• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran-saran

Dalam dokumen PENERIMAAN DIRI REMAJA YANG MERASA TERBUANG (Halaman 102-156)

BAB V PENUTUP

B. Saran-saran

1. Bagi suster pengelola dan pengasuh di PA Pangrekso Dalem Betlehem, Temanggung

a. Memberikan perhatian khusus kepada Lexa secara pribadi karena masalah yang di alami Lexa cukup serius.

b. Memantau setiap perkembangan yang terjadi pada diri Lexa khususnya dalam perkembangan menerima keadaan dirinya sendiri, agar setiap perubahan yang terjadi saat ini menetap dan terus berkembang ke arah yang positif.

c. Lexa menganggap Suster berjanji memasukkan dia ke Institut Seni Indonesia, sebaiknya dari sekarang Lexa diberi pengertian kalau dia tidak mungkin masuk ke Institut Seni Indonesia, sebaiknya ia ikut kursus atau les saja.

89

2. Bagi peneliti lain

Penggunaan tape recorder sangat penting karena rekaman tersebut merupakan bukti otentik. Sehingga data yang diperoleh akurat dan kesalahan atau penyimpangan atau ketidaklengkapan data dapat diminimalkan. Kecenderungan bias atau subjektifitas kita sebagai peneliti dalam melihat, memahami dan mengintrepretasikan semua informasi yang diperoleh akan sangat mempengaruhi seluruh rangkaian proses penelitian. Hal di atas dapat menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang objektif, padahal penelitian studi kasus menuntut objektifitas dari peneliti.

Bagi peneliti lain yang hendak menggunakan metode studi kasus disarankan menggunakan tape recorder untuk merekam semua informasi atau data yang didapat. Penggunaan tape recorder membantu peneliti mendapat data yang sungguh-sungguh akurat serta kesalahan atau penyimpangan atau ketidaklengkapan informasi dapat diminimalkan. Penggunaan Tape recorder sebaiknya diperiksa terlebih dahulu untuk meminimalisirkan kesalahan, misalnya penggunaan baterai harus sesuai jangan sampai tape recorder tidak dapat digunakan. Peneliti lain juga harus mampu melihat, memahami dan meintrepretasikan seluruh informasi secara objektif.

Peneliti selain memperhatikan hal di atas hendaknya dapat membangun kepercayaan terhadap subjek. Membangun kepercayaan merupakan hal yang sangat penting sehingga proses pendampingan dan penyembuhan dapat berlangsung efektif.

DAFTAR PUSTAKA

ANIMA, Media Psikologi Indonesia, Vol XIII No. 51 April-Juni 1998.

Chaplin, J. 2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Cole, K. 2004. Mendampingi Anak Menghadapi Perceraian Orang Tua. Jakarta:

Prestasi Pustakaraya.

Cronbach, J.P. 1980. Psychology of Exceptional Children and Youth. London: Prentice Hall Inc

Bloch, D dan Merritt, J. 2006. Kekuatan Percakapan Positif. Batam: Karisma Publishing Group.

Furchan. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Gulo, K. 2003. Kamus Psikologi. Jakarta: Pionir Jaya

Ginott, G. H. 2005. Antara Orangtua dan Anak. Jakarta: Pustaka Tangga. Gunarsa. 2004. Psikologi Perkembangan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Gordon, T dan Gordon, J. 1994. MOE Menjadi Orang Tua Efektif dalam Praktek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hurlock, E. B. 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha Ltd.

Hurlock, E. B.1981. Child Development. Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha Ltd. Hurlock, E. B. 1994. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang

Rentang Kehidupan Manusia. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, E. B. 1997. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta..

Hjelle, L.A dan Ziegler, D.J. 1997. Personality Theories Basic Assumptions, Research and Applications. Tokyo: Mc Graw Hill International Book Company.

Irwanto, dkk. 1999. Pekerja Anak Ditiga Kota Besar = Jakarta, Surabaya, Medan. Jakarta: Pusat Penelitian Unika Atma Jaya.

91

Isaac dan Stephen. 1982. Hand Book In Research and Evolusion 2nd Edition.

California: EDITS Wiliam B. Michael Publisher. Kartono, K. 2000. Hygiene Mental. Bandung : Mandar Maju.

Mc. Kinney, F. 1949. Psychology of Personal Adjusment Student’s Introduction to Mental Hygiene. New York: John Willey and Sons Inc

Poerwandari. 1998. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidkan Psikologi (LPSP3) UI.

