• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENEITA DAN PEMBAHASAN

3. Sarana Dan Prasarana

Untuk menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar dibutuhkan fasilitas-fasilitas yang memadai sehingga dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Adapun fasilitas-fasilitas yang di miliki oleh SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar adalah sebagai berikut.

Table : V

Keadaan sarana dan prasarana

No Jenis Keterangan

Jumlah Baik Buruk

1. Ruang Kepala Sekolah 1 - 1

2. Ruang Belajar Teori 8 - 8

3. Ruang Guru 1 - 1

4. Ruang Perpustakaan 1 - 1

5. Lemari 8 - 8

6. Meja Guru 8 - 8

7. Kursi Guru 8 - 8

8. Bangku Siswa 250 - 250

9. Papan Tulis 9 - 9

10. WC 1 - 1

Sumber Data : Dokumentasi SD Inpres Barrang Lompo Kec.

Ujujng Tanah Kota Makassar, 2014

Melihat table diatas maka SD Inp[res Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar mempiunyai sarana yang cukup lengkap dimana dengan alat lengkap sehingga siswa dapat kreatif praktek tentang pelajaran pendidikan Agama Islam, sedang perpustakaan sendiri memiliki buku bacaan yang cukup

B. Efektivitas Pengelolaan Kelas Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar

Efektivitas Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses interaksi edukatif dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk ,enciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses interaksiedukatif. Yang termasuk kedalam hal ini adalah misanya penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas anak didik, atau penetapan norma kelompok yang produktif.

Masalah pokok yang dihadapi guru, baik guru pemula maupun yang sudah pengalaman adalah pengelolaan kelas, karna pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang kompleks. Dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi

efisien dan memungkinkan mereka dapat belajar. Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif. Tugas utama dan paling sulit bagi guru adalah pengelolaan kelas, lebih-lebih tidak ada pendekatan satupun yang paling baik.

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Denga kata lain. Ialah kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.

Dalam peningkatan kualitas pembelajaran perlu diperhatikan penataan ruang kelas, penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk kelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar.

Dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis tentang pengaturan ruangan yang dilakukan di SD Inpres Barrang Lompo yaitu:

1. Pengaturan tempat duduk, bangku ( tempat duduk ) di duduki oleh satu orang saja, apa bila pengajaran itu akan ditempuh dengan berdiskusi maka formasi tempat duduk berbentuk melingkar, jika menggunakan metode ceramah, maka tempat duduknya memanjang kebelakang.

2. Masalah kebersihan dan keindahan, masalah kebersihan kelas siswa membersihkannya secara bergantian atau bergiliran kemudian guru

memeriksa, dan keindahan dilihat dari pajangan-pajangan sudah tertata rapid an bisa di manfaatkan untuk kepentingan pembelajaran.

3. Dilihat dari jumlah siswa sudah cukup dan efektif sesuai dengan luas ruangannya.

Dan menurut hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan kelas siswa SD Inpres Barrang Lompo sudah dapat di golongkan dengan predikat baik sebagai mana yang di ungkapkan oleh bapak kepala sekolah SD Inpres Barrang Lompo bahwa:

“ Guru SD Inpres Barrang Lompo sangat mengerti sekali tentang bagaimana pengelolaan kelas yang baik dengan menggunakan berbagai cara dari program supervis maupun cara mereka sendiri

“.( wawancara pada tanggal 25 agustus 201 )

Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat digunakan oleh seorang guru.

Disamping itu, guru memiliki pemahaman yang tepat tentang anak secara individual, dengan demikian ia dapat menempatkan diri dan mencari solusi dalam situasi di mana terjadinya perilaku anak yang kurang mendukung atau mengganggu aktivitas pembelajaran.

Penampilan guru sebagai orang dewasa yang mempunyai peran strategis dalam pembelajaran hendaklah disukai oleh para peserta didik.

Berdasarkan haltersebut, peneliti mengemukakan secara umum karakteristik guru yang paling disukai dan tidak disukai oleh anak-anak.

