• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

5.2 Saran

Berdasarkan hasil pengamatan dan temuan dalam penelitian, peneliti melihat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.Saran ini diharapkan dapat menjadi masukan positif bagi pemerintah, masyarakat, dan pihak perusahaan. Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kepada remaja yang bekerja diharapkan bisa lebih memprioritaskan tugas utamanya yaitu sebagai mahasiswa. Pilihan bekerja memang baik tetapi diharapkan jangan sampai pilihannya tersebut dapat menjadi kendala dalam kuliah.

2. Kepada para orang tua agar tetap mendukung pilihan anak-anaknya dengan tetap memperhatikan pola belajarnya agar kegiatannya tidak ada yang terganggu.

3. Kepada para pimpinan dalam perusahaan hendaknya ikut mendukung para remaja yang bisa memilih bekerja sambil kuliah. Karena hal ini bisa berpengaruh positif apabila mereka mengerjakannya dengan baik.Selain itu dapat juga melatih para remaja untuk bertanggung jawab dalam memilih pekerjaan yang mereka pilih.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sosiologi

Sosiologi berasal dari kata Latin socius yang berarti “kawan” dan kata Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”, jadi sosiologi adalah “berbicara mengenai masyarakat” (Comte dalam Soekanto, 2007: 4). Sosiologi

adalah ilmu empirik yang mempelajari gejala masyarakat atau social action, untuk dapat merasakan pola pikiran dan tindakan berupa aturan atau hukum yang terjadi di dalamnya (Hadi, 2005: 11).

Tinjauan atau pandangan dari ilmu-ilmu sosial termasuk dalam hal ini, sosiologi akan mencari hukum-hukum alam yang bersifat general. Hukum alam ini berlaku kapan saja di mana saja, ilmu yang terkait pada nilai dan kebudayaan di lingkungannya.Seperti diketahui bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala masyarakat dan sosial action di dalam masyarakat untuk merumuskan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya.Mempelajari seni ditinjau dari sudut pandang sosiologi dapat pula menghubungkan seni itu dengan kehidupan masyarakat dan faktor-faktor spesifiknya yang meliputi geografi, ekonomi, pendidikan, agama, dan adat istiadat (Hadi, 1991: 5).

Berdasarkan definisi diatas, sosiologi merupakan disiplin ilmu tentang kehidupan masyarakat yang objek kajiannya mencakup fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial yang menunjukkan hubungan interaksi sosial dalam suatu masyarakat. Pengertian masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi, memiliki adat istiadat, norma-norma, hukum, serta aturan yang

mengatur semua pola tingkah laku terjadi kontinuitas dalam waktu, dan diikat dengan rasa identitas yang kuat mengikat warganya, Koentjaraningrat (dalam Kurniawan, 2012: 5).

2.2 Remaja

“Remaja” kata itu mengandung aneka kesan. Ada orang yang mengatakan

bahwa remaja merupakan kelompok yang biasa saja, tidak berbeda dengan kelompok manusia yang lain. Sementara pihak lain menganggap remaja adalah kelompok orang yangidentik dengan perilaku pemberontak, sumber konflik, senang mengikuti mode dan tidak memiliki pemikiran yang panjang ketika memutuskan untuk berperilaku. Dari beragam persepsi tentang remaja tersebut, sebetulnya siapakah remaja itu? Berikut ini, akan dijelaskan mengenai pengertian remaja, aspek-aspek perkembangan remaja, dan tugas perkembangan remaja.

Remaja (Adolesence) berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya,adolensecentia yang berarti remaja), yang berarti pula tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Menurut Santrock (2003:26) adolescene diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia remaja adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir.

Periode remaja merupakan sebuah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Disatu sisi, mereka sudah terlepas dari masa kanak-kanak namun belum bisadikatagorikan sebagai masa dewasa. Menurut dalam Willis (2005: 23) mengungkapkan sebagai berikut :

“Remaja adalah usia transisi. Seorang individu, telah

meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan kebergantungan, akan tetapi belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun terhadap masyarakat. Banyaknya masa transisi ini bergantung kepada keadaan dan tingkat sosial masyarakat dimana ia hidup. Semakin maju masyarakat semakin panjang usia remaja. Karena ia harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat

yang banyak syarat dan tuntutannya”.

