• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

5.2 SARAN

Seiring dengan adanya perkembangan zaman dan globalisasi, memang wajar dilakukan pembangunan terhadap kota Medan. Hal ini akan menunjukan kota Medan akan menjadikan kota yang maju dan berkembang. Tetapi alangkah baiknya, apabila pembangunan tersebut dilakukan dengan tidak merusak cagar budaya atau yang memiliki nilai sejarah bagi kota Medan, seperti menghancurkan banguna n-bangunan bersejerah yang memiliki aset penting dan bahkan menunjukkan jati diri terhadap kota Medan.

Apabila pembangunan memang dilakukan di Kota Medan, seharusnya berada pada kawasan-kawasan yang memiliki lahan yang tepat untuk proses pembangunan, dan sebaiknya pembangunan itu dilakukan secara merata, tidak menonjol dan

kawasan bisnis saja, dan bahkan lebih dominan digunakan bagi kalangan masyarakat kalangan atas.

Oleh sebab itu, bagi para Pemerintah Kota dan Pemilik modal (pengusaha) untuk menutupi adanya kesenjangan sosial akibat dari perubahan tatanan kota Medan yang dulunya klasik dan kini berubah menjadi kota yang modern tetapi tidak memberikan jati dirinya, sebaiknya juga memberikan lahan untuk berkumpul dan berekreasi bagi masyarakat kalangan bawah, sehingga kenyamanan untuk tinggal di kota Medan dapat dinikmati oleh berbagai strata sosial masyarakat Kota Medan.

DAFTAR PUSTAKA

Avan, Alexander, Februari 2010 : Parijs van Soematra, Medan : Rainmaker Publishing House.

Branch, Melville C, 1995 : Perencanaan Kota Kompresif. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Budihardjo, Msc, 1997 : Tata Ruang Perkotaan, Bandung : Alumni.

Bungin, Dr.H.M, 2007 : Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : Kencana.

Daldjoeni, Drs. N, 1897 : Geografi Kota dan Desa. Bandung : Alumni.

Kessing M. Roger, Maret 1981 : Antropologi Budaya. Ahli bahasa Drs. Samuel Gunawan, MA, 1999. Penerbit Erlangga.

Koentjaraningrat, Agustus 1980 : Sejarah Teori Antropologi I, Jakarta.UI-Press. Koentjaraningrat, 1985 : Metode-metode Penelitian Masyarakat, Jakarta : Gramedia. Koentjaraningrat, Mei 1996 : Pengantar Antropologi I, Jakarta, PT. Rineka Cipta. Koentjaraningrat, Oktober 1997 : Pengantar Antropologi II, Jakarta, PT. Rineka

Cipta.

Koestoro, Lucas Partanda dkk, 2006 : Medan, Kota di Pesisir Timur Sumatera Utara

dan Peninggalan Tuanya, Medan : Balai Arkeologi.

Miraza, Bachtiar Hasan, 2007 : Learned Tata Ruang Kota Medan, Buletin Majalah Kompas.

Sutrisna, Deni, November 2000 : Tinjauan Awal Bangunan-Bangunan Kolonial di

Medan, Medan : Balai Arkeologi.

Yunus, Hadi Sabari, 2010 : MEGAPOLITAN, Konsep Problematika dan Prospek, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

      sumber sumber : http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak- snc3/hs148.snc3/17555_1197491943672_1419690374_30487686_3711495_n.jpg

Perubahan yang terjadi pada tata ruang Kota Medan dapat diungkapkan dalam foto- foto di bawah ini:

Gambar 1

(Sumber : Rini Tri A.Siagian)

( kawasan jembatan tua titi gantung peninggalan Belanda, yang sekarang digunakan objek wisata bagi masyarakat golongan bawah untuk memandangi kereta api yang terdapat di bawah titi tersebut). lahan ini juga dijadikan sebagai tempat jualan pedagan kaki lima, sehingga merusak estetika kota Medan sebagai kawasan kota inti yang bersejarah).

Gambar 2 (Rini Tri A.Siagian)

(Para penjual buku kaki lima di sepanjang areal jalan, yang sering sekali mengalami pengusiran oleh Satpol PP, dengan alasan pembersihan tata ruang Kota Medan. Tetapi mereka tetap berjual di tempat itu disebabkan karena tidak adanya pekerjaan lain yang akan dilakukan).

Gambar 3

(Sumber : Rini Tri A Siagian)

( Kawasan Lapangan Merdeka kota Medan, yang kini bagian sisinya sedikit lebih dirancang menjadi kota Medan yang bernuansa Singapore sehingga lebih terkesan modern atau lebih sering dikatakan dengan Foodcourt. Biasanya mereka yang datang kemari ialah mereka masyarakat dari kalangan masyarakat atas ( orang-orang yang memiliki uang).

