BAB 1. PENDAHULUAN
5.2 Saran
Kegiatan kefarmasian yang dilakukan di RSUP Fatmawati sudah berjalan baik, namun untuk mempertahankan kinerja serta meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian maka penulis menyarankan beberapa upaya berikut :
a. Untuk meringankan dan memperjelas pembagian kegiatan di Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati, sebaiknya Wakil Kepala Instalasi dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: Waka IFRS Pelayanan, Waka IFRS Perbekalan dan Waka IFRS Farmasi Klinik.
b. Untuk mempermudah proses pelaporan pemakaian Narkotik dan Psikotropik, maka IFRS dapat melakukan secara online sebagaimana yang telah diterapkan pada fasilitas pelayanan lain.
c. Pelaporan psikotropik hendaknya dilakukan setiap satu bulan sekali bersamaan dengan pelaporan narkotik, hal ini dilakukan untuk menjamin data yang dilaporkan tersebut.
d. Sebaiknya penyimpanan produk hasil produksi disimpan di gudang Farmasi, untuk mempermudah akses distribusi dan memaksimalkan ruang produksi hanya untuk kegiatan produksi saja.
e. Untuk rekonstisusi obat yang memerlukan kondisi steril, setelah pengamatan kami menyarankan agar perlu dilakukan monitoring lingkungan pada saat dilakukan rekonstitusi.
f. Untuk menunjang kegiatan farmasi klinik, maka perlu diaktifkan kembali kegiatan konseling (tanpa harus diminta oleh pasien, apoteker harus berperan aktif dalam menentukan pasien yang membutuhkan konseling).
g. Untuk depo rawat jalan, beri Label LASA pada obat-obat LASA yang belum dilengkapi penanda untuk meminimalisir kesalahan dalam pengambilan obat, simpan obat keras di depo bagian dalam atau bagian yang tidak terjangkau dengan konsumen, dan sediakan lemari psikotropik terpisah.
h. Untuk depo IBS, sebaiknya ditempatkan seorang apoteker sebagai penyelia depo IBS.
i. Hasil dari tugas yang di berikan kepada para peserta PKPA di RSUP Fatmawati sangat baik dijadikan acuan atau evaluasi dari kegiatan pelayanan kefarmasian
DAFTAR ACUAN
Daris, Azwar. (2012). Pengantar Hukum dan Etika Farmasi. Tangerang : Duwo Okta.
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Kesehatan RI. (2004).
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Kesehatan RI. (2006) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Direktorat Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan (2008). Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2009). Pedoman Tarif Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta PT. Askes (Persero) dan Anggota Keluarganya di Puskesmas, Balai Kesehatan Masyarakat, dan Rumah Sakit Daerah. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Jakarta : Sekretariat Negara RI.
PT. (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia. (2004). Pedoman Bagi Peserta Askes Sosial. Jakarta : PT. (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia.
RSUP Fatmawati. (2012a). Keputusan Direktur Utama No. HK.
03.05/II.1/1686/2012 (025/FAR) tentang Standar Prosedur Operasional Hak Akses Sistem Informasi Farmasi. Jakarta : RSUP Fatmawati.
RSUP Fatmawati. (2012b). Keputusan Direktur Utama No. HK.
03.05/II.1/779/2012 tentang Penyimpanan Narkotika Dan Psikotropika.
Jakarta: RSUP Fatmawati.
RSUP Fatmawati. (2012c). Keputusan Direktur Utama No. HK.
03.05/II.1/1612/2012 (025/FAR) tentang Standar Prosedur Operasional Tata Cara Persuratan, Pelaporan, Pengarsipan di Instalasi Farmasi.
Jakarta : RSUP Fatmawati.
RSUP Fatmawati. (2013) Diunduh dari http://www.fatmawatihospital.com/konten/details/profil#sejarahsingkat.
Pada : 28 Oktober 2013 Pukul 22.00 WIB.
