BAB V PENUTUP
B. Saran-saran
Setelah menelaah dari permasalahan yang terdapat dalam penulisan ini, maka ada beberapa hal yang penulis rekomendasikan antara lain:
1. Dwangsom merupakan solusi antisipasi terhadap pihak yang lalai dalam menjalankan putusan pengadilan, maka dwangsom bisa menjadi alternatif bagi pihak yang berperkara khususnya di pengadilan agama.
2. Selama ini dwangsom lebih banyak dipakai di perkara Pengadilan Negeri, maka sudah saatnya hakim di Pengadilan Agama memberikan terobosan hukum dwangsom, agar putusan di Pengadilan Agama lebih bertaring.
3. Dengan adanya Dwangsom diharapkan menjaga kwalitas perkara yang diajukan di Pengadilan Agama khusunya, sehingga penerapan dwangsom dalam putusan menjadi suatu tuntutan tekanan (psikis) terhadap pihak yang kalah.
69
Al-Qalyubi, Al-syihab Al-Din, Al-Mahalli Juz IV, Kairo : Dar Wahya Al-Kutub, 1971 Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Raja
Grafindo Persada, 2006
Aripin, Jaenal, Pengadilan Agama Dalam Bingkai Reformasi Hukum Islam, Jakarta : Kencana, 2008
Arto, Mukti, Praktik Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003
Ashofa, Burhan, Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Rajawali Press, 1996 Ayyub, Hasan, Fiqh Keluarga, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2004
Ayyub, Syaikh Hasan, Fiqh keluarga, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006
Bisri, Cik Hasan, Kompilasi Hukum Islam Dan Peradilan agama (Dalam Sistem Hukum Nasional), Jakarta : Logos, 1999
Djohansyah, J, Mahkamah Agung Menuju Independensi Kekuasaan Kehakiman,
Jakarta : Kesain Blanc, 2008
Djubaedah, Neng, Hukum Perkawinan Islam DI Indonesia, Jakarta : PT. Hecca Utama, 2005
Hamza, Andi, Kamus Hukum, Jakarta : Ghalia, Indonesia, 1986
Hanitijo Soemitro, Ronny, Metodologi Penelitian Hukum dan Jumetri, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1990
Tumpa, Harifin A, Memahami Eksistensi Uang Paksa (Dwangsom) dan Inplementasinya di
Indonesia, Jakarta : Prenada Media Group, 2010
Ibrahim, Johnny, Teori dan Metodelogi Penelitian Hukum Normatif, Malang : Bayumedia Publishing, 2008
Ismail, Muhammad Ibnu, Subulussalam Juz III, Kairo : Dar Ihya Al-Turas Al-Araby, 1960
Kamarusdiana, Buku Daras Hukum Acara Peradilan Agama, Jakarta: Fakultas Syariah Dan Hukum UIN, 2013
Kusein, Abdur Rozak, Hak Anak Dalam Islam, Jakarta : Fikahati Aneska, 1995 Mahmud Marzuki, Peter, Penelitian Hukum, Jakarta : Kencana, 2011
Manan, Abdul, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2005
---, BeberapaPermasalahan Hukum Acara Perdata Pada PeradilanAgama, Jakarta : Al-Hikmah, 1997
---, Beberapa Tinjauan Mengenai sistem Peradilan dan Penyelsaian Sengketa, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1992
---, Hukum Acara Perdata Peradilan Indonesia, Medan : Zakir, 2001
---, Kedudukan kewenangan dan Acara Peradilan Agama, Jakarta : Pustaka Kartini, 1993
---, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, Jakarta : Sinar Grafika, 2007
