• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyarankan agar kajian tentang praanggapan lebih ditingkatkan lagi, khususnya dalam iklan selain dari iklan operator seluler di televisi karena bahasa dalam iklan sangat menarik untuk diteliti. Selain itu, kajian mengenai pragmatik perlu ditingkatkan lagi khususnya dalam semua bentuk iklan yang berasal dari media massa. Iklan tersebut dapat berupa iklan dari media lain, seperti radio, majalah, dan koran untuk mendeskripsikan berbagai macam praanggapan yang mungkin dapat berbeda dari penelitian ini.

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep

Konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal- hal lain ( Alwi, 2007: 558).

2.1.1 Praanggapan

Nababan (dalam http://anshorik.wordpress.com) memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai makna. Dari definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Lebih jelas lagi praanggapan yaitu sesuatu yang tidak dinyatakan tetapi sudah dipahami oleh pembaca/pendengar. Jadi dapat disimpulkan bahwa praanggapan merupakan anggapan awal yang secara tersirat dimiliki oleh sebuah ungkapan kebahasaan sebagai bentuk respon awal pendengar dalam menghadapi ungkapan kebahasaan tersebut.

2.1.2 Iklan

Iklan adalah berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan ; pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau di tempat umum (KBBI, 2007:421)

Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi. Dalam penyampaiannya, ada iklan yang diucapkan secara lisan, seperti melalui radio dan televisi. Ada juga yang muncul

dalam tulisan, seperti dalam surat kabar, majalah, dan papan reklame. Iklan berisi suatu pemberitahuan yang disiarkan kepada masyarakat agar pembacanya tertarik pada isi pemberitahuan tersebut (Arifin, 1992:1).

Salah satu bentuk komunikasi dalam penyampaiannya secara lisan adalah iklan televisi. Iklan televisi menjadi pencipta dunia imajinasi dan telah menjadi media yang ampuh bagi suatu perusahaan dalam mempromosikan produk. Dalam memasang iklan di televisi perusahaan dituntut untuk memperhatikan aspek informatif dari iklan tersebut. Hal ini disebabkan aspek tersebut merupakan salah satu aspek penting yang akan menentukan keefektifan suatu iklan televisi.

Di Indonesia pada masa perkembangannya, bentuk iklan bersandar pada bahasa verbal yang tertulis dan tercetak. Kekuatan utama iklan terletak pada bahasa, gambar, serta penggarapan kreatif tata letaknya. Setiap pengiklan selalu menginginkan agar produk yang dipromosikan laku. Sebab efek langsung dan cepat terhadap penjualan menjadi salah satu ukuran keberhasilan iklan. Dalam rangka memenuhi maksud tersebut, maka di dalam memproduksikan sebuah iklan, bahasa dan gambar atau ilustrasi hendaknya dibuat secara cermat. Karena pada dasarnya iklan berperan penting dan sangat mempengaruhi proses pemasaran dan hasil penjualan suatu produk. Kunci kesuksesan sebuah iklan terletak pada kreativitas orang-orang yang terlibat dalam proses pembuatannya.

2.1.3 Operator Seluler

Operator adalah orang yang bertugas menjaga, melayani, dan menjalankan suatu peralatan, mesin, telepon, radio, dsb (KBBI, 2007:800), sedangkan seluler adalah dibagi di

sel-sel atau bilik-bilik (KBBI, 2007: 1023). Dalam

http://namlsession.wordpress.com/tag/operator/ dijelaskan bahwa operator seluler adalah pihak penyelenggara jaringan dan layanan telepon seluler.

Bahasa yang memikat dengan pilihan kata yang kreatif selalu dimanfaatkan oleh perusahaan operator seluler dalam menjaring pengguna layanan kartu seluler. Artinya, ada makna yang terkandung dalam setiap bahasa yang disampaikan dalam slogan operator seluler tersebut sehingga setiap pilihan kata yang dipakai oleh perusahaan penyedia jasa operator seluler, memiliki makna yang ingin disampaikan dan mencerminkan karakter dari setiap perusahaan jasa operator seluler. Oleh sebab itu, dengan semakin beragamnya operator seluler yang ada di Indonesia menimbulkan persaingan guna mendapatkan hati penggunanya.

