KONDISI UMUM DAERAH
2.4 Sarana dan Prasarana .1 Perhubungan
Keberhasilan pembangunan sosial perekonomian daerah tidak terlepas dari adanya dukungan infrastruktur berupa sarana dan
prasarana wilayah. Di bidang prasarana jalan, jalan yang ada di Kabupaten Semarang sampai dengan akhir tahun 2005 terdiri dari:
jalan nasional sepanjang 47,55 Km; jalan provinsi sepanjang 82,51 Km
(39,51% berada dalam kondisi rusak dan 14,96 rusak berat); jalan kabupaten sepanjang 733,62 Km (6,32% dalam kondisi rusak dan
13,46% rusak berat); jalan kota sepanjang 173,10 Km; dan jalan desa sepanjang 715,00 Km. Sementara itu prasarana jembatan di Kabupaten Semarang hingga akhir tahun 2004 tersedia jembatan dengan panjang keseluruhan 2.308,8 m yang terdiri dari: jembatan beton sepanjang 2.043 m; jembatan kayu sepanjang 224 m; jembatan baja sepanjang 41,3 m.
Ditinjau dari sarana transportasi, jenis angkutan darat terbanyak adalah jenis kendaraan bermotor. Hingga tahun 2004 diketahui jumlah kendaraan roda empat keseluruhan mencapai 11.806 unit dan roda dua sebanyak 46.905 unit. Angkutan umum pedesaan dalam kota yang beroperasi di Kabupaten Semarang tahun 2005 sebanyak 626 buah dengan jumlah trayek sebanyak 27 trayek, sedangkan untuk angkutan umum pedesaan antar kota sebanyak 527 buah dengan jumlah trayek
sebanyak 26. Dari seluruh trayek, sampai saat ini didukung oleh 1 (satu) terminal induk tipe B yang terletak di Kecamatan Bawen dan 4 (empat) subterminal tipe C yang terletak di subterminal Ungaran,
Infrastruktur sumber daya air dan irigasi yang utama adalah prasarana pengairan (irigasi) berfungsi strategis dalam mendorong produktifitas pertanian sebagai salah satu sektor unggulan daerah. Prasarana ini berupa saluran/jaringan irigasi dan bendung. Saluran irigasi terbagi dalam:
a. Saluran irigasi teknis sepanjang 233.975 m dengan hanya sepanjang 85.632 m dalam kondisi baik;
b. Saluran irigasi setengah teknis sepanjang 41.162 m dengan hanya 8.562 m dalam kondisi baik;
c. Saluran irigasi sederhana mendominasi sepanjang 442.447 m dengan 132.562 m diantaranya dalam kondisi baik.
Sementara itu jumlah bendung keseluruhan mencapai 243 buah, dengan kondisi sebagai berikut:
a. Kondisi baik sebanyak 70 buah;
b. Kondisi rusak ringan sebanyak 97 buah; c. Kondisi rusak berat sebanyak 76 buah.
Dengan jumlah prasarana irigasi tersebut, luas sawah yang dialiri mencapai 24.693 ha terdiri:
a. Sawah irigasi teknis seluas 11.489 ha;
b. Sawah irigasi setengah teknis seluas 1.520 ha; c. Sawah irigasi sederhana seluas 11.684 ha.
Luasan tersebut tersebar dalam 435 Daerah Irigasi (DI) dengan kondisi 280 DI tercukupi air 100% dan sisanya 155 DI tercukupi air 50%. Dalam pengelolaan daerah irigasi telah terbentuk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sebanyak 183 kelompok.
Infrastruktur keciptakaryaan meliputi fasilitas perekonomian / perdagangan, fasilitas perkantoran, fasilitas pelayanan umum dan sosial seperti pendidikan dan kesehatan, serta sarana perumahan dan permukiman. Kondisi sarana dan prasarana perumahan dan permukiman di Kabupaten Semarang secara umum masih rendah,
kondisi fisik rumah yang belum memenuhi standar rumah sehat
dan belum tersedianya sarana permukiman yang memadai (jalan lingkungan, drainase, air bersih, pengelolaan sampah, limbah
domestik rumah tangga). Demikian pula fasilitas umum/sosial seperti pasar, fasilitas kesehatan kondisinya kurang optimal. Kondisi lingkungan
permukiman yang masih rendah ini terutama terjadi pada wilayah Kecamatan Bringin, Bancak, Suruh, Susukan, Kaliwungu, Pabelan, Banyubiru, Jambu, Getasan dan Sumowono.
Kondisi umum bidang kebersihan dan pertamanan hingga tahun 2004 adalah sebagai berikut: jumlah sampah yang dikelola oleh pemerintah mencapai 185.006 m3 meliputi berbagai sumber, yaitu: sampah domestik sebesar 120.134 m3; sampah pasar sebesar 40.320 m3; sampah pertokoan sebesar 7.200 m3; sampah perkantoran sebesar 7.200 m3; sampah industri sebesar 6.912 m3; dan sampah terminal sebesar 3.240 m3. Pelayanan persampahan oleh pemerintah baru
menjangkau 21 wilayah kelurahan/desa, dengan hanya dilayani 8 (delapan) unit armada truk sampah yang perlu peremajaan. Serta TPA
Blondo (Bawen) yang sedianya menggantikan TPA Kalongan (Ungaran) sudah tidak memenuhi syarat untuk pemanfaatan masa mendatang karena sampai dengan saat ini kondisinya belum siap baik secara fisik maupun pengelolaannya.
