SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Jurusan
Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
LISNA BUNGHAE 105190118 010
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1435 H/ 2014 M
Inpres barrang lompo kec. Ujung Tanah Kota Makassar Nama Penulis : LISNA BUNGHAE
Nim : 105190118 010
Fak/Jurusan : Agama Islam / Pendidikan Agama Islam
Setelah dengan seksama memeriksa dan meneliti, maka proposal ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diseminarkan dihadapan Tim Penguji Seminar Proposal Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
08 Dzulhijjahl 1435H Makassar
02 Oktober 2014 M Disetujui :
Pembimbing I
Dr. Abd. Rahim Razaq. M.Pd NIDN: 9909005374
Pembimbing II
Dr.M. Rusli Malli, M.Ag NBM: 738715
iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Dengan penuh kesadaran penulis/ peneliti yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis/
peneliti sendiri. Jika dikemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, dibuat atau dibantu secara langsung oleh orang lain baik keseluruhan, maka skripsi dan gelar sarjana yang diperoleh karenanya batal hukum.
Makassar, 1436 H
2014 M
Penulis
LISNA BUNGHAE
NIM: 105 19 01180 10
iii
peneliti sendiri. Jika kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, dibuat atau dibantu secara langsung oleh orang lain baik keseluruhan, maka skiripsi dan gelar sarjana yang di peroleh karena batal hukum.
Makassar, 08 Sulhijjah 1435 H 02 Oktober 2014 M
Peneliti
LISNA BUNGHAE
Kita menilai diri sendiri dengan apa yang kita rasa mampu kita Lakukan,
Sementara orang lain menilai kita dengan apa yang telah kita
Lakukan
Jadilah diri anda sendiri
Siapa lagi yang bisa melakukannya lebih baik ketimbang diri anda sendiri
serta
Berbuatlah seakan semuanya bergantung padamu Berdoalah seakan semuanyaDan
bergantung pada Allah
Kupersembahkan Karya Sederhana Ini Untuk : Ayahanda Dan Ibunda Tercinta Saudara-Saudaraku Serta Orang-Orang Yang Selalu Memberi
Nasehat,
Yang Senantiasa Mendoakan, Memberikan Motivasi Dan Menyayangiku Selamanya …
Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar (Dibimbing Oleh Abd. Rahim Razaq Dan Rusli Malli)
Skripsi ini bertujuan untuk membahas tentang efektivitas pengelolaan kelas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan Agama Islam siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar pokok permasalahan yang diangkat adalah bagai mana efektivitas pengelolaan kelas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat efektivitas pengelolaan kelas dalam peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dimana penelitian ini merupakan suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi karena biasanya peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap muka lansung dan berinteraksi dengan orang-orang di tempat penelitian dengan jumlah populasi 138 dan sampel 25, data diperoleh dari tehnik pengumpulannya dengan cara wawancara, angket dan kemudian dianalisis dengan deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pengelolaan kelas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan Agama Islam merupakan salah satu langkah yang ditempuh oleh guru untuk meningkatkan potensi peserta didik.
efektivitas pengelolaan kelas sangat penting untuk dirancang sebelum pembelajaran berlangsung agar pesan yang ingin disampaikan oleh guru dapat mudah diterima oleh peserta didik. faktor-faktor yang mendukung antara lain faktor yang bersumber dari guru, anak, fasilitas, keluarga dan kurikulum sedangkan yang menghambat peserta didik antara lain latar belakang keluarga yang tidak mendukung, kurangnya dukungan sosial dari keluarga, pengaruh teman sebaya yang negatif, harapan orang tua yang gagal, serta sikap negatif orang tua.
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii
PENGESHAN SKRIPSI... iV HALAMAN BERITA ACARA MUNAQASYAH... V KATA PENGANTAR ... VI ABSTRAK ... IX DAFTAR ISI ... X DAFTAR TABEL ... XII BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengelolaan Kelas... 9
1. Pengertian Pengelolaan Kelas ... 9
2. Ruang Lingkup Pengelolaan Kelas ... 10
3. Prinsip-prinsip pengelolaan kelas... 11
B. Kualitas Pembelajaran PAI ... 13
1. Pengertian Kualitas... 13
2. Pengertian Pembelajaran ... 14
3. Pendidikan agama Islam ... 18
4. Komponen pencapaian kualitas pembelajaran... 22
5. Kriteria dan Indikator Keberhasilan Pembelajaran .... 27
BAB III METODE PENELITIAN
F. Instrumen Penelitian ... 35
G. Teknik Pengumpulan Data... 36
H. Teknik Analisis Data ... 37
BAB IV HASIL PENEITA DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 38
1. Sejarah Berdirinya Sekolah... 38
2. Keadaaan Siswa ... 40
3. Sarana Dan Prasarana... 42
B. Efektivitas Pengeolaan Kelas Dalam Menngkatkan Kalitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar... 43
C. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat Efektivitas Pengelolaan Kelas Dalam Meningkatkan Kualit Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar... 51
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 66
B. Berdasarkan Uraian Kesimpulan Tersebut Maka Peneliti Member Saran-Saran Sebagai Berikut ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68 LAMPIRAN
iii
Tabel II keadaan sampel ... 34
Tabel III keadaan guru ... 39
Tabel IV keadaan siswa ... 40
Tabel V keadaan saran dan prasarana ... 41
Tabel VI pernyataan hasil angket tentang pengelolaan kelas dalam peningkata kualitas pembelajaran pendidikan agama islam ... 49
Xii
68 Al-Qur’anul Karim.
Arikunto, Suharsimi, 2003Prosedur Penelitian Cet. XII; Jakarta: Rineka Cipta, _________________, 2000 Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Jakarta:
Rineka Cipta,
Anas, Sugiyono 1999, Menejemen Penelitian (Cet.V; Jakarta: PT. Rineka Cipta,
Arikunto, Suharsimi,1988, Pengelolaan Kelas dan Kelas Sebuah Pendekatan Evaluatif, Rajawali Pers Cet.II Jakarta,
Catero & Graham. 2007 hal 39. Menejemen peningkatan kualitas pembelajaran Puspa Swara : Jakarta (skripsi) Nirwan Universitas Muhammadiyah Makassar / Studi Komperatif tentangKualitas Hasil Belajar antara Siswa berprestasi Pesantren dengan Non Pesantren Dimyati & Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta : PT.Rineka Cipta
1999), hal 157 (skripsi) Rafi’ah / Universitas Muhammadiyah Makassar / Penerapan Manajemen Kelas dalam Pembelajaran PAI Hak Syukur & Amir 2013 : 29. Profesi Kependidikan ( Cet.V; Makassar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar,
Hak Syukur & Amir 2013 : 3. Profesi Kependidikan ( Cet.V; Makassar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar,
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara Hadi, Sutrisno, 2002 Metodologi Penelitian Pendidikan Cet. IV; Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Nawawi, Hadari, 2007, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas (Cet. III;
Jakarta: Haji Masaung,
Surachmad, Winarto,2005 Metodologi Penelitian Praktis Untuk Penelitian Pemula Cet.I; Jogjakarta: Gajah Mada Unifercity Press,
68
69
Sudjana, Nana. 2000. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan.
