3. JARINGAN JALAN KABUPATEN
2.5.3. SARANA ANITASI
2.5.3.1. AIR LIMBAH
a). Limbah Cair Rumah Tangga
Kondisi umum penanganan limbah cair rumah tangga di Kabupaten Blora mempergunakan sistem setempat (onsite system) berupa septic tank, namun juga dapat dijumpai penggunaan cubluk di beberapa tempat. Walaupun demikian, dibeberapa lokasi sudah dibangun sistem komunal untuk melayani satu kawasan pemukiman, pondok pesantren maupun industri tahu melalui program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) dan IPAL komunal.
Perkiraan total produksi air limbah domestik rumah tangga sekala Kabupaten Blora, untuk air limbah grey water sebesar 82.451.904 Liter/hari atau 82.452 M3/hari. Sedangkan untuk produksi air limbah domestik rumah tangga black water adalah sebesar 429.437 liter/hari atau 430 M3/hari. Adapun untuk total produksi air limbah skala kota untuk grey water sebesar : 16.030.368 liter/hari atau 16.031 liter/hari. Sedangkan untuk limbah black water skala kota sebesar : 83.491 liter /hari.
b). Limbah Industri
industri rumah tangga sebanyak 9.877 unit, industri kecil sebanyak 1.103 unit dan industri sedang/besar sebanyak 26 unit. Kategori jenis usaha tersebut antara lain industri pengolahan pangan, bahan bangunan, kerajinan kayu, dan batik.
Jenis usaha yang paling banyak berkembang adalah industri pengolahan pangan. Limbah industri yang dihasilkan oleh jenis industri tersebut memiliki kadar BOD (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand) dan TSS (Total Suspended Solid) yang masih dapat ditolerir.
c). Limbah Medis
Di Kabupaten Blora terdapat lima rumah sakit yaitu RS Dr Soetijono Blora, RS Dr Soeprapto Cepu, RS Permata Blora, Rumah Sakit Muhammadiyah Cepu. RS Muhammadiyah Blora, dan RS Wira Husada. Selain itu juga terdapat 26 Puskesmas, 57 Puskesmas Pembantu, 35 apotik, 14 Balai Pengobatan, dan 11 rumah bersalin. Dari sejumlah sarana kesehatan tersebut dipastikan menghasilkan limbah medis yang mengandung bahan kimia maupun limbah infeksius yang berbahaya bagi lingkungan. Untuk menangani limbah medis, RS Dr Soetijono Blora, RS Dr Soeprapto Cepu dan RS Permata Blora telah membangun IPAL di lingkungan rumah sakit. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kemungkinan pencemaran yang disebabkan oleh limbah tersebut.
Air limbah di Rumah Sakit dialirkan melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pemantauan kualitas air limbah di Rumah Sakit dilakukan secara rutin untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan akibat limbah rumah sakit. Pemantauan air limbah ditujukan kepada parameter air limbah seperti : BOD, COD, TSS, NH3 Bebas, Bakteri coliform, bakteri pathogen dan lain-lain. Pemantauan dilakukan agar parameter air limbah tersebut berada di bawah standar yang diperbolehkan. Sedangkan penanganan limbah padat Rumah Sakit dibedakan melalui 2 hal, yaitu : limbah padat domestik dan limbah padat medis. Limbah padat domestik Rumah Sakit sebesar : 2 s.d 3,5 M3 dan limbah padat medis sebesar 35 kg/hari yang semuanya diangkut oleh Dinas PU Blora. (Sumber : DPUK Blora)
2.5.3.2. PERSAMPAHAN
Cakupan pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten Blora berada di kota Blora, Cepu dan sekitarnya, serta pasar-pasar yang berada di wilayah ibu kota kecamatan. Karakteristik sampah di kota Blora dan Cepu sebagian besar berupa sampah organik yang berasal dari sisa makanan, sayuran dan buah-buahan.
Dari data Seksi Kebersihan dan Pengelolaan Sampah, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Blora, volume sampah yang dihasilkan per hari adalah 103 m3. Dari volume sampah tersebut, sekitar 72 % diangkut ke TPA yang berada di Desa Temurejo, Kecamatan Tunjungan. Sebelum sampah diangkut ke TPA, sampah di tampung di tempat penyimpanan sementara (TPS) di wilayah Kecamatan Blora dan Cepu.
