74
2 Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama) Cet. 1, h.43
disebut dengan k-wavers khususnya komunitas remaja muslim k- wavers di Indonesia yang menjadi penikmat dan mencintai Korean wave.3 Ustad Fuadh Naim merupakan pecinta Korean wave atau bisa disebut sebagai k-waver, namun itu terjadi pada tahun 2007 hingga sekitar tahun 2016. Seiring dengan berjalannya waktu dan mempelajari agama Islam ia memahami adanya budaya negaif yang hadir pada Korean wave dan berhenti mencintainya. Mengetahui bahwa seharusnya seorang muslim tidak terbawa arus oleh beberapa budaya dari Korean wave, hal ini yang mendorongnya untuk melakukan beberapa kegiatan dakwah yang berkaitan dengan Korean wave.4
Fenomena demam Korea atau yang biasa disebut Hallyu (Korean wave) bersumber pada negara Korea Selatan yang telah berhasil menyihir dunia dengan buadayanya dan menghadirkan warna yang berbeda dari yang selama ini disuguhkan oleh Bangsa Barat. Pada hakikatnya Hallyu merupakan fenomena demam Korea yang disebarkan melalui Korean Pop Culture keseluruh penjuru dunia melalui media massa, jaringan internet dan televisi. Drama korea, musik korea, gaya hidup dan semua serba serbi tentang Korea kini menjadi suatu informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat akibat maraknya Korean wave. Tidak bisa dipungkiri, cukup banyak orang mulai dari anak kecil, remaja, bahkan orang dewasa menjadi penikmat dari produk Korean wave tersebut.5
3 Observasi pada tanggal 1 September 2019 kajian oleh ustadz Fuadh Naim
“Konser ADK (Ada Apa Dengan Korea)”
4 Observasi pada tanggal 1 September 2019 kajian oleh ustadz Fuadh Naim
“Konser ADK (Ada Apa Dengan Korea)”
5 The Korea Foundation, Koreana: Seni & Budaya Korea (Seoul: i-ePUB, Inc., 2012)
Adanya budaya Korean wave akan membawa banyak pengaruh diantaranya positif maupun negatif. Terlepas pada Korean wave budaya masyarakat korea banyak yang dapat kita pelajari dari mereka, seperti salah satunya budaya yang biasa disebut “palli” atau
“cepat” budaya ini mempengaruhi masyarakat Korea untuk sangat menghargai waktu, tidak ada kata terlambat bagi mereka.6 Mereka sangat pekerja keras, hal ini pula yang dapat membangun produk dari Korean wave seperti film atau drama berkembang dengan cepat.
Banyak dari drama dan film memberikan beberapa adegan yang menggambarkan bahwa mereka memiliki semangat kerja keras yang tinggi, Pengaruh positif datang ketika remaja dapat menciptakan suatu hal yang kreatif dibidang musik seperti menjadi composer, selain itu dapat mengenal kebudayaan Negara lain serta mempelajari budaya Korea adalah bentuk dampak positif dari fenomena konsumsi budaya pop Korea ini. Cara persaingan dalam sekolah yang positif dengan kualitas belajar sempurna yang seringkali ditunjukkan dalam adegan-adegan drama Korea juga merupakan dampak positif yang dapat ditiru oleh remaja k-wavers, sehingga tidak hanya prestasi non- akademik tapi juga prestasi akademik berkualitas dapat tercapai, budaya positif inilah yang ditampilkan dalam produk Korean Wave.7
Namun disamping itu, produk yang telah diciptakan oleh Korean wave terdapat beberapa pengaruh negatif khususnya bagi remaja k-wavers di Indonesia, diantaranya sikap yang kurang menghargai karya cipta dalam negeri seperti film, musik dan lain- lain, kemudian adanya sifat ketergantungan yang mengharuskan para
6 https://www.instagram.com/fuadhnaim/?hl=id diakses pada 04 Desember 2019 pukul 08.45 WIB
7 Frulyndese K.Simbar, Jurnal Holistik Fenomena Konsumsi Budaya Korea Pada Anak Muda Di Kota Manado 2016
pecinta budaya pop Korea untuk memiliki setiap produk Korea yang ada. Juga ketika menonton drama Korea akan ada waktu terbuang, yang seharusnya dapat digunakan untuk melakukan aktivias lain seperti belajar, karena dapat diketahui saat menonton drama Korea yang berjumlah enam belas episode dan berdurasi satu jam makan sebagai penggemarnya akan sangat merasa rugi kalau tidak langsung menontonnya.8 Selain budaya negatif tersebut, dalam pesan dakwah yang disampaikan ustadz Fuadh Naim menjelaskan beberapa budaya negatif dari Korean wave yaitu kampanye LGBT, pergaulan bebas, pemakluman barang haram, standar kebahagiaan di dunia, dan penyimpangan aqidah.9
Disinilah peran dakwah hadir untuk mengingatkan dan membenarkan sesuatu yang salah. Dakwah hadir sebagai pengingat mana yang baik dan buruk.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Imron: 104)
Dalam pesan dakwah yang disampaikan ustadz Fuadh Naim, ia mengajak dan menyampaikan untuk lebih selektif terhadap arus
8 Frulyndese K.Simbar, Jurnal Holistik Fenomena Konsumsi Budaya Korea Pada Anak Muda Di Kota Manado 2016
9 Fuadh Naim, #PernahTenggelam, (Yogyakarta: Underblack Press, 2019) h. 114- 115
