• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : PENUTUP

B. Saran

Sebagai bahan akhir penulisan skripsi ini izinkanlah penulis memberikan beberapa saran, baik kepada penulis kaum kerabat dan pada para pembaca sekalian pada umumnya.

Pertama: Apabila terjadi perceraian maka sebaiknya selain menggunakan hukum yang telah di tetapkan tidak hanya melalui agama tetapi juga berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak demi pengurusan anak yang efektif seperti pemberian nafkah materiil dan in materiil bagi keberlangsungan hidup anak.

66

Kedua: Hendaknya setiap hakim harus teliti dalam memutuskan mengenai hak asuh anak. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh Hakim dalam membuat keputusan harus melihat kemaslahatan sang anak.

Ketiga: Pembuktian merupakan sarana untuk menemukan kebenaran. Dalam memeriksa bukti harus ada ketelitian Hakim. Oleh karena itu, perlu adanya sikap yang bijak dalam memeriksa bukti-bukti yang diajukan oleh kedua belah pihak yang berkaitan mengenai sengketa hak asuh anak (hadhanah). Juru sita selaku pihak yang berwenang untuk melakukan eksekusi juga harus bersikap arif agar pelaksanaak eksekusi terhadap anak berjalan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim

Abdurrahman. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Akademia Pressindo, 2007.

Abidin, Slamet, dkk. Fiqh Munakahat II. Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999.

Afifi, Fauzi Abbas. Metodologi Penelitian. Jakarta: Adelina Offset, 2010. Ali, Atabik dan Ahmad Zuhdi Mudhlar. Kamus Kontemporer Arab Indonesia. Cet-1. Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, 1996.

Ali, Zainuddin. Hukum Perdata Islam. Jakarta: Sinar Grafindo, 2006. Ayuub, Hasan. Fiqh Keluarga. Cet. IV. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005. Bintania, Aris. Hukum Acara Peradilan Agama dalam Kerangka Fiqh al-Qadha. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012.

Dahlan, Abdul Aziz. Ensiklopedia Hukum Islam. Jilid II. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999.

Djubaedah, Neng. Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia. Jakarta: PT. Hecca Utama, 2005.

Al-Fauzan, Saleh. Fiqh Sehari-hari. Depok: Gema Insani, 2000. Ghazali, Abdul Rahman. Fikih Munakahat. Jakarta Kencana, 2006. Al-Husaini, Taqiyudin Abi Bakr Ibn Muhammad. Kifayah Al-Akhyar. Beirut Dar: al-Fikr, 1994.

Huzaemah Tahido Yanggo, Fikih Perempuan Kontemporer, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2000), h. 149.

Al-Jaziri, Abd ar-Rahman. Kitab al-Fiqih ‘ala al-Mazahib al-‘arba’ah. Cet. I. Beirut: Dar al-Fikr, 2002.

Johnny, Ibrahim. Teori dan Metodelogi Penelitian Hukum Normatif. Malang: Bayumedia Publishing, 2008.

Al-Kahlani, Muhammad Ibn Ismail al-Shan’ani. Subul al-Salam. Juz. III. Bandung: Maktabah Dahlan, t.th.

Manan, Abdul. Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2008.

Mugniyah, M. Jawab. Fikih Lima Mazhab. Cet. XVII. Jakarta: Lentera, 2006.

Al-Nawawi, Abu Zakaria Muhyiddin ibn Syarf. Majmu ‘Syarh al-Mazhab. Jilid XVIII. t.tp: Dar al-Fikr, t.th.

Peter, Mahmud Marzuki. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana. 2011. Prawirohamidjojo, R. Soetojo dan Asis Saroedin. Hukum Orang dan Keluarga. Bandung: Penerbit Alumni, 1986.

Satria Effendi, M. Zein. Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer. Jakarta: Prenada Media, 2004.

Sabiq, Sayyid. Fiqh al-Sunnah. Jilid II. Cet. IV. Beirut: Daar al-Fikr, 1983.

___________. Fiqh Sunnah. Jilid 3. Cet. I. Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006.

Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2003.

Subekti. Pokok-pokok Hukum Perdata. Jakarta : Intermasa. 2003.

Soimin, Soedharyo. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jakarta: Sinar Grafika, 2007.

Thalib, Sayuti. Hukum Kekeluargaan Islam. Cet. V. Jakarta: UI Press, 1986.

Undang-undang Pokok Perkawinan Beserta Peraturan Perkawinan Khusus untuk Anggota ABRI, POLRI, Pegawai Kejaksaan dan Pegawai Negeri Sipil. Jakarta: Sinar Grafika, 2006.

Zaini, Muderis. Adopsi Suatu Tinjauan Dari Segi Tiga Sistem Hukum. Jakarta: Sinar Grafika, 1992.

Al-Zuhaili, Wahbah. Al Fiqh Al Islam Wa adillatuhu. Jilid IV. Damaskus: Daar Fikr, 1984.

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

PUTUSAN

Nomor 1674/Pdt.G/2012/PA JT. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

Pengadilan Agama Jakarta Timur yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada tingkat pertama telah menjatuhkan putusan dalam perkara Cerai Gugat yang diajukan oleh :

Penggugat, umur 27 tahun, agama Islam, pekerjaan Karyawati,

beralamat di Rawamangun, Jakarta Timur, dalam hal ini memberikan kuasa kepada Mangantar M. Napitupulu, S.H., Ferry Panggabean, S.H. dan Rando Purba, S.H., para Advokat dari Kantor Hukum Mark Napitupulu & Partners, beralamat di Ruko Cempaka Mas, Blok P No.

18, Jalan Letjen Suprapto, Kemayoran, Jakarta Pusat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 21 Juni 2012.

Selanjutnya disebut Penggugat.

M e l a w a n

Tergugat, umur 28 tahun, agama Islam, pekerjaan Karyawan Swasta,

beralamat di Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur. Selanjutnya disebut Tergugat.

Pengadilan Agama tersebut. Telah mempelajari berkas perkara.

Telah mendengar Penggugat dan saksi-saksi di persidangan.

TENTANG DUDUK PERKARANYA

Menimbang, bahwa Penggugat telah mengajukan gugatannya tertanggal

06 Juli 2012. Yang telah terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Jakarta

Timur dalam register perkara Nomor 1674/Pdt.G/2012/PA JT, tanggal 09 Juli 2012 yang pada pokoknya mengemukakan hal-hal sebagai berikut:

Hal. 1 dari 18 hal. Put. No. 1674/Pdt. G/2011/PAJT.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

I. Hubungan Hukum Antara Penggugat Dan Tergugat

1. Penggugat dan Tergugat adalah pasangan suami istri yang sah berdasarkan ketentuan undang-undang yang berlaku. Penggugat dan Tergugat melangsungkan akad nikah secara agama Islam pada tanggal 25 Maret 2007 (6 Rabi'ul Awal 1428 H) yang tercatat di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatinegara, Jalan I Gusti Ngurah Rai-Cipinang Muara, Jakarta Timur dengan Akta Perkawinan Nomor xxxx tanggal 26 Maret 2007 dan duplikat Kutipan Akta Nikah Nomor Xxxx .

2. Sebelum menikah dengan Tergugat, status kepercayaan Penggugat dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) adalah pemeluk agama Kristen Protestan sedangkan Tergugat adalah pemeluk agama Islam. Karena Penggugat dan Tergugat memiliki perbedaan keyakinan maka Penggugat menuruti permintaan Tergugat untuk melangsungkan perkawinan secara agama Islam dan merubah status kepercayaan Penggugat di dalam KTP menjadi pemeluk agama Islam. Hal ini karena Tergugat tidak ingin menikah secara agama Kristen Protestan dan merubah status keyakinan Tergugat menjadi pemeluk agama Kristen Protestan.

