METODE PENELITIAN
3.1 Tipe Penelitian
Penelitian ini tergolong tipe penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan menggambarkan atau mendeskripsikan obyek dan fenomena yang diteliti (Siagian, 2011:52). Melalui penelitian ini, penulis ingin menggambarkan bagaimana respon masyarakat dalam pelaksanaan program
Family Development Session (FDS) di Kelurahan Timbang Deli Kecamatan Medan
Amplas.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Timbang Deli Kecamatan Medan Amplas.Adapun alasan penulis melakukan penelitian di lokasi ini karena Kelurahan Timbang Deli merupakan salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Medan Amplas yang sudah menjalankan Program Family Development Session (FDS).
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Secara umum populasi merujuk pada sekumpulan individu atau obyek. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010:117).
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta PKH di Kelurahan Timbang Deli Kecamatan Medan Amplas yang berjumlah 137 Keluarga Sangat Miskin (KSM).
3.3.2 Sampel
Secara umum sampel adalah contoh. Sampel adalah sebagian dari obyek, kejadian atau individu yang terpilih dari populasi yang akan diambil datanya atau yang akan diteliti (Roscoe, dalam Siagian, 2011:156). Hal ini berarti bahwa sampel bukan sekedar bagian dari populasi, melainkan bagian yang benar-benar mewakili populasi. Jika jumlah populasi lebih dari 100 maka diambil sampel sejumlah 10-15% atau 20-25% dari populasi (Arikunto, 2006:134). Peneliti menetapkan besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 25% dari jumlah populasi, yaitu 25% x 137=34,25 dan dibulatkan menjadi 34. Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 34 orang.
Adapun teknik penarikan sampel yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah teknik penarikan sampel bertujuan (purposive sampling
technique). Teknik penarikan sampel ini digunakan dalam rangka mencapai
tujuan-tujuan tertentu. Penggunaan teknik penarikan sampel bertujuan-tujuan menuntut pengenalan yang luas atas populasi (Siagian, 2011:164). Kriteria responden dalam penelitian ini, yaitu masyarakat yang selalu hadir dalam pertemuan kelompok sesuai dengan saran dari pendamping agar diperoleh data yang representatif.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Studi kepustakaan, yaitu mengumpulkan data atau informasi menyangkut masalah yang diteliti melalui penelahaan buku, jurnal dan karya tulis lainnya. 2. Studi lapangan, yaitu mengumpulkan data atau informasi menyangkut masalah
yang diteliti dengan langsung turun ke lokasi penelitian guna memperoleh fakta yang diperlukan.
Dalam sebuah penelitian, alat ukur disebut dengan instrumen penelitian.Secara terminologis, instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur atau mengumpulkan informasi kuantitatif maupun kualitatif sebagai bahan pengolahan berkenaan dengan objek ukur yang sedang diteliti (Sholihin, 2015). Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi, yaitu pengamatan terhadap obyek dan fenomena yang berkaitan dengan penelitian.
b. Wawancara, yaitu percakapan yang dilakukan oleh peneliti dengan responden untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dalam penelitian.
c. Penyebaran kuesioner, yaitu kegiatan mengumpulkan data dengan cara menyebarkan daftar pertanyaan untuk dijawab atau diisi oleh responden sehingga diperoleh data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian (Siagian, 2011:206-207). Metode pengumpulan data kuesioner pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode personnally administrated
qustonnaires, yaitu peneliti menyampaikan sendiri kuesioner kepada responden
dan mengambil sendiri kuesioner dari responden agar tingkat pengembalian kuesioner dapat terjaga dalam periode waktu yang relatif pendek (Sekaran, 2003: 236).
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskrptif dan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan pengukuran skala likert. Skala likert digunakan untuk mengukur indikator seseorang atau sekelompok orang mengenai fenomena sosial. Subyek penelitian ini dihadapkan pada pernyataan positif dan negatif dalam jumlah yang berimbang.