Dalam penelitian ini remaja dimaksud adalah remaja yang memutuskan bekerja sambil juga tidak lupa menjalankan perannya sebagai mahasiswa.Banyak remaja yang melakukan hal seperti ini, dengan alasan ingin belajar hidup lebih mandiri.Hidup mandiri bukan berarti ingin lepas tanggung jawab dengan orang tua, tetapi ingin juga belajar hidup dengan menggunakan hasil jerih payah sendiri.Para remaja yang memilih bekerja sambil kuliah tidak hanya dapat belajar hidup mandiri, tetapi dapat juga lebih dapat menghargai jerih payahnya sendiri.Misalnya hal kecil yang sudah dapat mereka lakukan adalah bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan tidak lagi membebani orang tua untuk selalu memenuhi semua keperluan mereka.

Tidak semua remaja yang memutuskan bekerja dapat mengganggu tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.Disini remaja yang berhasil menjalankan kegiatan seperti ini ditantang untuk selalu bisa membagi waktunya dengan baik agar kedua hal tersebut tidak ada yang sia-sia. Para remaja yang memutuskan bekerja inipun dapat dengan bebas memilih pekerjaan yang nantinya tidak akan

mengganggu jadwal perkuliahan juga. Jenis pekerjaan yang dapat mereka pilih adalah jenis pekerjaan yang jam kerjanya bisa disesuaikan.

Banyak pandangan negatif dari orang-orang yang menyebutkan bahwa remaja yang memutuskan bekerja sambil kuliah akhirnya akan ada salah satu yang di korbankan. Anggapan tersebut bisa dibenarkan apabila ditujukan pada remaja yang memang tidak memiliki niat yang kuat untuk menjalankan dengan baik keduanya. Tetapi pada remaja yang memang berniat untuk menjalankan dengan baik bekerja maupun kuliah tidak akan setuju dengan pandangan tersebut.

2.3 Pekerjaan 2.3.1 Hakikat Kerja

Dalam kehidupan manusia selalu mengadakan bermacam-macam aktivitas.Salah satu aktivitas itu diwujudkan dalam gerakan-gerakan yang dinamakan kerja.Bekerja mengandung arti melaksanakan suatu tugas yang diakhiri dengan buah karya yang dapat dinikmati oleh manusia yang bersangkutan.

Faktor pendorong penting yang menyebabkan manusia bekerja adalah adanya kebutuhan yang harus dipenuhi.Aktivitas dalam kerja mengandung unsur suatu kegiatan sosial, menghasilkan sesuatu, dan pada akhirnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya.Namun demikian di balik tujuan yang tidak langsung tersebut orang bekerja untuk mendapatkan imbalan yang berupa upah atau gaji dari hasil kerjanya itu.Jadi pada hakikatnya orang bekerja, tidak saja untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, tetapi juga bertujuan untuk mencapai

2.3.2 Analisis Pekerjaan

Analisis pekerjaan adalah informasi tertulis mengenai pekerjaan apa saja yang harus dikerjakan dalam suatu perusahaan agar tujuan tercapai. Manfaat analisis pekerjaan akan memberikan informasi tentang aktivitas pekerjaan, standar pekerjaan, konteks pekerjaan, persyaratan personalia, perilaku manusia dan alat-alat yang dipergunakan (Hasibuan, 2003 : 29).

Proses dalam menganalisis pekerjaan melalui langkah-langkah sebagai berikut (Hasibuan, 2003:29):

a. Menentukan penggunaan hasil informasi analisis pekerjaan. b. Mengumpulkan informasi tentang latar belakang.

c. Menyeleksi wuwakal (orang yang akan diserahi) jabatan yang akan dianalisis.

d. Mengumpulkan informasi analisis pekerjaan.

e. Meninjau informasi dengan pihak yang berkepentingan. f. Menyusuan uraian pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan

g. Meramalkan atau memperhitungkan perkembangan perusahaan.

2.3.3 Tuntutan Pekerjaan

Berbicara mengenai bekerja dan pekerjaan, seorang karyawan memiliki tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.Hal ini berarti karyawan harus dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan perusahaan.Secara kualitas, hasil kerja karyawan dari waktu ke waktu harus lebih baik, semakin variatif dan dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang lebih singkat.Sedangkan secara kuantitas, hasil kerja karyawan harus dapat meningkat dalam hal jumlah (Hasibuan, 2003:35).

Peningkatan kinerja karyawan dari sisi kualitas maupun kuantitas merupakan suatu hal yang harus dipenuhi oleh seorang karyawan sesuai dengan target yang ditetapkan perusahaan. Kondisi ini merupakan salah satu bentuk dari tuntutan tugas yang harus dapat dilakukan oleh seorang karyawan.Kemampuan seorang karyawan untuk memenuhi tuntutan tugas merupakan salah satu ukuran dari keberhasilan atau prestasi kerja karyawan.

2.3.4 Kelelahan Kerja

Kelelahan merupakan salah satu indikator dari besarnya beban kerja yang harus ditangung seorang karyawan.Banyak kasus terjadi di Indonesia bahwa pihak perusahaan tidak mampu memperhitungkan kemampuan yang mampu diemban seorang karyawan untuk menyelesaikan pekerjaannya.Pimpinan tidak menyadari bahwa beban kerja yang berat berdampak negatif terhadap kinerja karyawan. Dampak negatif beban kerja tersebut antara lain tidak tercapainya target yang telah ditetapkan, rendahnya kualitas kerja karyawan, meningkatnya tingkat kelelahan karyawan yang selanjutnya akan berdampak pada tingkat absensi atau bahkan meningkatnya perpindahan karyawan (Hasibuan, 2003:50).

Banyak faktor yang menyebabkan kelelahan.Salah satu faktor yang memberikan kontribusi terbesar terdapat kelelahan karyawan adalah beban kerja.Beban kerja adalah frekuensi kegiatan rata-rata dari masing-masing pekerjaan dalam jangka waktu tertentu (Wandy, 2008:3). Beban Kerja itu sendiri erat kaitannya dengan produktivitas tenaga kerja, studi yang dilakukan oleh Gani (2000) seperti yang dikutip oleh Wandy (2008:1) menyatakan hanya 53,2% waktu yang benar-benar produktif yang digunakan untuk bekerja secara langsung dan sisanya 39,9% digunakan untuk kegiatan penunjang.

Dalam penelitian Gani (2000) diketahui kelelahan yang terjadi pada tenaga kesehatan dipengaruhi oleh beban kerja yang berlebih, sementara beban kerja tersebut disebabkan oleh jumlah tenaga kesehatan yang belum memadai. Penelitian Ruwaedah (1990) seperti yang dikutip oleh Rahma (2003:1) di Puskesmas strata II Kodya Makasar ditemukan kelelahan yang dialami tenaga kerja pengelola program kegiatan Puskesmas 59,2% dipengaruhi oleh beban kerja yang berlebihan. Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat.Istilah kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh (Kyla, 2008:3).

Terdapat dua jenis kelelahan, yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum.Kelelahan otot merupakan tremor pada otot atau perasaan nyeri pada otot, sedangkan kelelahan umum ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh monotoni (pekerjaan yang sifatnya monoton), intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan, kondisi mental dan psikologis, status kesehatan, dan gizi.Pengaruh-pengaruh tersebut terakumulasi di dalam tubuh manusia dan menimbulkan perasaan lelah yang dapat menyebabkan seseorang berhenti bekerja (beraktivitas). Kelelahan dapat diatasi dengan beristirahat untuk menyegarkan tubuh. Apabila kelelahan tidak segera diatasi dan pekerja dipaksa untuk terus bekerja, maka kelelahan akan semakin parah dan dapat mengurangi produktivitas pekerja. Kelelahan sama halnya dengan keadaan lapar dan haus sebagai suatu mekanisme untuk mendukung kehidupan (Kyla, 2008:3).

