• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran-Saran

Dalam dokumen SELIBAT DALAM GEREJA ROMA KATOLIK (Halaman 70-78)

BAB V PENUTUP

B. Saran-Saran

Setelah penulis mengambil sebagian dari ajaran agama Katolik khususnya yang berkaitan dengan selibat yang berasal dari berbagai literatur,

lxxi

maka disini penulis mencoba untuk memberikan saran atau masukan-masukan untuk bahan kajian studi agama yaitu:

1. Selibat para rohaniawan katolik merupakan sebuah perwujudan iman. dimana setiap orang yang menjalaninya memahami dan meyakini bahwa dengan selibat kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani kehidupan Kristus seutuhnya, maka penulis berharap agar para rohaniawan Katolik keseluruhan khususnya yang menjalani selibat dapat memahami dan menghayati makna dan tujuan dari pada hidup selibat itu sendiri.

2. Perlu adanya sosialisasi yang lebih umum mengenai kehidupan selibat dalam bentuk buku atau artikel yang lebih banyak lagi dan lebih membuka diri dalam bersosialisasi dengan masyarakat agama lain, agar lebih banyak di ketahui oleh seluruh masyarakat tentang kehidupan selibat itu sendiri.

3. Di harapkan kepada semua pemeluk agama dapat mengembangkan toleransi antar umat beragama, sehingga dapat hidup rukun dan damai, karena pada dasarnya semua agama termasuk Katolik intinya mengajarkan kebaikan, walaupun dengan tata cara yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Aguna, Philomena, Aku Memilih Engkau, Yogyakarta: Andi Offset, 1986.

Alkitab., Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1992.

Bakker, SVD A, Ajaran Iman Katolik 2. Yogyakarta: Kanisius, 1998.

Berkhof. Dr. H, dan Enklaar. Dr. I. H. Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1990.

Clark, Keith. Being Sexual..and Celibate. Michigan: Ave Maria Press. 1985. Darminta, S.I.J, Satu Hati dan Satu Jiwa, Yogyakarta: Kanisius. 1981.

Dokumen Gerejawi. Pastores Dabo Vobis (Gembala-gembala akan kuangkat

Bagimu). Jakarta: Depertemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1992.

Faryci. R.S.J, Karisma dan Hidup Membiara, Yogyakarta: Pusat Patoral, 1981. Gonsa Saur, “Selibat: Pilihan dan Konsekuensinya”. Artikel di akses tanggal 2

Januari 2008 dari

http://www.geocities.com/peace_and_all_good/art_selibat.htm.

Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995. Hardawiryano R. S Y, Selibat Iman, Yogyakarta: Pusat Pastoral, 1979. Harjawiyata. Fr. Panggilan Membiara dan Imamat. Yogyakarta, 1975. Hartono S. J. F, Hidup Membiara, Apostolos, Yogyakarta: Kanisius, 1988.

Hartono S. J. F, Hidup Murni Budaya Indonesia dan Tradisi Kitab Suci. Yogyakarta: Kanisius. 1987.

Haselears S. J. F, Persembahan Cintaku, Yogyakarta: Kanisius, 1981.

Heuken SJ. Ensiklopedi Gereja. Jilid I, II, III, IV, V. (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1995).

lxxiii

Jacobs, Tom, Hidup Membiara Makna dan Tantangan, Yogyakarta: Kanisius, 1986.

Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, 1988.

Kristiyanto. A. Eddy, Maria dalam Gereja, Yogyakarta: Kanisius, 1986. Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Yogyakarta: Kanisius. 1996. Koentjaraningrat, Metodologi Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia. 1981. Martos, Joseph. Permadian, Sakramen-sakramen Gereja. Jakarta: Obor, 1985. Mubarok, Ahmad, Perbandingan Agama Islam dan Kristen, Studi Tentang

Sakramen Gereja. Bandung: Pustaka. 1985.

Ridrich, Sr. Joyce. Kaul Harta Melimpah dalam Bejana Tanah Liat. Yogyakarta: Kanisius., 1987.

Romo William P Saunder. “Sejarah dan Spiritualitas Selibat”. Artikel di akses tanggal 2 januari 2008 dari http://yesaya.indocell.net/id.1038.htm.

Soenarja, A. Kisah Orang Membiara 1,2,3,4. Yogyakarta: Nusa Indah. 1984. Verkuyl, J, Etika Kristen. Jakarta, BPK Gunung Mulia. 1993.

HASIL WAWANCARA TENTANG SELIBAT DALAM GEREJA ROMA KATOLIK

1. T : Mohon anda jelaskan pengertian dari Selibat?

J : Selibat adalah tidak menikah atau status membujang, kadang-kadang dinamakan juga hidup wadat atau hidup lajang untuk mengikuti panggilan Yesus demi kerajaan Allah.

2. T : Menurut Anda apa yang menjadi sumber ajaran selibat?

J : Dalam ajaran Katholik, bahwa hidup selibat itu selain bersumber dari al-Kitab (Firman Allah) juga bersumber dari Kristus (Nabi Isa). Mereka menjalani kehidupan selibat adalah untuk meneladani Kristus, sebab Kristus tidak pernah menikah (dalam kedaan lajang) dalam hidupnya seperti tertera dalam kitab: “Hendaklah kamu menjadi kudus didalam

seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu kuduslah kamu sebab aku kudus” (Pet 1:15-16).

3. T. : Apa yang menjadi tujuan dan harapan anda dalam menjalani hidup selibat?

J : Hidup selibat harus menunjukkan secara istimewa bahwa kerajaan Allah mengatasi segala barang duniawi, dan hidup lajang harus menjadi tanda dari seluruh hidup kristiani. Selain demi kerajaan Allah selibat pun mempunyai tujuan untuk menyatu dengan Kristus, karena selibat merupakan salah satu cara meneladani Yesus Kristus. Dan selibat pun mempunyai tujuan sebagai pelayanan sejati atau pelayanan Illahi.

lxxv

4. T. : Apa arti Kaul dan Permandian dalam selibat?

J : Kaul adalah janji kebiaraan di mana seseorang secara sukarela menyerahkan seluruh hidupnya sebagai persembahan kepada Tuhan dalam kemiskinan, kemurnian dan ketaatan.

Kaul kemurnian adalah kaul di mana kaum religius secara bebas mengabdikan seluruh hidup mereka kepada Tuhan, bebas dari ikatan pernikahan dan hidup berkeluarga. “Orang yang tidak beristeri

memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya.” (1 Kor 7:32.

Kaul kemiskinan adalah kaul di mana kaum religius merelakan kepemilikan atas harta duniawi dan saling berbagi dalam segala sesuatu, agar mereka dapat menemukan “harta” mereka di surga. “Jikalau engkau

hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mat 19;21).

Kaul ketaatan adalah janji di mana kaum religius bersumpah setia untuk taat pada regula (peraturan) ordo atau kongregasi mereka dan taat pada para superior (pembesar biara) mereka yang merupakan wakil Tuhan bagi mereka. Mereka melakukan ini seturut teladan ketaatan Yesus pada kehendak Bapa-Nya. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang

mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yoh 4:34).

Sakramen pentahbisan dalam selibat seperti halnya sakramen pembaptisan pada umumnya yang meliputi permandian, untuk mensucikan diri menuju

kerajaan Allah. Pentahbisan lebih di khususkan bagi para biarawan atau uskup yang akan menjadi imam. sedangkan yang umum dalam selibat adalah permandian, karena permandian adalah dasar untuk menjadi seorang katolik yang beriman. Mandi dan air adalah lambang pembersihan dan kehidupan. Tanpa air tidak ada kehidupan di dunia ini, karena air adalah salah satu unsur penting dalam kehidupan.

6. T. : Bagaimana pengaruh selibat terhadap kehidupan rohaniawan?

J : Hidup selibat ini tentu saja tidak sembarangan, sebelumnya harus dilihat dulu oleh pimpinan apakah kira-kira mampu atau tidak untuk menjalani hidup selibat. Kemudian kalau di anggap ini ada kemungkinan untuk bisa melaksanakan hidup selibat itu harus mengucapkan dan melaksanakan tiga macam kaul. Kaul pertama, yaitu kaul ketaatan, harus taat pada pimpinan. Kaul kedua yaitu tidak boleh berkeluarga dan kaul ketiga yaitu tidak boleh mengumpulkan harta benda atau menjadi kaya, dengan kata lain harus hidup sederhana. Kalau kaul itu tidak bisa ditaati misalnya saja saya tidak taat kepada pimpinan dengan sendirinya harus bisa meletakan jabatan dan harus keluar dan hidup kaul itu harus di tinggalkan.

Dengan mengikrarkan kaul kemurnian atau keperawanan, orang tidak lagi memutlakkan cinta manusiawi, tetapi hal itu ditempatkan dalam rangka kerinduan untuk membina hubungan cinta kepada Allah. Dengan demikian kaul keperawanan merupakan askesis batin manusia dalam hal cara mencintai Allah secara absolut dan mencintai manusia seperti Allah sendiri mencintai. Jadi cinta manusiawi menjadi sarana untuk

lxxvii

mengungkapkan hubungan cinta dengan Allah. Cinta pada sesama menjadi pola penghayatan akan cinta kepada Allah. Sama-sama dihargai sebagai yang dicintai oleh Allah dan diperlakukan sebagai teman seperjalanan untuk menuju dan bersatu dengan Allah.

Dalam dokumen SELIBAT DALAM GEREJA ROMA KATOLIK (Halaman 70-78)

Dokumen terkait