Adapun pemberian skor data yang dilakukan melalui respon yang negatif menuju respon yang positif, yaitu:
a.Skor tidak setuju (negatif) adalah -1 b.Skor tidak berpendapat (netral) adalah 0 c.Skor setuju (positif) adalah 1
Sebelum menentukan klasifikasi kognitif, afektif dan konatif, maka ditentukan interval kelas sebagai berikut:
Berdasarkan interval di antara kelas sebagai gambaran kategori dari unsur variabel penelitian, maka dapat diketahui dan ditetapkan makna atau tafsiran atas nilai rata-rata yang diperoleh memiliki makna sebagai berikut:
������������� (�) =Nilai tertinggi (H)−Nilai terendah (L) Banyak kelas (K) =1−(−1) 3 =2 3 = 0,66
a. -1,00 sampai dengan -0,33 = Respon Negatif b. -0,33 sampai dengan 0,33 = Respon Netral c. 0,33 sampai dengan 1,00 = Respon Positif (Siagian, 2011:115-116)
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kecamatan Medan Amplas adalah salah satu dari 21 kecamatan di kota Medan. Kecamatan ini mempunyai 7 kelurahan, yaitu Amplas, Sitirejo, Sitirejo III, Timbang Deli, Harjosari, Harjosari II, dan Bangun Mulia. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Timbang Deli.Kelurahan ini terletak di Jl. Balai Desa No. 17 Medan. Daerah ini secara fisik telah mengalami perkembangan dengan adanya sarana dan prasarana kota seperti air bersih, kesehatan, pendidikan, penerangan, pabrik-pabrik dan lain-lain. Kelurahan Timbang Deli memiliki 15 lingkungan dan dikepalai oleh seorang lurah.Berdirinya Kelurahan Timbang Deli hingga tahun 1973 secara administrasi merupakan wilayah dari Kecamatan Patumbak, Deli Serdang. Namun, sejak tahun 1974 hingga sekarang ini, secara administrasi menjadi Kelurahan Timbang Deli yang berada dalam wilayah administratif kotamadya Medan.
Letak Kelurahan Timbang Deli berdekatan dengan terminal terpadu Amplas dan berbatasan dengan Deli serdang yang merupakan gerbang masuk menuju ibukota provinsi Sumatera Utara, yaitu kota Medan. Pantaslah jika daerah ini menjadi ramai dan menjadi tempat bertemunya berbagai suku bangsa, sehingga di daerah ini dapat ditemukan beragam suku bangsa atau menjadi multi etnis, sedangkan suku bangsa asli yaitu suku bangsa Melayu lebih banyak berada di daerah Patumbak, Si Gara-gara dan Lantasan. Sedikit sekali bahkan hampir dikatakan tidak ada lagi suku bangsa Melayu yang bertahan di Kelurahan Timbang Deli. Hal ini berarti bahwa hampir seluruh penduduk di kelurahan ini berasal dari pendatang bukan dari suku bangsa
aslinya, sekalipun mereka telah memiliki identitas sebagai penduduk di Kelurahan Timbang Deli dan telah lama menetap di Kelurahan ini.
4.2 Sejarah Lokasi
Kelurahan Timbang Deli berdiri sekitar tahun 1950. Pada awalnya Timbang Deli merupakan daerah hutan yang kemudian dibuka oleh masyarakat. Masyarakat yang pertama sekali membuka hutan tersebut adalah masyarakat yang beretnis Melayu. Menurut kisah, Timbang Deli pertama sekali bernama “Sinong Rejo” dalam bahasa Jawa, yang artinya “Senang Makmur” atau “Suka Makmur”. Perubahan nama terjadi dimulai pada tahun 1965, saat itu terjadi konflik tanah didaerah Kecamatan Patumbak. Konflik tanah tersebut terjadi karena tidak adanya batasan kepemilikan tanah yang jelas. Kepemilikan tanah pada waktu itu dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan melemparkan biji pinang. Biji pinang dilempar sejauh mungkin, dimana biji pinang itu jatuh maka secara otomatis tempat jatuhnya biji pinang itu menjadi batas tanah dari orang yang melemparkan biji pinang tersebut dan tanah itu menjadi haknya. Tanah yang telah menjadi hak si pelempar tersebut selanjutnya disebut sebagai “ajuang ambo” dalam bahasa Melayu yang artinya milik saya, ini maksudnya orang tersebut berhak atas kepemilikan tanah tersebut.
