• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kusta Lau Simomo

BAB III KEBERADAAN RUMAH SAKIT KUSTA LAU SIMOMO

3.4 Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kusta Lau Simomo

Sebagai penunjang kelancaran suatu usaha maka diperlukan sarana dan prasarana yang baik. Sarana dan prasarana merupakan faktor penting dalam pencapaian hasil yang maksimal bagi rumah sakit. Demikianlah halnya dengan Rumah Sakit Kusta Lau Simomo telah memiliki sarana dan prasarana yang diperlukan.

Sesuai fungsinya dimana rumah sakit adalah sebagai tempat untuk merawat orang sakit, pelayanan kesehatan, maka harus tersedia sarana dan prasarana medis. Walaupun masih belum dapat untuk memenuhi standar pelayanan yang lengkap. Seperti yang dituturkan oleh Dr. T. M. Panjaitan, SKM dalam bukunya yang berjudul Standar Pelayanan Rumah Sakit bahwa standar pelayanan rumah sakit misalnya

farmasi, laboratorium, bank darah, radiologi, rehabilitas medis, pelayanan gizi, dan lain-lain.30

Rumah Sakit Kusta Lau Simomo belum memiliki semua kriteria seperti yang dituturkan oleh Dr. T. M. Panjaitan tersebut

Akan tetapi, kemajuan yang dialami oleh Rumah Sakit Kusta Lau Simomo terus meningkat dan juga melakukan renovasi bangunan serta penambahan bangunan untuk menunjang kelancaran pelayanan rumah sakit tersebut. Perkembangan kemajuan Rumah Sakit Kusta Lau Simomo sejak tahun 1983 dapat dilihat dari bartambahnya fasilitas rumah sakit seperti ruang inap dan juga perlengkapan rumah sakit.

Adapun fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Rumah Sakit Kusta Lau Simomo saat ini adalah:

A. Sarana

Sarana yang merupakan milik Rumah Sakit Kusta Lau Simomo dapat dilihat dari tabel.

30

Tabel 3.4.1

Pegawai Tetap Rumah Sakit Kusta Lau Simomo Berdasarkan Klasifikasi Pendidikan

No. Pendidikan Jumlah

1 Dokter Umum 1 2 SPK 4 3 SPAG 3 4 SMA K 1 5 SPPH 3 6 SAA 2 7 LCPK 4 8 STM 1 9 SMA 6 10 SKN 1 11 SMP 1 12 SD 2

Jumlah total 29 orang

Sumber: Staff Tata Usaha Rumah Sakit Kusta Lau Simomo tahun 1990

Tabel 3.4.2

Pegawai Tidak Tetap Rumah Sakit Kusta Lau Simomo Berdasarkan Klasifikasi Pendidikan

No. Pendidikan Jumlah

1 SPK 2 2 SMA 6 3 SMEA 1 4 SMP 1 5 SAA 1 6 SD 3 Jumlah 17 orang

Sumber: Staff Tata Usaha Rumah Sakit Kusta Lau Simomo tahun 1980-1990

Tabel 3.4.3

Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Kusta Lau Simomo Berdasarkan Pendidikan

No. Tenaga Medis Jumlah

1 Dokter Umum/ spesialis 2 2 Petugas Keperawatan/ SPK 4

Jumlah 6 orang

Sumber: Staff Tata Usaha Rumah Sakit Kusta Lau Simomo tahun 1980-1990

Dari ketiga tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah tenaga medis sangat kecil sekali bila dibandingkan dengan jumlah pasien penderita kusta pada tahun 1980-1990.

Pada saat itu pasien penderita kusta berkisar 318 orang. Walaupun jumlah penderita kusta mulai berkurang sejak tahun 1990. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4.4

Jumlah Penderita Kusta di Rumah Sakit Kusta Lau simomo

No. Pasien JUMLAH Jumlah Laki-laki Perempuan 1 Rawat inap 17 31 48 2 Rawat mondok 108 162 270 Total 125 193 318

Sumber: Medical Record (MR) Rumah Sakit Kusta Lau Simomo tahun 1980- 1990

Jumlah pasien rawat inap dan rawat mondok dalam tabel diatas termasuk didalamnya pasien kusta yang masih anak-anak. Jumlah pasien perempuan lebih banyak dibandingkan pasien laki-laki yakni perempuan sebanyak 193 orang dan laki- laki sebanyak 125 orang. Didalamnya terhitung pasien anak-anak berjumlah 112 orang. Karena kurangnya tenaga medis, maka pihak rumah sakit melatih para pasien kusta yang telah sembuh untuk membantu pelayanan perawatan bagi pasien yang membutuhkan perawatan. Sehingga pelayanan bagi pasien yang sakit tidak tertunda dan dapat dengan cepat diberikan pertolongan. Bagi mereka yang sudah dilatih sebagai perawat dengan suka rela membantu pasien yang sakit. Mereka tidak meminta upah karena mereka merasa bersyukur dapat membantu merawat pasien yang sakit.

1. Kesain Pengarapen I (Ruang Pengharapan I)

Dalam ruangan ini ditempatkan pasien-pasien yang masih memiliki sedikit penyakit pada dirinya.

2. Kesain Pengarapen II (Ruang Pengharapan II)

Ruangan ini menempatkan para pasien yang masih memiliki penyakit pada dirinya.

3. Kesain Pengarapen III (Ruang Pengharapan III)

Pada ruangan ini ditempatkan pasien yang dianggap telah mendekati keadaan yang sehat.

4. Selain ruang-ruang yang tersebut diatas terdapat pula ruangan lain yang disebut tempat “Lau Simomo yang senang”.

Ruangan ini merupakan tempat penderita kusta yang masih parah penyakitnya.

Disebut diatas Ruangan Pengharapan karena pasiennya hampir sehat secara keseluruhan.

Tabel 3.4.5

Fasilitas-falisitas yang ada di Rumah Sakit Kusta Lau Simomo

NO. NAMA JUMLAH

1 Ruang rawat inap dengan kapasitas 66 buah tempat tidur 3 ruang

2 Ruang amputasi 1

3 Ruang rongent 1

4 Gedung farmasi/apotik 1

5 Laboratorium 1

7 Ruang tunggu 1

8 Gedung administrasi 5

9 Gedung fisioterapi 1

10 Ruang operasi/bedah kusta 3

11 Gedung olupasi terapi 1

12 Dapur masak 1

13 Ruang Dokter 1

14 Kamar mayat 1

15 Ruang beras 1

16 Kantor zaal 1

17 Ruang rapat gizi 1

18 Rehabilitas 1 19 Zaal perawat 1 20 Administrasi farmasi 1 21 Reaksi zaal 1 22 Ruang generator 1 23 Rumah dinas 12

24 Rumah pasien mondok 45

JUMLAH 87

Sumber: Staff Tata Usaha Rumah Sakit Kusta Lau Simomo tahun 1980-1990

Fasilitas yang disediakan oleh pihak rumah sakit ini dinilai masih kurang. Masih banyak sekali yang harus ditambahkan. Misalnya saja penyediaan mobil ambulance agar dapat digunakan sewaktu-waktu bila diperlukan. Rumah sakit ini

hanya memiliki satu unit ambulance. Selain itu, penyediaan air bersih masih belum ada dari berdirinya sampai dengan tahun 1990.

3.4.1 Struktur Organisasi Rumah Sakit

Struktur organisasi Rumah Sakit Kusta Lau Simomo ini disesuaikan dengan Keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Sumatera Utara Nomor 441-117/k/ Tahun 1982, terdapat didalamnya bagian-bagian yaitu:

- Kepala UPT

- Sub Bagian Tata Usaha - Seksi Perawatan - Seksi Pengobatan - Seksi Rehabilitas

Masing-masing bagian ini mempunyai tugas-tugas yang harus dijalankan adalah sebagai berikut:

A. Kepala UPT Rumah Sakit Kusta Lau Simomo bertugas untuk membantu Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara dalam melaksanakan pelayanan kesehatan, terutama pelayanan penderita penyakit kusta

B. Sub bagian tata usaha mempunyai tugas untuk menyelenggarakan: a. Urusan tata usaha termasuk pemegang keuangan,

administrasi kepegawaian dan rumah tangga rumah sakit.

b. Menghimpun bahan/data dari semua seksi lainnya untuk menyusun program dan laporan Rumah Sakit Kusta Lau Simomo.

c. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala UPT, sesuai dengan bidang tugasnya.

d. Dan lain-lain.

C. Seksi perawatan memiliki tugas untuk:

a. Melaksanakan perawatan kepada penderita kusta dalam tahap pemulihan kesehatan.

b. Membuat laporan perkembangan pasien. D. Seksi pengobatan mempunyai tugas:

a. Membuat laporan yang teratur sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasien.

b. Membuat laporan kalau obat-obatan yang dibutuhkan habis.

E. Seksi rehabilitas mempunyai tugas: a. Rehabilitasi medis yaitu:

- fisioterapi seperti oles minyak.

- orthosa protesa seperti membuat kaki palsu, tongkat, dan lain-lain.

b. Rehabilitasi Non-medis yang meliputi: - pelayanan rehabilitas mental.

- pelayanan rehabilitas karya. - pelayanan rehabilitas sosial.

3.4.2 Kepemimpinan Rumah Sakit

Pimpinan rumah sakit kusta ini awalnya bersifat disfungsional yakni pimpinan tertinggi rumah sakit merangkap sebagai dokter yang langsung menangani

pasien. Hal ini berlaku sampai tahun 1958. Setelah Rumah Sakit Kusta Lau Simomo ini dibawah naungan Dinas Kesehatan Daerah Tingkat I Sumatera Utara, maka tugas pimpinan rumah sakit tidak lagi merangkap sebagai tenaga medis. Jadi, tugas masing- masing lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Nama-nama pimpinan Rumah Sakit Kusta Lau Simomo dari awal berdirinya sampai saat ini yaitu:

1. Pendeta E. J. Van den Berg yang memimpin mulai dari tahun 1906 sampai tahun 1912. Beliau merupakan pendiri Rumah Sakit Kusta Lau Simomo. Ia juga membangun lima (5) unit perkampungan penderita kusta dan satu (1) perkampungan khusus yang beragama Islam.

2. Pendeta J. P. Talens yang memimpin mulai dari tahun 1912 sampai tahun 1915. Pada masa kepemimpinan beliau dibangun sebuah rumah sakit pembantu di Kabanjahe, khusus melayani penderita kusta. Pada masa itu telah ada seorang perawat yang melayani penderita kusta bernama Zr. F. Smith.

3. Pendeta L. Bodaan yang memimpin mulai dari tahun 1915 sampai tahun 1918. Pada masa kepemimpinan beliau dibangun ruang menerima tamu, penginapan tamu serta jambur untuk pertemuan penduduk.

4. Pendeta H. G. Van Elen yang memimpin mulai dari tahun 1918 sampai tahun1930. Pada masa kepemimpinan beliau ada dibangun dua (2) perkampungan sehingga menjadi tujuh (7) perkampungan yaitu:

c. Kampung 1 d. Kampung 2 e. Kampung 3 f. Kampung Pasar g. Kampung Mbelang

h. Kampung Kuburan i. Kampung Lepar (Islam)

Kampung Lepar tersebut khusus untuk penderita kusta yang beragama Islam. Selain pembangunan kedua kampung tersebut, beliau juga membangunan sebuah gereja tahun 1923 yang berada dibelakang bangunan rumah sakit.

5. Pendeta H. Vuurmans yang memimpin mulai dari tahun 1930 sampai tahun 1934. Beliau membangun sebuah ruangan rawat inap dan ruangan operasi, apotek yang merangkap sebagai laboratorium, ruang rontgen dan ruang amputasi. Pelayanan medis didatangkan dari Rumah Sakit Umum Kabanjahe, sedangkan tenaga keperawatan dari tenaga-tenaga pesuruh yang telah dilatih.

6. Pendeta J. H. Neuman yang memimpin mulai dari tahun 1934 sampai tahun 1937. Pemukiman penderita kusta telah nerubah menjadi rumah sakit kusta setelah selesainya ruang perawatan.

7. Pendeta L. Jansen Schoonhoven yang memimpin mulai dari tahun 1937 sampai tahun 1942. Beliau melatih penderita kusta dalam seni tarik suara, teater, olahraga sepak bola. Beliau juga membangun lapangan bola di desa Lau Simomo.

8. Njeno Sinuhaji yang memimpin mulai dari tahun 1942 sampai tahun 1947. Tidak banyak hal yang berkembang pada rumah sakit.

9. Ngalkal Brahmana yang memimpin mulai dari tahun 1947 sampai tahun 1948. Pada masa beliau memimpim rumah sakit tidak banyak mengalami perkembangan.

10. Pendeta Hengky Neumann yang memimpin mulai dari tahun 1948 sampai tahun 1958. Beliau membangun gedung induk, poliklinik, laboratorium, ruang tunggu, serta apotek. Ia juga membangun rumah-rumah kecil model rumah adat Karo

untuk tempat tinggal perderita kusta yang mondok.31

11. R. D. Sebayang yang memimpin mulai dari tahun 1958 sampai tahun 1964. Status Rumah Sakit Kusta Lau Simomo menjadi tanggung jawab Perintahan Daerah Kabupaten Karo. Kemudian diserahkan kepada Pemerintahan Tingkat I Provinsi Sumatera Utara.

Hengky Neumann merupakan anak dari Pendeta J. H. Neumann.

12. Dr. Go Sek Tiat yang memimpin mulai dari tahun 1964 sampai tahun 1966. Tidak banyak perubahan yang berarti pada rumah sakit.

13. Dr. Kaku Tarigan yang memimpin mulai dari tahun 1966 sampai tahun 1979. Dalam masa 13 tahun kepemimpinan beliau tidak menonjol kegiatan pelayanan maupun pengembangan rumah sakit bahkan terjadi demonstrasi pasien ke Dinas Kesehatan Tingkat I Provinsi Sumatera Utara karena ketidakpuasan atas pengelolaan rumah sakit yaitu tahun 1975 sampai 1976. Mereka menuntut hak tinggal anak-anak mereka sampai umur 17 tahun dengan tambahan jatah beras.

14. Dr. D. H. Munthe yang memimpin mulai dari tahun 1979 sampai tahun 1985. Penambahan gedung kantor meliputi ruang kerja kepala rumah sakit, keuangan, kantor kepala tata usaha, gudang dan garasi.

15. Dr. Selamat Sebayang yang memimpin mulai dari tahun 1985 sampai tahun 1990.

Dibangun sarana penunjang program rehabilitasi yaitu gedung fisioterapi, ruang operasi dan gedung ocupasi terapi.

16. Dr. Raihana yang memimpin mulai dari tahun 1985 sampai tahun 1992.

17. Dr. Sundari yang memimpin mulai dari tahun 1992 sampai tahun 1997.

31

18. Dr.Selamat Sebayang yang memimpin mulai dari tahun 1997 sampai tahun 1999.

19. Dr. Jalinson Saragih yang memimpin mulai dari tahun 1999 sampai tahun 2001.

20. Dr. Walman Simanjuntak yang memimpin mulai dari tahun 2001 sampai tahun 2004.

21. Dr. Budi Napitupulu yang memimpin mulai dari tahun 2004 sampai sekarang.32

3.4.3 Hambatan yang dihadapi rumah sakit

Dalam melayani pasiennya, Rumah Sakit Kusta Lau Simomo menghadapi berbagai kendala yang menyebabkan pelayanan rumah sakit ini kurang lancar. Kendala ini tidak hanya dari pihak rumah sakit, tetapi juga dari dalam diri pasien itu sendiri. Dari pihsk rumah sakit kendala-kendala itu masih ada dari sejak berdirinya Rumah Sakit Kusta Lau Simomo ada beberapa faktor antara lain:

a. Dari pihak rumah sakit - Dana

Kurangnya dana yang tersedia sangat mempengaruhi perkembangan rumah sakit itu karena untuk menjalankan suatu usaha, dana merupakan bagian yang sangat penting. Dengan dana yang memadai maka pelayanan yang diberikan akan lebih baik. - Sumber daya manusia (SDM)

Tenaga medis yang kurang menyebabkan penanganan terhadap pasien dapat terhambat.33

32

Mohtar Sinuhaji, 100 Tahun Jubelium Rumah Sakit Kusta Lau Simomo: tanpa penerbit, 2006.

Perbandingan jumlah pasien dan tenaga

33

medis tidak seimbang. Banyak tenaga medis yang tidak bersedia ditempatkan di desa yang terpencil. Pada umumnya tenaga medis dan dokter mau bekerja kalau ada dana khusus yang disebut dana “perdiem”. Biasanya dana ini muncul apabila ada sumbangan dari pihak luar. Kalau hanya mengandalkan dana dari pemerintah saja maka biasanya mereka hanya sekedar mempertahankan status mereka sebagai pegawai saja.34

b. Dari Pasien

Dari dalam diri pasien itu sendiri biasanya karena kurangnya kemauan untuk sembuh. Tidak adanya yang memberi motivasi menyebabkan pasien tidak bersemangat untuk berobat sehingga penyakitnya tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Kebanyakan pasien tersebut hanya merasa bahwa tidak ada gunanya untuk sembuh dan ada juga beberapa dari mereka yang pergi meninggalkan Desa Lau Simomo untuk jangka waktu yang lama. Kemudian mereka kembali lagi karena merasa tidak nyaman berada di daerah lain. Biasanya mereka ini pergi ke kota dan hidup sebagai pengemis pada persimpangan jalan dengan mengharapkan belas kasihan orang lain.35 Hal ini menyebabkan pihak rumah sakit sulit untuk mengobati dan memberantas penyakit kusta yang mereka derita.

34

Boedhi Hartono, opcit., hal. 195.

35

Dokumen terkait