• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

5.2. Saran

Berisikan rekomendasi yang ditawarkan peneliti terhadap permasalahan yang diteliti.

BAB II

DESKRIPSI TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Deskripsi Teori

Dalam melakukan penelitian, peneliti berpedoman pada beberapa teori yang menjadi landasan dasar bagi peneliti. Berkaitan dengan judul penelitian yaitu Implementasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Tahun 2007 dan 2009 di Kelurahan Ketapang Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang, maka landasan teori yang digunakan yaitu teori Kebijakan, Kebijakan Publik, Implementasi Kebijakan, Pemberdayaan, Partisipasi, Kemiskinan, dan PNPM Mandiri.

2.1.1 Kebijakan

Mendefinisikan tentang kebijakan dalam kerangka teori amatlah luas. Banyak penafsiran mengenai arti kebijakan itu sendiri. Menurut Anderson dalam Wahab (2008:2) merumuskan kebijakan sebagai perilaku dari sejumlah aktor

(pejabat, kelompok, instansi pemerintah) atau serangkaian aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu.

Menurut Friedrich dalam Wahab (2008:3) menyatakan bahwa kebijakan adalah:

”Suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan.”

Menurut Budiarjo (2008:20) dalam bukunya dasar-dasar ilmu politik menjelaskan pengertian kebijakan sebagai berikut:

”Kebijakan (policy) adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau kelompok politik, dalam usaha memilih tujuan dan cara untuk mencapai tujuan itu. Pada prinsipnya, pihak-pihak yang membuat kebijakan-kebijakan itu mempunyai kekuasaan untuk melaksanakannya.”

Definisi lain mengenai kebijakan dikemukakan oleh Laswell dalam bukunya The Policy Orientation (1951:5) dalam Wicaksono (2006:57):

”The word ”policy” commonly used to disignate the most important choices made either in organized or in private life...”policy’ is free of many of undesirable connotation clustered about the word political, which is often believed to imply ”partisanship” or ”coruption”.

(Kata ”kebijakan” (policy) pada umumnya dipakai untuk menunjukkan pilihan terpenting yang diambil baik dalam kegidupan organisasi atau privat...”Kebijakan” bebas dari konotasi yang dicakup dalam kata politis (political) yang diyakini mengandung makna ”keberpihakan” dan ”korupsi”)

Dari teori-teori yang disebutkan dari beberapa ahli tersebut, peneliti dapat menarik kesimpulan mengenai arti dari kebijakan. Kebijakan adalah pilihan/tindakan baik itu pemerintah, organisasi, atau swasta dalam mengambil sebuah keputusan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.1.2 Kebijakan Publik

Definisi teori kebijakan publik menurut Eyestone dalam bukunya The Threads of Public Policy, dalam Agustino, (2006:40) mendefinisikan kebijakan publik sebagai “hubungan antara unit pemerintah dengan lingkungannya. Hubungan antara unit pemerintah dengan lingkungannya dapat meliputi hampir semua elemen dalam konteks negara.”

Freidrich dalam Agustino (2006:41) mendefinisikan kebijakan publik sebagai berikut:

“Serangkaian tindakan atau kegiatan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan-hambatan (kesulitan-kesulitan) dan kemungkinan-kemungkinan (kesempatan-kesempatan) dimana kebijakan tersebut diusulkan agar berguna dalam mengatasinya untuk mencapai tujuan yang dimaksud.”

Tokoh lain yang mendefinisikan kebijakan publik adalah Anderson, dalam Islamy (2004:17), yakni:

“Kebijakan publik sebagai serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang aktor atau sekelompok aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu hal yang diperhatikan.”

Dari beberapa definisi kebijakan publik yang telah dipaparkan oleh beberapa tokoh tersebut, maka yang dimaksud dengan Kebijakan Publik adalah serangkaian kegiatan yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam suatu lingkungan tertentu atau negara oleh para aktor pembuat kebijakan yang berada dalam lingkungan tersebut.

Pengertian kebijakan publik menurut Nugroho dalam bukunya yang berjudul ”Kebijakan Publik: Formulasi, Implementasi dan Evaluasi” (2003:54) adalah hal-hal yang diputuskan pemerintah untuk tidak dikerjakan atau dibiarkan. Masih menurut Nugroho (2003:57) kebijakan publik itu dibagi kedalam dua kelompok.

”Kelompok yang pertama adalah kebijakan yang dalam bentuk peraturan-peraturan pemerintah yang tertulis dalam bentuk peraturan-peraturan perundangan, dan kelompok yang kedua adalah peraturan-peraturan yang tidak tertulis namun disepakati, yaitu apa yang kita sebut konvensi-konvensi”.

Jadi pada dasarnya kebijakan publik tidak selalu berbentuk peraturan perundangan tetapi kebijakan publik juga dapat berupa peraturan yang tidak tertulis namun disepakati, sebagai contoh dalam aktivitas belajar di kampus adalah kontrak perkuliahan.

Kebijakan publik dibuat bukannya tanpa maksud dan tujuan. Maksud dan tujuan kebijakan publik dibuat adalah untuk memecahkan masalah publik yang tumbuh kembang di masyarakat. Masalah tersebut tentu saja beraneka ragam bentuk dan intensitasnya serta keharusan untuk segera menyelesaikan permasalahan yang ada. Dalam setiap permasalahan publik tidak semuanya yang menjadi suatu kebijakan publik, hanya masalah publik yang dapat menggerakkan orang banyak untuk ikut memikirkan dan mencari solusi yang bisa menghasilkan sebuah kebijakan publik.

Dalam membuat kebijakan publik yang baik dan benar memang tidak mudah, perlu adanya kejelian dari para pembuat kebijakan publik itu dalam memformulasi kebijakan publik itu sendiri. Selain itu, dalam kebijakan publik tersebut berisikan masukan-masukan yang bersifat ideal-teoritis-metodologis,

caranya adalah dengan menggunakan beberapa tahapan dalam proses kebijakan publik. Menurut Nugroho (2003:73) ada beberapa tahap dalam kebijakan publik, yaitu”

1. Perumusan kebijakan 2. Implementasi kebijakan 3. Evaluasi kebijakan

2.1.3 Implementasi Kebijakan

2.1.3.1 Pengertian Implementasi Kebijakan

Definisi Implementasi Kebijakan menurut Van Meter dan Horn dalam Agustino (2006:153) mendefinisikan implementasi kebijakan sebagai:

“Tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diharapkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan.”

Selanjutnya Mazmanian dan Sabatier, dalam Wahab (2008:65) menjelaskan makna implementasi kebijakan sebagai berikut:

“Memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan, yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.”

Menurut Jenkins dalam Parsons (2006:463) “Studi implementasi adalah suatu perubahan : Bagaimana perubahan terjadi, bagaimana kemungkinan perubahan bisa dimunculkan. Ia juga merupakan studi tentang mikrostruktur dari kehidupan politik ; bagaimana organisasi diluar dan didalam sistem politik

menjalankan motivasi – motivasi mereka bertindak seperti itu, dan apa motivasi lain yang mungkin membuat mereka bertindak secara berbeda”.

Dari beberapa definisi implementasi yang telah diuraikan di atas, peneliti merumuskan definísi implementasi sebagai tindakan atau usaha untuk melaksanakan keputusan yang telah ditentukan bersama pada waktu perumusan kebijakan dan kebijakan tersebut dilaksanakan oleh seluruh stakeholder (baik masyarakat secara individu, pemerintah maupun swasta).

Implementasi kebijakan publik model Van Metter dan Horn dalam Agustino (2006:161) yaitu model pendekatan top-down yang disebut dengan A Model of The Policy Implementation. Model ini menandakan bahwa implementasi kebijakan berjalan secara linier dari keputusan politik yang tersedia, pelaksana, dan kinerja kebijakan publik.

Menurut Van Meter dan Horn dalam Agustino (2006:161), ada enam variabel yang dapat meempengaruhi kinerja kebijakan publik tersebut, antara lain:

1. Ukuran dan Tujuan Kebijakan

Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya jika dan hanya jika ukuran dan tujuan dari kebijakan memang realistis dengan sosio-kultur yang berada di level pelaksana kebijakan. Ketika ukuran kebijakan atau tujuan kebijakan terlalu ideal untuk dilaksanakan di level warga maka agak sulit merealisasikan kebijakan publik hingga untuk yang dapat dikatakan berhasil.

2. Sumberdaya

Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya yang terpenting dalam menentukan suatu keberhasilan proses implementasi menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang telah ditetapkan secara apolitik. Tetapi diluar

sumber daya manusia, sumber-sumber daya lain yang perlu diperhitungkan juga ialah sumber daya finansial dan sumber daya waktu. 3. Karakteristik Agen Pelaksana

Pusat perhatian pada agen pelakana meliputi organisasi formal dan organisasi informal yang akan terlibat pengimplementasian kebijakan publik. Hal ini sangat penting karena kinerja implementasi kebijakan akan sangat dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat serta cocok dengan para agen pelaksananya. Selain itu, cakupan atau luas wilayah implementasi kebijakan perlu juga diperhitungkan manakala hendak menentukan agen pelaksana. Semakin luas cakupan implementasi kebijakan, maka seharusnya semakin besar pula agen yang dilibatkan.

4. Sikap/Kecenderungan para Pelaksana

Sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana sangat mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kinerja implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul persoalan yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan yang akan dilaksanakan implementor adalah kebijakan “dari atas” (top down) yang sangat mungkin para pengambilan keputusannya tidak pernah mengetahui kebutuhan, keinginan, atau permasalahan yang ingin diselesaikan warga.

5. Komunikasi Antar Organisasi dan Aktivitas Pelaksana

Koordinasi merupakan mekanisme yang ampuh dalam implementasi kebijakan publik. Semakin baik koordinasi komunikasi di antara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses implementasi, maka asumsinya kesalahan-kesalahan akan sangat kecil untuk terjadi. Dan begitu pula sebaliknya.

6. Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik

Hal terakhir yang perlu diperhatikan guna menilai kinerja implementasi kebijakan adalah, sejauhmana lingkungan eksternal mendorong keberhasilan kebijakan publik yang telah ditetapkan. Lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi biang keladi dari kegagalan kinerja implementasi kebijakan.

Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Tidak lebih dan tidak kurang. Untuk

mengimplementasikan kebiijakan publik, maka ada dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung mengimplementasikan dalam bentuk program-program atau melalui formulasi kebijakan derivet atau turunan dari kebijakan publik tersebut. Secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: (Nugroho, 2003:159)

Kebijakan publik dalam bentuk Undang-Undang atau Perda adalah jenis kebijakan publik yang memerlukan kebijakan publik penjelas atau yang sering diistilahkan sebagai peraturan pelaksanaan. Kebijakan publik yang bisa langsung operasional antara lain Keppres, Inpres, Kepmen, Keputusan Kepala Daerah, Keputusan Kepala Dinas, dan lain-lain.

Kebijakan Publik

Kebijakan Publik Penjelas Program Intervensi

Proyek Intervensi

Kegiatan Intervensi

Dari gambar diatas dapat dilihat dengan jelas rangkaian implementasi kebijakan yaitu dimulai dari program, ke proyek, dan ke kegiatan. Tujuan kebijakan pada prinsipnya adalah melakukan intervensi. Oleh karena itu, implementasi kebijakan sebenarnya adalah tindakan (action) intervensi itu sendiri. Menurut Mazmanian dan Sabatier (dalam Nugroho, 2003:162) memberikan gambaran bagaimana melakukan intervensi atau implementasi kebijakan dalam langkah sebagai berikut:

Dengan demikian program harus disusun secara jelas dan harus dioperasionalkan dalam bentuk proyek.

Dalam tataran praktis, implementasi adalah proses pelaksanaan keputusan dasar. Proses tersebut terdiri atas beberapa tahapan yakni ("ryn" Moelya, 2010):

1. Tahapan pengesahan peraturan perundangan; 2. Pelaksanaan keputusan oleh instansi pelaksana;

3. Kesediaan kelompok sasaran untuk menjalankan keputusan; 4. Dampak nyata keputusan baik yang dikehendaki atau tidak;

Identifikasi masalah yang harus diintervensi

Menegaskan tujuan yang hendak dicapai

Merancang struktur proses implementasi

5. Dampak keputusan sebagaimana yang diharapkan instansi pelaksana; 6. Upaya perbaikan atas kebijakan atau peraturan perundangan.

Proses persiapan implementasi setidaknya menyangkut beberapa hal penting yakni ("ryn" Moelya, 2010):

1. Penyiapan sumber daya, unit dan metode;

2. Penerjemahan kebijakan menjadi rencana dan arahan yang dapat diterima dan dijalankan;

3. Penyediaan layanan, pembayaran, manfaat dan hal lain secara rutin.

Aktivitas penorganisasian (Organivation) merupakan suatu upaya untuk menetapkan dan menanta kembali sumber daya (units), dan metode-metode (methods) yang mengarah pada upaya mewujudkan atau merealisasikan kebijakan menjadi hasil (outcomes) sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan. Aktivitas interprestasi (penjelasan) merupakan subtansi dari suatu kebijakan dalam bahasa yang lebih operasional dan mudah dipahami. Aktivitas aplikasi merupakan aktivitas penyediaan layanan secara rutin sesuai dengan tujuan dan sarana kebijakan yang ada.

Berikut ini merupakan tahapan-tahapan operasional implementasi sebuah kebijakan ("ryn" Moelya, 2010):

1. Tahapan intepretasi. Tahapan ini merupakan tahapan penjabaran sebuah kebijakan yang bersifat abstrak dan sangat umum ke dalam kebijakan atau tindakan yang lebih bersifat manajerial dan operasional. Kebijakan abstrak biasanya tertuang dalam bentuk peraturan perundangan yang dibuat oleh lembaga eksekutif dan legislatif, bisa berbentuk perda ataupun undang-undang. Kebijakan manajerial biasanya tertuang dalam bentuk keputusan eksekutif yang bisa berupa peraturan presiden maupun keputusan kepala daerah, sedangkan kebijakan operasional berupa keputusan pejabat pemerintahan bisa berupa keputusan/peraturan menteri ataupun keputusan kepala dinas terkait. Kegiatan dalam tahap ini tidak hanya berupa proses penjabaran dari kebijakan abstrak ke petunjuk pelaksanaan/teknis namun juga berupa proses komunikasi dan sosialisasi kebijakan tersebut – baik yang berbentuk abstrak maupun operasional – kepada para pemangku kepentingan.

2. Tahapan pengorganisasian. Kegiatan pertama tahap ini adalah penentuan pelaksana kebijakan (policy implementor) – yang setidaknya dapat diidentifikasikan sebagai berikut: instansi pemerintah (baik pusat maupun daerah); sektor swasta; LSM maupun komponen masyarakat. Setelah pelaksana kebijakan ditetapkan; maka dilakukan penentuan prosedur tetap kebijakan yang berfungsi sebagai pedoman, petunjuk dan referensi bagi pelaksana dan sebagai pencegah terjadinya kesalahpahaman saat para pelaksana tersebut menghadapi masalah. Prosedur tetap tersebut terdiri atas prosedur operasi standar (SOP) atau standar pelayanan minimal (SPM). Langkah berikutnya adalah penentuan besaran anggaran biaya dan sumber pembiayaan. Sumber pembiayaan bisa diperoleh dari sektor pemerintah (APBN/APBD) maupun sektor lain (swasta atau masyarakat). Selain itu juga diperlukan penentuan peralatan dan fasilitas yang diperlukan, sebab peralatan tersebut akan berperan penting dalam

menentukan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan kebijakan. Langkah selanjutnya – penetapan manajemen pelaksana kebijakan – diwujudkan dalam penentuan pola kepemimpinan dan koordinasi pelaksanaan, dalam hal ini penentuan focal point pelaksana kebijakan. Setelah itu, jadwal pelaksanaan implementasi kebijakan segera disusun untuk memperjelas hitungan waktu dan sebagai salah satu alat penentu efisiensi implementasi sebuah kebijakan.

3. Tahapan implikasi. Tindakan dalam tahap ini adalah perwujudan masing-masing tahapan yang telah dilaksanakan sebelumnya.

2.1.3.2 Faktor Keberhasilan dan Kegagalan Implementasi

Implementasi kebijakan merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana kebijakan melakukan suatu aktivitas atau kegiatan sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri. Hal ini sesuai pula dengan apa yang diungkapkan oleh Lester dan Stewart Jr (dalam Agustino, 2006:154) mengatakan bahwa implementasi merupakan suatu proses sekaligus suatu hasil (output). Keberhasilan suatu implementasi kebijakan dapat diukur atau dilihat dari proses dan pencapaian tujuan yang ingin diraih. Grindle (dalam Agustino, 2006:154) juga menambahkan sebagai berikut:

“Pengukuran keberhasilan implementasi dapat dilihat dari prosesnya, dengan menyertakan apakah pelaksanaan program sesuai dengan yang telah ditentukan yaitu melihat pada action program dan individual projects dan yang kedua apakah tujuan program tersebut tercapai”.

Implementasi kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam keseluruhan struktur kebijakan, karena melalui prosedur ini proses kebijakan secara keseluruhan dapat dipengaruhi tingkat keberhasilan atau tidak tercapainya tujuan.

1. Faktor Penentu Keberhasilan Implementasi, antara lain:

1. Logika kebijakan itu sendiri

2. Kemampuan pelaksana dan ketersediaan sumber 3. Manajemen yang baik

4. Lingkungan dimana kebijakan diimplementasikan

2. Faktor Penentu Kegagalan Implementasi 1. Bad Policy

Perumusannya asal-asalan, kondisi internal belum siap, kondisi eksternal tak memungkinkan.

2. Bad Implementation

Pelaksana tak memahami juklak, terjadi implementasi gap. 3. Bad Luck

Kebijakan itu memang bernasip jelek.

2.1.3.3Peluang dan Hambatan Implementasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi peluang dan hambatan implementasi (Agustino, 2006:170) adalah sebagai berikut:

1. Faktor Penentu Pelaksanaan / Peluang Implementasi

1. Respek Anggota Masyarakat pada Otoritas dan Keputusan Pemerintah Kodrat manusia, dikatakan memiliki state of nature yang berkarakter positif. Ini artinya, manusia dapat menerima dengan baik hubungan

relasional antarindividu. Ketika relasi ini berjalan dengan baik, logikanya, ada sistem sosial yang menggerakkan seluruh warga untuk saling menghormati, memberikan respek pada otoritas orang tua, memberikan penghargaan yang tinggi pada ilmu dan pengetahuan, menghormati undang-undang yang dibuat oleh politisi, mematuhi aturan hukum yang ditetapkan, mempercayai pejabat-pejabat pemerintah yang menjabat, dan sebagainya. Kepatuhan-kepatuhan tersebut akan berlangsung hingga individu dan warga masih menganggap cukup beralasan dan masuk akal untuk menghormati persoalan-persoalan itu.

2. Adanya Kesadaran Untuk Menerima Kebijakan

Dalam masyarakat yang digerakkan oleh pilihan-pilihan yang rasional banyak dijumpai bahwa individu/kelompok warga mau menerima dan melaksanakan kebijakan publik sebagai sesuatu yang logis, rasional, serta memang dirasa perlu. Di sisi lain, banyak orang yang tidak suka untuk membayar pajak, apalagi dalam kondisi perekonomian yang tengah melemah seperti saat ini; tetapi bila mereka percaya bahwa membayar pajak itu perlu untuk memberikan kontribusi atas pelayanan pemerintah pada publik, maka orang akan sadar dan patuh untuk membayar pajak. Tetapi hal ini tidak mudah. Karena bermain di ranah “kesadaran” artinya pemerintah harus mampu merubah mindset warga dengan cara sikap dan perilaku yang sesuai dengan mindset yang hendak dibentuk oleh aparatur itu sendiri.

3. Adanya Sanksi Hukum

Orang dengan akan sangat terpaksa mengimplementasikan dan melaksanakan suatu kebijakan karena ia takut terkena sanksi hukuman, misalnya denda, kurungan, dan sanksi-sanksi lainnya. Karena itu, salah satu strategi yang sering digunakan oleh aparatur administrasi atau aparatur birokrasi dalam upaya mangimplementasikan kebijakan publik ialah dengan cara menghadirkan sanksi hukum yang berat pada setiap kebijakan yang dibuatnya. Selain itu, orang atau kelompok warga seringkali mematuhi dan melaksanakan kebijakan karena ia tidak suka dikatakan sebagai orang yang melanggar aturan hukum, sehingga dengan terpaksa ia melakukan isi kebijakan publik tersebut. 4. Adanya Kepentingan Publik

Masyarakat mempunyai keyakinan bahwa kebijakan publik dibuat secara sah, konstitusional, dan dibuat oleh pejabat publik yang berwenang, serta melalui prosedur yang sah yang telah tersedia. Bila suatu kebijakan dibuat berdasarkan ketentuan tersebut, maka masyarakat cenderung mempunyai kesediaan diri untuk menerima dan melaksanakan kebijakan itu. Apalagi ketika kebijakan itu memang berhubungan erat dengan hajat hidup mereka.

5. Adanya Kepentingan Pribadi

Seseorang atau sekelompok orang sering memperoleh keuntungan langsung dari suatu projek implementasi kebijakan, sehingga dengan senang hati mereka akan menerima, mendukung, dan melaksanakan kebijakan yang ditetapkan. Sebagai contoh, pemerintah berencana untuk membuat jalan pintas antarkota yang menyita beberapa hektar tanah milik warga, melalui mekanisme pembebasan tanah. Ada beberapa warga yang menolak dan ada juga warga yang menerima. Ketika diperhatikan, ternyata tanah sebagian warga yang mau memenuhi keputusan pemerintah adalah warga yang tidak terkena pembebasan, dan bahkan tanahnya yang tidak jauh dari jalan antarkota yang tengah dibangun menghasilkan hasil-hasil kebun yang baik. Dengan jelas sebagian warga ini memperoleh keuntungan dengan terbukanya jalur distribusi bagi hasil-hasil kebun yang diproduksi mereka, sehingga tanpa diminta pun mereka bersedia membantu projek pemerintah demi keuntungan yang akan diperolehnya melalui pembangunan jalan transkota tersebut.

6. Masalah Waktu

Kalau masyarakat memandang ada suatu kebijakan yang bertolak belakang dengan kepentingan publik, maka warga akan cenderung untuk menolak kebijakan tersebut. Tetapi begitu waktu berlalu, pada akhirnya suatu kebijakan yang dulunya pernah ditolak dan dianggap controversial, berubah menjadi kebijakan yang wajar dan dapat diterima.

2. Faktor Penentu Penolakan atau Hambatan Implementasi

1. Adanya Kebijakan yang Betentangan dengan Sistem Nilai yang Mengada

Bila suatu kebijakan dipandang bertentangan secara ekstrim atau secar tajam dengan sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat secara luas, atau kelompok-kelompok tertentu secara umum, maka dapat dipastikan kebijakan publik yang hendak diimplementasikan akan sulit untuk terlaksana.

2. Tidak Adanya Kepastian Hukum

Tidak adanya kepastian hukum, ketidakjelasan aturan-aturan hukum, ada kebijakan-kebijakan yang saling bertentangaan dapat menjadi sumber ketidakpatuhan warga pada kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kebijakan yang tidak jelas, kebijakan yang bertentangan isinya, atau kebijakan yang

ambigu dapat menimbulkan salah pengertian, sehingga cenderung untuk ditolak implementasinya oleh warga.

3. Adanya Keanggotan Seseorang dalam Suatu Organisasi

Seseorang yang patuh atau tidak patuh pada peraturan atau kebijakan publik yang ditetapkan oleh pemerintah dapat disebabkan oleh keterlibatannya dalam suatu organisasi tertentu. Jika tujuan organisasi yang dimasuki oleh orang-orang yang terlibat dalam suatu organisasi seide atau segagasan dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, maka ia akan mau bahkan mengejahwantahkan atau melakukan ketetapan pemerintah itu dengan tulus. Tetapi apabila tujuan organisasi yang dimasukinya bertolak belakang dengan ide dan gagasan kebijakan, maka sebagus apapun kebijakan yang sudah dibuat oleh pemerintah akan sulit untuk terimplementasi dengan baik.

4. Adanya Konsep Ketidakpatuhan Selektif Terhadap Hukum

Masyarakat ada yang patuh pada suatu jenis kebijakan tertentu, tetapi ada juga yang tidak patuh pada jenis kebijakan lain. Ada orang yang patuh pada kebijakan kriminalitas tetapi di saat yang bersamaan ia dapat tidak patuh dengan kebijakan pelarangan pedagang kaki lima.

2.1.3.4 Pendekatan-Pendekatan Implementasi

Berikut ini merupakan beberapa pendekatan yang digunakan dalam implementasi kebijakan (Wahab, 2008:110) antara lain:

1. Pendekatan-pendekatan Struktural

Analisis organisasi modern telah memberikan sumbangan yang berharga pada studi implementasi, karena rancang bangun kebijaksanaan

Dokumen terkait