Kepemilikan sumberdaya dengan cara seperti itu akhirnya menimbulkan masalah, karena batas-batas tanah yang tidak jelas dan tidak memiliki legitimasi hukum yang menguatkan kepemilikan. Akibatnya sering terjadi perselisihan yang disebabkan karena kepemilikan yang tidak jelas tersebut. Menurut cerita, penyebab permasalahan tersebut berawal dari si Gara-gara. Dia melemparkan sebuah tombak untuk membuat batas tanahnya dan tombak yang dilemparkannya itu ternyata sangat jauh sekali jatuhnya. Hal ini membuat banyak pihak yang tidak senang, sehingga
terjadilah konflik yang berlangsung lama dan terjadi kesepakatan diantara mereka. Pada saat perdamaian dilakukan, dicapailah satu kesepakatan berdasarkan musyawarah, yaitudisepakatinya tempat si Gara-gara melemparkan tombak dinamakan Desa Sigara-gara. Lalu tempat melintasnya tombak dinamakan Desa Lantasan, serta tempat jatuhnya tombak dinamakan Desa Patumbak. Sedangkan tempat berlangsungnya perdamaian dinamakan Desa Timbang Deli. Desa Timbang Deli inilah kemudian yang menjadi jantung dari Kelurahan Timbang Deli sekarang. Sejak saat itu, perdamaian mengenai perebutan lahan dan konflik akibat penguasaan tanah seperti dalam cerita tersebut tidak pernah terjadi lagi hingga sekarang ini.
Masyarakat asli Kelurahan Timbang Deli ini adalah masyarakat beretnis Melayu, akan tetapi sekarang ini telah banyak pendatang yang masuk ke daerah Timbang Deli sehingga hampir tidak ada lagi masyarakat yang beretnis Melayu yang tinggal di Kelurahan Timbang Deli. Masyarakat aslinya lebih banyak berada dan tinggal di daerah Patumbak, sedangkan Kelurahan Timbang Deli lebih banyak ditinggali oleh para pendatang, karena di Kelurahan Timbang Deli banyak terdapat pabrik-pabrik industri. Pendatang umumnya bekerja sebagai buruh industri, hampir 60 % dari mereka menempati ruang di Kelurahan Timbang Deli.
4.3 Keadaan Geografis
Secara geografis Kelurahan Timbang Deli termasuk dalam wilayah Kecamatan Medan Amplas dengan keadaan alam (tipologi tanah) yang terdiri dari dataran dan rawa-rawa. Daerah ini beriklim tropis dengan suhu udara rata-rata 35ºC-37ºC dengan curah hujan yang relatif tinggi. Curah hujan yang tinggi sering terjadi pada bulan September sampai dengan Desember, sehingga daerah ini sering terkena banjir
dengan ketinggian banjir antara 10 cm s/d 60 cm, tergantung dengan tingginya curah hujan yang turun pada bulan-bulan tersebut.
Adapun batas wilayah kelurahan Timbang Deli ini adalah sebagai berikut: -Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Amplas/Desa Marindal
-Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Marindal II/Patumbak -Sebelah barat berbatsan dengan Kelurahan Harjosari I dan II -Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Bangun Mulia
4.4 Keadaan Demografis
Jarak tempuh dari kantor Pemerintahan Kelurahan ke kantor Pemerintahan Kecamatan sekitar ± 0,5 km. Wilayah Kelurahan Timbang Deli memiliki luas areal 284 Ha dengan rincian areal pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.1
Wilayah Penggunaan Lahan
No Penggunaan Lahan Luas (Ha)
1 Dataran 2 2 Rawa-rawa 4 3 Pekarangan 125 4 Perladangan 53 5 Tanah kosong 75,5 6 Tegalan 24,5 Jumlah 284
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa penggunaan lahan di kelurahan Timbang Deli yang terbesar adalah wilayah penggunaan lahan untuk pekarangan, yaitu 125 Ha.Hal ini membuktikan bahwa sudah banyak masyarakat yang memahami manfaat kegiatan pekarangan sebagai tambahan penghasilan bagi keluarganya, diantaranya menghasilkan berbagai tanaman sayuran, buah-buahan, ternak dan lain sebagainya.Hasil pekarangan ini selain dikonsumsi untuk mereka sendiri, juga mereka jual untuk menambah penghasilan mereka.
4.4.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Dilihat dari kependudukannya, jumlah penduduk kelurahan Timbang Deli telah mencapai 12.670 jiwa denganjumlah keluarga sebanyak 1.843 Kepala Keluarga, yang terdiri dari 6.375 jiwa laki-laki dan 6.295 perempuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabelberikut ini:
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Penduduk Bedasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 Laki-laki 6375 50,32
2 Perempuan 6295 49,68
Jumlah 12670 100
Sumber: Kantor Kelurahan Timbang Deli
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa penduduk di kelurahan Timbang Deli didominasi oleh penduduk laki-laki, yaitu 6.375 jiwa atau sebesar 50,32%.
