BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
diri menjadi keras, menimbulkan perkapuran. Sarang dini yang meluas sebagai granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat di sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis menjadi lembek membentuk jaringan tipis, lama-lama dindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar sehingga menjadi kavitas sklerotik (kronik). Terjadinya perkejuan dan kavitas adalah akibat hidrolisis protein lipid dan asam nukleat oleh enzim yang d iproduksi oleh makrofag, dan proses yang berlebihan sitokin dengan TNF-nya. Bentuk perkejuan lain yang jarang adalah
cryptic disseminate TB yang terjad i pada imunodefisiensi
dan usia lanjut (Amin, 2006). Kavitas dapat mengalam i: (1) Meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonia
baru. Bila isi kavitas masuk ke dalam pembuluh darah arteri maka akan terjadi TB m illier.
(2) Memadat dan membungkus diri sehingga menjadi tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh atau dapat aktif kembali menjadi cair dan menjadi kavitas lagi. Komplikasi kronik kavitas adalah kolonisasi oleh jamur (contohnya Aspergillus) sehingga membentuk misetoma.
(3) Menyembuh dan bersih. Kadang berakhir sebagai kavitas yang terbungkus, menciut dan berbentuk sebagai bintang (stellate shape).
Secara keseluruhan terdapat 3 macam sarang:
(a) Sarang yang sudah sembuh (tidak perlu pengobatan). (b) Sarang aktif eksudatif (perlu pengobatan lengkap dan
sempurna).
(c) Sarang yang berada antara aktif dan sembuh. Sarang ini dapat sembuh spontan, tapi mengingat risiko terjadi eksaserbasi, maka sebaiknya diberikan pengobatan sempurna.
d. Gejala
Gejala klinik TB dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu gejala lokal dan gejala sistem ik, bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratorik (PDPI, 2002).
1) Gejala respiratorik
a) Batuk 2-3 minggu b) Batuk darah
Batuk terjadi karena ada iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang keluar produk-produk radang. Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang dalam paru yakni setelah berm inggu-minggu
atau berbulan-bulan sejak awal peradangan (Herryanto, 2004).
Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas, tapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus (Amin, 2006).
Gejala TB yang sangat umum ialah batuk produktif yang tak henti-henti dan terkadang batuk disertai darah (hemoptisis), seringkali disertai gejala sistemik seperti demam, keringat malam dan penurunan badan. Batuk selama 2-3 minggu tidak spesifik, namun batuk yang berlangsung selama itu secara tradisional digunakan sebagai kriteria dugaan TB (TBCTA, 2009).
c) Sesak napas
Jika sakit masih ringan, sesak napas masih belum dirasakan. Sesak napas ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru (Amin, 2006).
d) Nyeri dada
Hal ini jarang ditemukan. Nyeri dada dapat timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik atau melepaskan napasnya (Amin, 2006).
2) Gejala sistemik
a) Demam
Biasanya subfebril seperti demam influenza, tapi kadang panas badan dapat mencapai 40-41oC. Serangan demam pertama dapat sembuh sementara tapi kemudian dapat timbul kembali. Hal ini terjadi terus-menerus sehingga pasien merasa tidak pernah bebas dari serangan demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi
Mycobacterium Tuberculosis yang masuk (Amin, 2006).
b) Malaise
Gejala malaise yang sering ditemukan adalah berupa anoreksia (tidak ada nafsu makan), badan semakin kurus, berat badan menurun, sakit kepala, meriang, nyeri otot dan keringat malam. Gejala ini semakin lama semakin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.
3) Gejala TB ekstra paru
Tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas dan kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan (PDPI, 2002).
e. Penemuan pasien TB
Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis, penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Suspek TB sendiri pengertiannya adalah setiap orang yang datang dengan gejala atau tanda TB. Penemuan pasien merupakan langkah
pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat.
Strategi penemuan
1) Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB.
2) Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB, terutama mereka yang BTA positif dan pada keluarga, anak yang menderita TB yang menunjukkan gejala sama harus diperiksa dahaknya. 3) Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah, dianggap tidak
cost efektif (Depkes RI, 2007).
f. Diagnosis
Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu Sewaktu - Pagi - Sewaktu (SPS).
S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang
berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.
P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua,
segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di Unit Pelayanan Kesehatan (UPK).
S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat
menyerahkan dahak pagi.
Peran biakan dan identifikasi M.tuberculosis pada penanggulangan TB khususnya untuk mengetahui apakah pasien
yang bersangkutan masih peka terhadap OAT yang digunakan. Selama fasilitas memungkinkan, biakan dan identifikasi kuman serta bila dibutuhkan tes resistensi dapat dimanfaatkan dalam beberapa situasi:
1) Pasien TB yang masuk dalam tipe pasien kronis 2) Pasien TB ekstraparu dan pasien TB anak
3) Petugas kesehatan yang menangani pasien dengan kekebalan ganda.
Tes resistensi tersebut hanya dapat dilakukan di laboratorium yang mampu melaksanakan biakan, identifikasi kuman serta tes resistensi sesuai standar internasional, dan telah mendapatkan pemantapan mutu (Quality Assurance) oleh laboratorium supranasional TB. Hal ini bertujuan agar hasil pemeriksaan tersebut memberikan simpulan yang benar sehinggga kemungkinan kesalahan dalam pengobatan MDR dapat dicegah.
Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjad i overdiagnosis. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit (Depkes RI, 2007).
g. Klasifikasi penderita TB
Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada TB Paru :
1) Tuberkulosis paru BTA positif
commit to user
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis paru BTA negatif
a) Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif.
b) Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: (1) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
negatif
(2) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis
(3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT
(4) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan
Klasifikasi pasien berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadibeberapa tipe pasien, yaitu:
a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
b. Kasus kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
c. Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
d. Kasus setelah gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
e. Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
f. Kasus lain
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan di atas. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.
Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru, dapat juga
mengalami kambuh, gagal, default maupun menjadi kasus kronik. Meskipun sangat jarang, harus dibuktikan secara patologik, bakteriologik (b iakan), radiologik, dan pertimbangan medis spesialistik (Depkes RI, 2007).
h. Pengobatan TB
Obat TB diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis antara lain, isoniazid, rifampicin. pyrazinamide, streptomycin dan ethambutol, obat tersebut diberikan dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan. Pengobatan
diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan Pada tahap intensif, pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam waktu 2 bulan. Pada tahap lanjutan, pasien mendapat jenis obat lebih sedikit namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan ini penting untuk membunuh kuman persister
sehingga mencegah terjadinya kekambuhan (Depkes RI, 2007).
i. Komplikasi
Pada pasien tuberkulosis dapat terjadi beberapa komplikasi, baik sebelum pengobatan atau dalam masa pengobatan maupun setelah selesai pengobatan. Beberapa komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1) Batuk darah 2) Pneumotoraks 3) Luluh paru 4) Gagal napas 5) Gagal jantung 6) Efusi pleura (PDPI, 2006). 2. Keterlambatan Pasien
Tingkah laku manusia dalam menghadapi masalah kesehatan bukanlah tingkah laku yang acak tapi tingkah laku yang selektif, terencana dan berpola dalam suatu sistem kesehatan yang merupakan bagian integral dari budaya yang bersangkutan (Foster & Anderson, 1998). Kecepatan pencarian bantuan dalam masalah kesehatan pun akan semakin cepat jika jarak waktu yang dibutuhkan untuk
memutuskan bahwa dirinya dalam kondisi tidak sehat itu cepat. Hal ini perlu ditunjang dengan pengetahuan tentang konsep sehat-sakit. Pengetahuan kapan dikatakan sakit dan kapan dikatakan sehat dalam hal ini adalah kasus TB (Smet, 1994). Ada beberapa perilaku kesehatan menurut Becker (1979), yaitu:
a. Perilaku sehat (heatlh behavior), dalam pengertian yang luas perilaku sehat meliputi semua perilaku yang berhubungan dengan menjaga atau mempertahankan dan meningkatkan status sehat. b. Perilaku sakit (illness behavior) merupakan semua tindakan dan
kegiatan yang dilakukan seseorang untuk merasakan, mendefinisikan, mengintepretasikan gangguan kesehatan yang dirasakannya termasuk juga kemampuan atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit dan penyebabnya serta upaya pencegahannya.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior) merupakan segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhannya. Perilaku ini berpengaruh terhadap sehat dan sakitnya diri-sendiri, orang lain juga lingkungan.