Yogyakarta: Andi Offset Yogyakarta.
Supranta , 1997 . Metode Riset. PT. Rineka Cipta : Jakarta ( skripsi) Nirwan /Universitas Muhammadiyah Makassar/ Studi Komperatif tentang Kualitas Hasil Belajar antara Sisw Berprestasi Pesantren dengan Non Pesantren
Supriyanto, A. 1997. Metode Riset . Rineka Cipta : Jakarta (skripsi) Nirwan / Universitas Muhammadiyah Makassar/ Studi Komperatif tentang Kualitas Hasil Belajar antara Siswa Berprestasi Pesantren dengan Non Pesantren
Suwaid, Muhhammad Ibnu Abdul HaFidh, 2006, Cara Nabi mendidik Anak Cet. II; Jakarta: Al-I‘ tishom Cahaya Umat,
Usman , M.U. 2003 .Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya.(Skripsi) Nurhikmah /universitas Muhammadiyah Makassar /Impementasi Pengeolaan Kelas Efektif dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pembelajaran PAI
Wartono, dkk. 2004. Aplikasi Karateristik Peserta Didik (Sains 4). Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional
Weistein dan Meyer, U. 1998. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal.
Zain, Aswan, Djamarah, Syaiful, Bahri, 1996, Strategi Belajar Mengajar Jakrta: PT. Rineka Cipta,
1
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Guru merupakan profesi/ jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Jenis pekerjaan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang diluar bidang kependidikan walaupun kenyataanya masih ada yang dilakukan orang diluar kependidikan.
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih.
Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup.
Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan ketrampilan- ketrampilan pada siswa.
Masalah guru merupakan topik yang selalu aktual untuk dibahas dalam berbagai diskusi, seminar, workshop untuk mencari berbagai alternatif pemecahan persoalan yang dihadapi guru dalam implementasi tugasnya di sekolah, sebagai pengajar dan pendidik. Dalam berbagai penemuan penelitian diungkapkan bahwa problematika tentang profesi guru masih menjadi faktor yang dominan sebagai penentu keberhasilan proses pendidikan, baik dalam proses mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam internalisasi moral, etika dan estetika.
Kewajiban yang diemban oleh profesi seorang guru memang sangat berat di samping guru dihadapkan pada masalah realitas dirinya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidupnya secara financial dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan profesi seorang guru.
1
2
menuntut keahlian (expertise) para anggotanya.artinya pekerjaan itu tidak bias dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk untuk melakukan pekerjaan itu.(Syukur Hak & Amir 2013: 29).
Dalam kaitannya dengan kualitas pembelajaran, pentingnya peranan guru, dikemukakan oleh Sardiman bahwa guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam pembentukan sumber daya manusia yang potensial dalam pembangunan.
Untuk mengemban jabatan sebagai guru diperlukan persyaratan- persyaratan, yaitu: syarat administratif, syarat teknis, syarat psikis, dan syarat phisik.
Setiap pribadi guru perlu melihat jelas tujuan-tujuan yang hendak dicapai melalui pendidikan.Ia harus mampu menguasai prisip-prinsip psikologi subyek didik supaya mampu mengajar dan mendidik sesuai dengan kebutuhan subyek pendidik. Ia juga harus mampu memahami tugas dan tanggung jawab,karna ia adalah pembawa nilai, pembawa contoh yang patut ditiru oleh subyek didik.(Syukur Hak & Amir 2013: 3)
Sebagai tenaga pengajar yang professional guru harus mampu menunjukkan kompetensinya dalam bidang pengetahuan, ketrampilan, menguasai komponen-komponen pembelajaran, seperti penguasaan kurikulum, materi dan bahan pembelajaran, metode pembelajaran, tehnik evaluasi serta strategi pembelajaran dalam berbagai learning style dan komitmen terhadap tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam pengembangannya untuk melaksanakan tugas tersebut guru dituntut selalu memiliki dedikasi dan disiplin tinggi agar dalam prosesnya berjalan secara sinergis dengan tujuan pembelajaran. Di dalam ajaran Islam anjuran untuk
3 An’am (6): 135
Terjemahnya:
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan. (Kementrian Agama RI, 2006 : 221) Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, peserta didik kurang di dorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan peserta didik untuk menghafal informasi; otak mereka dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari- hari. Akibatnya ketika peserta didik lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoretis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.
Kualitas mengajar guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam proses belajar mengajar yang merupakan salah satu upaya untuk tercapainya tujuan pebelajaran secara khusus dan tercapainya tujuan pendidikan secara umum.
4
kondisi kelas yang efektif demi tercapainya tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan peserta didik dapat belajar dan menerima pelajaran dengan baik. Pengelolaan kelas diartikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan dengan pola tertentu. Maka pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar mengajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar (PBM). Dengan kata lain, pengelolaan kelas adalah tindakan guru yang melibatkan keterampilan untuk mengembangkan interaksi antara semua unsur dalam kelas, atau upaya dalam mendaya gunakan semua potensi kelas, sehingga tujuan dari proses belajar mengajar tercapai dengan optimal.
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran.
Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dan anak didik dan anak didik dengan anak didik, merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas (Djamarah dan Zain, 2010 :173-174).
Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang baik. Salah satu faktor
5
penyediaan kondisi yang menguntungkan. Kondisi dalam pengertian disini adalah kondisi fisik dan kondisi emosional. Faktor-faktor yang termasuk dalam kondisi fisik diantaranya adalah ruangan kelas, pengaturan atau penataan tempat duduk, ventilasi dan pengaturan cahaya, pengaturan atau penataan, penyimpanan alat-alat perlengkapan kelas. Sedangkan faktor- faktor yang termasuk dalam kondisi emosional diantaranya adalah tipe kepemimpinan guru, sikap sabar dan bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa dapat diperbaiki merupakan sikap yang baik dalam menghadapi siswa, suara guru, pembinaan raport (Usman, 2003).
Pengelolaan kelas merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.
