4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.6. Sarana dan Prasarana Wilayah
Desa Dabong merupakan salah satu desa terpencil yang berada di daerah pesisir Kabupaten Kubu Raya dan sulit/tidak dapat diakses melalui jalan darat. Sarana transportasi yang tersedia satu-satunya adalah melalui air (angkutan
dengan kapal/motor kayu atau speed boat). Jarak tempuh dari Desa Dabong ke
pelabuhan Rasau Jaya (tempat transit ke ibukota Kabupaten/Provinsi) adalah 5 - 7 jam perjalanan dan untuk ke ibukota kecamatan Kubu adalah 1 - 1.5 jam perjalanan dengan menggunakan kapal penumpang/kapal motor kayu. Jika
menggunakan speed boat dapat ditempuh hanya dalam waktu 2 - 3 jam untuk ke
pelabuhan Rasau Jaya dan 20 menit untuk ibukota kecamatan Kubu. Sarana darmaga di Kawasan Dabong terletak di pusat Desa Dabong (Dusun Mekar Jaya) yaitu di pinggir Sungai Sembuluk bagian muara.
Sarana transportasi air yang dimanfaatkan oleh masyarakat secara umum yang melalui kawasan studi sudah tersedia (memiliki trayek tetap) dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Route trayek transportasi umum di kawasan studi.
No Route Trayek Kapasitas
(GT) Trip Operasional
Kapal Motor Air
1. Rasau Jaya-Batu Ampar 15 PP
2. Rasau Jaya-Paket 20 1 kali/hari
3. Rasau Jaya-Padang Tikar* 20 1 kali/hari
59
Tabel 14 (lanjutan).
No Route Trayek Kapasitas
(GT) Trip Operasional
5. Rasau Jaya-Teluk Batang 10 1 kali/hari
6. Rasau Jaya-Sei Nibung (Sepuk)* 10 1 kali/hari
7. Pontianak-Dusun (P.Maya) 20 1 kali/hari
8. Pontianak-Ketapang 40 1 kali/hari
9. Batu Ampar-Padang Tikar 10 PP
Kapal Penyebrangan (Ferry-ASDP)
1. Rasau Jaya-Teluk Batang 200-125 1 kali/hari
Speed Boat
1. Rasau Jaya-Batu Ampar* 0.8-2 PP
2. Rasau Jaya-Teluk Batang 2 1 kali/hari
3. Rasau Jaya-Teluk Melano 2 1 kali/hari
Sumber : Hasil survey, 2009; * Sarana transportasi ke Desa Dabong.
Selain yang transportasi reguler seperti Tabel 14, untuk mobilisasi barang dan jasa dapat digunakan kendaraan air sewa/carteran yang tersedia di pangkalan
speed boat yang ada di Rasau Jaya. Untuk sarana jalan darat di Desa Dabong masih berupa jalan kampung yang masih belum dikeraskan/diaspal dengan panjang 21 km.
b. Sarana air bersih
Seperti kawasan pesisir lainnya di Provinsi Kalimantan, pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penduduk kawasan Dabong saat ini masih bersumber pada air hujan dan air tanah/sumur. Air hujan pada musim penghujan ditampung dengan menggunakan bak/tong semen dan fiber glass. Air hujan digunakan untuk keperluan air bersih seperti untuk minum dan memasak.
Air sumur galian digunakan masyarakat Desa Dabong untuk keperluan mandi, mencuci dan kakus (MCK). Sumur galian yang digunakan untuk MCK umumnya memiliki air berwarna kekuningan yang menunjukkan banyak mengandung zat besi. Kedalaman sumur sebagai sumber air bersih berkisar antara 1 – 2 meter. Hal ini dikarenakan jika kedalaman air lebih dari 2 meter maka dikhawatirkan sumber airnya akan asin/payau. Pada musim kemarau sumur-sumur tersebut terkadang terintrusi air laut. Di Desa Dabong belum memiliki instalasi air bersih dari PDAM, sehingga pada musim kemarau pada umumnya masyarakat mengalami kesulitan dalam pengadaan air bersih.