4.4.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Jenis mata pencaharian yang dimiliki oleh masyarakat di Kelurahan Timbang Deli ini meliputi: TNI/Polri, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pedagang, petani, pertukangan, buruh tani, karyawan swasta, pensiunan, dan sebagai penarik becak. Adapun data persentase dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
No Pekerjaan Jumlah (KK) Persentase (%)
1 Pegawai Negeri Sipil (PNS) 179 9,7
2 TNI/Polri 24 1,3 3 Karyawan swasta 802 43,5 4 Pedagang 68 3,7 5 Petani 31 1,7 6 Pertukangan 66 3,6 7 Buruh tani 67 3,6 8 Pensiunan 97 5,3 9 Penarik Becak 509 27,6 Jumlah 1843 100
Sumber: Kantor Kelurahan Timbang Deli
Berdasarkan tabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penduduk Timbang Deli adalah karyawan swasta dengan jumlah 802 KK atau sebesar 43,5% , sedangkan pekerjaan yang paling sedikit yaitu TNI/Polri dengan jumlah 24 KK atau sebesar 1,3%.
4.5 Sarana Kelurahan Timbang Deli
Pembangunan di suatu daerah sangat erat kaitannya dengan adanya fasilitas pendukung yang memudahkan masyarakat dalam melakukan aktivitas, khususnya di kelurahan Timbang Deli. Untuk itu diperlukan adanya fasilitas berupa sarana yang memadai.
4.5.1 Sarana Peribadatan
Sarana peribadatan merupakan tempat yang digunakan oleh umat beragama untuk beribadah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing. Kelurahan Timbang Deli memiliki beberapa sarana peribadatan, yaitu gereja yang terdiri dari 8 bangunan dan tempatnya juga berjauhan antara yang satu dengan yang lainnya, masjid yang terdiri dari 5 bangunan dengan jarak yang cukup berjauhan antara yang satu dengan yang lainnya, serta sarana ibadah yang lainnya adalah mushola yang terdiri dari 6 bangunan dan tempatnya juga berjauhan antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.4
Sarana Peribadatandi Kelurahan Timbang Deli
No Rumah Ibadah Jumlah (Unit)
1 Gereja 8
2 Masjid 5
3 Mushola 6
Jumlah 19
Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah rumah ibadah yang ada di kelurahan Timbang Deli adalah sebanyak 19 unit.Semua sarana peribadatan ini dalam keadaan baik dan aktif digunakan oleh masyarakat Kelurahan Timbang Deli.
4.5.2 Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan digunakan sebagai tempat untuk menimba ilmu bagi para generasi muda Indonesia, khususnya yang ada di kelurahan Timbang Deli. Adapun sarana pendidikan yang ada di Kelurahan Timbang Deli dijabarkan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 4.5
Sarana Pendidikan di Kelurahan Timbang Deli
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Unit)
1 SD 6
2 SLTP 1
Jumlah 7
Sumber: Kantor Kelurahan Timbang Deli
Berdasarkan tabel diatas sarana pendidikan di kelurahan Timbang Deli berjumlah 7 unit, diantaranya tingkat pendidikan SD berjumlah 6 unit dan SMP berjumlah 1 unit. Dapat pula disimpulkan bahwa sarana pendidikan di kelurahan Timbang Deli belum terlalu cukup memadai karena jumlah sarana pendidikan tingkat SLTP yang sangat terbatas, yaitu hanya 1 saja. Hal ini juga didukung dengan tidak adanya sarana pendidikan tingkat TK dan SMA.
4.5.3 Sarana Kesehatan
Kelurahan Timbang Deli memiliki berbagai sarana kesehatan yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sarana kesehatan yang tersedia di Kelurahan Timbang Deli antara lain puskesmas yang terdiri dari 1 unit, balai kesehatanibu dan anak terdiri dari 1 unit, klinik 2 unit dan posyandu 13 unit. Selain itu ada juga beberapa praktek swasta di kelurahan Timbang Deli, yaitu praktek dokter terdiri dari 7 unit, dukun sunatan rosul terdiri dari 1 tempat, dukun beranak terdiri dari 1 orang. Untuk lebih jelasnya dijabarkan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4.6
Sarana Kesehatan di Kelurahan Timbang Deli
No Sarana Kesehatan Jumlah
1 Puskesmas 1
2 Balai kesehatan Ibu dan anak 1
3 Klinik 2
4 Posyandu 13
5 Praktek swasta (dokter, dukun) 9
Jumlah 26
Sumber: Kantor Kelurahan Timbang Deli
Berdasarkan penjabaran tabel diatas, maka dapat disimpulkan sarana kesehatan posyandu adalah sarana kesehatan terbanyak yaitu sebanyak 13 unit. Hal ini dikarenakan disetiap lingkungan di Kelurahan Timbang Deli terdapat Posyandu. Sarana kesehatan yang tersedia masih sering digunakan oleh masyarakat Kelurahan Timbang Deli.