Mujahidin, Ahmad, Pembaharuan Hukum Acara Perdata, Peradilan Agama dan Mahkamah Syariyah Di Indonesia, Jakarta : IKAHI, 2008 Nuruddin, Amiur, Hukum Perdata Islam Di Indonesia, Jakarta : Kencana, 2006
Pangaribuan, Luhut MP., Menuju Sistem Peradilan Pengayoman, (suatu catat awal ),
Jakarta : Ghalia Indonesia, 1995
Rasjidi, Lili, Hukum Sebagai Sistem, Jakarta : PT. Remaja Rosdakarya, 1993
Retnowulan dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Bandung : Mandar Maju, 2002
Romy H, Soemitro. Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1990 Sabiq, Sayyid, Fiqh Sunnah Jilid 2, Beirut-Lubhan : Dar al-Fikr, 1973
Saraswati, Rika, Hukum Perlindungan Anak Di Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2009
Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata, Bandung : Alumni, 1992
Simorangkir, Kamus Hukum, Jakarta : Sinar Grafika, 2007
Soekanto, Soejono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Pustaka Pelajar, 1992 Soimin, Soedharyo, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta : sinar Grafika,
2007
Sulaiman, Abu Daud bin Al-Sajastani, Sunan Abu Daud Juz I, Beirut: Daar Fikr, 2003
Warson, Ahmad, kamus Al-Munawir Arab – Indonesia, Surabaya : Pustaka Progresif, 1997
Zainuddin, Ali, Hukum Perdata Islam Di Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika, 2007 Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh Islam Wa Adillatuhu Juz VII, damaskus : Dar Al-fikr, 1984
Hlm. 1 dari 15 / Pts .No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Pengadilan Tinggi Agama Makassar yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada tingkat banding dalam sidang musyawarah majelis telah menjatuhkan putusan atas perkara yang diajukan oleh :
PEMBANDING, umur 27 tahun, agama Islam, pekerjaan karyawan swasta, pendidikan terakhir SMA, tempat tinggal di Kota Makassar, dalam hal ini memberi kuasa kepada kuasa hukumnya, Sri Wahyuningsih, S.H., Advokat / Penasehat Hukum pada Kontor Hukum Sri Wahyuningsih,S.H. & Rekan, berkantor di Jalan Topaz Raya Ruko Zamrud I Blok G No.15, Kelurahan Masale, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 4 September 2012, yang telah terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Agama Makassar dengan register No.464/SK/IX/2012/PA Mks., tanggal 5 September 2012, tergugat / pembanding;
m e l a w a n
TERBANDING, umur 32 tahun, agama Islam, pekerjaan wiraswasta, tempat tinggal di Kota Makassar, dalam hal ini memberi kuasa kepada kuasa hukumnya, Hamka Jarod, S.H., Advokat / Penasehat Hukum pada Law Offices Advokat dan Penasehat Hukum Hamka Jarod, S.H., berkantor di Jalan Arif Rahman Hakim No.40 di Makassar, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 8 Agustus 2012, yang telah terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Agama Makassar dengan register No.432/SK/VIII/2012/PA Mks., tanggal 13 Agustus 2012, penggugat / terbanding;
Pengadilan Tinggi Agama tersebut ,
Telah membaca dan mempelajari berkas perkara dan semua surat yang berhubungan dengan perkara ini.
Hlm. 2 dari 15 | Pts.No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks.