c. Sarana Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang ada di Desa Dabong juga masih sangat terbatas. Pada tahun 2009, sarana kesehatan dan tenaga medis yang dimiliki desa Dabong hanya berupa Puskesmas Pembantu, Polindes (kosong), mantri dan Dukun Bayi Terlatih. Fasilitas dan tenaga kesehatan di Kawasan Studi selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15.Banyaknya sarana dan tenaga kesehatan di Desa Dabong
No Sarana kesehatan Satuan Jumlah
1 Puskesmas Unit -
2 Puskesmas Pembantu Unit 1
3 Polindes Unit 1
4 Dokter Orang -
5 Bidan Orang -
6 Mantri Orang 1
7 Dukun Bayi Terlatih Orang 1
8 Puskesmas Keliling (air) Unit -
Sumber: Hasil survey Tahun 2009
d. Sarana listrik
Hingga saat ini pelayanan energi listrik dari PLN belum menjangkau Desa Dabong. Desa Dabong merupkan satu-satunya desa di wilayah administrasi kecamatan Kubu (dari 19 desa yang ada) yang belum mendapat pelayanan energi listrik dari PLN. Selama ini warga menggunakan mesin genset untuk memenuhi kebutuhan listriknya.
e. Sarana telekomunikasi
Sarana komunikasi yang umum di Desa Dabong berupa telepon genggam (hand phone) atau telepon selular GSM. Di wilayah ini hanya dapat menggunakan jasa operator seluler GSM dari 2 perusahaan yaitu Indosat dan Telkomsel. Sinyal telepon dari operator Telkomsel agak sulit, hal ini di kerenakan menara pemancarnya berada di Kubu. Sedangkan sinyal dari operator Indosat lebih mudah didapatkan karena di Desa Dabong ini sudah ada menara pemancar dari Indosat.
61
4.2. Luas Ekosistem Mangrove, Tambak dan Kawasan Lindung Mangrove
Berdasarkan hasil pengukuran dan intepretasi luas hutan mangrove yang dilakukan dengan menggunakan citra Landsat 7 ETM+ tahun 1991, 2002 dan 2007 dengan kombinasi warna RGB 542 diperoleh riwayat luas hutan mangrove dan tambak di Desa Dabong. Luas kawasan lindung mangrove di Desa Dabong diperoleh dari peta thematik SK MenHut No. 259/kpts-II/2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan di Wilayah Kalimantan Barat Seluas 9.178.760 hektar. Luas hutan mangrove, tambak dan kawasan lindung mangrove di Desa Dabong dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Luas hutan mangrove, tambak dan kawasan lindung mangrove di Desa Dabong
No Tutupan lahan
Luas (ha) Penurunan
luas (ha/thn) Pertambahan luas (ha/thn) 1991 2002 2007 2009 1 Hutan Mangrove 2849.01 2432.34 2346.24 - 31.42 - 2 Tambak - 328.52 522.08 564.35* - 32.63 3 Kawasan Lindung Mangrove - 4895.50** 4895.50** 4895.50** - -
Sumber : Pengolahan Data Primer Citra Landsat ETM+7 tahun 1991, 2002 dan 2007 (2009). NB : *) Hasil survey tahun 2009
**) Peta Kawasan Hutan SK MenHut No. 259/kpts-II/2000
Luas hutan mangrove di Desa Dabong berdasarkan hasil citra Landsat 7 ETM+ tahun 1991 adalah 2.849.01 ha, berdasarkan hasil citra Landsat 7 ETM+ tahun 2002 adalah 2.432.34 ha, sedangkan berdasarkan citra Landsat 7 ETM+ 2007 adalah 2.346.24 ha. Dari luasan tersebut, berarti dalam kurun waktu 16 tahun terjadi penurunan luasan 502.77 ha (17.65%) atau 31.42 ha/tahun (1.10 % per tahun). Hal ini menunjukan tingkat kerusakan mangrove di Desa Dabong sangat besar. Dari data ini terlihat luas mangrove yang hilang dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2002-2007) sebesar 86.10 ha atau 17.22 ha/thn lebih rendah dari kurun waktu sebelas tahun sebelumnya (1991-2002) yaitu terjadi penurunan luas sebesar 416.67 ha atau 37.88 ha/thn. Tingginya penurunan luas ekosistem mangrove pada tahun 1991 sampai 2007 ini kumungkinan besar disebabkan oleh konversi wilayah hutan mangrove menjadi tambak oleh masyarakat dan juga penebangan liar.
Luas tambak di Desa Dabong berdasarkan hasil citra Landsat 7 ETM+ tahun 1991 adalah 0 ha (tidak ada lahan tambak), berdasarkan hasil citra Landsat 7 ETM+ tahun 2002 adalah 328.52 ha, sedangkan berdasarkan citra Landsat 7 ETM+ 2007 adalah 522.08 ha. Dari luasan tersebut, berarti dalam kurun waktu 16 tahun terjadi petambahan luasan tambak sebesar 522.08 ha atau 32.63 ha/tahun. Hal ini menunjukan tingkat pertumbuhan luas tambak di Desa Dabong sangat besar. Dari data ini terlihat luas tambak dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2002-2007) sebesar 193.57 ha atau 38.61 ha/thn lebih tinggi dari kurun waktu sebelas tahun sebelumnya (1991-2002) yaitu terjadi penambahan luas sebesar 328.52 ha atau 29.87 ha/thn. Peta luasan mangrove dan tambak pada tahun 1991; 2002 dan 2007 dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Peta sebaran mangrove dan tambak pada tahun 1991, 2002 dan 2007. Berdasarkan citra landsat 7 TM+ tahun 1991, luas ekosistem mangrove di
63
mangrove menjadi tambak dan penebangan kayu liar menyebabkan terjadinya penurunan luas mangrove mencapai 502.77 ha dalam kurun waktu 16 (enam belas) tahun, berarti luas mangrove yang tersisa sekarang adalah 2.346.24 ha, sehingga dapat dikatakan bahwa ekosistem mangrove di Desa Dabong pada saat ini mengalami kerusakan sebesar 17.65%. Hal ini sesuai dengan pendapat Bengen (2002), bahwa penyebab degradasi mangrove diantaranya adalah akibat dari pertumbuhan penduduk yang tinggi dan pesatnya kegiatan pembangunan di wilayah pesisir untuk berbagai peruntukan (pemukiman, perikanan, pelabuhan dan lain-lain), tekanan ekologis pada ekosistem pesisir, khususnya ekosistem hutan mangrove semakin meningkat.
Dari data luas mangrove yang ada sekarang 2.346.24 ha (pada tahun 2007) dan dengan penurunan luas 31.42 ha/tahun, maka sangat mengancam kelestarian ekosistem mangrove yang tersisa. Jika penurunan luas mangrove ini dibiarkan tanpa adanya upaya pengelolaan, maka dapat dipastikan dalam kurun waktu 74.67 tahun ekosistem mangrove yang tersisa akan habis. Untuk itu diperlukan suatu upaya pengelolaan agar ekosistem mangrove yang tersisa dapat dipulihkan dan dilestarikan. Upaya pengelolaan yang dilakukan pemerintah selama ini adalah dengan penetapan kawasan hutan lindung mangrove di daerah ini. Akan tetapi penetapan kawasan lindung ini menimbulkan permasalahan dengan masyarakat desa.
Luas kawasan hutan lindung mangrove di Desa Dabong sendiri adalah seluas 4895.50 ha. Area hutan mangrove dan tambak yang ada di Desa Dabong hampir semuanya berada dalam kawasan hutan lindung mangrove yang telah ditetapkan pada tahun 2000 berdasarkan SK MenHut No. 259/kpts-II/2000. Selain area hutan mangrove dan tambak, sebagian besar kawasan pemukiman, lahan garapan, sekolah, masjid dan bahkan pusat pemerintahan Desa Dabong juga masuk dalam kawasan hutan lindung mangrove. Perlu adanya upaya pengelolaan yang melibatkan masyarakat dan memperhatikan hak-hak masyarakat setempat agar kelestarian ekosistem mangrove berkelanjutan.