VII. SIMPULAN DAN SARAN
7.2. Saran
Beberapa saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk tujuan penetapan jumlah pemesanan optimum mangga gedong gincu di tingkat eksportir, pada pengembangan model persediaan selanjutnya perlu mempertimbangkan aspek kerusakan mangga gedong gincu selama transportasi dan mengintegrasikan model persediaan mangga gedong gincu di tingkat eksportir dengan model persediaan mangga gedong gincu pada pelaku rantai pasok yang lain yaitu gapoktan dan petani.
2. Dalam mempertahankan mutu hasil panen sesuai syarat mutu untuk buah ekspor, petani dan gapoktan yang terlibat dalam rantai pasok mangga gedong gincu untuk ekspor perlu melakukan penanganan pascapanen sesuai dengan SOP (Standard Operational Procedure) mangga gedong gincu ekspor dan melakukan upaya-upaya mempertahankan mutu hasil panen.
3. Dukungan kebijakan dari Pemerintah Daerah dan instansi pembina dalam lingkup Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada rantai pasok mangga gedong gincu untuk ekspor perlu terus dilakukan melalui : (a) pengembangan luas areal tanaman, (b) memfasilitasi penyediaan bibit mangga gedong gincu yang bersertifikat, (c) memfasilitasi pengadaan ruang penyimpanan, transportasi, dan peralatan pascapanen yang memadai di sentra produksi mangga gedong gincu sehingga penerapan GAP/SOP mangga gedong gincu dapat dilaksanakan dengan baik, (d) melakukan pembinaan kebun buah mangga gedong gincu dalam upaya penambahan kebun mangga gedong gincu yang terdaftar sebagai kebun yang telah menerapkan GAP/SOP. Dengan demikian, hasil panen dari kebun tersebut dapat memenuhi syarat untuk ekspor sehingga dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas mangga gedong gincu untuk ekspor sekaligus juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen luar negeri terhadap mutu buah yang diekspor, (e) melakukan pembinaan pada pelaku usaha mangga gedong gincu untuk mendapatkan sertifikasi Prima sebagai upaya pengakuan bahwa hasil panen yang dihasilkan atau yang ditangani telah memenuhi syarat yang ditetapkan sesuai sistem jaminan mutu hasil pertanian, serta (f) terus melakukan pengembangan teknologi penanganan pascapanen dalam upaya mempertahankan mutu magga gedong gincu selama persediaan di sepanjang rantai pasok mangga gedong gincu.
4. Dengan adanya teknologi pembungaan, maka petani dapat melakukan panen di luar musim panen, sehingga dalam penelitian lebih lanjut perlu dikembangkan model perencanaan persediaan mangga gedong gincu di tingkat eksportir pada periode perencanaan off–season (di luar musim panen).
Ahumada, O. and Villalobos, J.R. 2009. Application of planning models in the agri-food supply chain: A review. European Journal of Operational Research.195:1-20.
Assauri, S. 1993. Manajemen Produksi.Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Anshari S. 2006. Meningkatkan Keunggulan Buah-buahan Tropis. Andi, Yogyakarta
Arauz, L. (2000). Mango anthracnose: Economi impact and current options for integrated management. Plant Disease.84: 600-611.
Bai, R. and Kendall, G. 2008.A model for fresh produce shelf-space allocation and inventory management with freshness-condition-dependent demand. INFORMS Journal of Computing. 20 :78-85.
Bai, R., Burke, E.K., and Kendall, G.2008. Heuristic,meta-heuristic and hyper- heuristic approaches for fresh produce inventory control and shelf space allocation. Journal of Operation Research Society. 59 :1387-1397.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2010. BPS, Indonesia.
Broto, W. 2003. Mangga, Budi Daya, Pascapanen dan Tataniaganya. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Broekmeulen, R.A.C.M. and Donselaar, K.H. 2009. A heuristic to manage perishable inventory with batch ordering, positive lead-times, and time- varying demand.Computers and Operations Research. 36 : 3013 -3018. Carson, J.S.2002. Model Verivcation and Validation. Di dalam : Yucesan E, Chen
C-H, Snowdon L, Charnes JM, editor. Proceeding of the 2002 Winter Simulation Conference:52-58.
Chande, A., Hemachandra, N., and Rangaraj, N. 2003.Fixed Life Perishable Inventory Problem and Approximation under Price Promotion. Industrial Engineering and Operations Research Programme IIT Bombay, Mumbai, India.