Kasus TB yang luput dan keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas serta penyebaran penyakit yang semakin luas. Penelitian menunjukkan bahwa 58-63% kasus BTA negatif pada periode follow up -58 bulan dapat berkembang menjadi BTA positif. Pasien dengan BTA negatif dan mendapat pengobatan pencegahan TB dapat menghambat perkembangan reaktivasinya sebesar 90% dibanding dengan yang tidak mendapat pengobatan (Greenaway, 2002).
Interval waktu antara timbulnya gejala pertama kali sampai datangnya penderita ke fasilitas kesehatan pertama kali disebut dengan keterlambatan pasien (patient’s delay) (Hidayati, 2003).
Secara garis besar faktor risiko keterlambatan pasien seperti yang dikemukakan Anderson (1974), antara lain:
a. Faktor predisposisi
Merupakan faktor yang mendahului terjadinya perilaku yang memberikan alasan dan motivasi untuk berperilaku. Faktor tersebut antara lain demografi (umur dan jenis kelamin), sosial (pendidikan, pekerjaan, suku/ras), manfaat kesehatan (kepercayaan/keyakinan terhadap pelayanan kesehatan). Bila dalam masyarakat mempunyai kepercayaan yang salah tentang penyakit maka dapat menghambat dalam proses pencarian bantuan kesehatan atau membawa berobat kepada orang yang tidak profesional. Selain itu, masyarakat yang mempunyai kesadaran tinggi akan lebih mau menerima masukan dan informasi tentang hal baru terutama dalam masalah kesehatan, sehingga dirinya mampu berperilaku atau cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Begitu juga dalam mencari bantuan kesehatan, dirinya akan membawa berobat diri/anggota keluarga yang sakit tanpa menunda-nunda.
b. Faktor pendukung
Merupakan faktor yang mendahului perilaku yang menunjang motivasi atau aspirasi dapat terwujud. Faktor tersebut antara lain ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan sumber daya untuk menunjang perilaku kesehatan termasuk biaya pengobatan. Status ekonomi berkaitan dengan pendapatan keluarga, dengan pendapatan yang baik maka pemenuhan kebutuhan hidup dan kesehatan akan lebih terjamin. Biaya kesehatan pun telah dipersiapkan. Sedangkan masyarakat yang mempunyai pendapatan rendah, masyarakat tersebut sangat takut
pada biaya berobat karena alasan tidak mempunyai uang yang cukup dan mahalnya obat yang harus dibeli.
c. Faktor kebutuhan
Merupakan faktor yang mendorong perilaku kesehatan karena adanya kebutuhan yang disebabkan antara lain adanya persepsi yang serius mengenai gejala atau penyakit yang dialaminya. Bila gejala tidak terlalu dirasakan, orang tersebut tidak akan mencari pengobatan sampai penyakitnya bertambah parah. Sebaliknya jika orang yang lebih peka atau lebih paham terhadap munculnya gejala akan lebih cepat dalam mencari bantuan pertolongan dan mendapatkan pengobatan dengan cepat pula (dikutip dari Hidayati, 2003).
