• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV STRUKTUR BATIN SEPULUH PUISI PADA

5.2 Saran

Melalui penelitian struktur batin sepuluh puisi pada kumpulan puisi Dalam Matahari ini, peneliti mengajukan saran seperti berikut:

1) Untuk penyair sastra: diharapkan dapat mengungkapkan struktur batin puisi dengan cermat melalui penggunaan kata –kata kunci yang mengacu pada jenis struktur batin puisi tersebut.

2) Untuk pembaca sastra: diharapkan dapat melihat pengaplikasian struktur batin dari berbagai sudut pandang. Pembaca sastra harus kritis dalam menganalisis struktur puisi, karena tanggapan pembaca ketika membaca puisi dapat berbeda dengan pengalaman batin penyair ketika menciptakan puisi.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin, 2000.Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Ariyati, Risky Ananda dan Nuqul Fathul Lubabin, 2016. “Gaya Cinta (Love Style) Mahasiswa”. Jurnal Psikologi Islam (JPI). Pusat Penelitian dan Layanan Psikologi Malang: Volume 13, Nomor 2, Tahun 2016.

Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.

Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Darlis, 2016.“ Struktur Batin Lima Puisi Chairil Anwar dalam Kumpulan Puisi Aku Ini Binatang Jalang”. Jurnal Bahasa (Bahasa dan Sastra). FKIP UHO: Volume 2, Nomor 1, Juli 2016.

Djojosuroto, Kinayati. 2006. Pengajaran Puisi. Analisis dan Pemahamannya.

Bandung: Nuansa.

Djojosuroto, Kinayati dan Sumaryati, M.L.A. 2000.Prinsip –Prinsip Dasar Penelitian Bahasa dan Sastra. Bandung: Nuansa.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Media Pressindo:

Yogyakarta.

Handayani, RT. 2017. Metode Penelitian. Malang: Eprints UMM.

Hariningtyas, Ervin. 2011. “Analisis Struktur Kumpulan Puisi Aku Ini Puisi Cinta Karya Abdurahman Faiz dan Kesesuaiannya Sebagai Materi Pembelajaran Apresiasi Puisi pada Jenjang SMP” (Skripsi). Surakarta:

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USM.

Haqani, luqman. 2002. Ungkapan Isi Hati Melalui Puisi. Bandung: Penamedia.

Isnainiyah, Miskiyatun. 2015. “Struktur Fisik dan Struktur Batin Antologi Geguritan Kristal Emas Karya Suwardi Endraswara dan Rencana Pelaksanaan Pembelajarannya di Kelas XI SMA” (Jurnal). Purworejo:

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa UMP.

Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lofland, Jhon. 2003. Protes: Suatu Tentang Perilaku Kelompok dan Gerakan Sosial (Diterjemahkan oleh Luthfi Ahsari). Yogyakarta: INSIST Press.

Muntazir, 2017.“Struktur Fisik dan Struktur Batin pada Puisi Tuhan, Aku Cinta Padamu Karya WS Rendra” Jurnal Persona (Online).https://doi.org/

10.26638/jp.448.2080. Diakses 2017.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta. Gadjah Mada.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta.Gadjah Mada University Press.

Refly, 2006. Puisi-Puisi Puisi Rupa, Rupa-Rupa Rupa Puisi ‘Made Wianta’.

Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Rokhmasyah, Alfian. 2014. Studi dan Pengkajian Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sayuti, Suminto. 1985. Puisi dan Pengajarannya. Yogyakarta: IKIP Semarang Press

Sehandi, Yohanes. 2016. Mengenal 25 Teori Sastra. Jakarta: Ombak.

Sibarani, Robert. 2014. Kearifan Lokal. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.

Silalahi, Antonius. 2004. Bara Hati. Medan: Sastera Leo.

Silalahi, Antonius. 2005. Dalam Matahari. Medan: Sastera Leo.

Silalahi, Antonius. 2008. Dari Langit. Medan: Diamond Westerns.

Siregar, Ahmad Samin. 1994. Apresiasi Puisi. Medan: USU PRESS

Siregar, Ahmad Samin. 1997. “Dendang I” Sastra Tradisi di Indonesia. Medan:

Universitas Sumatera Utara Press.

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.

Siswantoro, 2010.Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Situmorang, B.P. 1983. Puisi: Teori Apresiasi Bentuk dan Struktur. Ende: Nusa Indah.

Suroto, 1989. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Sutoyo, 2006.“Konsep Kedaulatan Rakyat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.lab. pancasila.um.ac.id. Diakses. Juni 2016.

Umry, Shafwan hadi. 1997. Apresiasi Sastra. Medan: Yayasan Pustaka Wina.

Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Waluyo, Herman J. 2003. Apresiasi Puisi : untuk Pelajar dan Mahasiswa.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Zainuddin.1992. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Rineke Cipta.