M., bertepatan tanggal 14 Muharam 1434 H., yang amarnya sebagai berikut;
Dalam Eksepsi
- Mengabulkan eksepsi tergugat;
Dalam Provisi
- Menyatakan tidak menerima permohonan provisi penggugat;
Dalam Pokok Perkara
1. Mengabulkan gugatan penggugat ;
2. Menetapkan anak bernama Ahmad Farel bin Wawan, umur 5 tahun dan Hilwa Nuratifah binti Wawan, umur 4 tahun berada di bawah hadhanah penggugat, Sri Derajat Tenriola binti A. Abd. Kahar ;
3. Membebankan kepada penggugat untuk membayar biaya perkara, sejumlah Rp 211.000,00 (dua ratus sebelas ribu rupiah) ;
Membaca Akta Permohonan Banding Nomor 1138/Pdt.G/2012/PA Mks. yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Agama Makassar, tanggal 11 Desember 2012, yang menyatakan bahwa tergugat / pembanding telah mengajukan permohonan banding terhadap putusan Pengadilan Agama Makassar tersebut dan permohonan banding tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawannya secara seksama pada tanggal 13 Desember 2012 ;
Bahwa tergugat / pembanding telah mengajukan memori banding bertanggal 26 Desember 2012 yang diterima oleh Panitera Pengadilan Agama Makassar pada tanggal 3 Januari 2013, dan telah disampaikan kepada penggugat / terbanding melalui kuasanya pada tanggal 7 Januari 2013, kemudian terhadap memori banding tersebut penggugat / terbanding telah mengajukan kontra memori banding bertanggal 7 Januari 2013 dan telah disampaikan pula kepada tergugat / pembanding pada tanggal 9 Januari 2013;
Bahwa terhadap kedua pihak telah diberitahukan untuk memeriksa berkas
(inzage), sesuai surat pemberitahuan tanggal 8 Junuari 2013 kepada kuasa hukum masing-masing pihak, dan berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Berkas Nomor 1138/Pdt.G/2012/PA Mks. , tanggal 9 Januari 2013, tergugat / pembanding telah datang memeriksa berkas perkara banding (inzage), sedangkan penggugat / terbanding telah datang memeriksa berkas perkara banding (inzage) berdasarkan
Hlm. 3 dari 15 | Pts.No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks.
TENTANG HUKUMNYA
Menimbang, bahwa oleh karena permohonan banding pembanding diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara-cara serta memenuhi syarat menurut ketentuan perundang-undangan, maka permohonan banding tersebut formal harus dinyatakan dapat diterima;
Menimbang, bahwa Pengadilan Tinggi Agama setelah membaca, meneliti, mempelajari dengan seksama berkas perkara banding yang terdiri dari berita acara persidangan, surat-surat bukti dan surat-surat lainnya yang berhubungan dengan perkara ini serta keterangan saksi-saksi yang diajukan oleh para pihak berperkara, salinan resmi putusan Pengadilan Agama, dan setelah pula memperhatikan pertimbangan hukum Pengadilan Agama, maka Pengadilan Tinggi Agama menyatakan tidak seluruhnya sependapat dengan pertimbangan Pengadilan Agama tersebut, oleh karena itu Pengadilan Tinggi Agama akan memberikan pertimbangan sebagai berikut :
DALAM EKSEPSI
Menimbang, bahwa eksepsi tergugat / pembanding sebagaimana yang diuraikan dalam jawabannya adalah berupa bantahan atas tuntutan provisi penggugat / terbanding yang bertujuan agar hak asuh kedua orang anak dari perkawinan penggugat / terbanding dengan tergugat / pembanding diserahkan kepada penggugat / terbanding sambil menunggu keputusan yang berkekuatan hukum tetap. Oleh karena tuntutan provisi sudah menyentuh pokok perkara dan bertentangan dengan tujuan provisi yang hanya berkenaan dengan tindakan sementara yang tidak termasuk pokok perkara, maka tuntutan penggugat / terbanding tersebut harus ditolak (vide Putusan Mahkamah Agung No. 1967 K/Pdt/1995, tanggal 4 Juni 1998);
Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Agama atas dasar apa yang dipertimbangkan sepanjang mengenai eksepsi dalam putusannya telah mempertimbangkan bahwa eksepsi tersebut sudah membahas pokok perkara maka pada dasarnya eksepsi tergugat / pembanding tersebut beralasan dan tidak melawan hukum, sehingga eksepsi tersebut patut dikabulkan, namun Pengadilan Tinggi Agama dalam hal ini tidak sependapat dengan pertimbangan hukum Pengadilan Agama tersebut dengan pertimbangan sebagai berikut :
Hlm. 4 dari 15 | Pts.No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks.
atas tuntutan provisi penggugat / terbanding yang bertujuan agar hak asuh kedua orang anak dari perkawinan penggugat / terbanding dengan tergugat / pembanding diserahkan kepada penggugat / terbanding sambil menunggu keputusan yang berkekuatan hukum tetap dan lagi pula akan dipertimbangkan dalam provisi maka eksepsi tergugat / pembanding a quo harus ditolak, sesuai Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 361 K/Sip/1973, tanggal 30 Desember 1975, yang mengandung abstrak hukum bahwa “karena tangkisan tergugat / terbanding tanggal 28 Oktober 1968 bukan merupakan tangkisan dalam arti eksepsi, tetapi jawaban (verweer), sedang menurut pasal 162 RBg. yang diputus bersama-sama dengan pokok perkara adalah tangkisan dalam arti kata eksepsi, putusan Hakim pertama terhadap tangkisan tergugat / terbanding tersebut adalah keliru maka harus dibatalkan“ ;
Menimbang, bahwa atas dasar pertimbangan di atas maka Pengadilan Tinggi Agama tidak dapat menyetujui dan menilai pertimbangan hukum sebagai mana terurai dalam putusan Pengadilan Agama (hlm. 14 alinea kedua dan ketiga) serta amar putusan dalam eksepsi adalah tidak tepat dan tidak benar, oleh karenanya tidak dapat dipertahankan dan selanjutnya Pengadilan Tinggi Agama menyatakan menolak eksepsi tergugat / pembanding,
DALAM PROVISI
Menimbang, bahwa penggugat dalam tuntutan provisinya menuntut agar memerintahkan kepada tergugat / pembanding untuk menyerahkan kedua anak penggugat / terbanding dan tergugat / pembanding kepada penggugat / terbanding sambil menunggu putusan berkekuatan hukum tetap, dan menghukum tergugat / pembanding membayar uang paksa (dwangsom), sebesar Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) setiap hari apabila lalai melaksanakan putusan provisi ini;
Menimbang, bahwa tuntutan provisi penggugat menyangkut dua hal yaitu pertama menuntut menyerahkan kedua anak penggugat / terbanding dan tergugat / pembanding kepada penggugat / terbanding sambil menunggu putusan berkekuatan hukum tetap, dan kedua menuntut tergugat / pembanding membayar uang paksa ( dwangsom ), apabila lalai melaksanakan putusan provisi ini :
Menimbang, bahwa terhadap tuntutan yang pertama sudah masuk pokok perkara karena memerlukan pembuktian, sedangkan terhadap tuntutan kedua menyangkut pelaksanaan putusan yang akan dipertimbangkan dalam pokok
Hlm. 5 dari 15 | Pts.No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks.