negatif dari Korean wave. Beliau juga mengingatkan bagaimana manusia hidup di dunia, bukan untuk mencintai para idol dan menjadi seorang penggemar yang berlebihan, sibuk menonton Korean Drama, bahkan meniru budaya dan gaya hidup yang jelas berbeda dengan Islam.10 melalui berbagai macam metode dakwah salah satunya dengan mengadakan kajian konser AADK (Ada Apa Dengan Korea).11 Dakwah yang telah dilakukan ustad Fuadh Naim berhasil untuk mengajak dan mengingatkan untuk tidak terbawa arus negatif dari Korean wave. Terbukti, banyak dari muslimah remaja berhijrah dan meninggalkan Korean wave. Mereka membuat akun
@xk_wavers yang pengikutnya sudah mencapai kurang lebih 46.000 followers.12 Banyak yang tertarik untuk datang ke kajian yang diadakan ustadz Fuadh Naim dan mendapat respon positif dari mereka. Tak sedikit pula yang akhirnya sadar dan meninggalkan hal yang berkaitan dengan Korean wave atau Hallyu. 13
Remaja adalah periode masa terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis, maupun intelektual. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan berani menanggung resiko atas tindakan yang diambil.14 Karena remaja mudah meniru dan masih mencari identitas diri maka akan dengan mudah sesuatu yang mereka lihat, ketahui bahkan sampai mencintai masuk kedalam pemikiran dan prilaku mereka. Begitu pula dengan
10 Fuadh Naim, #PernahTenggelam, (Yogyakarta: Underblack Press, 2019) h.110- 135
11 Observasi pada tanggal 1 September 2019 kajian oleh ustadz Fuadh Naim
“Konser AADK (Ada Apa Dengan Korea)”
12 https://www.instagram.com/xkwavers/?hl=id diakses pada 25 Oktober 2019 pukul 12.34 WIB
13 https://www.instagram.com/fuadhnaim/?hl=id diakses pada 25 Oktober 2019 pukul 12.34 WIB
14 Hurlock, Elizabeth B. 1999. Psikologi Perkembangan Remaja. (Jakarta.
Erlangga). hal, 206
adanya budaya Korean wave bagi remaja muslim di Indonesia sangat mempengaruhi dan perlu di perhatikan mana budaya negatif yang tidak perlu ditiru atau budaya positif yang bisa ditiru dan dipelajari.
Terlebih bagi seorang remaja muslim di Indonesia. Namun remaja juga perlu banyak mempelajari banyak hal tapi tetap sesuai dengan ketentuan yang ada.
Belajar budaya orang lain, bahkan mengenal dan mempelajari dianjurkan selama mendukung budaya kita sendiri tentunya budaya yang tidak melenceng dari sunnah dan Al-Qur‟an. Tentu selain mempelajarinya kita harus memperhatikan dan mencermati sehingga tidak terjadi adanya culture shock atau gegar budaya sehingga tidak melupan budaya sendiri.15 Sedangkan budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi kegenerasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur, termasuk adat istiadat, bahasa, pakaian dan suatu pola hidup menyeluruh yang bersifat kompleks, abstark dan luas.16 Koentjaraningrat menyebutkan ada tujuh unsur kebudayaan yaitu kesenian, sistem teknologi dan peralatan, sistem organisasi masyarakat, bahasa, sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi, sistem pengetahuan dan sistem religi.17
Ketika seseorang terbuka terhadap budaya orang lain, seorang muslim seharusnya dapat memilih dan tidak akan mengambil semua yang ada dalam budayanya baik yang haq maupun yang batil. Ia hanya akan mengambil hal-hal yang sesuai dengan riwayat yang
15 Armawati Arbi, Dakwah dan komunikasi, (Ciputat Tangerang: UIN Jakarta Perss, 2003) hal.180-181
16 Muhammad Reyvaldi, Aspek Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (Makalah yang disajikan pada Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar di Universitas Tadulako. Palu, 2014), h.8
17 Keontjardiningrat, Kebudayaan: Mentalitas dan Kebudayaan. Jakarta.
Rajawali Press.hal, 46
shahih, akal sehat,dan prinsip-prinsip ilmiah. Sedangkan yang buruk akan ia tinggalkan.18 Dengan demikian, pemikiran remaja yang sudah banyak terpengaruh dengan budaya luar termasuk diantaranya budaya Korean wave tentu perlu diiringi dengan memahami mana yang baik dan buruk dari adayanya budaya Korean wave.
Berbagai paparan budaya yang muncul dari Korean wave kaitannya dengan komunikasi antarbudaya dan agama adalah bagaimana agama menjadi cara pandang budaya yang muncul.
Agama sebagai cara pandang menurut Haviland dan rekannya adalah cara pandang erat kaitannya dengan kepercayaan dan praktik agama.
Dengan kata lain setiap masyarakat memilki kepercayaan atau agama. Karena agama merupakan hal penting dari budaya.19 Dengan melihat cara pandang yang hadir dalam budaya Korean wave akan memberikan beberapa pemahaman yang seusai dengan agama yang dianut seseorang. Dalam kajian ini yaitu bagaimana cara pandang agama Islam yang mayoritas di Indonesia sedangkan di Korea Selatan yang mayoritas tidak memeluk agama. Hal ini Sesuai dengan pesan dakwah yang disampaikan ustadz Fuadh Naim.
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dakwah yang dilalukan ustadz Fuadh Naim dengan berbagai metode, materi dan media dakwah yang berkaitan dengan Korean wave dapat mengingatkan dan mengajak mad‟u atau remaja k-wavers muslim di Indonesia untuk tidak terbawa oleh arus negatif dari Korean Wave.