6
proses pengelolaan kelas siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah yang lebih efektif dan meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Aagama Islam Sehingga pengelolaan kelas siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah ini dapat bersaing dengan sekolah yang sederajatnya baik itu kualitasnya maupun kualitasnya. Hal ini dapat dicapai secara optimal apabila pengelolaan sekolah yakni : pimpinan (kepala sekolah), guru dan karyawan benar-benar memperhatikan dedikasi dan loyalitas kerjanya masing-masing serta kelas/siswi menyadari dirinya sebagai peserta didik. Dan dari berbagai permasalahan di atas, menunjukkan betapa pentingnya diadakan penelitian lebih mendalam terhadap pengelolaan kelas yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran PAI, dalam hal ini penulis memfokuskan penelitian pada siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang telah dikemukakan, adapun permasalahan yang dihadapi dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Efektivitas pengelolaan kelas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar ?
7
pengelolaan kelas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PAI siswa SD Inpres Barrang Lompo?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dan manfaat dalam penelitian ini adalah menjawab pertanyaan peneliti dalam rumusan masalah :
1. Untuk mengetahui Efektifitas Pengelolaan Kelas efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujug Tanah Kota Makassar.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat efektivitas pengelolaan kelas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar.
D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan bagi kepala sekolah dan guru di SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah agar dapat menerapkan manajemen dalam pelaksanaan proses belajar mengajar agar dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
2. Penulis mengharapkan penulisan ini menjadi pelengkap dan menambah khasanah ilmu pengetahuan serta dapat mendorong usaha peneliti lebih lanjut pengelolaan kelas.
8 tertuang dalam karya ilmiah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Pengelolaan Kelas
1. Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas adalah merupakan keterampilan guru untuk membuat dan memelihara kondisi belajar yang optimal agar tidak terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain, yakni kegiatan- kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Yang termasuk ke dalam hal ini misalnya, penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian hadiah bagi ketetapan waktu penyelesaian tugas di kelas.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dan anak didik, anak didik dan anak didik merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengeloaan kelas yang efektif merupakan persyaratan mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif.
(Syaiful Bahri Djamarah, Aswan Zain, 1996 : 198)
a. Menurut pendapat Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa:
Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. (Suharsimi Arikunto 2008 : 67)
b. Menurut pendapat Hadari Nawawi mengatakan bahwa:
Pengelolaan kelas adalah kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang
9
seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum. (Hadari Nawawi 2007: 115)
Kualitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar tergantung pada banyak faktor antara lain jumlah siswa dalam kelas yang merupakan bagian dari pengelolaan kelas.
Yang dimaksud dalam kelas ruangan belajar. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah dan menjadi satu kesatuan yang diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis dalam kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai tujuan. Sedangkan pengelolaan kelas segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotifasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan. (pengelolaan kelas di Sekolah Dasar, 1993 /1994)
Demikian pengertian pengelolaan kelas menurut ahli yang penulis dapat simpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa menggali potensi yang dimiliki berupa pemberian kesempatan kepada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga proses belajar mengajar dapat tercapai sesuai kondisi yang diharapkan.
2. Ruang Lingkup Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas merupakan salah satu komponen yang mendukung terjadinya pembelajaran yang efektif dalam kelas, sehingga dengan demikian pengelolaan kelas ini memiliki andil untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
Guru yang sangat berperan penting dalam pengelolaan kelas ini, sehingga dengan demikian guru dituntut untuk memiliki suatu keterampilan khusus dalam proses pembelajaran agar pembelajaran dalam kelas berjalan dengan dasar pencapaian Tujuan pembelajaran. Oleh karena itu yang menjadi ruang lingkup pengelolaan kelas itu adalah sebagai beikut:
a. Kesesuaian Materi dengan Metode b. Kesesuaian Materi dengan media c. Kesusaian Metode dengan Media
d. Kesusaian Model Pembelajaran dengan realitas kelas.
e. Prilaku, sikap, kreatifitas guru dalam kelas f. Administrasi guru dan kelas
g. Kesiapan guru dalam mengajar.
h. Suasana kelas
i. Setting interaksi guru dengan peserta didik (Oemar, Hamalik. 2001 : 23)
Dari uraian ruang lingkup di atas merupakan pola mengajar yang harus ditarafkan guru dalam proses belajar mengajar, agar tranfernisasi ilmu pengetahuan mengalami perkembangan dengan melihat indicator keberhasilan siswa dalam belajar melalui evaluasi.
3. Prinsip-prinsip pengelolaan kelas
Dalam rangka memperkecil gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip dalam pengelolaan kelas dapat digunakan, maka penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsip-prinsip pengelolaan kelas sebagai berikut:
a. Hangat dan antusias
Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
b. Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
Tambahan lagi, akan dapat menarik perhatian anak didik dan dapat mengendalikan gairah belajar mereka.
c. Bervariasi
Penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian anak didik. Apabila penggunaannya bervariasi, sesuai dengan kebutuhan sesaat. Kevariasian dalam penggunaan apa yang disebutkan di atas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
d. Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran
dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan anak didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas, dan sebagainya.
e. Penekanan pada hal-hal yang positif
Pada dasarnya, dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif, yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku anak didik yang positif dari pada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f. Penanaman disiplin diri.
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. karena itu, guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus berdisiplin dalam segala hal (Syaiful Bahri Djamarah.2002 : 208).
B. Kualitas Pembelajaran PAI 1. Pengertian Kualitas
Banyak ahli yang mengemukakan tentang kualitas, seperti yang
dikemukakan oleh beberapa tokoh sebagai berikut :
Kualitas diartikan dengan kenaikan tingkatan menuju suatu perbaikan atau kemampuan.Sebab kuaitas mengandung makna, bobot atau tinggi rendahnya sesuatu.Jadi hal ini kualitas pendidikan atau pelaksanaan pendidikan di suatu lembaga, sampai di mana pendidikan di lembaga tersebut telah mencapai suatu keberhasilan.(Supriyanto 1997 : 25) Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik.
Menyatakan quality (kualitas) di bedakan ke dalam dua dimensi :kualitas dari perespektif pasar dan kualitas kinerja. Keduanya merupakan konsep penting, namun pandangan konsumen atas kualitas produk lebih banyak berhubungan dengan kualitas dari perspektif pasar di bandingkan dengan kuaitas hasil. .( Supranta 1997 : 288)
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kualitas (quality) adalah sebuah filsosofis dan metodologis, tentang (ukuran) dan tingkat baik buruk suatu benda, yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mbbengatur agenda rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan
2. Pengertian Pembelajaran
Ada beberapa defenisi pembelajaran menurut para ahli, menurut Dimayati dan Mudjiono (1999 : 157) pembelajaran adalah “suatu proses yang dilaksanakan secara sistematik dimana setiap komponen saling berpengaruh”. Dalam proses pembelajaran secara implisit terdapat kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa dan lebih menekankan pada cara untuk
mencapai tujuan. Sehingga pembelajaran pada dasarnya adalah kegiatan yang dilaksanakan secara terencana pada setiap tahapan yaitu :
“perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran serta pembelajaran tindak lanjut”
“Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur- unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran” (Hamalik, 2000 : 57).
Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut ini:
ﻰَﻠَﻋ ٌﺔَﺿﯾ ِرَﻓ ِمْﻠِﻌْﻟا ُبَﻠَط َمﱠﻠَﺳ َو ِﮫْﯾَﻠَﻋ ُ ﱠﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِ ﱠﷲ ُلوُﺳَر َلﺎَﻗ َلﺎَﻗ ٍكِﻟﺎَﻣ ِنْﺑ ِسَﻧَأ ْنَﻋ (ﮫﺟﺎﻣ نﺑا) .ٍمِﻠْﺳُﻣ ﱢلُﻛ
Artinya:
Dari Anas Bin Malik Ra, Ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu itu adalah satu fardu yang wajib atas tiap-tiap seorang Islam”. ( Ibnu Majah)
Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa setiap peserta didik itu diwajibkan menuntut ilmu. Karena dengan adanya ilmu, maka kita dapat mengetahui apa yang belum kita ketaui.
Dan dijelaskan pula dalam hadist sebagai berikut:
نَﻋ َو ‘ ِةﺎَﺟَرَد َق ْوَﻓ ٍتﺎَﺟَرَد ِءﺎَﻣَﻠَﻌﻠِﻟ : َلﺎَﻗ ُﮫﱠﻧِا ﺎَﮭﻧَﻋ ُﷲ َﻲ ِﺿَر س ﺎَﺑَﻋ ِنﺑِا
:ُل ﺎُﻘَﯾ .ٍﺔَﻧَﺳ َﺔَﺋ ﺎِﻣ ﺎًﺳْﻣَﺧ ِنْﯾَﺗَﺟَر َدﻟا َنْﯾَﺑ ﺎَﻣ .ِت ﺎَﺟَرَد ﺔﺋ ﺎﻣﻌﺑﺳﺑ َنﯾِﻧِﻣؤُﻣﻟْا
لﻣﺋﻟا نﻣ ُلُﺿْﻓَا مﻠﺋﻟا َلِﻣَﺋﻟْا َو َن ْوُﻛَﯾ َلِﻣَﻋ ِرْﯾَﻐِﺑ مﻠﺋﻟا لوﻻا : ﺔﺟ وا ٍﺔَﺳْﻣَﺧِﺑ
.ِﻊَﻔْﻧَﯾ َﻻ َمِﻠَﻋ ِرْﯾَﻐِﺑ لﻣﺋﻟاو ُﻊَﻔْﻧَﯾ ِلَﻣَﻋ ِرْﯾَﻐِﺑ مﻠﺋﻟا ﻲﻧ ﺎﺛﻟا و . َن ْوُﻛَﯾ َﻻ َمِﻠَﻋ ِرْﯾَﻐِﺑ َﺔَﻔَﺻ ْنَﻣ َل ِﺿْﻓَا ِﷲ َﺔَﻔَﺻﻟا َو .دﺎﺑﺋﻟا ﺔﻔﺻ لﻣﺋﻟاو مزﻻ لﻠﻣﺋﻟا َثَﻟ ﺎَﺛﻟا َو (دﻣﺣا هاور) (نﯾﺣﺻﺎﻧﻟا ةرد ﮫﺟرﺧا) .دﺎَﺑِﺋﻟْا
Artinya:
Dari Ibnu Abbas RA berkata: bagi orang-orang yang berilmu (ulama) beberapa derajat diatas derajat orang mukmin dengan berbanding 700 derajat. Antara derajat yang satu dengan yang lain mencapai 500 tahun dikatakan: “ilmu lebih utama dari amal melalui 5 sistem: 1) Ilmu tanpa amal pun tetap ada, dan amal tanpa ilmu tak akan bisa, 2) Ilmu tanpa amal bisa manfaat, dan amal tanpa ilmu tak ada manfaatnya, 3) Amal adalah permistian, dan ilmu yang menerangi seperti lampu, 4) Ilmu adalah ucapan para nabi, 5) Ilmu adalah sifat Allah, dan amal adalah sifatan hamba, sementara sifat Allah lebih utama dari sifatan Hamba”.
(H.R. Ahmad)
Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, atau berbagai media lainnya. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruang kelas, perlengkapan audio visual, juga computer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belaja, ujian dan sebagainya.
“Pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan atau sikap baru pada saat seseorang individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan” (Wartono, dkk 2004:15).
Sebagaimana dijelaskan dalam hadis sebagai berikut:
ﺎًﻣِﻟﺎَﻋ ُدْﻏا َلﺎَﻗ َمﱠﻠَﺳ َو ِﮫْﯾَﻠَﻋ ُ ﱠﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ﱢﻲِﺑﱠﻧﻟا ِنَﻋ ُﮫْﻧَﻋ ُ ﱠﷲ َﻲ ِﺿَر َةَرْﻛَﺑ ﻲِﺑَأ ْنَﻋ (رازﺑﻟا) .َكِﻠْﮭَﺗَﻓ َﺔَﺳِﻣﺎَﺧﻟا ِنُﻛَﺗ َﻻ َو ْوَأ ﺎًﻌِﻣَﺗْﺳُﻣ ْوَأ ﺎًﻣﱢﻠَﻌَﺗُﻣ ْوَأ
Artinya:
Dari Abu Bakrah ra. Dari Nabi saw, bersabda: “Jadikanlah dirimu orang alim atau orang yang menuntut ilmu atau orang yang selalu mendengar pelajaranagama, ataupun orang yang mencintai (tiga golongan yang tersebut), da janganlah engkau menjadi (dari) golongan yang kelima, yang dengan sebabnya engkau akan binasa”. (Al-Bazzar)
Dalam kegiatan ini tampak jelas bahwa “murid dipandang sebagai titik pusat terjadinya belajar, sedang guru berperan sebagai fasilitator dan motivator belajar murid, membantu dan memberikan kemudahan agar murid mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya sehingga terjadilah suatu interaksi aktif”.
“Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur- unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran” (Oemar Hamalik, 2006: 57).
Manusia terlibat dalam system pengajaran terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, atau berbagai media lainnya. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari
ruang kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya.
