BAB III: STRUKTUR DAN TEKNIK PEMBUATAN GENDANG
5.2 Saran
Penelitian yang penulis lakukan masih dalam tahap kecil namun bermanfaat bagimasyarakat pendukung kebudayaan. Kiranya penelitian ini membuka jalan untuk penelitian berikutnya. Penulis berharap pemerintahan lebih memperhatikan kelestarian budaya dan bukan hanya kelestariannya saja, tetapi kehidupan para pembuat alat musik dan pemain musik tradisional Karo.
BAB II
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT KARO KECAMATAN TIGA
PANAH KABUPATEN KARO, DAN BIOGRAFI RINGKAS BAJI
SEMBIRING PELAWI SEBAGAI SENIMAN MUSIK TRADISIONAL
KARO
Bab ini menjelaskan tentang gambaran umum Kecamatan Tigapanah yang meliputi : letak geografis, penduduk, bahasa, mata pencaharian, sistem kekerabatan serta agama, kepercayaan adatistiadat serta biografi singkat Bapak Baji Sembiring Pelawi.
2.1 Letak Geografis
Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Karo memiliki luas wilayah mencapai 2.127,25 Km2 atau 2,97% dari luas Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Karo terletak pada Dataran Tinggi Bukit Barisan dan sebelah barat daya berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia serta merupakan daerah hulu sungai. Secara geografis Kabupaten Karo terletak pada koordinat 2050’ – 3019’ Lintang Utara dan 97055’ - 98038’ Bujur Timur.
Adapun batas wilayah Kabupaten Karo adalah sebagai berikut: a. Sebelah Utara : Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang b. Sebelah Selatan : Kabupaten Dairi dan Kabupaten Samosir c. Sebelah Barat : Provinsi Nangroe Aceh Darusalam
d. Sebelah Timur : Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun Keadaan alam Kecamatan Tigapanah adalah dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 1.192- 1.376 meter diatas permukaan laut, dan memiliki luas wilayah 186,86 Km². Kecamatan Tigapah berbatasan dengan :
b. Sebelah Selatan : Kecamatan Merek
c. Sebelah Barat : Kecamatan Juhar, Munte, dan Kabanjahe d. Sebelah Timur : Kecamatan Barusjahe dan Kecamatan Merek Kecamatan Tigapanah terdiri dari 26 desa, sebagian besar dari wilayah kecamatan ini digunakan sebagai tempat pemukiman penduduk, lahan pertanian dan perkebunan dan salah satunya adalah Desa Seberaya yang merupakan tempat dimana bapak Baji
Sembiring Pelawi tinggal bersama keluarganya, dan sekaligus menjadi tempat dimana beliau membuat instrumen musik karo.
Adapun batas-batas wilayah desa Seberaya adalah : a. Sebelah Utara : Desa Ajimbelang b. Sebelah Selatan : Desa Kutabale c. Sebelah Barat : Desa Leparsamura d. Sebelah Timur : Kutajulu
2.2 Keadaan Penduduk
Penduduk kecamatan Tigapanah pada saat ini berjumlah 29.593 jiwa yang terhimpun dalam 8.257Kepala Keluarga (KK). Mengenai keadaan penduduk dapat dilihat pada tabel-tabel dibawah ini.
Tabel 2.2.1
Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku di Kecamatan Tigapanah
No Suku Presentase 1 Karo 80 % 2 Toba 6 % 3 Simalungun 5 % 4 Mandailing 3 % 5 Pak Pak 2 % 6 Jawa 4 % Tabel 2.2.2
Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Tigapanah
No Wanita Pria Jumlah (Jiwa)
1 14.657 14.936 29.593
Tabel 2.2.3
Distribusi Sarana Pendidikan di Kecamatan Tigapanah
No SD SMP SMU
Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
Tabel 2.2.4
Distribusi Sarana Kesehatan di Kecamatan Tigapanah
No Rumah Sakit Puskesmas Pustu Polindes Posyandu
1 0 2 14 22 27
Tabel 2.2.5
Distribusi Tempat Peribadatan di Kecamatan Tigapanah
No Masjid/Mushola Gereja Kuil Vihara
1 5 67 0 0
Tabel 2.2.6
Komposisi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan di Kecamatan Tigapanah
No Jenis Pekerjaan Presentase
1 Petani 78 %
2 Pedagang 9 %
3 Pegawai Negeri Sipil 4 %
4 Pegawai Swasta 5 %
5 Buruh Harian Lepas 4 %
Sumber : Kantor Camat Pancur Batu Profil Kecamatan Pancur Batu, tahun 2009
Dari tabel 2 tersebut dapat disimpulkan bahwa pekerjaan yang paling mendominasi di Kecamatan Pancur Batu tersebut adalah sebagai petani, yang mencapai persentase hingga 72% dari total keseluruhan. kemudian diikuti oleh pedagang , pegawai
negeri sipil , karyawan dan buruh/ pegawai swasta. Penduduk di Kecamatan Pancur Batu tersebut tergolong memiliki jenis pekerjaan yang beragam.
Penduduk di Kecamatan Tigapanah menganut agama yang berbeda-beda diantara enam agama yang diakui di Indonesia. Untuk melihat komposisi penduduk di Kecamatan Pancur Batu berdasarkan agama yang dianut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.2.7
Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama di Kecamatan Tigapanah
No Agama Jumlah
1 Islam 2120 Orang
2 Kristen Protestan 19.778 Orang
3 Katholik 7687 Orang
4 Hindu 0
5 Budha 0
Jumlah 29.585 Orang
Sumber Kantor Camat Tigapanah Profil Kecamatan Tigapanah, tahun 2012 Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas penduduk Kecamatan Tigapanah memeluk agama Kristen Protestan dengan jumlah 19.778 orang dari total populasi yang ada. Sedangkan pada urutan yang kedua yaitu agama Khatolik berjumlah sebanyak 7687 orang dan sisanya menganut agama Islam, Hindu dan Budha.
2.3 Sistem Bahasa
Kecamatan Tigapanah adalah salah satu daerah di Kabupaten Tanah Karo yang penduduknya mayoritas suku Karo. Bahasa Karo merupakan bahasa ibu dari masyarakat Karo yang menetap dikecamatan Tigapanah. Hampir seluruh masyarakat Karo
menggunakan bahasa Karo sebagai media komunikasi dalam percakapan formal maupun percakapan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak penduduk yang tidak bersuku Karo pun mengerti bahasa ini, karena bahasa Karo lebih sering digunakan jika dibandingkan dengan bahasa nasional (bahasa indonesia). Hal ini mengharuskan mereka untuk beradaptasi dengan penduduk asli yang dalam kesehariannya menggunakan bahasa karo.
2.4 Sistem Kekerabatan
Setiap masyarakat memiliki suatu sistem kemasyarakatan yang mana sistem tersebut berfungsi untuk mengatur kehidupan masyarakat tersebut. Tatanan kehidupan bermasyarakat didalam masyarakat Karo yang paling utama adalah suatu sistem yang dikenal dengan Merga Silima. Merga berasal dari kata meherga (mahal), merga ini menunjukkan identitas dan sekaligus penentuan sistem kekerabatan orang Karo. Menurut keputusan Kongres Budaya Karo tahun 1995 di Berastagi, salah satu keputusan yang diambil adalah merga-merga yang terdapat dalam Merga Silima adalah: Ginting, Karo-karo, Tarigan, Sembiring, dan Perangin-angin.
Sementara Sub Merga dipakai dibelakang Merga, sehingga tidak terjadi kerancuan mengenai pemakaian Merga dan Sub Merga tersebut. Berikut akan disajikan Merga dan pembagiannya:
1. Ginting: Pase, Munthe, Manik, Sinusinga, Seragih, Sini Suka, Babo, Sugihen, Guru Patih, Suka, Beras, Bukit, Garamat, Ajar Tambun, Jadi Bata, Jawak, Tumangger, Capah.
2. Karo-karo: Purba, Ketaren, Sinukaban, Karo-karo Sekali, Sinuraya/ Sinuhaji, Jong/ Kemit, Samura, Bukit, Sinulingga, Kaban, Kacaribu, Surbakti, Sitepu, Barus, Manik.
3. Tarigan: Tua, Bondong, Jampang, Gersang, Cingkes, Gana-gana, Peken, Tambak, Purba, Sibero, Silangit, Kerendam, Tegur, Tambun, Sahing.
4. Sembiring: Kembaren, Keloko, Sinulaki, Sinupayung, Brahmana, Guru Kinayan, Colia, Muham, Pandia, Keling, Depari, Bunuaji, Milala, Pelawi, Sinukapor, Tekang.
5.Perangin-angin: Sukatendel, Kuta Buloh, Jombor Beringen, Jenabun, Kacinambun, Peranginangin Bangun, Keliat, Beliter, Mano, Pinem, Sebayang, Laksa, Penggarun, Uwir, Sinurat, Pincawan, Singarimbun, Limbeng, Prasi.
Dalam perkembangan lebih lanjut, maka merga itu berperan dalam menentukan hubungan kekerabatan antara masyarakat Karo. Garis keturunan yang berlaku pada masyarakat Karo adalah Patrilineal ( garis keturunan ayah). Oleh karena itu setiap orang Karo, pria maupun wanita mempunyai merga menurut merga ayahnya sedangkan untuk perempuan merga ayah ini disebut beru. Bagi masyarakat Karo, hubungan garis keturunan ini dikenal dengan sebutan tutur. Tutur adalah penarikan garis keturunan (lineage) baik dari keturunan ayah (patrilineal) maupun dari garis keturunan ibu (matrilineal) yang memiliki enam lapis, seperti yang terlihat dalam bagan berikut.
0---X 0---X Kampah Soler 0---X 0---X Binuang Kempu 0---X Merga AKU Ket : O = Pria X = Wanita
Bagan Sistem Kekerabatan Pada Masyarakat Karo Dikutip Dari Buku : Adat Karo, Hal 15, Darwan Prinst.
Penjelasan:
1. Merga/ Beru adalah nama keluarga yang diberikan (diwariskan) bagi seseorang dari nama keluarga ayahnya secara turun temurun khususnya anak laki-laki. Sedangkan bagi anak perempuan merga ayahnya tidak diwariskan bagi anaknya kemudian. Merga/ Beru anaknya berasal dari nama keluarga suaminya kelak.
2. Bere-bere adalah nama keluarga yang diwarisi seseorang dari beru ibunya.
3. Binuang adalah nama keluarga yang diwarisi seorang suku Karo dari bere-bere ayahnya. Dengan kata lain binuang merupakan beru dari nenek (orang tua ayah).
4. Kempu (perkempun) adalah nama keluarga yang diwarisi seseorang dari bere-bere ibu. Dengan kata lain kempu (perkempun) berasal dari beru nenek (ibu dari ibu) yang dikenal juga sebagai Puang Kalimbubu dalam peradatan dalam masyarakat Karo.
5. Kampah adalah nama keluarga yang diwarisi seseorang yang berasal dari beru yang dimiliki oleh nenek buyut (nenek dari ayah).
6. Soler adalah nama keluarga yang diwarisi seseorang beru empong (nenek dari ibu).
Dewasa ini dalam pergaulan sehari-hari yang umum dipergunakan biasanya hingga lapis kedua yaitu bere-bere. Sedangkan untuk lapisan tiga hingga enam biasa diperlukan dalam suatu upacara adat seperti perkawinan, masuk rumah baru, atau pada peristiwa kematian dan acara adat lainnya.
Setelah sistem kekerabatan dapat ditentukan dengan seorang Karo lainnya melalui ertutur ini, maka jalinan hubungan kekerabatan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga ikatan yang dikenal dengan istilah Rakut Si Telu (ikatan yang tiga).
Kalimbumbu Senina
Rakut si telu pada masyarakat Karo terdiri dari:
a. Kalimbubu
Kalimbubu adalah kelompok pihak pemberi wanita dan sangat dihormati dalam sistem kekerabatan masyarakat Karo. Masyarakat Karo menyakini bahwa kalimbubu adalah pembawa berkat sehingga kalimbubu itu disebut juga dengan Dibata Ni Idah(Tuhan yang nampak). Sikap menentang dan menyakiti hati kalimbubu sangat dicela. Kalau dahulu pada acara jamuan makan, pihak kalimbubu selalu mendapat prioritas utama, para anakberu (kelompok pihak penerima istri) tidak akan berani mendahului makan sebelum pihak kalimbubu memulainya, demikian juga bila selesai makan, pihak anakberu tidak akan berani menutup piringnya sebelum pihak kalimbubunya selesai makan, bila ini tidak ditaati dianggap tidak sopan. Dalam hal nasehat, semua nasehat yang diberikan kalimbubu dalam suatu musyawarah keluarga menjadi masukan yang harus dihormati, perihal dilaksanakan atau tidak masalah lain.
Darwan Prints mengatakan, kalimbubu diumpamakan sebagai legislatif, pembuat undang-undang.
Kalimbubu dapat dibagi atas dua yaitu Kalimbubu berdasarkan tutur dan kalimbubu
berdasarkan kekerabatan (perkawinan). 1. Kalimbubu berdasarkan tutur
a. Kalimbubu Bena-Bena disebut juga kalimbubu tua adalah kelompok keluarga
pemberi dara kepada keluarga tertentu yang dianggap sebagai keluarga pemberi anak dara awal dari keluarga itu. Dikategorikan kalimbubu Bena-Bena, karena kelompok ini telah berfungsi sebagai pemberi dara sekurang-kurangnya tiga generasi.
b. Kalimbubu Simajek Lulang adalah golongan kalimbubu yang ikut mendirikan kampung. Status kalimbubu ini selamanya dan diwariskan secara turun temurun.
Penentuan kalimbubu ini dilihat berdasarkan merga. Kalimbubu ini selalu diundang bila diadakan pesta-pesta adat di desa di Tanah Karo.
2. Kalimbubu berdasarkan kekerabatan (perkawinan)
Kalimbubu Simupus/Simada Dareh adalah pihak pemberi wanita terhadap generasi ayah, atau pihak clan (semarga) dari ibu kandung ego (paman kandung ego). (Petra : ego maksudnya orang, objek yang dibicarakan) a. Kalimbubu I Perdemui atau (kalimbubu si erkimbang), adalah pihak kelompok dari mertua ego. Dalam bahasa yang populer adalah bapak mertua berserta seluruh senina dan sembuyaknya dengan ketentuan bahwa si pemberi wanita ini tidak tergolong kepada tipe Kalimbubu Bena-Bena dan Kalimbubu Si Mada Dareh.
b. Puang Kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu, yaitu pihak subclan pemberi anak dara terhadap kalimbubu ego. Dalam bahasa sederhana pihak subclan dari istri saudara laki-laki istri ego.
c. Kalimbubu Senina. Golongan kalimbubu ini berhubungan erat dengan jalursenina darikalimbubu ego. Dalam pesta-pesta adat, kedudukannya berada pada golongan kalimbubuego, peranannya adalah sebagai juru bicara bagi kelompok subclan kalimbubu ego.
d. Kalimbubu Sendalanen/Sepengalon. Golongankalimbubu ini berhubungan erat dengan kekerabatan dalam jalur kalimbubu dari senina sendalanen,vsepengalon (akan dijelaskan pada halaman-halaman selanjutnya) pemilik pesta.
Hak kalimbubu ini dalam struktur masyarakat Karo : a. Dihormati oleh anakberunya
b. Dapat memberikan perintah kepada pihak anakberunya Tugas dan kewajiban kalimbubu :
a. Memberikan saran-saran kalau diminta oleh anakberunya
b. Memerintahkan pendamaian kepada anakberu yang saling berselisih c. Sebagai lambang supremasi kehormatan keluarga
d. Mengosei anak berunya (meminjamkan dan mengenakan pakaian adat) di dalam acara-acara adat
e. Berhak menerima ulu mas, bere-bere (bagian dari mahar) dari sebuah perkawinan, maneh-maneh (tanda mata atau kenang-kenangan) dari salah seorang 16 anggota anakberunya yang meninggal, yang menerima seperti ini disebut Kalimbubu Simada Dareh.
b. Senina/Sembuyak
Hubungan perkerabatan senina disebabkan seclan, atau hubungan lain yang berdasarkan kekerabatan. Senina ini dapat dibagi dua :
1. Senina berdasarkan tutur yaitu senina semerga. Mereka bersaudara karena satu clan (merga).
2. Senina berdasarkan kekerabatan :
b. Senina Sepemeren, mereka yang berkerabat karena ibu mereka saling bersaudara, sehingga mereka mempunyai bebere (beru (clan) ibu) yang sama.
c. Senina Sepengalon (Sendalanen) persaudaraan karena pemberi wanita yang berbeda merga dan berada dalam kaitan wanita yang sama. Atau mereka yang bersaudara karena satu subclan (beru) istri mereka sama. Tetapi dibedakan berdasarkan jauh dekatnya hubungan mereka dengan clan istri. Dalam musyawarah adat, mereka tidak akan memberikan tanggapan atau pendapat apabila tidak diminta.
d. Senina Secimbangen (untuk wanita)
Tugas senina adalah memimpin pembicaraan dalam musyawarah, bila dikondisikan dengan situasi sebuah organisasi adalah sebagai ketua dewan. Fungsinya adalah sebagai17 sekaku, sekat dalam pembicaraan adat, agar tidak terjadi friksi-friksi ketika akan memusyawarahkan pekerjaan yang akan didelegasikan kepada anakberu.
Sembuyak adalah mereka yang satu subclan, atau orang-orang yang seketurunan (dilahirkan dari satu rahim), tetapi tidak terbatas pada lingkungan keluarga batih, melainkan mencakup saudara seketurunan di dalam batas sejarah yang masih jelas diketahui. Saudara perempuan tidak termasuk sembuyak walaupun dilahirkan dari satu rahim, hal ini karena perempuan mengikuti suaminya.
Peranan sembuyak adalah bertanggungjawab kepada setiap upacara adat sembuyaksembuyaknya, baik ke dalam maupun keluar. Bila perlu mengadopsi anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh saudara yang satu clan. Mekanisme ini sesuai dengan konsep
sembuyak, sama dengan seperut, sama dengan saudara kandung. Satu subclan sama dengan saudarakandung.
Sembuyak dapat dibagi dua bagian :
1. Sembuyak berdasarkan tutur. Mereka bersaudara karena sesubklen (merga). 2. Sembuyak berdasarkan kekerabatan, ini dapat dibagi atas:
a) Sembuyak Kakek adalah kakek yang bersaudara kandung. b) Sembuyak Bapa adalah bapak yang bersaudara kandung. c) Sembuyak Nande adalah ibu yang bersaudara kandung. c. Anakberu
Anakberu adalah pihak pengambil anak dara atau penerima anak gadis untuk diperistri. Darwan Prints mengatakan, anakberu ini diumpamakan sebagai yudikatif, kekuasaan peradilan.
Hal ini maka anakberu disebut pula hakim moral, karena bila terjadi perselisihan dalam keluarga kalimbubunya, tugasnyalah mendamaikan perselisihan tersebut.
Anakberu dapat dibagi atas 2:
1. Anakberu berdasarkan tutur :
a. Anakberu Tua adalah pihak penerima anak wanita dalam tingkatan nenek moyang yang secara bertingkat terus menerus
minimal tiga generasi.
b. Anakberu Taneh adalah penerima wanita pertama, ketika sebuah kampung
selesai didirikan.
2. Anakberu berdasarkan kekerabatan :
kalimbubunya. Dipercaya dan diberi kekuasaan seperti ini karena dia merupakan anak kandung saudara perempuan ayah.
b. Anakberu Iangkip, adalah penerima wanita yang menciptakan jalinan keluarga yang pertama karena di atas generasinya belum pernah mengambil anak wanita dari pihak kalimbubunya yang sekarang. Anakberu ini disebut juga anakberu langsung yaitu karena dia langsung mengawini anak wanita dari keluarga tertentu. Masalah peranannya di dalam tugas-tugas adat, harus dipilah lagi, kalau masih orang pertama yang menikahi keluarga tersebut, dia tidak dibenarkan mencampuri urusan warisan adat dari pihak mertuanya.
Yang boleh mencampurinya hanyalah Anakberu Jabu.
c. Anakberu Menteri adalah anakberu darianakberu. Fungsinya menjaga penyimpangan-penyimpangan adat, baik dalam bermusyawarah maupun ketika acara adat sedang berlangsung. Anakberu Menteri ini memberi dukungan kepadakalimbubunya yaitu anakberu dari pemilik acara adat. d. Anakberu Singikuri adalah anakberu darianakberu menteri, fungsinya memberi saran, petunjuk di dalam landasan adat dan sekaligus memberi dukungan tenaga yang diperlukan.
Dalam pelaksanaan acara adat peran anakberu adalah yang paling penting. Anakberulah yang pertama datang dan juga yang terakhir pada acara adat tersebut. Lebih lanjut tugastugasnya
antara lain :
1. Mengatur jalannya pembicaraan runggu (musyawarah) adat. 2. Menyiapkan hidangan pada pesta.
4. Menanggulangi sementara semua biaya pesta.
5. Mengawasi semua harta milik kalimbubunya yaitu wajib menjaga dan mengetahui harta benda kalimbubunya.
6. Menjadwal pertemuan keluarga.
7. Memberi khabar kepada para kerabat yang lain bila ada pihak kalimbubunya berduka cita.
8. Memberi pesan kepada puang kalimbubunya agar membawa ose (pakaian adat) bagi kalimbubunya.
9. Menjadi juru damai bagi pihak kalimbubunya,
Anakberu berhak untuk :
1. Berhak mengawini putri kalimbubunya, dan biasanya para kalimbubu tidak berhak menolak.
2. Berhak mendapat warisan kalimbubu yang meninggal dunia. Warisan ini berupa barang dan disebut morah-morah atau maneh-maneh, seperti parang, pisau, pakaian almarhum dan lainnya sebagai kenang-kenangan.
Karena pentingnya kedudukan anakberu, biasanya pihak kalimbubu menunjukkan kemurahan hati dengan :
1. Meminjamkan tanah perladangan secara cuma-cuma kepada anakberunya.
2. Memberikan hak untuk mengambil hasil hutan (dahulu karena pihak kalimbubu adalah pendiri kampung, mereka mempunyai hutan sendiri di sekeliling desanya). 3. Merasa bangga dan senang bila anak perempuannya dipinang oleh pihak
anakberunya. Ini akan melanjutkan dan mempererat hubungan kekerabatan yang sudah terjalin.
4. Mengantarkan makanan kepada anaknya pada waktu tertentu misalnya pada waktu menanti kelahiran bayi atau lanjut usia.
5. Membawa pakaian atau ose (seperangkat pakaian kebesaran adat) bagi anakberunya pada waktu pesta besar di dalam clan anakberunya.
Adapun istilah-istilah yang diberikan kalimbubu, kepadaanakberunya adalah :
1. Tumpak Perang, atau Lemba-lemba. Artinya adalah ujung tombak. Maksudnya, bila kalimbubunya ingin pergi ke satu daerah, maka yang berada di depan sebagai pengaman jalan dan sebagai perisai dari bahaya adalah pihakanakberu. Dalam bahasa lain anakberu sebagai tim pengaman jalan.
2. Kuda Dalan (Kuda jalan/beban). Dahulu sebelum ada alat transportasi hanya kuda, untuk membawa barang-barang atau untuk menyampaikan informasi dari satu desa ke desa lain, dipergunakanlah kuda. Arti Kuda Dalam dalam istilah ini adalah alat atau kenderaan yang dipakai kemana saja, termasuk untuk berperang, untuk 21membawa barang-barang yang diperlukan pihak kalimbubunya atau untuk menyampaikan berita tentang kalimbubunya, dan sekaligus sebagai hiasan bagi kewibawaan martabatkalimbubunya.
3. Piso Entelap (pisau tajam). Dalam pesta adat atau pekerjaan adat pisau tajam dipergunakan untuk memotong daging atau kayu api atau untuk mendirikan teratak tempat berkumpul. Setiap anakberu harus memiliki pisau yang yang demikian agar tangkas dan sempurna mengerjakan pekerjaan yang diberikan kalimbubunya.
Menjadi kebiasaan dalam tradisi Karo, pisau dari pihak kalimbubu yang meninggal dunia diserahkan kepada anakberunya. Pisau ini disebut maneh-maneh, pemberiannya bertujuan agar pekerjaankalimbubu terus tetap dilanjutkan oleh penerimanya. Dalam pengertian lain dalam acara-acara adat di dalam keluarga
kalimbubu, anakberulah yang menjadi ujung tombak pelaksanaan tugas tersebut, mulai dari menyediakan makanan sampai menyusun acaranya. Ketiga jenis pekerjaan di atas, dikerjakan tanpa mendapat imbalan materi apapun maka anakberu yang selalu lupa kepada kalimbubunya dianggap tercela di mata masyarakat. Bahkan dipercayai bila terjadi sesuatu bencana di dalam lingkungan keluarga dari anakberuyang melupakan kalimbubunya, ini dianggap sebagai kutukan dari arwah nenek moyang mereka yang tetap melindungi kalimbubu.
Kemudian orang Karo juga mengenal istilah Tutur Si Waluh yang sebenarnya kurang tepat artinya. Tutur itu ada 23, sedangkan yang disebut waluh (delapan) adalah sangkep nggeluh. Jadi sebenarnya sangkep nggeluh si waluh (delapan kelengkapan hidup), yang merupakan pengembangan fungsi dari rakut si telu.
Sangkep nggeluh si waluh itu antara lain adalah: pertama, pengembangan dari tegun kalimbubu adalah (1) puang kalimbubu, dan (2) kalimbubu. Kedua, pengembangan dari tegun senina adalah (1) senina, (2) sembuyak, (3) senina sepemeren, dan (4) senina siparibanen. Ketiga, pengembangan dari tegun anak beru adalah (1) anak beru dan (2) anak beru menteri. Kesemuanya ini yang disebut sebagai sangkep nggeluh si waluh dalam masyarakat Karo.
2.5 Mata Pencaharian
Mata pencaharian masyarakat Kecamatan Tigapanah desa Seberaya sangat beragam. Dari hasil wawancara dengan beberapa narasumber, pekerjaan yang paling banyak digeluti oleh masyarakat Desa Seberaya adalah bertani. Ada juga yang bekerja
sebagai pedagang, PNS, dan juga membuka usaha sesuai keahlian individu. Dari wawancara dengan bapak Baji Sembiring Pelawi, selain sebagai seniman beliau juga bekerja sebagai petani. Diakui oleh bapak Baji, penghasilan sebagai seorang seniman di kabupaten Karo tidakklah cukup dibandingkan dengan biaya hidup sekarang, sehingga dibantu dengan menjual alat musik yang dilakukannya sedikit membantu beban ekonomi keluarga.
2.6 Kesenian
Suku Karo adalah salah satu etnis yang memiliki keunikan kesenian tersendiri. Keunikan Kesenian Karo ini lah yang menjadi kebanggaan suku Karo dalam menjalankan tutur budayanya. Kesenian yang paling berkembang dan menonjol dalam kebudayaan masyarakat Karo adalah seni musik, seni tari dan seni suara. Karena ketiga bentuk kesenian tersebut tidak pernah terlepas dari pelaksanaan acara-acara adat, termasuk dalam upacara adat perkawinan.
Pada masyarakat Karo penyebutan musik dikenal dengan istilah Gendang. Dalam masyarakat Karo gendang itu sendiri mempunyai beberapa pengertian, diantaranya;
1. Gendang, sebagai nama sebuah instrumen musik (Gendang singindungi,Gendang singanaki),
2. Gendang, untuk menunjukkan jenis lagu atau komposisi tertentu (Gendang simalungun rayat, Gendang peselukken),
3. Gendang untuk mengartikan sebuah upacara tertentu (Gendang cawir metua, Gendang guro-guro aron)
4. Gendang, untuk menunjukkan ensembel musik tertentu (Gendang Lima Sendalanen, Gendang telu sendalanen)
2.7 Pengertian Biografi
Dalam disiplin ilmu sejarah biografi dapat didefenisiskan sebagai sebuah riwayat hidup seseorang. Sebuah tulisan biografi dapat berbentuk beberapa baris kalimat saja, namun
juga dapat berupa tulisan yang lebih dari satu buku. Perbedaannya adalah, biografi singkat
hanya memaparkan tentang fakta-fakta kehidupan seseorang dan peranan pentingnya dalam
masyarakat. Sedangkan biografi yang lengkap biasanya memuat dan mengkaji informasi- informasi penting, yang dipaparkan lebih detail dan tentu saja dituliskan dengan penulisan yang baik dan jelas.