DALAM POKOK PERKARA
Menimbang, bahwa Pengadilan Tinggi Agama setelah pula memperhatikan pertimbangan hukum Pengadilan Agama, maupun memori banding pembanding dan kontra memori para terbanding, maka Pengadilan Tinggi Agama akan memberikan tanggapan terlebih dahulu atas keberatan pembanding tersebut sebagai berikut ;
Menimbang, bahwa keberatan pembanding pada angka 1 s.d. 5 sebagaimana terurai dalam memori banding a quo, pada dasarnya hanyalah merupakan pengulangan atas jawaban yang disampaikannya pada waktu pemeriksaan perkara, dan telah dipertimbangkan dengan cermat oleh hakim tingkat pertama, sehingga tidak perlu dipertimbangkan lagi oleh Pengadilan Tinggi Agama, dengan demikian keberatan pembanding a quo tidak dapat dibenarkan dan harus ditolak ;
Menimbang, bahwa terlepas dari keberatan-keberatan tergugat / pembanding yang terurai dalam memori bandingnya, maka atas dasar apa yang telah dipertimbangkan oleh Pengadilan Agama dalam putusannya adalah telah tepat dan benar, oleh karenanya Pengadilan Tinggi Agama menyatakan sependapat dan dapat menyetujui pertimbangan hukum Pengadilan Agama tersebut dan kemudian diambil alih sebagai pertimbangan hukum sendiri dalam putusan ini, namun demikian Pengadilan Tinggi Agama memandang perlu untuk menambah pertimbangan hukum sendiri sebagai berikut ;
Menimbang, bahwa gugatan tentang hadhanah dalam perkara ini pada pokoknya didasarkan atas dalil bahwa penggugat / terbanding dan tergugat / pembanding telah bercerai, dimana dua orang anak dari perkawinannya belum mumayyiz dan belum ditetapkan pemegang hak hadhanahnya, anak pertama bernama Ahmad Farel bin Wawan berumur 5 (lima) tahun dan anak kedua bernama Hilwa Nuratifah binti Wawan berumur 4 (empat) tahun, tergugat telah membatasi dan menghalangi hak penggugat untuk pemeliharaan kedua anak tersebut, anak pertama hanya ikut bersama penggugat / terbanding pada setiap hari Senin dan Selasa, sedangkan terhadap anak kedua, tidak pernah lagi diizinkan oleh tergugat / pembanding untuk bertemu dengan penggugat / terbanding, dan bahkan saat ini kedua anak tersebut dirahasiakan tempat tinggalnya oleh tergugat / pembanding ;
Hlm. 6 dari 15 | Pts.No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks.
penggugat / terbanding dan tergugat / pembanding pernah menikah pada tanggal 4 September 2006 kemudian bercerai pada tanggal 24 Juli 2012, selama perkawinannya dikarunai dua orang anak, yaitu Ahmad Farel bin Wawan, lahir tanggal 20 Juli 2007 atau masih berusia 5 tahun 7 bulan dan anak kedua bernama Hilwa Nuratifah binti Wawan, lahir tanggal 6 Agustus 2008 atau masih berusia 4 tahun 6 bulan (belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun atau belum mumayyiz), yang berada dalam penguasaan tergugat / pembanding hingga pada saat putusan perkara ini diputus di Pengadilan Agama Makassar tanggal 28 November 2012 ;
Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 66 ayat (5) Undang undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah dirubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009 dinyatakan bahwa permohonan soal penguasaan anak, nafkah anak, nafkah isteri, dan harta bersama suami isteri dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak atau pun sesudah ikrar talak diucapkan, jo. Pasal 86 Undang-undang yang sama dinyatakan bahwa gugatan soal penguasaan anak, nafkah anak, nafkah isteri, dan harta bersama suami isteri dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan perceraian atau pun sesudah keputusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap maka gugatan penggugat / terbanding tersebut berdasarkan hukum dan karenanya patut dipertimbangkan;
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta di persidangan Penggugat menuntut hak pengasuhan dan pemeliharaan anak (hadhanah), karena secara hukum sejak penggugat / terbanding bercerai dengan tergugat / pembanding, ternyata dua orang anak penggugat / terbanding dengan tergugat / pembanding belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun atau belum mumayyiz), dan hingga saat ini belum ditetapkan siapa yang berhak mengasuh dan memeliharanya (belum ditetapkan/diputuskan siapa pemegang hak hadlonahnya) ;
Menimbang, bahwa sejak terjadinya perceraian tersebut ditemukan pula fakta bahwa anak pertama yang bernama Ahmad Farel bin Wawan berada dalam pemeliharaan penggugat / terbanding hanya pada setiap hari Senin dan Selasa, sedangkan anak kedua yang bernama Hilwa Nuratifah binti Wawan tidak lagi berada dalam pemeliharaan penggugat / terbanding dan bahkan tidak pernah dipertemukan dengan penggugat / terbanding sebagai ibu kandungnya, sehingga secara de fakto kedua anak tersebut hingga kini berada dalam penguasaan tergugat
Hlm. 7 dari 15 | Pts.No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks.