3. Pendidikan agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
“Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan. ( Kementrian Agama 2011 : 2 )
Menurut Depdiknas pendidikan agama Islam adalah:
Upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya: kitab suci Alqur’an dan Hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntutan untuk menghormati penganut agama dalam masyarakat hingga terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa.(Depdiknas, 2004 : 38)
“Dalam perkembangan selanjutnya, Pendidikan Agama Islam menjadi rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah umum”, (Kementrian Agama RI, 2003: 2) dengan tujuan
“untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa terhadap ajaran agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang bertakwa kepada Allah swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”. (Kementrian Agama RI, 2003 : 3)
Sebagaimana Firmab Allah Swt dalam Q.S.an Nahl (16 ) : 125 yang berbunyi:
Terjemahnya:
“ serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.sesungguhnya Tuhan-mu dialah lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Ayat lain juga mengatakan dalam Q.S Ali Imran ( 3 ) : 104 yang berbunyi :
Terjemahnya:
“ Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar merekalah orang-orang yang beruntung.”
Jadi Pendidikan Agama Islam adalah suatu mata pelajaran yang harus diajarkan di sekolah umum untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional bidang agama, khususnya agama Islam.
b. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam 1) Fungsi Pendidikan Agama Islam
“Fungsi kurikulum pendidikan agama Islam pada sekolah umum) adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa seta berakhlak mulia dan mampu menjaga kerukunan hubungan antar umat beragama”. (Abdul Rachman Shaleh, 2005 : 21)
Fungsi pendidikan agama Islam di sekolah umum adalah untuk mengajarkan, memperbaiki, mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai Islam yang telah diperoleh peserta didik melalui orang tuanya, serta untuk menyalurkan peserta didik yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut tumbuh dan berkembang secara maksimal sehingga bermanfaat bagi dirinya dan orang disekitarnya.
2) Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pegamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembng dalam hal keimanan, ketakwaan berbangsa dan bernegara serta dapat melanjutkan pada pendidikan yang lebih tinggi.
Tujuan seperti yang tersebut diatas dengan maksud dan tujuan menciptakan manusia di muka bumi yaitu mengabdi dan menyembah kepada
Allah Swt sebagaimana Firman-Nya dalam Q.S Adz-Zariyat (51) : 56 yang berbunyi:
Terjemahnya :
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepadaku.”
Pendidikan Agama Islam adalah mata pelajaran, bukan bidang studi.
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam terdapat di semua jenjang pendidikan jalur sekolah sejak dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi.
Perbedaan institusi berimplikasi pada perbedaan perumusan tujuan mata pelajaran agama Islam untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional.
Secara formal tujuan itu dirinci dan dikembangkan untuk yang paling rendah dicapai melalui pendidikan pendahuluan (pra-sekolah) yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran agama Islam untuk pendidikan anak usia dini (TK/PAUD), selanjutnya meningkat pada tujuan untuk sekolah permulaan (SD, Ibtidaiyah), meningkat lagi pada tujuan pembelajaran untuk sekolah lanjutan tingkat pertama dan menengah.
Jadi tujuan pendidikan agama Islam di sekolah berorientasi pada tiga dimesi yaitu dimensi iman, ilmu, dan amal. Dengan kata lain tujuan pendidikan Islam adalah membentuk peserta didik menjadi manusia beriman,
berilm, beramal dan berakhlatul karimah menuju tercapainya keseluruhan dunia akhirat.
4. Komponen pencapaian kualitas pembelajaran a) Pencapaian Tujuan Pembelajaran
“Tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional (Kompetensi Dasar) merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan dengan kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam satu kali pertemuan. Tujuan merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran, karena semua kegiatan dalam proses pembelajaran berorientasi tujuan yang hendak dicapai”. (Oemar Hamalik, 2008 : 79) Tujuan pembelajaran pada hakikatnya mengacu pada hasil pembelajaran yang di harapkan. Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sehingga upaya pembelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan. Tujuang umum pembelajaran mengacu pada hasil keseluruhan isi bidang studi yang diharapkan. Adapun tujuan khususnya mengacu pada konstruk tertentu (maisal: fakta, konsep ,prosedur) dari satu bidang studi PAI berupa konsep dalil, akidah dan keimanan yang menjadi landasan dalam mendiskripsikan strategi pembelajaran.
Oleh Karena itu, tujuan merupakan komponen utama dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang jelas dapat membantu guru dalam menentukan metode, media/alat, dan penilaian.
Perumusan tujuan dengan kata kerja operasional akan membantu guru dalam mengukur tercapai atau tidaknya tujuan tersebut, dan kata kerja operasional membantu guru dalam menyusun intrumen penilaian.
Tiga ranah tujuan pembelajaran merupakan hal yang harus menyatu dalam proses pembelajaran. Guru harus merumuskan tujuan pembelajaran mencakup kognitif, afektif dan psikomotirik. Jika salah satu ranah tersebut diabaikan, maka terjadi kepincangan baik dalam proses maupun dalam hasil pembelajaran.
b). Metode pembelajaran
Metode berasal dari dua perkataan yaitu meta yang artinya melalui dan hodos yang artinya jalan atau cara. Jadi metode artinya suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Adapun istilah metodologi berasal dari kata metoda dan logi. ”Logi berasal dari bahasa Yunani logos yang berarti akal atau ilmu. Jadi metodologi artinya ilmu tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai satu tujuan.
Abdul Majid mengatakan bahwa metodologi merupakan bagian dari perangkat disiplin keilmuan yang menjadi induknya. Hampir semua ilmu pengetahuan mempunyai metodologi tersendiri. Oleh karna itu, ilmu pendidikan sebagai salah satu disiplin ilmu juga memiliki metodologi, yaitu metodologi pendidikan. Jadi metodologi pendidikan merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang metode yang dipergunakan dalam pekerjaan mendidik.
Proses pembelajaran tidak terlepas dari metode. Metode apapun yang digunakan oleh seorang pendidik / guru dalam proses pembelajaran harus disesuaikan dengan keadaan peserta didiknya.
Dalam proses pembelajaran seorang guru tidak lepas dari metode itu sendiri. Metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Metode yang dapat dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar bermacam-macam. Oleh karna itu, penulis akan menyajikan beberapa macam metode dalam pembelajaran antara lain: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode pemecahan masalah, metode kissah, metode kerja sama dan metode karyawisata.
Pendapat- pendapat yang penulis kutip dari beberapa pakar tersebut membawa pada sebuah kesimpulan bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Makin baik metode yang digunakan makin efektif pula pencapaian tujuan atau keberhasilan pembelajaran.
c). Media pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan guru untuk menyalurkan pesan atau isi pelajaran, merangsang pikiran perasaan, perhatian, dan kemampuan peserta didik, sehingga peserta didik terdorong untuk belajar lebih baik. Media pembelajaran sebagai bagian dari metodologi pendidikan memiliki peran penting dalam membangkitkan motivasi dan minat peserta didik, membantu peserta didik meningkatkan pemahaman, mengarahkan perhatian kepada pelajaran, yang pada gilirannya menunjukkan angka prestasi peserta didik berada pada tataran maksimal.
