BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka peneliti ingin menyampaikan beberapa saran, yaitu:
1. Bagi Orang tua yang memiliki Anak Tunaganda-netra
Sebagai bahan masukan bagi orang tua yang memiliki anak tunaganda-netra, agar mengetahui bentuk dukungan yang harus dilakukan sehingga mampu membuat tumbuh kembang anak tunaganda-netra menjadi optimal, dan anak tunaganda-netra mampu melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri.
a. Dukungan emosional, dengan adanya dukungan emosional yang diberikan orang tua kepada anak tunaganda-netra, peneliti menyarankan kepada orang tua bahwa meskipun dukungan emosional sudah diberikan, maka dukungan ini harus diberikan secara berkelanjutan agar anak tunaganda-netra merasa aman, nyaman serta merasa dicintai, sehingga hubungan antara anak dan orang tua akan erat.
b. Dukungan Instrumental, dengan adanya dukungan instrumental yang diberikan kepada anak tunaganda-netra, peneliti menyarankan kepada orang tua tetap melanjutkan untuk meluangkan waktu dengan mendampingi kegiatan anak, namun perlunya anak juga dilatih untuk bisa melakukan aktifitas secara mandiri, sehingga tidak ketergantungan dengan bantuan orang lain.
c. Dukungan Informasional, dengan adanya dukungan instrumental yang diberikan kepada anak tunaganda-netra, peneliti menyarankan kepada orang tua bahwa meskipun dukungan informasional sudah diberikan, maka dukungan ini harus diberikan secara berkelanjutan, karena orang tua pengumpul informasi dan pemberi informasi, sehingga baik orang tua maupun anak tunaganda-netra memiliki banyak informasi dan menambah wawasan.
d. Dukungan Penilaian, dengan adanya dukungan penilaian yang diberikan orang tua kepada anak tunaganda-netra, peneliti menyarankan kepada orang tua bahwa meskipun dukungan penilaian sudah diberikan, maka dukungan ini harus diberikan secara berkelanjutan, karena dengan memberikan dukungan penilaian adanya bentuk apresiasi yang diberikan setiap anak melakukan suatu hal dengan baik, begitu pula dengan memberikan umpan balik, anak akan mengerti apabila anak melakukan kesalahan, sehingga anak tidak mengulangi kesalahannya.
2. Bagi Yayasan Mitra Netra
Untuk Program Parent Support Group agar dilaksanakan secara berkala dan terjadwal agar para orang tua yang memiliki anak tunanetra maupun tunaganda-netra dapat menambah informasi serta dapat berperan aktif dan konsisten dalam memberikan dukungan sosial kepada anaknya. Perlu adanya tenaga ahli tambahan, seperti pekerja sosial maupun terapis tambahan karena untuk program tunaganda-netra ini khususnya pada fisioterapi, partisipan anaknya sudah banyak dan waktu yang digunakan yaitu 2 minggu sekali dirasa kurang efektif. Selain itu, perlunya tindakan tegas untuk orang tua yang tidak disipilin seperti sering absen kegiatan terapi, dan memberikan kesempatan kepada orang tua lain yang benar-benar ingin mengikutsertakan anak untuk terapi.
3. Kepada Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini menjelaskan bagaimana pemberian dukungan sosial kepada anak tunaganda-netra dalam lingkup orang tua, maka peneliti selanjutnya
sebaiknya dapat meneliti mengenai bagaimana dukungan sosial dalam lingkup yang lebih luas lagi seperti masyarakat. Penelitian mengenai dukungan sosial ini dilakukan pada orang tua yang memiliki anak tunaganda-netra yang mengikuti kegiatan di Yayasan Mitra Netra, maka peneliti selanjutnya sebaiknya dapat meneliti pada lembaga lain.
97 A. Sumber Buku
Agustyawati, dan Solicha. 2009. Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta.
Arikunto, Suharsimi. 1979. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Bart, Smet. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Brooks, J. B. 1991. The Process of Parenting (3rd ed.). Mountain View:
Mayfield Publishing.
Bunker, L. K., & Moon, S. 1983. Motor Skills. In M. E. Snell (Ed.).
Systematic Instruction of The Moderate and Severely Handicapped (2nd ed.). (pp. 203-226). Columbus: Charles E. Merril Publishing Co.
Ghoni, M. Djunaedi, dkk. 2012. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Gottlieb, B. H. 1983. Social Support Strategie: Guideliness for Mental Health Practice. London: Sage Publication.
