• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. PENUTUP

B. Saran

v

LAMPIRAN……… 43

iii

Segenap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang tak dapat terukur dikaruniakan-nya pada saya. Shalawat berserta salam kepada Rasulullah Muhammad SAW dengan mukjizatnya, Al-Qur’an menunjukan hambanya pada yang benar.

Dalam judul skripsi : “Respon Warga Desa Tajur Halang Bogor Terhadap Pernikahan Dini”. Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan baik.

Akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan, bukan hanya karena kerja keras penulis, namun banyak pihak yang turut serta berjuang di dalamnya. Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis haturkan kepada :

1. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta Bapak Dr. H Arief Subhan, MA. Yang telah

memberikan sumbangsih kepada penulis.

2. Kordinator Teknis Program Non Reguler Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta Ibu Dra. Hj.

Asriati Jamil, M.Hum. Beserta Seketaris Ibu Dra. Hj. Musfirah Nurlaily, MA.

Segenap jajarannya yang telah memberi kemudahan selama skripsi berlangsung.

3. Dra. Hj. aAsriati Jamil, M.Hum. Selaku dosen pembimbing skripsi yang senantiasa meluangkan waktu di tengah kepadatan mengajar beliau selaku Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta, semoga Allah SWT mempermudah

iv

4. Bapak dan Ibu dosen serta segenap Civitas Akademika Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Syarif Hidayahtullah Jakarta yang telah memberikan berbagai bekal ilmu kepada penulis.

5. Bagian kesektariatan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta Bapak Fatoni, S.Sos.I. yang telah meluangkan waktunya untuk penulis disaat membutuhkan dalam skripsi ini terima kasih.

6. Rasa hormat dan terima kasih yang tak terhingga banyaknya kepada Bapak Amiruddin, A.Md dan Ibu Waryanti, atas segala dukungan, kesabaran, keikhlasan, perhatian dan kasih sayang yang tak habisnya, yang senantiasa memotivasi dan menguatkan penulis di saat lelah dan lemah hingga do’a dan munajatnya tak pernah berhenti memohon pada-nya untuk memberikan yang terbaik untuk penulis.

7. Masyarakat Desa Tajur Halang Bogor khususnya Bapak Lurah, Bapak Rt 02, dan Bapak Rw 03, yang telah membantu dan melengkapi data-data yang dibutuhkan penulis dalam menyelesaikan skripsi saya.

8. Pimpinan dan Staf Perpustakaan Utama maupun Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta Mas Kardi dan Abay, Pak Andi,terima kasih atas kerja samanya selama ini.

v

penulis dengan canda tawa di kala penulis sedang merasakan sedih dan senang dalam penulisan skripsi, terima kasih menjadikan hidup terasa amat berharga.

10. Teman-teman seperjuangan KPI Non-Reguler Angkatan 2006, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta Agus Isnain, Hidayat Riyadi, Hakim Saputera, Johan Alkautsar, Muhammad Adzfar, Ade Wahyudi, Istiana, Bima, dll yang telah memberikan motivasi kepada penulis sehingga selesai juga skripsi ini. 11. Sahabat-sahabat seperjuangan di kehidupan saya, Danu, Habib, Torik,

Bian, Edin, Bghenk, Aryadi, Wahyu, Opik, Anis, dll yang telah memberikan waktu luang untuk menghibur dalam pengerjaan skripsi ini. 12. Teman-teman KKN 2009, Dayat, Johan, Papay, Cokro, Chaca, Sandra,

April, Wibi, Alvi, Yuli, Yanti, Feni, Ewis, dll semoga kalian bisa menyusul saya menjadi sarjana, amin.

13. Para Kaka Senior Alumni Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta Bang Taufan, Said, Adit, Cireng, Bagus, Yoko, Agus Miswaludin, dll sukses terus semuanya tetap semangat dan kompak selalu terima kasih.

vi

kasih.

Semoga allah membalas jasa orang-orang yang membantu dalam pembuatan skripsi ini, dengan balasan yang setimpal amin ya Rabbal A’alamin.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumber dalam menambah pengetahuan dan wawasan terutama ilmu komunikasi penyiaran islam.