Siregar, Charles J.P. (2003). Farmasi Rumah Sakit, Teori dan Terapan. Jakarta : EGC
LAMPIRAN
Lampiran 1. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati
Universitas Indonesia 2
Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati
85
Lampiran 3. Alur Pengkajian Resep
90
Lampiran 4. Alur Pemantauan Efek Samping Obat
Lampiran 5. Alur Kegiatan Pemantauan Interaksi Obat
Lampiran 6. Alur Penyimpanan Resep dan Arsip (surat masuk, surat keluar, SK, Laporan-laporan dan arsip Kepegawaian)
Resep
Arsip
Lampiran 7. Alur Pemusnahan Resep dan Arsip
Lampiran 8. Alur Pengadaan Perbekalan Farmas
91
Universitas Indonesia
Lampiran 9. Alur Penerimaan Perbekalan Farmasi oleh Tim Penerima
Lampiran 10. Alur Masuk ke Ruang Produksi Aseptik
Lampiran 11. Alur Pelayanan Obat Sitostatika Rawat Jalan dan Rawat Inap
Rawat Jalan
Rawat Inap
Lampiran 12. Prosedur Penyiapan Obat Rawat Jalan Secara Individual Prescription
2
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Lampiran 13. Alur Pelayanan Resep di Depo Askes
Universitas Indonesia
Lampiran 14. Alur Distribusi Obat Secara Dosis Unit di Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati
Universitas Indonesia
Lampiran 15. Alur Pelayanan Obat dan Alat Kesehatan di Depo Instalasi Bedah Sentral
OK Cito
OK Elektif
Universitas Indonesia
Universitas Indonesia
Lampiran 16. Alur Program Pelayanan Informasi Obat
Tidak Ya
Ya User (pasien/lainnya)
Menyampaikan pertanyaan secara lisan/tertulis
Apoteker 1. Menerima pertanyaan
2. Penilaian penanya dan pertanyaan sesungguhnya
Apoteker
1. Pencatatan pertanyaan pada formulir pelayanan informasi obat.
2. Penelusuran jawaban atas pertanyaan dalam literatur.
3. Penyusunan jawaban dalam formulir pelayanan informasi obat.
4. Penyampaian jawaban kepada user.
User 1. Menerima jawaban pertanyaan
2. Memberi respon atas informasi yang telah diberikan
Selesai Tidak
99
UNIVERSITAS INDONESIA
PENILAIAN KESESUAIAN TERAPI PASIEN RAWAT INAP TERATAI LANTAI VI SELATAN RSUP FATMAWATI
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
NENDEN NURHASANAH, S. Farm.
1206329871
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK
JANUARI 2014
DAFTAR ISI
2.1 Penilaian Kesesuaian Terapi ...
2.2 Sumber Pengkajian dan Penilaian Terapi ...
2.2.1 Pengumpulan Data Dasar (Database) Pasien ...
2.2.2 Melakukan penilaian terapi...
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ...
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ...
DAFTAR ACUAN ...
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Stroke iskemik ... 22 Gambar. 4.2 Algoritma terapi hipertensi ... 25 Gambar. 4.3 Indikasi untuk golongan obat secara individual ... 25
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan laboratorium Ny.DN... 17 Tabel 4.2 Hasil pengukuran tekanan darah Ny.DN... 17 Tabel 4.3 Rekomendasi farmakoterapi stroke iskemik... 24 Tabel 4.4 Efek langsung anti diabetik pada pasien diabetes tipe 2
yang memiliki faktor resiko kardiovaskuler... 26 Tabel 4.5 Terapi pasien Ny.DN ... 26
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penggunaan obat yang rasional mengharuskan pasien menerima pengobatan serta dosis yang sesuai dengan kebutuhan klinisnya masing-masing, pada periode waktu yang cukup (adekuat) serta biaya pengobatan yang rasional (seminimal mungkin) (WHO, 1987). Peresepan yang tidak rasional merupakan masalah global. Kebiasaan peresepan tersebut akan mengarah kepada pengobatan yang tidak aman dan tidak efektif, memperburuk atau memperpanjang keadaan sakit, menyusahkan dan membahayakan pasien (Desalegn, 2013).
