• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Sasaran Pengguna Pendidikan

endidikan sebagai sarana pemberdayaan potensi manusia melalui proses sosial dan sosialisasi. Proses sosial dimaknai sebagai proses pembelajaran manusia dalam ruang lingkup teori-teori ilmu yang didapatkan dari skenario program pembelajaran, sedangkan proses sosialisasi dipahami sebagai proses aktualisasi peserta didik atas keahlian yang didapatkan dari proses sosialnya ke dalam dunia nyata. Dari kedua proses ini menunjukkan adanya proses timbal balik antara dunia internal lembaga pendidikan dengan dunia eksternal lembaga pendidikan. Jika dalam proses sosialisasi lulusan lembaga pendidikan menemukan ketidakcocokan dalam pengembangan individu yang harus dipertanyakan adalah dalam proses sosial lembaga pendidikan itu sendiri.

Pada prinsipnya lembaga pendidikan berperan sebagai lembaga jasa layanan konsumen, customer. Konsumen diartikan sebagai pengguna jasa lembaga pendidikan, stakeholder. Pengguna jasa dibedakan menjadi tiga bagian yakni jasa internal, internal customer, eksternal, external customer, dan perantara, intermediate customer. Pelanggan internal merupakan pelaku yang ada dalam lembaga dan mempunyai pengaruh pada performa lembaga.

Pengguna jasa internal meliputi staf, manajer, direktur, peserta didik, yayasan dan birokrasi. Pelanggan eksternal adalah pengguna jasa produk lembaga. Pengguna eksternal lembaga pendidikan merupakan pengguna produk pendidikan, misalkan pemerintahan, dunia industri, ekonomi, pelaku usaha dan orang

P

tua peserta didik itu sendiri. Pelanggan antara adalah mereka yang bertindak atau berperan sebagai perantara bukan sebagai pemakai akhir produk lembaga. Dalam hal ini pelaku marketing untuk menawarkan jasa pelayanan lembaga pendidikan mempunyai peran penting dalam rangka memperkenalkan lembaga pendidikan kepada masyarakat atau pengguna jasa lembaga pendidikan9. Karena pengaruh globalisasi terjadi persaingan antar lembaga pendidikan tidak menutup kemungkinan membutuhkan jasa marketing.

Pendidikan dikonsep dan dilaksanakan seharusnya melihat sasaran pelanggan yang akan menjadi target inputnya dengan melihat sasaran pangsa pasar yang jelas. Model sperti bukan berarti melupakan roh dakwah Islam sebagai point awal misis pendidikan Islam, yakni memberikan pemahaman agama yang memadai tanpa harus mengabaikannya, akan tetetapi lembaga pendidikan berbasis Islam dituntut untuk melihat realitas kebutuhan peserta didik hadir menjawab kebutuhan lingkungannya. Dari sini diharapkan pendidikan akan mampu menghadirkan kelulusan yang integrated, penguasaan agama yang memadai dan kemampuan hadir di lingkungannya.

Identifikasi pelanggan adalah semua orang yang menuntut lembaga atau perusahaan untuk memenuhi suatu standar kualitas tertentu dan akan sangat memberikan pengaruh pada performa lembaga atau perusahaan. Dari definisi ini pada dasarnya pelanggan merupakan sasaran utama lembaga, khususnya lembaga pendidikan. Jadi, pelanggan merupakan orang yang tidak bergantung pada diri lembaga akan tetetapi lembaga pendidikan yang harus bergantung pada pelanggan.

9Edward Sallis, Total Quality Management in Education: Manajemen Mutu Pendidikan, penerj. Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrazi (Yogyakarta; Ircisod, 2006), hal. 6.