Codex Alimentarius. Codex Standard for Mangoes (Codex STAN 184-1993). http://www.codexalimentarius.org/standards/list-of-standards/en/CSX 184e.pdf. Diunduh 2 Februari 2012.
Dewandari, K.T., Mulyawanti,I., dan Setyabudi, D.A. (2009). Konsep SOP Untuk Penanganan Pascapanen Mangga Cv. Gedong Untuk Tujuan Ekspor.
Deptan. 2005. Standard Operational Procedure (SOP) Mangga Gedong Gincu Kabupaten Cirebon. Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Deptan RI, Indonesia.
Deptan. 2007. Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Deptan RI, Indonesia.
Deptan.2006. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Deptan RI, Indonesia.
Deptan.2007. Panduan Sertifikasi Prima. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Deptan RI, Indonesia.
Deptan.2007. Panduan Umum Penggunaan Label Prima. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Deptan RI, Indonesia.
Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon.2010. Perkembangan Mangga Gedong Gincu di Kabupaten Cirebon, Cirebon
Distanbunnakhut (Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan Kehutanan) Kabupaten Cirebon.2007. Potensi Investasi Hortikultura (Komoditi Mangga) Kabupaten Cirebon, Cirebon.
Eriyatno.1999.Ilmu Sistem : Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen.Jilid Satu.Edisi Ketiga. IPB Press, Bogor.
Eryani, Y.1999. Analisis Pemasaran Mangga Gedong Gincu (Mangiera indica L) di Kabupaten Cirebon, Propinsi jawa Barat [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Eskin, N.A.M. 1980. Biochemistry of Food. Second Edition. Academic, California.
Gal, P.Y.L., Lyne, P.W.L., Meyer, E., and Soler, L.G. 2008. Impact of sugarcane supply scheduling on mill sugar production: A South African Study Case. Agricultural System. 96:64-74.
Ghare, P.N. and Schrader, G.F.1963. A model for exponentially decaying inventories. Journal of Industrial Engineering. 15:238-243.
Goyal, S.K. and Giri, B.C. 2001. Recent trends in modeling of deteriorating inventory.European Journal of Operational Research. 134:1-16.
Greenberg, B.S., Goh, H., and Matsuo, H.1993. Two-stage perishable inventory models. Management Science. 39(5):633-649.
Gurler, U. and Ozkaya, B.Y. 2006. Analysis of the (s,S) policy for perishable with random shelf life.IIE Transactions. 40:759-781.
Hadiguna, R. A. 2010. Perancangan Sistem Penunjang Keputusan Rantai Pasok dan Penilaian Risiko Mutu pada Agroindustri Minyak Sawit Kasar [Disertasi]. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hariga, M. and Becherouf, L.1994. Optimal and heuristic replenishment models for deteriorating items with eksponential time varying demand. European Journal of Operational Research. 79:123-137.
Hariyadi, P. 2006. Prinsip-prinsip Penetapan dan Pendugaan Masa Kadaluarsa produk Pangan. Materi Pelatihan Pendugaan dan Pengendalian Masa Kadaluarsa Bahan dan Produk Pangan, Bogor 7 – 8 Agustus.
Heng, K.J., Labban, L., and Linn, R.J.1991. An order-level lot size inventory model for deteriorating items with finite replenishment rate. Computers and Industrial Engineering. 20:187-197.
Holmes, R. and Ledger, S. (1992). Handling systems to reduce mango sapbum. International Mango symposium International Society for Horticultural Science, abstracts:98
Hug, F., Asnani, S., Jones, V., and Cutright, K. 2005. Modelling the influence of multiple expiration dates on revenue generation in the supply chain. International Journal of Physical Distribution and Logistic Management. 35(3):152-160
Hussey, J. and Hussey, R. 1997. Business Research: A Practical Guide for Undergraduate and Postgraduate Students.Chippenham: Macmillan Business.
Indrianti, N, Ming, T., dan Toha, I.S. 2001. Model Perencanaan Kebutuhan Bahan Dengan Mempertimbangkan Waktu Kadaluarsa Bahan. Media Teknik. 2(23):60-65
Irving, A.R. 1984. Transport of fresh horticultural produce under modified atmosphere.CSIROFoodRes.Q.44(22):25-33
Jacxsens, L. 2010. Simulation modeling and risk Assessment as tools to identify the impact of global climate change on microbiological food safety-the case study of fresh produce supply chain. Food Research International. 43:1925-1935.