Pemantauan terapi obat merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. Tujuan pemantauan terapi obat adalah meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan resiko ROTD (Reaksi Obat yan Tidak Diinginkan). Salah satu tahap dari proses pemantauan obat yaitu penilaian atau seleksi terapi obat yang bertujuan untuk menjamin semua terapi obat terindikasi, efektif dan aman serta mengidentifikasi masalah terapi obat. (Siregar, 2004). Untuk menilai kesesuaian dan efektivitas terapi maka hasil pemeriksaan laboratorium merupakan informasi yang berharga untuk membedakan diagnosis, mengkonfirmasi diagnosis, menilai status klinik pasien, mengevaluasi efektivitas terapi dan munculnya reaksi obat yang tidak diinginkan (KEMENKES RI, 2011). Salah satu metode sistematis yang dapat digunakan untuk menilai kesesuaian terapi adalah metode Subjective Objective Assessment Planning (SOAP) (DEPKES RI, 2009).
Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Cilandak merupakan rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara paripurna dengan tersedianya pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat serta menjadi rujukan Unit Pelayanan Kesehatan lainnya. Informasi yang didapat dari bagian Penelitian dan Pengembangan RSUP Fatmawati bulan Juli 2013, salah satu dari 10 kondisi klinis pasien rawat inap terbesar yaitu pasien dengan penyakit serebrovaskular.
Stroke merupakan salah satu jenis penyakit serebrovaskular.Stroke dapat terjadi sekunder akibat adanya kelainan jantung dan sirkulasi demikian pula sebaliknya stroke dapat menyebabkan kelainan jantung dan sirkulasi. Faktor resiko stroke antara lain yaitu hipertensi, diabetes, hiperlipidemik, rokok, ras, umur dan riwayat keluarga (Jauch, 2013).
Pasien rawat inap yang menderita penyakit serebrovaskular biasanya dirawat di IRNA Teratai lantai VI Selatan RSUP Fatmawati yang menangani kebanyakan kasus penyakit serebrovaskular dan kardiovaskular. Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penilaian terhadap kesesuaian terapi pada pasien di IRNA Teratai lantai VI Selatan RSUP Fatmawati.
1.2 Tujuan
Mengkaji kesesuaian terapi pasien rawat inap dengan ganggunan serebrovaskular dan kardiovaskular yang dirawat di IRNA Teratai lantai VI Selatan RSUP Fatmawati.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penilaian Kesesuaian Terapi
Pemantauan terapi obat merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien.
Pemantauan terapi obat merupakan salah satu bentuk dari pelayanan farmasi klinik (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009). Tujuan pemantauan terapi obat adalah meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan resiko ROTD (Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan). Salah satu tahap dari proses pemantauan obat yaitu penilaian atau seleksi terapi obat yang bertujuan untuk menjamin semua terapi obat terindikasi, efektif dan aman serta mengidentifikasi masalah terapi obat (Siregar, 2004).
Terapi obat modern berperan penting dalam memperbaiki kesehatan dengan cara meningkatkan kualitas hidup dan dengan memperpanjang harapan hidup. Kemajuan teknologi telah memungkinkan munculnya banyak senyawa unik untuk mencegah dan mengobati penyakit (Cipolle, 2004).
Cakupan penilaian kesesuaian terapi obat adalah sebagai berikut (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009):
a. Kesesuaian terapi dan regimen obat pasien
b. Kesesuaian penggunaan obat (rute, dosis, jadwal)
c. Interaksi obat-obat, obat-makanan, obat-uji laboratorium, atau obat-penyakit d. Data laboratorium klinik dan farmakokinetik untuk mengevaluasi efikasi
terapi obat serta untuk mengantisipasi efek samping, toksisitas atau efek merugikan
e. Tanda fisik dan gejala klinik yang relevan dengan terapi obat pasien.
2.2 Sumber Pengkajian dan Pemilihan Terapi 2.2.1 Pengumpulan Data Dasar (Database) Pasien
Data dasar pasien merupakan komponen penting dalam proses pemantauan terapi obat. Informasi yang dikumpulkan dan digunakan sebagai bertujuan untuk mencegah, mendeteksi, memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat. Data dasar yang dikumpulkan yaitu demografi, riwayat medis pasien, terapi obat, hasil
laboratorium klinis serta kebiasaan (sosial) pasien sehari-hari (Departemen Kesehatan, 2006).