Jakarta, Juli 2011

vi

LEMBAR PERNYATAAN……… i

ABSTRAK……… ii

KATA PENGANTAR……… iii

DAFTAR ISI……… iv

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……… 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah……… 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian……… 7

D. Metodologi Penelitian………..8

E. Tinjauan Pustaka………..11

F. Sistematika Penulisan……… 12

BAB II. TINJAUAN TEORITIS A. Respon………. 13

1. Pengertian Respon………. 13

2. Macam-Macam Respon………. 15

vii

2. Jenis-Jenis Warga………. 19

3. Fungsi Warga……… 20

C. Pernikahan Dini……… 21

1. Pengertian Pernikahan Dini……… 21

2. Faktor Penyebab………. 26

3. Dampak Pernikahan Dini……… 27

4. Macam-Macam Persfektif Pernikahan Dini……… 30

BAB III. GAMBARAN UMUM WARGA DESA TAJUR HALANG BOGOR A. Profil Desa Tajur Halang Bogor……… 34

B. Struktur Penduduk……… 35

C. Letak Geografis Desa Tajur Halang Bogor……… 37

BAB IV. RESPON WARGA DESA TAJUR HALANG BOGOR TERHADAP PERNIKAHAN DINI A. Identitas Responden……..……… 39

B. Respon Warga Desa Tajur Halang Bogor Terhadap Pernikahan Dini……….……… 44

viii 3. Respon Konatif……… 89 C. Analisis Penelitian………. 99 BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan……….... 101 B. Saran……….. 102 DAFTAR PUSTAKA……… 104 LAMPIRAN………106

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pernikahan dini, yaitu pernikahan laki-laki atau perempuan yang belum

baligh. Apabila batasan baligh itu ditentukan dengan hitungan tahun, maka

pernikahan dini adalah pernikahan di bawah usia 15 tahun menurut mayoritas

ahli figh, dan di bawah usia 17/18 tahun menurut Abu Hanifah.

Mayoritas besar ulama Fiqh ( Ibnu Mundzir ) bahkan menganggap sebagai

ijma’ ( konsensus ) ulama Fiqh mengesahkan penikahan dini. Menurut mereka

untuk masalah pernikahan, kriteria baligh dan berakal bukan merupakan

persyaratan bagi keabsahannya. Beberapa argumen yang dikemukakan antara lain

adalah :

Al-Qur’an, surat ath-Thalaq 4 :

                   

Artinya : “Bagi mereka yang telah putus haidnya, iddahnya adalah 3

bulan. Demikian juga bagi bagi mereka yang belum haid”.1

Sebagai contohnya adalah pernikahan Nabi Saw dengan Siti Aisyah yang

masih belia. Nabi Saw juga mengawinkan anak perempuan pamannya ( Hamzah )

dengan anak laki-laki Abu Salamah, keduanya ketika itu masih berusia muda.

Selain itu para sahabat Nabi Saw ada yang menikahkan putera-puterinya atau

keponakannya. Ali bin Abi Thalib mengawinkan anak perempuannya yang

bernama Ummi Kultsum dengan Umar bin Khathab. Ummi Kultsum ketika itu

juga masih muda. Urwah bin Zubair juga menikahkan anak perempuan

saudaranya yang lain, kedua keponakan itu sama-sama masih di bawah umur.

Tetapi beda halnya dengan kasus pernikahan Nabi Saw dengan Siti

Aisyah. Ibnu Syubrumah berpendapat bahwa hal itu merupakan perkecualian atau

suatu kekhususan bagi Nabi Saw sendiri yang tidak bisa diberlakukan bagi

umatnya. Pendapat Ibnu Syubrumah dewasa ini diikuti oleh undang-undang

Negara syaria. Beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan ketentuan ini

adalah prinsip istishlah atau kemaslahatan, realitas sosial, dan memperhatikan

beratnya tanggung jawab perkawinan.2

Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam

Undang-undang Perkawinan Indonesia No.1 Tahun 1974 bab II pasal 7 ayat 1

1

KH. Husein Muhammad, Fiqih Perempuan, Yogyakarta : LKiS, 2002. Hal. 68. 2

disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19

(sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam

belas tahun) tahun.3

Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan

ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar

kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis dan mental.