“Di samping itu pula, sebagai sistem penyampai atau pengantar, maka dalam pembelajaran media memiliki fungsi sebagai mediator yaitu penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses pembelajaran dan isi pelajaran”. (Nana Sudjana dan Ahmad Riva’i, 2001 : 2)
Begitu urgennya media dalam keberlangsungan proses pembelajaran, maka guru sangat dituntut untuk memiliki keterampilan mengelola media pembelajaran agar pesan-pesan materi yang disampaikannya kepada peserta didik mudah dipahami dan lebih bertahan lama dalam benak mereka.
Semakin kreatif guru mengelola media pembelajaran, maka semakin mudah mentransfer materi pelajaran kepada peserta didik, dan semakin jelas tujuan yang ingin dicapai.
d). Materi pembelajaran
“Standar isi merupakan kurikulum yang berlaku (KTSP), dalam kurikulum yang demikian, tujuan yang diharapkan adalah dicapainya sejumlah kompetensi (standar kompetensi dan kompetensi dasar).
(Wina Sanjaya, 2008 : 60) Isi atau materi pembelajaran merupakan unsur kedua dalam proses pembelajaran.” (Wina Sanjaya, 2008 : 60)
Dengan demikian, tugas dan tanggung jawab guru adalah mengajar dan mengelola sumber belajar, sehingga materi atau pesan/isi dalam proses pembelajaran sampai kapada siswa. Sebagaimana yang dijelaskan dalam
Pada sisi lain, proses pembelajaran sering disebut dengan proses penyampaian materi pembelajaran. Hal ini dapat dibenarkan jika tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pembelajaran (subject centered teaching). Dalam kondisi seperti ini, penguasaan meteri oleh guru
mutlak diperlukan. Guru perlu memahami secara detail materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh siswa, sebab salah satu peran dan tugas guru adalah sebagai sumber belajar. Pada sisi lain, tugas dan fungsi guru pada saat ini menjadi lebih maksimal dengan pengelola sumber belajar. Hal ini karena materi pembelajaran dapat diperoleh oleh siswa dari berbagai sumber, baik media cetak, maupun media elektronik, seperti software pembelajaran, seperti VCD, internet, dan lain-lain.
Jelasnya bahwa, media pembelajaran merupakan perangkat yang sangat berpengaruh terhadap tercapai tidaknya tujuan pembelajaran serta dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik yang merupakan indikator pencapaian tujuan pembelajaran, sangat menuntut guru untuk memiliki kreativitas dan keprofesionalannya dalam memilih, menentukan, dan memanfaatkan media tersebut.
e). Penilaian
Penilaian tidak hanya berfungsi untuk melihat keberhasilan siswa, tetapi juga sebagai umpan balik bagi guru atas kinerjanya dalam melaksanakan proses pembelajaran. Melalui penilaian dapat dianalisis komponen proses pembelajaran lainnya, seperti tujuan, isi, motode, dan media.
5. Kriteria dan Indikator Keberhasilan Pembelajaran
Indikator merupakan penanda pencapaian keberhasilan pembelajaran yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan: “(1) tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD; (2) karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah; dan (3) potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah”. (Akhmad Sudrajat, 2009 : 23)
Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu:”(1) indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; dan (2) indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal sebagai indikoator soal”. (Akhmad Sudrajat, 2009 : 23)
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.
Keberhasilan pembelajaran, mengandung makna ketuntasan dalam belajar dan ketuntasan dalam proses pembelajaran. Artinya belajar tuntas adalah tercapainya kompetensi yang meliputi pengetahuan, ketrampilan, sikap, atau nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Fungsi ketuntasan belajar adalah memastikan semua peserta didik
menguasai kompetensi yang diharapkan dalam suatu materi ajar sebelum pindah kemateri ajar selanjutnya. Patokan ketuntasan belajar mengacu pada standard kompetensi dan kompetensi dasar serta indikator yang terdapat dalam kurikulum.
Sedangkan ketuntasan dalam pembelajaran berkaitan dengan standar pelaksanaannya yang melibatkan komponen pendidik dan peserta didik.
Dengan demikian pemahaman terhadap kriteria keberhasilan belajar, standard kompetensi dan kompetensi dasar serta indikator yang terdapat dalam kurikulum penting dipahami oleh Pengawas.
Kriteria keberhasilan adalah patokan ukuran tingkat pencapaian prestasi belajar yang mengacu pada kompetensi dasar dan standar kompetensi yang ditetapkan yang mencirikan penguasaan konsep atau ketrampilan yang dapat diamati dan diukur. Secara umum kriteria keberhasilan pembelajaran adalah:
a. Keberhasilan peserta did ik menyelesaikan serangkaian tes, baik tes formatif, tes sumatif, maupun tes ketrampilan yang mencapai tingkat keberhasilan rata-rata 60%;
b. Setiap keberhasilan tersebut dihubungkan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan oleh kurikulum, tingkat ketercapaian kompetensi ini ideal 75%; dan
c. Ketercapaian keterampilan vokasional atau praktik bergantung pada tingkat resiko dan tingkat kesulitan, ditetapkan idealnya sebesar 75%.
(Direktur Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK Depdiknas, 2008 : 8) Sedangkan indikator adalah acuan penilaian untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai kompetensi. Untuk mengumpulkan informasi apakah suatu indikator telah tampil pada peserta
didik, dilakukan penilaian sewaktu pembelajaran berlangsung atau sesudahnya.
Sebuah indikator dapat dijaring dengan beberapa soal/tugas. Selain itu, sebuah tugas dapat dirancang untuk menjaring informasi tentang ketercapaian beberapa indikator.
“Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0% - 100%. Kriteria ideal untuk masing-masing indikator lebih besar dari 75%. Namun sekolah dapat menetapkan kriteria atau tingkat pencapaian indikator, tetapi dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu satuan pendidikan dapat menetapkan kriteria ketuntasan minimal dibawah 75%.”
(Direktur Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK Depdiknas, 2008 : 8).
Penetapan kriteria ini harusnya juga disesuaikan dengan kondisi sekolah, seperti kemampuan peserta didik dan pendidik serta ketersediaan prasarana dan sarana serta kondisi lingkungan dari sekolah.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Peneitian
Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif yang akan mengkaji data secara mendalam, berbentuk penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik statistik untuk mengkaji secara mendalam mengenai objek yang diteliti. Pendekatan ini pula di tujukan untuk mengungkap fenomena yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian.
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di SD Inpres Barrang Lompo Kec.
Ujung Tanah dengan pokok pikiran sebagai berikut :
1. SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah adalah Cluster yang rerfesentatif dari berbagai jalur transportasi, sehingga memudahkan peneliti menjangkaunya.
2. SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah adalah sekolah dimana peneliti pernah menimba ilmu Alumni yang memungkinkan peneliti mudah beradaptasi dan mengenal karakter obyek analisis.
Sedangkan objek penelitian yaitu guru dan siswa sebagai responden dalam penelitian ini
30
C. Variabel Penelitian
“Variabel adalah bagian yang akan diteliti. Menurut Suharsimi Arikunto, variabel adalah penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian atau penelitian. Dengan demikian variabel merupakan bagian penting dari suatu penelitian, karena merupakan obyek penelitian atau menjadi titik perhatian penelitian”.( Suharsimi Arikunto, 2003 : 91)
Jenis variabel di brdakan menjadi dua jenis variabel bebas atau disebut juga variabel eksperimen atau variabel X, yaitu variabel yang diselidiki pengaruhnya dan variabel terikat, atau disebut juga variabel kontrol atau variabel Y, yaitu variabel yang diramalkan akan timbul dalam hubungan yang fungsional dengan (atau sebagai pengaruh dari) variabel bebas.
Berdasarkan pendapat di atas maka dalam penelitian ini ada dua variabel yang menjadi titik perhatian yaitu pengelolaan Kelas dan kualitas Pembelajaran PAI Sebagai variabel bebas adalah pengelolaan kelas variabel terikat dalam penelitian ini adalah kualitas pembelajaran PAI
D. Definisi Opersional Variabel
Untuk mengantisipasi Kesimpangsiuran dalam memaknai judul skripsi yang berjudul Pengaruh Pengelolaan Kelas terhadap Penciptaan Kualitas pembelajaran PAI siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah , maka terlebih dahulu penulis akan menguraikan variable penelitian ini dalam bentuk definisi opersional variable sebagai berikut:
1. Efektivitas Pengelolaan Kelas adalah usaha sadar pendidik yang terencana, terprogram, tersistimatis dan tegas dalam menjalankan dan
menciptakan proses pembelajaran dalam kelas yang efektif dan efisien.
2. Meningkatkan Kualitas Pembelajaran PAI adalah suasanan proses pembelajar yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik dalam kelas yang memotivasi siswa untuk belajar yang santai, bermakna, tegas, luges dan terarh, sehingga transfernisasi ilmu pengetahuan dapat trejadi secara proses yang kodusif
E. Populasi dan Sampel 1. Populasi
“Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa populasi adalah keseluruhan subyek penelitian”. (Suharsimi Arikunto, 2002 : 108).
Sedangkan menurut Sugiono “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang dikatakan oleh penulis untuk dipelajari dan ditaati kesimpulannya”. (Sugiyono, 1999 : 57-58)
Karena itu dalam teori penelitian membenarkan untuk menelitii secara keseluruhan apa yang menjadi pusat perhatian, agar memperoleh data yang diperlukan, dapat pula meneliti sebagian kelompok refresentatif dari jumlah kelompok yang menjadi perhatian. Hal yang pertama disebut populasi sedangkan yang kedua disebut sampel. Populasi adalah kelompok individu
tertentu yang memiliki satu atau lebih karasteristik umum yang menjadi pusat perhatian peneliti.
Definisi populasi sebagai berikut :
Populasi adalah sekumpulan penduduk yang dimaksudkan untuk diteliti atau diselidiki disebut populasi atau univerum. Populasi dibatasi sebagai jumlah penduduk yang paling sedikit mempunyai suatu sifat yang sama.
(Sutrisno Hadi, 2002 : 220)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah sumber data yang menjadi obyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru dan siswa ditambah kepala sekolah yang ada di SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah
Sebagaimana hasil sensus siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec.
Ujung Tanah (20 Oktober 2009), jumlah keseluruhan atau populasinya adalah 138 orang dengan rincian. Kepala sekolah 1 orang, guru 12 orang, dan siswa 125 orang. Untuk lebih jelas lihat table berikut:
Tabel I
Keadaan populasi penelitian
No Objek Jenis kelamin L Jenis kelamin P Jumlah
1. Kelas II 22 14 36
2. Kelas III 21 23 44
3. Kelas IV 33 12 45
4. Guru 5 8 13
_ Jumlah 81 57 138
Sumber Dokumentasi di SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar
2. Sampel
Sampel adalah sebagian objek atau wakil dari populasi yang akan diteliti.
Sampel adalah perwakilan atau wakil yang lebih kecil dan keseluruhan.
Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi. (Sutrisno Hadi, 2002 : 220)
Dalam menentukan jumlah sampel penulis berpedoman pada pendapat Suharsimi Arikunto dalam prosedur penelitian suatu pendekatan praktek yang memberikan pedoman sebagai berikut : apabila subyek kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. (Suharsimi Arikunto, 2002 : 109) Selanjutnya jika jumlah subyeknya besaratau lebih dari 100 responden/Populasi maka, dapat diambil 10–15 % atau 20–25 % atau lebih. (Suharsimi Arikunto, 2002 : 112)
Dalam menentukan sampel digunakan teknik Proforsional random sampling karena populasi yang akan diteliti sifatnya homogen maka dalam pengambilan sampel peneliti akan menggunakan penetapan 15 %. Populasi yang berjumlah 138 X 15% menghasilkan 25 orang yang akan diteliti.
Tabel II
Keadaan sampel penelitian.
No Objek Jenis Kelamin L Jenis Kelamin P Jumlah
1. Guru 1 _ 1
2. Siswa Kls II 4 4 8
3. Siswa Kls III 4 4 8
4. Siswa Kls IV 4 4 8
_ Jumlah 13 12 25
F. Instrumen Penelitian.
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakannya untuk mengumpulkan data lapangan.
1. Pedoman Observasi
Menurut Ridwan (2004 : 104) “observasi merupakan tehnik pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan”.
2. Angket
Menurut Suroyo Anwar (2009 : 168) mengemukakan bahwa, “angket merupakan sejumlah pernyataan atau pernyataan tertulis tentang data faktual atau opini yang berkaitan dengan diri responden, yang dianggap fakta atau kebenaran yang diketahui dan perlu dijawab oleh responden”.
3. Pedoman Wawancara/Interview
Menurut Sutisno Hadi (1989 : 192) memngemukakan bahwa “ wawancara merupakan sebagai suatu proses tanya jawab lisan, dalam
mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri suaranya, tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi yang langsung tentang beberapa jenis data sosial, baik yang terpendam maupun yang memanifes”.
4. Catatan Dokumentasi
Menurut Paul Otlet ( 1905 : 104) mengemukakan bahwa
“dokumentasi adalah kegiatan khusus berupa pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penemuan kembali dan penyebaran dokumen”.
G. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang akurat dalam penulisan ini, penulis menggunakan cara sebagai berikut :
1. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematik penomena-penomena yang diselidiki.
2. Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen.
3. Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal yaitu semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.
4. Angket adalah daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data/ keterangan tertentu dari responden.
H. Teknik Analisis Data
Hasil penelitian ini akan dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif yang akan menggambarkan data yang terkumpul dengan cara penggambaran melalui tabel-tabel sederhana dan dalam sistem penggambaran persen serta menggunakan rumus regeresi sederhana untuk mencari kebenaran hipotesis, lalu kemudian disimpulkan dengan cara deskriptif kualitatif Untuk analisis deskriptif kualitatif mengunakan tabel-tabel sederhana dengan menggunakan rumus persentase yakni=
% x100 N p f
Keterangan:
P = Persentase f = Jumlah Frekuensi
n = Jumlah Responden.( Anas Sudjono, 2000 : 76)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Sejarah singkat SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar pada tahun 1996 SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar didirikan berdasarkan swadaya masyarakat.
Pendirian SD Inpres Barrang Lompo secara menyeluruh dalam menceradasakan kehidupan bangsa dengan program wajib belajar 6 tahun.
Dalam perjalanannya SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar pernah mengalami gangguan dari pemilik tanah sampai sekolah tersebut ditutup dan ditanami pohon pisang.
Sehingga siswa-siswi SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar tidak bisa belajar dengan baik. Siswa-siswi SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar belajar berpindah- pindah dari kolom rumahdan di masjid
Pada Tahun 2003 permasalahan tersrebut berhsil diselesaikan setelah mendapat ganti rugi tanah sebesar Rp.
35.000.000 dengan luas tanah 1200 m2 sehingga kepemilikan tanah status “milik” yang di tandai dengan terbitnya sertifikat hak milik pemerintah Daerah. Selanjutnya sekolah tersebut mempunyai
38
kemajuan yang pesat sehingga dalam kondisi sekarang sedah mulai bagus karena dapat bantuan dari pemerintah daerah dan dari beberapa pihak.
Alhamdulillah hingga saat ini. SD Inpres Barrang Lompo Kec.
Ujung Tanah Kota Makassar semakin mengalami kemajuan dengan dibuktikannya bertambah banyaknya siswa, dan bangunan yang sudah cukup lumayan, adanya buku paket, mempunyai perpustakaan pusat tempat baca oleh siswa sehingga tedapat buku koleksi bacaan yang cukup mempunyai kegiatan ekstra kurikuler.
Letak Geografis SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar.
SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar. Dibangun di atas tanah yang luas seluruhnya kurang lebih 1200 m2, yang bertempat di pulau barrang lompo.
Sedangkan lokasi SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar.Sebelah utara dari kota Makassar, untuk menjangkau ke lokasi dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dengan memakai kandaran laut perahu kayu.
Melihat gambaran lokasi di atas, maka SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar. Letaknya sangat strategis sekali karna mudah dijangkau.
Table III
Keadaan Tenaga Pengajar (Guru) tetap
No Nama Jabatan Jenis Tugas Mengajara
1. H. Muhammad Yasin, S.Pd K. sekolah
2. Andi Muliadi, S.Pd Guru Bidang Studi
3. Kamriati, S.Pd Guru Kelas IV
4. Rosdiana B, S.Pd Guru Kelas II B
5. Henny B, S.Pd Guru Kelas III
6. Enal, S.Pd Guru Kelas IV A
7. Hj. Sumarni, S.Pd Guru Kelas II A
8. Farida, S.Pd Guru Kelas I
9. Jamal, S.Pd Guru Kelas IV B
10. Fatma, S.Pd Guru Kelas V
11. Lisna B, S.Pd.I Guru Bidang Studi
12. Hasriani, S.Pd Guru Bidang Studi
Sumber Data: Dokumentasi SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tana Kota Makassar 2014
2. Keadaan Siswa
Dalam table di bawah ini akan diuraikan jumlah siswa-siswi SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar, dan tabel keadaan murid berdasarkan dokumentasi yang diambil.
Tabel : IV
Keadaan siswa SD Inpres
Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar
No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1. I 25 23 48
2. II 26 23 49
3. III 30 19 49
4. IV 16 17 33
5. V 15 9 24
6. VI 18 14 32
Jumlah 130 105 235
Sumber Data: Dokumentasi SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar 2014
Dari data di atas menunjukkan bahwa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar, cukup besar dan sangat memerlukan perhatian yang lebih besar pula. Jumlah siswa yang begitu banyak dengan karakter yang berbeda-beda dengan latar belakang social yang beraneka ragam, semua itu sangat memerlukan kemampuan para pendidik didalamnya untuk dapat mengatasi segala maca problematika kependidikan yang dapat menghambat pencapaian tujuan pendidikan yang diharapkan proses belajar mengajar setiap preode tahun pelajaran.
3. Sarana dan prasarana
Untuk menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar dibutuhkan fasilitas-fasilitas yang memadai sehingga dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Adapun fasilitas-fasilitas yang di miliki oleh SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar adalah sebagai berikut.
Table : V
Keadaan sarana dan prasarana
No Jenis Keterangan
Jumlah Baik Buruk
1. Ruang Kepala Sekolah 1 - 1
2. Ruang Belajar Teori 8 - 8
3. Ruang Guru 1 - 1
4. Ruang Perpustakaan 1 - 1
5. Lemari 8 - 8
6. Meja Guru 8 - 8
7. Kursi Guru 8 - 8
8. Bangku Siswa 250 - 250
9. Papan Tulis 9 - 9
10. WC 1 - 1
Sumber Data : Dokumentasi SD Inpres Barrang Lompo Kec.
Ujujng Tanah Kota Makassar, 2014
Melihat table diatas maka SD Inp[res Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar mempiunyai sarana yang cukup lengkap dimana dengan alat lengkap sehingga siswa dapat kreatif praktek tentang pelajaran pendidikan Agama Islam, sedang perpustakaan sendiri memiliki buku bacaan yang cukup
B. Efektivitas Pengelolaan Kelas Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Inpres Barrang Lompo Kec. Ujung Tanah Kota Makassar
Efektivitas Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses interaksi edukatif dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk ,enciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses interaksiedukatif. Yang termasuk kedalam hal ini adalah misanya penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas anak didik, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Masalah pokok yang dihadapi guru, baik guru pemula maupun yang sudah pengalaman adalah pengelolaan kelas, karna pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang kompleks. Dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi