• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, sehingga nantinya peneliti dapat menggambarkan informasi data yang diperoleh dalam penelitian, dimana pengelolaan data dilakukan dengan manual. Data dikumpulkan dari hasil kuesioner (angket). Untuk menganalisa data-data yang diperoleh dari hasil penelitian dengan mentabulasi data-data yang didapat melalui keterangan responden, kemudian dicari frekuensi dan persentasenya untuk disusun dalam bentuk tabel tunggal serta selanjutnya dijelaskan secara kualitatif dengan menggunakan skala Likert.

Dalam merumuskan kesimpulan hasil penelitian, khususnya mengidentifikasi respon, penulis menggunakan skala likert yang digunakan untuk mengukur sikap, persepsi, dan partisipasi seseorang atau sekelompok orang yang berhubungan dengan suatu hal. Skala ini sering disebut sebagai summated scale yang berisi sejumlah pernyataan dengan kategori respon. Pertama-tama ditentukan beberapa alternatif kategori respons atau seri item respons (compiling possible scale item) yang mengekspresikan luas jangkauan sikap dari ekstrem positif ke ekstrem negatif untuk di respon oleh responden. Tiap respon dihubungkan dengan nilai skor atau nilai skala untuk masing-masing pernyataan (Silalahi, 2009 : 229).

Pemberian skor data dilakukan mulai respon yang negatif menuju respon yang positif, yakni :

a. Skor negatif adalah -1 b. Skor netral adalah 0 c. Skor positif adalah 1

Sebelum menentukan klasifikasi persepsi, sikap dan partisipasi, maka ditentukanlah interval kelas sebagai pengukuran, yaitu :

Interval kelas (i) = nilai tertinggi (H)- nilai terendah (L) Banyak kelas (K) = 1-(-1) 3 = 2 3 = 0,66

Maka untuk menentukan kategori respon positif , netral maupun respon negatif dengan adanya nilai batasan sebagai berikut :

1. -1,00 sampai dengan -0,33 = respon negatif 2. -0,33 sampai dengan 0,33 = respon netral 3. 0,33 sampai dengan 1 = respon positif

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.1 Sejarah Desa Sionom Hudon Selatan

Desa Sionom Hudon Selatan merupakan desa yang paling jauh dan terpencil diantara desa-desa yang ada di Kecamatan Parlilitan dengan ketinggian ± 350 m di atas permukaan laut. Desa ini sudah memiliki cerita sekitar tahun 1400, dimana terdapat seorang raja yang bernama Tinambunan memiliki 3 anak yaitu Raja Ujung Sunge, kedua raja Putampak, ketiga Raja Pernantin. Raja Ujung Sunge memiliki tanah di Desa Sihasima atau Tambor, Raja Putampak memiliki tanah di Desa Huta Godung, Raja Pernantin memiliki tanah di Barongbarong sampai hutakala Desa Sionom Hudon Selatan. Raja Pernantin menjadi raja di Desa Sionom Hudon Selatan. Keturunan Raja Pernantin ada 3 yaitu Raja Kembang Mehuli di Hutakalang, Raja Parsumandak menghuni di Huta Janji, Raja Jogah menghuli Peabalane sampai Simaho yang semuanya di Sionom Hudon Selatan. Masing-masing memiliki kepala kampung. Setelah merdeka ketiga kampung itu bersama Sitapung dan Kasturi menjadi satu kepala desa (Kampung gabungan) yang sekarang disebut Desa Sionom Hudon Selatan.

4.2 Kondisi Geografis

Desa Sionom Hudon Selatan terletak di Kecamatan Parlilitan yang berada di sebelah Utara Desa Sionom hudon Utara, sebelah Selatan Desa Sihastonga, Sebelah Timur Desa Sionom hudon Timur dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Sionom VII, sedang dusun Hutakalang yang merupakan lokasi KAT mempunyai

batasan-batasan yaitu sebelah utara berbatasan-batasan Dusun Kesturi, sebelah Selatan berbatasan-batasan dengan Kecamatan Tarabintang, sebelah timur berbatasan dengan dusun laepinang dan sebelah barat bertabatasan dengan Desa Sionom hudon VII. Jarak Ibukota Kecamatan Parlilitan dengan Desa Sionom Hudon Selatan lebih kurang 3 km, lama tempuh 15 menit dengan menggunakan kenderaan bermotor. Desa Sionom Hudon Selatan terdiri dari 11 (sebelas) dusun, yaitu :