Apa yang membedakan sasaran akhir pelanggan lembaga pendidikan dengan pelanggan dunia industri? Keduanya sama-sama menghasilkan produk, yakni produk barang dan produk peserta didik. Akan tetetapi, jika pada lembaga pendidikan endingnya adalah kepuasan pelanggan, maka pada dunia industri endingnya adalah produk. Bagaimana untuk mengukur kepuasan pelanggan. Pertama, adanya kesesuaian dengan spesifikasi, tujuan dan manfaat yang dibutuhkan. Kedua, memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan yang berujung pada kepuasan pelanggan.10

Maka dari itu, pendidikan berperan sebagai industri jasa dengan memenuhi standar kualitas. Lembaga dapat disebut berkualitas harus memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.

Secara operasional, kualitas ditentukan oleh dua faktor, yaitu terpenuhinya spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya dan terpenuhinya spesifikasi yang diharapkan menurut tuntutan dan kebutuhan pengguna jasa. Kualitas yang pertama disebut quality in fact (kualitas dalam kenyataan) dan yang kedua disebut quality in perception (kualitas persepsi/harapan/keinginan).

Standar mutu produksi dan pelayanan diukur dengan kriteria sesuai dengan spesifikasi, cocok dengan tujuan pembuatan dan penggunaan, tanpa kesalahan (zero defects) dan bebas dari kesalahan sejak awal (right first time and every time).

Kualitas dalam persepsi diukur dari kepuasan pelanggan atau pengguna, meningkatnya minat, harapan dan kepuasan pelanggan. Dalam penyelenggaraannya, quality in fact merupakan profil lulusan lembaga pendidikan yang sesuai dengan kualifikasi tujuan pendidikan, yang berbentuk standar kemampuan dasar berupa kualifikasi akademik minimal yang dikuasai oleh peserta didik. Sedangkan pada quality in perception pendidikan adalah kepuasan dan bertambahnya minat pelanggan eksternal terhadap

10Ibid. hal. 63.

lulusan lembaga pendidikan. Dengan demikian, pemuasan pelanggan berarti mengantisipasi kebutuhan pelanggan masa datang, mengambil resiko dan mengembangkan produk serta melayani pelanggan yang membutuhkan jasa layanan pendidikan.11

Untuk mengetahui tercapainya kepuasan pelanggan diperlukan penentuan standar kualitas atau quality assurance.

Paham ini digunakan untuk menetapkan standar-standar kualitas dari semua komponen yang bekerja dalam proses produksi atau transformasi lulusan lembaga pendidikan. Standar kualitas pendidikan misalnya dapat berupa pemilikan atau akuisisi kemampuan dasar pada masing-masing bidang pembelajaran, dan sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. Selain itu, pihak manajemen juga harus menentukan standar kualitas materi kurikulum dan standar evaluasi yang akan dijadikan sebagai alat untuk mencapai standar kemampuan dasar.

Standar kualitas proses pembelajaran harus pula ditetapkan, dalam arti bahwa pihak manajemen perlu menetapkan standar kualitas proses pembelajaran yang diharapkan dapat berdaya guna untuk mengoptimalkan proses produksi dan untuk melahirkan produk yang sesuai, yaitu yang menguasai standar kualitas pendidikan berupa penguasaan standar kemampuan dasar. Pembelajaran yang dimaksud sekurang-kurangnya memenuhi karakteristik; menggunakan pendekatan pembelajaran siswa aktif (student active learning), pembelajaran kooperatif dan kolaboratif, pembelajaran konstruktif, dan pembelajaran tuntas (mastery learning).

Begitu pula pada akhirnya, pihak pengelola pendidikan menentukan standar kualitas evaluasi pembelajaran. Standar kualitas evaluasi yaitu bahwa evaluasi harus dapat mengukur tiga

11Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan: Konsep, Startegi, dan Aplikasi (Jakarta: Grasindo, 2002), hal. 37.

bentuk penguasaan peserta didik atas standar kemampuan dasar, yaitu penguasaan materi (content objectives), penguasaan metodologis (methodological objectives), dan penguasaan keterampilan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari (life skill objectives). Dengan kata lain, penilaian diarahkan pada dua aspek hasil pembelajaran, yaitu instructional effects dan nurturant effects.

