• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V Penutup

B. Saran

Sebaiknya novel ini digunakan sebagai media pembelajaran apresiasi sastra oleh guru. Karena, novel ini dapat membantu memperkenalkan kebudayaan dan kondisi sosial masyarakat Betawi keturunan Arab. Selain itu, melalui novel ini dapat digali beragam nilai-nilai kehidupan. Para guru dan calon guru sastra Indonesia juga harus menyadari bahwa pengajaran sastra bukan semata menjelaskan unsur intrinsik namun bagaimana membuat siswa menghayati dan mencintai karya sastra.

Novel ini berusaha menyuarakan kembali kesenian kasidah yang hampir punah. Seharusnya pemerintah DKI Jakarta memperhatikan kesenian seperti kasidah, marawis, dan kesenian-kesenian lainnya sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Betawi. Jangan sampai kesenian-kesenian tersebut punah digerus derasnya era globalisasi.

74

Adinegoro, Djamaludin. Tata Kritik. Djakarta: Nusantara, 1958.

Ahmadi, Mukhsin. Strategi Belajar Mengajar Keterampilan Bahasa dan

Apresiasi Sastra. Malang: YA3, 1989.

Aslinda & Leni Syafyahya. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika

Aditama, 2007.

Aziz, Abdul. Islam dan Masyarakat Betawi. Ciputat: Logos, 2002.

Tim Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia,

2008.

Damono, Sapardi Djoko. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.

Jakarta: Depdikbud, 1978.

Dani Wardani, Veri. “Male Feminis dan Kontra Male Feminis dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.” Skripsi S1 Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, 2005.

Endraswara, Suwardi. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:

Pustaka Widyatama, 2003.

Escarpit, Robert. Sosiologi Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.

Esten, Mursal. Kritik Sastra Indonesia. Padang: Angkasa Raya, 1987.

Fananie, Zainuddin. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University

Press, 2000.

Faruk. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994

Fiyani, Mega. “Nilai Sosial dalam Novel Bukan Pasar Malam Karya Pramoedya Ananta Toer; Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra.” Skripsi S1 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

Harapan, Anwarudin. Sejarah, Sastra, dan Budaya Betawi. Jakarta:

APPM, 2006.

Jabrohim & Ari Wulandari (ed.). Metodologi Penelitian Sastra. Jogjakarta:

Jakarta: UIN Press, 2009.

Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press, 2000.

Permana, R. Cecep Eka dan Untung Yuwono. Langgam Budaya Betawi.

Depok: FIB UI, 2011.

Pradopo, Rachmat Djoko. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press, 1994.

Pradotokusumo, Partini Sardjono. Pengkajian Sastra. Jakarta: Gramedia,

2008.

Ratna, Nyoman Kutha. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar, 2009.

Ratna, Nyoman Kutha. Sastra dan Cultural Studies (Representasi Fiksi

dan Fakta). Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Rosyidi, M. Ikhwan dkk. Analisis Teks Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu,

2010.

Sarumpaet, Riris K. Toha. Susastra 5 (Jurnal Imu Sastra dan Budaya).

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007.

Sayuti, Suminto. Dasar-Dasar Analisis Fiksi. Yogyakarta: UD3S, 1986.

Semi, Atar. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa, 1989.

Shahab, Alwi. Betawi Queen of the East. Jakarta: Republika, 2002.

Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo, 2008.

Sohib, Ben. The Da Peci Code. Jakarta: Ufuk Press, 2008.

Sudyarto, Sides. Manusia dan Bahasa. Bogor: Raya Kultura, 2009.

Sumardjo, Jakob & Saini K.M. Apresiasi Kesusasteraan. Jakarta:

Gramedia, 1986.

Van den Berg, L.W.C. Orang Arab di Nusantara. Depok: Komunitas

Bambu, 2010.

Wellek, Rene dan Austin Warren. Teori kesusastraan (diindonesiakan oleh

Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia, 1995.

Yudiono K.S. Pengkajian Kritik Sastra Indonesia. Jakarta: Gramedia

Karya Ayu Utami.” Skripsi S1 Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, 2005.

Zulfahnur, dkk. Teori Sastra. Jakarta: Depdikbud, 1996.

“Biografi Ben Sohib.” Artikel diakses pada 29 Januari 2013 dari http://www.literarybiennale.salihara.org.

“Detail Buku.” Artikel diakses pada 29 Januari 2013 dari

Lampiran 2: Dialog Wawancara dengan Ben Sohib

Wawancara penulis dengan Ben Sohib.