Terdapat beberapa cara dan kriteria dalam menentukan batas keterlambatan diagnosis TB atau pengkategorisasian variabel terikat, antara lain :
a. Berdasarkan cut off point median atau rata-rata waktu keterlambatan. Dikatakan terlambat jika waktu keterlambatan di atas median atau rata-rata (Demissie, Rajeswari).
b. Tetap berdasarkan data kontinyu (Pronyk, Leinhard, Long, Sherman) dan analisa menggunakan cox regresi.
c. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kontak yang terekspos penderita TB aktif sering kali menunjukkan gejala infeksi setelah 2 bulan terekspos. Sehingga keterlambatan yang bermakna secara klinis didefinisikam sebagai periode lebih dari 60 hari dari gejala TB pertama kali timbul sampai pertama kali berkunjung ke dokter (Asch, 1988).
d. Berdasarkan Lonnroth (1999): Long patient delay: jika lebih dari 4 minggu; long provider delay: jika lebih dari 4 minggu; long
total delay: jika mulai dari gejala pertama hingga diagnosis lebih
dari 8 minggu. Kriteria ini sesuai dengan WHO yaitu, dalam program pemberantasan TB sangat didambakan agar paling lambat 2 bulan setelah penderita merasakan gejala maka diagnosis TB dapat ditegakkan (Hidayati, 2003).
Berdasarkan penelitian kelambatan diagnosis oleh Reviono tahun 2008, kelambatan pasien merupakan penyumbang terbanyak dari kelambatan diagnosis total. Hal itu disebabkan oleh terdapatnya kasus dengan kelambatan pasien yang cukup panjang meskipun tidak terjadi kelambatan fasilitas kesehatan akan tetapi secara total waktu diagnosis melampaui median diagnosis total seh ingga masuk dalam kelompok kelambatan diagnosis total. Pada penelitian Reviono disebutkan bahwa kelambatan pasien reratanya yaitu 24,33 hari dan mediannya 21 hari sedangkan untuk diagnosis total adalah reratanya 40,42 hari dan mediannya 35 hari. Penelitian tersebut menggunakan
cut off point median waktu yang digunakan oleh subjek penelitian
untuk menentukan kelambatan.
Faktor risiko keterlambatan pelayanan kesehatan pada penelitian-penelitian agak berbeda dengan teori perilaku di mana semua faktor berfokus pada pasien sehingga jika dikaitkan dengan teori perilaku maka faktor keterlambatan pelayanan kesehatan hanya merupakan faktor pendorong petugas kesehatan untuk berperilaku mendiagnosis TB (Hidayati, 2003)
3. Status Ekonomi
Menurut kamus bahasa Indonesia, pengertian status adalah tingkatan atau kedudukan seseorang dalam hubungan dengan masyarakat di sekelilingnya, sedangkan pengertian ekonomi adalah ilmu mengenai azas-azas produksi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan, sehingga pengertian status ekonomi adalah tingkatan
kekayaan seseorang dalam hubungan dengan masyarakat di sekelilingnya (Poerwadarminta, 2002).
Status ekonomi kemungkinan besar merupakan pembentuk gaya hidup keluarga. Faktor-faktor yang mempengaruhi status sosial ekonomi adalah:
a. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah dalam memperoleh pekerjaan sehingga semakin banyak juga penghasilan yang diperoleh. Sebaliknya, pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenal.
b. Pekerjaan
Pekerjaan adalah simbol status seseorang di masyarakat. Pekerjaan merupakan jembatan untuk memperoleh uang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mendapatkan tempat pelayanan kesehatan yang diinginkan.
c. Keadaan ekonomi
Kondisi ekonomi keluarga yang rendah berkaitan dengan status gizi yang buruk.
d. Latar belakang budaya
Culture Universal adalah suatu kebudayaan yang bersifat
universal, ada di dalam semua kebudayaan dunia, seperti pengetahuan bahasa dan khasanah dasar, cara pergaulan sosial, adat istiadat dan penilaian umum. Tanpa disadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya karena kebudayaan pulalah yang member corak pengalaman individu-individu menjadi anggota kelompok
masyarakat asuhannya. Hanya kepercayaan individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominasi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual.
e. Pendapatan
Pendapatan adalah hasil yang diperoleh dari kerja atau usaha yang dilakukan. Pendapatan akan mempengaruhi gaya hidup seseorang. Orang atau keluarga yang mempunyai status ekonomi atau pendapatan tinggi akan mempraktikan gaya hidup mewah atau konsumtif karena orang tersebut mampu untuk membeli semua yang dibutuhkan bila dibandingkan dengan keluarga yang status ekonominya rendah (Indrawati, 2009).
Upah minimum Provinsi Jawa Tengah untuk tahun 2012 adalah Rp 991.500,00. Berdasarkan Susenas 2009, pengeluaran rata-rata perkapita sebulan penduduk Jawa Tengah tahun 2008 tercatat sebesar 409,33 ribu rupiah. Besarnya pendapatan yang diterima rumah tangga dapat menggambarkan kesejahteraan suatu masyarakat.
Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, sanitasi lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya kemampuan untuk memenuhi konsumsi makanan sehingga berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk akan menyebabkan kekebalan tubuh menurun sehingga memudahkan terkena infeksi TB paru.
Pada penelitian Reviono tahun 2008 dikatakan bahwa variabel pendapatan pasien tidak ada hubungannya dengan keterlambatan namun hal itu disebabkan besaran Upah Minimum Regional (UMR) pada sat itu bukan batasan yang tepat untuk menilai pendapatan orang tersebut cukup atau kurang. Selain itu, penelitian Ohmori mengatakan bahwa diagnosis TB dipengaruhi oleh sistem asuransi atau pembiayaan kesehatan.
4. Tingkat Pengetahuan
Kata pengetahuan berasal dari kata dasar “tahu”, biasanya terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. Penginderaan terjadi melalu panca indera manusia, tetapi pengetahuan manusia lebih banyak didapat melalui mata dan telinga (Notoadmodjo, 2003). Komponen pengetahuan, antara lain:
a. Tahu
Pengetahuan berkenan dengan bahan yang dipelajari sebelumnya disebut juga istilah recal (mengingat lagi) namun apa yang telah diketahui hanya sekedar informasi yang diingat saja. Oleh sebab itu, ini merupakan tongkat pengetahuan yang rendah.
b. Pemahaman
Adalah kemampuan mengetahui arti sesuatu bahan yang telah dipakai dipelajari seperti menafsirkan. Menjelaskan dan meringkas tentang sesuatu kemampuan. Ini lebih tinggi dari pengetahuan.
c. Penerapan
Adalah kemampuan menggunakan suatu bahan yang telah dipelajari dalam sesuatu yang baru atau konkrit.
d. Analisis
Adalah suatu komponen untuk menjabarkan materi atau suatu bahan obyek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya sama lain.
e. Sintesa
Kemampuan untuk menghimpun bagian dalam keseluruhan seperti merugikan tema rencana atau melihat hubungan abstrak dan sebagian fakta.
f. Evaluasi
Adalah berkenan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membantu penelitian terhadap sesuatu berdasarkan maksud atau kriteria tertentu (Notoadmodjo, 2003). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan:
a. Faktor eksternal 1) Kebudayaan
Kebudayaan dimana seseorang hidup dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikapnya. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan maka sangatlah mungkin berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi seseorang (Saifuddin, 2009).
2) Informasi
Informasi adalah keseluruhan makna dapat diartikan sebagai pemberitahuan sesering adanya informasi baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestis dibawa oleh informasi tersebut pendidikan ini biasanya digunakan.
b. Faktor internal 1) Pendidikan
Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh pelindung dan bantuan yang diberikan kepada anak yang tertuju pada kedewasaan. GBHN Indonesia mengidentifikasi lain bahwa pendidikan dari dalam dan dari luar sekolah dan berlangsung seumur hidup (Notoadmodjo, 2003).
2) Pengalaman
Pengalaman terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan emosi penghayatan. Pengalaman akan lebih mendalam dan lama membekas (Saifuddin, 2009).
3) Usia
Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang telah dewasa akan lebih dipercaya daripada seseorang yang belum cukup