Instructional effect adalah hasil-hasil yang kasat mata dari proses pembelajaran, sedangkan nurturant effect adalah hasil-hasil laten proses pembelajaran, seperti terbentuknya kebiasaan membaca, dan kebiasaan pemecahan masalah.

Dengan pemahaman di atas, sistem dan proses produksi serta penyajian produk maupun kondisi produk itu sendiri secara keseluruhan dan terpadu menjadi pusat perhatian dalam penentuan kualitas. Karena seluruh sistem, proses, serta produk harus memenuhi kebutuhan para pelanggan, terutama pengguna jasa lembaga pendidikan dan dunia kerja, maka para pelanggan dan kebutuhan mereka harus diidentifikasi serta diketahui secara objefektif. Selain itu sarana dan prasarana untuk mendukung sistem dan proses-proses tersebut harus diperhatikan.

Pengutamaan sistem dan proses dalam identifikasi atribut-atribut mutu adalah prinsip yang sangat penting dalam kualitas lembaga.

Berikut beberapa atribut pokok yang harus diperhatikan dalam meningkatkan kualitas produk:

1. Aspek relevansi

Aspek ini dimaknai sebagai kesesuaian dengan kebutuhan.

Lembaga pendidikan yang ada seharusnya didirikan sesuai dengan kebutuhan. Peran lembaga pendidikan mengantarkan pengguna jasa lembaga sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan. Oleh karenanya, beberapa pertanyaan yang patut dipertimbangkan adalah apakah sistem dan prosesnya sudah sesuai dengan kebutuhan

pengguna jasa lembaga pendidikan, baik masyarakat, pemerintah, dan dunia industri.

2. Aspek efisiensi

Kehematan dalam penggunaan sumber daya, berupa dana, waktu, dan lain sebagainya, untuk produksi dan penyajian jasa-jasa lembaga sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Analisis ini mengindikasikan untuk menghasilkan produk yang direncanakan harus sesuai dengan kebutuhan pelanggan disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang direncanakan dan tersedia dipergunakan secara hemat dan tepat, tidak boleh terjadi analisis penggunaan anggaran dan pengangkatan pegawai yang tidak tepat sasaran sehingga terjadi pemborosan atau kelebihan tenaga.

3. Aspek efektivitas

Aspek ini memuat kesesuaian perencanaan dengan hasil yang dicapai atau ketepatan sistem, metode dan proses atau prosedur yang dipergunakan untuk menghasilkan jasa yang direncanakan. Hal yang harus diperhatikan adalah metode, proses, dan prosedur harus tepat dan baik sehingga sesuai berjalan lancar dan tepat untuk membuat pelanggan puas.

4. Aspek akuntabilitas atau pertanggungjawaban

Aspek ini menyangkut kredibilitas hukum lembaga.

Kredibilitas ini menyangkut kinerja dan produk lembaga, termasuk perilaku para pengelola dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, etika, akademik, agama dan budaya.

5. Aspek kreativitas

Aspek ini menyangkut kemampuan lembaga pendidikan untuk mengadakan inovasi, pembaruan, atau menciptakan sesuatu sesuai dengan perkembangan zaman.

6. Aspek situasi win-win situation

Aspek ini menciptakan suasana yang menyenangkan dan memotivasi dalam lembaga pendidikan sehingga semua orang melaksanakan tugasnya dengan senang hati, tulus dan penuh dengan semangat.

7. Aspek penampilan

Dalam pengelolaan perlu diperhatikan kerapian, kebersihan, keindahan dan keharmonisan fisik lembaga, terutama para pengelola yang membuat situasi dan pelayanan semakin menarik.

8. Aspek empati

Perhatian pimpinan lembaga dan unit-unitnya selalu memperhatikan keadaan bawahan dengan penuh tanggung jawab serta memberikan bantuan dan dorongan penuh.

Pelayanan dan perhatian ini memerlukan kemampuan pengelola lembaga memberikan pelayanan sepenuhnya dan setulus hati kepada semua pelanggannya.