2.4Jam Kerja

2.4.1 Pengertian Jam Kerja

Jam Kerja adalah waktu untuk melakukan pekerjaan, dapat dilaksanakansiang hari dan/atau malam hari. Merencanakan pekerjaan-pekerjaan yang akandatang merupakan langkah-langkah memperbaiki pengurusan waktu. Apabilaperencanaan pekerjaan belum dibuat dengan teliti, tidak ada yang dapat dijadikanpanduan untuk menentukan bahwa usaha yang dijalankan adalah selaras dengansasaran yang ingin dicapai.Dengan adanya pengurusan kegiatan-kegiatan yanghendak dibuat, sesorang itu dapat menghemat waktu dan kerjanya

(Su‟ud,2007:132).

Diantara tanda-tanda pengurusan waktu yang tidak efektif ialah karenaterlambat menyiapkan sesuatu, pekerjaan yang dibuat tergesa-gesa, perasaan tidakmencapai keberhasilan dalam pekerjaan, krisis, surat-surat yang belum dijawab,panggilan telepon yang dibuat ataupun dijawab, proyek yang penting ataumendesak yang belum disentuh dan masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan yangterpaksa dibuat pada waktu malam untuk menambah waktu untukmenyiapkannya. Bagi seseorang adalah perlu ada dokumen waktunya dan tahu kemana arah yang dituju sebelum ia dapat menguruskan waktunya. Mencatat,merancang dan mengawasi waktu adalah dasar pengurukuran waktu

yang efektif(Westbork dan Drucker dalam Su‟ud, 2007: 132).

Menurut Wolman dalam Su‟ud (2007:131), menyatakan bahwa ada

kaitanantara psikologi dan pekerjaan.Pekerjaan pada tingkat bawahan merasakan gajiyang dibayar adalah untuk membeli waktu mereka. Bagaimanapun,

pihakpengurusan pada organisasi besar mencoba mengadakan kebebasan waktu bekerja

kepada pekerjaan bagian atasan. Cara ini didapati menimbulkan tanggung jawabakibat desakan waktu dan memberikan pencapaian prestasi kerja yang lebih baik.Wolman mengemukakan beberapa cara pengurusan waktu untuk menghasilkanpekerjaan yang lebih baik. Diantara ialah membiasakan diri segera mencatat hal-hal yang perlu perhatian.Susunan kegiatan yang teratur adalah antara keperluanuntuk memperbaiki pengurusan waktu seseorang.

Macdonald dalam Su‟ud (2007:134) mendukung pandangan ini

denganmengaitkannya dengan aplikasi administrasi bahwa sistem file yang baik danmempunyai tempat penyimpanan semua hal-hal yang ada sangkut paut dengankeperluannya adalah suatu cara untuk menjadi lebih teratur. Susunan kegiatanyang teratur adalah kunci pengurusan waktu kerja yang baik.

2.4.2 Pengaturan Jam Kerja

Kosasih (200:124) menyatakan bahwa pengaturan waktu termasuk dalamperencanaan tenaga kerja yang berkenaan dengan jadwal kerja dan jumlah tenagakerja yang akan dipertahankan. Dalam menentukan jadwal kerja, perusahaanterikat oleh peraturan ketenagakerjaan yang dikeluarkan ILO (International LaborOrganizational) yang menetapkan perusahaan memperkerjakan pegawainyaselama 40 jam/minggu.Bank atau perkantoran lainnya, waktu kerjanya siang hariselama 8 jam dengan istirahat 1 jam (pukul 08.00 - pukul 16.00) kalau lebih dari40 jam, maka kelebihan itu harus dimasukkan sebagai lembur (overtime) dan harisabtu hanya setengah hari.Jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan tergantungkepada keperluan, ada yang mengikuti permintaan

pasar atau memelihara tenagakerja yang konstan.Dua-duanya menimbulkan konsekwensi terhadap biayatenaga kerja (labor cost). Untuk tenaga kerja yang didasarkan pada permintaanproduk akan cenderung menjadi biaya tenaga kerja yang bersifat variable (variabel cost), sedangkan kebijaksanaan untuk tenaga kerja yang konstancenderung menjadi biaya hidup (fixed cost).

2.5Teori Posmodernisme

2.5.1 Pengertian Teori Posmodern

Menurut Pauline Rosenau (1992) postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya.Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas, yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas. teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya.