Gambar 4

(Sumber : Rini Tri A Siagian)

(Balai kota Medan merupakan salah sate aset sejarah yang dulunya digunakan sebagai tempat berkumpulkan masyarakat kota Medan dari segala penjuru baik dari kalangan masyarakat atas maupun kalangan masyarakat bawah untuk menyatakan aspirasinya. Tetapi sekarang ini bangunan tersebut telah dimiliki oleh bangunan megah Aston City Hall, dimana Balai Kota sekarang digunakan sebagai Café yang dikhususkan bagi kaum masyarakat atas).

Gambar 5

(Sumber : Rini Tri A Siagian)

(Kawasan dari stasiun Kereta Api, yang kini setiap harinya menimbulkan kemacetan yang padat, karena adanya para masyarakat-masyarakat golongan bawah seperti : tukang becak, supir angkot memarkirkan kendaraannya dipinggir jalan, sehingga membuat tatanan kota Medan yang semberawut dan merusak estetika kota).

Gambar 6

( Sumber : Rini Tri A Siagian)

( Kawasan pecinan, Jl Irian Barat yang dulunya sebagai kawasan perdagangan bagi orang cina, yang kini sudah tidak menjadi kawasan yang perdagangan yang ramai lagi, karena mayoritas sudah pindah ke kawasan inti kota, dan masyarakat pun sudag bertumpuk berkumpul dikawasan inti kota tersebut. Disekitar kawasan ini dulunya terdapat bangunan peninggalan Belanda yang telah dinyatakan sebagai perumahan PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) yang kini bangunan tersebut telah dihancurkan bahkan sama sekali tidak nampak bentuk dan wujudnya, bahkan ada dijadikan sarana perekonomian yang besar di kota Medan).

Gambar 7

(Sumber : Rini Tri A Siagian)

(Kawasan Lapangan Merdeka sekarang yang kini tidak menunjukkan jati dirinya bagi kota Medan, sebab di samping sisi lapangan tersebut telah dibangun tempat berkumpul orang-orang kalangan atas yang sering disebut sebagai Foodcourt “Merdeka Walk”. Pada kawasan ini sering terjadi kemacetan yang panjang, hal ini disebabkan karena banyak masyararat berbondong-bondong datang ke Merdeka Walk ini).

Gambar 8

(Sumber : Rini Tri A Siagian)

( Kawasan kota lama “Kesawan ” yang kelihatan ramai dan padat, yang tidak lagi menunjukkan jati diri nya terhadapi Kota Medan. Banyak bangunan-bangunan yang terdapat di kawasan ini tidak dipergunakan lagi, sehingga kelihatan bangunan yang kumuh dan berlumut).

Gambar 9

(Sumber : Rini Tri A Siagian)

(Kawasan kota lama yaitu pada daerah kawasan Jl.Pajak Ikan lama. Kawasan ini kelihatan kumuh. Tata ruangnya yang berfungsi sebagai areal perdagangan orang Tamil dan Cina yang setiap harinya menimbulkan kemacetan yang panjang, akibatnya dari kesemerawutannya para kendaraan untuk parkir). Hal ini disebabkan karena kepadatan penduduk di kota Medan, dan pembangunan yang terjadi tidak merata).

Interview Guide

1. Sudah berapa lama saudara tinggal di kota Medan.

2. Apakah saudara merasakan adanya perubahan terhadap tata ruang kota di kota Medan ini.

3. Apakah saudara setuju dilakukannya pembanguan di kota Medan ini dengan merubah pola tata ruangnya.

4. Menurut saudara apa saja yang mempengaruhi terjadinya perubahan tata ruang kota Medan.

5. Menurut saudara siapa yang berpengaruh terhadap terjadinya perubahan tata ruang kota Medan.

6. Mengapa bangunan-bangunan bersejarah di kota Medan ini khususnya di kawasan kota lama banyak yang berubah dan hilang.

7. Menurut saudara penting tidak sejarah itu.

8. Menurut saudara bagaimana bentuk tata ruang kota Medan yang sekarang. 9. Bagaimana peran saudara terhadap tata ruang kota Medan sekarang yang telah

berubah.

10.Bagaimana usaha/upaya saudara untuk mempertahankan keberadaaan bangunan peninggalan sejarah tersebut.

PETA KOTA MEDAN

(Peta Kota Medan Tempo Dulu)

(Peta Kota Medan setelah zaman sekarang)

Daftar Istilah

Acte van Verband

Akta pertautan yang ditandatangi oleh Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam dan Residen Riau Eliza Netscher pada tahun 1862 Msehi.

Bangunan Komersial

Bangunan perniagaan seperti pertokoan, pasar dan pusat-pusat ekonomi lainnya.