Jumlah tempat penyimpanan sementara (TPS) di kabupaten 68 buah, dengan perincian di Kota Blora berjumlah 55 buah dan Cepu 13 Buah. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 28% di kelola
sendiri oleh masyarakat dengan dipilah untuk dimanfaatkan kembali, dibakar maupun ada juga yang dibuang di sungai.
Frekuensi pengambilan dan pengangkutan sampah dari TPSS tidak sama tergantung jumlah volume sampahnya.. Institusi yang mengelola operasi dan pemeliharaan TPSS yaitu dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Blora.
Sampah yang diangkut dari TPS kemudian di buang ke TPA. Jumlah TPA di Kabupaten Blora ada 2 buah. Pertama berada di Desa Temurejo seluas 2 Ha, Kecamatan Blora yang melayani pelayanan sampah dengan volume 100 M3/hari untuk Kota Blora dan sekitarnya. Sedangkan yang ke 2 berada di Desa Tambakrono (Kawasan Wonorejo) dengan luas 1,5 Ha, yang melayani untuk wilayah Cepu dan sekitarnya dengan volume sampah sebanyak 40 M3/hari.
Metode yang digunakan di TPA Wonorejo adalah open dumping, yaitu sampah ditimbun di area terbuka (open dumping) tanpa ditutup tanah kemudian dilakukan pemadatan dengan bulldozer. Sedangkan TPA Temurejo menggunakan metode Landfill, yaitu sampah dimasukan dalam lubang, lalu lubang ditimbun dengan tanah, kemudian diberikan pipa yang berfungsi sebagai cerobong gas. Fasilitas pendukung TPA yang ada di Kabupaten Blora dianataranya adalah : Instalasi pengolahan air lindi limbah sampah (leachate), sumur pantau untuk mengetahui terjadinya pencemaran air tanah berjumlah : 3 buah di TPA Temurejo dan 1buah berada di TPA Wonorejo Cepu. Sedangkan peralatan berat yang ada di TPA adalah : Buldozer 1 unit.
2.5.4. DRAINASE
Sistem drainase di Kabupaten Blora memanfaatkan topografi dan gaya gravitasi bumi. Sehingga air hujan yang jatuh, dapat mengalir dengan lancar menuju 122 sungai yang ada di Kabupaten Blora. Selain itu kondisi tanah di wilayah ini yang sebagian berupa karst menyebabkan air hujan mudah terserap ke dalam tanah melalui pori-pori maupun celah di dalam tanah. Untuk memaksimalkan penyerapan air hujan maka dibangun embung, sumur resapan dan biopori terutama untuk wilayah padat penduduknya, khususnya di Perumahan Karangjati, Perumda Kunden, Perumahan Kridosono.
Sedangkan wilayah Kabupaten Blora yang mempunyai potensi munculnya genangan air akibat tingginya curah hujan yang mengakibatkan banjir terdapat di 3 wilayah kecamatan, yaitu pada Kecamatan Cepu, Kedungtuban dan Kradenan. Ke 3 (tiga) kecamatan tersebut berada atau dilewati oleh Sungai Bengawan Solo. Adapun desa-desa yang mempunyai potensi terjadinya banjir di Kabupaten Blora yang berada di wilayah 3 (tiga) Kecamatan tersebut yaitu : Balun, Nglanjuk, Ngloram, Gadon, Panolan, Jipang, Klagen, Nginggil, Nglebak, dan Megeri.
wilayah hutan Jati. Tingkat pertumbuhan kepadatan penduduk tidak terlalu signifikan, kecuali di wilayah Kota Blora dan Cepu. Jaringan drainase primer yang digunakan di Kabupaten Blora sekarang pada masing-masing kecamatan sudah terdapat drainase pada samping kiri dan kanan bahu jalan. Hanya saja kondisinya sangat beragam. Panjang drainase primer di Kabupaten Blora sepanjang 368 km. Sedangkan panjang drainase sekunder sepanjang 476 km.
Terkait dengan permasalahan terjadinya genaganan air atau banjir. Terjadinya genangan pada beberapa lokasi terutama di Kota Blora dan Cepu dan sekitarnya secara pasti akan menimbulkan permasalahan berkelanjutan pada system interaksi sosial, ekonomi, budaya, dan aspek interaksi masyarakat lainnya. Data selengkapnya mengenai lokasi dan penyebab genangan dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL: 2.24. LOKASI BANJIR / GENANGAN DI KABUPATEN BLORA
No Lokasi Penyebab Genangan
1 Kawasan Perumda, Kunden Dimensi saluran drainase kurang, lokasi berada lebih rendah dari lahan sekitarnya yang merupakan lahan persawahan yang cukup luas.
2 Kawasan Ngareng, Cepu Dimensi saluran drainase kurang, lokasi berada lebih rendah dari jalan.
3 Kecamatan Cepu : Keluharan Cepu, Balun, Desa Ngelo, Nglanjuk, Sumber Pitu, Getas, Jipang, Ngloram, Gadon
Luapan Sungai Bengawan Solo
4 Kecamatan Kedung Tuban : Desa Gondel, ketuan, Jimbung, Panolan, Klagen
Luapan Sungai Bengawan Solo
5 Kecamatan Kradenan : Nglungger, Medalem, Mendenrejo, Ngrawoh, Nginggil, Nglebak, Megeri
Luapan Sungai Bengawan Solo
6. Perumahan Kamolan, Bonjorejo Dimensi saluran drainase kurang, lokasi berada lebih rendah dari jalan
Sumber: Kesbangpol Kabupaten Blora
Secara umum penyebab terjadinya genangan antara lain adalah Luapan dari sungai bengawan solo dan kondisi sistem drainase yang kurang baik sehingga curah air hujan yang tinggi tidak tertampung dalam dalam sitem drainase yang ada.
2.5.5. LISTRIK
Upaya peningkatan taraf hidup masyarakat pemerintah dengan mengupayakan program listrik masuk desa. Kebutuhan listrik di Blora dipenuhi oleh PT. PLN. Sudah 100 persen desa/kelurahan yang terpasang aliran listrik dengan jumlah pelanggan sebanyak 177.662 di tahun 2015.
TABEL: 2.25. JUMLAH PELANGGAN LISTRIK KABUPATEN BLORA
Sumber: PLN UPJ Cepu dan Blora
2.5.6. TELEPON
Pelayanan telekomunikasi untuk wilayah Kabupaten Blora dilayani oleh PT. TELKOM yang terbagi menjadi 4 rumah kabel, yaitu: Blora, Cepu, Randiblatung dan Ngawen.
TABEL: 2.26. JUMLAH PELANGGAN PESAWAT TELEPON
NO KECAMATAN PEMERINTAH PN/PT SWASTA JUMLAH
1 Jati 6 6 197 209 2 Randublatung 6 10 974 990 3 Kradenan 0 0 0 0 4 Kedungtuban 10 12 361 383 5 Cepu 72 85 3926 4083 6 Sambong 6 10 334 350 7 Jiken 12 12 252 276 8 Bogorejo 0 0 0 0 9 Jepon 25 3 270 298 10 Blora 120 30 2577 2727 11 Banjarejo 3 4 42 49 12 Tunjungan 4 0 13 17 13 Japah 0 0 0 0 14 Ngawen 14 15 665 694 15 Kunduran 3 4 173 180 16 Todanan 0 0 0 0 Jumlah 2009 281 191 9784 10256
Sumber : Kabupaten Blora Dalam Angka, 2016
RANTING SUB KECAMATAN DISTRICT JUMLAH DESA/KELURAHAN NUMBER OF VILLAGE BERLISTRIK PLN PELANGGAN CONSUMER (1) (2) (3) (4) (5) Cepu 1.Jati 11 11 11,463 2.Randublatung 18 18 14,270 3.Kradenan 10 10 7,229 4.Kedungtuban 17 17 11,153 5.Cepu 17 17 20,779 6.Sambong 10 10 4,986 7.Jiken 11 11 7,784 Blora 8.Bogorejo 14 14 5,329 9.Jepon 26 26 12,972 10.Blora 28 28 21,414 11.Banjarejo 20 20 9,976 12.Tunjungan 15 15 11,025 13.Japah 18 18 4,696 14.Ngawen 29 29 10,445 15. Kundunan 26 26 13,277 16.Todanan 26 26 10,864 Jumlah 2015 296 296 177662