Prawitasari, J. E. 1986. Kesehatan Mental dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari. Simposium Psikologi keluarga dan Permasalahannya. Yogyakarta: Biro Pelayanan Jasa Psikologi Validita.

Ratnawati, D. 1990. Hubungan Kreatifitas dengan Penerimaan Diri atas Kecacatan yang disandang pada para penyandang Cacat Tubuh si PRPCT “Prof. Dr. Soeharso” Surakarta. Intisari Skripsi. (Tidak diterbitkan)

Rubin, Ti. 1974. Please Make Me Happy, The Commonsense Book of Mental Health. New York: Priam book Arbor House.

Sartain, A. Q. and Other. 1973. Psychology Understanding Human Behavior.

New York: Mc Graw Hill Book Company

Sinurat, R. H. Dj. 1991. Konsep Diri dan Pengembangan. Makalah. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.

Siswojo. 1986. Aspek-aspek Psikologi Penderita Cacat Jasmani di RS Surakarta;

Kumpulan Paper pada Penataran Peningkatan Tenaga Teknisi Ortorik dan Prostetik di RS Orthopedi. (Tidak diterbitkan)

Supraktiknya, A. 1995. Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius.

Sudarsono. 1990. Kenakalan Remaja = Prevensi, Rehabilitasi dan Resosialisasi. Jakarta: Rineka Cipta.

Suhartono. 1976. Studi Mengenal Perbedaan Kestabilan Emosi pada Masing-masing Tingkat Beratnya cacat Jasmani di RC. Surakarta. Skripsi. (Tidak diterbitkan)

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3. Jakarta: Balai Pustaka.

Winkel, W. S. 1997. Prosedur Laporan Studi Kasus. Hand Out, Mata Kuliah Studi Kasus.

Winkel, W. S dan Hastuti, S. M. M. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institut Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo

Wresniwiro dan Kawan-kawan. 1996. Estasy Penanggulangan Bahaya Narkotik dan Psikotropika. Jakarta: Pramuka Saka Bhayangkara.

Zainun. 2006. Anak Korban Perceraian. Http://www.anak korban perceraian.com

Zuriah, N. 1997. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Bandung: ALFABET

Wawancara Informasi

Pedoman Wawancara No Tema/kategori Deskripsi

Subjek Diri Pengasuh dan Guru Subjek Teman-teman Subjek

1 Identitas Subjek Identitas Diri Subjek

1. Nama 2. Usia

3. Jenis Kelamin 4. Anak ke… dari ….

Bersaudara 5. Tempat tinggal 6. Kelas

7. Informasi lain yang ingin ditambahkan, misalnya hobby, sesuatu yang disukai. 1. Nama 2. Usia 3. Tempat tinggal 1. Nama 2. Usia 3. Tempat tinggal 4. Pendidikan 2 Lingkungan Sosial Pandangan subjek tentang lingkungan tempat tinggalnya maupun sekolahnya. Hubungan dengan teman-1. Ceritakan bagaimana suasana di rumahmu 2. Ceritakan bagaimana suasana di sekolahmu. 3. Ceritakan bagaimana hubunganmu dengan teman-temanmu di rumah 4. Ceritakan bagaimana

1. Menurut Anda, apakah suasana di rumah ini mendukung perkembangan sosial para anak asuh secara umum dan subjek secara khusus.

2. Menurut Anda, apakah suasana di sekolah

mendukung perkembangan

1. Menurutmu, apakah suasana di panti asuhan ini mendukung

perkembangan sosial para anak asuh secara umum dan subjek secara khusus.

2. Menurut anda, apakah suasana di sekolah

teman, para pengasuh di panti asuhan dan hubungan dengan teman-teman, para guru di sekolah. hubunganmu dengan teman-temanmu di sekolahan. 5. Ceritakan bagaimana hubunganmu dengan orang tuamu di rumah

sosial para siswa secara umum dan subjek secara khusus.

mendukung

perkembangan sosial para siswa secara umum dan subjek secara khusus. 3 Kelompok Sosial Orang-orang di lingkungan sosial yang berperan dalam kehidupan subjek, hubungan dengan teman-teman dekat, cara subjek mengatasi masalah yang dialami.

1. Siapa saja teman-temanmu.

2. Siapa saja teman-teman yang dekat denganmu baik laki-laki maupun perempuan.

3. Apakah kamu memiliki sahabat.

4. Ketika kamu ada masalah, kepada siapa kamu

mengungkapkannya. 5. Ketika kamu mengalami

masalah, apakah mereka mau membantu?