Waktu : Pukul 17.00—17.55 WIB

Hari, tanggal : Jumat, 19 April 2013

Tempat : Tenda Soto Kudus, Taman Ismail Marzuki, Cikini.

Wawancara dimulai dengan memperkenalkan diri penulis kepada narasumber.

Penulis : Dimana tempat tanggal lahir Anda bang?

Ben Sohib : Sebenarnya saya tidak pernah mau menjawab pertanyaan seperti,

karena saya ini orangnya sok misterius. Sebisa mungkin untuk masalah

biografi saya rahasiakan kepada siapapun. Kalau sebuah media ingin menulis biografi saya, maka saya usahakan sesingkat mungkin. Biarkan orang menilai karya saya tanpa tahu biografi saya, karena bagi saya tidak ada relevansi antara karya saya dengan biografi saya.

Penulis : Kalau begitu boleh saya mengetahui riwayat pendidikan Anda?

Ben Sohib : Saya sekolah di SD, SMP, SMA.

Penulis : Kuliah bang?

Ben Sohib : Oh ngga, cuma sampe SMA aja.

Penulis : Sekarang tinggal dimana Bang?

Ben Sohib : Saya tinggal di Bukit Duri, Kampung Melayu

Penulis : Sudah berkeluarga bang?

Ben Sohib : Ya, sudah dan memiliki seorang anak

Penulis : Pekerjaan saat ini apa Bang?

Ben Sohib : Saya penulis, saat ini saya sedang mengerjakan sebuah novel.

Penulis : Boleh tau judulnya bang atau isi ceritanya tentang apa?

Ben Sohib : Tentang kehidupan seorang Haji

Penulis : Apakah latar yang digunakan juga Betawi?

Ben Sohib : Iya betul

Penulis : Apakah Bang Ben pernah tinggal di Condet atau memang berasal

Ben Sohib : Oh, ngga.. Saya dulu kebetulan punya teman-teman di Condet. Kami sama-sama menyukai diskusi, seperti sastra, filsafat, agama, politik, dan lain-lain. Akhirnya kami membentuk sebuah forum diskusi yang sifatnya tidak formal atau tak terikat, begitu..

Penulis : Apakah Sanggar Banjir Kiriman terinspirasi dari komunitas ini?

Ben Sohib : Oh, iya.. Benar sekali. Komunitas tersebutlah yang membuat saya terinspirasi untuk menampilkan Sanggar Banjir Kiriman pada novel itu.

Penulis : Jadi Bang Ben bukan berasal dari Condet asli?

Ben Sohib : Oh bukan, saya selalu hidup berpindah-pindah sejak kecil. Saya pernah tinggal di Jawa Timur, Bali, Bandung, dan paling lama yang di Jakarta ini.

Penulis : Lalu apakah Abang sendiri merasa sebagai bagian dari

masyarakat Betawi?

Ben Sohib : Oh, ya tentu, karena separuh usia saya, saya habiskan di Jakarta ini.

Penulis : Suasana Islam pada novel ini sangatlah kental, apakah Abang

pernah sekolah di pesantren atau dibesarkan di keluarga yang begitu taat akan Islam?

Ben Sohib : Oh ngga, saya tidak pernah masuk pesantren, saya bersekolah di sekolah umum sejak SD, SMP, dan SMA. Ayah saya seorang PNS, keluarga saya juga bukan keluarga yang terlalu ketat dengan agama Islam. Saya juga tidak memiliki saudara yang menjadi ulama atau sebagainya.

Penulis : Lalu mengapa Abang menampilkan Islam sebagai latar yang

sangat kuat dalam novel ini?

Ben Sohib : Ya itu hanya sebagai latar saja. Latar Islam yang begitu kuat sebenarnya adalah hasil pengamatan dan pembacaan lingkungan. Karena Condet itu identik dengan budaya Islamnya yang kental.

Penulis : Abang sendiri memperoleh inspirasi dalam menulis novel ini

darimana?

Ben Sohib : Proses kreatif setiap penulis itu kan berbeda-beda ya, kalau saya sendiri memperoleh inspirasi melalui pengamatan saya terhadap lingkungan,

fenomena lingkungan. Saya melihat kok kenapa peci putih, baju koko itu seolah menjadi busana wajib bagi umat Islam. Akhirnya saya mencoba menuliskannya dalam bentuk yang renyah, yang tidak terlalu serius.