9. Aspek ketanggapan

Kemampuan lembaga khususnya para pengelola dalam memperhatikan dan memberikan respons terhadap keadaan serta kebutuhan pelanggan dengan cepat dan tepat.

10. Aspek produktivitas

Aspek ini memerlukan kemampuan lembaga dan seluruh staf pengelola untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan menurut rencana yang telah ditetapkan baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

11. Aspek kemampuan akademik

Lulusan lembaga secara akademik membutuhkan kualitas produk. Bagaimana produk lembaga yang telah dihasilkan dari proses dan prosedur pelaksanaan program pendidikan.

Apakah hasil produk sesuai dengan apa yang diharapkan atau

jauh dari kenyataan. Hal ini merupakan tanggung jawab lembaga pendidikan untuk menunjukkan keberhasilan.

Lantas bagaimana cara memantau dan mengukur terhadap kepuasan pelanggan sebagai langkah yang dapat memberikan umpan balik dan masukan bagi keperluan pengembangan dan implementasi strategi peningkatan kepuasan pelanggan. Berikut beberapa cara praktis metode dalam pengukuran kepuasan pelanggan:

1. Dengan Sistem Keluhan Dan Saran

Pengelolaan yang berpusat pada pelanggan memberikan kesempatan yang luas kepada pelanggannya untuk menyampaikan saran dan keluhan. Misalkan dengan cara menyediakan kotak saran. Informasi yang didapat dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi pengelola dan memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan cepat untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul.

2. Survei Kepuasan Pelanggan

Metode ini dilakukan untuk meneliti kepuasan pelanggan.

Penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan dengan survei, baik melalui pos maupun wawancara langsung.

Dengan cara ini lembaga pendidikan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan tanda positif bahwa lembaga pendidikan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya.

3. Ghost Shopping

Metode ini dilaksanakan dengan cara mempekerjakan beberapa orang untuk berperan atau bersikap seperti pelanggan lembaga pendidikan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam menggunakan produk.

4. Lost Customer Analysis

Lembaga berusaha menghubungi para pelanggannya yang telah berhenti menggunakan jasa lembaga pendidikan. Yang

diharapkan adalah memperoleh informasi penyebab terjadinya hal tersebut. Informasi ini sangat bermanfaat bagi lembaga untuk mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan.

Jika ditinjau dari segi manajemen bisnis, karena fokus dari kualitas ada pada kepuasan pelanggan, maka perlu dipahami komponen-komponen yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan. Secara sederhana, kepuasan pelanggan didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana kebutuhan, keinginan, dan harapan dapat terpenuhi melalui produk yang dikonsumsi. Secara rasio dapat dirumuskan persamaan kepuasan pelanggan dengan rumus: Z=X/Y, di mana Z adalah kebutuhan kepuasan pelanggan, X adalah kualitas yang dirasakan pelanggan, dan Y adalah kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan. Jika pelanggan merasakan bahwa kualitas dari produk melebihi kebutuhan dan harapan mereka maka kepuasan pelanggan akan menjadi tinggi atau bernilai besar dari satu (Z>1). Akan tetetapi, jikalau pelanggan merasakan bahwa kualitas produk lebih rendah atau lebih kecil dari kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan maka kepuasan pelanggan menjadi lebih rendah atau mempunyai nilai kecil (Z<1).

Kunci membentuk fokus kepuasan pada pelanggan adalah menempatkan karyawan untuk berhubungan langsung dengan pelanggan dan memberdayakan karyawan untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk memuaskan para pelanggan. Lantas, bagaimana cara karyawan melakukan identifikasi dalam segmen pasar yang menjadi target lembaga untuk produk tertentu yang diharapkan pelanggan. Cara untuk mengetahui harapan pelanggan dapat ditentukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan; pertama, apa karakteristik produk yang diinginkan pelanggan? Kedua, berapa tingkat performansi yang dibutuhkan untuk memenuhi harapan

pelanggan? Ketiga, bagaimana kepentingan urutan prioritas setiap karakteristik pelanggan? Keempat, bagaimana kepuasan pelanggan terhadap performansi yang ada sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban pelanggan. Hasil jawaban-jawaban pelanggan kemudian disusun sedemikian rupa sebagai bentuk karakteristik kebutuhan.

