G
G
G
G A
A
A M
A
M
MB
M
B
B A
B
A
A R
A
R A
R
R
A
A N
A
N
N
N
U
U
U
U
M
M
M
M
U
U
U
U
M
M
M
M
K A
K
K
K
A
A B
A
B
B.
B
.. B
.
B
BL
B
LLO
L
O
OR
O
R
R A
R
A
A
A
Letak Geografis Dan Administrasi
Letak Geografis Dan Administrasi
Penggunaan Lahan
Penggunaan Lahan
Kependudukan
Kependudukan
Potensi Wilayah
Potensi Wilayah
Gambaran Perekonomian (PDRB)
Gambaran Perekonomian (PDRB)
Prasarana Pendukung
Prasarana Pendukung
Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi
Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi
2.1
2.1 KONDKONDISI ISI GEOGRGEOGRAFIS AFIS KABUKABUPATEN PATEN BLORBLORAA 2.6.1.
2.6.1. LETAK LETAK GEOGRAFIS GEOGRAFIS DAN DAN ADMINISTRASIADMINISTRASI
ecara geografis Kabupaten Blora terletak di antara 111°016' s/d 111°338' Bujur Timur dan ecara geografis Kabupaten Blora terletak di antara 111°016' s/d 111°338' Bujur Timur dan diantara 6°528' s/d 7°248' Lintang Selatan. Secara administratif terletak di wilayah paling diantara 6°528' s/d 7°248' Lintang Selatan. Secara administratif terletak di wilayah paling ujung (bersama Kabup
ujung (bersama Kabupaten Rembang) disisaten Rembang) disisi timuri timur Propinsi Jawa Propinsi Jawa Tengah. Jarak terjauh Tengah. Jarak terjauh daridari barat ke timur adalah 57 km dan jarak terjauh dari utara ke selatan 58 km. Terletak di antara barat ke timur adalah 57 km dan jarak terjauh dari utara ke selatan 58 km. Terletak di antara 111°016' s/d 111°338' Bujur Timur dan diantara 6°528' s/d 7°248' Lintang Selatan. Batas 111°016' s/d 111°338' Bujur Timur dan diantara 6°528' s/d 7°248' Lintang Selatan. Batas Administrasi:
Administrasi:
-- UUttaarraa : : KKaabbuuppaatteenn RReemmbbaanng g ddaan n KKaabbuuppaatteen n PPaattii
-- TTiimumurr : K: Kaabbuuppaatteen Bn Boojjononeeggororo Po Prropopininssi Ji Jaawwa Ta Timimuurr
-- SeSelalatatann : K: Kababupupatateen Nn Ngagawi wi PrPropopininssi Ji Jawawa Ta Tiimumurr
-- BBaarraatt : : KKaabbuuppaatteen n GGrroobbooggaann
II
Jumlah kecamatan di Kabupaten Blora adalah 16 kecamatan yang terdiri 271 desa dan 24 Jumlah kecamatan di Kabupaten Blora adalah 16 kecamatan yang terdiri 271 desa dan 24 kelurahan. Yang keseluruhannya terdiri dari 941 dusun, 1.204 RW dan 5.429 RT. Enam kelurahan. Yang keseluruhannya terdiri dari 941 dusun, 1.204 RW dan 5.429 RT. Enam kecamatan memiliki wilayah kelurahan (Randublatung, Cepu, Jepon, Blora, Ngawen, dan kecamatan memiliki wilayah kelurahan (Randublatung, Cepu, Jepon, Blora, Ngawen, dan Kunduran). Kecamatan Ngawen memiliki desa/kelurahan terbanyak (27 desa dan 2 kelurahan) Kunduran). Kecamatan Ngawen memiliki desa/kelurahan terbanyak (27 desa dan 2 kelurahan) sedangkan kecamatan Sambong dan Kradenan memiliki desa/kelurahan paling sedikit sedangkan kecamatan Sambong dan Kradenan memiliki desa/kelurahan paling sedikit masing-masing dengan 10 desa.
masing dengan 10 desa.
Sumber: RTRW Kab Blora Sumber: RTRW Kab Blora
TABEL:
TABEL: 2.1.2.1. PETA ADMPETA ADMINISTRASI KABUPINISTRASI KABUPATEN BLOATEN BLORARA
2.6.
2.6.2. 2. PENGPENGGUNAAGUNAAN N LAHALAHANN
Kabupaten Blora dengan luas wilayah Kabupaten Blora dengan luas wilayah administrasi 1.820,588 km² memiliki administrasi 1.820,588 km² memiliki ketinggian 96,00-280m diatas permukaan ketinggian 96,00-280m diatas permukaan laut.
laut. WilayWilayah Kecamatah Kecamatan terluas terdan terluas terdapatapat di Kecamatan Randublatung dengan luas di Kecamatan Randublatung dengan luas 211,13 km² sedangkan tiga kecamatan 211,13 km² sedangkan tiga kecamatan terluas selanjutnya yaitu Kecamatan Jati, terluas selanjutnya yaitu Kecamatan Jati, Jiken dan Todanan yang masing-masing Jiken dan Todanan yang masing-masing mempunyai luas 183,621 km², 168,167 mempunyai luas 183,621 km², 168,167 km²
km² dan 1dan 128,728,739 k39 km². Unm². Untuk ketuk ketinggitinggianan tanah berada di kecamatan Japah relatif tanah berada di kecamatan Japah relatif lebih tinggi dibanding kecamatan yang lain lebih tinggi dibanding kecamatan yang lain yaitu mencapai 280 meter dpl.
Jumlah kecamatan di Kabupaten Blora adalah 16 kecamatan yang terdiri 271 desa dan 24 Jumlah kecamatan di Kabupaten Blora adalah 16 kecamatan yang terdiri 271 desa dan 24 kelurahan. Yang keseluruhannya terdiri dari 941 dusun, 1.204 RW dan 5.429 RT. Enam kelurahan. Yang keseluruhannya terdiri dari 941 dusun, 1.204 RW dan 5.429 RT. Enam kecamatan memiliki wilayah kelurahan (Randublatung, Cepu, Jepon, Blora, Ngawen, dan kecamatan memiliki wilayah kelurahan (Randublatung, Cepu, Jepon, Blora, Ngawen, dan Kunduran). Kecamatan Ngawen memiliki desa/kelurahan terbanyak (27 desa dan 2 kelurahan) Kunduran). Kecamatan Ngawen memiliki desa/kelurahan terbanyak (27 desa dan 2 kelurahan) sedangkan kecamatan Sambong dan Kradenan memiliki desa/kelurahan paling sedikit sedangkan kecamatan Sambong dan Kradenan memiliki desa/kelurahan paling sedikit masing-masing dengan 10 desa.
masing dengan 10 desa.
Sumber: RTRW Kab Blora Sumber: RTRW Kab Blora
TABEL:
TABEL: 2.1.2.1. PETA ADMPETA ADMINISTRASI KABUPINISTRASI KABUPATEN BLOATEN BLORARA
2.6.
2.6.2. 2. PENGPENGGUNAAGUNAAN N LAHALAHANN
Kabupaten Blora dengan luas wilayah Kabupaten Blora dengan luas wilayah administrasi 1.820,588 km² memiliki administrasi 1.820,588 km² memiliki ketinggian 96,00-280m diatas permukaan ketinggian 96,00-280m diatas permukaan laut.
laut. WilayWilayah Kecamatah Kecamatan terluas terdan terluas terdapatapat di Kecamatan Randublatung dengan luas di Kecamatan Randublatung dengan luas 211,13 km² sedangkan tiga kecamatan 211,13 km² sedangkan tiga kecamatan terluas selanjutnya yaitu Kecamatan Jati, terluas selanjutnya yaitu Kecamatan Jati, Jiken dan Todanan yang masing-masing Jiken dan Todanan yang masing-masing mempunyai luas 183,621 km², 168,167 mempunyai luas 183,621 km², 168,167 km²
km² dan 1dan 128,728,739 k39 km². Unm². Untuk ketuk ketinggitinggianan tanah berada di kecamatan Japah relatif tanah berada di kecamatan Japah relatif lebih tinggi dibanding kecamatan yang lain lebih tinggi dibanding kecamatan yang lain yaitu mencapai 280 meter dpl.
Penggunaan areal terbesar Kabupaten Blora sebagai Penggunaan areal terbesar Kabupaten Blora sebagai hutan yang meliputi hutan negara dan hutan rakyat hutan yang meliputi hutan negara dan hutan rakyat sebesar. 49,66 % dan untuk tanah sawah 25,29 % sebesar. 49,66 % dan untuk tanah sawah 25,29 % sisanya digunakan sebagai pekarangan, tegalan, waduk, sisanya digunakan sebagai pekarangan, tegalan, waduk, perkebunan rakyat dan lain-lain yakni 25,05 % dari perkebunan rakyat dan lain-lain yakni 25,05 % dari seluruh penggunaan lahan. Luas penggunaan tanah seluruh penggunaan lahan. Luas penggunaan tanah sawah terbesar adalah Kecamatan Kunduran 551,359 sawah terbesar adalah Kecamatan Kunduran 551,359 Ha dan Kecamatan Kedungtuban 4.670,435 Ha yang Ha dan Kecamatan Kedungtuban 4.670,435 Ha yang selama ini memang dikenal sebagai lumbung padinya selama ini memang dikenal sebagai lumbung padinya Kabupaten Blora. Sedangkan kecamatan dengan areal Kabupaten Blora. Sedangkan kecamatan dengan areal hutan luas adalah Kecamatan Randublatung, Jiken dan hutan luas adalah Kecamatan Randublatung, Jiken dan Jati, masing-masing lebih dari 13 ribu Ha. Untuk jenis Jati, masing-masing lebih dari 13 ribu Ha. Untuk jenis pengai
pengairan diran di KabupKabupaten Baten Blora, 1lora, 12 keca2 kecamatan matan telahtelah memiliki saluran irigasi teknis, kecuali Kecamatan Jati, Randublatung, Kradenan, dan Kecamatan memiliki saluran irigasi teknis, kecuali Kecamatan Jati, Randublatung, Kradenan, dan Kecamatan Japah yang masing-masing memiliki saluran irigasi setengah teknis dan tradisional. Waduk Japah yang masing-masing memiliki saluran irigasi setengah teknis dan tradisional. Waduk sebagai sumber pengairan baru terdapat di tiga Kecamatan Tunjungan, Blora, dan Todanan sebagai sumber pengairan baru terdapat di tiga Kecamatan Tunjungan, Blora, dan Todanan disamping dam-dam penampungan air di Kecamatan Ngawen, Randublatung, Banjarejo, Jati, disamping dam-dam penampungan air di Kecamatan Ngawen, Randublatung, Banjarejo, Jati, dan Jiken.
dan Jiken.