Penulis : Lalu mengapa novel ini diberi judul The Da Peci Code?

Ben Sohib : Sebenarnya itu hanya kreativitas saya saja, awalnya saya bingung

novel ini kan bercerita tentang peci, lalu waktu itu juga sedang booming novel

The Da Vinci Code itu. Sebenarnya tidak ada maksud saya untuk membuat

plesetan dari novel The Da Vinci Code itu, judul itu hanya sebgai gagasan

belaka.

Penulis : Apakah Abang sendiri punya garis keturunan Arab?

Ben Sohib : Iya saya punya garis keturunan Arab dari kakek saya, tapi bukan dari Arab Saudi. Banyak orang salah kaprah mengenai masyarakat keturunan Arab, pasti mereka mengira dari Arab Saudi padahal bukan.

Penulis : Dari Hadramaut bang? Yaman?

Ben Sohib : Iya dari Hadramaut. Saya juga sebenarnya memiliki gelar Raden Mas pada nama saya. Karena nenek saya itu adalah putri keraton Jogja. Jadi ada silsilahnya itu mulai dari kakeknya kakek saya sampai akhirnya saya.

Penulis : Dari sumber yang saya baca masyarakat keturunan Arab

cenderung tidak mau menikahkan anak perempuannya dengan masyrakat Betawi karena ingin mempertahankan sistem patrialkal, apakah benar demikian?

Ben Sohib : Iya benar, karena ya itu, ingin mempertahankan garis keturunannya.

Penulis : Salahkah jika saya menyebut masyrakat dalam novel ini (seperti

Rosid dan keluarganya) adalah masyarakat Betawi turunan Arab?

Ben Sohib : Oh, tentu tidak, karena seperti yang saya amati, antara masyarakat Betawi dengan masyarakat Arab sudah sangat lekat. Terjadi asimilasi budaya dalam segala bidang antara masyarakat Arab dengan masyarakat Betawi.

Penulis : Lalu apakah kebiasaan seperti makan nasi tomat, hiasan rumah,

dan sebagainya itu merupakan kebiasaan asli masyarakat Betawi keturunan Arab di Condet?

Ben Sohib : Ya, seperti sudah saya katakan kedua masyarakat itu sudah melebur menjadi satu, jadi kebiasaan-kebiasaan itulah yang tersisa pada masyarakatnya.

Penulis : Mengapa Abang memilih Condet sebagai latar tempat dalam

novel ini?

Ben Sohib : Ya, karena di situ paling banyak terdapat masyarakat Betawi Arab.

Penulis : Lalu apakah memang ada komunitas Al-Gibran itu memang benar

adanya?

Ben Sohib : Oh, ngga.. Itu hanya fiktif belaka. Marga al-Gibran itu hanya penyederhaan dari semua komunitas keturunan Arab yang ada di Condet. Kan banyak marga-marga keluarga Arab di Condet, seperti misalnya Assegaf dan lain-lain. Dan tidak semua etnis ini seperti al-Gibran. Ada golongan yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang bertolak belakang dengan golongan ini. Golongan yang bertolak belakang ini misalnya mengharamkan diadakannya maulid.

Penulis : Lalu kebiasaan memakai peci putih itu memang ada?

Ben Sohib : Ya, memang ada. Itu kan sering sekali kita lihat di kehidupan sehari-hari ini.

Penulis : Novel ini juga mengkritik tentang Islam, misalnya orang-orang

yang menggunakan celana di atas lutut dianggap berpikiran sempit, menurut pandangan Anda bagaimana seharusnya Islam itu?

Ben Sohib : Islam itu bisa dikaitkan dengan apapun, tapi jangan hanya mengurusi hal-hal yang simpel saja seperti celana di atas lutut. Agama itu adalah kehidupan itu sendiri yang di dalamnya terdapat arahan-arahan dan nilai-nilai.

Penulis : Lalu apakah ketaatan memegang budaya peci putih dalam novel

ini merupakan wujud ketaatan terhadap Islam atau bentuk primitif mereka? Ben Sohib : Itu adalah wujud agama sebagai organisasi, seharusnya kita mempertanyakan lebih dalam mengenai simbol-simbol agama dan keberagamaan.