3. Penggugat dan Tergugat telah dikaruniai 2 (dua) anak dalam perkawinan ini, yaitu:

i) Anak ke I, perempuan, lahir di Jakarta pada tanggal 25 Maret 2007

dengan Akta Kelahiran No. xxxx tanggal 4 Juni 2007; dan

ii) Anak ke II, Laki-laki, lahir di Jakarta pada tanggal 29 Januari 2009

dengan Akta Kelahiran No. xxxx tanggal 29 April 2009.

II. Perkawinan Penggugat dan Tergugat Tidak Sesuai Dengan Tujuan Perkawinan Yang Diatur Dalam UU Perkawinan Karena Penggugat Sudah Tidak Mendapatkan Kebahagiaan Lahir Dan Batin Dalam Perkawinan Ini

1. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai pasangan suami istri yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia. Hal ini sesuai dengan Pasal 1 Undang-undang No. 1

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Tahun 1974 tentang Perkawinan ("UU Perkawinan") yang kami kutip

sebagai berikut:

"Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk

keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan

Ketuhanan Yang Maha Esa."

2. Berdasarkan ketentuan di atas, hubungan rumah tangga Penggugat dan Tergugat seharusnya memberikan kebahagian bagi Penggugat dan Tergugat. Namun demikian, sejak 1,5 tahun terakhir, Penggugat tidak mendapatkan kebahagian dalam perkawinan ini sehingga perkawinan Penggugat dan Tergugat sudah tidak sesuai dengan tujuan pernikahan yang diatur dalam UU Perkawinan.

3. Hilangnya kebahagiaan dalam rumah tangga Penggugat dan Tergugat berawal sejak awal tahun 2011 karena sejak saat itu Tergugat telah melanggar hak azasi Penggugat, yaitu hak kebebasan untuk beribadah menurut keyakinan hati Penggugat. Pada awalnya Penggugat dengan itikad baik meminta ijin kepada Tergugat untuk kembali beribadah sesuai dengan agama semula Penggugat (Kristen Protestan). Keinginan Penggugat ini didasarkan karena Penggugat mengalami perasaan batin yang tidak damai sejahtera setelah sekian lama tidak beribadah.

4. Namun demikian, Tergugat tidak menyetujui permintaan Penggugat. Penggugat bersikap sabar atas penolakan Tergugat dan beberapa waktu kemudian Penggugat kembali mencoba meminta ijin kepada Tergugat beberapa kali, namun Tergugat selalu menolak permintaan Penggugat. Di sisi lain, perasaan batin Penggugat semakin gelisah dan tidak tenang sehingga Penggugat beribadah dengan inisiatif sendiri. Akibatnya, Tergugat secara terus menerus memarahi Penggugat meskipun Penggugat berusaha menjelaskan perasaan batin yang dialaminya. 5. Beberapa waktu kemudian, Penggugat dengan itikad baik kembali

mencoba meminta ijin beribadah kepada Tergugat agar menghindari pertengkaran dengan Tergugat. Namun, Tergugat kembali menolak permintaan Penggugat. Hal ini ternyata menyebabkan pertengkaran yang cukup sengit antara Penggugat dan Tergugat dan mulai membuat

Hal. 3 dari 18 hal. Put. No. 1674/Pdt. G/2011/PAJT.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

suasana rumah tangga Penggugat dan Tergugat menjadi tidak harmonis dan tidak kondusif.

6. Pada hari-hari selanjutnya Penggugat dan Tergugat semakin sering bertengkar. Pertengkaran tersebut bahkan tidak lagi hanya disebabkan oleh hal di atas. Suasana rumah tangga pun semakin tidak kondusif hingga akhirnya Tergugat berkali-kali telah melakukan pemukulan terhadap Penggugat. Bahkan, Tergugat pernah memukul Penggugat dihadapan salah satu anak mereka (Anak ke I).