LAMPIRAN

Lampiran 1: Sepuluh puisi pada kumpulan puisi Dalam Matahari 1. Meledakkan Pesawat Diskriminasi

Sudahlah kecewa itu ijinkan pergi

Bersihkan ruang hati dari sampah sampah Kepedihan dan putus asa

Tutup biar tak kembali masuk

Oleh angin yang berhembus tak pernah sepoi Hentakkan tanpa henti pacul-paculmu

Keringat yang mengalir deras Mengucur ke bumi

Akan tumbuh menjadi gunung-gunung menjulang tinggi Dan pesawat diskriminasi itu

Tak kuasa melampaui lalu meledak dan mati

2. Tuhan

Jika aku dan sahabatku datang padamu Siapakah yang kau salam dari antara kami Aku orang yang tidak dapat melihat Saban hari meraba-raba

Hingga tanganku tak pernah bersih Sahabatku orang yang dapat melihat Tak perlu meraba-raba

Hingga tangannya senantiasa bersih Akan tetapi Tuhan

Aku telah membasuh tanganku hingga bersih Di bejana yang tersedia di muka pintuMu

Sedang sahabatku tidak

Siapakah yang kau salam dari antara kami Lalu masuk turut dalam perjamuanMu

3. Tanah Air Menyerpih Duka Tanah air menyerpih duka

Secercah harapan wajah-wajah Terusir dari nurani didesak nafsu Lahap segala milik

Dan sejuta wajah terlunta-lunta pada gersanganya kota Tanah air menyerpih duka

Punahnya sejarah dibenak-benak kaula Dan kekosongan nasionalisme melanda Merobohkan pilar-pilar patriotik

Yang kokoh kala desingan peluru Menghujan di persada nusantara Tanah air menyerpih duka

Di dinding-dinding ingatan potret bunda Terpajang semakin miring

Semakin miring Didesak potret-potret Bugil dari benua sinting Tanah air menyerpih duka

Kian mengkristal di era pengrusakan ini

4. Orang Kecil Belum berubah

Orang kecil menjadi peluru dan belati Bagi orang-orang yang kesulitan Memperoleh kursi

Dan orang-orang kecil kembali disimpan Di kolong-kolong jok mobil

Di kolong-kolong tempat tidur Siap ditembakkan

Siap ditikamkan

Ketika musuh mendekat Dan kursi mulai goyang

5. Penjanji

Episod demi episod bermula dan berakhir Seperti awan yang menjadi hujan

Dan kembali menjadi awan Mengapa penantianku tak putus

Sambung menyambung dari dinasti ke dinasti Kemarin ada janji membangun irigasi

Agar tak susah cari beras Ada janji pendidikan gratis

Agar semuanya menjadi pintar dan terpandang Ada janji negeri tak lagi berdarah

Dan air mata berhenti

Tapi hari ini janji menjawab janji Apakah aku tong penampung janji Mengapa tak jua penuh dan berganti Kini episod tiga ribu satu

Masih menanti

Lapar, bodoh, dan was-was

6. Dalam Matahari Harta karun dalam matahari Takkan ada yang mencuri Apalagi jatuh tempo

Membuat pemilik harta karun itu Tak peduli dan masa bodoh Ketika nestapa ambil posisi Umpatan dan penyesalan

Berhamburan menggelapkan cuaca Namun matahari tak dendam Walau kabut tak henti merayu

Mendung tak bosan berpura-pura melarat Berharap harta karun itu untuknya

Berhentilah membuka pintu bagi nestapa Hampiri matahari yang lelah

Dengan harta karun itu

7. Namamu

Namamu hanyutkan gunung hari-hariku Aku berlayar di atasnya dinakhodai gelisah Tapi tepi hatimu tak jua kusentuh

Ragu begitu cemburu lantas menikam

Gelisahku padamu aku terdampar di benua redam Namun cuma sekejab

Gelisahku hidup kembali

Menuju hatimu Tapi tak jua sampai

Lagi-lagi ragu melintang sigap Ah, kau

Hanya kau yang mampu mendamaikan Ragu dan gelisah

Sebab namamu yang terlukis di lempeng ingatan Menjadikan ragu dan gelisah musuh bebuyudan Dan aku gila karenanya

8. Perempuanku Lihatlah perempuanku

Aku datang membawa matahari Yang kurebut dari simson

Lihatlah bekas-bekas pertarungan di sekujur tubuhku Mengapa kau hanya diam membelai mawar

Yang tak lama lagi layu Meninggalkan cerita picisan

Terimalah matahari ini perempuanku Inilah kehidupan yang akan terus hidup Seperti cintaku padamu

Berhentilah berharap sepoi angin berhembus Hanya lenakan dirimu sesaat

Setelah itu gerah mendera Dan kau sibuk mencariku

Terimalah matahari ini perempuanku Inilah kehidupan yang akan terus hidup Seperti cintaku padamu

