BAB VI PENUTUP
B. Saran
Setelah melakukan penelitian pada Film Dokumenter VICE Indonesia Episode Polemik Poligami di Indonesia: Berbagi Surga tentang bagaimana semiotika propaganda pada film tersebut, maka peneliti memiliki beberapa saran dan masukan.
1. VICE diharapkan lebih seimbang dalam menghadirkan narasumber. Karena dari yang peneliti lihat terdapat penyudutan dalam statement oleh narasumber yang kontra terhadap poligami. Karena didalam adegan – adegannya cenderung menampilkan hal-hal berupa kebutuhan biologis dari alasan yang dihadirkan oleh pelaku poligami. Sehingga menciptakan stigma seolah poligami hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan hawa nafsu
2. Masyarakat diharapkan lebih awas terhadap pesan-pesan yang disampaikan baik tersirat ataupun tersurat yang terdapat pada adegan – adegannya. Dan kritis terhadap statement yang terinformasikan.
3. Kepada civitas akademika untuk lebih kritis terhadap penelitian mengenai film dikarenakan pesan – pesan yang
1 Hasil Wawancara dengan Produser film Dokumenter VICE Indonesia Episode Polemik Poligami di Indonesia : Berbagi Surga, Rizky Rahadianto pada Selasa, 13 Juli 2021 melalui Google Meet.
terdapat pada film bisa menjadi multitafsir dalam pemahaman bagi penontonnya.Dunia perfilman yang begitu massif perlu di kontrol dalam proses produksinya. Terlebih film dokumenter yang menghadirkan begitu banyak informasi dari hasil statement narasumber. Diperlukan penyampaian informasi yang berimbang dari narasumber-narasumber yang dihadirkan mauapun penyampaian narasinya.
88
DAFTAR PUSTAKA
Buku: Al-Qur’an
Nurudin. 2002. Komunikasi Propaganda. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Yanggo, Huzaemah Tahido. Hukum Keluarga Dalam Islam. Jakarta: Yayasan Masyrakat Indonesia Baru.
Mulia, Siti Musdah. 2004. Islam Menggugat Poligami. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Nurudin Amir, dan Azhari Akmal Tarigan, 2004. Hukum Perdata di Indonesia. Jakarta: Pernada Media.
Khasan, Moh. 2009. Rekonstruksi Fiqh Perempuan. Semarang: AKFI media.
Sanjaya, Umar Haris dan Aunur Rahim Faqih, 2017. Hukum Perkawinan Islam. Yogyakarta: Gama Media.
Shihab, M. Quraish, 2002. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol. 2. Tangerang: Lentera Hati. Soehartono, Irawan. 1995. Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik
Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Krisyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KENCANA PRENADAMEDIA Group.
Wibowo, Indiawan Seto Wahyu, 2011. Semiotika Komunikasi Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi, Jakarta: Mitra Wacana Media
Baran, Stanley J dkk. 2010. Teori Dasar Komunikasi Pergolakan Dan Masa Depan Massa. Jakarta: Salemba Humanika.
Heryanto, Gun Gun. 2018. Media Komunikasi Politik. Yogyakarta: IRCiSoD
Nimmo, Dan. 2011. Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Heryanto, Gun Gun, 2013. Komunikasi Politik Sebuah Pengantar. Bogor: Ghalia Indonesia.
Wibowo, Indiwan Seto Wahyu, 2013. Semiotika Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Tinarbuko Sumbo, 2009. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra.
Sobur, Alex. 2012. Analisis Teks Media, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sobur, Alex, 2003, Semiotika Komunikasi, Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.
Pratista, Himawan. Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.
Tamburaka, Apriandi. 2013. Literasi Media: Cerdas Bermedia Khalayak. Jakarta: Rajawali Pers.
Mahmudi, M. Alif. 2013. Propaganda Dalam Film (Analisis Teknik Propaganda Anti-Iran dalam Film Argo). Yogyakarta: Jurnal Komunikasi Profetik. Vol. 06, No.2 Magriyanti, Arie Atwa dan Rasminto, Hendri. Desember 2020.
“Film Dokumenter Sebagai Media Informasi Kompetensi Keahlian SMK Negeri 11 Semarang”. Jurnal Ilmiah Komputer Grafis. Vol. 13, No.2
Alkhajar, Eka Nada Shofa. dkk, Juni 2013. “Film Sebagai Propaganda di Indonesia”. Forum Ilmu Sosial. Vol.40, No.2,
Internet:
Admin. (2021, Juni 05), Propaganda Adalah. Jakarta: dosenpendidikan.com.
https://www.dosenpendidikan.co.id/propaganda-adalah/
Titania, Adisty. Video Pro Kontra Poligami: “Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang punya istri banyak”.
https://id.theasianparent.com/poligami-dalam-islam/amp
Admin. (2016, Mei 25). Heboh! Ajakan Belajar Berpoligami. Metropolitan.id. https://www.metropolitan.id/2016/05/heboh-ajakan-belajar-berpoligami/
Nashrullah, Nashih. (2019, Maret 04), Pro-Kontra Poligami, Menag: Hormati, Jangan Saling Salahkan. Yogyakarta: Republika.com. https://www.republika.co.id/berita/dunia- islam/islam-nusantara/pnugnm320/prokontra-poligami-menag-hormati-jangan-saling-salahkan.
Mar, Git. (2019 Maret 11), Poligami di Indonesia: Kritik Praketk atau Kritik Syari’at?. Medium.com.
https://medium.com/@gits/poligami-di-indonesia-kritik-praktek-atau-kritik-syariat-f46fa25e7dc3
Prayitno, Gita Putri R. (2018, Oktober 01), Poligami Pecah Belah ala VICE : Soroti Praktisi, Lalai Filosofi. Depok : Medium.com. https://medium.com/@gits/poligami-pecah-belah-ala-vice-soroti-praktisi-lalai-filosofi-dd357c4f0b59
Indonesia, VICE, 2018. Polemik Poligami di Indonesia: Berbagi Surga. https://www.youtube.com/watch?v=d3_hPhIX_Js
Indonesia, VICE. Tentang Indonesia Riot. Vice.com. https://video.vice.com/pt/show/indonesia-riot
Wawancara:
Wawancara dengan Rizky Rahadianto (Produser Film Dokumenter VICE Indonesia Episode Polemik Poligami di Indonesia : Berbagi Surga) pada 12 Juli 2021 Pukul 16:20 Melalui Google Meet.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1Transkrip Wawancara
Nama : Rizky Rahadianto Hari/Tanggal : Selasa, 13 Juli 2021 Waktu : 16:10 WIB
Tempat : Google Meet
Penulis : apa awal mula alasan pengangkatan tema poligami pada film dokumenter VICE ini?
Narasumber : alasannya karena harus bikin video. karena biasanya kita saat bikin video itu awalnya dari kegelisahan ya. Waktu kaya ada hubungannya gitu ya kaya ada hubungannya dengan 212 ada masanya di tahun 2016-2018 ada kaya gerakan baru yang menurut saya lebih fundamentalis dari segi penanaman agamanya atau fiqhnya, tapi yang menariknya gerakan 2016 -2018 itu sangat digital. Jadi saya inget banget baca kaya sebuah flyer yang intinya kaya seminar lah seminar kiat – kiat poligami yang gitu-gitulah pokonya. Jadi pokonya banyaklah jaman itu yang udah masuk ke instagram, yang saya bilang kaya kelompok-kelompok agamis fundamentalis. Nah kan menarik
banget tuh, jadi awalnya sih kaya pengen ngeliat gerakan ini ada di digital ya. Trus yang kedua kan kita harus nyari subyek, waktu itu tuh yang nyari tuh akhirnya asisten saya namanya eko, saya lupa dia waktu itu dapetnya gimana, intinya tuh kaya dia punya temen yang kenal sama kang riski nya. Soalnya kan yang namanya dokumenter kan kita tuh dapet subjek atau inspirasi itu g sengaja gitu loh, kaya spontan aja.
Penulis : Jadi apakah dalam pembuatan film vice itu sudah ada subjek buat narasumber baru di eksekusi ke dalam video dokumenter?
Narasumber : Yes betul, engga sih sebenernya kita punya topik topik memang diprioritaskan oleh vice lah ya kaya yang kamu taulah kaya tentang anak muda, identitas, agama. Tapi kan gak mungkin kan kalau kita gak punya akses kan? Jadi kaya ketika kita ngepitch sesuatu tuh kita kaya harus tau kita punya akses ke cerita tersebut, jadi percuma kalau kita punya ide yang bagus tapi kita ngga punya akses. Yang bikin kenapa waktu itu memaksa harus dibikin walaupun ini kontroversial atau riski, karena riski sendiri dia tau yang dia lakukan itu dia percaya benar, dan yang sebenarnya yang
mempropagandakannya pun dia, dia mau nunjukin kalau dia itu benar dan dia itu tau vice itu apa dan itu saya seneng banget karena saya ga harus jelasin gitu, kalau vice ini posisinya dimana karena, yaa pasti lah kalau dia nonton vice tau lah gimana. Dan itu relationship atau gaya kerja yang wajib sih dalam pembuatan dokumenter dimana subjeknya itu sama sama tau kita mau bikin apa, jadi bisa dibilang kolaborasi. Karena dia yang ngasih akses kita ke berbagai hal, ngga Cuma ke keluarganya dia tapi juga ke seminar seminar poligami, itu kan kalau g ada dia kita g bisa kemana mana Untuk hasil akhir itu tetap ada di kita mau kearah mana emphasisnya, gagasan awalnya kita ingin mengerti orang di gerakan itu berfikir gitu loh, jujur ada hal yang saya bahkan sampe dapat pembelajaran dari situ sehingga mengerti apasih yang dia pengen sebarkan. Terus dengan adanya itu kita mau lihat bagaimana riski menyebarkan pahamnya lewat online. Ternyata setelah beberapa lama proyeknya berkembang. Seperti yang kamu tau lah, saya sebenernya ga tau juga vice itu propagandis atau bukan tapi yang saya tau adalah pembelajaran jurnalisme idi Indonesia itu bias, kaya missal kita belajar di sekolah tuh “ oh kita kalau memberitakan
sesuatu itu harus objektif gitu” sedangkan kalau di redaksi kita atau beberapa media yang agak kiri lainnya. Saya tidak mengatakan vice kiri ya tapi agak liberal lah. Saya percaya yang namanya objektif itu mustahil, pasti ada subjektifitas. Dan sebenernya buat jurnalis itu agar berada disisi yang dimarjinalkan. Dalam artian kalau missal kita hanya memasukkan perspektifnya kang riski, itu adalah sebuah perspektif yang sudah dominan di masyarakat. Nah saya mikirnya apa yang bisa dilakukan oleh jurnalis justru bukan melawan itu, tapi menyajikan perspektif lain yang tidak pernah ditayangkan. Kalau dari sisi dokumenter ini sendiri sih lebih ke perempuan perempuan yang pernah jadi korban poligami. Jadi kita mau kasih counter naratif gitu dengan menampilkan dari ibu yang menjadi korban poligami dan ustadzah yang memang punya perspektif lain terhadap poligami.
Penulis : Terdapat artikel yang menyatakan ketidak sesuaian atas wawancara narasumber yang dikatakan kang riski, bagaimana tanggapan pihak vice terkait pernyataan tersebut?
Narasumber : Jadi setelah video keluar, kang riski bikin video pernyataan dan pembelaan bahwasannya ada
beberapa hal yang tidak disampaikan dengan akurat. Kalau dari perspektif saya itu hak dia untuk berbicara seperti itu. Kalau saya liat dia sih banyak yang bisa dibantah atas pernyataannya dia itu kaya “kenapa yang dimasiukkan yang ini, bukan yang itu” itu kan sebenernya dia sudah menandatangani release yang dimana intinya kalau apapun yang dikatakan dia itu bisa dipublish, tapi karena saya sendiri yang ngedit videonya saya seperti. Saya bisa memasukkan mana yang saya mau, tapi saya memasukkan hal hal yang memang menarik aja, dari wawancara yang berlangsung selama 3 jam tidak mungkin saya masukkan semua dong, dang w pikir saya tidak menyudut kemana mana, saya hanya menjabarkan fakta yang memang saya dapat.
Lampiran 2 Dokumentasi
Wawancara dengan Rizky Rahadianto selaku produser film dokumenter VICE Indonesia Episode Polemik Poligami di Indonesia : Berbagi Surga