4.5.4 Sarana Transportasi
Sarana transportasi yang ada di Kelurahan Timbang Deli sama dengan daerah-daerah lainnya yang ada di Kota Medan, yaitu becak dan angkot yang jumlahnya belum diketahui karena jumlahnya yang tidak menentu, bus kota ada 6 unit dengan merk yang berbeda-beda dan yang terakhir ada bus umum dengan jumlah 173 unit dengan merk yang berbeda-beda juga. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7
Sarana Transportasi di Kelurahan Timbang Deli
No Jenis Transportasi Jumlah
1 Becak Tak tentu
2 Angkot Tak tentu
3 Bus kota 6
4 Bus umum 173
Jumlah 179
Sumber: Kantor Kelurahan Timbang Deli
Berdasarkan tabel diatas maka tidak bisa ditentukan jumlah sarana transportasi yang mendominasi di kelurahan Timbang Deli karena jumlah becak dan angkot yang tidak menentu.
4.5.5 Sarana Perhubungan
Sarana perhubungan yang tersedia di kelurahan Timbang Deli antara lain jalan desa ada 6, dimana jalan ini terdiri dari ukuran yang kecil yang menyambungkan antara desa yang satu dengan desa yang lainnya. Jalan ekonomi ada 1, jalan ini
adalah jalan menuju tempat dimana berlangsungnya kegiatan ekonomi. Jalan Protokol yang merupakan jalan utama terdiri dari 1 jalan. Dan jalan menuju Kabupaten yang kebetulan bersebelahan dengan Ibu kota, hanya terdiri dari 1 jalan. Selain jalan-jalan tersebut, sarana perhubungan yang dimiliki kelurahan ini adalah Jembatan, dimana ada 3 jembatan yang sering dilalui oleh masyarakat Kelurahan Timbang Deli.Dan yang terakhir adalah Terminal, dimana ada 1 terminal yaitu terminal sudako 04. Untuk lebih jelasnya dijelaskan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.8
Sarana Perhubungan di Kelurahan Timbang Deli
No Jenis Perhubungan Jumlah
1 Jalan desa 6
2 Jalan ekonomi 1
3 Jalan protokol 1
4 Jalan menuju Kabupaten 1
5 Jembatan 3
6 Terminal 1
Jumlah 13
Sumber: Kantor Kelurahan Timbang Deli
4.5.6 Sarana Olahraga
Sarana olahraga yang tersedia di kelurahan Timbang Deli terdiri dari 1 unit lapangan sepak bola, 3 unit lapangan voli, 3 unit lapangan bulu tangkis, 2 unit lapangan tenis dan 2 set tenis meja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
.Tabel 4.9
Sarana Olahraga di Kelurahan Timbang Deli
No Jenis Sarana Olahraga Jumlah
1 Lapangan sepak bola 1
2 Lapangan voli 3
3 Lapangan bulu tangkis 3
4 Lapangan tenis 2
Jumlah 9
Sumber: Kantor Kelurahan Timbang Deli
Dengan demikian kelurahan Timbang Deli memiliki sarana olahraga berjumlah 9 lapangan dan semua sarana ini dalam keadaan bagus.
4.5.7 Sarana Komunikasi
Sarana komunikasi yang tersedia di kelurahan Timbang Deli adalah telepon umum yang bentuknya adalah wartel.Di Kelurahan ini ada 12 unit wartel yang tersedia untuk digunakan masyarakat umum.
4.5.8 Sarana Keamanan
Sarana keamanan yang tersedia di Kelurahan Timbang Deli hanya ada 1, yaitu kantor Kapolsek yang selalu digunakan masyarakat untuk tempat pengaduan yang berhubungan dengan tindak kriminal maupun sosial.
4.6 Organisasi Sosial dan Struktur Pemerintahan
Kelurahan Timbang Deli yang berdiri pada tahun 1950, sejak tahun 1947 telah masuk menjadi wilayah bagian administratif kotamadya Medan, dimana sebelumnya berada di wilayah administratif kabupaten Deli Serdang dengan menempati klasifikasi makmur. Kelurahan Timbang Deli kini dipimpin oleh seorang Lurah yang bernama Azhari, SH, MH. Perangkat Kelurahan ini terdiri dari 6 orang staff, 15 orang kepala lingkungan dan 30 orang hansip.
Adapun organisasi sosial yang ada di kelurahan ini disamping organisasi pemerintahan, terdapat beberapa organisasi kemasyarakatan antara lain organisasi ibu-ibu yang tergabung dalam PKK, pengajian akbar kaum ibu, kelompok-kelompok perwiritan/pengajian laki-laki dan perempuan, organisasi kepemudaan seperti PP, IPK, FKPPI dan sebagainya, Serikat Tolong Menolong (STM), Ikatan Remaja Mesjid dan Pertamiangan Kristen serta beberapa rumah singgah untuk anak-anak jalanan bahkan LSM pun ada juga di Kelurahan ini.
BAB V
ANALISIS DATA
Pada bab ini akan dibahas mengenai uraian data yang diperoleh dari hasil penelitian serta analisis pembahasannya. Dalam hal ini data hasil penelitian diperoleh langsung dari responden, yaitu masyarakat kelurahan Timbang Deli yang mengikuti program Family Development Session (FDS). Responden berjumlah 34 orang. Pemilihan responden ini berdasarkan tingkat kehadiran yang memadai dalam pertemuan kelompok sesuai dengan saran dari pendamping agar diperoleh data/informasi yang representatif. Adapun urutan pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:
a. Peneliti melakukan penelitian disaat responden sedang melakukan kegiatan kelompok dengan berkoordinasi bersama pendamping.
b. Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan ke lokasi. c. Peneliti menyebarkan kuesioner kepada responden dan sekaligus menjelaskan
mengenai cara mengisi kuesioner tersebut.
d. Peneliti menjelaskan butir-butir soal yang akan diisi oleh responden sebagai sumber data.
e. Peneliti menarik kembali kuesioner yang telah selesai diisi oleh responden agar dianalisa dan dipersiapkan untuk pengolahan data.
f. Peneliti mengucapkan terimakasih kepada responden yang telah mengisi kuesioner.
Pembahasan data dalam penelitian ini dibagi dalam dua sub-bab agar penelitian tersebut tersusun secara sistematis, yaitu:
1. Analisis identitas responden meliputi usia, agama, suku bangsa, pendidikan terakhir, pekerjaan dan jumlah anak dari responden.
2. Analisis data pembahasan dalam 3 indikator meliputi respon kognitif, afektif dan konatif masyarakat dalam pelaksanaan program Family Development
Session (FDS) di kelurahan Timbang Deli kecamatan Medan Amplas.
5.1 Analisis Identitas Responden
Responden dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang mengikuti program PKH. Berikut ini adalah karakteristik umum dari responden yang diklasifikasikan berdasarkan usia, agama, suku bangsa, pendidikan terakhir, pekerjaan dan jumlah anak.
5.1.1 Usia
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui usia responden yang termuda adalah 34 tahun dan yang tertua adalah 56 tahun. Data distribusi frekuensi responden berdasarkan usia disajikan dalam tabel 5.1 berikut ini:
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia
No. Usia Frekuensi Persentase(%)
1 31 - 40 tahun 13 38,2
2 41 - 50 tahun 16 47,1
3 51 - 60 tahun 5 14,7
Jumlah 34 100
Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat usia pada tabel diatas menjelaskan bahwa:
- jumlah respondenberusia31–40tahun sebanyak 13 responden (38,2 %) -jumlah respondenberusia41–50tahun sebanyak 16responden (47,1 %) - jumlah respondenberusia 51–60 tahun sebanyak 5responden (14,7 %)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mayoritas usia responden dalam penelitian ini adalah usia berkisar 41-50 tahun, yaitu sebanyak 16 orang dengan persentase 47,1 %.
5.1.2 Agama
Berdasarkan hasil penelitian,diketahui responden dalam penelitian ini beragama Islam, Protestan dan Katolik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel