Titik pemeliharaan ulat instar IV yaitu diitekankan pada
pemeliharaan lingkungan yang bebas penyakit dan cukup pakan daun
murbei segar serta bergizi tinggi sehingga ulat sutera akan tumbuh
dengan baik dan sehat. Sementara pada instar V, pemberian pakan
menjadi kunci utama pemeliharaan. Ruang pemeliharaan juga harus
mendapatkan cahaya dan aliran udara yang baik serta tidak berdekatan
dengan bau-bau yang menyengat seperti bau kandang sapi atau
kambing, dan bau sampah.
c. Jumlah Anggota Plasma (JAP)
Sebuah mitra plasma biasanya terdiri atas beberapa orang
anggota. Mereka yang tergabung menjadi satu kelompok plasma
biasanya mempunyai hubungan kekerabatan atau hubungan jarak
rumah yang berdekatan.
d. Kualitas Kokon (KK)
Kualitas kokon merupakan salah satu factor penentu untuk
menghasilkan benang sutera yang baik disamping peralatan produksi
dan kualitas air yang digunakan serta keterampilan tenaga yang
mengolahnya. Baik buruknya kualitas kokon ditentukan oleh beberapa
74
factor, antara lain jenis ulat sutera, teknologi, dan peralatan yang
digunakan, kondisi lingkungan, dan penanganan pasca panen.
e. Teknologi dan Keuletan (TK)
Teknologi yang digunakan dalam pembesaran ulat dan produksi
kokon serta keuletan dari tenaga yang menanganinya, juga merupakan
salah satu hal terpenting yang dapat meningkatkan kualitas kokon
yang dihasilkan.
Faktor LP SP JAP KK TK
LP 1/2 3 1/5 1/3
SP 5 1/3 1/5
JAP 1/4 1/5
KK 2
TK
2. Penentuan Bobot AKTOR dalam Penentuan Strategi Pemilihan Plasma
Unggul
Aktor yang dipertimbangkan dalam rangka penentuan strategi
pemilihan plasma unggul adalah sebagai berikut :
a. Badan Litbang atau Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial
(RLPS)
Pihak pemerintah yang melakukan pembinaan terhadap pelaku
budidaya persuteraan alam dan penyuluhan dalam rangka penyebaran
informasi dan peningkatan pengetahuan untuk mengembangkan
kegiatan persuteraan alam.
b. Kelompok Petani Ulat (Plasma)
Pihak yang melakukan serangkaian kegiatan mulai dari
membesarkan ulat pada instar IV dan V, memproduksi kokon,
melakukan penanganan pasca panen sampai pada menjual hasil
produksi kepada perusahaan inti.
75
c. Perusahaan Inti
Pihak yang menjalin mitra dengan kelompok plasma dalam
membantu kegiatan agroindustri persuteraan alam. Pihak ini
bertanggung jawab dalam mendistribusikan ulat-ulat kepada plasma
untuk dipelihara, membeli hasil produksi plasma berupa kokon, dan
mengontrol kinerja kelompok plasma.
1) Dalam kaitannya dengan faktor Lokasi Pemeliharaan, bandingkanlah
besarnya peranan aktor-aktor berikut ini :
Aktor RLPS Kelompok
Plasma Perusahaan Inti
RLPS 2 1/5
Kelompok
Plasma 1/4
Perusahaan Inti
2) Dalam kaitannya dengan faktor Sarana dan Prasarana, bandingkanlah
besarnya peranan aktor-aktor berikut ini :
Aktor RLPS Kelompok
Plasma Perusahaan Inti
RLPS 2 1/5
Kelompok
Plasma 1/4
Perusahaan Inti
3). Dalam kaitannya dengan faktor Jumlah Anggota Plasma, bandingkanlah
besarnya peranan aktor-aktor berikut ini :
Aktor RLPS Kelompok
Plasma Perusahaan Inti
RLPS 1/3 1/3
Kelompok
Plasma 2
76
4). Dalam kaitannya dengan faktor Kualitas Kokon, bandingkanlah
besarnya peranan aktor-aktor berikut ini :
Aktor RLPS Kelompok
Plasma Perusahaan Inti
RLPS 1/5 1/3
Kelompok
Plasma 3
Perusahaan Inti
5). Dalam kaitannya dengan faktor Teknologi dan Keuletan, bandingkanlah
besarnya peranan aktor-aktor berikut ini :
Aktor RLPS Kelompok
Plasma Perusahaan Inti
RLPS 1/3 2
Kelompok
Plasma 5
Perusahaan Inti
3. Penentuan Bobot STRATEGI dalam Penentuan Strategi Pemilihan
Plasma Unggul
Strategi yang dipertimbangkan dalam rangka penentuan strategi
pemilihan plasma unggul adalah sebagai berikut :
a. Memilih Lokasi Produksi sesuai Topografi Terbaik (LPT)
Lokasi pembesaran ulat dan produksi kokon sangat menentukan
hasil akhir dari produk turunan sutera ini. Kondisi lingkungan yang baik
dalam pemeliharaan ulat besar adalah pada suhu 22-25
oC dan kelembapan
70-75% pada daerah dengan ketinggian 400-900 m dpl. Sementara,
murbei yang merupakan pakan utama ulat, tumbuh di ketinggian
200-1200 m dpl dan suhu 24-28
oC.
b. Memiliki Sarana dan Prasarana yang Memadai (SPM)
Titik pemeliharaan ulat instar IV yaitu diitekankan pada
pemeliharaan lingkungan yang bebas penyakit dan cukup pakan daun
murbei segar serta bergizi tinggi sehingga ulat sutera akan tumbuh dengan
baik dan sehat. Sementara pada instar V, pemberian pakan menjadi kunci
utama pemeliharaan. Ruang pemeliharaan juga harus mendapatkan
cahaya dan aliran udara yang baik serta tidak berdekatan dengan bau-bau
yang menyengat seperti bau kandang sapi atau kambing, dan bau sampah.
77
c. Memiliki Jumlah Anggota Mitra yang Riil (JMR)
Sebuah mitra plasma biasanya terdiri atas beberapa orang anggota.
Mereka yang tergabung menjadi satu kelompok plasma biasanya
mempunyai hubungan kekerabatan atau hubungan jarak rumah yang
berdekatan.
d. Mengikuti Pelatihan (MP)
Pelatihan mengenai budidaya sutera biasanya diberikan oleh RLPS
yang bekerja sama dengan perusahaan inti untuk meningkatkan ilmu
pengetahuan dan kinerja yang dimiliki oleh petani plasma.
e. Membesarkan Ulat dan Memproduksi Kokon sesuai Prosedur
(MMP)
Dalam membesarkan ulat dan memproduksi kokon, plasma
sebaiknya menggunakan prosedur yang telah ditetapkan, karena tidak
sedikit plasma yang beranggapan bahwa kondisi dalam prosedur
pemeliharaan berbeda dengan kondisi nyata di lapangan sehingga banyak
plasma yang mengambil tindakan sendiri.
1). Dalam kaitannya dengan aktor RLPS, bandingkanlah besarnya
peranan strategi-strategi berikut ini :
Strategi LPT SPM JMR MP MMP
LPT 1/5 3 1/2 ¼
SPM 5 2 1/3
JMR 1/2 1/3
MP 1/4
MMP
2). Dalam kaitannya dengan aktor Perusahaan Inti, bandingkanlah
besarnya peranan strategi-strategi berikut ini :
Strategi LPT SPM JMR MP MMP
LPT 3 7 2 1/3
SPM 5 3 1/2
JMR 1/5 1/7
MP 1/5
MMP
78
3). Dalam kaitannya dengan aktor Plasma, bandingkanlah besarnya
peranan strategi-strategi berikut ini :
Strategi LPT SPM JMR MP MMP
LPT 1/3 1/3 2 1/4
SPM 5 5 1/2
JMR 2 1/4
MP 1/5
MMP
62 Lampiran 3. Produksi kokon dan raw silk di wilayah Indonesia dalam waktu lima tahun
63 Lampiran 4. Standar mutu kokon kering berdasarkan SNI
Kokon adalah materi yang dibuat oleh alat sutera (Bombyx Mori L.). Pada fase metamorfosa (proses pembentukan pupa), yang terdiri dari kulit kokon dan pupa. Kulit kokon merupakan materi lapisan serat sutera alam yang terdiri dari seirisin dan fibroin yang berfungsi sebagai pembungkus pupa.
Adapun klasifikasi kokon segar dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu kokon normal dan kokon tidak normal (cacat). Kokon normal adalah kokon yang bersih, sehat, dan tidak cacat dan pada umumnya berbentuk telur. Kokon tidak normal adalah kokon cacat yang bentuk dan warna fisiknya tidak normal, terdiri atas :
1. Kokon yang berbentuk aneh adalah kokon yang bentuknya tidak wajar seperti kerucut, besar sebelah atau tidak beraturan.
2. Kokon bertekuk adalah kokon yang bagian tengah atau tepinya bertekuk. 3. Kokon berlubang adalah kokon yang kulit kokonnya berlubang.
4. Kokon tercetak adalah kokon yang yang mempunyai noda disebabkan teretak oleh alat pengokon.
5. Kokon ujung tipis adalah kokon yang kulit bagian ujungnya tipis. 6. Kokon kembar merupakan kokon yang berisi dua pupa atau lebih.
7. Kokon kotor dalam adalah kokon yang kulit bagian dalamnya mengandung kotoran. 8. Kokon kotor luar adalah kokon yang kulit bagian luarnya terkena kotoran yang berasal
dari ulat lain atau ulat mati.
9. Kokon lembek adalah kokon yang sebagian besar kulitnya tipis.
Untuk berat kokon kering, selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :
No Parameter yang Diuji Satuan
Utama Pertama Kedua Ketiga 1 Berat kokon gr/butir >-2.0 1.7-1.9 1.3-1.6 <1.3 2 Kulit kokon % >-23.0 20.0-22.9 17.0-19.9 <17.0 3 Kokon cacat % >-2.0 2.0-5.0 5.1-8.0 <8.0
64
KUISIONER
Penggunaan Analytical Hierarchy process (AHP) untuk
STRATEGI PEMILIHAN ATRIBUT PENILAIAN KINERJA
RANTAI PASOK SUTERA ALAM
Hasil pengisian kuisioner ini akan digunakan untuk keperluan memenuhi tugas
akhir (skripsi) oleh Kusuma Ratih (F34062004) di Departemen Teknologi Industri
Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Nama Responden :
Jabatan :
Tanggal Pengisian :
Tandatangan :
65