Jonrinaldi. 2004. Model Siklus Persediaan Optimal Gabungan untuk Produk yang Mengalami Deteriorasi dengan Mengijinkan Penundaan dalam Pembayaran [Tesis]. Sekolah Pascasarjana Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Kader, A.A. 1992. Preventing of ripening in fruits by use of controlled atmosphere. Food Technology.34(3):51-54.
Kader, A. A. (2002). Quality and safety factors: Defnition and evaluation for fresh horticultural crops. Postharvest technology of horticultural crops : 279-285 Kays, S.J.1991. Postharvest Physiology of Perishable Plant Products.Van
Nostrand Reinhold, New York.
Lawrence, A. S., Sivakumar, B., and Arivarignan, G. 2006.Perishable InventorySystem with Random Supply Quantity and Negative Demands. Advance Modelling and Optimization.8:151-168.
Lebrun, M., Plotto, A., Goodner, K., Ducamp, M. N., and Baldwin, E. (2008). Discriminationof mango fruit maturity by volatiles using electron nose and gas chromatography.Postharvest Biology and Technology.48:122-131. Liu, L. and Lian, Z. 1999. (s, S) continuous review models for inventory with
fixed lifetimes. Operation Research.47:1022-1028.
Lucio, Z. and Zanoni, S. 2007. Single-vendor single buyer with integrated transport-inventory system : model and heuristics in the case of perishable goods.Computers and Industrial Engineering.52:107-123.
Ma’arif, M.S. dan Tanjung, H. 2003. Manajemen Operasi. PT. Gramedia, Jakarta. Maflahah, I. 2010. Pengembangan Model perencanaan Produksi Agregat dan
Jadwal Induk Produksi Jus Berbahan Baku Buah Segar [Tesis]. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Manetsch, T.J. and Park, G.L. 1977. System Analysis and Simulation with Aplication to Economic and Social Systems. Michigan State University, Michigan.
Mananoma, T. dan Soetopo, W. 2008. Pemodelan Sebagai Sarana Dalam Mencapai Solusi Optimal. Jurnal Teknik Sipil FT UGM.8(3):184-192
Makridakis, S, Steven, C.W., and Victor, E.M. 1999.Metode Peramalan dan Aplikasi Peramalan. Ed ke-2. Suminto. Penerjemah Jakarta: Binarupa Aksara. Terjemahann dari: Forecasting : Method and Applications.
Marquez, A.C.2010. Dynamic Modelling for Supply Chain Management. Springer London Dordcrecht Heidelberg, New York.
Mentzer, J. T., Dewitt, W., Keebler, J. S., Min, S., Nix, N. W., Smith, C. D., and Zacharia, Z. G. 2001. Defining supply chain management. Journal of Business Logistics.22:1-25.
Nahmias, S.1982. Perishable inventory theory : a review. Journal of Operational Research Society of America.30:680-708.
Nandakumar, P. and Morton, T.E. 1993. Near myopic heuristic for the fixed life perishability problem. Management Science.39:1490-1498.
Nurmawanti, N.E.2008. Pengaruh Pra Pendiginan dan Suhu penyimpanan Terhadap Mutu Buah Mangga Cengkir Indamayu. Skripsi. Institut Pertanian Boogor, Bogor.
Panda, S., Saha, S., and Basu, M. 2008. A note on EPQ model for seasonal perishable products with stock dependent demand. Asia-Pacific Journal of Operation Research.25(3):301-315.
Pantastico, Er.B. 1993. Postharvest Physiology, Handling and Utilization of Tropical and Subtropical Fruits and Vegetables. The AVI. Westport, Connecticut.
Pantastico, Er.B., Matto, A.K., Murata, T., and Ogata, K.1997.Kerusakan- Kerusakan Karena Pendinginan dalam Fisiologi Pascapanen dan Penanganan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan Subtropika. Editor Er. B. Pantastico. Penerjemah kamarariyani. Gajah mada University Press, Yogyakarta.
Perdana, T. 2009. Pemodelan Dinamika Sistem Rancang Bangun Manajemen Rantai Pasokan Industri Teh Hijau. [disertasi]. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Sekolah Pasca Sarjana IPB, Bogor.