Semakin banyak jawaban pelanggan yang sama menandakan semakin banyak persoalan yang dibutuhkan. Sebaliknya, semakin kecil kebutuhannya menandakan semakin kecil pula peluang kebutuhan pasarnya. Oleh karenanya, proses mencapai keberhasilan diperlukan teknik mendengarkan suara pelanggan (listening to the voice of the customer).

Setelah mengetahui kebutuhan pelanggan proses selanjutnya dilakukan riset segmentasi pasar untuk mengetahui siapa pelanggan produk dan karakteristik serta kebutuhan pelanggan, kemudian dievaluasi tingkat persaingan pasar. Hasil dari riset pasar itu kemudian diterjemahkan ke dalam desain produk secara teknis dan karakteristik teknis yang sesuai atau cocok dengan apa kebutuhan pelanggan. Dari desain produk dilanjutkan dengan desain proses, yakni cara merancang bagaimana proses pembuatan produk sehingga diketahui karakteristik dari setiap bagian atau tahapan proses produksi.

Kemudian ditentukan proses operasi atau produksi dan arus proses produksi. Terakhir, disusun rencana produksi dan pelaksanaan produksi yang menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan pelanggan.12

Oleh karena itu pendidikan merupakan lembaga pelayan masyarakat bukan sebaliknya, lembaga yang harus dilayani masyarakat. Hubungan pelanggan dan dunia pendidikan terjalin hubungan harmonis yang saling membutuhkan, saling

12Akdon, Strategic Management For Educational Management: Manajemen Strategik untuk Manajemen Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2009), hal. 167.

memahami, saling melayani dan adanya rasa saling kebersamaan.

Saling membutuhkan dimaknai adanya kesadaran bahwa alam ini saling terkait satu sama lainnya. Lembaga membutuhkan para pelanggannya karena tanpa mereka lembaga pendidikan tidak ada.

Sebaliknya, pelanggan juga membutuhkan lembaga pendidikan, karena menyediakan berbagai jasa yang memberdayakan mereka.

Dunia kerja membutuhkan lembaga pendidikan karena dengan jasa lembaga pendidikan, dunia kerja membutuhkan tenaga profesional yang dihasilkan lewat lembaga pendidikan. Saling memahami berkaitan erat dengan saling membutuhkan dan sangat diperlukan dalam mengelola lembaga pendidikan. Apalagi pengelola lembaga pendidikan sebagai pelayan harus dengan sebaik-baiknya memahami keadaan dan kebutuhan para pelanggannya. Begitu pula kerja saling memahami harus dikembangkan antara pemimpin dan bawahan, guru dan peserta didik, dan unit-unit internal dalam lembaga pendidikan. Saling melayani sebaik-baiknya berarti nilai yang berkaitan dengan pelayanan bermutu dengan sikap dan sifat pelayan yang melayani setulus hati sehingga pelanggan merasa puas. Bukan hanya pelayan yang melayani pelanggan akan tetetapi pelanggan juga melayani pelayan. Karena pelanggan harus memberikan imbalan tertentu untuk kesejahteraan. Dalam pengelolaan lembaga pendidikan, nilai saling melayani harus ditumbuhkembangkan.

Unsur pimpinan harus menjadi panutan, karena dengan keteladanan pasti menumbuhkan pengaruh positif kepada bawahan. Apabila pimpinan menghalangi kenaikan pangkat bawahan tanpa alasan yang objefektif, maka pimpinan tersebut tidak melayani bawahan bersangkutan dengan setulus hati.