Penulis : Saya menarik sebuah kesimpulan mengenai hal-hal yang maktub

di dunia ini. Saya setuju dengan pertanyaan Mansur (ayah Rosid): “Kalau

semua udeh maktub, kenape kite musti berusaha?” Namun, Anda menjawab pertanyaan itu pada halaman terakhir yang saya simpulkan bahwa hidup itu

seperti multiple choice. Ketika kita berusaha kita sukses dan ketika kita malas

kita akan susah. Jadi semua yang maktub itu memiliki dua atau lebih pilihan.

Bagaimana pendapat Anda?

Ben Sohib : Masalah maktub ini sebenarnya adalah pertanyaan klasik ya dan

tidak pernah ada jawaban yang memuaskan samapai saat ini. Ada banyak

faktor yang mempengaruhi maktub itu.

Penulis : Selain kritik masalah peci, kritik apalagi yang ingin Anda

sampaikan dalam novel ini?

Ben Sohib : Ya paling hubungan antara ayah dan anak, kritik terhadap pandangan umat Islam yang sempit, atau tentang forum-forum yang mennganggap mereka paling benar, yang lain salah. Di sini saya tampilkan dalam bentuk komikal yaitu FORMALIN.

Penulis : Novel ini pernah difilmkan apakah Anda terlibat dalam

pembuatan film tersebut?

Ben Sohib : Ya, saya dilibatkan dalam pembuatan naskah film itu agar tidak melenceng terlalu jauh dengan aslinya, beberapa saran saya ada yang diterima dan ada yang ditolak. Sebenarnya yang ingin diangkat adalah novel kedua

saya berjudul Rosid dan Delia karena mungkin jika masalah yang diangkat

tentang peci filmnya jadi kurang menarik. Berbeda dengan novel kan, mungkin dalam novel tema peci adalah tema yang menarik tapi ketika difilmkan tema percintaan lebih menarik.

Penulis : Bagaimana kesan Anda setelah film itu ditayangkan?

Ben Sohib : Film itu cukup bagus bagi saya, terbukti dengan meraih beberapa penghargaan kan? Saya tidak kecewa dengan film tersebut, jalan ceritanya pun tidak jauh berbeda dengan novelnya hanya pada bagian endingnya saja yang sangat berbeda.

Ben Sohib : Saya tidak pernah merasa menulis sastra Betawi, saya juga bukan sastrawan Betawi seperti Madjoindo, Muntaco, S. M. Ardan, atau Chairil Gibran Ramadhan. Penggunaan bahasa Betawi sebagai latar saja, agar novel ini tidak terlalu kaku.

Penulis : Oke saya rasa sudah cukup Bang untuk pertanyaannya, saya

sangat senang sekali bisa mewawancarai Anda. Ben Sohib : Oke, semoga sukses skripsinya.

Lampiran 3: Sinopsis Novel The Da Peci Code

SINOPSIS NOVEL THE DA PECI CODE KARYA BEN SOHIB

Kisah ini dimulai dengan penggambaran daerah Condet dan sekitarnya tempat tinggal keluarga Rosid. Rosid adalah anak dari Mansur al-Gibran yang sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah lantaran diusir oleh sang Ayah. Al-Gibran adalah nama sebuah marga bagi keluarga Betawi keturunan Arab. Nama tersebut telah bertahan berpuluh-puluh tahun dan diwariskan turun-temurun. Komunitas al-Gibran sering mengadakan acara-acara keagamaan untuk menghormati leluhur mereka. Hal paling wajib bagi komunitas tersebut adalah mengenakan peci putih di setiap acara al-Gibran.

Peci putih inilah yang menjadi sumber masalah novel ini, lantaran Rosid yang memutuskan memelihara rambut kribonya ia tidak bisa lagi mengenakan peci putih di kepalanya. Segala daya upaya telah dilakukan sang ayah untuk membuat Rosid mau mencukur rambutnya namun apa daya Rosid tetap bersikeras memelihara rambutnya. Bahkan dia menentang perintah ayahnya untuk mengenakan peci putih yang merupakan budaya komunitas al-Gibran. Ayahnya berpendapat bahwa peci putih merupakan ajaran agama sedangkan Rosid menyangkalnya. Inilah pertentangan antara ayah dan anak yang dikemas dengan menarik dan menghibur.

Rosid mempunyai pacar bernama Delia. Ia adalah wanita yang cantik, aktif, dan selalu nyaman diajak bicara. Namun sayang Delia beragama Kristen, inilah yang membuat Rosid selalu melarang Delia untuk kerumahnya. Karena tentunya akan membuat ayah Rosid semakin murka padanya.

Rosid memiliki seorang ibu yang sangat penyayang dan penyabar. Meski Rosid dan ayahnya sering bertengkar namun sang ibu tetap bersikap netral dan tidak memihak salah satunya. Sang ibu sangat sayang kepada Rosid, ia selalu merasa tidak tega melihat Rosid pergi dari rumah selama berhari-hari meskipun Rosid hanya menginap di rumah Mahdi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Mahdi adalah sahabat baik Rosid semenjak kecil. Mahdi dengan sukarela mempersilakan Rosid menginap di rumahnya bahkan menjadikan rumahnya

sebuah “tempat tongkrongan” yang diberi nama Sanggar Banjir Kiriman. Diberi nama demikian karena rumah tersebut sering terendam banjir kiriman dari Bogor. Ayah mahdi yaitu Ustadz Abu Hanif adalah orang yang sangat bijaksana. Ia juga terhitung masih sebagai saudara jauh Rosid. Ustadz Abu Hanif juga salah satu anggota komunitas al-Gibran yang sangat di segani.

Belakangan ini Rosid sering diusir dari rumah oleh ayahnya, Mansur lantaran ia tidak mau mencukur rambutnya dan memakai peci putih. Mansur telah melakukan berbagai cara seperti pergi ke orang pintar (dukun) bahkan pernah sekali waktu Rosid diajak untuk bertemu dengan Ustadz Holid. Ia adalah seorang cendekiawan muda dari komunitas al-Gibran. Mansur meminta tolong kepada ustadz itu untuk menasihati Rosid agar mau kembali pada ajaran-ajaran al-Gibran. Namun di luar dugaan Rosid ternyata menangkis semua pernyataan dari Ustadz Holid. Ia lalu marah dan mengusir Rosid keluar dari tempatnya. Semua cara itu tidak lain adalah saran Said, orang kepercayaan Mansur sekaligus kaki tangannya.

Rupanya masih ada ide lain di kepala Said. Mansur yang saat itu telah putus asa hanya diam ketika Said hendak mencetuskan ide barunya. Dan tidak beberapa lama terjadilah peristiwa dahsyat yang tidak terduga-duga di Sanggar Banjir Kiriman. Saat itu Rosid, Mahdi, dan kawan-kawannya sedang berdiskusi seperti biasa. Diskusi ini memang rutin mereka lakukan setiap malam minggu. Namun berbeda dari diskusi-diskusi sebelumnya, Rosid mengajak Delia hadir di tempat itu dan sudah pasti Delia menjadi pusat perhatian oleh sekian mata lelaki.

Di tengah acara diskusi tiba-tiba sekelompok orang yang menamakan organisasinya RADIKAL (Remaja Didikan Allah) datang ke tempat tersebut. Mereka meneriakkan kata “Bubarkan!” berkali-kali. Serempak semua orang yang berada di dalam Sanggar Banjir Kiriman keluar dengan heran dan bertanya-tanya. Kelompok RADIKAL menuduh mereka sebagai penganut dan penyebar aliran sesat. Kericuhan mulai terjadi dan dari sisi lain muncul sekelompok orang yang menamakan dirinya FORMALIN (Forum Masyarakat Anti Aliran Lain). Kelompok FORMALIN juga menuntut pembubaran Sanggar Banjir Kiriman.

Di tengah tekanan yang begitu mendera anggota Sanggar Banjir Kiriman, datanglah sekelompok orang lagi yang membawa panji bertuliskan MODERAT

(Majelis Doa Demi Perdamaian Umat). Seragam mereka seperti pakaian penari Darwis dari Turki lengkap dengan topinya tinggi. Ternyata kelompok tersebut hendak memberi dukungan kepada Rosid dan kawan-kawan. Mereka berusaha mendamaikan suasana agar tidak terjadi perkelahian. Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan, seseorang dari arah depan Sanggar Banjir Kiriman melemparkan sebuah batu dan memecahkan kaca rumah tersebut. Di tengah suasana yang begitu panas sebuah lemparan batu saja dapat menyulut terjadinya perkelahian. Akhirnya pecahlah perkelahian itu, perkelahian yang cukup seru dan meriah.

Di tengah kekacauan itu Rosid kembali ke dalam rumah menemui Delia dan Mas Anto (narasumber dalam diskusi tersebut). Ia mengajak mereka lari dari tempat itu. Setelah Rosid berhasil mengamankan dan menenangkan Delia ia kembali ke Sanggar Banjir Kiriman. Sekembalinya ke tempat itu keadaan sudah aman dan terkendali. Pasukan Hansip telah berhasil menguasai keadaan.

Semua orang termasuk Rosid telah dibawa ke rumah Pak RW. Di sana mereka dimintai keterangan seputar kasus yang terjadi itu. Pak RW yang bijaksana berhasil mendamaikan semua pihak dan menghimbau agar pertengkaran serupa tidak terjadi di kemudian hari. Pak RW juga menghimbau kepada semua warga yang ada di situ untuk saling menghargai kepercayaan masing-masing dan tidak memaksakan kehendak pribadi kepada orang atau kelompok tertentu.

Ayah Rosid yang mengetahui kabar tersebut langsung bergegas ke rumah Pak RW. Begitu sampai ia langsung memeluk Rosid dan menanyakan keadaannya. Tidak lama setelah itu datang beberapa Hansip membawa seseorang yang sudah tidak asing lagi di mata Rosid dan ayahnya. Ia adalah Said, orang kepercayaan Mansur (ayah Rosid). Ternyata ialah biang keladi kerusuhan ini. Ia yang menyebarkan fitnah mengenai Sanggar Banjir Kiriman yang menyebarkan aliran sesat kepada kelompok RADIKAL dan FORMALIN. Mansur yang tidak terima akan kelakuan Said, meminta kepada Hansip agar ia dibawa ke kantor polisi. Akhirnya kasus itu pun selesai.

Berkat kasus tersebut Rosid kembali berdamai dengan ayahnya. Rosid pun menyadari betapa sayang ayahnya pada Rosid. Di akhir cerita Rosid bertemu

dengan Ustadz Abu Hanif (ayah Mahdi). Ustadz Abu Hanif menasihati Rosid bahwa peci putih hanyalah dipakai sebagai penanda saja bagi komunitas al-Gibran, sama halnya dengan blangkon yang dipakaiorang Jawa atau udeng yang dipakai orang Bali. Jadi peci putih bukanlah sebuah ajaran agama. Ustadz Abu Hanif juga meminta Rosid agar mengerti sikap ayahnya yang begitu memaksakan kehendaknya. Dengan nasihat itu Rosid pun menyadari kesalahannya telah membantah ayahnya. Ia berjanji dalam hati akan mencukur rambutnya dan memakai peci putih. Di sisi lain ayah Rosid pun telah menyadari kesalahannya, ia tidak akan lagi memaksakan kehendaknya kepada Rosid. Ia telah mengerti bahwa anak memiliki keinginan dan dunianya sendiri yang tidak bisa dipaksakan sesuai keinginan orang tuanya.

Akhirnya Rosid kembali ke rumah dan disambut dengan hangat oleh ayah dan ibunya. Mereka saling berpelukan dan saling memaafkan. Mereka menyadari kesalahan masing-masing. Rosid menyadari kerasnya sikapnya terhadap ayahnya dan Mansur mengakui kesalahannya telah memaksakan kehendak kepada Rosid.

Latar Tempat

Hlm Betawi Jml Sunda Jml Kota Jml

3 Jln Condet Raya 1

5 Rumah Rosid 1 Di atas Jembatan

Ciliwung 1 11 Kawasan Condet Rumah Rosid 2 26 Kios Rokok 1 30 Rumah Mahdi 1 32 Rumah Mahdi 1 34 Gg. Haji Saabun 1

37 Pusat Grosir Cililitan 1

43 Jln Otista 1 44 Dalam metromini 1 47 Jln Cikini Raya 1 50 Taman Ismail Marzuki 1

54 Tenda Soto di TIM 1

71 Stasiun Cikini 1 76 Jln Condet Raya Jln H. Noin 2 Stasiun Kalibata 1 81 s/d 89 Rumah Rosid 9 89 s/d 97 Toko di Mansur Pusat Grosir Cililitan 9 101 s/d Rumah Rosid 5

109 Tol Jagorawi 1 111 s/d 118 Rumah “orang pintar” di kaki gunung wilayah Sukabumi 8 121 s/d 127 Bakoel Koffie 6 131 s/d 136 Rumah Rosid 6 139 s/d 143 Toko Mansur di Pusat Grosir Cililitan 4 147 s/d 154

Rumah Mas Anto di Jln Purworejo

Dokumen terkait