Dari sudut pandang kedokteran, pernikahan dini mempunyai dampak

negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Menurut para sosiolog,

ditinjau dari sisi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga.

Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara

pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya

memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh karenanya, pemerintah hanya

mentolerir pernikahan di atas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk

wanita, atau menurut psikolog usia terbaik menikah adalah antara 19 sampai

dengan 25 tahun.4

Hukum pernikahan dini menurut Islam secara umum meliputi lima

prinsip yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Dari

kelima nilai universal Islam ini, satu diantaranya adalah agama menjaga jalur

keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu, Syekh Ibrahim dalam bukunya al

Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga, hubungan seks yang

3

UU Perkawinan di www. depag.go.id 4

Mohammad Fauzi Adhim, Indahnya Pernikahan Dini, Jakarta : Gema Insani, 2002. Hal. 46

mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Seandainya agama tidak

mensyari’atkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin

kabur.

Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini.

Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimal Undang-undang Perkawinan,

secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara

dibatasi dengan umur. Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah

pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh.Terlepas dari semua itu,

masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan

lembaran sejarah. Dan kini, isu tersebut kembali muncul ke permukaan. Hal ini

tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara para sarjana Islam

klasik dalam merespon kasus tersebut.

Isu pernikahan dini saat ini marak dibicarakan. Hal ini dipicu oleh

pernikahan Pujiono Cahyo Widianto, seorang hartawan sekaligus pengasuh

pesantren dengan Lutviana Ulfah. Pernikahan antara pria berusia 43 tahun dengan

gadis belia berusia 12 tahun ini mengundang reaksi keras dari Komnas

Perlindungan Anak. Bahkan dari para pengamat berlomba memberikan opini yang

bernada menyudutkan. Umumnya komentar yang terlontar memandang hal

tersebut bernilai negatif.

Di sisi lain, Syeh Puji, begitu ia akrab disapa berdalih untuk mengader

calon penerus perusahaannya. Dia memilih gadis yang masih belia karena

dalam pandangan Syeh Puji, menikahi gadis belia bukan termasuk larangan

agama.

Pada hakekatnya, penikahan dini juga mempunyai sisi positif. Kita tahu,

saat ini pacaran yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak

mengindahkan norma-norma agama. Kebebasan yang sudah melampui batas,

dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakan-tindakan asusila di

masyarakat. Fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada

taraf yang memprihatinkan. Hemat penulis, pernikahan dini merupakan upaya

untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut. Dari pada terjerumus

dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan, jika sudah ada yang siap untuk

bertanggungjawab dan hal itu legal dalam pandangan syara’ kenapa tidak ?

Sebenarnya kalau kita mau menelisik lebih jauh, fenomena pernikahan

dini bukanlah hal yang baru di Indonesia, khususnya daerah Jawa. Penulis sangat

yakin bahwa mbah buyut kita dulu banyak yang menikahi gadis di bawah umur.

Bahkan jaman dulu pernikahan di usia ”matang” akan menimbulkan preseden

buruk di mata masyarakat. Perempuan yang tidak segera menikah justru akan

mendapat tanggapan miring atau lazim disebut perawan tua.

Namun seiring perkembangan zaman, image masyarakat justru sebaliknya.

Arus globalisasi yang melaju dengan kencang mengubah cara pandang

masyarakat. Perempuan yang menikah di usia belia dianggap sebagai hal yang

memberangus kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan

pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.

Desa Tajur Halang adalah salah satu Desa di wilayah Kecamatan Cijeruk

Kabupaten Bogor, dengan luas wilayah 390,527 Ha yang terdiri dari 3 Dusun, 6

Rukun Warga (RW) dan 22 Rukun Tetangga (RT). Jumlah penduduk Desa Tajur

Halang Bogor sampai dengan akhir Desember 2009 tercatat 6.085. Lokasi yang

diteliti adalah Rt 02/Rw 03, dengan jumlah jiwa (110 LK dan 100 P). Jumlah

penduduk Desa Tajur Halang Bogor khususnya Rt 02/ Rw 03 sampai dengan

akhir Desember 2009 tercatat (210) jiwa.

