SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan
6. Kepercayaan Terhadap Budaya Tertentu
1.1 Latar Belakang
Desa adalah wilayah dengan batas-batas tertentu sebagai kesatuan masyarakat hukum (adat) yang berhak mengatur dan mengurus urusan masyarakat setempat berdasarkan asal usulnya dan merupakan satuan pemerintahan yang diberi hak otonomi adat sehingga merupakan sebuah badan hukum. Desa juga merupakan suatu wilayah yang ditinggali oleh sejumlah orang yang saling mengenal, hidup bergotong royong, memiliki adat istiadat yang relatif sama, dan mempunyai tata-cara sendiri dalam mengatur kehidupan kemasyarakatannya.
Wilayah perdesaan adalah wilayah yang jauh dari pusat ibukota kecamatan atau ibukota kabupaten. Penduduk desa umumnya berasal dari satu keturunan (geneologi) sehingga mempunyai sistem kekerabatan yang erat. Pada desa daratan, sebagian besar penduduknya mencari penghidupan sebagai petani, sedangkan pada desa pesisir sebagian besar penduduknya mencari penghidupan sebagai nelayan. Masyarakat desa terikat oleh kesamaan dan kesatuan sistem nilai sosial-budaya dan bermasyarakat secara rukun dan guyub. Karena itu, mereka disebut masyarakat paguyuban (Nurcholis, 2011)
Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi (UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang). Definisi kawasan perdesaan berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 menegaskan bahwa perdesaan merupakan kawasan yang secara komparatif pada dasarnya memiliki keunggulan sumberdaya alam khususnya pertanian dan keanekaragaman hayati.
Jumlah desa di Indonesia menurut Kementrian Dalam Negeri dalam buku induk kode dan data wilayah administrasi pemerintahan per provinsi kabupaten/kota dan kecamatan seluruh Indonesia tahun 2013, terdapat 72.944 wilayah administrasi desa dan 8.309 wilayah administrasi kelurahan. Ini artinya bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sekitar 89% berupa pemerintahan desa dan hanya sekitar 11% berupa pemerintahan kelurahan yang bersifat perkotaan.
Berdasarkan data tersebut, maka kedudukan desa sangat penting untuk mencapai tujuan pembangunan nasional ataupun sebagai lembaga yang memperkuat struktur pemerintahan. Sebagai alat untuk mencapai tujuan pembangunan nasional, desa merupakan agen pemerintah terdepan yang dapat menjangkau kelompok sasaran riil yang hendak disejahterakan, sedangkan sebagai lembaga pemerintahan, desa merupakan lembaga yang dapat memperkuat lembaga pemerintahan nasional karena sebagai kesatuan masyarakat hukum adat, desa telah terbukti memiliki daya tahan luar biasa sepanjang keberadaannya
Namun, kondisi riil di lapangan yang terlihat dari keunggulan komparatif (comparative advantage) masyarakat perdesaan melalui sumber daya alamnya tidak serta merta mampu menempatkan perdesaan tumbuh dan sejajar dengan perkotaan. Beberapa hal yang menyebabkan sulitnya perdesaan menyejajarkan posisinya dengan perkotaan antara lain adalah kualitas sumberdaya manusia dan ketersediaan infrastruktur yang perkembangannya sangat lamban. Ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan terjadi karena pembangunan yang lebih terfokus pada wilayah perkotaan dan menyebabkan terhambatnya perkembangan wilayah perdesaan.
Untuk melihat ketimpangan perekonomian antara wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan, maka kita dapat melihat dari garis kemiskinan. Penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Pada September 2014 garis kemiskinan Sumatera Utara sebesar Rp 330.663,- per kapita per bulan.
Untuk daerah perkotaan, garis kemiskinannya sebesar Rp 349.372,- per kapita per bulan, dan untuk daerah perdesaan sebesar Rp 312.493,- per kapita per bulan. Perkembangan garis kemiskinan Sumatera Utara tahun 2004 sampai dengan tahun 2014, ditunjukkan pada:
Tabel 1.1
Garis Kemiskinan Sumatera Utara Tahun 2004 – 2014 (Rp/Kapita/Bulan)
Tahun Perkotaan Perdesaan Kota + Desa Maret 2004 142 966 114 214 122 414 Juli 2005 175 152 117 578 143 095 Mei 2006 184 694 142 095 155 810 Maret 2007 205 379 154 827 178 132 Maret 2008 218 333 171 922 193 321 Maret 2009 234 712 189 306 210 241 Maret 2010 247 547 201 810 222 898 Maret 2011 271 173 222 226 246 560 Maret 2012 286 649 238 368 262 102 Maret 2013 307 352 263 061 284 853 Maret 2014 338 234 299 145 318 398 September 2014 349 372 312 493 330 663
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), diolah
Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional, Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan di daerah perdesaan lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan di setiap tahunnya. Untuk tahun 2014 sendiri, Indeks Kedalaman Kemiskinan daerah perdesaan sebesar 1,859 sementara di perkotaan 1,556 dan Indeks Keparahan Kemiskinan untuk perdesaan sebesar 0,512 sedangkan di perkotaan hanya 0,387. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di perdesaan lebih jauh dari garis kemiskinan dibanding perkotaan, begitu juga tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk miskin di perdesaan lebih lebar dibanding perkotaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah perdesaan lebih buruk dibanding perkotaan.