1. Dusun Silali 2. Dusun Tornauli 3. Dusun Simaho 4. Dusun Janji 5. Dusun Lae Pinang 6. Dusun Hutakalang 7. Dusun Hutanangka 8. Dusun Kasturi 9. Dusun Barungbarung 10.Dusun Peabalane 11.Dusun Sitapung

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kepala Desa Sionom Hudon Selatan, Luas Wilayah desa 21000 ha, yang terdiri dari areal permukiman 10 ha, perladangan penduduk 1000 ha, tanah sawah dan kebun rakyat 700 ha, lahan tidur seluas 18090 ha dan Hutan 1200 ha. Desa Sion Selatan merupakan desa yang paling jauh dan terpencil diantara desa-desa yang ada di Kecamatan Parlilitan dengan ketinggian ± 350 m di atas permukaan laut. Karena letaknya berada di tengah-tengah pegunungan maka suhu udara rata-rata 25˚C hingga 28˚C. Sepanjang tahun hanya ada dua musim

yaitu musim penghujan dan musim kemarau dengan curah hujan mencapai 930 mm. Musim penghujan terjadi antara Bulan September sampai Bulan Desember, sedangkan musim kemarau berkisar antara Bulan Januari sampai dengan Agustus, bahkan musim itu tidak menentu. Dusun Hutakalang merupakan dusun yang menerima program pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil oleh Dinas Kesejahteraan dan Sosial Provinsi Sumatera Utara di Desa Sionom Hudon Selatan.

4.3 Kondisi Demografis

Penduduk Desa Sionom Hudon Selatan berjumlah 500 KK dan 2450 jiwa Jumlah tanggungan keluarga (anak-anak) rata-rata 4 orang. Dari penduduk berusia 1-9 tahun sebanyak 15%, berusia 10-17 tahun 25%, berusia 17-30 tahun 35%, berusia sekitar 30-43 tahun 10%, berusia lanjut yakni 55 tahun ke atas hanya 15 orang (5%). Berdasarkan data yang diperoleh ternyata jumlah penduduk yang laki-laki 58%, perempuan 42%.

Sedangkan Penduduk Hutakalang Napak Nias yang merupakan dusun yang menjadi lokasi pelaksaan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil berjumlah 20 KK dan 102 jiwa. Jumlah tanggungan keluarga (anak-anak) rata-rata 4 orang. Penduduk berusia 1-9 tahun sebanyak 15 orang, berusia 10-17 tahun sebanyak 29 orang, berusia 17-30 tahun sebanyak 41 orang, berusia sekitar 30-43 tahun sebanyak 13 orang, berusia lanjut yakni 55 tahun ke atas hanya 4 orang. Berdasarkan data yang diperoleh ternyata jumlah penduduk yang laki-laki 58 orang, perempuan 44 orang. Namun terdapat 30 kepala keluarga dari luar dusun hutakalang yang juga menjadi warga binaan dalam Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil.

Permukiman penduduk berada di daerah pegunungan dengan mata pencaharian mayoritas adalah bertani dan berladang. Tingkat pendidikan penduduk: SD 45%, SLTP 35 %, SLTA 4 % yang belum sekolah 16 %. Penduduk Desa Sionom Hudon Selatan, 3 % beragama Islam, 97 % beragama Kristen, Protesan dan Katholik. Penghuni Desa Sion Selatan terdiri dari Suku Batak Pakpak, Batak Toba dan Nias. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Pakpak dan Toba, namun seluruh penduduknya mampu berbahasa Indonesia.

Penduduk Desa Sionom Hudon Selatan yang terdiri dari Suku Pakpak dan Suku Batak Toba tidak mudah menerima perubahan dari luar. Lokasi permukiman mereka yang dikelilingi oleh gunung dan hutan telah menyebabkan tertutupnya kontak kultur dengan dusun atau desa maupun etnik yang lain. Kondisi jalan yang sukar dilalui dan sarana komunikasi yang ada telah menyebabkan desa ini semakin tertutup. Intensitas hubungan dengan masyarakat lain dari luar desa ini sangat kecil, karena kontak hubungan dengan masyarakat lain hanya terjadi waktu penduduk turun ke Parlilitan pada hari Pekan. Kontak atau hubungan desa dengan atasannya maupun dengan organisasi sosial seperti LSM jarang terjadi. Informasi yang berkaitan dengan perkembangan daerah dan peristiwa-peristiwa penting lainnya sangat sulit mereka dapatkan kecuali mereka keluar dari desa ini.

