• Tidak ada hasil yang ditemukan

SARANA PRASARANA .1 Aset

KAPASITAS ORGANISASI

3.2 SARANA PRASARANA .1 Aset

Sarana dan prasarana Sekretariat Jenderal meliputi semua Barang Milik Negara (BMN) yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Yang dimaksud dengan perolehan lainnya yang sah antara lain:

1. Barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis; 2. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak; 3. Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan Undang-Undang; atau

4. Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh ketentuan hukum tetap.

Sebagai upaya pencapaian target indikator yang tercantum dalam Perjanjian Kinerja (PK) Sekretariat Jenderal terdapat banyak aspek yang mendukung tercapainya indikator kinerja tersebut yang salah satunya adalah dari aspek sarana dan prasarana. Jumlah sarana dan prasarana yang telah tercatat didalam laporan Barang Milik Negara (BMN) yaitu:

Laporan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2015 BAB III | 5

Tabel 3.2 Sarana dan Prasarana

Pegawai di lingkungan Sekretariat Jenderal berada di gedung utama Kementerian PUPR Lantai 3 sampai dengan lantai 9, serta dukungan ruangan didalam tempat bekerja memadai. 3.2.2 Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pelaksanaan Pekerjaan

Di dalam sistem manajemen pelaksanaan pekerjaan, terdapat rangkaian proses mulai dari perencanaan, pemrograman, penganggaran, dan pelaksanaan, yang mana monitoring dan evaluasi berperan dalam setiap tahapannya.

Gambar 3.6 Sistem Manajemen Pelaksanaan Kegiatan

BUDGETING SINKRONISASI PLANNING PROGRAMING IMPLEMENTING

MONEV

MONE

V

MONEV

MONE

V

Laporan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2015 BAB III | 6

Sekretariat Jenderal telah membangun sistem informasi yang berfungsi sebagai sarana untuk mendukung dan meningkatkan kelancaran proses pelaksanaan kegiatan, diantaranya pemanfaatan teknologi informasi untuk proses pelelangan/tender secara elektronik dan sistem pemantauan pelaksanaan dan penyerapan anggaran secara elektronik. Sekretariat Jenderal memiliki perangkat server dan aplikasi yang mendukung pelaksanaan pekerjaan sehingga tercapai efisiensi.

a) Pemantauan Pelaksanaan Pekerjaan Secara Elektronik (eMonitoring)

Telah dikembangkan sistem pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pekerjaan berbasis elektronik (eMonitoring) yang merupakan upaya untuk mendapatkan data yang lengkap, akurat, dan terkini terkait pelaksanaan pembangunan bidang PUPR. Data yang dimasukkan ke dalam eMonitoring adalah data yang akurat atau sesuai dengan kondisi sebenarnya sehingga data tersebut menjadi akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sistem eMonitoring tersebut berisikan data progress pelaksanaan kegiatan yang tersebar di 1.208 Satker Kementerian PUPR di seluruh Indonesia. Data tersebut digunakan sebagai bahan pelaporan kepada pimpinan, baik dari Kepala Satker kepada pimpinan unit organisasi maupun dari pimpinan unit organisasi kepada Menteri PUPR. Selain itu, data tersebut juga digunakan sebagai bahan pelaporan oleh Menteri kepada Kementerian/Lembaga lain seperti Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Keuangan, Kantor Staf Presiden, dan Kementerian Dalam Negeri.

Dengan adanya sistem eMonitoring, pelaporan data progress pelaksanaan pekerjaan di lapangan dapat dilakukan secara cepat dan akurat sehingga membantu pengambilan keputusan oleh pimpinan dengan tepat. Dengan banyaknya manfaat yang diperoleh dengan sistem pemantauan secara elektronik tersebut, bahkan sistem eMonitoring direplikasi oleh Kementerian/Lembaga lain seperti Kementerian Perdagangan,

Laporan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2015 BAB III | 7

Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kejaksaan Agung, Sekretariat Negara, dan Badan Pengembangan Wilayah Suramadu.

b) Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa secara elektronik (eProcurement) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah melakukan proses pengadaan barang/jasa secara elektronik (eProcurement) sejak tahun 2002. Pelaksanaan eProcurement dilakukan secara bertahap dari sisi penerapan transaksi elektronik dan wilayah cakupan implementasinya. Implementasi disesuaikan dengan kondisi Sumber Daya Manusia dan infrastruktur teknologi komunikasi di suatu wilayah. Setiap tahunnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan proses pelelangan yang mendahului tahun anggaran (lelang dini). Proses lelang dini dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan dan juga penyerapan anggaran.

Pada tanggal 16 Januari 2015 telah diterbitkan Peraturan Presiden No.4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Di dalam pasal 108 disebutkan K/L/D/I mempergunakan Sistem Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Secara Elektronik yang dikembangkan oleh LKPP. Menanggapi hal ini Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengirimkan surat No.PA.01.06-Mn/98 tanggal 9 Februari 2015 kepada Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) terkait Penerapan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) di Kementerian PUPR dengan poin utama Sistem eProcurement Kementerian PUPR telah digunakan luas oleh baik domestik maupun internasional, proses pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang dilakukan untuk mendukung Inpres No. 1 Tahun 2015 agar pelaksanaan lelang konstruksi paling lambat bulan Maret 2015, dan untuk memindahkan penggunaan proses lelang dari sistem eProcurement ke SPSE memerlukan waktu yang lama dan Kementerian PUPR berencana untuk melaksanakan migrasi sistem secara bertahap. Surat ini mendapat tanggapan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui surat Sekretaris Kementerian yang berisi bahwa penerapan SPSE di Kementerian PUPR dapat diterapkan secara bertahap kemudian LKPP melalui Surat Kepala LKPP menyatakan menyambut baik rencana penerapan secara bertahap. Dengan demikian pelaksanaan pelelangan TA. 2015 tetap menggunakan sistem eProcurement Kementerian PUPR.