TABE
TABEL: 2.1L: 2.1.. LUAS LUAS PENGPENGGUNAAGUNAAN LAHN LAHAN MENAN MENURUT URUT KECAMKECAMATANATAN DI KABDI KAB. BLO. BLORA TARA TAHUNHUN 20162016 (HA)(HA) K KEECCAAMMAATTAANN SSAAWWAAHH BBAANNGGUUNNAANN TTEEGGAALLAANN WWAADDUUKK HHUUTTAANN PPEERRKKEEBBUUNNAANN PPEERRTTAAMMBBAANNGGAANN LLAAIINN--LLAAIINN 1 1 JJaattii 22,,666699..5544 11,,445533..1133 993333..8844 -- 1313,,119955..7755 -- -- 110099..7788 2 2 RRaanndduubbllaattuunngg 3,,4348899..3322 11,,557711..5555 22,,002200..5544 -- 1133,,886699..1155 -- 55..1144 115577..3399 3 3 KKrraaddeennaann 22,,226644..7788 11,,008844..7777 1,,0102211..0000 -- 66,,448833..4488 -- 22..3333 9944..4477 4 4 KKeedduunnggttuubbaann 4,,6466688..0055 11,,118888..9900 11,,008855..1133 -- 33,,555599..4433 -- 1144..1133 117700..1188 5 5 CCeeppuu 22,,001133..4444 11,,008888..7711 992244..9999 -- 447777..6611 -- -- 440099..7799 6 6 SSaammbboonngg 11,,227700..4433 553311..0033 1,,0103311..2222 -- 5,,8589988..9966 -- -- 114433..3366 7 7 JJiikkeenn 11,,660055..7788 773322..2222 995599..4411 -- 1133,,444455..3399 -- -- 7373..8877 8 8 BBooggoorreejjoo 11,,330044..5599 553366..8800 11,,883399..1111 -- 11,,220011..6611 -- -- 9988..3377 9 9 JJeeppoonn 22,,553366..5599 11,,119933..3355 2,,1217788..3333 -- 44,,776688..9911 -- -- 9955..1199 1 100 BBlloorraa 22,,883322..2222 11,,773388..5566 22,,001111..8822 1188..3300 11,,117788..6600 -- -- 191999..1100 1
111 BBaannjjaarreejjoo 22,,772277..4466 1,,3131166..7700 22,,116666..0022 -- 44,,006611..3399 -- -- 8800..6644 1 122 TTuunnjjuunnggaann 22,,882277..1177 889911..2233 11,,883377..9922 3355..5544 44,,337722..9933 44..0000 -- 221122..7733 1 133 JJaappaahh 22,,110000..5588 551133..6688 1,,9196699..3377 -- 55,,559988..9966 -- -- 112222..6600 1 144 NNggaawweenn 44,,003344..6666 11,,001166..5555 22,,001166..5599 -- 22,,990033..1188 -- -- 112277..2211 1 155 KKuunndduurraann 5,,5555500..9999 11,,112233..7722 22,,114488..5555 -- 33,,776688..6644 -- -- 220066..3388 1 166 TTooddaannaann 44,,005522..5566 11,,006688..4411 22,,004444..5533 33..1122 55,,663322..5533 -- -- 7722..7766 JJuummllaah h 22001166 4455,,994488..1166 1177,,004499..3311 2266,,118888..3377 5566..9966 9900,,441166..5522 4..04000 2211..6600 22,,337733..8822 2 2001155 4466,,003355..7711 1166,,996611..6655 2266,,118888..5511 5566..9966 9900,,441166..5522 44..0000 2211..6600 22,,337733..8822 2 2001144 4466,,004411..8822 1166,,995522..8811 2266,,119966..0011 5566..9966 9900,,441166..5522 44..0000 2211..6600 22,,337733..8822 Sumb
Sumb
Sumberer :: StatiStatistik (BPstik (BPN Kab. BloraN Kab. Blora) Tahun) Tahun 20162016, diolah, diolah
GAMB
GAMBAR AR 2.1.2.1. DISTDISTRIBUSRIBUSI I LUASALUASAN N LAHAN LAHAN MENUMENURUT RUT PENGPENGGUNAAN GUNAAN LAHAN LAHAN TAHUN TAHUN 20120166 (HA)(HA)
Sumb
Sumberer :: StatiStatistik (BPstik (BPN Kab. BloraN Kab. Blora) Tahun) Tahun 20162016, diolah, diolah
GA
GAMB
GAMBAR AR 2.3.2.3. PETA PPETA PENGGENGGUNAAN LUNAAN LAHAN TAAHAN TAHUN 20HUN 2015 KAB15 KABUPATEUPATEN BLORAN BLORA
2.
2.2 2 PRPROFOFIL IL DEDEMOMOGRGRAFAFII 2.2.1.
2.2.1. JUMLAH JUMLAH PENDUDUK PENDUDUK DAN DAN PERKEMBAANGAPERKEMBAANGANN Jumlah
Jumlah penduduk penduduk Kabupaten Kabupaten Blora Blora pada pada tahun tahun 2016 2016 sebesar sebesar 855.573 855.573 jiwa, jiwa, dengandengan tingkattingkat kepadatan penduduk rata-rata adalah 470 jiwa per km2. Kepadatan tertinggi tercatat di kepadatan penduduk rata-rata adalah 470 jiwa per km2. Kepadatan tertinggi tercatat di Kecamatan Cepu sebesar 1.503 jiwa per km
Kecamatan Cepu sebesar 1.503 jiwa per km22.. DDalalam am kukururun wn wakaktutu 55 tatahhunun, p, penendudududukk Ka
Kabubupapatetenn BlBlororaa nanaik sik sebebesesar 1ar 1.8.833 pepersrsenen.. DaData Bta BPSPS KaKabubupapatetenn BlBloraora memenununjnjukukkakan jun jumlmlahah pen
pendudduduk uk KabKabupaupatenten BloBlorara padpada a TahTahun un 20120166 sebsebesesarar 855855.5.57373 jiwjiwa, a, sedsedangangkankan padpada a TahTahunun 2012
2012 sebesebesarsar 840.840.206206 jiwajiwa, , artinyartinya a pertupertumbuhambuhan n pendupenduduk duk relatirelatif f kecil kecil yaitu yaitu 1,83 1,83 perspersenen selama lima tahun atau rata-rata
selama lima tahun atau rata-rata 0,45 persen per tahunnya.0,45 persen per tahunnya.
Untuk distribusi penduduk yang terbesar ada di Kecamatan Blora sebesar 94,300 jiwa dan Untuk distribusi penduduk yang terbesar ada di Kecamatan Blora sebesar 94,300 jiwa dan Kecamatan Randublatung (75.963 jiwa). Sedangkan jumlah pendudu
Kecamatan Randublatung (75.963 jiwa). Sedangkan jumlah pendudu terkecil ada di Kecamatanterkecil ada di Kecamatan Bogorejo sebesar
TABEL: 2.2. JUMLAH PENDUDUK DAN PERKEMBANGANNYA DI KAB. BLORA 2012 - 2016 NO KECAMATAN TAHUN 2012 2013 2016 2015 2016 1 Jati 45,610 45,773 45,920 46,054 46,242 2 Randublatung 74,778 75,096 75,384 75,653 75,963 3 Kradenan 39,196 39,387 39,564 39,732 39,894 4 Kedungtuban 54,859 55,114 55,347 55,568 55,796 5 Cepu 72,838 73,099 73,332 73,546 73,847 6 Sambong 25,195 25,297 25,389 25,474 25,578 7 Jiken 38,002 38,272 38,529 38,777 38,936 8 Bogorejo 23,789 23,882 23,965 24,042 24,140 9 Jepon 59,960 60,395 60,810 61,212 61,462 10 Blora 92,166 92,778 93,358 93,916 94,300 11 Banjarejo 57,611 57,894 58,157 58,404 58,643 12 Tunjungan 45,593 45,918 46,229 46,528 46,718 13 Japah 33,766 33,949 34,118 34,279 34,419 14 Ngawen 56,611 56,876 57,118 57,347 57,582 15 Kunduran 62,671 62,947 63,198 63,434 63,693 16 Todanan 57,561 57,767 57,951 58,122 58,360 JUMLAH 840,206 844,444 848,369 852,088 855,573
Sumber/Source : BPS Kab. Blora, 2017, diolah
Sumber: Blora Dalam Angka Tahun 2017, diolah
Sumber: Blora Dalam Angka Tahun 2017, diolah
GAMBAR 2.5. GRAFIK JUMLAH PENDUDUK TAHUN 2016 TIAP KECAMATAN
Sumber: Blora Dalam Angka Tahun 2017, diolah
GAMBAR 2.6. GRAFIK PROSENTASE JUMLAH PENDUDUK TAHUN 2016 TIAP KECAMATAN
2.2.2. RASIO KETERGANTUNGAN DAN BONUS DEMOGRAFI
Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya
persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan
semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Rasio Ketergantungan (dependency ratio) di Kabupaten Blora dapat dilihat pada Tabel 2.3.
TABEL: 2.3. RASIO KETERGANTUNGAN (DEPENDENCY RATIO) KABUPATEN BLORA TAHUN 2012-2016
NO URAIAN 2012 2013 2014 2015 2016
1 Jumlah Penduduk 840,206 844,444 848,369 852,088 855,573 2 Laju pertumbuhan penduduk 0,43% 0,50% 0,46% 0,44% 0,41% 3 Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun 199,227 197,454 195,687 194,053 193,962 4 Jumlah Penduduk usia > 64 tahun 72,077 72,592 74,510 76,524 79,218 5 Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif 271,304 270,046 270,197 270,577 273,180 6 Jumlah Penduduk Usia 15-64 tahun 575,128 574,398 578,172 581,511 582,393 7 Rasio ketergantungan 2:1 2:1 2:1 2:1 2 : 1
Sumber : BPS Kabupaten Blora Tahun 2016
Berdasarkan tabel diatas menjelaskan bahwa di Kabupaten Blora setiap dua orang penduduk berusia produktif harus menanggung beban satu orang penduduk yang tidak produktif. Bonus demografi adalah keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh penurunan proporsi penduduk muda yang mengurangi besarnya biaya investasi untuk pemenuhan kebutuhannya, sehingga sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga.
TABEL: 2.4. JUMLAH PENDUDUK DAN PERKEMBANGANNYA DI KAB. BLORA 2012 – 2016 MENURUT KELOMPOK UMUR KELOMPOK UMUR 2012 2013 2014 2015 2016 0-4 63,807 66,676 66,007 65,240 62,104 5-9 65,755 65,447 65,166 64,797 66,556 10-14 69,665 65,331 64,514 64,016 65,302 15-19 64,564 64,838 64,998 64,958 62,604 20-24 55,894 58,793 59,404 59,931 59,178 25-29 60,487 57,647 56,954 56,662 57,849 30-34 68,019 63,746 62,931 61,941 61,970 35-39 64,663 65,677 65,477 65,267 63,670 40-44 65,382 65,454 65,223 64,969 63,730 45-49 64,650 63,299 63,699 63,947 65,343 50-54 55,989 57,766 58,923 59,995 60,307 55-59 45,438 46,192 48,022 49,632 51,869 60-64 30,042 30,986 32,541 34,209 35,873 65-69 23,134 23,126 23,746 24,569 25,454 70-74 20,736 18,992 19,402 19,792 21,215 75+ 28,207 30,474 31,362 32,163 32,549
2.2.3. KETENAGAKERJAAN
Dalam proses pembangunan, masyarakat menjadi dual function (dua fungsi). Fungsi subjek sebagai pelaku pembangunan dan fungsi objek sebagai sasaran/target pembangunan. Pembangunan diharapkan dapat melibatkan sebanyak-banyaknya masyarakat lokal, sehingga pemberdayaan masyarakat lokal yang berujung pada kesejahteraan dan kemakmuran akan mudah terwujud. Salah satu kesuksesan pembangunan ditandai dengan makin sedikitnya jumlah penganggur. Dari tabel di bawah ini, terdapat sinyal kuat pertanda pembangunan di
Kabupaten Blora belum berjalan sesuai tujuan.
TABEL: 2.5. JUMLAH PENAWARAN DAN PERMINTAAN TENAGA KERJA KABUPATEN BLORA BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN TAHUN 2012 - 2016
RINCIAN 2012 2013 2014 2015 2016 I PENAWARAN 4,070 3,608 3,658 2,756 3,388 SD 27 10 16 50 36 SMP 502 310 240 266 292 SMA 2,678 2,116 2,401 2,061 2,609 Sarmud/DI/DII 376 447 268 143 210 Sarjana 487 725 733 236 241 II PERMINTAAN 1,579 1,205 1,222 1,630 1,531 SD 20 10 6 103 39 SMP 88 22 98 158 150 SMA 1,411 1,090 975 1,315 1,292 Sarmud/DI/DII 21 58 81 36 38 Sarjana 39 25 62 18 12
Sumber : BPS Kabupaten Blora Tahun 2012-2016
Pada tabel 2.5, ketersediaan atau penawaran tenaga kerja di Kabupaten Blora menunjukka tren fluktuatif. Pada tahun 2012 jumlah total penawaran tenaga keja di Kabupaten Blora sebanyak 4,070 jiwa, sedangkan pemintaan total tenaga kerja hanya sebesar 1,579 jiwa. Pada Tahun 2013 mengalami penurunan menjadi 3,608 jiwa pada penawaran tenaga kerja dan 1,205 pada permintaan tenaga kerja. Pada tahun 2014 kembali mengalami peningkatan menjadi 3,658 jiwa pada penawaran tenaga kerja dan 1,222 jiwa pada permintaan tenaga kerja. Pada Tahun 2015 kembali mengalami penurunan menjadi 2,756 jiwa pada penawaran tenaga kerja dan 1,630 jiwa pada permintaan tenaga kerja. Sedangkan pada tahun 2016 kembali mengalami kenaikan menjadi 3,388 jiwa pada penawaran tenaga kerja dan 1,531 jiwa ada permintaan tenaga kerja.
Jika dilihat secara keseluruhan, selama lima tahun terakhir, jumlah penawaran atau ketersediaan tenaga kerja di Kabupaten Blora nilainya selalu lebih besar daripada permintaan tenaga kerja, dengan rata-rata rasio sebesar 2,063 jiwa. Dengan kata lain dari total tenaga kerja yang tersedia, terdapat kurang lebih 2,063 jiwa yang tidak mendapatkan kesempatan bekerja, yang tersebar di berbagai tingkat pendidikan, dengan mayoritas terdaat pada tingkat pendidikan SMA, Sarjana Muda dan Sarjana. Kondisi tersebut dapat juga menjadi indikator kurangnya lapangan pekerjaan untuk tingkat pendidikan SMA, Sarjana Muda dan Sarjana di Kabupaten Blora.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Blora selama 5 tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 TPT Kabupaten Blora adalah 5,10 persen sedangkan tahun 2016 turun menjadi 3,75 persen. Tapi pada tahun 2011 naik menjadi 4,54 persen. Namun sayang,
pada tahun 2013-2015 cenderung naik, padahal tahun 2012 sempat turun pada level 4,08 persen. Hal ini senada dengan melambatnya perekonomian di kurun waktu yang sama.
Perekonomian kabupaten Blora yang masih didominasi sektor primer sangat rentan terhadap perubahan iklim. Kita tahu bahwa iklim sangat mempengaruhi baik buruknya hasil panen. Lima tahun terahir, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menun-jukan tren fluktuatif, dimana TPAK pada tahun 2011 sebesar 69,50 persen, lalu tahun 2102 naik menjadi 69,86 persen dan pada tahun 2013-2014 turun menjadi 68,47 dan 67,28 persen. Dan 2015 kembali naik menjadi 67,93 persen. Penurunan ini dikarenakan kemarau yang cukup panjang.
TABEL: 2.6. STATISTIK KETENAGAAKERJAAN DI KAB. BLORA 2011 – 2015
URAIAN 2011 2012 2013 2014 2015
partisipasi angkatan kerja (TPAK) 72.42 73.63 75.10 68.50 70.77 Tingkat pengangguran terbuka (TPT) 6.90 4.75 6.23 4.30 4.68 Bekerja 458,911 470,992 484,848 446,214 465,039
Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2016
TPT Kabupaten Blora selama kurun waktu lima tahun yaitu pada tahun 2010-2015 mengalami perkembangan fluktuatif cenderung menurun dimana pada tahun 2011 sebesar 6,21% mengalami peningkatan pada tahun 2013 sebesar 8,07% dan di tahun 2015 menurun menjadi sebesar 5,00%. Jika dibandingkan dengan capaian TPT Jawa Tengah dan Nasional ada tahun 2015 TPT Kabupaten Blora masih dibawah rata-rata capaian Jawa Tengah dan Nasional masing-masing sebesar 5,06% dan 6,18%.
Tingkat Perkembangan angkatan kerja di Kabupaten Blora pada tahun 2011-2015 mengalami penurunan dimana pada tahun 2010 sebesar 74,10% menurun pada tahun 2015 sebesar 71,04%. Meskipun TPAK Kabupaten Blora menurun tetapi perlu peningkatan dengan perluasan lapangan kerja dan peningkatan kompetensi tenaga kerja atau diarahkan untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. TPAK Kabupaten Blora jika dibandingkan dengan TPAK
Nasional dan Provinsi Jawa tengah masih diatas rata-rata capaian TPAK Nasional dan Provinsi Jawa tengah masing-masing sebesar 71,04% dan 67,86%. Selengkapnya perkembangan TPT dan TPAK Kabupaten Blora tahun 2011-2015 dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
2.2.4. PENDIDIKAN
Keberhasilan pembangunan suatu daerah ditentukan oleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas SDM. Oleh karena itu peningkatan mutu pendidikan harus terus diupayakan, dimulai dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengenyam pendidikan, hingga pada peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan. Untuk mengetahui seberapa banyak penduduk yang memanfaatkan fasilitas pendidikan dapat dilihat dari persentase penduduk menurut partisipasi sekolah, dalam hal ini dilihat dari tiga indikator, yaitu : Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM), Angka Putus Sekolah, Dan Angka Melak Huruf.
TABEL: 2.7. STATISTIK PARTISIPASI SEKOLAH DI KAB. BLORA 2012 – 2016
INDIKATOR SATUAN CAPAIAN ACUAN
2012 2013 2014 2015 2016 NILAI SUMBER APK 1. SD/MI Orang 104.73 105.63 111.33 101.88 111.96 109.46 Prov. Jawa Tengah 2016; 2. SMP/MTS 101.62 96.61 97.27 91.83 84.36 89.96 3. SMA/MA 61.38 67.55 79.83 99.87 93.12 86.27 APM 1. SD/MI % 91.41 95.36 96.20 94.65 98.20 95,86 Prov. Jawa Tengah 2016; 2. SMP/MTS 85.76 85.01 85.75 74.56 78.08 80,20 3. SMA/MA 48.17 58.28 66.21 63.31 52.02 62,52 APS 1. 7-12 Tahun % 98.50 98.87 99.56 100 99.52 99.58 Prov. Jawa Tengah 2016; 2. 13-15 Tahun 94.78 93.84 98.10 94.27 99.44 95.41 3. 16-18 Tahun 52.54 64.15 72.67 69.32 60.11 67.95
Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2016
1. Angka Partisipasi Kasar (APK) digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan bidang pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk mengenyam pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. Nilai APK bisa lebih dari 100%, hal ini disebabkan karena populasi murid
yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan mencakup anak berusia di luar batas usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan.
Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk tingkatan SD/MI di Kabupaten Blora
selama periode 2012–2016 menunjukkan tren meningkat, bahkan melebihi 100,00 persen untuk sekolah dasar (SD/MI), yakni mencapai 104,73 persen pada Tahun 2012, dan pada Tahun 2016 meningkat menjadi 111,96. Kondisi tersebut menggambarkan cukup banyak anak sekolah yang bersekolah tidak berdasarkan usianya atau terlambat menempuh sekolah SD/MI/sederajat.
Pada tingkatan SMP/MTs dan sederajat, APK selama 5 tahun terakhir menunjukkan
fluktuatif. Kondisi tersebut dapat dilihat dari data pada Tahun 2012 sebesar 101,62 persen, dan pada Tahun 2016 menjadi 84,36 persen. Artinya bahwa 84,36% penduduk seusia tersebut menempuh jenjang SMP/MTS.
APK SMA/MA pada Tahun 2016 93,12 persen , mengindikasikan bahwa program wajib
belajar 12 tahun sudah baik walau belum tuntas dilaksanakan.
2. Angka Partisipasi Murni (APM), mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu. Bila seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu, maka APM akan mencapai nilai 100. Secara umum, nilai APM akan selalu lebih rendah dari APK karena nilai APK mencakup anak diluar usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan. Selisih antara APK dan APM menunjukkan proporsi siswa yang terlambat atau terlalu cepat bersekolah. Keterbatasan APM adalah kemungkinan adanya under estimate karena adanya siswa diluar kelompok usia yang standar di tingkat pendidikan tertentu.
Angka Partisipasi Murni (APM) penduduk usia 7-12 tahun di Kabupaten Blora pada
Tahun 2012 adalah sebesar 104,73 persen, angka ini meningkat pada Tahun 2016 menjadi 99,52. Hal ini berarti pada Tahun 2012 masih ada 0,48 persen penduduk berusia 7-12 tahun yang tidak bersekolah.
Berbeda dengan Usia 13-15 tahun, angka APM sebesar 94,78 pada Tahun 2012 dan
Tahun 2016 menurun menjadi 95,41. Hal ini berarti pada Tahun 2016 masih ada 4,59 persen penduduk berusia 13-15 tahun yang tidak bersekolah.
Selanjutnya APS usia 16-18, angka APS lebih rendah lagi. Artinya penduduk usia 16 s/d
18 tahun masih ada yang belum menikmati sekolah pada jenjang tersebut pada Tahun 2016 sebanyak 39,89 persen.
3. Angka Partisipasi Sekolah merupakan ukuran daya serap lembaga pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS merupakan indikator dasar yang digunakan untuk melihat akses penduduk pada fasilitas pendidikan khususnya bagi penduduk usia sekolah. Semakin tinggi Angka Partisipasi Sekolah semakin besar jumlah penduduk yang berkesempatan mengenyam pendidikan. Namun demikian meningkatnya APS tidak selalu dapat diartikan sebagai meningkatnya pemerataan kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun di Kabupaten Blora pada
Tahun 2012 adalah sebesar 98,84 persen, angka ini meningkat pada Tahun 2016 menjadi 99,52. Hal ini berarti pada Tahun 2012 masih ada 0,48 persen penduduk berusia 7-12 tahun yang tidak bersekolah.
Berbeda dengan Usia 13-15 tahun, angka APS sebesar 94,78 pada Tahun 2012 dan
Tahun 2016 menurun menjadi 95,41. Hal ini berarti pada Tahun 2016 masih ada 4,59 persen penduduk berusia 13-15 tahun yang tidak bersekolah.
Selanjutnya APS usia 16-18, angka APS lebih rendah lagi. Artinya penduduk usia 16 s/d
18 tahun masih ada yang belum menikmati sekolah pada jenjang tersebut pada Tahun 2016 sebanyak 39,89 persen.
Angka Buta Huruf adalah proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas. Namun, Indikator melek huruf sudah tidak lagi sensitif untuk mengukur kualitas pendidikan. Oleh karena itu, indikator melek huuf diganti dengan harapan lama sekolah pada metode pengukuran kualitas pendidikan.
TABEL: 2.8. HARAPAN LAMA SEKOLAH (TAHUN) DI KAB. BLORA 2012 – 2016 Tahun Prov Jateng Kab Blora
2012 11.39 11.16
2013 11.89 11.53
2014 12.17 11.75
2015 12.38 11.91
2016 12.45 11.92
Rata-rata harapan lama sekolah di Kabupaten Blora adalah sekitar 11.65 tahun. Nilai rata-rata harapan lama sekolah di Kabupaten Blora masih berada di bawah rata-rata harapan lama sekolah Provinsi Jawa Tengah yakni sekitar 12.06 tahun. Dengan kata lain, mayoritas masyarakat Kabupaten Blora memiliki harapan bersekolah hingga kelas 2 SMA atau tingkat pendidikan terakhir SMP.
Hal tersebut memerlukan solusi tidak hanya sekedar penyediaan sarana fisik dan tenaga guru yang memadai dalam menunjang pendidikan. Tetapi juga, peningkatan motivasi kepada masyarakat untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi. Sedangkan, pelayanan pendidikan dapat dilihat dari rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah.
TABEL: 2.9. KETERSEDIAAN SEKOLAH DAN PENDUDUK USIA SEKOLAH KABUPATEN BLORA TAHUN 2012 – 2016
JENJANG PENDIDIKAN TAHUN
2012 2013 2014 2015 2016 A KETERSEDIAAN SEKOLAH 1,397 1,401 1,411 1,613 1,224 1 TK/RA 522 524 528 607 509 2 SD/MI 666 663 666 734 598 3 SLTP/MTS 134 137 137 193 87 4 SLTA/MA 71 72 73 71 22 5 AK/PT 4 5 7 8 8 B KETERSEDIAAN GURU 10,018 11,671 10,662 10,292 9,376 1 TK/RA 1,039 1,054 1,016 1,179 1,122 2 SD/MI 5,308 5,489 5,496 5,282 5,481 3 SLTP/MTS 1,823 1,911 1,877 1,889 1,808 4 SLTA/MA 1,626 2,813 1,862 1,523 654 5 AK/PT 222 404 411 419 311 C JUMLAH MURID 136,366 141,328 134,810 134,044 113,777 1 TK/RA 17,965 18,360 20,135 20,507 19,992 2 SD/MI 82,023 79,418 77,540 74,330 72,424 3 SLTP/MTS 29,161 29,373 29,966 30,938 30,100 4 SLTA/MA 22,738 29,772 23,808 25,412 7,837 5 AK/PT 2,444 2,765 3,496 3,364 3,416
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2012-2016
Ketersediaan gedung sekolah/sarana pendidikan di Kabupaten Blora secara keseluruhan menunjukkan trend fluktuatif, mengalami peningkatan jumlah pada tahun 2012 hingga 2015, namun mengalami penurunan pada tahun 2016. Ketersediaan TK/RA dan SLTP/MTs mengalami peningkatan jumlah pada tahun 2012 hingga tahun 2015 dan mengalami penurunan ada tahun 2016. Ketersediaan SD/MI lebih fluktuatif, yakni mengalami penurunan pada tahun 2013, meningkat pada tahun 2014 dan 2015, dan kembali menurun pada tahun 2016 menjadi 598 unit dari 734 unit pada tahun 2015. Ketersediaan SLTA/MA mengalami peningkatan pada tahun 2012 hingga 2014, lalu berkurang 1 unit pada tahun 2015 menjai 71 unit dan berkurang kembali pada tahun 2016 menjadi 22 unit. Berbeda dengan lainnya ketersediaan Akademi/Perguruan Tinggi di Kabupaten Blora menunjukkan trend positif setiap tahunnya.
Pelayanan pendidikan dapat dilihat dari rasio jumlah guru terhadap murid. Dari tabel di atas, dapat dilihat perkembangan rasio guru terhadap murid tingkat TK/RA, SD/MI, SPM/MTs, SMA/MA dan Akademi/Perguruan Tinggi. Rasio jumlah guru terhadap murid jenjang pendidikan TK/RA Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2016 menunjukkan trend yang fluktuatif, jumlah tenaga pengajar TK/RA pada tahun 2012 – 2013 mengalami peningkatan, kemudian mengalami penurunan pada tahun 2014, meningkat kembali pada tahun 2015 dan mengalami penurunan kembali pada taun 2016. Sedangkan untuk jumlah murid TK/RA pada tahun 2012 hingga tahun 2015 mengalami peningkatan dengan rata-rata peningkatan sebayak 847 jiwa, lalu mengalami penurunan pada tahun 2016 sebanyak 515 jiwa.
Rasio jumlah guru terhadap murid jenjang pendidikan SD/MI Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2016 menunjukkan trend fluktuatif, pada tahun 2012 hingga tahun 2014 mengalami peningkatan jumlah pengajar, lalu mengalami penurunan pada tahun 2015 menjadi 5,282 jiwa dari 5,496 jiwa pada tahun 2014 dan meningkat kembali pada tahun 2016 menjadi 5,481 jiwa. Berkebalikan degan jumlah pengajar, jumlah murid SD/MI menunjukkan trend negatif, jumlah murid SD/MI di Kabupaten Blora mengalami penurunan rata-rata sebesar 2,564 jiwa setiap tahun.
Rasio jumlah guru terhadap murid jenjang pendidikan SMP/MTs Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2016 menunjukkan trend fluktuatif. Meningkat ada tahun 2013, menurun ada tahun 2014, meningkat kembali pada tahun 2015 dan menurun kembali pada tahun 2016. Sedangkan jumlah murid SMP/MTs di Kabupaten Blora mengalami peningkatan pada tahun 2012 hingga tahun 2015, namun mengalami penurunan pada tahun 2016 sebesar 838 jiwa.
Rasio jumlah guru terhadap murid jenjang pendidikan SMA/MA Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2016 menunjukkan trend fluktuatif, namun cenderung menurun. Pada tahun 2013 mengalami peningkatan, selanjutnya mengalami penurunan hingga tahun 2016. Sedangkan jumlah murid SMA/MA mengalami peningkatan 2013, menurun pada tahun 2014, meningkat kembali pada tahun 2015 dan menurun kembali dengan cukup signifikan pada tahun 2016 menjadi 7,837 jiwa dari 25,412 jiwa pada tahun 2015.
Rasio jumlah guru terhadap murid jenjang pendidikan AK/PT Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2016 menunjukkan trend fluktuatif, namun cenderung meningkat. Pada tahun 2012 hingga 2015 mengalami peningkatan tenaga pengajar, dan mengalami penurunan pada tahun 2016. Sedangkan jumlah murid mengalami peningkatan pada tahun 2012 hingga 2013, menurun pada tahun 2015 dan meningkat kembali pada tahun 2016 menjadi 3,416 jiwa dari 3,364 jiwa pada tahun 2015.
2.2.5. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM)
Nilai IPM suatu daerah menunjukkan seberapa jauh daerah telah mencapai sasaran yang ditentukan yaitu angka harapan hidup 85 tahun, pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat (tanpa kecuali), dan tingkat pengeluaran dan konsumsi yang telah mencapai standar hidup yang layak. Semakin dekat nilai IPM suatu wilayah terhadap angka 100, semakin
dekat jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sasaran itu. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator yang mencerminkan kualitas hidup penduduk, meliputi: Angka Harapan Hidup (AHH), rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah dan pengeluaran riil per kapita.
TABEL: 2.10. CAPAIAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN BLORA TAHUN 2012-2016 INDIKATOR SATUAN 2012 2013 2014 2015 2016 NILAI ACUAN Indeks Pembangunan Manusia (IPM) % 65.37 65.84 66.22 66.61 64.70 69.98 Prov. Jawa Tengah 2016; Angka Harapan Hidup % 73.79 73.84 73.85 73.88 73.70 74.02 Prov. Jawa Tengah 2016; Angka Harapan
Lama Sekolah Tahun 11.53 11.75 11.91 11.92 11.16 12.45
Prov. Jawa Tengah 2016; Angka Rata-rata
Lama Sekolah Tahun 5.90 6.02 6.04 6.18 5.83 7.15
Prov. Jawa Tengah 2016; Pengeluaran per
Kapita Disesuaikan Juta Rp 8 539 8 568 8 699 8 846 8 447 10.153
Prov. Jawa Tengah 2016;
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
Kinerja pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Blora selama kurun waktu lima tahun (2012-2015) mengalami capaian kinerja pembangunan yang relatif terus membaik. Pencapaian terakhir di Tahun 2012 sebesar 65,37, dan pada tahun 2016 sebesar 64,70. Angka di tahun 2016 lebih kecil karena metode yang digunakan untuk menghitung IPM mengalami perubahan.
Bila membandingkan dengan IPM di tingkat provinsi Jawa Tengah, maka IPM yang dicapai kabupaten Bloora masih di bawah IPM Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 69,98. Kondisi ini menggambarkan bahwa peranan pemerintah untuk meningkatkan pembangunan masyarakat masih perlu ditingkatkan yang terkait dengan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
Pencapaian pembangunan manusia diukur dengan memperhatikan tiga aspek esensial yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Oleh karena itu, peningkatan capaian IPM tidak terlepas dari peningkatan setiap komponennya. Seiring dengan meningkatnya angka IPM, indeks masing-masing komponen IPM juga menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun, walau masih berada di bawah capaian provinsi Jawa Tengah.
Angka harapan hidup berbanding terbalik dengan tingkat kematian bayi, artinya semakin tinggi angka kematian bayi maka angka harapan hidup cenderung semakin pendek, demikian pula sebaliknya. Angka harapan hidup Kabupaten Blora selama periode Tahun 2012-2016, yaitu 73,79 tahun pada Tahun 2012 meningkat menjadi 74,02 pada Tahun 2016. Artinya, rata-rata bayi yang lahir di Kabupaten Blora pada Tahun 2016 memiliki harapan hidup hingga usia
73,70n tahun. Bila dibandingkan dengan angka harapan hidup ideal sesuai standar global, maka angka harapan hidup Kabupaten Blora pada Tahun 2016 tersebut baru mencapai 89,92%, dan lebih rendah dari capaian Jawa Tengah 74,02. Angka harapan Hidup menempati peringkat ke 24 di Jawa Tengah. Berada di bawah Kabupaten Purworejo dan di atas Kabupaten Banjarnegara.
Angka harapan lama sekolah adalah lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu (sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang program wajib belajar adalah pada usia 7 tahun ke atas di masa mendatang. Selama kurun waktu Tahun 2012-2016, angka harapan lama sekolah Kabupaten Blora menunjukkan peningkatan dari 11,53 tahun pada Tahun 2012 meningkat sedikit menjadi 11,16 tahun pada Tahun 2016. Artinya, pada Tahun 2016 setiap penduduk Kabupaten Blora yang berusia 7 tahun ke atas memiliki harapan untuk bersekolah selama 11,53 tahun. Jika dibandingkan dengan kabupaten/Kota lain di Provinsi Jawa tengah, angka harapan lama sekolah Kabupaten Blora pada Tahun 2016 berada pada peringkat 29 di Jawa Tengah. Berada di bawah Kabupaten Purbolinggo dan di atas Kabupaten Pati.
Angka rata-rata lama sekolah adalah jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal. Dalam periode Tahun 2012-2016, angka rata-rata lama sekolah Kabupaten Blora menunjukkan peningkatan dari 5,90 tahun pada Tahun 2012 meningkat menjadi 5,83 tahun pada Tahun 2016. Artinya bahwa pada Tahun 2016 penduduk berusia 25 tahun ke atas di Kabupaten Blora rata-rata menjalani pendidikan formal selama 5,83 tahun (setara dengan kelas 6 SD). Jika dibandingkan dengan kabupaten/Kota lain di Provinsi Jawa Tengah, angka rata-rata lama sekolah Kabupaten Blora Tahun 2016 berada pada peringkat 32 di Jawa Tengah, di bawah Kabupaten Banjarnegara dan di atas Kabupaten Brebes.
Selama periode Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2016, pengeluaran per kapita disesuaikan Kabupaten Blora menunjukkan peningkatan dari Rp 9,964 juta rupuiah pada Tahun 2012 meningkat menjadi Rp 10,348 juta rupiah pada Tahun 2016. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Kabupaten Blora pada Tahun 2016 cukup tinggi. Jika dibandingkan dengan kabupaten/Kota lain di Provinsi Jawa Tengah, pengeluaran per kapita disesuaikan Kabupaten Blora pada Tahun 2016 menempati urutan ke 17, angka ini masih jauh dibawah standar nasional yang ditetapkan sebesar Rp 17,15 juta, yang berarti daya beli masyarakat masih sangat perlu ditingkatkan. Tahun 2016 berada pada peringkat 27 di Jawa Tengah. Bila dibandingkan dengan kabupaten lain ternyata dibawah Kabupaten Brebes dan diatas Kabupaten Tegal.
2.2.6. KESEJAHTERAAN DAN PEMERATAAN EKONOMI
Capaian kinerja pembangunan pada kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dapat dilihat melalui indikator laju pertumbuhan ekonomi (LPE), laju inflasi, PDRB per kapita, dan tingkat kemiskinan. Indikator laju pertumbuhan ekonomi adalah perbandingan antara selisih nilai PDRB ADHK tahun tertentu dengan tahun sebelumnya terhadap nilai PDRB ADHK tahun sebelumnya, dimana indikator ini dapat digunakan untuk menunjukkan pertumbuhan perekonomian daerah. Indikator laju inflasi
adalah perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari waktu ke waktu, dimana indikator ini dapat digunakan untuk menunjukkan stabilitas harga barang dan jasa. Indikator PDRB per kapita adalah perbandingan antara nilai PDRB dengan jumlah penduduk di Kabupaten Blora, dimana indikator ini dapat digunakan untuk menunjukkan pendapatan rata-rata penduduk. Indikator kemiskinan adalah perbandingan jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan terhadap jumlah penduduk total, dimana indikator ini dapat digunakan untuk menunjukkan proporsi jumlah penduduk miskin.
TABEL: 2.11. CAPAIAN INDIKATOR KESEJAHTERAAN DAN PEMERATAAN EKONOMI KABUPATEN BLORA TAHUN 2012-2016
INDIKATOR SAT CAPAIAN ACUAN
2012 2013 2014 2015 2016 NILAI SUMBER
Tingkat Kemiskinan % 15,1 14,64 13,66 13,52 13,33 15,1 SDGs 2030 Garis Kemiskinan Rp 221.088 237.850 248.903 257.581 279.972 317.348 Prov. Jawa
Tengah 2016; Kedalaman Kemiskinan % 2.19 2.39 2.09 2.08 2.17 2,70 Prov. Jawa Tengah 2016; Keparahan Kemiskinan % 0.47 0.59 0.50 0.54 0.54 0,63 Prov. Jawa Tengah 2016;
Sumber : BPS Pusat, Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Blora, 2016
A. Kondisi perekonomian di Kabupaten Blora menunjukkan hasil yang positif. Walaupun pertumbuhan cenderung fluktuatif, angka tertinggi dicapai pada Tahun 2013 sebesar 5,10%, kemudian menurun menjadi 4,1908% pada Tahun 2015, pada Tahun 2016 menjadi 5,73%. Laju pertumbuhan ekonomi tersebut masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah (5,37%).
B. Stabilitas harga barang dan jasa yang ditunjukkan ol eh laju inflasi selama dua tahun terakhir mengalami perbaikan dari laju inflasi 7,13% pada Tahun 2014 menjadi 2,85% pada Tahun 2015, dan 2,14% pada Tahun 2016, akan tetapi hal tersebut masih dalam klasifikasi inflasi ringan (dibawah 10%) dan juga masih berada di bawah laju inflasi rata-rata Provinsi Jawa Tengah (4,29%).
C. Pendapatan rata-rata penduduk yang ditunjukkan melalui PDRB per kapita selama lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan pesat, yaitu dari 13,266 juta Rupiah pada Tahun 2012 menjadi 15,151 juta Rupiah pada Tahun 2015, walau masih berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Tengah (39,98 juta Rupiah).
D. Akan tetapi dibalik kondisi perekonomian yang terus meningkat tersebut ternyata masih menyimpan permasalahan dalam hal pemerataan ekonomi, dimana tingkat kemiskinan (proporsi penduduk miskin) di Kabupaten Blora pada Tahun 2016 masih mencapai 13,33%. Walaupun terus mengalami penurunan selama lima tahun terakhir dan juga masih berada dibawah rata-rata Provinsi Jawa Tengah, tingkat kemiskinan tersebut harus terus ditekan
untuk dapat mencapai target SDGs 0% di Tahun 2030. Tingka kemiskinan Kabupaten Blora berada pada peringkat ke 21 di Jawa Tengah.
Sumber : BPS Pusat, Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Blora, 2016 diolah
GAMBAR 2.7. TINGKAT KEMISKINAN TAHUN 2012-2015 KABUPATEN BLORA
E. Kemiskinan tidak hanya dilihat dari jumlah dan persentase saja, namun banyak indikator lain yang digunakan di dalam mengukur tingkat kemiskinan di daerah seperti Garis Kemiskinan (GK), Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Keparahan Kemiskinan (P2). Garis Kemiskinan merupakan representasi jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum untuk makanan, yang setara dengan 2100 kalori per kapita/hari dan memenuhi kebutuhan pokok bukan makanan. Garis kemiskinan di Kabupaten Blora cenderung meningkat (membaik) dari Tahun 2012 menuju Tahun 2016, yaitu dari Rp 221,088 naik menjadi Rp 279.972,-. Dengan memperhatikan komponen GK tingkat Provinsi Jawa Tengah, peranan komoditi makanan terhadap GK di Kabupaten Blora masih jauh lebih tinggi dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).
F. Dimensi lain yang perlu diperhatikan dalam melihat angka kemiskinan adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks Keparahan Kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Indeks Kedalaman Kemiskinan, merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis
kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Pada Tahun 2012 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks
Keparahan Kemiskinan (P2) di Kabupaten Blora masing-masing 0,63 dan 2,70, pada Tahun
2016. Hal ini mengindikasikan bahwa di Tahun 2016 pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauhi dari Garis Kemiskinan, sehingga kesenjangan pengeluaran penduduk miskin Kabupaten Blora semakin melebar dan semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.
TABEL: 2.12. KEBUTUHAN HIDUP LAYAK DAN UPAH MINIMUM KAB. BLORA TAHUN 2012-2016 TAHUN KEBUTUHAN HIDUP LAYAK UPAH MINIMUM KABUPATEN
2012 868,348 855,500
2013 941,021 932,000
2014 1,008,527 1,009,000
2015 1,156,492 1,180,000
2016 1,328,494 1,328,500
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
Pada tahun 2012 dan tahun 2013 kebutuhan hidup layak di Kabupaten Blora lebih tinggi daripada upah minimum kabupaten. Namun, sejak tahun 2014 hingga 2016, upah minimum kabupaten mengalami kenaikan menjadi lebih tinggi dari nilai kebutuhan hidup layak di Kabupaten Blora, walaupun selisih nilainya tidak terlalu jauh.
2.3 KELEMBAGAAN DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
2.3.1. KEPASTIAN HUKUM
Dalam proses pembangunan daerah dibutuhkan juga kepastian hukum sebagai acuan atau penuntun setiap keputusan dan/atau kegiatan pembangunan yang dilakukan. Jenis produk hukum pada suatu daerah terdiri dari 4 jenis, yakni Peraturan Daerah, Peraturan Bupati, Keputusan Bupati dan Instruksi Bupati. Produk hukum tersebut memuat berbagai pokok masalah yang terdapat pada masing-masing daerah seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, kelembagaan, kependudukan, dan lain sebagainya.
TABEL: 2.13. JUMLAH PRODUK HUKUM KABUPATEN BLORA TAHUN 2012-2016 BERDASARKAN JENISNYA
RINCIAN 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Jenis Produk Hukum 1622 1479 1212 2222 1918 1395 1440
1 PeraturanDaerah 13 20 7 14 8 8 13 2 PeraturanBupati 95 84 51 50 66 59 80 3 Keputusan Bupati 1513 1374 1154 2158 1843 1328 1347 4 InstruksiBupati 1 1 0 0 1 0 0 Pokok Masalah 1622 949 1212 2222 1918 1395 0 1 Politik 5 4 4 1 5 4 2 Ekonomi 497 58 355 1039 995 753 3 Sosial 62 25 75 133 165 181 4 Budaya 1 2 3 4 6 10 5 Lingkungan 2 14 18 18 26 128 6 Kelembagaan 986 711 219 753 471 19 7 Kependudukan 18 2 3 2 15 7 8 Lainnya 51 133 535 272 235 293
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
Kabupaten Blora produk hukum yang ada didominasi oleh Keputusan Bupati sekitar 93.5%, dengan pokok masalah didominasi oleh permasalahan dibidang ekonomi. Dengan kata lain, pemerintah daerah Kabupaten Blora lebih memprioitaskan penyelesaian permasalahan-permasalahan pada bidang ekonomi, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Kabupaten Blora. Bidang lainnya yang menjadi prioritas pemerintah Kabupaten Blora ada pada bidang sosial, lingkungan dan kelembagaan.
2.3.2. STRUKTUR ORGANISASI PERANGKAT DAERAH (OPD)
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kepala Daerah dibantu oleh Perangkat Daerah yang terdiri dari unsur staf, unsur pelaksana, dan unsur penunjang. Unsur staf diwadahi dalam sekretariat Daerah dan sekretariat DPRD. Unsur pelaksana Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah diwadahi dalam dinas Daerah. Unsur pelaksana fungsi penunjang Urusan Pemerintahan Daerah diwadahi dalam badan Daerah. Unsur penunjang yang khusus melaksanakan fungsi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah diwadahi dalam inspektorat. Di samping itu, pada Daerah kabupaten/kota dibentuk kecamatan sebagai Perangkat Daerah yang bersifat kewilayahan untuk melaksanakan fungsi koordinasi kewilayahan dan pelayanan tertentu yang bersifat sederhana dan intensitas tinggi.
Dengan diundangkanya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka susunan OPD sebagai berikut:
Dinas Dan Instansi :
1. Inspektorat
2. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 3. Badan Kepegawaian Daerah
4. Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, Dan Aset Daerah 5. Dinas Pendidikan
6. Dinas Kesehatan
7. Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang 8. Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan 9. Dinas Peternakan Dan Perikanan
10. Dinas Perindustrian Dan Tenaga Kerja
11. Dinas Perdagangan, Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah 12. Dinas Komunikasi Dan Informatika
13. Dinas Penanaman Modal, Dan Pelayanan Terpadu Satu Atap 14. Dinas Lingkungan Hidup
15. Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil 16. Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa
17. Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Dan Perlindungan Anak 18. Dinas Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana
19. Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan
20. Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan Dan Pariwisata 21. Dinas Perumahan, Pemukiman, Dan Perhubungan
22. Satuan Polisi Pamong Praja
Layanan Umum :
2.3.3. PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
Rincian pendapatan dan belanja daerah menunjukkan sejauh mana kemampuan suatu daerah dalam membiayai pembangunan daerah tersebut. Pendapatan Daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, yang berasal dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan lain-lain PAD yang sah; Dana Perimbangan, yang berasal dari bagi hasil pajak dan bukan pajak, dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dana penyesuaian, serta pendapatan bagi hasil pajak; serta Pendapatan Lain yang Sah.
Dalam 5 tahun terakhir Pendapatan Daerah Kabupaten Blora menunjukkan trend positif setiap tahunnya. Pendapatan Daerah Kabupaten Blora sendiri Bersumber dari 76% Dana Perimbagan, 14% Pendapatan Lain yang Sah dan 10% Pendapatan Asli Daerah. Kekayaaan daerah Kabupaten Blora sendiri dapat dikatakan belum memberikan kontribusi yang besar bagi pendapatan asli daerah, hal tersebut dapat dilihat pada tabel III.12 dimana nilai hasil pengelolaan kekayaan daerah memberikan kontribusi paling kecil pada nilai Pendapatan Asli Daerah. Hal ini, dapat menjadi perhatian bagi Pemerintah Kabupaten Daerah untuk lebih menggali kekayaan lokal daerah agar dapat memberikan kontribusi lebih besar pada Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Blora. Walaupun pendapatan daerah Kabupaten Blora mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir, namun nilai Pendapatan Daerah Kabupaten Blora cenderung lebih kecil dari belanja daerahnya. Hanya pada tahun 2012 Pendapatan Daerah Kabupaten Blora lebih tinggi dari nilai Belanja Daerahnya, yakni pendapatan daerah sebesar Rp 1,127,245,001,473,- dan nilai belanja daerah sebesar Rp 927,945,368,559,-. Dengan kata lain, pada tahun 2012 Kabupaten Blora mengalami surplus sebesar Rp 199,299,632,914,-. Sedangkan pada tahun berikutnya pendapatan daerah lebih kecil dari belanja daerah, dengan rata-rata selisih nilai sebesar Rp 114,161,515,109,-. Kekurangan tersebut nantinya akan dilengkapi dengan bantuan atau pinjaman dari pemerintah pusat maupun povinsi kepada daerah.
TABEL: 2.14. PENDAPATAN DAERAH DAN BELANJA DAERAH KABUPATEN BLORA TAHUN 2012-2016
RINCIAN 2012 2013 2014 2015 2016
A PENDAPATAN DAERAH 1,127,245,001,473 1,292,799,169,613 1,516,557,364,380 1,661,645,218,493 1,870,560,303,504 1 Pedapatan Asli Daerah 81,987,007,133 95,192,786,972 144,798,225,775 169,256,241,630 183,649,909,973 Pajak Daerah 11,486,783,665 15,330,016,722 26,310,742,598 31,550,631,317 41,046,674,606 Retribusi Daerah 8,817,557,815 11,847,744,920 15,366,765,092 9,787,397,317 9,778,925,650 Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah 5,758,248,478 6,165,994,267 7,731,229,785 7,005,811,121 8,105,618,518
Lain-lain PAD yang Sah 55,924,417,175 61,849,031,063 95,389,488,300 120,912,401,875 124,718,691,199 2 Dana Perimbangan 817,542,087,931 901,824,680,069 1,291,175,772,181 1,416,584,723,936 1,418,989,387,233
Bagi Hasil Pajak & Bukan Pajak 90,371,797,931 94,501,754,069 89,559,359,181 72,722,131,124 110,850,744,558 Dana Alokasi Umum 673,180,530,000 753,830,036,000 823,874,089,000 848,823,612,000 943,325,498,000 Dana Alokasi Khusus 53,989,760,000 53,492,890,000 61,140,660,000 98,119,410,000 277,435,119,000
Dana Penyesuaian - - 246,909,117,000 204,318,505,000 1,358,580,000
Pendapatan Bagi Hasil Pajak - - 69,692,547,000 192,601,065,812 86,019,445,675
3 Lain Pendapatan yang Sah 227,715,906,409 295,781,702,572 80,583,366,424 75,804,252,927 267,921,006,298 B BELANJA 927,945,368,559 1,318,484,054,214 1,833,103,462,160 1,682,431,758,498 1,964,188,841,554 Belanja Pegawai 676,524,892,037 778,872,858,636 856,040,815,337 889,529,200,862 968,993,864,073 Belanja Barang Jasa 138,244,093,535 140,523,045,846 107,977,547,117 231,383,928,056 232,822,918,493 Belanja Modal 21,917,694,569 260,455,399,862 328,500,393,240 326,175,548,362 434,953,823,988
Belanja Bunga 35,884,428 41,044,113 14,713,538 6,295,918
-BelanjaSubsidi - - - -
-Belanja Hibah 34,686,874,500 52,420,935,000 476,016,798,000 30,461,658,500 19,925,941,000
Belanja Bagi Hasil - - - 3,200,000,000 6,093,261,000
Belanja Bantuan Keuangan 47,623,144,900 81,971,270,757 60,590,694,928 195,037,226,800 299,498,333,000 Belanja Bantuan Sosial 3,200,500,000 4,199,500,000 3,962,500,000 6,637,900,000 1,900,700,000
BelanjaTakTerduga 5,712,284,590 - - -
-Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
2.3.4. APARATUR
Dalam menjalankan pemerintahan di suatu daerah, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dibantu oleh para aparatur yang tersebar di berbagai bidang pekerjaan. Jumlah PN/PNS dan CPNS di Kabupaten Blora, menunjukkan angka fluktuatif sejak tahun 2012 hingga 2016. Pada tahun 2012 hingga tahun 2014 mengalami penurunan jumlah PN/PNS dan CPNS. Lalu pada tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi 10,625 tenaga PN/PNS dari 9,308 tenaga PN/PNS pada tahun 2015, dan 18 tenaga CPNS dari 1 tenaga CPNS pada tahun 2015. Tenaga PN/PNS mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 10,500 jiwa, namun tenaga CPNS mengalami peningkatan menjadi 39 jiwa.
TABEL: 2.15. JUMLAH PNS DAN CPNS KABUPATEN BLORA TAHUN 2012-2016
Tahun PN/PNS CPNS 2012 9,769 205 2013 9,559 10 2014 9,308 1 2015 10,625 18 2016 10,500 39
GAMBAR 2.9. GRAFIK JUMLAH PNS DAN CPNS KABUPATEN BLORA TAHUN 2012-2016
Untuk menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan masyarakat, partisipasi anggota linmas sangat diperlukan. Jumlah anggota linmas di Kabupaten Blora pada tahun 2012 hingga 2016 menunjukkan trend fluktuatif. Pada tahun 2012 hingga tahun 2014 mengalami penurunan. Pada tahun 2015 mengalami peningkatan jumlah anggota linmas menjadi 7,273 anggota dari 7,239 anggota pada tahun 2014. Namun, pada tahun 2016 mengalami penurunan jumlah anggota kembali menjadi 7,248 anggota.
TABEL: 2.16. JUMLAH ANGGOTA LINMAS KABUPATEN BLORA TAHUN 2012-2016
Tahun Jumlah 2012 8068 2013 7379 2014 7239 2015 7273 2016 7248
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
2.4 SOSIAL POLITIK
2.4.1. KEAMANAN MASYARAKAT
Selain dengan pendapatan, kesejahteraan masyarakat juga dapat dilihat dari jumlah kejahatan yang terdapat pada suatu daerah. Dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat kejahatan, maka semakin rendah tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Tingkat kejahatan di Kabupaten Blora sendiri selama 5 tahun terakhir, jumlah paling tinggi berada pada tahun 2014 dengan total jumlah 399 kasus dengan total narapidana sebanyak 930 jiwa, dimana kejahatan konvensioal menyumbang kontribusi tertinggi, sebanyak 248 kasus. Pada taun 2015 dan 2016 jumlah kasus kejahatan di Kabupaten Blora mengalami penurunan yakni menjadi 350 kasus pada tahun 2015 dan 282 kasus pada tahun 2016. Namun, pada tahun 2016 jumlah narapidana mengalami peningkatan hingga 1,230 jiwa dari 872 jiwa pada tahun 2015. Untuk lebih lengkap mengenai jumlah kasus kejahatan dan jumlah narapidana di Kabupaten Blora, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
TABEL: 2.17. JUMLAH KASUS KEJAHATAN DAN NARAPIDANA KABUPATEN BLORA TAHUN 2012 – 2016
JENIS KASUS 2012 2013 2014 2015 2016
1 Kejahatan Konvensional 193 200 248 207 148
2 Kejahatan Trans Nasional 8 2 0 0 0
3 Kejahatan Merugikan Negara 0 0 0 76 79
4 Kejahatan Berimplikasi Kontijensi 54 60 76 0 0
5 Gangguan Kamtibmas 0 57 75 67 55
6 Jumlah Narapidana 1,018 697 930 872 1,230
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
2.4.2. POLITIK
Pembangunan daerah tidak telepas dari situasi politik di daerah tersebut. Banyaknya suara yang sah dapat menjadi indikator kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Pemimpin Daerah, Negara, maupun Anggota Legislatif. Semakin tinggi jumlah golput, maka dapat diartikan semakin apatis pula masyarakat terhadap pemerintahan di daerah atau Negara tersebut. Dengan kata lain, dapat pula disimpulkan semakin tinggi jumlah golput, semakin rendah pula kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Hal tersebut akan mempersulit proses pembangunan di daerah atau Negara tersebut. Semakin apatis masyarakat, maka semakin sulit pula untuk kooperatif dalam pembangunan.
Hasil pemilihan presiden 2014 jumlah pemilih golput mencapai 28.39% dari jumlah keseluruhan yakni 704,487 pemilih. Angka golput ini lebi tinggi dari dibandingkan dengan pemilu legislative 2014 yang mencapai 23.53%. Jumlah suara yang sah untuk pemilihan DPR RI sebanyak 430,700 suara, DPR Provinsi sebanyak 428,511 suara, DPR Kabupaten sebanyak 505,146 suara, dan DPD sebanyak 356,735. Jumlah tersebut jika dibandingkan dengan total keseluruhan pemilih, masih dapat dikatakan tinggi, karena lebih dari 50%, dengan kata lain tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja badan legislatif terutama badan legislative
daerah masih tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah suara sah pada pemilihan DPRD Kabupaten yang memiliki nilai paling tinggi diantara pemilihan anggota legislatif lain, pada tingkat provinsi dan nasional.
TABEL: 2.18. JUMLAH SUARA SAH KABUPATEN BLORA TAHUN 2012-2016
1 DPRRI 430,700
2 DPRD PROVINSI 428,511
3 DPRD KABUPATEN 505,146
4 DPD 356,735
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
Dari hasil pemilihan legislatif Kabupaten Blora, fraksi yang mendominasi pada DPRD Kabupaten Blora adalah fraksi partai demokrat dan fraksi partai golkar yang masing-masing memiliki 8 anggota. Berikutnya fraksi partai PDI Perjuangan dengan total anggota sebanyak 10 anggota yang merupakan gabungan dari 6 orang Partai PDI Perjuangan, 3 orang Partai Nasdem dan 1 orang Partai Hanura. Partai Nasdem dan Partai Hanura tidak dapat membentuk fraksi sendiri, karena jumlah mereka kurang dari 4 orang, sehingga mengharuskan mereka bergabung dengan fraksi dari partai lain yang memiliki jumlah 4 orang atau lebih.
TABEL: 2.19. JUMLAH FRAKSI DPRD KABUPATEN BLORA TAHUN 2014 – 2019
Fraksi Jumlah
1 Fraksi Partai Demokrat 8 2 Fraksi Partai Golkar 8 3 Fraksi Partai PDI Perjuangan
Partai PDI Perjuangan 6
PartaiNasdem 3
PartaiHanura 1
4 Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa 5 5 Fraksi Partai Persatuan Pembangunan 5 6 Fraksi Partai Keadilan Sejahtera 5 7 Fraksi Partai Gerindra 4
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
Organisasi masyarakat (ORMAS) di Kabupaten Blora terdiri dari 4 bidang yakni keagamaan, penghayat kepercayaan, profesi dan kesamaan kegiatan dan lainnya. Ormas pada bidang keagamaan dan profesi cenderung mengalami penurunan jumlah setiap tahunnya. Begitu pula dengan ormas pada bidang pengahayatan kepercayaan, namun mengalami peningkatan pada tahun 2016 menjadi 3 ormas dari 2 ormas pada tahun 2015. Sedangkan ormas pada bidang kesamaan kegiatan cenderung mengalami peningkatan sejak tahun 2013 hingga 2016, yakni menjadi 47 ormas, dari 36 ormas pada tahun 2015.
TABEL: 2.20. JUMLAH ORMAS DAN PARPOL KABUPATEN BLORA TAHUN 2012 – 2016 BIDANG/KEGIATAN 2012 2013 2014 2015 2016 1 Ormas/LSM/OKP 81 39 35 47 56 Keagamaan 5 3 4 4 1 Penghayat Kepercayaan 6 4 4 2 3 Profesi 8 6 8 5 5
Kesamaan Kegiatan dan Lainnya 62 26 19 36 47
2 PARPOL 14 14 12 12 12
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
2.4.3. BUDAYA
Budaya dalam suatu daerah adalah jati diri. Budaya mencerminkan kebiasaan yang senantiasa harus dilestarikan dari suatu daerah. Warisan budaya sebuah Negara mencakup semua kegiatan manusia yang tidak dapat digantikan, dan tentang perkembangan kerajinan, teknik dan seni. Pentingnya mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan adalah dapat menjadi daya tarik daerah yang bersangkutan, tertanamnya sikap toleransi, saling melengkapi hasil budaya dan mendorong inovasi keudayaan. Keragaman budaya dapat berupa keragaman suku bangsa, keragaman bahasa, keragaman kesenian, dan keragaman agama.
Keberagaman kesenian di Kabupaten Blora terbagi menjadi 5 jenis, yakni kesenian musik modern, kesenian musik tradisional, teater modern, teater tradisional, dan kesenian tari. Dari ke lima jenis kesenian yang ada di Kabupaten Blora, kesenian musik tradisional dan teater tradisional merupakan jenis kesenian yang paling diminati, hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah group atau kelompok kesenian yang melestarikan jenis kesenian tersebut. Pada tahun 2016 jumlah grup kesenian musik tradisional mencapai 1,064 grup dan grup kesenian teater tradisional mencapai 841 grup. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Blora masih mencintai kesenian tradisional lokal.
TABEL: 2.21. JUMLAH GROUP KESENIAN KABUPATEN BLORA TAHUN 2012 – 2016
JENIS KESENIAN 2012 2013 2014 2015 2016
1 Group Kesenian Musik Modern 146 150 155 150 149
Band 68 73 77 77 77
AnsambleMusik 22 21 21 21 21
VokalGrup 25 25 25 25 25
MarchingBand 31 31 32 27 26
2 Group Kesenian Musik Tradisional 943 1055 1071 1058 1064
Karawitan 194 209 213 209 217 Suarawati 80 82 82 81 81 Terbang 498 579 586 581 579 Kentrung 1 1 1 1 1 Keroncong 30 30 33 33 33 Melayu 140 154 156 153 153
3 Group Kesenian/Teater Modern 28 28 28 28 27
DramaSekolah 28 28 28 28 27
4 Group Kesenian/Teater Tradisional 825 846 850 845 841
WayangOrang 2 2 2 2 2 WayangPurwo 53 53 53 53 53 WayangKrucil 9 9 9 9 9 WayangGolek 11 11 11 11 11 Ketoprak 98 98 98 96 96 Barong 652 673 677 674 670 5 GroupTari 165 173 177 177 177 Modern 32 34 35 35 35 Klasik 32 35 36 36 36 Reog 8 8 10 10 10 Tayuban 85 85 85 85 85 Kreasi 8 11 11 11 11
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
Selain kesenian, agama juga merupakan salah satu kebudayaan yang harus dijaga, karena agama merupakan pedoman hidup bagi setiap individu dalam mencapai tujuan hidup. Agama berfungsi sebagai pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai atau sikap yang seharusnya dilakukan umat manusia dalam berhubungan dengan tuhan juga sesama manusia. Keragaman agama di Indonesia, memiliki persamaan dalam memandang perbuatan baik dan buruk. Setiap agama juga mengajarkan bagaimana manusia menghormati pemeluk agama lain, mengajak manusia lain berbuat baik, amanah pada tugas dan tanggung jawab, bersikap adil, saling menolong, dan sebagainya. Setiap ajaran agama mengandung perintah dan larangan yang sangat sesuai dengan kebutuhan umat manusia.
Masyarakat Kabupaten Blora mayoritas beragama islam dengan jumlah penganut sebanyak 928,688 jiwa pada tahun 2016. Selanjutnya penganut Kristen Protestan sebanyak 9,169 jiwa dan 3,836 jiwa merupakan penganut Kristen Katolik. Sedangkan penganut Hindu sebanyak 152 jiwa dan penganut Budha sebanyak 272 jiwa. Terakhir penganut Konghuchu sebanyak 1,402 jiwa. Walaupun memiliki agama yang berbeda, tetapi semua masyarakat memiliki cita-cita sama untuk membangun daerah Kabupaten Blora. Keberagaman agama tersebut, diharapkan tidak membuat perpecahan masyarakat, tetapi justru menjadi spirit masyarakat untuk maju bersama.
TABEL: 2.22. JUMLAH PENGANUT AGAMA DAN TEMPAT IBADAH KAB. BLORA TAHUN 2012 – 2016
AGAMA 2012 2013 2014 2015 2016
1 Islam
Jumlah Penganut 981,176 886,424 924,167 1,238,647 928,688
Jumlah Tempat Ibadah 997 1012 984 985 4,712
2 Protestan
Jumlah Penganut 8,473 8,522 9,012 8,708 9,169
JumlahTempatIbadah 57 53 15 15 66
3 Katolik
Jumlah Penganut 4,215 3,920 3,943 3,825 3,836
JumlahTempatIbadah 10 17 50 50 12
4 Hindu
Jumlah Penganut 62 138 62 57 152
JumlahTempatIbadah 0 1 1 -
-5 Budha
JumlahPenganut 384 297 255 338 272
JumlahTempatIbadah 3 3 3 3 3
6 Konghuchu/Lainnya
Jumlah Penganut 126 347 1,064 1,150 1,402
JumlahTempatIbadah 2 2 1 2 2
Sumber : BPS Kabupaten Blora, 2016
2.5 PROFIL INFRASTRUKTUR WILAYAH 2.5.1. AKSESIBILITAS DAN PROFIL JALAN
Akses ke Kabupaten Blora bisa dilalui akses berupa jalan provinsi yang menghubungkan Kota Semarang dengan Surabaya lewat Purwodadi. Jalur ini cukup ramai, jika dibandingkan dengan jalur Semarang-Surabaya lewat Rembang, karena kondisi jalannya yang kalah lebar. Blora juga dapat dicapai dengan menempuh jalur Semarang-Kudus-Rembang-Blora.
1. JARINGAN JALAN NASIONAL
Jalan strategis nasional adalah rencana sistem jaringan jalan yang ditetapkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Salah satu wilayah dari Kabupaten Blora masuk kedalam wilayah yang dilewati jalan strategis rasional yaitu jalur Rembang – Bulu – Blora – Jepon – Jiken – Sambong - Cepu - Padangan (perbatasan jawa timur).
2. JARINGAN JALAN PROVINSI
Jalan kolektor primer yang termasuk dalam kelompok jalan provinsi adalah jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota dan jalan yang menghubungkan antar ibukota kabupaten/kota. Jalan kolektor primer yang terdapat di dalam wilayah Kabupaten Blora merupakan kelompok jalan provinsi yang terdiri dari: a) Semarang – Purwodadi – Blora – Cepu – Bojonegoro (Jatim) – Surabaya (Jatim). Ruas
jalan ini disebut sebagai lintas utara Blora, melalui Kecamatan Kunduran, Ngawen, Blora, Jepon, Jiken, Sambong dan Cepu. Ruas jalan ini juga akan ditingkatkan menjadi jalan arteri.
b) Semarang – Purwodadi – Wirosari – Cepu – Bojonegoro (Jatim) – Surabaya (Jatim). Ruas jalan ini disebut sebagai lintas selatan Blora, melalui Kecamatan Jati, Randublatung, Kedungtuban, Cepu.
3. JARINGAN JALAN KABUPATEN
Jaringan jalan kabupaten adalah sistem yang melayani pergerakan antar pusat – pusat kegiatan. Jaringan jalan tersebut adalah jalan kolektor primer yang tidak termasuk jalan nasional dan provinsi, jalan lokal primer yang menghubungkan ibu kota kabupaten dan ibu kota kecamatan, ibukota kabupaten dan pusat desa, antar ibukota kecamatan, ibukota kecamtan dengan desa, dan antar desa, jalan sekunder dan jalan strategis kabupaten. Sistem jaringan jalan kabupaten yang terdapat di Kabupaten Blora terdiri dari jalan kolektor primer dan jalan lokal primer.
Secara fungsional jalan lokal primer adalah jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil atau menghubungkan kota jenjang kedua dengan persil atau menghubungkan kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga atau kota jenjang ketiga dengan kota dibawahnya atau kota jenjang ketiga dengan persil atau kota dibawah jenjang ketiga dengan persil. Jaringan jalan kabupaten yang terdapat di Kabupaten Blora termasuk dalam kategori jalan lokal primer kecuali jaringan jalan yang berada di dalam kawasan perkotaan yaitu di Kota Blora dan di Kota Cepu.
Jalan merupakan prasarana pengangkutan darat yang penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Dengan makin meningkatnya usaha pembangunan maka akan menuntut peningkatan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain. Panjang jalan di wilayah Kabupaten Blora pada tahun 2016 adalah 1.326,8 kilometer. Panjang jalan tersebut terbagi menjadi jalan propinsi sepanjang 103,96 kilometer dan jalan kabupaten 1.222,84 kilometer
TABEL: 2.23. PANJANG JALAN MENURUT KONDISI JALAN DI KAB BLORA TAHUN 2015-2016 NO KECAMATAN BAIK SEKALI RUSAK RINGAN RUSAK RUSAK BERAT
1 Jati 38.490 13.580 32.580 29.260 2 Randublatung 30.270 10.890 25.630 23.010 3 Kradenan 31.900 11.480 27.010 24.260 4 Kedungtuban 17.900 6.440 15.150 13.610 5 Cepu 19.270 6.440 16.310 14.660 6 Sambong 12.470 4.480 10.550 9.480 7 Jiken 24.890 8.950 21.070 18.930 8 Bogorejo 17.080 6.140 14.460 12.980 9 Jepon 26.280 9.450 22.240 19.980 10 Blora 42.360 15.240 35.850 32.200 11 Banjarejo 36.780 13.230 31.140 27.970 12 Tunjungan 14.500 5.220 12.280 11.030 13 Japah 14.630 5.260 12.380 11.130 14 Ngawen 18.950 6.820 16.040 14.410 15 Kunduran 18.000 6.480 15.240 13.680 16 Todanan 48.430 17.430 41.000 36.830 Jumlah 2016 412.200 147.530 348.930 313.420 2015 407.575 112.946 213.229 60.942
Akses atau sarana transportasi, memang masih menjadi barang yang cukup mahal tampaknya di Kabupaten Blora. Terutama di daerah perbatasan. Misalnya saja perbatasan dari Kecamatan Kradenan, Blora ke wilayah Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, yang masih mengandalkan perahu tradisional untuk melaluinya. Hal tersebut dikarenakan, belum adanya akses transportasi berupa jembatan, yang bisa untuk melayani perjalanan ke dua tempat tersebut. Sehingga masyarakat hanya memanfaatkan perahu untuk menyeberangi wilayah yang dipisahkan Bengawan Solo tersebut.
2.5.2. SUMBER DAYA AIR
Wilayah Kabupaten Blora termasuk dalam wilayah aliran Daerah Aliran Sungai (DAS) Jratun Seluna, sub DAS Lusi dan Sub DAS Juana serta DAS Bengawan Solo. Sub DAS Lusi meliputi Kecamatan Blora, Tunjungan, Banjarejo, Jepon, Jiken, Ngawen, Kunduran danTodanan bagian selatan. Sub DAS Juana meliputi Kecamatan Todanan bagian Utara. Sedangkan DAS Bengawan solo meliputi Kecamatan Sambong, Cepu, Kedungtuban, Kradenan, Randublatung dan Jati.
Ketiga DAS tersebut dengan sub-sub DAS-nya adalah sebagai berikut:
DAERAH ALIRAN SUNGAI LUSI
- Sub DAS Medang - Sub DAS Sanggrahan - Sub DAS Ingas Jajar - Sub DAS Lusi hulu
- Sub DAS Geger Sapi - Sub DAS Sambongsari - Sub DAS Kedung Waru
DAERAH ALIRAN SUNGAI JUANA DAERAH ALIRAN SUNGAI BENGAWAN SOLO
- Terdiri dari Sub DAS Juana - Terdiri dari Sub DAS Wulung
Keberadaan DAS yang ada di Kabupaten Blora ini sangat potensial sebagai sumber air permukaan yang bermanfaat bagi pertanian, sedangkan penggunaan air permukaan bagi kepentingan pertanian secara langsung adalah melalui sistem irigasi teknis maupun ½ teknis
dan irigasi sederhana dan non teknis. Gambaran mengenai kondisi DAS di Kabupaten Blora ditampilkan pada Peta Daerah Aliran Sungai (DAS).
GAMBAR 2.11.PETA MATA AIR DAN DAS KABUPATEN BLORA
2.5.3. SARANA ANITASI
2.5.3.1. AIR LIMBAH
a). Limbah Cair Rumah Tangga
Kondisi umum penanganan limbah cair rumah tangga di Kabupaten Blora mempergunakan sistem setempat (onsite system) berupa septic tank, namun juga dapat dijumpai penggunaan cubluk di beberapa tempat. Walaupun demikian, dibeberapa lokasi sudah dibangun sistem komunal untuk melayani satu kawasan pemukiman, pondok pesantren maupun industri tahu melalui program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) dan IPAL komunal.
Perkiraan total produksi air limbah domestik rumah tangga sekala Kabupaten Blora, untuk air limbah grey water sebesar 82.451.904 Liter/hari atau 82.452 M3/hari. Sedangkan untuk produksi air limbah domestik rumah tangga black water adalah sebesar 429.437 liter/hari atau 430 M3/hari. Adapun untuk total produksi air limbah skala kota untuk grey water sebesar : 16.030.368 liter/hari atau 16.031 liter/hari. Sedangkan untuk limbah black water skala kota sebesar : 83.491 liter /hari.
b). Limbah Industri