Dalam bukunya Mengenal Posmodernisme : for begginers, Appignanesi, Garrat, Sardar, dan Curry (1998) mengatakan bahwa postmodernisme menyiratkan pengingkaran, bahwa ia bukan modern lagi. Postmodernisme, pada hakikatnya, merupakan campuran dari beberapa atau seluruh pemaknaan hasil, akibat, perkembangan, penyangkalan, dan penolakan dari modernisme Postmodernisme adalah kebingungan yang berasal dari dua teka-teki besar, yaitu:

Ia melawan dan mengaburkan pengertian postmodernisme Ia menyiratkan pengetahuan yang lengkap tentang modernisme yang telah dilampaui oleh zaman baru. Sebuah zaman, zaman apapun, dicirikan lewat bukti perubahan sejarah dalam cara kita melihat, berpikir, dan berbuat. Kita dapat mengenali perubahan ini pada lingkup seni, teori, dan sejarah ekonomi.

Istilah postmodern memang tidak memiliki definisi yang pasti, yang mampu merangkul seluruh hasil pemikiran para teori tikus yang menamakan diri mereka sebagai kelompok postmodernisme. Secara sekilas, konsep postmodern

dirangkai dari konsep “Post” dan “Modern” ; “Post” dapat dimaknai sebagai era

“Sesudah”, sehingga postmodern mengandung makna setelah modernitas.

Ada beberapa istilah yang masih berkaitan dengan istilah postmodern, yaitu postmodernitas, postmodernisme. Menurut Umar (Ritzer, 2003), istilah postmodernitas menunjukkan pada suatu epos – jangka waktu, zaman, masa –

sosial dan politik yang biasanya terlihat mengiringi era modern dalam suatu pemahaman sejarah. Jadi, definisi postmodern meliputi suatu epos sejarah baru, produk budaya yang baru, serta tipe teori baru yang menjelaskan dunia sosial.

Teori postmodern banyak memberikan kritik atas realitas “manusia

modern” yang terlalu dalam persepsi mereka. Rosenau (Ritzer, 2003) menjelaskan

mengenai beberapa posisi dari teori postmodern mengenai modernitas. Pertama, postmodern mengkritik masyarakat modern yang dinilai gagal dalam memenuhi janji-janjinya. Postmodern mempertanyakan bagaimana setiap orang dapat mempercayai bahwa modernitas telah membawa kemajuan dan harapan masyarakat depan yang lebih cemerlang. Kedua, teori postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view),

metanarasi totalitas dan sebagainya. Ketiga, teori postmodern cenderung menerakkan fenomena besar postmodern, seperti emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, dan sebagainya. Keempat, teori postmodern menolak kecendrungan dunia modern yang meletakkan batas – batas antara hal – hal tertentu seperti disipin akademis, budaya dan kehidupan, fiksi, dan teori, citra, dan realitas.

Postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan reflektif terhadap paradigm modernism yang dipandang gagal menuntaskan proyek pencerahan dan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas. Pauline M. Rosenau, dalam kajiannya mengenai postmiodernisme dan ilmu-ilmu sosial, mencatat setidaknya lima alasan penting gugatan postmodernisme terhadap modernisme:

a. Modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya.

b. Ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan.

c. Terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern.

d. Ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial.

e. Ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menkankan atribut fisik individu.

2.5.2 Akar Sejarah Teori Sosial Postmodern

Jejak- jejak pemikiran yang bernaung di bawah payung postmodernisme : seni, sastra, politik, ekonomi, arsitektur,sosiologi, antropologi dan filsafat sebenarnya dapat dilacak jauh ke alur sejarah modernitas istilah “ modern‟ yang

berarti zaman baru berasal dari bahsa latin modernus. Sementara itu istilah modernitas (modernity) diartikan sebagai kondisi social budaya masyarakat modern. Istilah ini sekaligus menggambarkan hubungan antar massa ini dan massa silam, serta sebagai kurun sejarah yang berbeda dimana modernitas lebih superior di banding masa sebelumnya.