Oleh karena itu hal ini menarik untuk diteliti. Secara umum penulis ingin

mengetahui Respon Warga Desa Tajur Halang Bogor Terhadap Pernikahan Dini.

Selain rasa keingintahuan penulis akan hal yang telah dikemukakan di atas penulis

merasa memiliki tanggung jawab lebih karena penulis pernah melaksanakan KKN

di Desa Tajur Halang selama satu bulan.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, semoga penelitian yang

penulis garap sebagai topik penelitian skripsi dengan judul “Respon Warga Desa

Tajur Halang Bogor Terhadap Pernikahan Dini”.

B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas penelitian ini berfokus

supaya pembahasan masalah tetap terarah dan fokus, maka perlu kiranya penulis

membatasi ruang lingkupnya, sehingga tidak melebar dan meluas. Untuk

memudahkan dan mempelancar penelitian, maka peneliti ini dibatasi pada:

a. Batasan masalah dan penelitian ini dibatasi pada responden yang telah

melakukan pernikahan dini.

b. Batasan masalah yang penulis batasi dimana tempat peneelitian dilakukan

yaitu wilayah Rt. 02/Rw. 03

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan di atas, maka pokok permasalahannya dapat

dirumuskan sebagai berikut :

a. Bagaimana Respon Warga Desa Tajur Halang Bogor Terhadap Pernikahan

Dini.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui bagaimana Respon Warga Desa Tajur Halang Bogor

terhadap Pernikahan Dini.

2. Manfaat Penelitian a. Segi Akademis

Sebagai dasar bagi studi-studi selanjutnya dan memberikan gambaran

dalam masyarakat ada yang berpendapat positif atau negatif, serta meningkatkan

dalam pendidikan mengenai akhlakul karimah.

b. Segi Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan terhadap masyarakat

yang berfikir bahwa pernikahan dini itu cenderung ke hal yang negatif. Padahal

banyak posisi positifnya. Dan selain itu diharapkan dapat memberikan sedikit

gambaran bagi peneliti-peneliti yang lain yang berkepentingan dalam penulisan

maslah ini.

D. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan suatu cara atau jalan untuk memperoleh

kembali pemecahan terhadap segala permasalahan. Metode penelitian yang

digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Yaitu penelitian berupa mancari

faktor-faktor dan informasi dari data lapangan yang ditemui secara angka dengan melihat

inti objek penelitian berdasarkan tingkat beragam dalam data lapangan yang bisa

didapat secara akurat, tepat dan terpecaya. Untuk memperoleh data di lapangan

penulis menggunakan langkah-langkah antara lain:

2. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi

Observasi, yaitu pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sisitematis

pencatatan. Penulis mengamati langsung keadaan prilaku subjek penelitian yang

ada di lapangan.5Yaitu warga Desa Tajur Halang Bogor.

b. Wawancara

Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan

seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan

mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. Selain itu

wawancara atau interview merupakan alat pengumpul informasi langsung tentang

beberapa jenis data, dengan tehnik ini peneliti bertemu secara langsung dengan

informan.6Penelitian ini langsung mewawancarai warga Rt 02 / Rw 03Desa Tajur

Halang Bogor.

c. Angket

Angket adalah cara pengumpulan data dengan menggunakan daftar

pertanyaan yang telah disiapkan dan tersusun sedemikian rupa yang harus diisi

dan dijawab responden, yaitu warga Desa Tajur Halang Bogor. Karena ciri khas

angket terletak pada pengumpulan data melalui daftar pertanyaan tertulis yang

disusun dan disebarkan untuk mendapatkan informasi atau keterangan dari

sumber data yang berupa orang.7

Bentuk angket yang penulis gunakan adalah angket tertutup yaitu alternatif

jawaban yang telah disediakan oleh penulis, karena dengan angket tertutup lebih

mudah diambil kesimpulan dan dihitung presentasinya dibandingkan dengan

angket terbuka.