9. Sebatang kara

Keras tangisku menggetarkan gunung Menerobos jauh ke rahim bumi

Menggemparkan samudra dan rimba raya Namun nuranimu tak jua bergetar

Untuk mengganti popokku Menaruh dot dalam mulutku Aku sendiri menganyam hari-hari Dewasa dalam asuhan lara

Menjadi orang tak kenal ayah Tak kenal ibu

Hanya sepenggal kisah kubaca

Di dinding-dinding selokan jalan raya Menjadi teka-teki untukku

Aku anak siapa

10. Ibu

Begitu pendek dan sempit

Jalan yang kau buka untuk kulalui Sementara kubaca mimpimu Di dinding tepas rumah kita Begitu panjang dan lebar

Ibu, di jalan yang pendek dan sempit Kini aku bergumul

Dan di depan sebuah pintu Aku tengah mengetuk

Lampiran 2: Biografi Penyair

Antonius Silalahi adalah seorang penyair dari Medan, Sumatera Utara.Beliau lahir di Pematang Siantar, tanggal 21 Mei 1973.Penyair yang bernama lengkap Silferius Antonius Arison Silalahi ini lahir dari pasangan Tarianus Silalahi dan Theresia Simbolon.Antonius sendiri lahir dengan keadaan normal tetapi pada umur 9 tahun Antonius menjadi tunanetra. Ibunya meninggal dunia ketika beliau masih berumur lima tahun (1978), sedangkan ayahnya meninggal pada tanggal 2 Februari 1983. Sepeninggal kedua orangtuanya, Antonius dirawat oleh neneknya.

Tahun 1983, seorang biarawati keturunan Belanda bernama Jeanette bertemu dengan Anton.Biarawati itu pun membawa Anton ke Medan.Sejak 22 April 1983, Anton menempuh pendidikan di SLB Karya Murni Medan.Di SLB inilah Anton menamatkan pendidikannya dari bangku SD hingga tamat SMP (1990).Setelah tamat SMP Anton melanjutkan sekolahnya ke SMA Negeri 8 Bandung.Ditempat inilah Antonius belajar bersama siswa yang sehat secara fisik.Setelah tamat SMA beliau melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi IKIP Yogyakarta (1994-2000).Setelah memperoleh gelar Spd dari IKIP Yogyakarta, Antonius kembali ke Medan dan bergabung pada sebuah komunitas yaitu Pualam, sebuah rubrik RRI Pro-2 Medan.

Tahun 2006, Antonius menikah dengan seorang wanita yang jelita bernama Verawaty Ginting dan dikaruniai tiga orang anak.Anak pertama bernama Bara Bartolomeus Silalahi, anak kedua bernama Nafa Felicia Silalahi dan yang

terakhir bernama Fabiano Jubilate Silalahi. Mereka berdomisili di Jalan Besar Delitua, gang BG, Kecamatan Delitua, Medan.

Antonius Silalahi telah banyak menulis karya puisi, diantaranya: Bara Hati (2004), Dalam Matahari (2005), Dari Langit (2008), dan Bara Hati II (2013). Beliau juga menjadi seorang penulis lepas di berbagai media cetak seperti, Harian Analisa, Medan Bisnis, Gema Braile Bandung, Buletin Peka Jakarta, Buletin Suara Hati, Pelkris Semarang, dan menjadi staf lepas sebuah majalah Keuskupan Agung, Medan.

Selain menulis puisi, beliau juga ahli dalam menulis naskah drama.Tahun 2000, naskah dramanya yang berjudul Keringat Manusia dipentaskan di Jakarta.Sedangkan tahun 2004, naskah dramanya yang berjudul Balada Manusia Berlin dipentaskan di SLB Flores.Sampai saat ini Antonius masih aktif menulis berbagai genre puisi.

Tanggal 10 Juli 2017 tahun lalu, Antonius Silalahi mendapatkan juara II dalam lomba menulis artikel HUT Bhayangkara ke-71 yang diselenggarakan di Polrestabes Medan. Artikel yang ia tulis disambut baik oleh penonton sebagai salah satu karya tulis terbaik yang wajib diberikan apresiasi. Antonius Silalahi memeroleh piala sebagai kenang-kenangan dari kegiatan tersebut.

Lampiran 3: Dokumentasi Penelitian

Gbr 3.1 Wawancara dengan narasumber (Antonius Silalahi, 75 thn).

Gbr. 3.2 Antonius Silalahi ketika mengetik karyanya

Gbr. 3.3 Antonius Silalahi ketika mengetik surat balasan penelitian

Gbr. 3.5 Rumah Kediaman Antonius Silalahi

Gbr 3.6 Antonius Silalahi bersama keluarganya.

Lampiran 4: Surat Izin Penelitian

Lampiran 5: Surat Balasan Bukti Penelitian

Dokumen terkait