Fenomena ini juga dapat dilihat melalui pendekatan komunikasi antarbudaya dan Agama. Kemudian penulis tertarik melakukan
18 Armawati Arbi, Dakwah dan komunikasi, (Ciputat Tangerang: UIN Jakarta Perss) hal.180-181
19 Larry A. Samovar, dll, Komunikasi Lintas Budaya, (Jakarta: Salemba Humanika) h. 121
penelitian mengenai “Dai Komunitas Remaja Dalam Menghadapi Budaya Korean Wave Melalui Pendekatan Komunikasi Anatrbudaya dan Agama (Studi Kasus Ustadz Fuadh Naim Pada Komunitas k-wavers)”.
B. Batasan Masalah
Berdasarkan peruraian yang ada, amat banyak masalah yang dapat dibahas, namun dalam pemilihan skripsi penulis membatasi hanya pada bagaimana menghadapi unsur budaya dari Korean wave baik negatif maupun positif yang disampaikan ustadz Fuadh Naim dalam dakwahnya melalui metode, materi dan media dakwah pada remaja k-wavers di Indonesia melalui pendekatan komunikasi antarbudaya dan agama.
C. Rumusan Masalah
Dari pembatasan masalah tersebut, maka penulis merumuskan masalah pada:
1. Apa saja unsur budaya Korean wave pada dakwah yang disampaikan ustadz Fuadh Naim melalui pendekatan komunikasi antarbudaya dan agama?
2. Apa saja metode, materi dan media dakwah yang digunakan ustadz Fuadh Naim dalam menghadapi unsur budaya Korean wave pada komunitas remaja k-wavers?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui unsur budaya Korean wave pada dakwah yang disampaikan ustadz Fuadh Naim melalui pendekatan komunikasi antarbudaya dan agama.
b. Untuk mengetahui metode, materi dan media dakwah yang digunakan ustadz Fuadh Naim dalam menghadapi unsur budaya Korean wave pada komunitas remaja k-wavers.
2. Manfaat Penelitian a. Segi Akademis
Penulisan skripsi ini diharapkan dapat berguna dari sisi akademis, yaitu guna menambah khazanah keilmuan, terutama bidang dakwah.
b. Segi Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu mendeskripsikan bagaimana metode, materi dan media dakwah yang digunakan ustadz Fuadh Naim dalam menghadapi budaya Korean wave pada komunitas remaja k-wavers melalui komunikasi antarbudaya dan agama.
c. Segi Praktis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk komunitas dakwah yang lain, agar menjadi acuan dalam berdakwah.
E. Kajian Terdahulu
Sebelum mengadakan penelitian ini terlebih dahulu dilakukan kajian pustaka untuk mengetahui apakah penelitian di bidang yang sama sudah dilakukan atau belum sekaligus untuk menghindari penjiplakan dalalm penelitan ini. Setelah penulis melakukan tijauan pustaka, penulis menemukan beberapa penelitian terdahulu sebagai tinjauan pustaka:
Taufiq Halily menemukan metode dakwah yang dilakukan ustadz Syamsul dalam membina mualaf dengan berbagai metode cara hikmah seperti, ceramah, Tanya jawab dan dialog berdiskusi. Juga
dengan bil hal. Metode dilakukan dengan sesuai konsepnya dan berjalan sesuai dengan pelaksanaannya walaupun para mualaf datang dari latar belakang yang bebeda.20
Inayatul Mahmudah menyimpulkan dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan budaya Korean Pop terhadap penggemar EXO. Dampak positif seperti meningkatnya aktualitas diri penggemar dengan komunitas penggemar Korean Pop, menambah kreatifitas diri. Sedangkan dampak negatifnya penggemar cenderung melupakan kehidupan nyata, mengalami kecemburuan yang tak wajar dan emosi yang tidak stabil.21
Desma Rina Mulia Sari menjelaskan adanya pengaruh yang dihasilkan oleh K-Wave (Korean Wave) pada perilaku remaja di Bandarlampung mempengaruhi karena adanya globalisasi budaya dan commodity fethism yang tinggi.22
Halim Pratama menemukan terjalinnya komunikasi antar budaya dan agama dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap pemeluk kepercayaan sunda wiwitan dan pemeluk agama islam melalui usaha- usaha yang dilakukan keduanya dengan sadar dalam memahami hakikat agama, kecenderungan kelompok beragama sebagai kelompok etnik namun tetap inklusif, serta hubungan antar agama yang sama-sama memahami makna perbedaan bagi setiap ajaran
20 Taufiq Halily, skripsi, “Metode Dakwah Ustadz Syamsul Arifin Nababan dalam Membina Aqidah Santri Mualaf di Pondok Pesantren Pembinaan Mualaf Annaba Center Tangerang Selatan Banten”, (Jakarta: UIN Jakarta, 2013)
21 Inayatul Mahmudah, skripsi, “Dampak Budaya Korean Pop Terhadap Penggemar Dalam Persfektif Keberfungsian Sosial, studi kasus penggemar Korean pop EXO pada komunitas maupun non komunitas di Yogyakarta”, (Jakarta: UIN Jakarta, 2015)
22 Desma Rina Mulia Sari, skripsi, “Pengaruh Budaya K-Wave (Korean Wave) Terhadap Perubahan Perilaku Remaja di Bandarlampung”(Lampung: Universitas Lampung, 2018)
yang dianut. Faktor-faktor inilah yang membangun kerukunan dan desa keharmonisan masyarakat di Desa Cigugur.23
23 Halim Pratama, skripsi, “Komunikasi Antarbudaya dan Agama Penganut Kepercayaan Sunda Wiwitan (Studi Etnografi di Desa Cigugur Jawa Barat), (Jakarta: UIN Jakarta, 2016)
Nama Penulis
Judul Penelitian
Persamaan Penelitian
Perbedaan Penelitian
Hasil Penelitian Taufiq
Halily
Metode Dakwah Ustadz Syamsul Arifin Nababan dalam Membina Aqidah Santri Mualaf di Pondok Pesantren Pembinaan Mualaf Annaba Center
Tangerang Selatan Banten
Mengunakan teori dengan metode dakwah yang sama dengan apa yang penulis buat mengenai metode dakwah dalam Al- Qur‟an.