bahwa baik ibu atau ayah tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, pengadilan memberikan keputusannya”, maka dengan demikian harus ada kepastian hukum siapa yang berhak menjadi hadhin
(pengasuh dan pemelihara) demi kelangsungan hidup dan kepentingan terbaik bagi kedua anak tersebut;
Menimbang, bahwa sesuai Pasal 45 ayat (1) dan (2) yang menentukan bahwa : ”kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri dan kewajiban itu berlaku terus meski perkawinan kedua orang tua putus”, maka dengan ketentuan ini mempertegas dan memperjelas bahwa kewajiban dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya tidak boleh diputus dan dihalang-halangi meski pun kedua orang tuanya bercerai dan tidak tinggal satu rumah lagi, dan penguasaan anak kepada salah satu orang tuanya tidaklah berarti menghalang-halangi atau memutus hubungannya dengan orang tua yang lainnya dan atau menjadikan orang tua yang lainnya akan kesulitan untuk bertemu dengan anak, lagi pula untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan dalam sengketa hadhanah ini yang jika berlarut-larut akan menimbulkan kemudlaratan bagi perkembangan kehidupan mental dan psikologi anak ;
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, ternyata keinginan penggugat / terbanding untuk mendidik dan mencurahkan kasih sayangnya terhadap anak-anaknya yang sekarang ini dibatasi dan bahkan dihalang-halangi oleh tergugat / pembanding dengan alasan adanya Surat Pernyataan yang dibuat pada tanggal 21 Juni 2012 sebagai kesepakatan bersama tentang hak pemeliharaan anak antara penggugat / terbanding dengan tergugat / pembanding yang dibuat tanpa ada paksaan dari pihak siapa pun yang selama ini kesepakatan itu sudah dijalankan sebagai mana mestinya, meskipun ada aturan yang menyatakan bahwa anak yang belum mumayyiz berada dalam pemeliharaan ibunya, sedangkan penggugat / terbanding menilai kesepakatan tersebut hanyalah bersifat sementara kemudian harus mengacu pada aturan yang berlaku mengenai siapa yang berhak untuk melakukan hak hadhanah atas anak, hal mana oleh Pengadilan Agama dalam putusannya tidak dipertimbangkan lebih lanjut
Hlm. 8 dari 15 | Pts.No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks.
Menimbang, bahwa dalam Pasal 1320 ayat (4) jo 1337 dan 1338 KUH Perdata mengandung “asas kebebasan berkontrak”, bahwa para pihak yang berjanji bebas membuat perjanjian selama tidak melanggar kesusilaan, ketertiban umum dan undang-undang, maka dapat disimpulkan bahwa “asas kebebasan berkontrak” tersebut meliputi :
1) kebebasan membuat perjanjian, memilih dan menentukan causa perjanjian, menentukan obyek perjanjian, menentukan bentuk suatu perjanjian;
2) kebebasan membuat perjanjian tidak bersifat mutlak atau tidak tak terbatas tetapi memiliki batasan-batasan yang menyangkut kesepakatan, kecakapan, i’tikad baik, obyek yang tidak dilarang oleh syara’, dan menegakkan keadilan dan menghindari kezhaliman;
3) asas keseimbangan para pihak yang membuat perjanjian sehingga tidak merugikan salah satu pihak dikarenakan salah satu pihak memiliki posisi yang kuat dan posisi yang lemah pada pihak lain;
4) klausul-klausul yang terdapat dalam perjanjian harus didasarkan dan dilaksanakan dengan itikad baik;