Pujawan. N. 2005. Supply Chain Management. Guna Widya, Surabaya.
Raafat, F. 1991. Survey of literature on continuously deteriorating inventory models. Journal of Operational Research Society.1:27-37.
Rajurkar, S. and Jain, R. 2009. Optimal order quantity model for retailers of perishable products with non-deterministic demand.
Rangkuti, F. 2000. Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis.PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Ravichandram, N. 1995. Stochastic analysis of a continuous review perishable inventory system with positive leadtime and poisson demand. European Journal of Operational Research.84:444-457.
Rizkia, H. 2004. Kajian Laju Respirasi Dan Perubahan Mutu Buah Mangga Gedong Gincu Selama Penyimpanan Dan Pematangan Buatan [Tesis].Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rukmana, R.2007. Mangga Gedong Gincu : Budi daya, Pengendalian Mutu, dan Pascapanen. Aneka Ilmu, Semarang.
Russell, R.S. and Taylor, W. 2006. Operations Management. John Wiley & Sons, Inc.
Satuhu, S. 2000. Penanganan Mangga Segar Untuk Ekspor. Penebar Swadaya, Jakarta.
Setyadjit dan Syaifullah.1992. Pengaruh ketebalan plastik untuk penyimpanan atmosfir termodifikasi mangga arumanis dan indramayu. Jurnal Hortikultura.2(1):31-42.
Siswanto. 2002.Operations Research.Jilid II. PT. Erlangga, Jakarta.
Sivakumar, D., Jiang Y., and Yahia, E.M. 2010. Maintaining mango (Mangifera indica L.) fruit quality during the export chain. A review. Food Research International.03411:1-10.
Smith, S.B. 1989. Computer-Based Production and Inventory Control.New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
SNI.SNI 3164:2009, Standar Nasional Indonesia : Mangga. http://sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/detail_sni/9481. Diunduh 2 Februari 2012
Stewart, J. 1999. Calculus, Fourth Edition. International Thmson Publishing Inc. Stringer, R., Sang, N., and Croppenstedt, A. 2009. Producers, processor and
procurement decision: the case of vegetable sSupply chain in china. World Development.37(11):1773-1780.
Syarief , R dan Halid, H. 1991.Teknologi Penyimpanan Pangan. Arcan. Jakarta. Tersine, R.J. 1994. Principles of Inventory and Materials Management. Prentice
hall, Inc., New Jersey.
Tharanathan, R. N., Yashoda, H. M., and Prabha, T. N. (2006). Mango (Mangifera
indica L.),―The King of Fruits‖ — An overiew. Food Reviews International.22:95-123.
USDA.1968. Penyimpanan Buah-buahan, Sayur-sayuran, dan Bunga-bungaan. Penerjemah Soesarsono, W. Teknologi Industri Pertanian IPB, Bogor. Yadavalli, V.S.S. and Schoor, C.D.W.van. 2004. A perishable product inventory
system operating in random environment. South African Journal of Industrial Engineering.15(2):107-131.
Yahia,E.M. 1998. Postharvest handling of mangoes.Technical Report.Agricultural Technology Utilization and Transfer Project, Giza,Egypt.
Van der Vorst, J.G.A.J. 2004.Performance levels in food traceability and the impact on chain design : results of an international bencmark study. In : Bremmers, H.J., Omta, S.W.F., Trienekens, J.H., et al.eds Dynamics in chains and networks : proceeding of the sixth international conference on chain and network management in agribusiness and the food industry (Ede, 27-28 may 2004). Ageningen Academic Press, Wageningen: 175-183. Verdouw, C.N., Beulens, A.J.M., Trienekens, J.H., and Wolfert, J. 2010. Process
modeling in demand-driven supply chain: a references model for the fruit industry. Computers and Electronic in Agriculture.3:174-187.
Waters, C.D. 1992. Inventroy Control and Management. Jhon Wiley and Sons Inc., New York
Wee, H.M. and Shum, Y.S. 1999. Model development for deteriorating inventory inmaterial requirement planning system. Computer and Operational Research.26:545-558.
Widodo, K.H., Nagasaka, H., Morizawa, K., and Ota, M. 2004. A periodical flowering-harvesting model for delivering agricultural fresh products. European Journal of Operational Research. Article in Press.
Winarno, F.G. 2002. Fisiologi Lepas Panen Produk Hortikultura. M-Brio Pr., Bogor.
Within, T.M. 1957. Theory of Inventory Management. Princeton University Press, Princeton.
Lampiran 1. Rata-rata Tingkat Kerusakan Buah Mangga Gedong Gincu Per Hari di Gudang Eksportir Pada Musim Panen dan Pada Panen di Luar Musim (Off-Seasson) Tahun 2010
No Panen (bulan) Jumlah Mangga yg Masuk (kg)
Tingkat Kerusakan Mekanis (%) Jumlah Ekspor
(kg) Tidak
Bertangkai
Luka Memar
(Benturan) Luka Gesekan
(%) (kg) (%) (kg) (%) (kg) (%) (kg) 1. Oktober (awal panen ) 97.000 4,5 4.365 9,4 9.118 15,2 14.744 29,1 68.773 2. Nopember (puncak panen) 98.000 6,4 6.272 12,2 11.956 32 31.262 50,5 48.510 3. Desember (akhir panen) 74.000 2,1 1.554 19,2 14.208 29 21.460 50,3 36.778 Rata-rata 4,3 9,9 25,4 43,3 No Panen (bulan) Jumlah Mangga yg Masuk (kg)
Tingkat Kerusakan Mekanis (%) Jumlah Ekspor
(kg) Tidak
Bertangkai
Luka Memar
(Benturan) Luka Gesekan
(%) (kg) (%) (kg) (%) (kg) (%) (kg) 1. Mei (off - season) 6.000 2,1 126 6,2 372 10,5 630 18,8 4.872 2. Juni (off - season) 7.000 3,2 224 4,6 322 18,7 1.309 26,5 5.145 3. Juli (off - season) 6.550 1,0 66 4,2 275 11 721 16,2 5.489 Rata-rata 2,1 5,0 13,4 20,5
Lampiran 2. Proses Pemeriksaan Kesesuain Dimensi Elemen-Elemen Dalam Model Persediaan Mangga Gedong Gincu Untuk Ekspor
Cpbt : Biaya penyusutan bobot selama periode t (Rp) Cpmt : Biaya penurunan mutu selama periode t (Rp) Cst : Biaya simpan selama periode t (Rp)
Cp : Biaya pesan per sekali pesan (Rp/jumlah pesan) Cs : Biaya simpan per unit (Rp/ton)
Cpb : Biaya penyusutan bobot per unit (Rp/ton) Cpm : Biaya penurunan mutu per unit t (Rp/ton) D : Jumlah permintaan buah selama T (ton)
h : Fraksi biaya simpan per unit per periode perencanaan J : Harga jual buah kualitas non ekspor per unit (Rp/ton) P : Harga jual buah ekspor per unit (Rp/ton)
J : Harga jual buah yang sudah busuk/rusak per unit (Rp/ton) R : Harga bahan baku per unit (Rp/ton)
B : Harga beli ke petani (Rupiah) Q : Jumlah buah yang dipesan (ton) Qb : Jumlah buah yang rusak (ton) Qi : Jumlah buah yang tersedia (ton) t : Kurun waktu (periode) pesanan (bulan) T : Periode perencanaan, (bulan)
tb : Umur simpan buah mangga (bulan)
� = 1 2 . . 1− − � Cs + �. + − 2� 1 −1 − � + − � . . − − 0.1 �� ℎ = 1 2 � . . 1− − �. .� . Rupiah ton. bulan + �� ℎ . + �� ℎ − �� ℎ 2 � � 1 − 1 − �. .� + �� ℎ − �� ℎ . . − � −0.1� � �� ℎ = 1 2 � . . 1− − �. .� . Rupiah ton. bulan + �� ℎ . + �� ℎ − �� ℎ 2 �� 1 − 1 − �. .� + �� ℎ − �� ℎ . . − � −0.1� �
�� ℎ= 1 2 � . . . Rupiah ton. bulan + �� ℎ . + �� ℎ − �� ℎ 2 �� 1 − 1 + �� ℎ − �� ℎ . �� ℎ = 1 2 � . Rupiah bulan + �� ℎ + �� ℎ − �� ℎ �� + �� ℎ − �� ℎ �� ℎ = 1 2 Rupiah + �� ℎ + �� ℎ − �� ℎ + �� ℎ − �� ℎ
Lampiran 3. Daftar Jumlah Pohon Mangga Gedong Gincu Menurut Kecamatan di Kabupaten Cirebon Tahun 2011
No. Kecamatan Gedong Gincu