7. Karena Penggugat dan Tergugat tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini maka Penggugat mencoba untuk melibatkan masing-masing anggota keluarga untuk membantu penyelesaian masalah tersebut. Pertemuan keluarga telah dilakukan beberapa kali dan dalam salah satu pertemuan, Penggugat dan Tergugat telah membuat kesepakatan bersama yang pada pokoknya menyepakati bahwa Tergugat setuju untuk memberikan kebebasan beribadah kepada Penggugat sesuai dengan keyakinan Penggugat.

8. Namun demikian, faktanya kesepakatan bersama tidak menyelesaikan masalah karena Tergugat sama sekali tidak memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan bersama. Tidak lama kemudian Tergugat kembali menghalangi-halangi Penggugat untuk beribadah. Bahkan, sikap Tergugat semakin keras terhadap Penggugat.

9. Tergugat mulai mencoba membatasi ruang gerak Penggugat dengan selalu mengontrol keberadaan Penggugat ketika di luar rumah dengan cara menelepon Penggugat secara terus-menerus, mengirim short message service (SMS) atau blackberry messanger. Apabila Penggugat terlambat memberikan respon, Tergugat selalu memarahi Penggugat ketika tiba di rumah. Tergugat selalu mencurigai Penggugat sehingga Tergugat melarang Penggugat untuk keluar dari rumah dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal meskipun pada hari-hari kerja. Hal ini menyebabkan pertengkaran yang terus menerus antara Penggugat dan Tergugat.

10.Lebih lanjut, Tergugat mengancam untuk menghancurkan kehidupan Penggugat apabila Penggugat tidak menuruti kemauan Tergugat. Tergugat juga menakuti-nakuti Penggugat dengan mengatakan bahwa

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

Penggugat tidak berhak atas hak asuh anak. Penggugat hanya bisa pasrah dan bersabar dengan keadaan yang dialami oleh Penggugat. Penggugat sangat terkekang, mengalami depresi dan tidak menemukan kedamaian dalam menjalani hidup sehari-hari.

11.Kejadian di atas telah terjadi terus menerus selama 1,5 tahun terakhir dan telah menyebabkan suasana rumah tangga menjadi tidak harmonis dan tidak kondusif. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir kuantitas pertengkaran semakin sering sehingga akan menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan jika Penggugat dan Tergugat bercerai. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada harapan hubungan rumah tangga Penggugat dan Tergugat dapat rukun kembali karena Penggugat dan Tergugat sudah tidak saling menyayangi, tidak perduli satu sama lain dan sudah tidak menjalin komunikasi lagi. Bahkan, Penggugat dan Tergugat telah berpisah rumah sejak tanggal 2 Juni 2012.

12.Perceraian akibat pertengkaran yang terus menerus yang disebabkan oleh keinginan salah satu pihak untuk kembali menganut agama semula (sebelum pernikahan dilangsungkan) merupakan salah satu alasan perceraian. Hal ini sesuai dengan Pasal 116 huruf (k) Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menyatakan:

" Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:

k. peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga."

13.Ketentuan di atas secara konsisten telah diterapkan dalam berbagai Yurisprudensi Tetap Mahkamah Agung, antara lain sebagai berikut: ✓ Putusan Mahkamah Agung RI No. 3827/Pdt.G/2009/PA.Sby tanggal

28 Januari 2010 yang menyatakan

"Majelis Hakim berpendapat bahwa rumah tangga Pemohon dengan Termohon sudah pecah sedemikian rupa, tidak ada keharmonisan dan amat sulit dipertahankan untuk mencapai tujuan perkawinan sebagaimana mestinya, dikarenakan Termohon murtad/kembali

kepada keyakinannya yaitu Kristen,... sehingga telah cukup

Hal. 5 dari 18 hal. Put. No. 1674/Pdt. G/2011/PAJT.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

alasan dan tidak melawan hak bagi Pemohon untuk bercerai berdasarkan Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 Jo. Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam (vide: Yurisprudensi MARI No. 38. K/AG/1990)

• Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 068/Pdt.G/2012/PA.Srg tanggal 22 Februari 2012 yang menyatakan:

"Majelis hakim berkeyakinan bahwa Tergugat telah terbukti murtad

kembali ke agama semula (Katolik) yang perbuatan murtad

tersebut telah mengakibatkan rumah tangga penggugat dan Tergugat tidak rukun, keduanya telah berpisah rumah dan tidak lagi saling peduli sebagai suami istri... maka sesuai dengan ketentuan pasal 39 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 jo. Pasal 116

huruf h Kompilasi Hukum Islam, gugatan cerai Penggugat dalam

petitumnya angka 2 dapat dikabulkan sebagamimana tersebut dalam amar putusan ini;"

• Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 2233 /Pdt.G/2011/PA.Sby tanggal 07 November 2011 yang menyatakan:

"Menimbang, bahwa gugatan Penggugat didasarkan pada dalil/ alasan yang pada pokoknya adalah bahwa sejak 2006 antara Penggugat dengan Tergugat mulai sering terjadi perselisihan dan pertengkaran disebabkan Tergugat meninggalkan agama Islam (murtad) untuk kembali ke keyakinan sebelumnya yaitu katholik Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, gugatan Penggugat telah mempunyai cukup alasan dan telah terbukti serta memenuhi pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Jo. Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah 9 Tahun 1975 Jo. Pasal 116

huruf (f) Kompilasi Hukum Islam"

14.Lebih lanjut, suatu perselisihan yang sudah tidak dapat diselesaikan dan tidak ada harapan untuk dipulihkan juga merupakan salah satu alasan untuk mengakhiri suatu perkawinan. Hal ini sesuai dengan Pasal 19 huruf (f) UU Perkawinan yang menyatakan:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

putusan.mahkamahagung.go.id

"Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga."

15.Ketentuan di atas secara konsisten juga telah diterapkan dalam berbagai Yurisprudensi Tetap Mahkamah Agung, antara lain sebagai berikut:

• Putusan Mahkamah Agung RI No. 38K/AG/1990 tanggal 05 Oktober 1991 yang menyatakan:

"Bahwa alasan perceraian seperti dimaksud pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975, tidak lagi mencari siapa yang menjadi penyebabnya, melainkan ditekankan pada keadaan perkawinan itu apakah telah pecah / retak dan sulit dipertahankan, sebab mencari penyebab kesalahan dapat berakibat buruk pada anak dan masa depannya."

• Putusan Mahmakah Agung RI No. 534K/Pdt /1996 tanggal 18 Juni 1996 yang menyatakan:

"Dalam hal perceraian tidak dilihat dari siapa penyebab percekcokkan atau salah satu pihak telah meninggal kan pihak lain , tetapi yang perlu dilihat adalah perkawinan itu sendih, apakah perkawinan itu masih dapat dipertahankan atau tidak'

16.Berdasarkan ketentuan dan yurisprudensi di atas, gugatan Penggugat yang didasari atas pertengkaran yang terus menerus akibat keinginan Penggugat untuk kembali menjadi penganut agama semula Penggugat sudah sepatutnya dikabulkan.

III. Tergugat Telah Sepakat Untuk Bercerai Dengan Penggugat Berdasarkan Kesepakatan Bersama Untuk Bercerai Yang Ditandatangani Oleh Penggugat Dan Tergugat Tanggal 2 Juni 2012

1. Setelah menjalani hubungan rumah tangga yang tidak harmonis dalam waktu yang cukup lama, pada tanggal 2 Juni 2012 Tergugat dan Penggugat sepakat untuk bercerai dengan membuat dan menandatangani Kesepakatan Bersama Untuk Bercerai (selanjutnya disebut "Kesepakatan Bersama").

Hal. 7 dari 18 hal. Put. No. 1674/Pdt. G/2011/PAJT.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Dokumen terkait