6. Ketika kamu mengalami masalah, apa yang kamu lakukan.

7. Apakah kamu berusaha mengatasi masalah yang kamu alami.

8. Bagaimana caramu mengatasi masalah

1. Siapa saja teman-teman subjek.

2. Siapa saja teman-teman yang dekat denganmu baik laki-laki maupun

perempuan.

3. Apakah subjek memiliki sahabat.

4. Ketika subjek ada masalah, kepada siapa kamu

mengungkapkannya 5. Ketika subjek mengalami

masalah, apakah mereka mau membantunya. 6. Bagaimana cara anda

membantu subjek. 7. Apakan subjek berusaha

mengatasi masalahnya sendiri.

8. Bagaimana cara subjek mengatasi masalahnya.

1. Siapa saja teman-teman subjek.

2. Siapa saja teman-teman yang dekat denganmu baik laki-laki maupun perempuan.

3. Apakah subjek memiliki sahabat.

4. Ketika subjek ada masalah, kepada siapa kamu mengungkapkannya 5. Ketika subjek mengalami

masalah, apakah mereka mau membantunya. 6. Bagaiman caramu

membantu subjek. 7. Apakan subjek berusaha

mengatasi masalahnya sendiri.

8. Bagaimana cara subjek mengatasi masalahnya.

orang yang tinggal satu keluarga dengan subjek) keluarga denganmu. 3. Ceritakan bagaimana hubunganmu dengan orang tuamu. 4. Ceritakan bagaimana hubunganmu dengan saudara-saudaramu.

5 Konsep Diri Gambaran diri subjek, pandangan subjek tentang dirinya, rasa percaya diri subjek menurut subjek sendiri maupun orang lain.

1. Sebutkan kelebihan dan sifat-sifat positif yang kamu miliki.

2. Sebutkan

kekurangan/sifat-sifat negatif yang kamu miliki.

3. Kemampuan/ketrampilan apa saja yang kamu miliki. 4. Menurutmu bagaimana pendapat teman-temanmu terhadap dirimu. 5. Menurutmu bagaimana pendapat pengasuh dan gurumu terhadap dirimu. 6. Ceritakan bagaimana

1. Sebutkan kelebihan dan sifat-sifat positif yang dimiliki subjek.

2. Sebutkan kekurangan/sifat-sifat negatif yang dimiliki subjek.

3. Kemampuan/ketrampilan apa saja yang dimiliki subjek.

4. Bagaimana pendapat pengasuh dan guru terhadap subjek.

5. Menurut anda, bagaiman hubungan subjek dengan teman-teman di panti asuhan.

6. Menurut anda, bagaimana hubungan subjek dengan

1. Sebutkan kelebihan dan sifat-sifat positif yang dimiliki subjek. 2. Sebutkan

kekurangan/sifat-sifat negatif yang dimiliki subjek.

3. Kemampuan/ketrampilan apa saja yang dimiliki subjek.

4. Menurutmu, bagaimana pendapatmu terhadap subjek.

5. Menurut anda, bagaiman hubungan subjek dengan teman-teman di panti asuhan.

hubunganmu dengan guru-gurumu di sekilah. 7. Sebutkan apa saja

aktivitasmu bersama teman-teman di sekolah dan panti asuhan. 8. Ceritakan tentang

aktivitasmu bersama pengasuhmu.

9. Hal-hal apa saja yang kamu sukai dari para pengasuhmu.

10. Hal-hal apa saja yang tidak kamu sukai dari para pengasuhmu.

teman-teman di sekolah. 7. Ceritakan bagaimana

hubungan anda dengan subjek.

8. Apa saja aktivitas anda (selain mengajar) bersama subjek di sekolah.

9. Apa saja aktivitas andabersama subjek di panti asuhan.

bagaimana hubungan subjek dengan teman-teman di sekolah. 7. Ceritakan bagaimana

hubungan anda dengan subjek.

8. Apa saja aktivitasmu bersama subjek di sekolah.

9. Apa saja aktivitas andabersama subjek di panti asuhan.

Tabel 2

Rencana Pelaksanaan Wawancara Konseling

Pertemuan Tujuan/target yang ingin dicapai Fase/lamanya

I Pengembangan hubungan antar pribadi yang baik sehingga memungkinkan pembicaraan dapat terbuka dan terarah dalam proses konseling.

Penggalian masalah yang dialami oleh Lexa secara mendalam baik pikiran, perasaan dan perilaku.

60 menit

II Menggali asal usul masalah.