Hubungan sosial antara warga sangat baik tanpa membedakan agama dan suku. Jalinan hubungan mereka masih terikat oleh adanya perasaan senasib sepenanggungan. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah Bahasa Pakpak. Namun demikian seluruh warga masih dapat berbahasa Indonesia.

4.4 Fasilitas Umum dan Pelayanan Sosial

Fasilitas Umum dan Pelayanan Sosial di Desa Sionom Hudon Selatan dan dusunnya masih sangat minim. Hanya terdapat satu bangunan Sekolah Dasar (SD) dan sudah dalam kondisi rusak. Demikian juga tenaga, sarana dan prasarana medis masih belum cukup tersedia. Tempat peribadatan seperti Mesjid maupun mushalla bagi umat Islam dan Gereja bagi umat yang beragama Kristen memiliki kondisi yang cukup memprihatinkan. Jaringan listrik belum masuk ke semua dusun yang ada di Desa Sionom Hudon Selatan sehingga sebagian besar warga setempat masih menggunakan lampu teplok sebagai penerangan di waktu malam.

Tidak ada jaringan telephone dan signal untuk telephone selular di sebagian besar dusun di desa Sionom Hudon Selatan termasuk dusun hutakalang. Kondisi seperti ini membuat Desa Sionom Hudon Selatan dan dusunnya semakin terisolir dan tertutup dari dunia luar. Taraf kehidupan masyarakat mengarah kepada pengembangan potensi yang ada di desa ini yakni PNPM dan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang dilaksanakan oleh Dinas Kesejahteraan dan Sosial Provinsi Sumatera Utara.

4.5 Pranata Ekonomi atau Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk Desa Sionom Hudon Selatan mayoritas bertani yang terdiri dari pertanian tanaman muda dan tanaman keras. Tanaman muda seperti padi ditanam di sawah dan perladangan darat. Penyiapan lahan dilakukan dengan tebas dan tebang, kemudian dikeringkan lebih kurang satu atau dua minggu lalu dibakar. Setelah lahan dibersihkan barulah dilakukan penanaman. Tidak ada pembibitan, bibit padi hanya bersumber dari hasil panen sebelumnya yang dianggap

baik dan pantas untuk dijadikan bibit. Musim tanam hanya 1 kali dalam setahun. Cara pemanenan masih tradisional. Hasil panen rata-rata 50 kaleng/ha ada juga yang mencapai 70 kaleng, tergantung pada luas arealnya yang diusahainya. Selain tanaman padi dan cabe yang merupakan tanaman muda, masih ada tanaman lain seperti tomat serta jenis sayuran lainnya. Jenis tanaman muda yang hasilnya dijual ke pasar hanya cabe yang bisa mencapai Rp. 10.000/kg. Adapun jenis tanaman lainnya hanya untuk dikonsumsi sendiri. Kalaupun hasilnya melebihi dikonsumsi, untuk menjualnya ke pasar di Parlilitan, ongkos angkutnya terlalu mahal yaitu Rp. 500/kg sedangkan harga jualnya hanya Rp. 5500/kg.

Jenis tanaman keras yang dikembangkan masyarakat Desa Sionom Hudon Selatan adalah Karet, Durian dan rotan. Lahan untuk menanam Karet adalah lahan yang dijadikan bercampur dalam satu areal dengan jengkol dan petai, sedangkan ladang padi dipindahkan ke areal lain. Oleh karena pembibitan karet tidak ada, maka bibit diminta dari orang-orang yang memiliki kebun karet, itupun hanya biji yang jatuh dan tumbuh di bawah pepohonan karet tersebut. Bagi yang tidak memiliki tanaman, mereka bekerja sebagai tukang deres rambung atau karet. Cara bagi hasil 50 % untuk menderes, 50 % untuk pemilik rambung atau karet.