Modernisasi (modernization) berarti proses berlangsugnya proyek mencapai kondisi modernitas. Modernisasi mencangkup proses pengucilan karya-karya klasik, warisan masa lampau, sejarah purbakala, karena modernitas pada hakekatnya mengambil posisi yang berlawanan dengan hal-hal lama demi terciptanya hal-hal baru. Dengan demikian, modernisasi adalah pandangan sikap hidup yang dianut untuk menghadapi massa kini yakni pandangan dan sikap hidup dalam meghadapi kenyaan hidup masa kini. Modernisasi di tandai oleh pemusatan hubungan secara tegas terhadap nilai-niilai tradisional ; berkembangnya system kapitalisme progresif, rasionalisasi administrative, serta diferensiasi social dan budaya ( Featherstone , 1988)

Disisi lain, Marshall Berman dalam kajiannya tentang modernism menyatakan bahwa era modern telah di mulai sejak era renaisans abad ke -16 M berkembang dalam tiga fase sejarah modernism. Fase pertama, adalah

modernisme yang berkembang semenjak awal ke-16 M hingga akhir abad ke -18 M, dimana orang baru mulai merasakan pengalaman kehidupan modern, modernism pada tahap ini di tandai oleh mulai diyakinya rasio, keberanian menghadapi kehidupan secara nyata, memudarnya religuisitas dalam berbagai segi kehidupan, serta lahirnya pemberontakan kreatif dalam dunia seni. Fase kedua, adalah modernisme di tandai dengan revolusi perancis dan kekacauan sosial, politik, ekonomi yang seringkali dihubungkan dengan momentum Gelombang revolusi besar 1790. Fase ketiga adalah modernisme yang di mulai ketika terjadi proses modernisasi global dan pembentukan kebudayaan dunia dan modern secara massal dimana semakin banyak terjadi kekacauan social dan politik, ketidak pastian dan ancaman terhadap realitas dunia baru terbentuk inilah puncak anomaly realitas modern, yang ternyata tidak mampu mewujudkan impian menciptakan kehidupan yang lebih baik, dan justru sebaliknya, menciptkan berbagai masalah besar yang menyengsarakan umat manuaia (smart,1990;16).

Merujuk Marx Weber, rasionalitas Modernisme memiliki dua karakter mendasar. Pertama sebagai Rasionalitas tujuan (Zweckrationalitat). Kedua sebagai Rasionalitas nilai, rasionalitas modernisme mengacu pada kesadaran akan nilai-nilai etis, estetis, dan religius. (Wertrationalitat).Namun, diantara kedua bentuk rasionalitas ini yang sangat dominan dalam realitas dunia modern adalah Rasionalitas tujuan. Rasionalitas itu sendiri adalah suatu problema hidup yang berdasarkan pada jaman modernisasi seperti sekarang ini, contohnya di kota-kota besar. Menurut Weber, modernitas merupakan konsekuensi proses modernisasi, dimana realitas social berada dibawah bayang-bayang dan dominasi asketisme, sekulerisasi, klaim universalistik tentang rasionalitas instrumental, diferensiasi

bidang-bidang kehidupan, birokratisasi ekonomi, praktek-praktek politik dan militer, serta tumbuhnya moneterisasi nilai-nilai.

Secara Epistimologis, modernitas meliputi empat unsur pokok. Pertama, subjektifitas reflektif, yakni pengakuan akan kekuatan-kekuatan rasional dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan.kedua , subjetivitas yang berkaitan dengan kritik atau refleksi, yakni kemampuan untuk menyingkirkan kendala-kendala kebebasan dari tradisi dan sejarah.Ketiga , kesadaran historis yang di munculkan oleh subjek, bahwa waktu berlangsung secara linear, unik, tak terulangi dengan titik berat pada kekinian titik sejarah. Keempat, universalisme yang mendasari ketiga unsure sebelumnya. Dengan universalisme di maksudkan bahwa elemen-elemen modernitas bersifat normative untuk masyarakat yang akan melangsungkan modernisasi. Dengan modernisasi, kebenaran wahyu di uji dihadapan rasio, legitimasi kekuasaan di gugat melalui kritik dan kesahilan tradisi dipertanyakan berdasarkan harapan akan masa depan yang lebih baik.

2.5.3 Perkembangan Ilmu Pada Masa Postmodernisme

Pada awalnya, kata postmodern tidak muncul dalam filsafat ataupun

Dokumen terkait