Menimbang, bahwa sesuai Putusan Mahkamah Agung RI No. 169 PK/Pdt/2008 tanggal 5 Desember 2008 jo. Putusan No. 442 PK/Pdt/2008, tanggal 23 Desember 2008, kesepakatan kedua pihak yang bersengketa, sehingga tidak mungkin lagi diatur dengan cara lain, sepanjang kedua belah pihak tidak menentukan lain, atau kesepakatan itu tidak seimbang/memberatkan salah satu pihak, dan pada hakekatnya rasa keadilan tidak saja ditinjau dan dilihat dari segi formal legalistic yang bisa dimungkinkan melalui rekayasa, tetapi harus juga ditinjau dan dilihat dari segi keadilan substantif dengan mempertimbangkan segi-segi kondisional yang mempengaruhinya;
Menimbang, bahwa ditemukan fakta, pembuatan surat kesepakatan bersama berupa Surat Pernyataan yang dibuat tanggal 21 Juni 2012 sebagai kesepakatan bersama tentang hak pemeliharaan anak antara penggugat / terbanding dengan tergugat / pembanding ketika penggugat / terbanding melaporkan tergugat / pembanding ke pihak kepolisian, patut diduga sangat dipengaruhi oleh kondisi keretakan rumah tangga yang telah mencapai puncaknya dengan terjadinya perceraian antara keduanya, sehingga suasana batin penggugat / terbanding berada dalam posisi yang tertekan dan lemah serta tidak bebas
Hlm. 9 dari 15 | Pts.No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks.
merupakan “misbruik van omstandigheiden”, yang mengakibatkan perjanjian dapat dibatalkan, karena tidak lagi memenuhi unsur-unsur Pasal 1320 KUH.Perdata, yaitu tidak adanya kehendak yang bebas dari salah satu pihak ( vide Putusan Mahkamah Agung RI. No. 2356 K/Pdt/2008, Tanggal 18 Februari 2009) ; Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, ditemukan fakta bahwa causa atau klausul perjanjian yang terdapat dalam Surat Pernyataan a quo, bertentangan undang-undang dan hukum yang berlaku sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo. Pasal 45 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo. Pasal 149 huruf d, pasal 156 huruf (d) dan (f) Kompilasi Hukum Islam, serta melanggar asas kebebasan berkontrak sebagaimana ketentuan Pasal 1320 ayat (4) jo 1337 dan 1338 KUH Perdata, dan pula merupakan penyalahgunaan kesempatan atau penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden) oleh tergugat / pembanding yang menempatkan posisi dan kedudukan penggugat / terbanding sebagai pihak yang lemah dalam perjanjian tersebut ;
Menimbang, bahwa atas dasar pertimbangan di atas, maka majelis hakim menilai bahwa Surat Pernyatan a quo adalah tidak sah menurut hukum sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat bagi penggugat / terbanding dengan tergugat / pembanding, oleh karena itu dalil-dalil bantahan tergugat /
pembanding aquo tidak beralasan menurut hukum sehingga harus
dikesampingkan, dan selanjutnya Pengadilan Tinggi Agama akan mempertimbangkan ada tidaknya alasan atau halangan menurut hukum bagi penggugat / terbanding dalam penguasaan kedua anak tersebut ;
Menimbang, bahwa pada saat perkara ini diputus, ternyata kedua anak tersebut berada dalam pemeliharaan tergugat / pembanding dan pula tergugat / pembanding telah membatasi dan bahkan melarang anaknya tersebut untuk tinggal bersama atau pun bertemu dengan penggugat / terbanding, maka dengan sikap tergugat / pembanding tersebut telah mengabaikan dan menghalangi hak-hak penggugat / terbanding sebagai ibu kandungnya untuk memelihara dan memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada kedua anak tersebut;
Menimbang, bahwa sesuai Pasal 3 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, bahwa Perlindungan anak bertujuan untuk
Hlm. 10 dari 15 | Pts.No.2/Pdt.G/2013/PTA Mks.
serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera, kemudian dalam Pasal 1 ayat (1) huruf (a) dan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, bahwa kesejahteraan anak adalah suatu tata