5

Roni Hanitijo Soemitro, Metodelogi Penelitian Hukum, Jakarta : Ghlia Indonesia, 1985. Hal. 62.

6

Sutrisno Hadi. Metodelogi Research. (Yogyakarta : Andi offset, 1983). Hal.49. 7

Faisal. S. Dasar dan Teknik Penyusunan Angket, (Surabaya : Usaha Nasional, 1981) h. 2

3. Populasi dan Sampel a. Populasi

Dalam penelitian ini, jumlah populasi warga Desa Tajur Halang Bogor Rt

02 / Rw 03, sebanyak 210 jiwa. Tetapi yang melakukan pernikahan dini berjumlah

160 warga, (75 LK dan 85 Pr).

Dalam penelitian ini peneliti mengambil jumlah sampel sebanyak 32 jiwa

dari 160 jiwa (20%).

4. Teknik Analisa Data

Dalam hal analisa data digunakan bentuk analisa dengan menggunakan

jenis distribusi frekuensi.

a. Deskriptif, data-data yang diperoleh melalui angket, kemudian diproses

dengan beberapa tahapan, sebagai berikut :

1). Evaluasi, memeriksa jawaban responden untuk diteliti, ditelaah dan

dirumuskan pengelompokannya untuk memperoleh data-data yang

akurat.

2). Tabulasi, yaitu memindahkan jawaban-jawaban responden yang

diperoleh dari angket ke dalam bentuk tabel yang berdasarkan

tema-tema di BAB IV. Kemidian dicari frekuensi dan prosentasenya untuk

3). Kesimpulan, memberikan kesimpulan dari analisa dan penafsiran data.

Semua tahapan tersebut akhirnya di jelaskan pendeskripsiannya dalam

bentuk verbal (kata-kata) maupun angka sehingga menjadi bermakna.

b. Prosentase, data yang diperoleh dari deskripsi kualitatif kemudian diolah

menjadi analisa statistik prosentasi, sebagai berikut :

P = f x 100 %

n

Keterangan : P = besarnya prosentase

f = frekuensi (jumlah jawaban responden)

n = jumlah responden

E. Tinjauan Pustaka

Setalah penulis melakukan pengamatan atau penelitian langsung tentang

penulisan skripsi yang membahas tentang Respon Warga Desa Tajur Halang

Bogor Terhadap Pernikahan Dini, belum penulis temukan penelitian yang sama.

Penelitian-penelitian yang penulis temukan yaitu membahas tentang poligami,.

Seperti skripsi Novi Syaofia, NIM 105051001982, jurusan Komunikasi Penyiaran

Islam yang membahas dan juga belum penulis temukan lokasi penelitian di Desa

Tajur Halang Bogor. Melihat hal itulah, maka peluang penulis mengangkat judul

skripsi “Respon Warga Desa Tajur Halang Bogor Terhadap Pernikahan Dini”

sangat terbuka sekali. Penulis juga merujuk pada buku pedoman penulisan skripsi,

F. Sistematika Penulisan

Agar skripsi ini teratur secara sistematis, penulis membagi pembahasan

menjadi 5 bab, masing-masing bab terdiri dari sub bab, yakni :

Bab I . Pendahuluan

Bab pertama membahas latar belakang masalah, batasan dan rumusan

masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika

penulisan.

BabII . Kerangka Teoritis

Bab kedua membahas tentang pengertian respon, pengertian warga, dan

pengertian pernikahan dini.

Bab III . Gambaran Umum Tentang Desa Tajur Halang Bogor

Bab ketiga membahas profil Desa Tajur Halang Bogor, struktur penduduk,

dan letak geografis Desa Tajur Halang Bogor.

Bab IV . Analisi Data

Bab keempat membahas tentang identitas responden, Respon Warga Desa

Tajur Halang Bogor Terhadap Pernikahan Dini, analisis penelitian.

Bab V. Kesimpulan

Merupakan penutup yang mencakup kesimpulan, sara-saran, daftar

13

TINJAUAN TEORITIS

A.Respon

1. Pengertian Respon

Respon berasal dari kata response, yang berarti jawaban, balasan atau tanggapan (reaction). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa “Respon adalah tanggapan, reaksi atau jawaban terhadap suatu gejala peristiwa yang terjadi.1

Sedangkan dalam Kamus Lengkap Psikologi disebutkan bahwa “Respon adalah sebarang proses otot atau kelenjar yang dimunculkan oleh suatu perangsang atau berarti suatu jawaban, khususnya satu jawaban bagi pertanyaan tes atau suatu kuisioner, atau bisa juga berarti tingkah laku, baik yang jelas kelihatan atau yang lahiriah maupun yang tersembunyi atau tersamar.2

Dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan disebutkan bahwa respon adalah reaksi psikologis metabolik terhadap tibanya suatu rangsang, ada yang bersifat refleksi dan reaksi emosional langsung, adapula yang bersifat terkendali.3 Sedangkan menurut Scheerer, respon (balas) adalah proses pengorganisasian rangsang.

1

Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002). Edisi ke-3. h. 585.

2

J.P. Chaplin, Kamus lengkap Psikologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), Cet. Ke-9, h. 432.

3

Save D. Dagun, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Lembaga Pengkajian dan Kebudayaan Nusantara, 1997), Cet. Ke-1, h. 964.

Rangsang-rangsang proksimal diorganisasikan sedemikian rupa sehingga terjadi refresentasi fenomenal dari rangsang-rangsang proksimal itu. Proses inilah yang disebut respon.4

Sama halnya dengan pengertian di Kamus Besar Bahasa Indonesia, menurut Poerwadarminta, Respon diartikan sebagai tanggapan, reaksi dan jawaban.5 Respon akan muncul dari penerimaan pesan setelah sebelumnya terjadi serangkain komunikasi. Dan meenurut Ahmad Subandi, meengemukakan respon dengan istilah umpan balik (feed back) yang memiliki peranaan atau pengaruh yang besar dalam menentukan balik atau tidaknya suatu komunikasi.6

Agus Sujanto mengemukakan bahwa, yang disebut tannggapan adalah gambaran pengamatan yang tinggal dikesadaran kita sesudah mengamati.7Tanggapan adalah gambaran ingatan dari pengamatan. Sedangkan menurut Abu Ahmadi, tangggapan sebagai salah satu fungsi jiwa yang pokok, dapat diartikan sebagai gambaran ingatan dari pengamatan dalam mana objek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang waktu pengamatan. Jadi jika proses pengamatan sudah berhenti hanya kesannya saja. Peristiwa itu disebut sebagai “tanggapan”.8

Respon merupakan timbal balik dari apa yang dikomunikasikan terhadap orang-orang yang terlibat proses komunikasi. Komunikasi merupakan jalinan proses

4

Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-teori Psikologi Sosial, (Jakarta: PT. Raaja Grafindo Persada, 2000), Cet. Ke-5, h. 84.

5

Poerwadarminta, Psikologi komunikasi, (Jakarta: UT, 1999), Cet. Ke-3, h. 43. 6

Ahmad Subandi, Psikologi Sosial, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), Cet. Ke-2, h. 50. 7

Agus Sujanto, Psikologi Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), Cet. Ke-2, h. 31. 8

komunikasi hanya akan berjalan secara efektif dan efisien, apabila unsure-unsur didalamnya terdapat keteraturan.

Respon akan muncul dari penerimaan pesan setelah sebelumnya terjadi serangkaian komunikasi. Sedangkan menurut Astrid S. Susanto mengatakan, respon adalah reaksi penolakan atau pengiyaan ataupun sikap acuh tak acuh yang terjadi dalam diri seseorang setelah menerima pesan.9

2. Macam-macam Respon

a. Respon kognitif, ialah respon yang berhubungan dengan pikiran atau penalaran, sehingga khalayak yang semula tidak tahu, yang tadinya tidak mengerti, yang tadinya bingung menjadi merasa jelas.10 Atau terjadi bila ada

Dokumen terkait