2.1.4 Televisi

Televisi adalah sistem penyiaran gambar yang disertai denga bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar (KBBI, 2007: 1162).

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Pragmatik

Pragmatik merupakan bagian dari ilmu semiotika yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf yang bernama Morris. Pragmatik sebagai bidang linguistik berusaha mengungkapkan kaidah-kaidah yang ada dalam pertuturan, hubungan antara tuturan dengan konteks, makna yang timbul sebagai akibat dari perhubungan antara tuturan dengan konteksnya (Siregar 1999:5). Kridalaksana (1984: 159) menyebutkan pragmatik adalah syarat- syarat yang mengakibatkan serasi- tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Pragmatik berkaitan dengan penggunaan bahasa,

yaitu bagaimana bahasa digunakan oleh penutur bahasa di dalam situasi interaksi yang sebenarnya.

Pragmatik berkaitan dengan penggunaan bahasa, yaitu bagaimana bahasa digunakan oleh penutur bahasa di dalam situasiinteraksi yang sebenarnya. Pragmatik berkaitan dengan bagaimana masyarakat bahasa menggunakan bahasa mereka dan bagaimana percakapan diungkapkan di dalam suatu peristiwa tutur, yakni apakah secara langsung atau tidak, strategi bertutur mana yang dipilih, apakah maksud penutur disampaikan secara tersurat atau tersirat.

Leech (2003:322) menyatakan bahwa pragmatik merupakan studi yang membahas bahasa dan hubungannya dengan konteks pemakainya dimana pragmatik menelaah makna dan pesan sebuah kalimat menurut tafsiran pendengar sebagaimana yang dimaksudkan oleh pembicara.

Untuk dapat mewujudkan gagasan, ide, dan pemikiran terhadap suatu tulisan diperlukan bahasa. Bahasa yag digunakan sangat berperan penting untuk menyampaikan pesan yang terdapat di dalam suatu tulisan. Pesan yang ada dalam suatu bahasa harus dapat tersampaikan meskipun harus menggunakan bahasa yang sulit dimengerti.

2.2.2 Praanggapan

Praanggapan (presupposisi) berasal dari kata to presuppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand yaitu menduga sebelumnya. Sebelum penutur atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya bahwa lawan tutur atau pembaca akan memahami apa yang diujarkannya/dibicarakannya (Hersetiyanto, 2010). Praanggapan merupakan analisis tentang bagaimana asumsi-asumsi penutur diungkapkan secara khusus, dan praanggapan itu sudah diasosiasikan dengan pemakaian sejumlah besar kata, frasa, dan struktur. Praanggapan, sebagai salah satu bagian dari

pragmatik sangat menarik untuk diteliti. Melalui praanggapan pula, dapat diketahui komunikasi dapat berjalan sesuai dengan tujuan atau tidak, karena penutur berharap lawan tuturnya mengetahui praanggapan yang dimaksud penutur.

Nababan (dalam Hertina 2012:12), memberikan pengertian praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. Suyono (1990: 60) menyatakan bahwa praanggapan dapat membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.

Perhatikan contoh berikut:

Wanita itu membeli setangkai bunga mawar. terdapat praanggapan bahwa:

1) Ada seorang wanita, dan 2) Ada setangkai bunga.

Jika kedua praanggapan itu diterima, maka kalimat tersebut mempunyai makna atau dapat dimengerti pendengar/pembaca.

Selain itu, Yule (1996: 46) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yule menambahkan pula beberapa pembahasan tentang konsep, presuposisi dibicarakan sebagai hubungan antara dua proposisi. Di dalam analisis wacana, praanggapan memegang peranan penting di dalam menetapkan keruntutan (koherensi) wacana.

Dengan demikian, praanggapan (presuposisi) adalah dugaan atau anggapan tentang orang lain atau sesuatu hal, yang sudah dimiliki seseorang sebelum ia mengutarakan suatu ujaran. Maksudnya kalau ada suatu pernyataan, maka selalu ada praanggapan (presuposisi) bahwa kalimat yang dipakai baik secara sederhana maupun majemuk mempunyai suatu rujukan (keterangan lanjutan). Jadi, praanggapan dapat diartikan sebagai suatu bentuk penggunaan bahasa pemahaman dalam suatu proses penggunaan bahasa.

2.2.3 Unsur Pemahaman Praanggapan

Yule (1996) menyebutkan adanya unsur-unsur penting yang mendukung pemahaman praanggapan yaitu, pengetahuan bersama, partisipan, dan konteks situasi sehingga dengan adanya unsur pemahaman praaggapan ini dapat diketahui makna dari sebuah ungkapan atau tuturan.

1. Pengetahuan Bersama

Salah satu unsur yang membangun munculnya praanggapan adalah pengetahuan bersama yang dimiliki oleh partisipan dan juga peneliti dalam memahami tuturan.

Pengetahuan bersama digunakan sebagai struktur yang membangun interpretasi yang tidak muncul dalam teks atau tuturan. Untuk menyampaikan pesan yang sesuai dengan tujuan penutur, pengetahuan bersama berfungsi untuk menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Fungsi struktural ini berguna untuk melihat pola dalam tuturan sehingga pemahaman yang didapat sesuai dengan yang diinginkan penutur (Yule, 1996:85).

Untuk menyampaikan pesan yang sesuai dengan tujuan penutur, pengetahuan bersama menjadi sangat penting terutama untuk menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Perhatikan contoh berikut ini:

Praanggapan yang terdapat pada tuturan diatas adalah (a) Presiden bersimpati pada korban banjir.

Untuk memahami tuturan di atas diperlukan pengetahuan bersama bahwa SBY adalah nama presiden Indonesia yang merupakan akronim dari Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga maksud dari tuturan di atas tepat maknanya.

2. Partisipan

Partisipan dapat diidentifikasi melalui ekspresi yang digunakan dalam tuturan. Hubungan yang dimiliki antara nama atau sebutan yang sesuai dengan objek yang dibicarakan menunjukkan kaitan partisipan dengan tuturan. Dengan adanya penyebutan tertentu oleh atau untuk partisipan, asumsi yang didapat dari sebuah tuturan jadi berbeda dan memiliki ciri khas satu sama lain (Yule, 1996:19-21). Perhatikan contoh berikut ini: 2. Yang Mulia Ratu Elisabeth, saya telah memasuki istana

Penggunaan kata yang Mulia pada sebuah tuturan yang terjadi dalam sebuah istana atau kerajaan menunjukkan adanya praanggapan, yaitu partisipannya adalah keluarga kerajaan atau bersinggungan dengan keluarga kerajaan. Partisipan menjadi sangat penting dalam sebuah tuturan karena dapat memberikan informasi tambahan mengenai tuturan dan membedakan konteks yang terjadi dalam tuturan tersebut.

3. Konteks Situasi

Konteks situasi merupakan bagian dari situasi dalam kajian linguistik yang mengacu pada penggunaan ungkapan dalam tuturan. Konteks dipercaya memiliki dampak yang lebih besar terhadap tuturan karena lebih mudah dipahami. Untuk mendukung suatu analisis, dibutuhkan konteks dari situasi yang dapat membantu partisipan memaknai suatu tuturan (Yule 1996:22). Perhatikan contoh berikut ini:

3. Pintu teater tiga telah dibuka, kepada penonton yang telah memiliki karcis harap segera masuk teater.

Praangapan yang terkandung pada tuturan di atas antara lain: (a) Tuturan terjadi di gedung pertunjukan

(b) Tuturan terjadi di bioskop

Praanggapan tersebut muncul dari tuturan yang dipahami konteks lokasi terjadinya. Adanya penggunaan kata teater, penonton, dan karcis menentukan konteks situasi terjadinya tuturan tersebut.

Berdasarkan uraian yang disampaikan Yule di atas, dapat dilihat bagaimana kemunculan pemahaman praanggapan dari sebuah tuturan. Tiap tuturan dalam iklan sangat mungkin memiliki unsur pemahaman praanggapan. Unsur pemahaman praanggapan tersebut disesuaikan dengan analisis praanggapan dalam iklan operator seluler.

2.2.4 Jenis Praanggapan

Yule (1996:46) mengklasifikasikan praanggapan kedalam 6 jenis praanggapan yaitu praanggapan eksistensial, praanggapan faktif, praanggapan non-faktif, praanggapan leksikal, praanggapan struktural, dan praanggapan bertentangan (berlawanan).

1. Praanggapan eksistensial

Praanggapan eksistensial adalah praanggapan yang menunjukkan eksistensi/keberadaan/jati diri referen yang diungkapkan dengan kata yang definit/pasti. Sehingga dengan menggunakan ungkapan-ungkapan apapun, penutur diasumisikan terlibat dalam keberadaan entitas-entitas yang disebutkan.

(4) Orang itu berlari

Praanggapan: ada orang berlari

Eksistensi praanggapan tersebut adalah menyatakan ada seseorang yang berlari.

2. Praanggapan faktif (nyata)

Informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja, dapat dianggap sebagai suatu kenyataan. Praanggapan ini muncul dari informasi yang ingin disampaikan dengan kata-kata yang menunjukkan suatu fakta atau berita yang diyakini keberadaannya.

(5) Dia tidak menyadari bahwa tangannya terluka. Praanggapan: tangannya terluka

Pernyataan itu menjadi faktual karena telah disebutkan dalam tuturan. Penggunaan kata menyadari menyatakan sebuah fakta dari tuturan tersebut.

(6) Kami menyesal pergi ke tempat itu. Praanggapan: kami pergi ke tempat itu

Pernyataan itu menjadi faktual karena telah disebutkan dalam tuturan. Penggunaan kata menyesali menyatakan sebuah fakta dari tuturan tersebut.

3. Praanggapan nonfaktif

Praanggapan nonfaktif adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar. Praanggapan ini masih memungkinkan adanya pemahaman yang salah karena penggunaan kata-kata yang tidak pasti atau ambigu.

(7) Saya bermimpi bahwa saya telah menikah. Praanggapan: saya belum menikah

Penggunaan kata bermimpi sebagai pengandaian bisa memunculkan praanggapan non-faktif. Selain itu praanggapan yang tidak faktual bisa diasumsikan melalui tuturan yang kebenarannya masih diragukan dari fakta yang disampaikan.

(8) Kami membayangkan berada di Bali. Praanggapan: kami tidak berada di Bali.

Penggunaan membayangkan sebagai pengandaian bisa memunculkan praanggapan nonfaktif. Selain itu praanggapan yang tidak faktual bisa diasumsikan melalui tuturan yang kebenarannya masih diragukan dari fakta yang disampaikan.

4. Praanggapan leksikal

Praanggapan leksikal merupakan praanggapan yang didapat melalui tuturan yang diinterpretasikan melalui penegasan dalam tuturan. Tuturan dalam praanggapan leksikal dinyatakan dengan cara tersirat sehingga penegasan praanggapan tuturan tersebut diperoleh setelah pernyataan tuturan tersebut. Dalam praanggapan leksikal, pemakaian suatu makna yang dinyatakan secara konvensional dapat juga ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain yang tidak dinyatakan dapat dipahami.

Ketika seseorang “melaksanakan” untuk melakukan sesuatu, makna yang ditegaskan adalah orang itu akan berhasil dalam beberapa hal. Jika seseorang “tidak melaksanakan”, maka makna yang ditegaskan adalah orang itu tidak berhasil. Tetapi di dalam kedua kasus tersebut terdapat praanggapan yang tidak dinyatakan bahwa seseorang itu “mencoba” untuk melakukan sesuatu. Jadi, “melaksanakan” secara konvensional ditafsirkan sebagai pernyataan “yang diberhasilkan” dan praanggapan “yang dicoba/diusahakan”.

(9) Dia berhenti merokok.

Praanggapan: dulu dia biasa merokok

Praanggapan tersebut muncul dengan adanya penggunaan kata berhenti bahwa sebelumnya dia biasa merokok namun sekarang sudah berhenti.

(10) Mereka mulai mengeluh.