Penyediaan taman oleh pemerintah meliputi 25.350 m2 taman yang hanya tersebar di Kota Ungaran, Bawen dan Ambarawa, serta penyediaan trotoar keseluruhan mencapai 76.450 m2 yang tersebar di Kota Ungaran, Ambarawa, Bandungan, Bawen, Bergas, Kopeng, Banyubiru dan Sumowono.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia, berdampak pula pada menurunnya kualitas sarana dan prasaran jalan. Pada akhir tahun 2005 data jalan provinsi sepanjang 82,51 km, + 55% dalam kondisi rusak, sementara jalan kabupaten dengan panjang 733,62 km, + 20 % dalam kondisi rusak.
2.4.2 Perumahan dan Permukiman
Data terakhir menunjukkan bahwa dari sebanyak 254.787 rumah tangga di Kabupaten Semarang, yang merupakan rumah dengan status penguasaan bangunan tempat tinggal milik sendiri sudah mencapai 94%, sisanya adalah dengan status kontrak, sewa, dinas, milik orang tua atau saudara atau lainnya. Dalam hal luas lantai bangunan tempat tinggal juga sudah relatif bagus karena rumah tinggal yang luasnya
hal kualitas masih perlu mendapat perhatian karena bangunan tempat tinggal yang berlantai tanah masih relatif besar prosentasenya, yaitu 53,62% dari total rumah tinggal yang ada di Kabupaten Semarang. Demikian juga untuk rumah tinggal dengan jenis dinding terluas tembok baru sebanyak 30,59%, sisanya 69,41% masih berdinding kayu atau bambu. Tempat tinggal yang beratap ijuk/rumbia dan sirap juga masih ada yaitu sebanyak 0,40% (atau sekitar 1.019 rumah). Pembangunan perumahan merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah, swasta dan masyarakat. Mengingat keterbatasan kemampuan pendanaan penyediaan kebutuhan perumahan diutamakan bagi masyarakat kurang mampu dan mendorong dunia usaha untuk berpartisipasi dalam pengembangan perumahan.
2.4.3 Sumber Daya Air
Kabupaten Semarang memiliki banyak sumber mata air terutama pada daerah-daerah dengan produktifitas air tanah tinggi maupun sedang. Selama ini mata air ini dimanfaatkan penduduk untuk kebutuhan sehari-hari. Lain dari itu mata air juga dimanfaatkan PDAM sebagai sumber penyediaan air bersih. Secara keseluruhan, mata air di wilayah ini mencapai 7.331,2 liter/detik. Produksi air minum yang dihasilkan oleh PDAM Kabupaten Semarang pada tahun 2005 sebesar 8.218.871 m3, yang berarti mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun 2004 sebesar 6.965.023 m3. Jumlah pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kabupaten Semarang tahun 2005 sebesar 21.378 pelanggan. Hal ini menunjukkan peningkatan daripada tahun 2004 sebesar 21.111 pelanggan. Namun demikian dari 14 (empat belas) Kecamatan di Kabupaten Semarang, baru 8 (delapan) Kecamatan yang mendapat aliran dari PDAM. Kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat prosentase rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas air minum masih relatif besar yaitu sebanyak 35,56% (atau secara absolut sebanyak 90.602 rumah tangga), penduduk tanpa akses terhadap air bersih masih cukup besar proporsinya yaitu sejumlah 48,2% serta prosentase rumah tangga yang sumber air minumnya berasal dari air sungai dan air hujan juga masih cukup tinggi yaitu sekitar 17%. Kabupaten Semarang memiliki beberapa
daerah Cekungan Air Tanah (CAT) yaitu ruang pembentukan dan pengaliran air tanah yang meliputi CAT Ungaran-Boja, CAT Banyubiru-Muncul dan CAT Senjoyo-Salatiga. Sementara itu terdapat pula beberapa sumber mata air di Gunung Ungaran, Telomoyo dan Merbabu. Kota Ungaran dan dataran Rawa Pening merupakan wilayah dengan produktifitas air tanah tinggi. Sementara daerah Nyatnyono, Sumowono, Bandungan, Ungaran bagian timur, Pringapus, Ambarawa, Jambu, Suruh dan Tengaran merupakan daerah dengan produktifitas air tanah sedang. Kemudian darah Wonorejo, Tuntang, Bringin, Susukan dan sebelah timur Beji merupakan daerah dengan produktifitas air tanah rendah. Secara keseluruhan, sumber air tanah di wilayah ini dapat menghasilkan sekitar 7.331,2 liter/detik.
2.4.4 Energi dan Pertambangan
Secara nasional, kondisi energi yang kian kritis berdampak pula pada pasokan kebutuhan energi di daerah. Hal yang terjadi adalah kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan. Permasalahan lain adalah keterbasan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin tingginya pertumbuhan permintaan berbagai jenis energi tiap tahun, serta kondisi daya beli masyarakat yang masih rendah. Kebutuhan energi listrik akan terus meningkat sejalan dengan roda pembangunan daerah.
Kegiatan sub-energi di Kabupaten Semarang adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok dan Timo di Kecamatan Tuntang dengan kapasitas 10 MW yang menempati areal seluas 10 Ha dengan mengambil air dari Sungai Tuntang. Dampak kegiatan PLTA ini relatif sangat kecil berupa tetesan minyak oil yang terikut aliran air terutama pada saat perbaikan mesin. Dalam mendukung kebijakan nasional, Pemerintah Kabupaten Semarang berperanserta melalui pemanfaatan energi lokal yang ramah lingkungan dan terbarukan. Upaya nyatanya adalah dengan percepatan pengembangan investasi panas bumi yang terletak di Gunung Ungaran dan Candi Umbul-Telomoyo. Sedangkan potensi deposit bahan galian golongan C di setiap kecamatan berdasarkan kajian kelayakan penambangan bahan galian golongan C mempunyai potensi penambangan batu berjumlah 2,6 milyar lebih, namun saat ini yang layak ditambang baru sebesar 99 juta lebih.