Data dasar tersebut dapat diperoleh dari rekam medik, profil pengobatan pasien/ pencatatan penggunaan obat, wawancara dengan pasien, anggota keluarga, dan tenaga kesehatan lain (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009).
Profil pengobatan pasien di rumah sakit dapat diperoleh dari catatan pemberian obat oleh perawat dan kartu/formulir penggunaan obat oleh tenaga farmasi.
Untuk menilai kesesuaian terapi obat, apoteker perlu memiliki pengetahuan tentang bagaimana menginterpretasikan hasil uji laboratorium terkait kondisi pasien serta menganalisis data klinik pasien terkait penggunaan obat.
Kompetensi interpretasi data laboratorium sangat mendukung peran apoteker ruang rawat. Dalam prakteknya, kemampuan ini akan memudahkan apoteker untuk melakukan pengkajian penggunaan obat secara aktif dan berdiskusi dengan profesi kesehatan lain tentang terapi obat (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011).
2.2.2 Melakukan penilaian terapi
Setelah data terkumpul, perlu dilakukan analisis untuk identifikasi adanya masalah terkait. Data dasar pasien harus dinilai untuk melihat adanya masalah yang berkaitan dengan obat seperti (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006) :
a. Adanya obat-obat tanpa indikasi
b. Kondisi medis tetapi tidak ada obat yang diresepkan c. Pilihan obat tidak cocok untuk kondisi medis tertentu.
d. Dosis, bentuk sediaan, jadwal minum obat, rute pemberian atau metoda pemberian kurang cocok.
e. Duplikasi terapeutik dan polifarmasi.
f. Pasien alergi dengan obat yang diresepkan. Harus dilihat apakah pasien dapat metoleransi reaksi efek samping atau obat harus diganti.
g. Adanya interaksi: obat-obat, obat-penyakit, obat-nutrien, obat-tes laboratorium yang potensial dan aktual dan bermakna secara klinis.
Keberhasilan dicapai ketika hasil pengukuran parameter klinis sesuai dengan sasaran terapi yang telah ditetapkan. Apabila hal tersebut tidak tercapai, maka dapat dikatakan mengalami kegagalan mencapai sasaran terapi. Penyebab kegagalan tersebut antara lain: kegagalan menerima terapi, perubahan fisiologis/
kondisi pasien, perubahan terapi pasien, dan gagal terapi.
Salah satu metode sistematis yang dapat digunakan dalam penilaian terapi obat adalah Subjective Objective Assessment Planning (SOAP) (DEPKES RI, 2009). Metode ini digunakan dalam rangkaian pemantauan terapi terdiri dari empat bagian yaitu (Cipolle, 2004):
a. S : Subjective
Data subyektif adalah gejala yang dikeluhkan oleh pasien contohnya
“Saya merasa kembung” atau “Saya terbangun karena batuk yang tidak berhenti”.
Keluhan utama atau chief complaint merupakan pernyataan singkat mengenai alasan mengapa pasien datang ke rumah sakit atau mendatangi dokter, yang dinyatakan menggunakan kata‐kata pasien sendiri. Agar dapat menyatakan seakurat mungkin gejala (symptoms) pasien, maka tidak digunakan istilah dan diagnosis medis (Cipolle, 2004).
Setelah keluhan lalu dilanjutkan dengan mendapatkan informasi seperti tentang riwayat-riwayat seperti (Schwinghammer, 2005) :
1) Riwayat penyakit sekarang (history of present illness/HPI)
HPI merupakan keterangan deskriptif gejala (symptoms) pasien yang lebih lengkap. Biasanya mencakup:
a) Waktu/tanggal awitan (onset/mulai timbul/dirasakan) gejala b) Lokasi (precise location)
c) Sifat, kegawatan/tingkat keparahan (severity), dan lama/periode awitan gejala
d) Ada tidaknya perburukan (eksaserbasi) dan perbaikan (remisi) kondisi e) Efek dari terapi yang diberikan
f) Hubungan antara gejala lain jika ada, fungsi tubuh, atau aktivitas (misalnya aktivitas, makan).
g) Tingkat gangguan terhadap aktivitas sehari‐hari.