Hasil atau produksi tanaman keras berupa karet dijual ke pasar Parlilitan. Harga karet mencapai Rp. 5.500/kg. Hasil penjualan tanaman keras itulah yang diguanakan oleh penduduk untuk menutupi semua keperluan yang menyangkut adat dan ritual lainnya. Semua produk pertanian yang dihasilkan masih belum menggunakan pola penanaman intensifikasi. Pola penanaman masih menggunakan cara-cara ekstensifikasi dan tradisional, dimana tidak dikenal adanya pemupukan, penggunaan bibit unggul dan pemberantasan hama terhadap seluruh tanaman muda

maupun tanaman keras. Untuk memasak segala jenis makanan seluruhnya menggunakan kayu api, sama sekali mereka tidak mengenal alat untuk mengawetkan makanan.

Dari hasil wawancara mendalam terungkap bahwa taraf ekonomi penduduk Desa Sion Selatan masih sangat memprihatinkan, dengan pendapatan perkepala keluarga Rp. 500.000 s/d Rp. 600.000. perbulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kehidupan mereka masih berada jauh di bawah garis kemiskinan.

4.6 Pranata Politik dan Lembaga Adat

Di Desa Sionom Hudon Selatan terdapat lembaga formal yang dibentuk oleh pemerintah seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) maupun Badan Perwakilan Desa (BPD). LPMD maupun BPD hanya ada di Desa Sionom Hudon Selatan sebagai induk Desa Sionom Hudon Selatan. Organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna sudah ada di desa ini. Demikian juga halnya dengan lembaga adat, yang ada hanya tradisi adat.

Adat istiadat yang paling dominan di Desa Sionom Hudon Selatan adalah adat istiadat Pakpak dan istiadat Batak Toba atau DAITO (Dairi Toba). Keterpaduan kedua jenis adat istiadat ini telah mengilhami munculnya rasa kesatuan dan persatuan warga yang amat kokoh, tanpa membedakan agama dan suku. Dalam hal pelaksanaan pesta perkawinan misalnya mereka bergotong royong, menyatu, bahu membahu untuk melaksanakan pesta. Azas musyawarah dan mufakat merupakan tumpuan akhir dari berbagi jenis konflik yang mungkin terjadi di antara warga desa Sionom Hudon Selatan.

4.7 Pranata Agama, Religi atau Sistem Kepercayaan

Terdapat 97 % penduduk Desa Sion Selatan yang memeluk Agama Kristen, 3 % memeluk Agama Islam. Sekitar 50 tahun yang lalu, penduduk desa Sionom Hudon Selatan masih memeluk kepercayaan tradisional dan masih percaya supranatural serta sangat menghormatinya. Masih terlihat dahulu adanya sesajen berupa rokok dan minuman yang diletakkan di atas makam. Makam orang yang sudah meninggal masih digali dan dibakar setelah 2 tahun meninggal. Upacara ritual juga dahulu masih dilaksanakan sebagai simbol atau ungkapan pengharapan dan penghormatan kepada leluhur supaya tanaman mereka terhindar dari serangan berbagai jenis hama, dan hasilnya melimpah ruah pada masa berikutnya.

BAB V ANALISIS DATA 5.1 Pengantar

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti akan menganalisis data-data yang diperoleh dari teknik pengumpulan data-data penyebaran angket kepada 50 kepala keluarga sebagai responden yang telah mengikuti program pemberdayaan komunitas adat terpencil di desa sionom hudon selatan. Teknik analisis data yang digunakan peneliti yaitu teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan skala likert.

Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan cara :

1. Terlebih dahulu peneliti meminta ijin kepada pihak lembaga yang bertanggung jawab dan menjelaskan maksud kedatangan ke lokasi komunitas adat terpencil di desa sionon hudon selatan

2. Peneliti cukup terbantu dengan bantuan beberapa warga binaan serta pendamping komunitas adat terpencil dalam mencari data serta mewawancarai warga binaan.

3. Peneliti memperkenalkan diri kepada responden dan menjelaskan mengapa mereka yang dipilih sebagai responden dalam penelitian

4. Memberikan pengarahan dan menjelaskan maksud dan tujuan diadakannya pengisian kuesioner dan cara-cara pengisian kuesioner

5. Peneliti membimbing setiap responden yang mengalami kesulitan dalam mengisi angket.

Pembahasan data dalam penelitian ini dilakukan peneliti dengan membagi dalam dua sub bab agar penelitian tersusun secara sistematis, yaitu:

A. Analisis Identitas Responden meliputi status responden dalam keluarga populasi, usia, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan terakhir dan jumlah anak.

B. Respon Warga Binaan terhadap Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil oleh Dinas Kesejahteraan dan Sosial Provinsi Sumatera Utara di Desa Sionom Hudon Selatan Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan.

5.2 Analisis Identitas Responden

Tabel 5.1

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

no Jenis kelamin Frekuensi Persentase (%)

1. 2. Laki-laki Perempuan 43 4 86 8 Jumlah 50 100

Sumber Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa distribusi responden berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada jumlah responden berjenis kelamin perempuan di dalam penelitian ini. Adapun responden perempuan merupakan ibu rumah tangga yang sudah menjanda namun masih memiliki tanggungan.

Tabel 5.2

Distribusi Responden Berdasarkan Agama

no Agama Frekuensi Persentase (%)

1. 2. Kristen Protestan Kristen Katolik 48 2 96 4 Jumlah 50 100

Sumber Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa responden beragama Kristen Protestan adalah yang terbanyak dengan jumlah responden 48 (96%) sehingga jarang terjadi konflik dan lebih mudah dalam membentuk organisasi keagamaan di desa ini.

Tabel 5.3

Distribusi Responden Berdasarkan Usia

no Usia (tahun) Frekuensi Persentase (%)

1. 2. 3. 4. 22-31 32-41 42-51 >52 13 16 13 8 26 32 26 16 Jumlah 50 100

Sumber Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia produktif, yaitu antara usia 17-45 tahun. Hal ini dapat mendukung produktivitas warga binaan dalam proses pemberdayaan yang ada di Dusun Hutakalang Desa Sionom Hudon Selatan.

Tabel 5.4

Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

no Pendidikan Frekuensi Persentase (%)

1. 2. 3. 4. 5. Tidak bersekolah SD SMP SMA Diploma/Sarjana 5 28 14 1 2 10 56 28 2 4 Jumlah 50 100

Sumber Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai ke jenjang Sekolah Dasar. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab mengapa sebagian besar warga belum mampu memberdayakan dirinya sendiri dan lemahnya motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka menjadi lebih baik.

Tabel 5.5

Distribusi Responden Berdasarkan Suku

no Suku Frekuensi Persentase (%)

1. 2. 3. Dairi Batak toba Nias 40 7 3 80 14 6 Jumlah 50 100

Berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan bahwa responden atau warga binaan di Dusun Hutakalang Desa Sionom Hudon Selatan mayoritas bersuku Dairi. Adapun suku Batak Toba dan Nias merupakan penduduk yang menikah dengan warga suku Dairi yang tinggal di dusun ini. Dengan kondisi suku yang terbilang homogen, membuat warga sehari-hari berkomunikasi dengan menggunakan bahasa adat suku Dairi, dan cukup terbatas dalam menjalin komunikasi dengan penduduk luar dusun maupun Desa Sionom Hudon Selatan. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri Komunitas Adat Terpencil yang tertulis pada Keppres RI No.111/1999 tentang Pembinaan Sosial Komunitas Adat Terpencil.

Tabel 5. 6

Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anak

no Jumlah anak (orang) Frekuensi Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Belum ada 1 2 3 4 >5 4 5 15 12 8 6 8 10 30 24 16 12 Jumlah 50 100

Sumber Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki lebih dari 2 anak bahkan ada yang memiliki hingga 7 anak, hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran warga dalam perencanaan keluarga sehingga menyebabkan

semakin sulitnya warga dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari karena banyaknya tanggungan sementara sumber daya manusia dan lapangan pekerjaan masih sangat terbatas bagi mereka.

Bagan 5.1

Struktur Pemerintahan Desa

5.3 Respon Warga Binaan Terhadap Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil oleh Dinas Kesejahteraan dan Sosial Provinsi Sumatera Utara di Desa Sionom Hudon Selatan Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Dari data yang dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi dapat diketahui respon dari warga binaan terhadap Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil oleh Dinas Kesejahteraan dan Sosial Provinsi Sumatera Utara di Desa Sionom Hudon Selatan Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Kepala desa Gerhard Simbolon Sekretaris desa Masuto Tinambunan BPD desa Abdin Kaur Desa Demus Sihotang

Analisis terhadap respon ini dapat dilihat melalui pengetahuan, persepsi, sikap dan partisipasi responden terhadap program.