Walaupun cirri yang dikemukakan ini sangat umum, namun sebagian besar hal ini juga berlaku bagi guru SD. Guru yang paling disukai oleh anak-anak adalah guru yang berperilaku sebagai berikut:

1. Suka membantu dalam aktivitas pembelajaran, 2. Riang, gembira, dan mempuinyai perasaan humor,

3. Bersikap akrab seperti sahabat, merasa seorang anggota dalam kelompok kelas,

4. Menunjukkan perhatian pada murid dan memahami mereka

5. Berusaha agar aktivitas yang diberikan kepada anak menarik, membangkitkan keinginan belajar,

6. Tegas ,sanggup menguasai kalas dan membangkitkan rasa hormat pada murid,

7. Tidak pilih kasih atau tidak mempunyai anak kesayangan, 8. Mengajarkan sesuatuyang bermakna kepada murid, dan 9. Mempunyai pribadi yang menyenangkan.

Selanjutnya, guru yang tidak disukai oleh anak-anak adalah guru yang berperilaku berikut:

a. Sering marah, takpernah senyum, sering mencela dan mengecam,

b. Tidak suka membantu murid melakukan aktivitas pembelajaran,

c. Pilih kasih, menekan murid-murid tertentu,

d. Tinggi hati, sombong, dan tidak mengenal murid,

e. Kejam, tidak toleran, kasar , terlampau keras dan menyuramkan kehidupan murid,

f. Tidak memberikan perlakuan yang adil kepada murid,

g. Tidak menjaga perasaan anak, membentak-bentak murid sehingga mereka takut dan merasa tidak aman,

h. Tidak menaruh perhatian kepada murid dan tidak memahami murid,

i. Menyuruh anak melakukan akyivitas yang tidak sesuai dengan perkembangannya,

j. Tidak sanggup menjaga disiplin dalam kelas, tidak dapat mengontrol kelas, tan tidak menghormati diri sendiri sebagai guru.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak .Muh.Kasim.SPd.I yang diwawancarai pda tanggal 17 september 2014 di SD inpres Barrang Lompo bahwa :

“ Didalam proses belajar mengajar, kami sebagai guru selalu memberikan contoh dan teladan dalam hal penanaman disiplin diri kepada sisiwa sehingga apa yang disampaikan kepada siswa dapat dipahami dan di amalakan”. (Wawancara pada tanggal 17 September 2014) di SD Inpres Barrang Lompo Kec.Ujung Tanah Kota Makassar.

Jadi seorang guru harus mengetahui apa yang menjadi tugasnya untuk dapat meningkatkan kreatifitasnya.dengan bimbingan dari kepala sekolah sebagai supervisor yang memberikan arahan, motivasi, dan membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.

Karakteristik guru yang disukai oleh anak akan mendukung aktivitas pengelolaan kelas yang baik, sebaliknya karakteristik guru yang tidak disuksai oleh murid dapat menjadi faktor penghambat dalam kegiatan pengelolaan kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar anak SD. Keadaan ini pengaruhi antara lain oleh bekal pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki guru.

Kenyataan dilapangan menunjukkan masih ada sebagian besar guru SD belum memiliki pengetahuan dan kemampuan yang relevan dengan bidang tugasnya. Sebagian mereka yang bertugas, belum menempuh pendidikan khusus yang relevan dengan profesinya sebagai guru SD. Sementara itu,mereka mempunyai tugas yang tidak ringan, karena akan berhadapan dengan anak-anak yang memiliki keunikan individual sehingga diperlukan pemahaman yang tepat tentang anak.

Atas dasar pemahaman yang tepat dan pengetahuan yang konprehensif tentang anak usia SD guru merancang dan melaksanakan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan ansk.

Berkaitan dengan pengelolaan kelas, guru mesti melihat bahwa kelas siswa SD bukan sebagai suatu tempat yang “ permanen “. Sebab ,

konsep kelas yang parmanen cenderung mengacu pada suatu tempat pembelajaran yang disusun dengan sifat statis atau cenderung tidak dapat diubah-ubah, pola pembelajaran yang kaku, monoton dan kurang bervariasi sehingga menyebabkan timbulnya kebosanan bagi anak untuk melakukan aktivitas belajar.

Keberadaan SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar merupakan sebuah tempat peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik dan tempat menuntut ilmu. Peserta didik belajar terpisah dari orang tua dan dari lingkungan sehari-harinya dirumah, mereka juga belajar bersosialisasi dengan lebih banyak orang seperti guru dan teman-teman sekelasnya di SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar pula anak mengalami tahap yang sangat mendasar dan penting bagi perkembangan dan pendidikan mereka selanjutnya kejenjang yang lebih tinggi lagi. Oleh sebab itu keberadaan guru kelas sangat penting dalam peningkatan proses pembalajaran pendidikan Agama Islam yaitu sebagai pengganti orang tua. Di SD peserta didik memperoleh pengalaman yang lain yaitu guru tentinya mampunyai gaya atau metode dan aturan serta strategi pengelolaan kelas tertentu dalam peningkatan potensi setiap peserta didiknya. Peningkatan potensi tersebut tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Guru harus merancang kegiatan pembelajaran sedemikian rupa termasuk strategi pengelolaan kelas yang

digunakan oleh guru yang disesuaikan dengan temah dan tujuan yang dipilih.

Setelah penulis melakukan observasi, wawancara dan membagikan angket kepada responden ternyata masih ada guru yang kurang paham tentang pengelolaan kelas dalam peningkatan kualitas pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Untuk lebih jelasnya lihat table di bawah ini:

Table : VI

Tanggapan responden siswa tentang pengelolaan kelas dalam peningkatan kualitas pembelajaran pandidikan Agama Islam

No Jawaban Siswa Frekuensi Presentasi

1. Paham 30 94%

2. Kurang Paham 2 6%

3. Tidak Paham 0 0%

Jumlah 32 100%

Sumber data : tabulase Angket no : 7

Hasil dari penelitian sebagai mana data dari table di atas menunjukkan bahwa dari 32 responden yang paham tentamg efektivitas pengelolaan kelas III dalam penin gkatan proses pembelajaran pendidikan Agama Islam adalah 30 orang sebanyak 30 orang atau 94%

kemudian yang menyatakan kurang paham 2 orang atau 6% tidak ada

responden yang menyatakan tidak paham berdasarkan data tersebut di atas, menunjukkan bahwa tidak ada guru yang kurang paham dan tidak paham mengenai efektivitas pengelolaan kelas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan Agama Islam itu sendiri.

Dan juga sudah dapat meningkatkan potensi peserta dalam pengelolaan kelas dalam peningkatan proses pembelajaran pendidikan Agama Islam karna adanya fasilitas yang memadai diantaranya:

1. Buku mata pelajaran yang dibagika kapada anak didik cukup Alat peraga yang lengkap

2. Teknik dan metode pembelajaran yang dikuasai oleh guru

3. Adanya orang tua dalam memotovasi anak (wawancara, tanggal, 20 September 2014) di SD Inpres Barrang Lompo Kec.Ujung Tanah Kota Makassar.

C. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat efektivitas pengelolaan kelas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec.

Ujung Tana Kota Makassar

Faktor yang mendukung dan menghambat pengelolaan kelas dapat mucul dari komponen-komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran baik langsung maupun yang tidak langsung . secara umum dapat dikemukakan faktor-faktor yang dapat mendukukng dan menghambat dalam pengelolaan kelas adalah faktor yang bersumber dari:

1. Guru 2. Anak

3. Fasilitas kurikulum 4. Kurikulum

5. Dinamika kelas dan 6. Keluarga.

7. Faktor yang bersumber dari Guru

Guru mempunyai peran kunci dan dominan dalam kegiatan pengelolaan kelas siswa SD. Dikatakan dinamika karena perwujudan kelas yang menyenangkan dan kondusif untuk aktivitas belajar anak meru[pakan hasil dari kegiatan yang dilakukan guru berdasarkan pemshaman professional yang dimilikinya. Guru mempunyai kewajiban mulai dari menyusun program pembelajaran, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasinya. Semua hal ini ditujukan untuk membantu perkembangan anak secara optimal. Guru, sebagai orang dewasa yang dihadapkan mampu membantu perkembangan anak, harus memiliki pengetahuan, kemampuan, dan pemahaman yang tepat tentang tugas dan kewajibannya.ketiga aspek ini akan menjadi landasan berpijak bagi guru dalam berbuat dan bertindak sebagai orang dewasa professional yang mempunyai tugas pokok membantu mengembangkan potensi yang di miliki anak secara maksimal.

Berkaitan dengan tugas mengelola kelas ini menurut Muh.yamin mengatakan bahwa guru yang bagus adalah:

Memiliki kemampuan untuk menata ruang kelas sebagai tempat berlangsungnya aktifivitas pembelajaran, dan mampu menciptakan iklim pembelajaran berdasarkan hubungan manusiawi yang harmonis dan sehat.( wawancara, tanggal, 20 September 2014 ) di SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makasssar.

1. Faktor yang bersumber dari Anak

Sebagai salah satu komponen yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran, anak merupakan salah satu aspek yang dapat menjadi faktor penghambat dalam pengelolaan kelas. Keadaan ini terjadi apabila aktivitas dan perilaku yang ditampilkan anak tidak mendukung aktivitas pembelajaran yang diinginkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dengan kata lain, kegiatan pengelolaan kelas yang kondusif untuk aktivitas pembelajara tidak akan terwujud jika anak menampilkan perilaku yang mengganggu kelancaran proses pembelajaran. Perilaku tidak mendukung proses pembelajaran yang di tampilkan anak akan memberikan dampak negatif atau gangguan baik tehadap teman lain maupun terhadap aktivitas yang akan dilakukan guru dikelas untuk kepentingan pencapaian tujuan pembelajaran.

Perilaku mengganggu aktivitas pembelajaran yang dimunculkan anak perlu dipahami oleh guru sebagai orang dewasa professional.

Berkaitan dengan hal ini, guru perlu mempunyai pemahaman yang baik dan tepat tentang karakteristik anak usia SD sebagai mana telah diuraikan pada bab terdahulu dan konsep pembelajaran bagi anak usia SD. Tanpa pemahaman yang tepat terhadap kedua hal pokok tersebut, akivitas guru mengatasi perilaku anak yang menyimpang dalam kalas akan berdampak negative bagi perkembagan anak apabila hal itu dilakukan tanpa pemahaman tehadap anak sebagai individu yang unik. Oleh karena itu, guru perlu sangat hati-hati dalam menangani perilaku anak yang mengganggu aktivitas pembelajaran.

Terjadinya perilaku menyimpang yang dimunculkan anak belum tentu disebabkan oleh faktor anak itu sendiri. Hal ini amat penting untuk diingat oleh para guru bahwa banyak hal yang dapat menyebabkan anak berperilaku yang kurang mendukung aktivitas pembelajaran dikelas . terjadinya gangguan pengelolaan kelas yang bersumber dari anak harus dianalisis oleh guru secara komprehensif dengan mengajukan pertanyaan mengapa mereka atau dia berperilaku kurang mendukung? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan membantu guru untuk mengidentifikasi fakto penyebabnya.

Berdasarkan hal itu guru dapat melakukan koreksi dan perbaikan terhadap berbagai aspek yang menyebabkan munculnya perilaku

anak yang tidak mendukung aktivitas pembelajaran. Berkaitan dengan hal ini peneliti menyatakan bahwa perilaku anak yang menyimpang dapat disebabkan oleh faktor: kesadaran guru, kebutuhan dasar manusia, kebutuhab anak, perubahan social lingkungan sekolah, perkembangan moral dan pengetahuan, dan kompetensi pengajaran.

Secara lebih rinci peneliti mengungkapkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku anak yaitu:

a. Kesiapan guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran,

b. Terpenuhi atau tidak kebutuhan dasar anak,seperti makan, adalah faktor yang mempengaruhi perilaku anak di kelas,

c. Kebutuhan anak untuk memiliki sesuatu yang berarti, d. Perubahan sosial dilingkungan sekolah,

e. Perkembangan pengetahuan dan moral,

f. Kelemahan yang bersumber dari kegiatan pembelajaran,

Selanjutnya peneliti mengemukakan pula tiga kelompok faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perilaku peserta didik yang menyimpang, yaitu:

1. Faktor negative dari program pembelajaran / sekolah,

2. Faktor negative dari rumah , pergaulan teman sebaya dan masyarakat,dan

3. Faktor negative dari kepribadian dan kepekaan dalam penyesuaian diri. Faktor negative yang berkaitan dengan sekolah/ program belajar adalah:

a. Kelemahan pengajatran, b. Kurangnya komunikasi kelas, c. Hukuman yang diberikan oleh guru,

d. Kurang harmonisnya hubungan guru, murid, e. Harapan guru yang gagal,

f. Sikap guru yang negative,

g. Penggunaan label yang menyimpang oleh guru, h. Kurangnya bimbingan guru dan,

i. Kurikulum yang tidak mendukung,

Faktor-faktor negatif dari rumah,teman sebaya daqn masyarakat yang yang menjadi penyebab terhadap perilaku anak yang menyimpang adalah:

a. Latar belakang keluarga yang tidak mendukung, b. Kurangnya dukungan sosial dari keluarga, c. Pengaruh teman sebaya yang negatif, d. Anak yang tersiksa,

e. Harapan orang tua yang gagal, f. Sikap negative orang tua,

g. Penggunaan label yang negative oleh orang tua,

h. Kurangnya dukungan emosional di rumah,

i. Sikap dari kelompok teman sebaya yang tidak kooperatif.

Terakhir, faktor-faktor negative yang berhubungan dengan kepribadian dan Penyesuaian diri yang dapat mempengaruhi perilaku anak yang menyimpang adalah:

1. Ketidak stabilan emosional, 2. Sikap negative terhadap guru, 3. Belum matang,

4. Tidak mampu menyesuaikan diri, 5. Kurang percaya diri,

6. Kurang keunggulan diri,

7. Sikap negative terhadap sekolah,dan

8. Kurang kesadaran terhadap usaha-usaha penting.

1. Faktor yang Bersumber dari Kurikulum

Kurikulum merupakan semua pengalaman belajar yang akan diperoleh anak guna mencapai tujuan perkembangan secara optimalsesuai dengan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu kurikulum dirancang sesuai dengan karakteristik anak, disamping memenuhi harapan masyarakat pada umumnya. Kurikulum yang telah dirancang akan diimplementasikan di kelas. Ini berarti bahwa kelas bukan hanya tempat berkumpulnya anak dan guru, melainkan lebih dari itu yaitu suatu tempat berlangsungnya aktivitas pembelajaran

yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rangkaian aktivitas pembelajaran yang terjadi di kelas di pengaruhi oleh kurikulum yang telah disusun

Kurikulum SD. Disusun secara statistic pada tingkat nasional, sehingga memungkinkan terdapatnya kekurang cocokan dengan perkembangan anak dan situasi pada saat kurikulum tersebut diimplementasikan. Namun guru sebagai seorang professional mempunyai kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan situasi dan kondisi yang di-hadapinya. Kewenangan untuk mengembangkan kurikulum ini diatur dalam undang-undang Nomor 20 tahun 2003 rentang system Pendidikan Nasional.

“Hal penting yang perlu disadari dan diingat oleh guru adalah bahwa SD merupakan sebuah taman yang berfungsi untuk merangsang dan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak melalui bimbingan guru sebagai orang dewasa

Praktik seperti ini dipengaruhi oleh bagai mana pemahaman guru terdadap kurikulum yang ada dan bagai mana guru menjabarkan program kegiatan belajar tersebut kedalam bentuk-bentuk kegiatan yang cocok dengan perkembangan anak dan tujuan pembelajaran di SD kekuatan guru terdadapkurikulum yang ada akan mempengaruhi kegiatan pengelolaan kelas yang dilakukannya.

Terdapat kecenderungan bahwa praktik pendidikan di SD ada yang langsung memberikan memberikan berbbagai mata pelajaran kepada anak. Bukan tidak mungkin kurikulumnya dirancang untuk tujuan tersebut. Jika ini yang terjadi, maka kurikulum SD tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan anak pada usia itu. Hal ini dapat mampengaruhi anak untuk ber-perilaku menyimpang sehingga mengganggu pengelolaan kelas yang dilakukan guru. Atas dasar inilah. Hicks, Houston, Cheney dan marquard (1970) menyatakan bahwa pada hakekatnya kurikulum SD dirancang guna memberikan kesempatan kepada anak untuk:

1. Belajar memahami dan mengikuti arahan,

2. Menjadikan anak agar memiliki perasaan yang lebih sensitif,

3. Mendengarkan, 4. Mengobservasi,

5. Meningkatkan perhatian untuk peduli terhadap diri sendiri, 6. Mempraktikkan dalam prosedur yang aman,

7. Berkreativitas , 8. Merespon irama,

9. Memulai untuk mengenal peraturan-peraturan sekolah, 10.Belajar tentang perilaku kelompok yang dapat diterima, 11.Memahami secara baik makna dari keadilan,

12.Meningkatkan perhatian bekerja sama dengan penuh tanggung jawab terhadap teman dalam kelompok, dan 13.Memahami percakapan dan perilaku yang lebih sopan.

2. Faktor yang Bersumber dari Fasilitas

Upaya mewujudkan pengelolaan kelas yang efektif pada siswa SD juga dipengaruhi oleh ketersediaan dan keadaan sarana prasarana sekolah serta segala fasilitas yang dimiliki oleh sebuah sekolah SD.Faktor ini berkaitan dengan fisik sekolah dan ruang kelas dengan segala perlengkapan atau perabot pendukungnya. Ini mempunyai arti bahwa pengelolaan kelas yang kondusif dapat diwujudkan apabila tersedia sarana dan prasarana yang repsentatif dan memdai sebagai tempat yang nyaman untuk melaksanakan proses pembelajaran.konsep, teori dan teknik strategi yang digunakan oleh guru dalam mengelola kalas tidak akan mempunyai aria pa-apa jika aktivitas ini tidak di tunjang oleh ketersediaan sarana prasarana yang memadai.

Uraian dalam bab terdahulu sudah membahas tentang pengaturan ruang kelas , sehingga kelas menjadi kondusif untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran. Faktor sarana dan prasarana yang dapat menjadi penghanbat dalam usaha menciptakan suasana kelas yang kondusif di SDadalah sebagai berikut:

1. Keadaan bangunan fisik sekolah yang tidak layak dijadikan tempat penyelenggaraan pendidikam SD, misalnya dinding sekolah/ kelas yang kotor, lantai dan ruang kelas yang tidak datar atau atap bangunan yang bocor. Perlu diingat, tampat penyelenggaraan pendidikan bagi anak SD merupakan tempat yang berfungsi sebagai ‘ Taman ‘ sehingga memberikan kesan menyenangkan bagi anak untuk melakukan aktivitas bermain dan belajar,

2. Tidak tersedianya ruang pendukung kelancaran aktivitas pembelajaran seperti; kamar kecil, ruang perpustakaan dan lain sebagainya;

3. Ukuran kelas yang terlalu kecil sehingga membatasi pergirakan dan aktivitas anak;

4. Ruang kelas yang tidak memiliki ventilasi yang cukup sehingga pertukaran udara tidak baik;

5. Suasana kelas yang gelap ebagai akibat dari kurangnya cahaya yang masuk atau system penerangan yang tidak mencukupi;

Agar sarana dan prasarana sekolah dapat mendukung kegiatan pengelolaan kelas yang kondusif, pada dasarnya sejak awal sangat diperlukan perencanaan

5.Faktor-faktor yang bersumber dari Dinamika kelas

Kelas yang berisi individu-individu yang berbeda satu lain. Dalam kelas akan terjadi interaksi baik antara guru dengan anak maupun antara anak dengan anak lainnya interaksi ini akan menggambarkan terjadinya suatu dinamika kelas dari sebuah kelompok sosial yang juga cenderung memiliki sifat dinamis. Dinamika kelas pada hakikatnya merupakan interaksi aktif yang dibangun atas dorongan yang dimiliki oleh individu yang memilikiperbedaan (baik guru maupun anak) guna mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal seperti ini, guru dituntut untuk mampu berperan

Kelas yang berisi individu-individu yang berbeda satu lain. Dalam kelas akan terjadi interaksi baik antara guru dengan anak maupun antara anak dengan anak lainnya interaksi ini akan menggambarkan terjadinya suatu dinamika kelas dari sebuah kelompok sosial yang juga cenderung memiliki sifat dinamis. Dinamika kelas pada hakikatnya merupakan interaksi aktif yang dibangun atas dorongan yang dimiliki oleh individu yang memilikiperbedaan (baik guru maupun anak) guna mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal seperti ini, guru dituntut untuk mampu berperan

Dokumen terkait