(pohon) Mangga lainnya (pohon) Jumlah keseluruhan (pohon) 1. Waled 4.726 9.473 14.199 2. Pesaleman 724 6.155 6.879 3. Ciledug 1.115 8.512 9.627 4. Pabuaran 484 7.907 8.391 5. Losari 18.081 16.325 34.406 6. Pabedilan 248 4.709 4.957 7. Babakan 982 9.212 10.194 8. Gebang 1.117 4.933 6.050 9. Karangsembung 785 3.919 4.704 10. Karangwereng 1.215 13.433 14.648 11. Lemahabang 12.427 37.282 49.709 12. Susukan lebak 1.578 13.304 14.882 13. Sedong 43.254 86.060 129.314 14. Astanajapura 19.419 32.311 51.730 15. Pangenan 54 340 394 16. Mundu 2.674 6.216 8.890 17. Beber 31.765 33.919 65.684 18. Cirebon Selatan 11.981 2.531 14.512 19. Sumber 2.252 3.150 5.402 20. Dukupuntang 30.617 71.440 102.057 21. Palimanan 4.562 39.797 44.359 22. Gempol 1.786 22.396 24.182 23. Plumbon 787 13.558 14.345 24. Depok 1.154 16.897 18.051 25. Weru 542 2.484 3.026 26. Plered 642 4.427 5.069 27. Kedawung 1.318 9.267 10.585 28. Tengah Tani 1.854 16.005 17.859 29. Cirebon Utara 2.487 29.958 32.445 30. Kapetakan 754 27.057 27.811 31. Klangenan 2.854 34.697 37.551 32. Arjawinangun 1.645 10.865 12.510 33. Panuragan 458 2.347 2.805 34. Ciwaringin 624 2.856 3.480 35. Susukan 5.465 21.990 27.455 36. Gegesik 425 2.805 3.230 37. Kaliwedi 2.453 11.347 13.800 Jumlah 215.308 639.884 855.192
Lampiran 4. Daftar Nomor Registrasi Kebun Buah Mangga Gedong Gincu Kecamatan di Kabupaten Cirebon
No. Nama KTB Luas
Lahan (Ha) No. Registrasi
Tanggal registrasi
1. Sri Makmur 3 GAP 01-32.09.21-I.036 26-02-2009 2. Sukamulya 5 GAP 01-32.09.1-I.036 Mei 2008 3. Subur Makmur 1 GAP 01-32.09.17-I.036 26-02-2009 4. Samoja 1 GAP 01-32.09.9-I.036 07-10-2008 5. Sukamulya 1 GAP 01-32.09.8-I.036 06-10-2008 6. Makmur Jaya 2 GAP 01-32.09.32-I.036 26-12-2009 7. Sugihmurti 2 GAP 01-32.09.7-I.036 06-10-2008 8. Pakembaran 3 GAP 01-32.09.6-I.036 06-10-2008 9. Datar Indah 1 GAP 01-32.09.10-I.036 07-10-2008 10. Subur Makmur 3 GAP 01-32.09.19-I.036 26-02-2009 Sumber : Diolah dari Departemen Pertanian Provinsi Jawa Barat tahun 2010
Lampiran 5. Indeks Kematangan Mangga Gedong Gincu (Deptan, 2005)
*hsbm = hari sesudah bunga mekar Kematangan 70%
Umur buah : 90 – 100 hsbm*
Warna kulit buah : seluruh bagian buah masih berwarna hijau
Kematangan 85%
Umur buah : 110 – 120 hsbm*
Warna kulit buah : bagian atas ujung buah berwarna hijau tua dengan pangkal buah berwarna merah
Kematangan 80%
Umur buah : 95 – 100 hsbm*
Warna kulit buah : bagian atas ujung buah berwarna hijau tua dengan pangkal buah berwarna orange
Kematangan 95% (siap konsumsi)
Umur buah : 125 hsbm*
Warna kulit buah : bagian ujung dan tengah buah berwarna kuning dengan pangkal buah berwarna merah
Kematangan 100% (over ripe)
Umur buah : 130 hsbm*
Warna kulit buah : bagian ujung dan tengah buah berwarna kuning kemerahan dengan pangkal buah berwarna merah
Lampiran 6. Penerapan SOP Oleh Petani SOP di Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon
Aktifitas SOP Realisasi SOP oleh Petani
SOP
Pemangkasan Pangkas cabang yang bersudut
kecil, dahan dan ranting yang rapat, ranting yang terserang hama, lalu bakar pada tempat yang sudah disediakan
Memangkas cabang yang mati dan digunakan sebagai bahan bakar
Pemupukan Dilakukan pada saat
menjelang betbunga, saat buah sebesar kelereng, awal musm dengan komposisi pupuk Urea (N), SP 36, KCL, dan pupuk kandang
Dilakukan pada awal musim dengan pupuk kandang dan pupuk kimialainnya (Urea, Ponska, NPK,ZPT,TSP,ZA). Pemupukan dilakukan 1-2 bulan setelah awal musim
Penyiangan Penyiangan dengan mencabut
dan membersihkan gulma dengan herbisida
Dilakukan dengan mencabut dan menggunakan herbisida
Pengairan Dilakukan sebelum panen,
saat buah sebesar bola pimpong dengan volume tertentu
Dilakukan secara alami dan penyemprotan dengan volume air secukupnya.
Penjarangan buah Dilakukan saat buah
berukuran sebesar bola pimpong dan menyisakan 2-3 buah serta memotong tangkai buah yang tidak baik
Dilakukan dengan membuang buah yang kecil dan berpotensi untuk tidak berkembang
Pembungkusan buah Membungkus buah dengan
kain pembungkus. Warna kain pembungkus dibedakan sesuai umur buah dan ditandai untuk memudahkan pemanenan.
Hampir tidak ada petani yang melakukan. Hanya petani KTB Sukamulya yang melakukan pembungkusan buah.
Pengendalian Operasi Pengganggu Tanaman (OPT)
Memantau dan melakukan tindakan sesuai dengan OPT menggunakan cara biologi, kimiawi dan mekanik .
Memantau dan melakukan tindakan sesuai OPT dengan cara kimiawi
Pemanenan Brongsong dan tangkai buah
disertakan. Tangkai disisakan sepanjang 10 cm
Dilakukan dengan alat berupa caduk besi dan gunting sesuai letak buah
Pascapanen Meliputi pengumpulan,
sortasi, grading, pelabelan, pengemasan, penyimpanan, dan distribusi.
Hanya melakukan pengumpulan, sortasi dan ditribusi. Grading, pelablean, dan oengemasan dilakukan oleh pedagang pengumpul besar.
Lampiran 7. Penjelasan Persamaan (36 ) Sampai Dengan Persamaan (37) =1 2. . − . . …(36) = 1 2 0 . . − . .
Sifat integral � � �= � � � , dengan c konstanta sembarang
Dengan demikian :
=1 2 0
− . .
Fungsi integral − −
0 diselesaikan dengan menggunakan aturan substitusi.
Misalkan :
= −
= − .t …(i)
Aturan pangkat Jika n bilangan bulat positif, maka
� �� =���−� maka, =− . 1. (1−1) =− . 0 =− . 1 =− =− =− .
Dari persamaan (i), saat t = 0, maka u = − 0
tb . = 0 dan saat t = t, maka u = − t tb sehingga : =1 2 0 − . . =1 2 − 0 . − .
= 1 2 − . − 0 . = 1 2 − . . − 0 = 1 2 − . . . 0 − = 1 2 − . . . − − − . . . 0 = 1 2 − . . . − + . . . 1 = 1 2 − . . . − + . . = 1 2 − . . − −1 = 1 2 − . − −1 = 1 2 . − − + 1 = 1 2 . . 1− − …(37)
Teorema dasar yang digunakan dalam penyelesaian Persamaan (36) sampai dengan Persamaan (37) dapat dilihat pada Lampiran 9.
Lampiran 8. Penjelasan Persamaan (40 ) Sampai Dengan Persamaan (41) � = � . …(40) = � 0 = (1− 0 − � ) = 1− 0 − � ) = 1 − 0 − � 0 ) = (1 −0 − − � 0 ) …(i)
Fungsi integral 0 −� diselesaikan dengan menggunakan aturan substitusi. Misalkan : = − � = − � . …(ii) maka, =− � . 1. (1−1) =− � . 0 =− � . = −� = −� …(iii)
Dari persamaan (ii), saat Q = 0, maka u = − T
Dtb . 0 = 0 dan saat Q = Q, maka u = − T Dtb . Q , sehingga : − � 0 = − � . 0 −� = −� − � . 0 = −� ( 0 − � . ) = −� ( − � − 0) = −� ( − � −1) = − � ( − � −1) …(iv)
Persamaan (iv), disubsitusikan ke persamaan (i), maka :
� = (1 −0 − − � 0 ) …(v) = 1 −0 − − � − � −1 = 1 −0 + � − − � −1 = 1 −0 − � − − � + 1 = −0 − � 1− − � = − � 1− − � � = − � 1− − � …(41)
Teorema dasar yang digunakan dalam penyelesaian Persamaan (40) sampai dengan Persamaan (41) dapat dilihat pada Lampiran 9.
Lampiran 9. Teorema Dasar Yang Digunakan Dalam Penyelesaian Persamaan (37) Sampai Dengan (41)
Sifat integral tentu (Stewart, 1999)
1. � � = � � , dengan c konstanta sembarang 2.
� − (�) � = � � − � �
Teorema dasar kalkulus (Stewart, 1999) :
Jika f kontinu pada (a,b), maka :
�= (�) = − ( ) = ( − ) , dengan c konstanta sembarang
Aturan Subtitusi dalam persamaan Integral (Stewart, 1999) :
�′ � ′ � �= � � +
karena menurut Aturan Rantai, � � � = �′ � ′ � �
Jika kita membuat “penggantian variable” atau “pen-subsitusian” u = g(x), maka kita mempunyai :
�′ � ′ � �= � � + =� + = �′
Atau, dengan menuliskan F’ = f, maka diperoleh : �′ � ′ � �= �′
Dengan demikian, jika u = g(x) adalah fungsi terdiferensialkan, maka : �′ � ′ � �= �′
Rumus dasar Integral (Stewart, 1999) :
� � = � +
Aturan Pangkat dalam rumus turunan (Stewart, 1999) :
Jika n bilangan bulat positif, maka : � � = � −1
Lampiran 10. Codex Standard For Mangoes (Codex Stan 184-1993)
CODEX STANDARD FOR MANGOES (CODEX STAN 184-1993) 1. DEFINITION OF PRODUCE
This Standard applies to commercial varieties of mangoes grown from Mangifera indica L., of the Anacardiaceae family, to be supplied fresh to the consumer, after preparation and packaging. Mangoes for industrial processing are excluded.
2. PROVISIONS CONCERNING QUALITY 2.1 MINIMUM REQUIREMENTS
In all classes, subject to the special provisions for each class and the tolerances allowed, the mangoes must be:
- whole;
- sound, produce affected by rotting or deterioration such as to make it unfit for consumption is excluded;
- clean, practically free of any visible foreign matter; - practically free of damage caused by pests;
- free of abnormal external moisture, excluding condensation following removal from cold storage;
- free of any foreign smell and/or taste; - firm;
- fresh in appearance;
- free of damage caused by low temperatures; - free of black necrotic stains or trails; - free of marked bruising;
- sufficiently developed and display satisfactory ripeness. -When a peduncle is present, it shall be no longer than 1 cm.
2.1.1 The development and condition of the mangoes must be such as to enable them: - to ensure a continuation of the maturation process until they reach the appropriate
degree of maturity corresponding to the varietal characteristics; - to withstand transport and handling; and
- to arrive in satisfactory condition at the place of destination.
In relation to the evolution of maturing, the colour may vary according to variety.
2.2 CLASSIFICATION
Mangoes are classified in three classes defined below: 2.2.1 “Extra” Class
Mangoes in this class must be of superior quality. They must be characteristic of the variety. They must be free of defects, with the exception of very slight superficial defects, provided these do not affect the general appearance of the produce, the quality, the keeping quality and presentation in the package.
2.2.2 Class I
Mangoes in this class must be of good quality. They must be characteristic of the variety. The following slight defects, however, may be allowed, provided these do not affect the general appearance of the produce, the quality, the keeping quality and presentation in the package:
- slight defects in shape;
- slight skin defects due to rubbing or sunburn, suberized stains due to resin exudation (elongated trails included) and healed bruises not exceeding 3, 4, 5 cm² for size groups A,