Dengan objek juga subjek yang berbeda dari yang penulis teliti yaitu
mengenai Korean wave dan ustadz Fuadh Naim
Metode dakwah yang dilakukan ustadz Syamsul dalam membina mualaf dengan berbagai metode cara hikmah seperti, ceramah, Tanya jawab dan dialog berdiskusi.
Inayatul Mahmuda h
Dampak Budaya Korean Pop Terhadap Penggemar Dalam Persfektif Keberfungsian Sosial, studi kasus penggemar Korean pop EXO pada komunitas maupun non komunitas di Yogyakarta
Menggambil tentang isu yang sama yaitu tentang Korean wave yang
didalamnya terdapat budaya Korean pop dan
pengaruhnya terhadap remaja.
Berfokus pada dampak dari adanya Korean pop berbeda dengan yang penulis teliti tentang bagaimana dakwah yang dilakukan ustadz Fuadh mengenai isu ini.
Dalam skripsinya menjelaskan bahwa adanya dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan budaya Korean Pop terhadap penggemar EXO
Desma Rina Mulia Sari
Pengaruh
Budaya K-Wave (Korean Wave) Terhadap Perubahan
Mempunyai objek yang sama dalam penelitian yaitu tentang
Penulis menganalisa tentang bagaimana metode
Pengaruh yang dihasilkan oleh K- Wave pada perilaku remaja dipengaruhi oleh adanya
Table 1.1 Perbedaan dan Persamaan Temuan Penelitian F. Metode Penelitian
1. Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berupaya untuk menghimpun, mengolah, dan menganalisa data secara detail dan mendalam.
Penelitian kualitatif melihat subjek dan objek penelitian berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan dan berusaha mencari makna yang terkandung di dalamnya.24
Berdasarkan pengertian di atas, maka pada penulisan ini, penulis akan mengamati dan melakukan teknik pengumpulan data wawancara, dokumentasi, dan observasi pada metode dakwah ustadz Fuadh Naim dalam menghadapi budaya Korean wave pada
24 Lexy J. Moloeng, Metode Penulisan Kualitatif , (Bandung: PT Rosda Karya, 2007), cet, Ke-23, h.9-10 .
Perilaku Remaja di
Bandarlampung
budaya Korean wave juga apa yang terjadi
dengan remaja dari adanya budaya tersebut.
dakwah yang dilakukan ustadz Fuadh untuk
menghadapi budaya Korean wave.
globalisasi budaya dan commodity fethism termasuk perilaku remaja di
Bandarlampung.
Halima Pratama
Komunikasi Antarbudaya dan Agama Penganut Kepercayaan Sunda Wiwitan (Studi Etnografi di Desa Cigugur Jawa Barat)
Menggunaka n teori yang sama mengenai komunikasi antarbudaya dan agama.
Dengan objek dan subjek yang berbeda mengenai budaya Korean wave
terjalinnya komunikasi antar budaya dan agama yang
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap pemeluk kepercayaan sunda wiwitan dan pemeluk agama islam.
komunitasremaja melalui pendekatan komunikasi antarbudaya dan agama.
2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisi, dimana pendekatan ini bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat, mengenai faktor-faktor, sifat, serta hubungan antara fenomena yang diteliti.25
Penelitian studi kasus dipilih oleh penulis dengan berfokus pada suatu kasus dimana metode, materi dan media dakwah yang dilakukan oleh ustadz Fuadh Naim dapat mengajak mad‟u yaitu komunitas remaja k-wavers untuk menuju kebaikan, maka diperlukan pengumpulan data dari informan agar dapat mengetahui dan memahami peristiwa yang terjadi.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah da‟i komunitas remaja k-wavers yaitu ustadz Fuadh Naim. Sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah dakwah dalam menghadapi budaya Korean wave.
4. Tempat dan Waktu Penelitian
Adapun penelitian ini dilaksanakan di Jakarta, pada aktifitas dakwah ustadz Fuad Naim. Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan terhitung mulai dari bulan September 2019 – Januari 2020.
25 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013) h. 121
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan Informasi dan data, penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Wawancara
Dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis- garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Penulis dapat dengan bebas melakukan wawancara terhadap ustadz Fuadh Naim dalam berdakwah untuk menghadapi budaya Korean wave pada komunitas remaja k-wavers.
Wawancara yang dilakukan kepada ustadz Fuadh Naim pada tanggal 06 Januari 2020 dan 08 Januari 2020.
b. Observasi
Observasi berarti peneliti melihat dan mendengarkan apa yang dilakukan atau diperbincangkan para mad‟u dalam aktifitasnya. Pengamatan yang dilakukan yakni penulis langsung ikut serta dalam kegiatan dakwah ustadz Fuadh Naim guna memperoleh data-data yang akurat mengenai objek penelitian.
Observasi awal yang dilakukan pada tanggal 01 September 2019 pada kajian ustadz Fuadh Naim konser AADK (Ada Apa Dengan Korea) di UIN Jakarta.
c. Dokumentasi
Dalam melakukan metode dokumentasi, penulis akan mecari data yang berkaitan dengan penelitian ini yang diperoleh dengan cara mengumpulkan data-data seperti foto- foto ketika berdakwah berlangsung. Teknik dokumentasi ini digunakan untuk menunjang data penelitian.
6. Pengolahan Data
Setelah mengamati dan mendapatkan berbagai data yang dibutuhkan, selanjutnya penulis melakukan analisis data. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data yang kedalam kategori, menjabarkan unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.26
Langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu:
a. Mengorganisir informasi.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
d. Penulis menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
e. Penulis melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.
f. Menyajikan secara naratif.27 7. Pedoman Penulisan Skripsi
Pedoman penulisan skripsi sesuai dengan SK Rektor No 5 Tahun 2017.
G. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN
26 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Alfabeta, 2010), h. 89
27 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), h. 33
Latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka serta sistematika penelitian.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Bab ini membahas tentang teori-teori yang digunakan sebagai landasan permasalahan penelitian, kajian pustaka dan kerangka berfikir.
BAB III BIOGRAFI USTADZ FUADH NAIM DAN GAMBARAN UMUM KOREAN WAVE
Bagian ini berisi tentang gambaran atau biografi dari ustadz Fuadh Naim dan budya Korean wave.
BAB IV TEMUAN METODE DAN MEDIA DAKWAH USTADZ FUADH NAIM DALAM MENGHADAPI BUDAYA KOREAN WAVE
Berisi tentang data dan temuan penelitian yang telah dilakukan pada dakwah ustadz Fuadh Naim dalam menghadapi budaya Korean wave pada remaja melalui pendekatan komunikasi antarbudaya dan agama.
BAB V DAI KOMUNITAS REMAJA DALAM MENGHADAPI BUDAYA KOREAN WAVE MELALUI PENDEKATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DAN AGAMA.
Bagian ini berisi uraian yang mengaitkan latar belakang, teori, dan hasil dari penelitian mengenai metode, materi dan media dakwah yang dilakukan oleh ustadz Fuadh Naim dalam menghadapi budaya Korean wave pada komunitas remaja k-wavers melalui pendekatan komunikasi antarbudaya dan agama.
BAB VI PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dari penelitian, implikasi dan saran- saran yang diajukan oleh peneliti.
SKEMA PENELITIAN
Gambar 1.1 Kerangka Penelitian
Teori Penelitian I. Pengumpulan Data II. Analisa Temuan
1. Unsur Kebudayaan (Korean Wave)
a. Observasi b. Literasi c. Dokumentasi d. Wawancara
Unsur Budaya Yang Dihadapi
a. Kesenian b. Sistem Religi c. Sistem
Pengetahuan d. Bahasa e. Sistem Mata
Pencarian dan Ekonomi
2. Metode, Metode, Materi
dan Media Dakwah
a. Observasi b. Dokumentasi c. Wawancara
Metode, Materi dan Media Dakwah Dalam Menghadapi
Budaya Korean Wave.
18 A. Pengertian Dakwah dan Dai
a. Pengertian Dakwah
Kata dakwah dalam bahasa arab merupakan bentuk masdar dari kata da‟aa, yad‟uu, da‟watan (dakwah), yang berarti ajakan. Secara etimologi, dalam kamus bahasa Arab al-Munawwir, kata dakwah berarti: “doa, panggilan, seruan, ajakan, undangan atau permintaan”.1 Banyak para tokoh yang mengemukakan definisi dakwah secara terminologi, diantaranya yaitu:2
1. Syaikh Ali Makhfudz, dalam kitabnya Hidayatul Mursyidin memberikan definisi dakwah sebagai berikut: dakwah Islam yaitu; mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk (hidayah), menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
2. Menurut Prof Dr. Hamka dakwah adalah seruan panggilan untuk menganut suatu pendirian yang ada dasarnya berkonotasi positif dengan substansi terletak pada aktivitas yang memerintahkan amar ma‟ruf nahi mungkar.3
Berdasarkan keterangan-keterangan diatas dapat diasumsikan dakwah ialah ajakan atau seruan kepada kebaikan dan larangan kepada kejahatan sesuai tuntunan Islam oleh dai kepada umat.
Seperti dalam Al-Qur‟an surat Al-Imron ayat 104 dijelaskan:
1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indoneisa, (Jakarta:
Gramedia, 2008), cet ke-1, edisi ke-4, h.1340
2 Muhammad Munir dan Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2006) h. 17
3 Muhammad Munir dan Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2006) h. 17
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Imron: 104)
Menurut Wardi Bachtiar, dakwah adalah suatu proses upaya mengubah suatu situasi kepada situasi lain yang lebih baik sesuai dengan ajaran islam. Dan proses-proses tersebut terdiri dari unsur- unsur dakwah sebagai berikut:
1. Subjek dakwah
Subjek dakwah atau Da‟i adalah orang yang melaksanakan dakwah, baik lisan, tulisan maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok, atau lewat organisasi atau lembaga. Secara umum da‟i juga disebut sebagai mubalig (orang yang menyampaikan ajaran islam).
2. Materi dakwah
Materi dakwah atau maddah dakwah adalah isi pesan atau yang disampaikan da‟i kepada mad‟u, dalam hal ini sudah jelas bahwa yang menjadi maddah dakwah adalah ajaran islam itu sendiri.
3. Metode dakwah
Kata “metode” telah menjadi bahasa Indonesia yang memiliki pengertian suatu cara yang bisa ditempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana sistem, tata pikir
manusia. Metode dakwah yang di cakup yaitu ada tiga metode yaitu : Hikmah, Mau‟idzah Khasanah, dan Mujadalah.
4. Media dakwah
Unsur dakwah yang ke empat adalah wasilah (media dakwah), yaitu alat yang dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah (ajaran islam) kepada mad‟u. Hamzah Ya‟qub membagi wasilah dakwah menjadi lima macam, yaitu : lisan, tulisan, audiovisual, lukisan dan akhlak. Media dakwah ada yang berupa :
a. Media Elektronik seperti : tv, radio, internet, handphone.
b. Media Cetak seperti : majalah, surat kabar, buku, jurnal, buletin, tabloid dsb.
5. Objek dakwah
Objek dakwah atau mad‟u yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama islam maupun tidak, atau dengan kata lain manusia secara keseluruhan.4
Dari pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan dakwah adalah segenap usaha untuk mempengaruhi serta mengajak umat manusia dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, yang baik sesuai dengan ajaran islam.
b. Pengertian Dai
Kata da‟i berasal dari bahasa Arab bentuk mudzakkar (laki- laki) berarti orang yang mengajak, kalau muannas (perempuan) disebut da‟iyah. Da‟i dapat juga diartikan orang yang
4 Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta: Logos, 1997) cet.
Ke 1 h.31
pekerjaannya berdakwah, menyebarluaskan agama Islam.
Dengan kata lain da‟i adalah orang yang mengajak baik secara langsung atau tidak langsung, melalui lisan, tulisan, atau perbuatan untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam, atau menyebarluaskan ajaran Islam, dan melakukan upaya perubahan kearah kondisi yang lebih baik menurut ajaran Islam.5
Da‟i adalah orang yang melaksanakan tugas dakwah, baik melalui lisan, tulisan, maupun perbuatan yang dilakukan secara individu, kelompok, organisasi atau lembaga.6
Kriteria Da‟i yaitu seorang da‟i perlu melengkapi diri dengan tiga senjata, yaitu iman, akhlak mulia, ilmu pengetahuan, dan wawasan. Iman dan akhlak disebut dengan bekal spiritual, sedangkan ilmu pengetahuan dan wawasan disebut bekal intelektual (Ismail dan Prio Hotman, 2011: 78).
Ada juga kriteria lain yang harus dimiliki oleh seorang da‟i.
Berikut beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang da‟i:
a) Iman dan taqwa kepada Allah, yaitu memiliki keyakinan yang kuat tentang keesaan Allah dan menjalankan segala perintah Allah serta menjauhi larangan Allah.
b) Ihsan kepada Allah, yaitu menyembah Allah seolah-olah melihat- Nya atau meyakini bahwa Allah melihat kepadanya. Sedangkan secara sosiologis, ihsan artinya berbuat baik kepada sesama, berbakti, tolong-menolong, dan sebagainya.
5 Enjang dan Aliyudin, 2009, Dasar-dasar Ilmu Dakwah, (Bandung: Tim Widya Padjajaran) h. 73-74
6 Muhammad Munir dan Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2006) h. 17
c) Amanah, yaitu memiliki rasa tanggung jawab atas kepercayaan atau tugas yang diembannya, baik tanggung jawab kepada Allah maupun kepada manusia lainnya.
d) Istiqomah, yaitu konsisten atau teguh dalam menegakkan kebenaran.
e) Berakhlak mulia atau memiliki budi pekerti yang baik dalam seluruh perkataan dan perbuatannya.
f) Berpandangan yang luas, artinya berwawasan luas dan menghindari sikap picik.
g) Berpengetahuan yang luas, baik dalam bidang keagamaan maupun pengetauhan umum lainnya.7
Tugas dan Fungsi Da‟i, pada dasarnya tugas yang pokok seorang da‟i adalah meneruskan tugas Rasul Muhammad SAW, yang berarti harus menyampaikan ajaran-ajaran Allah yang termuat dalam Al-Qur‟an dan Al-Sunnah. Sedangkan fungsi seorang da‟i adalah:
a) Meluruskan aqidah, yaitu dengan menunjukkan keesaan Allah sebagai Tuhan yang hak untuk disembah.
b) Memberi pencerahan dan memotivasi umat untuk beribadah dengan baik dan benar.
c) Amar ma‟ruf nahi munkar, yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran atau keburukan.
d) Menolak kebudayaan yang merusak, yaitu mampu mengubah tradisi dan budaya yang tidak sesuai dengan
7 Enjang dan Aliyudin, 2009, Dasar-dasar Ilmu Dakwah, (Bandung: Tim Widya Padjajaran) h. 76-78
syari‟at Islam menjadi tradisi dan budaya yang sesuai dengan syari‟at Islam.8
B. Macam-macam Metode Dakwah
Pengertian metode dakwah dari segi bahasa metode berasal dari dua perkataan yaitu “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan, cara).9 Dengan demikian kita dapat artikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu jalan. Sumber yang lain menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa jerman methodica yang artinya ajaran tentang metode. Sedangkan dalam bahasa yunani metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang dalam bahasa Arab disebut thariq.10 Apabila kita artikan secara bebas metode adalah cara yang telah diatur dan telah melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.
Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan seorang da‟i (komunikator) kepada mad‟u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.11 Hal ini mengandung arti bahwa pendekatan dakwah harus bertumpu pada suatu pandangan human oriented menetapkan penghargaan yang mulia atas diri manusia.
Berdasarkan pada makna dan urgensi dakwah, serta kenyataan dakwah yang terjadi di lapangan, maka di dalam Al-Quran al-Karim telah meletakkan dasar-dasar metode dakwah dalam sebuah surat an- Nahl ayat 125 yang berbunyi:
8 Enjang dan Aliyudin, 2009, Dasar-dasar Ilmu Dakwah, (Bandung: Tim Widya Padjajaran) h. 74-75
9 M. Arifin, Illmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), Cet. I, h. 61.
10 Drs. H. hasanudin, Hukum Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet.
Ke-1, h. 35.
11 Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet 1, 1997), h. 43
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat di jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)
Dari ayat tersebut dapat diambil pemahaman bahwa metode dakwah meliputi: hikmah, mau‟idzah hasanah, dan mujadalah bi-al lati hiya ahsan. Menurut Imam al-Syaukani, hikmah adalah ucapan- ucapan yang tepat dan benar, atau menurut penafsiran hikmah adalah argumen-argumen yang kuat dan meyakinkan. Sedangkan mau‟idhah hasanah adalah ucapan yang berisi nasihat-nasihat yang baik dimana ia dapat bermanfaat bagi orang yang mendengarkannya, atau menurut penafsiran, mau‟idhah hasanah adalah argument-argumen yang memuaskan sehingga pihak yang mendengarkan dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh pembawa argumen itu. Sedangkan mujadalah bi-al lati hiya ahsan adalah diskusi dengan cara yang baik adalah berdiskusi dengan cara yang paling baik dari cara-cara berdiskusi yang ada.12
a. Al – Hikmah
Kata “hikmah” dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 20 kali, baik dalam nakiroh maupun ma‟rifat. Bentuk masdarnya adalah “hukuman” yang diartikan secara makna aslinya yaitu mencegah. Jika dikaitkan dengan hukum berarti mencegah dari
12 Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Pejaten Barat: Pustaka Firdaus, 2000), h. 121-122
kedzaliman, dan jika dikaitkan dengan dakwah maka berarti menghindari hal-hal yang kurang relevan dalam melaksanakan tugas dakwah. Menurut al-Ashma‟i asal mula didirikan hukuman (pemerintahan) ialah untuk mencegah manusia dari perbuatan zalim.13
Al hikmah diartikan sebagai al‟adl (keadilan), al-haq (kebenaran), al-ilm (pengetahuan), dan an-nubuwwah (kenabian).
Al hikmah juga berarti pengetahuan yang dikembangkan dengan tepat sehingga menjadi lebih sempurna.14
Metode dakwah al-hikmah merupakan suatu metode yang dilakukan atas dasar persuasif. Toha Yahya Umar, menyatakan bahwa hikmah berarti meletakkan sesuatu pada tempatya dengan berfikir, berusaha menyusun dan mengatur dengan cara yang sesuai keadaan zaman dengan tidak bertentangan dengan larangan Tuhan.15
Dapat disimpulkan bahwa al-hikmah ialah kemampuan da‟i dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik bahwa dengan kondisi objek mad‟u. disamping itu juga al-hikmah merupakan kemampuan da‟i dalam menjelaskan doktrin-doktrin islam serta realitas yang ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu, al-hikmah adalah sebagai sebuah system yang menyatukan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam dakwah.16
13 Drs. Munzier Suparta, Harjani Hefni, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2003), Cet. 1, h. 10
14 Drs. Munzier Suparta, Harjani Hefni, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2003), Cet. 1, h. 10
15 Munir, Dkk, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 9
16 Munir, Dkk, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 11
Secara lebih detail menjelaskan bahwasanya hikmah dapat dibagi dalam tiga bentuk, yakni:
a) Hikmah dalam arti mengenal golongan masing- masing golongan harus di hadapi dengan cara yang sepadan dengan tingkat kecerdasan, alam pikiran, dan perasaan serta tabiat masing-masing.
b) Hikmah dalam arti kemampuan memilih saat harus bicara dan saat harus diam.
c) Hikmah dalam mencari titik temu dalam dakwah
d) Hikmah tidak melepaskan shibghah (keimanan murni) kita di perintahkan oleh Allah untuk selalu berkata yang tepat (Qaulan Syadidan). Qailan Syadidan adalah kata yang lurus tidak berbelit-belit kata yang benar keluar dari hati yang suci bersih dan diungkapkan dengan cara sedemikian rupa sehingga panggilan dakwah sampai mengetuk pintu akal dan qalbu.
e) Hikmah dengan memilih kata yang tepat
f) Hikmah dalam cara perpisahan. Dai harus pandai mengakhiri perdebatan dengan perpisahan yang justru merangsang di lanjutkan mujadalah pada waktu yang lain.
g) Hikmah dalam arti uswatun hasanah dan lisanya hal.
h) Hikmah dengan dakwah bi lisan al haal17
Hikmah dalam dakwah adalah penentu sukses tidaknya dakwah. Dalam menghadapi mad‟u yang beragam para dai memerlukan hikmah, sehingga ajaran islam mampu memasuki
17 Drs. Munzier Suparta, Harjani Hefni, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2003), Cet. 1, h. 101-215
ruang hati pada mad‟u dengan tepat. Oleh karenanya, para da‟i dituntut untuk mampu mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan latar belakangnya, sehingga ide-ide yang diterima dapat diterima sebagai sesuatu yang menyentuh dan menyejukan hati.18
Hikmah adalah bekal da‟i menuju sukses atau berhasil.
Karunia yang diberikan oleh Allah kepada orang yang mendapat hikmah juga akan berimbas kepada mad‟u nya, sehingga mereka termotivasi untuk merubah diri dan mengamalkan apa yang disarankan da‟i kepada mad‟u. Maka jika hikmah dikaitkan dengan dakwah kita akan menemukan bahwa ia merupakan peringatan kepada juru dakwah untuk tidak menggunakan satu bentuk metode saja. Sebaiknya, bereka harus menggunakan berbagai macam metode sesuai dengan realitas yang dihadapi dan sikap masyarakat terhadap agama islam. Hikmah merupakan pokok awal yang harus dimiliki oleh seorang da‟i dalam berdakwah. Karena dari hikmah ini akan lahir kebijaksanaan dalam menerapkan langkah-langkah dakwah baik secara metodologis maupun praktis. Oleh karena itu, hikmah yang memiliki multi definisi mengandung arti dan makna yang berbeda tergantung dari mana kita melihatnya.19
b. Al – Mau’idzatil Hasanah
Secara bahasa mau‟idzah hasanah terdiri dari dua kata yaitu mau‟idzah dan hasanah. Kata mau‟idzah berasal dari
18 Drs. Munzier Suparta, Harjani Hefni, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2003), Cet. 1, h. 11-12
19 Drs. Munzier Suparta, Harjani Hefni, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2003), Cet. 1, h. 14-15
bahasa Arab yaitu wa‟adza-ya‟idzu-wa‟dzan yang berarti nasehat, bimbingan, pendidikan, dan peringatan. Adapun secara terminologi, ada beberapa pengertian diantaranya:
Menurut Abd. Hamid al-Bilali al-Mau‟idzah al- Hasanah merupakan salah satu manhaj (metode) dalam dakwah untuk mengajak ke jalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik.20
Dari beberapa definisi diatas, metode mau‟idzah hasanah terdiri dari beberapa bentuk, diantaranya: nasehat, tabsyir watanzir, dan wasiat.
1) Nasehat dan petuah 2) Basyir Watanzir 3) Wasiat
4) Kisah.21
Dari beberapa pengertian diatas, istilah mauidzah hasanah akan mengandung arti kata-kata yang masuk kedalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan, tidak membongkar atau membeberikan kesalahan orang lain sebab kelemah-lembutan dalam menasehati seringkali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan atau ancaman.22
20 Munir, Dkk, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 16
21 Munir, Dkk, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 291
22 Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Raja Gerafindo Persada, 2012), h. 253
c. Al – Mujadalah
Dari segi etimologi (Bahasa) lafadh mujadalah terambil dari kata “jadala” yang bermakna memintal. Apabila ditambahkan alif pada huruf jim yang mengikuti wazan Faa ala,
“jaa dala” dapat bermakna berdebat, dan “mujaadalah”
perdebatan.23
Beberapa pengertian al-Mujadalah (al-Hiwar), Al- Mujadalah berarti upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, tanpa adanya suasana yang mengharuskan lahirnya permusuhan di antara keduanya. Menurut Ali al- Jarisyah, dalam kitabnya Adab al-Hiwar wa-almunadzarah, mengartikan bahwa “al-Jidal” secara bahasa dapat bermakna pula “datang untuk memilih kebenaran” dan apabila berbentuk isim “al-Jadlu” maka berarti “pertentangan atau perseteruan yang tajam”. Al-Jarisyah menambahkan bahwa, lafadh musytaqdarilafazh “al-Qatlu” yang berarti sama-sama terjadi pertentangan, seperti halnya terjadinya perseteruan antara dua orang yang saling bertentangan sehingga saling melawan/
menyerang dan salah satu menjadi kalah.24
Dari pengertian diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa, al-Mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.
Antara satu denagn yang lainnya salaing menghargai dan
23 Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Raja Gerafindo Persada, 2012), h. 253
24 Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Raja Gerafindo Persada, 2012), h.254
menghormati penapat keduannya berpegang pada kebenaran, mengakui kebenaran pihak lain dan ikhlas menerima hukuman kebenaran tersebut.25
Metode Mujadalah biasa disebut metode dakwah melalui tanya jawab adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan tanya jawab untuk mengetahui sampai sejauh mana ingatan atau pikiran seseorang dalam memahami atau menguasai materi dakwah, di samping itu juga merangsang perhatian penerima dakwah.26
Dapat disimpulkan bahwa metode dakwah melalui diskusi adalah berdakwah dengan cara bertukar pikiran tentang suatu masalah keagamaan sebagai pesan dakwah antar beberapa orang dalam tempat tertentu.
Dalam diskusi seorang pendakwah sebagai pembawa misi Islan haruslah dapat menjaga keagungan namanya dengan menampilkan wajah yang tenang, berhati-hati, cermat, dan teliti dalam memberikan materi dan memberikan jawaban atas sanggahan peserta.27
C. Pengertian Komunitas
Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berarti
"kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti
"sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". Komunitas sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama.
Dalam komunitas manusia, individu- individu di dalamnya dapat
25 Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Raja Gerafindo Persada, 2012), h. 254
26 A. Kadir Munsyi, Metode Diskusi Dalam Dakwah, (Surabaya: Al-Iklhas, 1978), h. 31-32
27 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 372
memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Soenarno (2002), Definisi Komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional.
Pengertian Komunitas Menurut Kertajaya Hermawan (2008), adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values.
Loren O. Osbarn dan Martin H. Neumeyer (1984 : 59) ; “Pada dasarnya setiap orang itu lahir dalam suatu keluarga, dan pada mulanya dia tidak mengetahui bahwa ia merupakan anggota dari suatu ketetanggaan. Akan tetapi, apabila dia mulai dapat berjalan serta bermain, maka dia akan bermain dengan anak- anak tetangga atau beberapa dari antara mereka. Dalam perkembangan selanjutnya, dia akan mengetahui bahwa ia tinggal dalam suatu kampung atau suatu desa atau juga dalam suatu kota. Pada tahap selanjutnya dia akan mengetahui pula bahwa dia merupakan anggota suatu bangsa atau suatu negara”.
Deskripsi tersebut di atas menunjukkan bahwa seseorang itu dapat merupakan anggota dari beberapa kelompok; dan kecuali keluarga (sebagai primary group) kesemuanya mungkin dapat dikategorikan sebagai community atau komunitas. Loren O. Osbarn dan Martin H. Neumeyer (1984 : 59) menyatakan bahwa komunitas adalah “a group of a people having in a contiguous geographic area, having common centers interests and activities, and functioning together in the chief concern of life”.