2) Riwayat penyakit dahulu (past medical history/PMH)
PMH meliputi penyakit serius, prosedur tindakan (misalnya bedah), dan jejas (injury) yang dialami pasien sebelumnya.
3) Riwayat penyakit keluarga (family history/FH)
Riwayat keluarga meliputi usia dan kesehatan orangtua pasien, saudara kandung dan anak‐anak. Untuk keluarga yang telah meninggal, usia dan sebab kematian dicantumkan. Terutama, penyakit menurun dan resiko/kecenderungan (misalnya diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular, keganasan/kanker, arthritis rematik, obesitas).
4) Riwayat sosial (social history/SH)
Riwayat sosial meliputi karakteristik pasien dan faktor lingkungan dan kebiasaan yang berperan pada perkembangan penyakit. Termasuk di sini status perkawinan, jumlah anak, latarbelakang pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, hobi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan obat lain.
5) Riwayat pengobatan (medical history/Meds)
Riwayat pengobatan mencakup dokumentasi akurat obat‐obat yang dipakai oleh pasien saat ini baik yang diresepkan maupun digunakan tanpa resep.
6) Alergi (All)
Alergi terhadap obat, makanan, hewan peliharaan dan faktor lingkungan (misalnya rumput, debu, serbuk sari bunga) juga dicantumkan. Deskripsi akurat mengenai reaksi alergi yang timbul juga dicantumkan. Juga harus diperhatikan apakah reaksi yang timbul merupakan efek samping obat (“upset stomach”) ataukah merupakan reaksi alergi yang sesungguhnya (“hives”).
7) Tinjauan sistem organ (review of systems/ROS)
Pada tinjauan sistem organ, pemeriksa (examiner) bertanya kepada pasien mengenai adanya gejala yang berkaitan dengan setiap sistem (organ) tubuh.
Pada kebanyakan kasus, hanya temuan positif dan negatif yang relevan yang dicatat. Pada ROS yang lengkap, sistem organ tubuh didaftar mulai dari kepala sampai kaki dan dapat termasuk di dalamnya kulit, kepala, mata, telinga, mulut dan tenggorokan, leher, kardiovaskular, pernafasan/respirasi, gastrointestinal, genitourinari, endokrin, muskuloskeletal, dan sistem neuropsikiatri. Tujuan ROS adalah untuk mengevaluasi status setiap sistem oragan tubuh dan untuk
mencegah pengabaian informasi yang penting. Informasi yang sudah tercantum pada HPI tidak diulang pada ROS (Schwinghammer, 2005).
b. O: Objective
Data obyektif adalah tanda/gejala yang terukur oleh tenaga kesehatan.
Tanda-tanda obyektif mencakup tanda vital (tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, kecepatan pernafasan), hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik (Cipolle, 2004).
1) Pemeriksaan fisik
Prosedur yang dilakukan selama pemeriksaan fisik bervariasi tergantung pada keluhan utama dan riwayat kesehatan pasien. Pada beberapa klinik, mungkin hanya dilakukan beberapa pemeriksaan fisik tertentu. Pada klinik psikiatri, misalnya, pemeriksaan lebih ditekankan pada jenis dan keparahan gejala dan tidak terlalu pada pemeriksaan fisik. Dianjurkan untuk merujuk pada buku teks yang relevan untuk mengerti prosedur khusus yang dilakukan untuk tiap sistem organ (Schwinghammer, 2005).
2) Hasil laboratorium klinik
Hasil uji laboratorium dicantumkan pada hampir semua kasus. Nilai/rentang rujukan dapat berbeda‐beda pada setiap laboratorium. Pada situasi yang sebenarnya, selalu gunakan nilai/ rentang rujukan setiap laboratorium lembaga/institusi yang terkait. Semua kasus mencantumkan pemeriksaan fisik dan hasil laboratorium dalam batasan normal. Hasil laboratorium pada presentasi kasus dinyatakan seperti pernyataan yang tercantum pada hasil laboratorium yang sebenarnya (dan bukan pernyataan sederhana seperti
“pemeriksaan jantung dan sodium serum normal”) untuk menggambarkan apa yang akan ditemui pada situasi pada praktek di klinik. Menunjukkan hasil‐hasil pemeriksaan baik yang normal maupun abnormal akan memacu mahasiswa untuk dapat menilai seluruh data lengkap dan mengidentifikasi informasi mana yang penting dan relevan (Schwinghammer, 2005).
c. A : Assessment
Apoteker menganalisis dan menyatukan informasi yang didapat dari S dan O untuk menilai keberhasilan terapi, meminimalkan efek yang tidak dikehendaki dan kemungkinan adanya masalah baru terkait obat (Cipolle, 2004).
d. P : Planning
Apoteker menyusun rencana terkait tiap permasalahan yang dialami pasien, menetapkan langkah untuk mencapai sasaran yang diharapkan dari terapi.
Setelah semua informasi penting yang relevan diperoleh dan masalah teridentifikasi, langkah berikutnya adalah menentukan tujuan khusus dari farmakoterapi. Luaran/hasil terapi primer meliputi (Schwinghammer, 2005):
1) Menyembuhkan penyakit (misalnya infeksi bakteri)
2) Mengurangi atau meredakan gejala (misalnya rasa nyeri pada kanker)
3) Menghentikan atau memperlambat progresi penyakit (misalnya rheumatoid arthritis, infeksi HIV)
4) Mencegah penyakit atau timbulnya gejala (misalnya penyakit jantung koroner).
Hasil farmakoterapi lain yang penting termasuk:
1) Tidak menimbulkan komplikasi atau memperparah penyakit lain yang diderita pasien
2) Menghindari atau meminimalkan efek samping terapi 3) Menyediakan terapi yang cost‐effective
4) Menjaga/mempertahankan kualitas hidup pasien
Sumber informasi untuk melakukan langkah ini adalah pasien atau keluarga pasien, dokter pasien atau profesional kesehatan lain, rekam medik dan buku teks Farmakoterapi atau pustaka rujukan lainnya. Setiap sasaran (peningkatan yang diharapkan) dinyatakan pada kondisi yang dapat terukur (Cipolle, 2004).
Setelah melakukan rangkaian SOAP, maka apoteker dapat mengambil kesimpulan tentang penilaian kesesuaian terapi berdasarkan acuan atau guideline terkait kondisi pasien.
2.3 Stroke
2.3.1 Gambaran umum
Istilah stroke atau penyakit serebrovaskular mengacu kepada setiap gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri otak (Price & Wilson, 2002). Stroke adalah penurunan sistem syaraf utama secara tiba-tiba ynag berlangsung selama
24 jam dan diperkirakan berasal dari pembuluh darah. (ISFI, 2008). Stroke dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya seperti stroke iskemik (88% ) dan stroke hemoragik (12%) (Dipiro, 2008).
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain: umur, jenis kelamin, ras, suku, keturunan. Faktor resiko berpotensi yang dapat dimodifikasi ialah hipertensi, penyakit jantung (fibrilasi arteri, stenosis mitral, pembesaran atrium kiri, struktur abnormal seperti aneurism septal atrium, penyakit miokard), trancient ischemic attacks (TIA), diabetes, hiperkolesterolemia, merokok, alkohol, narkoba ( kokain, heroin, amfetamin, LSD, dan lain-lain), gaya hidup (obesitas, fisik tidak aktif, diet, stress emosional), kontrasepsi oral,dan lain-lain.
2.3.2 Terapi farmakologi
Tujuan pengobatan stroke akut adalah (ISFI, 2008):
a. Mengurangi luka sistem syarafyang sedang berlangsung dan menurunkan kematian dan cacat jangka panjang.
b. Mencegah komplikasi sekunder untuk imobilitas dan disfungsi sistem syaraf c. Mencegah berulangnya stroke.
Obat-obat untuk penanganan stroke yaitu (ISFI, 2008) : a. Anti koagulan
Anti koagulan ada yang bekerja secara tidak langsung dan secara langsung. Yang bekerja secara langsung contohnya heparin, heparinoid, danaparoid, hirudin, lepirudin, desirudin. Penggunaan terapi ditujukkan untuk profilaksis trombosis vena, terapi infark miokard dan serangan serebrovaskuler, trombosis permukaan, tromboflebitis dan hematoma permukaan.
b. Penghambat agregasi trombosit
Mekanisme kerja dari masing-masing obat golongan ini bermacam-macam. Contohnya antara lain asam asetil salisilat, dipiridamol, tiklopidin, klopidogrel, absiksimab dan tirofiban.
c. Fibrinolitik
Obat golongan ini membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat oleh berbagai sebab dan lokasi, misalnya emboli paru-paru, infark miokard akut, trombosis vena, serta serangan serebral embolik. Contoh macam obat dari
golongan ini yaitu tPA (Aktivator plasminogen jaringan), streptokinase dan urokinase.
2.4 Hipertensi
2.4.1 Gambaran umum
Hipertensi merupakan kondisi medis yang heterogen. Pada kebanyakan pasien, penyebab hipertensi belum diketahui secara pasti, sedangkan sebagian pasien lainnya dapat diidentifikasi penyebab terjadinya hipertensi. Berdasarkan etiologinya, hipertensi dapat di bagi atas hipertensi esensial dan hipertensi sekunder (Dipiro, 2008).
Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat berakibat terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular. Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri dan mempercepat atherosklerosis (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006). Ini merupakan status klinis yang banyak ditemui pada pasien rawat inap RSUP Fatmawati. Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk penyakit serebrovaskular (stroke, transient ischemic attack), penyakit arteri koroner (infark miokard, angina), gagal ginjal, dementia, dan atrial fibrilasi.
Pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan resiko yang bermakna untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer, dan gagal jantung.
2.4.2 Terapi farmakologi
Obat-obat yang paling berguna adalah diuretik, penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI), penghambat reseptor angiotensin (ARB), penyekat beta, dan antagonis kalsium (CCB). Kebanyakan pasien dengan hipertensi memerlukan dua atau lebih obat antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Penambahan obat kedua dari kelas yang berbeda dimulai apabila pemakaian obat tunggal dengan dosis lazim gagal mencapai target tekanan darah. Apabila tekanan darah melebihi 20/10 mm Hg diatas target, dapat dipertimbangkan untuk memulai terapi dengan dua obat. Yang harus diperhatikan
adalah resiko untuk hipotensi ortostatik, terutama pada pasien-pasien dengan diabetes, disfungsi autonomik, dan lansia (Semchuk, 2003).
2.5 Dislipidemia 2.5.1 Gambaran umum
Kolesterol, trigliserida dan fosfolipid merupakan jenis lemak yang terdapat dalam tubuh yang diangkut sebagai kompleks lipoprotein yang terdiri dari lemak dan protein (apolipoprotein) (Dipiro, 1997). Hiperlipidemia atau dislipidemia adalah peningkatan salah satu atau lebih kolesterol, kolesterol ester, fosfolipid, atau trigliserid. Ketidaknormalan lipid plasma dapat menyebabkan pengaruh yang buruk terhadap koroner, serebrovaskular dan penyakit pembuluh arteri perifer (ISFI, 2008).
Secara etiologi, dislipidemia dibagi menjadi dua kategori yaitu dislipidemia primer dan dislipidemia sekunder. Dislipidemia Primer merupakan dislipidemia yang disebabkan karena kelainan genetik. Adapun yang termasuk dalam klasifikasi ini antara lain (Walker, 2002) :
a. Hiperkolesterolemia poligenik b. Hiperkolesterolemia familial c. Dislipidemia remnan
a. Hiperkolesterolemia poligenik b. Hiperkolesterolemia familial c. Dislipidemia remnan