Praanggapan tersebut muncul dengan adanya penggunaan kata mulai bahwa sebelumnya tidak mengeluh namun sekarang mengeluh.

5. Praanggapan struktural

Praanggapan struktural ini dinyatakan melalui tuturan yang strukturnya jelas dan langsung dipahami tanpa melihat kata-kata yang digunakan.

(11) Siapa yang membawa mobil itu?

Praanggapan: ada orang yang membawa mobil

Praanggapan yang menyatakan ada orang sebagai objek yang dibicarakan dan dipahami oleh penutur, diketahui melalui struktur kalimat tanya yang menanyakan siapa.

(12) Siapa yang membuka jendela?

Praanggapan: ada seseorang yang membuka jendela

Praanggapan yang menyatakan seseorang sebagai objek yang dibicarakan dan dipahami oleh penutur, diketahui melalui struktur kalimat tanya yang menanyakan siapa.

6. Praanggapan konterfaktual (berlawanan)

Praanggapan konterfaktual (berlawanan) berarti bahwa yang di praanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan.

(13) Andaikan saya artis, saya akan terkenal dimana- mana. Praanggapan: saya bukan artis

Praanggapan tersebut muncul dari kontradiksi kalimat dengan adanya penggunaan kata andaikan. Penggunaan andaikan membuat praanggapan yang kontradiktif dari tuturan yang disampaikan.

2.3 Tinjauan Pustaka

Berdasarkan tinjauan pustaka yang ada, maka ada sejumlah sumber yang dijadikan sebagai bahan refrensi, adapun sumber- sumber tersebut adalah sebagai berikut:

Paramytha (2009) dalam skripsinya yang berjudul “Praanggapan dalam Film Janji Joni”. Penelitian ini membahas tentang praanggapan yang ada dalam tuturan adegan film Janji Joni. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan praanggapan- praanggapan yang ada dalam adegan film Janji Joni dan mengklasifikasikan jenis praanggapan tersebut.

Banjarnahor (2009) dalam skripsinya yang berjudul “Makna Slogan pada Telepon Seluler Sony Ericsson”. Penelitian ini membahas tentang makna-makna yang terdapat dalam slogan telepon seluler Sony Ericsson. Makna-makna yang ditemukan adalah makna denotasi dan makna konotasi pada 20 slogan telepon seluler Sony Ericsson seri W (Walkman).

Ambarita (2012) dalam skripsinya yang berjudul “Praanggapan dalam Bahasa Karikatur Harian Kompas (Kajian Pragmatik)”. Penelitian ini membahas mengenai tujuan dari pembuatan karikatur, bagaimana gambaran praanggapannya, pesan yang muncul dari karikatur, dan praanggapan mana yang paling dominan dalam harian Kompas edisi Mei 2011.

Namun penelitian dengan kajian praanggapan dalam slogan iklan operator seluler belum pernah dilakukan. Tinjauan pustaka di atas dapat menjadi suatu acuan untuk memperkuat penelitian ini.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah

1.1.1 Latar Belakang

Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions). Penerapan pragmatik dalam kehidupan sehari-hari dapat diketahui dengan menganalisis bentuk-bentuk penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulisan yang berwujud tuturan.

Bahasa merupakan alat pertukaran informasi, namun kadang kala informasi yang dituturkan oleh komunikator memiliki maksud tertentu. Oleh karena itu setiap manusia harus dapat memahami maksud dan makna tuturan yang diucapkan oleh lawan tuturnya. Dalam hal ini tidak hanya sekedar mengerti apa yang telah diujarkan oleh si penutur tetapi juga konteks yang digunakan dalam ujaran tersebut. Kegiatan semacam ini dapat dianalisis dan dipelajari dengan pragmatik. Levinson (dalam Siregar, 1999:23) mengungkapkan pragmatik adalah penelitian di dalam bidang deiksis, implikatur, praanggapan, pertuturan (tindak ujaran), dan struktur wacana. Dalam hal ini, peneliti akan membahas mengenai salah satu bidang pragmatik tersebut yaitu mengenai praanggapan.