Untuk Tahun Anggaran (TA) 2015 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah memulai proses pengadaan barang/jasa untuk TA 2015 di bulan Oktober 2014. Pelaksanaan eProcurement di TA 2015 melibatkan 848 Pokja dan kurang lebih 16.651 yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah paket yang diumumkan melalui sistem eProcurement

Laporan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2015 BAB III | 8

Pelelangan/Seleksi/Pemilihan sebanyak 13,284 paket dengan nilai 80.1 triliun dan paket pengadaan/penunjukan langsung/ePurchasing sebanyak 1,610 paket dengan nilai 1.6 triliun rupiah.

Kementerian PUPR telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) No.57 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Pengadaan Barang/jasa Pemerintah Secara Elektronik (eProcurement), di dalam SE tersebut diatur bahwa Sistem eProcurement digunakan untuk pelelangan paket pekerjaan TA 2015 dan SPSE digunakan untuk pelelangan paket pekerjaan di TA 2016. Dalam melakukan migrasi dari sistem eProcurement ke SPSE LKPP telah dilakukan beberapa hal:

a. Mengusulkan perbaikan fitur di SPSE ke LKPP agar sesuai dengan Sistem eProcurement

Kementerian PUPR dan dapat digunakan di Kementerian PUPR seperti : Integrasi aplikasi

eMonitoring, Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) dan SPSE, penambahan fitur bahasa Inggris, filter pencarian data per provinsi dan unit organisasi. Fitur ini perlu ditambahkan agar pengguna sistem tetap mendapatkan kemudahan dalam penggunaan sistem mengingat fitur-fitur ini sebelumnya sudah ada di sistem

eProcurement Kementerian PUPR. Beberapa fitur yang diusulkan tersebut sudah diakomodir oleh LKPP seperti tersedianya fitur bahasa Inggris, integrasi

eMonitoring+SIRUP+SPSE sesuai skema berikut :

Gambar 3.7. Skema Integrasi Aplikasi Emonitoring+SIRUP+SPSE

b. Melakukan sosialisasi dan pelatihan penggunaan SPSE kepada Pokja ULP dan Penyedia Jasa. Pelatihan dilakukan untuk memastikan pengguna dapat menggunakan sistem dengan baik karena terdapat beberapa perbedaan penggunaan SPSE bila dibandingkan dengan Sistem eProcurement Kementerian PUPR seperti: kode akses Ketua Pokja yang

Laporan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2015 BAB III | 9

sangat menentukan dalam pelaksanaan eProcurement, dokumen pengadaan yang tidak dapat dihapus setelah di-upload, pemberian penjelasan online, penggunaan Aplikasi Pengaman Dokumen (Apendo) untuk membuka dokumen penawaran dan sebagainya. Pelaksanaan dan Pengelolaan SPSE dilakukan secara terpusat di Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian PUPR oleh Tim Pengelola LPSE yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri No. 467/KPTS/M/2015 Tentang Tim Pengelola LPSE Kementerian PUPR. Pelaksanaan eProcurement TA 2016 telah dimulai sejak bulan Agustus 2015 melalui aplikasi SPSE.

3.3 DIPA

Pada TA 2015 sesuai dengan nomor DIPA SP DIPA-033.01-0/2015 yang di tanda tangani oleh Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan pada tanggal 14 November 2014, Sekretariat Jenderal mendapatkan alokasi pagu anggaran sebesar Rp. 869.097.984.000,- (Delapan Ratus Enam Puluh Sembilan Milyar Sembilan Puluh Tujuh Juta Sembilan Ratus Delapan Puluh Empat Ribu Rupiah). Pagu anggaran tersebut terbagi pada 2 program Sekretariat Jenderal yaitu:

1. Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Kementerian PUPR sebesar Rp. 569.097.984,-

2. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Kementerian PUPR sebesar Rp. 300.000.000,-

Sedangkan DIPA APBN-P pada Tahun 2015 menjadi sebesar Rp. 656.856.089.000,- (Enam Ratus Lima Puluh Enam Milyar Delapan Ratus Lima Puluh

Enam Juta Delapan Puluh Sembilan Ribu Rupiah). Hal ini dikarenakan adanya perubahan struktur organisasi berdasarkan Permen PUPR No. 15 Tahun 2015, dimana terdapat 2 (dua) unit kerja eselon 2 di lingkungan Sekretariat Jenderal yang dihilangkan yaitu Pusat Kajian Strategis (Pustra) yang dilikuidasi sedangkan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) pindah ke Unit Organisasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) serta adanya revisi anggaran di Satker-Satker di Lingkungan Sekretariat Jenderal.

BAB IV

AKUNTABILITAS

Dokumen terkait