• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sesudah Berdirinya Rumah Sakit Kusta Lau Simomo

BAB III KEBERADAAN RUMAH SAKIT KUSTA LAU SIMOMO

3.2 Sesudah Berdirinya Rumah Sakit Kusta Lau Simomo

Berdirinya Rumah Sakit Kusta Lau Simomo tidak terlepas dari besarnya peranan orang Belanda melalui Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG), mereka dengan cara pertamanya mengirimkan penginjil ke Tanah Tinggi Karo. Penginjil yang bernama Van den Berg mendirikan rumah sakit kusta itu pada tahun 1906.

Pada awalnya Rumah Sakit Kusta Lau Simomo bersifat leprosarium yaitu usaha pengobatan dan penampungan para penderita kusta. Istilah rumah sakit belum cocok untuk menggambarkan penampungan kusta tersebut pada waktu itu.

Karena sarana dan prasarana perlengkapan kesehatan yang belum memadai sehingga pelayanan kepada penderita kusta sangat lambat. Keterbatasan dana dari

26

Batara Sangti, (1997:143). Western Berg pada tahun 1888 diangkat sebagai “Controleur voor de Batacshe aangelenheden”, yang berkedudukan di Medan. Tahun 1904, Western Berg diangkat menjadi Assisten Resident di Saribudolok. Pada tahun 1908 diangkat menjadi Resident di Tapanuli.

NZG menjadi salah satu penyebab lambatnya pelayanan kusta. Untuk tempat tinggal para penderita kusta dibangun pondok-pondok kecil dari bambu dan ilalang. Untuk mengurangi udara dingin masuk ke dalam pondok digunakan lumpur untuk melapisi pondok tersebut. Awal adanya pemukiman orang kusta itu tempat tinggal mereka sederhana sekali.

Sebelumnya memang sudah ada poliklinik untuk pengobatan para penderita kusta. Tetapi tempatnya sangat jauh dari desa Lau Simomo dan mereka harus berjalan jauh dari desa Lau Simomo ke Kabanjahe karena poliklinik hanya ada di sana. Poliklinik ini menjadi cikal bakal pembangunan Rumah Sakit Zending NZG di Kabanjahe. Rumah sakit tersebut sekarang dikenal dengan nama Rumah Sakit Umum Kabanjahe. Seharusnya poliklinik ini dibangun di desa Lau Simomo, namun karena alat transportasi masih sulit dijangkau oleh dokter perkebunan Deli Mij, maka diputuskan dibangun di Kabanjahe.

Ruang inap di penampungan kusta terbuat dari tanah yang biasa disebut dengan ‘rumah gulbak’. Dalam bahasa Karo gulbak artinya tanah. Dan beberapa tahun kemudian perawatan dan pengobatan penderita kusta dipindahkan ke desa Lau Simomo.

Pada masa pelayanan Pendeta L. Bodaan tahun 1915, NZG mengirimkan tenaga perawat dari Belanda yang ditugaskan di rumah sakit pembantu di Kabanjahe. Setelah rumah sakit pembantu tersebut ditutup, kemudian ia ditugaskan di Lau Simomo. Sejak saat itu, pencegahan infeksi kusta mulai dilakukan dengan cara mencuci tangan dan kaki para penderita kusta dengan obat khusus.

Tahun 1930 Pendeta H. Vuurmans menjabat sebagai pimpinan rumah sakit ini. Saat itu, keadaan rumah sakit mengalami kemajuan. Mulailah dibangun ruang rawat inap, apotek yang merangkap sebagai ruang laboratorium, ruang rontgen, serta

ruang amputasi. Pelayanan tenaga medis yakni para dokter didatangkan dari Rumah Sakit Umum (RSU) Kabanjahe, sedangkan untuk tenaga perawat dipakai pasien kusta yang sudah sembuh. Mereka terlebih dahulu diajari dan dilatih cara-cara untuk merawat pasien. Kepemimpinan Vuurmans berakhir tahun 1934.

Vuurman digantikan oleh Pendeta J. H. Neumann. Pada masa Pendeta Neumann Rumah Sakit Kusta Lau Simomo mengalami kemajuan pesat. Poliklinik ini telah berfungsi selayaknya sebagai rumah sakit yang layak untuk melayani penderita kusta.

Namun keadaan ini tidak berlangsung lama. Pendudukan Jepang (1942) di Indonesia turut mempengaruhi aktivitas Rumah Sakit Kusta Lau Simomo. Kegiatan rumah sakit sangat terganggu dan tidak dapat dioperasikan dengan baik. Tentara Jepang merampas barang-barang rumah sakit dan juga obat-obatan yang tersedia. Pendeta Jansen Schoonhoven, pimpinan Rumah Sakit Kusta Lau Simomo pada saat itu, ditangkap oleh serdadu Jepang.

Setelah pendudukan Jepang berakhir, pengelolaan rumah sakit diserahkan kembali ke tangan Belanda. Pendeta J. H. Neumann kembali menjadi pimpinan rumah sakit sampai akhirnya rumah sakit kusta ini dipegang (diserahkan) pengelolaannya ke pemerintah Indonesia.

Dari keterangan yang penulis dapatkan bahwa pergantian pengelola Rumah Sakit Kusta Lau Simomo dialihkan sesuai dengan pergantian pemerintahan Indonesia. Adapun pergantian ini dapat dilihat rinciannya sebagai berikut:

a. tahun 1906-1942 dikelola oleh Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG)

b. tahun 1945 diambil-alih oleh pemerintah Republik Indonesia setelah pendudukan Jepang berakhir di Indonesia.

c. Tahun 1948 pemerintah Belada kembali mengambil-alih rumah sakit d. Tahun 1950 diambil-alih oleh Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) e. Tahun 1959 pemerintah Daerah Tingkat II (DATI II) Karo mengambil-

alih operasional Rumah Sakit Kusta Lau Simomo.

f. Kemudian tahun 1960, kepengurusan Rumah Sakit Kusta Lau Simomo diserahkan kepada pemerintah Tingkat I Sumatera Utara karena ketidakmampuan dana dari Tingkat Kabupaten. Rumah Sakit Kusta Lau Simomo tersebut berada dibawah naungan Dinas Kesehatan Tingkat I Sumatera Utara.

Proses pergantian kepengurusan Rumah Sakit Kusta Lau Simomo dilakukan secara bertahap. Namun pegawai-pegawai yang bertugas di rumah sakit ini masih sama seperti sebelumnya. Walaupun pengelolaan rumah sakit sudah diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I. Jadi dana operasional dan gaji pegawai rumah sakit berasal dari pemerintah Tingkat I Sumatera Utara. Pelayanan rumah sakit semakin baik dari hari ke hari. Baik dari segi sarana maupun prasarana yang disediakan. Ketika Dr D. H. Munthe menjabat sebagai kepala rumah sakit, Rumah Sakit Kusta Lau Simomo tersebut telah memiliki fasilitas yang baik dan memadai.

Pada tahun 1982, Rumah Sakit Kusta Lau Simomo berubah menjadi Unit Pelayanan Tekhnis (UPT) sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Sumatera Utara Nomor 441-117/k/. Tahun 1982 juga terjadi pembentukan susunan organisasi dan tata kerja unit pelayanan teknis Dinas Kesehatan Daerah Tingkat I Sumatera Utara.

Rumah Sakit Kusta Lau Simomo ini merupakan rumah sakit kelas E yaitu rumah sakit khusus (special hospital) yang melayani penyakit kusta saja atau

menyelenggarakan hanya satu macam pelayanan kedokteran saja.27 Sama halnya dengan rumah sakit paru yang hanya menangani masalah paru, rumah sakit jiwa yang melayani masalah psikologis.

Dokumen terkait