Kabupaten Asahan adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Utara yang mempunyai luas sebesar 3.675 km2. Kabupaten Asahan mempunyai penduduk berjumlah 668.272 jiwa (Sensus 2010). Secara astronomis, Kabupaten Asahan berada pada
2°03'- 3°26 atas permukaan laut. Kabupaten Asahan terdiri dari Dasar Harga Berlaku mencapai Rp. 17,52 triliun dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 mencapai Rp. 6,34 triliun.
Menurut PDRB Atas Dasar Harga Berlaku, sektor yang memberikan nilai tambah bruto yang terbesar tahun 2013 adalah sektor pertanian sebesar Rp. 6,34 triliun. Disusul oleh sektor industri pengolahan sebesar Rp. 5,23 triliun; sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp. 2,83 triliun; sektor jasa-jasa sebesar Rp. 1,12 triliun; sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar Rp. 0,76 triliun; sektor bangunan sebesar Rp. 0,48 triliun; sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar Rp. 0,47 triliun; sektor listrik, gas dan air bersih sebesar Rp. 0,24 triliun; sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp. 0,04 triliun. Angka tersebut dapat dilihat dalam tabel 1.2
Tabel 1.2
PDRB Kabupaten Asahan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2012-2013 (Miliar Rupiah)
Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000
2012 2013 2012 2013 1. Pertanian 5.583,12 6.340,01 2.082,39 2.160,31 2. Pertambangan dan Penggalian 33,70 38,40 15,95 17,02 3. Industri Pengolahan 4.594,31 5.233,61 1.939,78 2.060,31 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 215,86 245,22 76,75 82,61 5. Bangunan 415,14 482,16 162,60 174,71 6. Perdagangan, Hotel, dan
Restoran
2.480,43 2.832,54 980,82 1.056,04 7. Pengangkutan dan
Komunikasi
670,77 764,14 229,13 243,40 8. Keuangan, Persewaan dan
Jasa Perusahaan
406,99 473,49 167,28 184,42 9. Jasa – Jasa 975,95 1.116,03 340,90 366,43
PDRB 15.376,29 17.525,62 5.995,60 6.345,25
Kabupaten Asahan memiliki pola perekonomian agraris, dimana sebagian besar masyarakatnya menyandarkan hidupnya dari sektor pertanian. Kondisi ini dapat dilihat dari tingginya kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan produk domestik regional bruto (PDRB). Pola seperti ini masih dominan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Sektor Pertanian masih mendominasi Struktur PDRB Asahan Tahun 2013 sebesar 36,18 persen. Kemudian diikuti oleh sektor industri pengolahan sebesar 29,86 persen; sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 16,16 persen; sektor jasa-jasa sebesar 6,37 persen. Sedangkan lima sektor ekonomi lainnya memberikan kontribusi dibawah 6 persen yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 4,36 persen; sektor bangunan sebesar 2,75 persen; sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 2,70 persen; sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar 1,40 persen; serta sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,22 persen.
Sektor Pertanian memberikan sumbangan sebesar 1,99 persen dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Asahan tahun 2013 yang tumbuh sebesar 5,83 persen. Sedangkan sisanya disumbangkan oleh sektor industri pengolahan sebesar 1,89 persen; sektor perdagangan, hotel, dan restoran 0,97 persen; sektor jasa-jasa 0,34 persen; sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 0,22 persen; sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 0,17 persen; sektor bangunan 0,16 persen; sektor listrik, gas, dan air bersih 0,08 persen; serta sektor pertambangan dan penggalian 0,02 persen.
Namun, besarnya kontribusi yang diberikan oleh sektor pertanian yang mayoritas bersumber dari daerah perdesaan terhadap pembentukan PDRB tersebut belum sepenuhnya mencerminkan tingkat pemerataan pembangunan di wilayah perdesaan itu sendiri. Padahal, dalam upaya pembangunan wilayah perdesaan, penyediaan prasarana publik merupakan hal yang sangat penting. Salah satu prasarana publik yang paling dibutuhkan oleh masyarakat adalah penyediaan akses air bersih. Hal ini dikarenakan air merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Penyediaan akses air yang buruk akan berdampak langsung terhadap
kesehatan, perekonomian, dan lingkungan. Buruknya kondisi sanitasi dan air bersih menjadi salah satu penyebab kematian anak di bawah 3 tahun yaitu sekitar 100.000 anak meninggal karena diare setiap tahunnya (Depkes, 2008)
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Badan Perencananaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Bappenas RI), jumlah rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih yang layak sebanyak 47,71% dan rumah tangga yang memiliki akses sanitasi sebanyak 51,19%. Target yang ingin dicapai Indonesia pada tahun 2015 sebesar 68,87% untuk air bersih dan 62,41% untuk sanitasi. Pemerintah sendiri memperkirakan Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp 56 triliun setiap tahun yang diakibatkan buruknya kondisi air minum dan sanitasi. Jumlah ini setara dengan 2,3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (Laporan Milenium Development Goals, 2010). Tabel di bawah ini memberikan gambaran pencapaian Indonesia khususnya di sektor air bersih pada tahun 2010.
Tabel 1.3
Akses Masyarakat Terhadap Air Bersih di Indonesia Berdasarkan Berbagai Laporan
Laporan MDGs Tahun 2010
(Bappenas)
Progress on Drinking Water and
Sanitation 2008 (Unicef, WHO)
Progress on Drinking Water and
Sanitation 2010 (Unicef, WHO) Achieving the MDGs in an era of Global Uncertainty (UNESCAB, ADB, UNDP, 2010) Perkotaa n (%) Perdesaa n (%) Air Perpipaa n (%) Sumber Air Terlindun gi (%) Air Perpipaa n (%) Sumber Air Terlindun gi (%) Wate r Total Sanitatio n Total 49,82 45,72 20 60 23 57 Slow Slow
Sumber: Berbagai Laporan dalam Santono, 2010
Jika dilihat lebih dalam lagi, semua laporan tersebut menunjukkan rendahnya akses masyarakat Indonesia terhadap air perpipaan, padahal air perpipaan dipandang sebagai air yang memiliki kualitas yang dapat diandalkan dan lebih sehat dibandingkan dengan sumber air lainnya.
Setelah tiga tahun berselang, Kementerian Pekerjaan Umum tahun 2013 meriilis data bahwa capaian penduduk Indonesia yang sudah memiliki akses terhadap sanitasi layak mencapai 57,35 persen dari 62,41 persen yang ditargetkan dan pencapaian untuk penyediaan pelayanan air minum baru mencapai 58,05 persen dari target 68,87 persen. Hal ini masih terdapat selisih 33 juta jiwa agar target tersebut terpenuhi.
Pada kenyataannya, pemerintah tidak selalu mampu membiayai sepenuhnya pembangunan prasarana di daerah-daerah. Saat ini, peran pemerintah dalam penyediaan fasilitas sarana dan prasarana semakin lama semakin berkurang dan digantikan perannya. Hal ini dilakukan untuk merangsang dan mengarahkan peran organisasi nonpemerintah dan masyarakat dalam partisipasi pembangunan. Jika kemampuan pemerintah dalam menyediakan prasarana publik terbatas, sedang partisipasi masyarakat tidak muncul dengan sendirinya, maka perlu terus-menerus didorong melalui suatu komunikasi pembangunan. Dalam hal ini perlu adanya penekanan dalam hal kemandirian (selfhelp), maksudnya ialah masyarakat sendiri yang mengelola dan mengorganisasikan sumber-sumber lokal baik yang bersifat materil, pikiran, maupun tenaga (Slamet, 1994).
Berdasarkan hal tersebut, maka sangat dibutuhkan bentuk partisipasi masyarakat dengan pengadaan program-program pembangunan di daerah. Tingkat keberhasilan dalam pembangunan daerah sangat ditentukan oleh sejauhmana perencanaan pembangunan tersebut mampu melibatkan partisipasi masyarakat. Hal ini dikarenakan dampak terbesar yang berpengaruh adalah warga masyarakat desa sendiri. Perlu adanya peningkatan melalui pemberdayaan masyarakat desa supaya masyarakat lebih paham dengan permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitarnya. Pendekatan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu wujud pembangunan alternatif yang menghendaki agar masyarakat mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Jayadinata, 1999).
Dalam mempercepat penanggulan ketimpangan pembangunan di perdesaan guna meningkatkan taraf hidup masyarakat desa, mulai tahun 2007 Pemerintah Indonesia mencanangkan sebuah program yang disebut dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP). PNPM Mandiri Perdesaan mengadopsi sepenuhnya mekanisme dan prosedur Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang telah dilaksanakan sejak 1998 dan dinilai cukup berhasil dalam penyediaan lapangan pekerjaan dan pendapatan bagi kelompok rakyat miskin, efisiensi, dan efektivitas kegiatan serta menumbuhkan kolektivitas dan partisipasi masyarakat.
PNPM Mandiri Perdesaan sendiri dikukuhkan secara resmi oleh Presiden RI pada 30 April 2007 di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Program pemberdayaan masyarakat ini dapat dikatakan sebagai program pemberdayaan masyarakat terbesar di tanah air. Dalam pelaksanaannya, program ini memusatkan kegiatan bagi masyarakat Indonesia paling miskin di wilayah perdesaan. Program ini menyediakan fasilitasi pemberdayaan masyarakat/kelembagaan lokal, pendampingan, pelatihan, serta dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) kepada masyarakat secara langsung. yang dialokasikan sebesar Rp 750 juta sampai Rp 3 miliar per kecamatan, tergantung jumlah penduduknya.
Dalam PNPM Mandiri Perdesaan, seluruh anggota masyarakat diajak terlibat dalam setiap tahapan kegiatan secara partisipatif, mulai dari proses perencanaan, pengambilan keputusan dalam penggunaan dan pengelolaan dana sesuai kebutuhan paling prioritas di desanya, sampai pada pelaksanaan kegiatan dan pelestariannya. Pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan berada di bawah binaan Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kementerian Dalam Negeri. Program ini didukung dengan pembiayaan yang berasal dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dana pinjaman/hibah luar negeri dari sejumlah lembaga pemberi bantuan dibawah koordinasi Bank Dunia.
Dalam Prinsip Dasar PNPM Mandiri Perdesaan yang telah dipublikasikan ke masyarakat melalui website resminya, untuk pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan harus menekankan aspek-aspek pokok SiKOMPAK, yang terdiri dari:
a) Transparansi dan Akuntabilitas. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan, sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggung-gugatkan, baik secara moral, teknis, maupun administratif.
b) Desentralisasi. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah atau masyarakat, sesuai dengan kapasitasnya.
c) Keberpihakan pada orang/masyarakat miskin. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung.
d) Otonomi. Masyarakat diberi kewenangan secara mandiri untuk berpartisipasi dalam menentukan dan mengelola kegiatan pembangunan secara swakelola.
e) Partisipasi/Pelibatan Masyarakat. Masyarakat terlibat secara aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan pembangunan dan secara gotong-royong menjalankan pembangunan.
f) Prioritas Usulan. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk pengentasan kemiskinan, kegiatan mendesak dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya masyarakat, dengan mendayagunakan secara optimal berbagai sumberdaya yang terbatas.
g) Kesetaraan dan Keadilan Gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil manfaat kegiatan pembangunan tersebut.
h) Kolaborasi. Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergi antar-pemangku kepentingan dalam penanggulangan kemiskinan.
i) Keberlanjutan. Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat, tidak hanya untuk saat ini tetapi juga di masa depan, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam pengelolaan PNPM Mandiri Perdesaan, masyarakat mendapatkan kewenangan untuk mengelola semua kegiatan secara mandiri dan partisipatif dengan ikut terlibat dalam setiap tahapan kegiatan mulai dari sosialisasi, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengontrolan kegiatan. Selain itu masyarakat mendapat pendampingan dari fasilitator, dukungan dari pemerintah dan juga adanya kelembagaan PNPM Mandiri Perdesaan berupa organisasi pengelolaan di tingkat desa dan kecamatan yang anggotanya berasal dari masyarakat serta mendapat pelatihan-pelatihan yang mendukung peningkatan kemampuan masyarakat sebagai pelaku utama PNPM Mandiri Perdesaan dan penerima manfaat hasil pembangunan.
Pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan diharapkan menjadi salah satu program pembangunan partisipatif yang dapat berkontribusi bagi perbaikan akses dan peningkatan kemandirian masyarakat di Kabupaten Asahan. Keberhasilan program pembangunan dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat, mekanisme pelaksanaan program serta proses pendampingan dalam menerapkan pendekatan partisipasi. Tingkat partisipasi masyarakat dipengaruhi oleh tingkat kewenangan atau kekuasaan masyarakat untuk mengontrol atau menentukan pengambilan keputusan dalam berbagai tahapan kegiatan untuk meyakinkan bahwa kepentingannya dapat dipenuhi (Panudju, 1999).
Kecamatan Rawang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Asahan yang mendapat bantuan dana PNPM Mandiri Perdesaan untuk proyek satuan kerja pembangunan prasarana publik diantaranya pembangunan sanitasi air bersih berupa sumur bor dan pipa penyalurannya sejak tahun 2009. Penyediaan sarana prasarana melalui PNPM Mandiri Perdesaan menerapkan pendekatan partisipasi masyarakat dengan cara melibatkan
masyarakat dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam proses pelaksanaannya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka untuk dapat mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat dalam pembangunan sanitasi air bersih melalui PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan Rawang Kabupaten Asahan, serta hubungan sosial ekonomi masyarakat terhadap tingkat partisipasi tersebut perlu dilakukan kajian lebih lanjut.