Buitenzorg

Nama Belanda untuk kota bogor. Bumiputra

Sebutan untuk penduduk asli Kepulauan Nusantara. Deli

Nama Kesultanan Melayu yang bercorak Islam yang berkuasa di wilayah Medan dan sekitarnya pada periode sekitar abad 17 sampai pertengahan abad 20 Masehi.

Deli Spoorweg Maatschappij

Perusahan kereta api yang beroperasi di Sumatra Timur sebelum Indonesia merdeka.

Ekosistem Level Domestifikasi

Ekosistem dikatakan telah terdomestifikasi apabila sejumlah penampilannya mengalami perubahan dan ia menjadi tergantung pada campur tangan manusia. Proses domestifikasinya pada ekosistem/lingkungan berjalan lambat dan manusia secara tidak sengaja mengubah beberapa ciri fisik sehingga

Esplanade

Nama lama untuk lapangan Merdeka Medan. Feodal

Suatu keadaan masyarakat yang dikuasai oleh kaum bangsawan dan pemilik tanah.

Gemeente

Nama administratif untuk wilayah kotapraja pada masa Hindia Belanda. Gouvernemen

Bahasa Belanda untuk kata pemerintah setingkat Provinsi. Java

Ejaan lama untuk Jawa. Javasche Bank

Bank Jawa. Gedung-gedung peninggalan Bank Jawa saat sekarang ini merupakan gedung-gedung milik Bank Indonesia.

Kapitalis

Kelompok orang-orang bermodal besar. Kesultanan

Suatu bentuk pemerintahan kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bergelar sultan.

Koloni

Wilayah yang dikuasai oleh negeri asing. Kuli kontrak

Sebutan untuk para pekerja kebun yang diikat oleh perjanjian kontrak kuli. Sebutan ini kemudian lebih ditujukan kepada para pekerja kebun yang berasal dari Jawa.

Landscape-landscape bangunan

Geografic Information – Terminology “ Fitur merupakan suatu abstraksi fenomena dunia nyata, yaitu sebuah fitur dapat berupa tipe fitur atau contoh fitur. Contohnya : Sungai Deli adalah suatu contoh fitur dari tipe fitur sungai. Fitur budaya dapat berupa bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai sejarah, seperti landscape-landscape bangunan tua yang ada di kota Medan. misalnya : Kantor Pos, Stasiun Kereta Api, Balai Kota, Lapangan Merdeka, Hotel, dll.

Medan stadhuis

Balai Kota Medan. Nederland Indies

Hindia Belanda Onderneming

Bahasa Belanda untuk perusahaan. Yang dimaksud onderneming adalah perusahaan perkebunan tembakau beserta areal kebun-kebunnya.

Parijs

Ejaan Belanda untuk kota Paris. Residen

Jabatan kepala daerah pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Untuk ukuran sekarang, jabatan ini dapat disetarakan dengan Kantor Pembantu Gubernur Wilayah tertentu.

Soematra

Sumatra Timur

Wilayah yang sampai tahun 1887 Masehi merupakan kawasan memanjang di pesisir timur Sumatra dari perbatasan Aceh sampai daerah Kesultanan Siak. Sultangrond

Nama administratif untuk wilayah kekuasaan Sultan Deli setelah memindahkan ibukotanya dari Labuhan ke Medan.

Timur Asing

Satu dari tiga kelompok penduduk Hindia Belanda berdasarkan undang- undang Hindia Belanda tahun 1854. Yang termasuk salam kelompok ini adalah orang-orang Tionghoa, Arab, India yang merupakan penduduk non pribumi dan non Eropa di Hindia Belanda.

INFORMAN

1. Nama : Juan Pasaribu

Pekerjaan : Penjual buku di bawah titi gantung. “Toko buku Jefry”

Umur : 35 tahun

2. Nama : Pak simamora

Pekerjaan :Penjual buku kaki lima dibawah titi gantung, yang selalu digusur oleh Satpol PP. Tetapi tetap berjualan eceran di kawasan tersebut.

Umur : 68 tahun

3. Nama : Bu Nur

Pekerjaan : Penjual mie eceran Umur : 46 tahun

4. Nama : Revi

Pekerjaan : Wiraswasta ( membuka lahan usaha di kawasan Merdeka Walk).

Umur : 47 tahun

6. Nama : Pak Tarigan

Pekerjaan : Wiraswasta

Umur : 65 tahun

7. Nama : Tengku Muahmar

Pekerjaan : Pengurus Istana Maimon ( Keturunan Sultan Deli yang ke-13

Umur : 27 tahun

8. Nama : Ejara Singh

Pekerjaan : Pengurus vihara

Umur : 68 tahun

9. Nama : Leni

Pekerjaan : Mahasiswi

Umur : 22 tahun

10.Nama : Ibu Ima

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Dokumen terkait