Menggali unsur-unsur pokok dan tidak pokok. Menggali pihak-pihak yang terlibat.

Menggali perasaan dan pikiran konseling. 90 menit III Menjelaskan alasan Lexa menghadapi masalah

tersebut.

Membantu Lexa menemukan pandangan dan sikap yang baru supaya dapat menghadapi situasi yang ada.

Membantu menemukan tindakan yang direncanakan akan diambil sesudah konseling.

90 menit IV Memberi ringkasan jalannya pembicaraan dari awal

hingga akhir proses konseling.

Menegaskan kembali keputusan yang diambil Lexa. Memberi semangat atau bombongan pada Lexa. Menawarkan bantuan bila kelak timbul masalah baru.

Berpisah dengan Lexa. 45 menit

Tabel 3

NAMA : Lexa

JENIS KELAMIN : Perempuan

Kuesioner

Berilah tanda centang ( ) pada kolom ya, bila pertanyaan sesuai dengan dirimu, dan berilah tanda centang pada kolom tidak, bila pertanyaan tidak sesuai dengan dirimu.

No Pertanyaan Tidak Ya

1. Apakah kamu merasa tidak diinginkan oleh orang terdekatmu?

9

2. Apakah kamu merasa diabaikan/disia-siakan oleh orang terdekatmu?

9

3. Apakah kamu merasa dirimu tidak berharga? 9

4. Apakah kamu merasa orang terdekatmu kurang mengasihimu?

9

5. Apakah kamu merasa tidak

diterima/diasingkan/dikucilkan/ditolak?

9

6. Apakah kamu merasa tidak ada yang peduli/perhatian padamu?

9

7. Apakah kamu merasa kesepian? 9

8. Apakah kamu merasa tidak ada yang peduli dengan masalahmu?

9

9. Apakah kamu merasa orang terdekatmu tidak menyadari keberadaanmu?

9

10. Apakah kamu merasa terbuang? 9

Tabel 4

Indikator yang Perlu Diubah Menggunakan Pendekatan IA

(Interview for Adjustment)

1. Penerimaan diri

a. Anak yang memiliki kecacatan tubuh b. Anak yang bersekolah di SLB

c. Anak panti asuhan

2. Penerimaan terhadap kenyataan keluarga

a. Orang tua tidak bisa membesarkan Lexa, maka Lexa di berikan ke PA

b. Orang tua Lexa telah sepenuhnya menyerahkan Lexa ke PA, maka Suster/ibu pengasuh adalah orang tua Lexa 3 Pergaulan

Pergaulan yang sempit hanya terbatas pada teman-teman yang Lexa anggap senasib, karena Lexa lebih memilih mengurung diri di kamar

Fase I: Basa basi dan penjelasan kekhususan wawancara konseling Angket Indikator Perasaan Terbuang Angket dibagi pada beberapa anak Lexa dipilih sebagai subjek Pencarian informasi tentang Lexa dari guru, pengaruh dan teman-teman Lexa serta observasi kehidupan Lexa sehari-hari Penyesuaian Diri Remaja yang Merasa Terbuang Fase II: Penjelasan Masalah: Masalah sesuai dengan yang ingin diteliti yaitu penyesuaian diri remaja yang merasa terbuang

Fase III:

Asal usul masalah yaitu dari kejadian yang dalami sehari-hari, unsur pokok dan tidak pokok yang dapat digunakan untuk membantu Lexa keluar dari masalahnya, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya serta perasaan dan pikiran subjek

Fase V:

Penutup Perpisahan antara konselor dan konseli

Fase IV:

Penyelesaian Masalah: Berisi penyebab masalah yang dihadapi Lexa, sikap dan pandangan yang perlu diubah serta sikap dan pandangan yang telah diubah atas keputusan subjek sendiri

Didapat gejala masalah yang dihadapi Lexa Wawancara konseling Evaluasi dan tindak lanjut Tabel 5

Proses Wawancara Konseling

1

Lampiran 1

Pertemuan ke dua

Ko : “Bisa kamu menceritakan tentang dirimu? Misalnya nama, usia?”

Ki : “Nama Alexandra Florentina Kartika Sari, usia 15 tahun, anak ke 9 dari 9 bersaudara, tempat tinggal gak tahu…kelas 3 SMP n hobby gitar, apalagi ya dengar radio, baca komik, terus emmm nama orang tua Yosep Petrus itu ayah kandungku, ibuku namanya Fransisca Febriani, makanan kesukaanku, apa aja deh yang penting enak aku bingung, minuman kesukaanku air putih dong pasti. Em.. terus apa lagi ya em…pendidikannya di SMP Negri 1 Badran, Badran Temanggung.”

Ko : “Ceritakan bagaimana suasana di panti asuhan?”

Ki : “Suasana di panti asuhan ada yang menyenangkan, yo ada yang dak menyenangkan, yang menyenangkan aku punya teman dari berbagai daerah. Kalau yang tidak menyenangkan, susah eh ngomongnya, yang suka nyakitin hatiku gitulah.”

Ko : “Ceritakan bagaimana suasana di sekolahmu, serta hubunganmu dengan teman-temanmu di sekolah?”

Ki : “Suasana di sekolahku baik-baik aja, aku ma temanku dah biasa main bersama enggak ada yang saling mengejek, emang sih dulu ada yang ngejek tapi aku anggap itu hal sepele lah enggak tak besar-besarin. teman-temanku di sekolah baik-baik saja sama aku teman-temanku fine-fine saja.” Teman-temanku tu pada pengertian mereka pada tahu “Kamu tu tinggal di asrama toh Lex”, aku kan ditanyain “Kamu tu tinggal di mana toh Lex, yo aku jawab aku tinggal anu di asrama, terus rumah asalmu di mana Temanggung, suka pulang enggak?” “Aku belum pernah pulang toh aku enggak tahu orang tuaku dimana, terus dari situ teman-temanku dekat ma aku, terus nanya lagi waktu aku kelas limaan, tadi kan aku baru pulang dari rumahnya Bude, aku baru diceritakan semuanya. Terus aku mudeng aku tahu asal usul orang tuaku yg sebenarnya, ayahku tu yang kandung dah meninggal, “Terus ibumu di mana?”, “Ibuku ada di Lampung, Sumatra, terus ayahku yang tiri ada di Kalimantan”, “Kok tega ninggalin kamu, terus kamu tinggal dengan siapa di sini?” “Aku di sini di asrama, kan aku dah bilang waktu itu waktu aku kelas empat”. “Oh” terus teman ku ingat, itu aku temanan sejak SD-SMP sampai sekarang gituloh, enggak tahu kenapa dia kalau mau jajan pasti manggil aku, “Alah.. gaya kamu tuh lapar dipaksa-paksain”, “jajan”, “loh aku enggak punya uang”, “tak jajai aku kok”. Aku wah terus-terusan gini yo enggak enak, kan temanku suka jajani aku, “Endak usah malu-malu Lex santai saja, enjoy, kan aku yang nawarin kamu” temanku bilang gitu. Terus aku Cuma cengar-cengir doang, ya itu senang kalau punya teman kayak itu, tapi aku enggak terus-terusan minta jajan, kalau aku lagi mood ya ok. Kalau aku di tawarin jajan, “Enggak eh…aku enggak enak enggak mau jajan”, “Ya udah mau jajan, jajan sendiri”, sampai sekarang masih sering jajani aku, enggak tahu kenapa.”

Ko : “Ceritakanlah bagaimana hubunganmu dengan pengasuhmu di panti asuhan?” Ki : “Terus hubunganku dengan pengasuh enggak terlalu deket sebab pengasuh tuh

suka adu domba ke suster. Apa em…aku ga jelek-jelekin pengasuh soalnya ini emang kenyataan, terus pengasuh jarang ada yang mau ngerti perasaan kita,

gitu mulut ember. Aku takut, maka aku gak mau cerita ke ibu pengasuh. Waktu aku kelas I SMP,,,eh kelas berapa ya waktu sama Ibu Elti. Kelas satu em…bukan..bukan kelas dua SMP aku di kelompok F ada ibu pengasuh baru Bu Yuyun, dia enggak kerasan karena dikucilkan akhirnya ia keluar. Karena dibilang yang enggak-enggak terus ganti Bu Elti orangnya baik banget, mulutnya ya enggak ember, dia mau membina yang benar, kalau orang bilang anak mu gini loh misalnya anakmu yang itu mencuri, “Bener enggak kamu mencuri? Gitu nanti kalau kita jawab “Enggak Bu” “Jujur?” “Iya kita jujur Bu”. Bu pengasuhnya lebih percaya pada anak dari pada omongan orang lain terus kalau ibu pengasuh yang itu, Bu Elti itu keluar karena ia jadi suster di Bantul apa Solo. Terus ibu yang ke tiga Bu Devi, ya Bu Devi, Bu Devi tu orangnya dari Ambon, emmm mana sih Medan pokoknya antara Medan sama Ambon emmm nah Bu Devi tu ibu baru. Emang pertama-tama ibu baru emang menjengkelkan ya, tapi setelah ia tanya baik-baik sama aku tak ajari dia tu langsung paham. “Eh…anak sini tu gimana?”, anak sini tu gimana gitu, “Terus tak ceritain “Anak sini tu yang A sifatnya kayak gini-gini yang B itu sifatnya gini-gini, gitu”, jadi Bu Devi itu mempelajari semuanya itu dengan baik-baik. Akhirnya ia berhasil bisa suka sama Bu Devi, jadi istilahnya anak-anak mau sama Bu Devi enggak ngerjain lagi. Dia tu dulunya mulutnya emang ember tapi sekarang dah enggak. Terus keluar dari sini dia sekarang kerja di SD pokoknya antara SD, SMP, atau SMA, kerja di situ. Emmm terus gitu pokoknya, apa lagi ya, Bu Yuyun keluar tahun eh…tahunnya masih 2005, padahal dia ibu pengasuh yang baik banget. Dia mau membantu, dia mau mempertahankan kelompok F walaupun kelompoknya dikucilkan, cuma emmm ada 4, 5 bulanan dia di sini. Ya itu keluar terus kalau Bu Elti keluar eh tahun …em…2006, trus Bu Devi keluarnya juga 2006. Ya itu sekarang ada yang gantiin Bu Devi ya itu Bu Wulan, Bu W u l a n emmm nyebalkan.“

Ko : “Siapa saja teman-temanmu?”

Ki : “Teman-teman ku yang da di PA atau di sekolah…emmm enak eh… wes wes… di sekolah ya, di sekolah teman ku laki-laki semua ada sih yang cewek, tu Tika kadang main sama aku kadang enggak, temanku Azhah, Adit ma Yuli, Yuli tu namanya sama kayak aku, aku lahir Juni dia Juli, tapi namanya beda… terus mereka semua mau ngertiin aku tapi Tika sih orangnya sedikit enggak dongan masih kekanak-kanakkan banget, jadi dia main sama yang kayak gitu, kalau sama aku kan orangnya biasa-biasa aja, aku kan orangnya gak terlalu norak. Kalau Tika lumayan norak, aku anggap dia lumayan norak, Tika sih dia pengertian sama aku pengertian, baik dan kadang kalau dia pengen jajanin aku “Lex mau jajan enggak? kamu kan enggak bawa uang jajan, ayo tak jajani” dia belikan makanan jajan. Emmm teman di PA ada dua, Siane sama Teddy tapi kalau Siane gak telalu deket karena dia masih kanak-kanak kalau Teddy dah lumayan dewasa tapi dia umurnya dah 15, wong tahun dia sama kayak aku tahun 91, akukan tahun 91 juga. Tapi dia September apa Desember gak tahu juga kalau aku kan Juni. di sini tu aku termasuk anak yang paling dikucilkan, emmmm belakangan aja deh soalnya aku baru gak mood nyeritainnya, emmm sekalian jaa, ok sekalian aja dari pada di

3

putus tar susah lagi, hubungan ku dengan anak-anak, aku enggak deket, lagi pula aku di sini tu cuma dianggap barang gak berharga, rongsokan gitu, emang sikapku masih kayak anak kecil namanya juga masih diumur segini masih kekanak-kanakkan gitu loh, aku kan belajar lebih dewasa gitu, gak tahu kenapa semua bilang aku masih anak kecil padahal aku dah usaha semaksimal mungkin, aku berusaha tapi aku butuh proses, aku gak bisa cek langsung berubah. Mulai dari sekarang aku berubah. Aku sih enggak banyak teman di PA, paling cuma satu atau dua yang suka sama aku gak tahu kenapa, masa bodoh emang aku pikirkan, aku dak bersyukur dapat teman satu, dua, tiga, maksudku dah cukup teman satu, dua, tiga aku dah cukup. Dari pada banyak-banyak cuma bisa nyakitin hatiku, sama ajakan?”

Ko : “Siapa sajakan teman dekat mu?”

Ki : “Terus siapa sajakah teman dekat ku? Teman dekatku yang paling deket banget siapa ya? Emmm Teddy, ya Teddy itu kalau di PA eemmm… kalau di sekolahan

Dalam dokumen PENERIMAAN DIRI REMAJA YANG MERASA TERBUANG (Halaman 102-156)

Dokumen terkait