Hallahan, D. P., & Kauffman, J. M. 2006. Exceptional Learnes: An Introduction to Special Education (10th ed.). Boston: Pearson.
Haring, Norris G. (Ed.). 1974. Behavior of Exceptional Children. An Introduction to Special Education. Ohio: Charles E. Merril Publishing Company.
Harnilawati. 2013. Konsep & Proses Keperawatan Keluarga. Sulawesi Selatan: Pustaka As Salam.
Hatlen, P. H. 1973. Visually Handicapped Children with Additional Problems. In Lowenfeld, B. (Ed.). The Visually Handicapped Child in School. New York: The John Day Company.
Heward, W. L., & Orlansky, M. D. 1992. Exceptional Children: An Introductory Survey of Special Education (4th ed.). New York:
Macmilan Publishing Company.
Hobfoll, S. E. 1986. Stress, Social Support and Women: The Series in Clinical and Community Psychology. Washington, DC: Hemisphere Publishing Corp.
Kirk, S. A., & Gallagher, J. J. 1979. Educating Exceptional Children.
Boston: Houghton Mifflin Company.
Lahey, B. B. 2007. Psychology: An Introduction (9th ed.). New York: The McGraw-Hill Companies.
Lowenfeld, Berthold. (Ed.). 1973. The Visually Handicapped Child In School. New York: The John Day Company.
Mangunsong, F., dkk. 1998. Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa.
Depok: LPSP3 UI.
Martin, C. A., & Colbert, K. K. 1997. Parenting: A Life Span Perspective.
New York: McGraw Hill.
Meyen, E. L. 1982. Excpetional Children and Youth: An Introduction (2nd edition). Denver: Love Publishing.
Moloeng, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Revisi.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasir, Moh. 1993. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nursalam, M., & Kurniawati, N. D. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika.
Rakhmat, Jalaludin. 2006. Metode Penelitian Kualitatif (edisi ke-12).
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Renzaglia, A., & Bates, P. 1983. Socially Appropriate Behavior. In Snell, M. E. (Ed.). Systematic Instruction of The Moderate and Severely Handicapped (2nd ed.) (pp. 314-352). Columbus: Charles E. Merril Publishing Co.
Robinson, C.C., & Robinson, J.H. 1983. Sensorimotor Functions and Cognitive Development. In Snell, M. E. (Ed.). Systematic Instruction of The Moderate and Severely Handicapped (2nd ed.) (pp. 227-266).
Columbus: Charles E. Merril Publishing Co.
Sarafino, E. P. 1997. Health Psychology: Biopsychological Interactions (4rd ed.). New York: John Wiley & Sons, Inc.
Sevilla, Cunsuelo. G., dkk. 2006. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta.
UI Press.
Smith, D. D. 2001. Introduction to Special Education Teaching in Age Opportunity (4th ed.). Boston: Allyn & Bacon.
Snell, M. E. (Ed.). Systematic Instruction of The Moderate and Severely Handicapped (2nd ed.) (pp. 358-409). Columbus: Charles E. Merril Publishing Co.
Somantri, S. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT Refika Aditama.
Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kualitatif, dan R & D (edisi ke-13).
Bandung: IKAPI.
Supena, A. 1999. Gangguan Penglihatan: Sebuah Pengantar. Jakarta:
Jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta.
Thawami, Vimal B. 2000. Visual Impairment Handbook: Visually Impaired Children with Multiple Disabilities. Ahmedabad: Blind People‟s Association.
Widjajanti, A. & Hitipeuw. 1995. Ortopedagonik Tunanetra 1. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi..
B. Sumber Jurnal
Cutrona, C. E, et al. 1994. Perceived Parental Social Support and Academic Achievment: An Attachment Theory Perspective. Journal of Personality and Social Psychology. 66, 2, 369-378.
Dewi, Desy Santika. 2016. Kajian tentang Psychological Well Being pada Anak Tunanetra di Sekolah Menengah Atas Luar Biasa dalam Seminar Asean. http://mpsi.umm.ac.id./files/file/pdf
Friend, Anna C., dkk. 2009. Impact of Family Support in Early Childhood Intervention Research. Vol. 44, No. 4, pp (453-470).
http://www.jstor.org/stable/24234255
Hartini, Rini. 2018. Enhancing Role of Family and Social Worker for Children with Disability dalam Child Poverty and Social Protection Conference.
http://smeru.or.id/sites/default/file/publication/cpsp_1pdf
Kumalasari, F., & Latifah N. 2012. Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di Pantu Asuhan. Jurnal Psikologi Vol 1, No. 1.
Rensi., & Rini, Lucia. 2010. Dukungan Sosial, Konsep Diri, dan Prestasi Belajar Siswa SMP Kristen YSKI Semarang. Jurnal Psikologi Volume 3, No. 2.
Rudiyati, Sari., dkk. 2015. Identifikasi Pembelajaran bagi Anak Multiple Disability and Visual Impairment (MDVI) secara Terpadu. Jurnal Ilmu Pendidikan.
Suseno, Yudha Eko. 2018. Studi Kasus Pelaksanaan Toilet Training anak MDVI di SLB-A YPAB Surabaya. Jurnal Pendidikan Khusus.
Turner, R. J., & Noh, S. 1988. Physical Disability and Depression: A Longitudinal Analysis. Journal of Health and Social Behavior, 29 (1), 23-27.
C. Sumber Internet
Analisa Dukungan Keluarga dengan Beban Orangtua dalam Merawat Anak Penyandang Cacat Tingkat SD di SLB Negeri Semarang diakses melalui https://media.neliti.com/media/publications/171883-ID-analisa-dukungan-keluarga-dengan-beban-o.pdf pada 2 Mei 2018.
Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus bagi Pendamping (Orang Tua, Keluarga, Masyarakat) diakses melalui
https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/b3401-panduan- penanganan-abk-bagi-pendamping-_orang-tua-keluarga-dan-masyarakat.pdf pada 20 Februari 2018.
Latar belakang Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/profil/latar-belakang/ pada 7 Januari 2019.
Undang-Undang No 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on The Right of Persons with Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas diakses melalui https://jdih.setkab.go.id/PUUdoc/17346/UU0192011.pdf pada 20 Februari 2018.
Visi dan Misi Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/profil/visi-misi/ pada 7 Januari 2019.
Legalitas Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/profil/legalitas/ 7 Januari 2019.
Penghargaan dan Prestasi Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/profil/penghargaan-dan-prestasi/ pada 7 Januari 2019.
Struktur Orgnisasi Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/profil/struktur-organisasi/ pada 7 Januari 2019.
Jaringan Kerjasama Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/profil/jaringan-kerjasama/ pada 7 Januari 2019.
Program Layanan Perpustakaan Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/program-layanan/perpustakaan/ pada 7 Januari 2019
Program Layanan Rehabilitasi Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/program-layanan/rehabilitasi/ pada 7 Januari 2019.
Program Layanan Pendampingan Belajar Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/program-layanan/pendampingan-belajar/ pada 7 Januari 2019.
Program Layanan Kursus Komputer Yayasan Mitra Netra diakses melalui https://mitranetra.or.id/program-layanan/kursus-komputer-bicara/
pada 7 Januari 2019.
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
PEDOMAN WAWANCARA
Informan : Kepala Bagian Rehabilitasi dan Diklat Yayasan Mitra Netra A. Tempat dan Waktu Wawancara
1. Tempat Wawancara : 2. Hari, Tanggal Wawancara :
3. Waktu Wawancara :
B. Identitas Informan
1. Nama :
2. Usia :
3. Jabatan/Profesi :
Daftar Pertanyaan
1. Sejak kapan layanan bagi Tunaganda-Netra mulai dilakukan?
2. Program apa saja yang diberikan bagi penyandang tunaganda-netra?
3. Bagaimana alur penerimaan klien yang ingin mengikuti program-program tersebut?
4. Berapa jumlah klien yang mengikuti pelayanan bagi tunaganda-netra ini?
5. Untuk orang tua, program apa saja yang diberikan terkait dukungan sosial?
6. Bagaimana pandangan lembaga terkait dukungan sosial orang tua terhadap anak tunaganda-netra disini?
Lampiran 5
TRANSKIP WAWANCARA
Informan : Kepala Bagian Rehabilitasi dan Diklat A. Tempat dan Waktu Wawancara
1. Tempat Wawancara : Yayasan Mitra Netra 2. Hari, Tanggal Wawancara : Kamis, 31 Januari 2019 3. Waktu Wawancara : Pukul 11.26
B. Identitas Informan
1. Nama : Muizzudin Hilmi
2. Usia : 44 Tahun
3. Jabatan/Profesi : Kepala Bagian Rehabilitasi dan Diklat Yayasan Mitra Netra
No Pertanyaan Jawaban
1 Sejak kapan layanan bagi Tunaganda-Netra mulai dilakukan?
Sekitar 2 tahun yang lalu, iya sekitar tahun 2016. Awal mula kita tidak memiliki sumber daya untuk tunaganda-netra. Karena awalnya Mitra Netra hanya melayani tunanetra dengan satu ketunaan saja. Namun banyak orang tua yang memiliki anak tunaganda-netra atau MDVI meminta kami untuk mengadakan layanan bagi anak tunaganda-netra. Kami pun mulai mengadakan layanan bagi tunaganda-netra atau MDVI. Kemudian ada beberapa teman-teman maupun relawan yang membantu untuk memberikan pelayanan bagi tunaganda-netra.
2 Program apa saja yang diberikan Untuk tunaganda-netra sendiri, ada
bagi penyandang Tunaganda-Netra?
pelayanan fisioterapi, terapi kognitif dan terapi perilaku, serta terapi wicara.
Namun tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti kegiatan yang lain, seperti musik atau komputer bicara.
Untuk musik sendiri disini tidak mematok anak tersebut untuk bisa bermain musik, ini bisa juga sebagai latihan untuk melatih anak melenturkan tangannya agar tidak kaku, lalu untuk komputer bicara sendiri bisa memberikan stimulasi, ada proses yang sifatnya logika, tidak apa-apa mengikuti kegiatan komputer meskipun tertatih-tatih.
3 Bagaimana alur penerimaan klien yang ingin mengikuti program-program tersebut?
Ketika ada tunanetra baru ini, kita assessment, permasalahannya apa, kebutuhannya itu apa, dan kegiatannya apa saja yang nanti akan diikuti untuk menghilangkan permasalahan-permasalahannya itu. Dalam proses tersebut konselor akan berkomunikasi dengan orang tua anak tersebut, diidentifikasi ada formnya yang harus diisi mengenai biodata dan kegiatan-kegiatan apa saja yang akan diikuti sesuai dengan hasil assessment.
Biasanya untuk tunanetra baru akan mengikuti dua kegiatan wajib yaitu orientasi dan mobiltas, baca tulis braile. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti
kegiatan yang lain. Lalu biasanya diajak untuk berkeliling mulai mengenalkan kegiatan-kegiatan yang ada di mitra netra, juga mengenalkan ke sesama tunanetra. Setelah mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, ada proses evaluasi sudah sejauh mana perkembangannya, apakah sudah siap kembali ke lingkungan sosial atau belum. Misal ada tunanetra usia sekolah mengikuti rehabilitasi di mitra netra, ketika sudah selesai melakukan rehabilitasi dan siap kembali ke sekolah maka pihak mitra netra advokasi ke pihak sekolah, ikut mendampingi ketika proses pendaftaran hingga mulai bersekolah, anak tersebut tetap dalam pendampingan mitra netra, itupun ketika pihak sekolah meminta jaminan bahwa anak tersebut tetap didampingi oleh mitra netra. Ketika nanti sudah mandiri ya akan dilepas. Tapi ketika nanti ada permasalahan misal di sekolah atau ditempat kerja dan mitra netra diperlukan sebagai mediator ya kita akan bantu.
4 Berapa jumlah klien yang mengikuti pelayanan bagi Tunaganda-Netra ini?
Ganda ya? Kemarin hasil Raker itu ada 23 anak MDVI, 17 klien mengikuti layanan fisioterapi, terapi kognitif & terapi perilaku, dan terapi wicara.
5 Untuk orang tua, program apa saja yang diberikan terkait dengan dukungan sosial orang tua?
Ada parent support group (PSG), jadi dukungan untuk orang tua, bukan hanya anaknya yang diberikan pelayanan, tetapi orang tua nya juga diberikan layanan, ketika psikolog melakukan observasi dan assessment orang tuanya dilibatkan, bisa juga sesekali mengundang universitas dari luar entah itu psikologi atau apapun, orang tua kita undang akan mengadakan seperti event seminar , diskusi, ada brainstorming disitu.
6 Bagaimana pandangan lembaga terkait dukungan sosial orang tua terhadap anak tunaganda-netra disini?
Kita berharap layanan terhadap tunaganda-netra ini melibatkan orang tua. Ketika si anak melakukan terapi, kan ada buku penghubung, diterapi oleh terapisnya nanti akan ditulis di buku penghubung mengenai terapi yang dilakukan. Ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua kepada anaknya dirumah, kalau hanya mengandalkan mitra netra saja, tidak akan maksimal perkembangan anak tersebut. Pada pertemuan berikutnya akan di tes kembali apakah anak tersebut melanjutkan terapi dirumah oleh orang tuanya atau tidak, akan keliatan mana yang melanjutkan mana yang tidak. Orang tua yang tidak terlibat dalam pelayanan bagi anak tunaganda-netra ini sebaiknya dicoret saja dan digantikan dengan anak-anak
yang lain yang lebih membutuhkan terapi tersebut. Karena banyak daftar tunggu orang tua yang ingin mendapatkan pelayanan MDVI bagi anaknya. Karena sumber daya yang terbatas, kita tidak bisa menampung semua anak, untuk fisioterapi saja dilakukan 2 minggu sekali, jadi misal anak mengikuti fisioterapi pada sabtu ini, dan akan mengikuti fisioterapi bukan sabtu depan, tapi sabtu depannya lagi. Idealnya memang seminggu sekali, tetapi karena sumber daya yang terbatas jadi hanya bisa dilakukan 2 minggu sekali. Kalau orang tua tidak bisa diajak kerjasama, mendingan mundur saja dan digantikan dengan anak yang lain.
Lampiran 6
PEDOMAN WAWANCARA
Informan : Terapis
A. Tempat dan Waktu Wawancara
1. Tempat Wawancara : 2. Hari, Tanggal Wawancara :
3. Waktu Wawancara :
B. Identitas Informan
1. Nama :
2. Usia :
3. Jabatan/Profesi :
Daftar Pertanyaan
1. Apa saja pelayanan yang diberikan kepada anak tunaganda-netra(
khususnya pada fisioterapi/terapi kognitif perilaku) ? 2. Bagaimana proses terapi itu dilakukan?
3. Kapan waktu kegiatan terapi ini dilakukan?
4. Berapa lama waktu yang digunakan untuk melakukan terapi?
5. Apakah ada orang tua yang ikut mendampingi anak ketika melakukan terapi?
6. Ketika terapi selesai, apakah ada evaluasi maupun masukkan bagi orang tua untuk melanjutkan terapi dirumah? Bagaimana evaluasi tersebut?
7. Apakah ada dampak positif dari evaluasi maupun masukkan bagi orang tua untuk melanjutkan terapi dirumah? Seperti apa dampak tersebut bagi orang tua?
8. Apa saja indikator yang digunakan untuk mengukur perkembangan anak tunaganda-netra?
9. Apakah ada perbedaan antara orang tua yang melanjutkan terapi pada anak dirumah dan orang tua yang tidak melanjutkan terapi dirumah bagi perkembangan anak tunaganda-netra? Bagaimana perberdaannya?
10. Bagaimana perkembangan anak tunaganda-netra dari sebelum melakukan terapi hingga saat ini?
Lampiran 7
TRANSKIP WAWANCARA
Informan : Terapis (Fisioterapi) A. Tempat dan Waktu Wawancara
1. Tempat Wawancara : Yayasan Mitra Netra 2. Hari, Tanggal Wawancara : Sabtu, 13 April 2019 3. Waktu Wawancara : Pukul 08:50
B. Identitas Informan
1. Nama : Raden Galuh Gumadi
2. Usia : 26 Tahun
3. Jabatan/Profesi : Fisioterapi
No Pertanyaan Jawaban
1 Apa saja pelayanan yang diberikan kepada anak tunaganda-netra atau MDVI, khususnya pada fisioterapi?
Pelayanan fisioterapi itu mencakup bagaimana fisioterapi untuk melakukan aktivitas fisik dan kemampuan fungsional anak tersebut sehari-hari. Jenis latihannya disini itu, mengembalikan ke bentuk aktivitas sehari-harinya, melatih kemampuan motorik dan sensorik anak tersebut.
2 Bagaimana proses terapi itu dilakukan?
Prosesnya itu, pertama misal ada anak yang baru itu kita assessment terlebih dahulu, kita lihat dulu kemampuan motorik dan sensoriknya yang anak tersebut miliki, potensi apa yang anak tersebut punya, nah lalu kita bisa membuat planning untuk fisioterapinya seperti apa.
3 Kapan waktu kegiatan terapi ini dilakukan?
Fisioterapi ini dilakukan setiap hari Sabtu, dikarenakan jumlah anak yang
mengikuti fisioterapi ini cukup banyak sekitar 14 anak. Jadi dibagi per minggu nya, misal minggu pertama itu 7 anak, dan minggu kedua 7 anak lainnya. Karena kalau 14 anak dalam 1 hari, tidak akan kondusif.
4 Berapa lama waktu yang digunakan untuk melakukan terapi?
Fisioterapi ini sendiri dilakukan selama 45 menit, itu waktu yang efektif untuk melakukan fisioterapi, dan 15 menit untuk konseling keluarga.
5 Apakah ada orang tua yang ikut mendampingi anak ketika melakukan terapi?
Boleh, tapi dengan catatan tidak mengganggu saat terapi dilakukan.
6 Ketika terapi selesai, apakah ada masukan maupun konsultasi bagi orang tua untuk melanjutkan terapi dirumah? Bagaimana konsultasi tersebut?
Ada, satu anak itu mendapatkan waktu 1 jam setelah terapi selama 45 menit, 15 menit nya digunakan untuk konsultasi orang tua. Setelah anak tersebut selesai terapi, kita panggil orang tuanya, kita jelaskan tadi kita melakukan terapi apa saja, kegunaannya apa saja dari kegiatan-kegiatan tadi, lalu kita juga mendorong orang tua supaya kegiatan tersebut bisa dilanjutkan dirumah.
7 Apakah ada dampak positif dari konsultasi bagi orang tua untuk melanjutkan terapi dirumah?
Seperti apa dampak tersebut bagi orang tua?
Untuk membuat suatu kebiasaan atau habbit itu harus dilakukan secara berulang. Tidak cukup hanya 45 menit anak tersebut hanya fisio disini saja, ketika dia hanya fisio disini dan dirumah tidak dilakukan percuma saja, karena nanti respon untuk
mengingatnya akan berkurang juga.
Pentingnya konseling ke orang tua itu bahwa ada beberapa latihan yang harus dilakukan dirumah juga, agar anak itu terstimulasi, lalu akan menciptakan habbit yang seharusnya atau aktivitas sehari-harinya. Karena disini fisioterapinya 2 minggu sekali, bisa dibilang itu kurang efektif, jadi yang kita dorong orang tuanya, dimana orang tua harus mengulang kembali latihan-latihan yang ada disini dengan ada buku penghubung, jadi kita terintegrasi antara fisioterapi, dan orang tua. Sehingga anaknya juga bisa kembali ke lingkungan sosialnya.
8 Apa saja indikator yang digunakan untuk mengukur perkembangan anak tunaganda-netra?
Kalau untuk indikator sebenernya banyak ya dari fisioterapi itu, seperti indikator motorik anak, misal 2 bulan, 3 bulan, 6 bulan itu anak sudah harus seperti apa, lalu dari fungsi
kognitifnya juga di usia sekian anak sudah harus bisa menghitung angka dan sebagainya.
9 Apakah ada perbedaan antara orang tua yang melanjutkan terapi pada anak dirumah dengan orang tua yang tidak melanjutkan terapi bagi perkembangan anak tunaganda-netra? Bagaimana perbedaannya?
Sangat jelas terlihat perbedaannya, disetiap pertemuan biasanya akan dievaluasi sejauh mana anak tersebut sudah bisa melakukan suatu hal yang diajarkan sebelumnya. Saya ambil contoh si D, sebelumnya si D ini bisa dikatakan belum bisa berdiri secara mandiri, nah ketika di fisio anak
tersebut latihan berdiri secara mandiri menggunakan lutut, ketika di tes kembali dilihat apakah sudah bisa berdiri secara mandiri. Kalau sudah bisa berarti orang tua anak tersebut melanjutkan latihan-latihan fisio dirumah. Tapi ketika anak dites kembali belum bisa dalam beberapa waktu, kita control ke orang tua nya apakah latihan tersebut dilakukan dirumah atau tidak? Kalau tidak ataupun jarang dilakukan, kita coba beritahu kembali kepada orang tua.
10 Bagaimana perkembangan anak tunaganda-netra dari sebelum melakukan terapi hingga saat ini?
(sampel: S, DF, N dan A)
S: masih belum banyak perkembangan, kalau segi atensi dan fokus sudah menunjukkan kearah lebih tenang, untuk DF: kemampuan motorik nya yang tadinya belum bisa berdiri sekarang sudah bisa berdiri secara mandiri. Kalo untuk sekarang DF lebih ke meningkatkan kemampuan baca tulis braile. DF ini perkembangannya cepat dibanding
S: masih belum banyak perkembangan, kalau segi atensi dan fokus sudah menunjukkan kearah lebih tenang, untuk DF: kemampuan motorik nya yang tadinya belum bisa berdiri sekarang sudah bisa berdiri secara mandiri. Kalo untuk sekarang DF lebih ke meningkatkan kemampuan baca tulis braile. DF ini perkembangannya cepat dibanding