5.3.1 Pengetahuan Responden Terhadap Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

Salah satu indikator untuk menilai respon dalam penelitian ini adalah dengan melihat pengetahuan warga binaan terhadap Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil yang akan disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 5.7

Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Terhadap Kegiatan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

no Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

1. 2. 3. Tahu Kurang tahu Tidak tahu 19 18 13 38 36 26 Jumlah 50 100

Sumber Data Primer 2013

Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 5.7 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memang sudah mengetahui tentang kegiatan program pemberdayaan komunitas adat terpencil di desa sionom hudon selatan. Namun masih cukup banyak yang belum, bahkan tidak mengetahui tentang Kegiatan Program Pemberdayaan komunitas Adat Terpencil. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap warga binaan, terdapat miskomunikasi atau kurangnya sosialisasi yang mendetail dari pemerintah kepada warga binaan sehingga warga binaan tidak

terlalu mengetahui dan memahami kegiatan-kegiatan yang ada. Mereka hanya mengetahui beberapa kegiatan seperti pemberian bibit tanaman dan sembako. Padahal berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Nomor 020.A/PS/KPTS/VI/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil, ditulis bahwa kegiatan dalam Pemberdayaan komunitas Adat Terpencil meliputi; penyuluhan, bimbingan sosial, pelayanan serta perlindungan bagi komunitas Adat Terpencil.

Kuantifikasi skala likert berdasarkan pengetahuan responden tentang kegiatan program pemberdayaan komunitas adat terpencil adalah dengan jumlah nilai dari jawaban responden yakni 6, nilai tersebut dibagi dengan jumlah responden yang berjumlah 50 orang. Nilai skala likert berdasarkan pengetahuan responden tentang kegiatan program pemberdayaan komunitas adat terpencil di desa sionom hudon selatan adalah 0,12.

Tabel 5.8

Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Terhadap Tujuan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

no Tujuan Frekuensi Persentase (%)

1. 2. 3. Tahu Kurang tahu Tidak tahu 15 25 10 30 50 20 Jumlah 50 100

Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 5.8 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden masih kurang memahami tujuan dari pelaksanaan Program Pemberdayaan komunitas Adat Terpencil. Hal ini juga dikarenakan kurangnya sosialisasi dan komunikasi yang lebih mendetail dari pemerintah serta kurangnya keingintahuan warga terhadap Program Pemberdayaan komunitas Adat Terpencil, sehingga maksud dan tujuan program tidak sampai dan tepat sasaran.

Kuantifikasi skala likert berdasarkan pengetahuan responden terhadap Tujuan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil adalah dengan jumlah nilai dari jawaban responden yakni 5, nilai tersebut dibagi dengan jumlah responden yang berjumlah 50 orang. Nilai skala likert berdasarkan pengetahuan responden terhadap tujuan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil di Desa Sionom Hudon Selatan adalah 0,1.

Tabel 5.9

Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Terhadap Manfaat Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil.

no Manfaat Frekuensi Persentase (%)

1. 2. 3. Tahu Kurang tahu Tidak tahu 24 18 8 48 36 16 Jumlah 50 100

Sumber Data Primer 2013

Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 5.9 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden sudah mengetahui dan merasakan langsung manfaat dari

pelaksanaan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil di Dusun Hutakalang Desa Sionom Hudon Selatan, seperti mendapatkan tempat tinggal, fasilitas air bersih dan sebagian mengalami peningkatan pendapatan. Kuantifikasi skala likert berdasarkan pengetahuan terhadap manfaat program pemberdayaan komunitas adat terpencil adalah dengan jumlah nilai dari jawaban responden yakni 16, nilai tersebut dibagi dengan jumlah responden yang berjumlah 50 orang. Nilai skala likert berdasarkan pengetahuan responden terhadap tujuan program pemberdayaan komunitas adat terpencil di desa sionom hudon selatan adalah 0,32.

5.3.2 Persepsi Responden Terhadap Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

Pengukuran berikutnya untuk menilai respon dalam penelitian ini adalah dengan melihat persepsi warga binaan terhadap program pemberdayaan komunitas adat terpencil yang akan disajikan pada tabel berikut.

Tabel 5.10

Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi Terhadap Proses Pelaksanaan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

No Penilaian frekuensi Persentase (%)

1. 2. 3. Baik Kurang baik

Dokumen terkait