Yule (1996: 46) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yule juga membagi praanggapan itu menjadi 6 jenis praanggapan yaitu praanggapan eksistensial, praanggapan faktif, praanggapan non faktif, praanggapan leksikal,

praanggapan struktural, dan praanggapan berlawanan atau bertentangan. Praanggapan merupakan bagian dari ilmu pragmatik yang artinya adalah makna atau informasi tambahan yang terdapat dalam ujaran yang digunakan secara tersirat. Praanggapan membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa atau kalimat untuk mengungkapkan makna atau pesan yang ingin disampaikan. Yule juga mengungkapkan bahwa praanggapan adalah apa yang diucapkan penutur pada saat berkomunikasi sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan. Asumsi tersebut ditentukan batas-batasannya berdasarkan anggapan-anggapan pembicara mengenai apa yang kemungkinan akan diterima oleh lawan bicara. Perhatikan contoh di bawah ini:

A: Bagaimana kalau kita mengundang Jhon malam ini?

B: Wah! Ide yang bagus, ia dapat memberikan tumpangan kepada Monica

Praanggapan yang terdapat dalam percakapan di atas antara lain adalah (1) Bahwa A dan B kenal dengan John dan Monica, (2) bahwa John memiliki kendaraan dan kemungkinan besar mobil, dan (3) bahwa Monica tidak memiliki kendaraan saat ini. Dari contoh di atas dipahami bahwa apabila suatu kalimat diucapkan, selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu, turut tersertakan pula tambahan makna, yang tidak dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu. Jadi, di dalam ujaran tersebut selain mendapat makna “asal” yang tersirat dalam ujaran itu, terdapat juga makna lain yang hanya dapat dipahami secara tersirat. Memahami makna yang tersirat ini sangat penting untuk dapat memahami keseluruhan makna yang ada dalam suatu tuturan (Chaer 58: 2007).

Praanggapan dapat terjadi pada setiap bentuk ujaran/tuturan dalam komunikasi baik dalam komunikasi langsung ataupun tidak langsung. Dalam hal ini, peneliti akan membahas praanggapan dalam tuturan iklan karena pada dasarnya tuturan dalam iklan

sangat menarik dan mengandung makna yang tersirat dalam penyampaiannya kepada masyarakat.

Pada umumnya iklan tak lepas dari penggunaan bahasa agar pesan dapat diterima dengan baik. Bahasa iklan adalah ragam tulisan yang menarik sehingga setiap orang tertarik untuk membaca/mendengar iklan itu. Semakin memikat bahasa yang digunakan dalam setiap iklan yang diterbitkan, semakin tertariklah masyarakat untuk menggunakan atau mencoba iklan tersebut. Masalah kebahasaan di dalam iklan itu merupakan hal yang menarik untuk ditelaah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa pada bahasalah letak keberhasilan sebuah iklan. Penggunaan bahasa iklan menjadi salah satu aspek penting bagi keberhasilan iklan. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi masyarakat agar tertarik dengan sesuatu yang diiklankan.

Penggunaan bahasa dalam iklan membuat iklan dapat digolongkan dalam wacana. Sebagai wacana, iklan memiliki keutuhan makna sehingga wacana iklan dapat dianalisis secara kebahasaan. Wacana iklan menarik untuk diteliti karena iklan dapat mengubah perilaku calon konsumen yang awalnya tidak berniat membaca atau mendengarkan sebuah iklan menjadi tertarik untuk menyimak suatu iklan. Bahkan calon konsumen dapat terpengaruh untuk menggunakan produk yang diiklankan.

Salah satu iklan yang menggunakan bahasa menarik adalah iklan operator seluler dan cara perusahaan operator seluler untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat adalah melalui iklan, karena dengan melalui iklan masyarakat atau publik akan lebih cepat mengenal produk yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan. Biasanya, iklan operator seluler tersebut sering ditampilkan melalui televisi, karena televisi merupakan sarana media komunikasi yang sangat cocok dalam memperkenalkan iklan tersebut kepada masyarakat. Melalui televisi, masyarakat akan lebih mudah melihat dan mendengar

bagaimana bahasa iklan itu disampaikan sehingga mereka akan lebih puas untuk

Dokumen terkait