Apabila seorang bawahan tidak melaksanakan tugasnya sesuai arahan pimpinan, maka bawahan bersangkutan tidak melayani pimpinannya juga dengan tidak setulus hati. Sedangkan nilai kebersamaan mengandung pengertian rasa memiliki lembaga

secara bersama-sama. Kualitas akan mudah tercapai apabila rasa kebersamaan berkembang dan menjadi landasan para pengelola untuk bekerja memajukan lembaga secara bersama-sama. Rasa kebersamaan yang dipandang sebagai nilai bukan rasa kebersamaan primordial melainkan rasa kebersamaan menyeluruh yang mendorong berkembangnya situasi legowo dan keadilan bagi semua staf.

Memang agak sulit menerapkan konsep melayani dengan setulus hati. Kesadaran dengan prinsip tersebut di atas sangat lemah dan sikap paternalistik feodalistik cenderung menganggap masyarakat yang membutuhkan lembaga. Sikap ini diperparah dengan sikap birokratis berlebihan serta disertai dengan kekuasaan represif. Anggapan bahwa dunia nyata membutuhkan lembaga pendidikan bukan lembaga pendidikan yang membutuhkan dunia kerja adalah bukti kongkrit kesombongan intelektual yang digagas lembaga pendidikan. Terhadap dunia kerja lembaga pendidikan tidak membutuhkan tetapi kenyataannya sukses tidaknya lulusan lembaga pendidikan akan terbaca dengan seberapa besar lulusan dapat terserap dunia kerja.

Sikap dan sifat yang berat sebelah akan menyebabkan situasi dialogis tidak berkembang dengan baik.

Persoalan penting lainnya yang harus mendapatkan prioritas dalam kaitannya dengan pelayanan lembaga pendidikan adalah persaingan antara lembaga pendidikan dan lembaga pendidikan, antara lembaga pendidikan dengan dunia kerja dan antara dunia kerja dengan dunia kerja yang membutuhkan strategi khusus supaya lembaga pendidikan dapat eksis di tengah persaingan lembaga dan dunia kerja yang ketat.

Oleh karenanya lembaga pendidikan harus mendudukkan diri mempunyai posisi tawar yang tinggi yang dapat memberikan jaminan kesuksesan yang menjanjikan terhadap dunia luar. Jika demikian, maka diperlukan strategi yang jitu. Beberapa persoalan

penting yang dapat dijadikan landasan dasar pengelolaan, yaitu;

produktif, efisien dan efektif. Untuk dapat mencapai landasan dasar ini dapat dilihat dari strategi internal dan eksternal.

Strategi internal adalah bagaimana menanamkan kepada seluruh pelaku pendidikan atau stakeholders mempunyai jiwa entrepreneurship dalam konsep triangle business culture atau segitiga budaya bisnis, yaitu Commitmentt, consistence dan competence. Secara singkat dapat dijelaskan seperti gambar berikut;

Commitment

Competence Consistence

Dari gambar tersebut bermakna bahwa Commitmentt mempunyai arti setiap person yang mempunyai jabatan struktural di lembaga pendidikan harus mempunyai komitmen untuk menggerakkan roda organisasi sesuai dengan visi dan misi lembaga pendidikan dan harus mempunyai tujuan dan target yang harus dicapai sesuai dengan rancangan kerja. Competence dimaknai penempatan person pada jabatan struktur harus benar-benar melalui seleksi yang ketat sesuai dengan pos yang telah ditentukan. Sedangkan consistence dimaknai seluruh personal yang mempunyai jabatan struktur harus bekerja secara team dan menjalankan roda organisasi dengan penuh dedikasi dan keteguhan sesuai dengan standar prosedur pelaksanaan.

Sedangkan strategi eksternal adalah bagaimana menanamkan kepada para stakeholders untuk menguasai market atau pasar dan mengalahkan kompetitor serta menciptakan proyek-proyek kerjasama yang saling menguntungkan antara lembaga pendidikan dengan dunia luar, yang terkonsep dalam

triangle business strategy atau strategi segitiga bisnis, yaitu antara customer, corporate dan competitor. Lihat gambar berikut ini;

Customer

Corporate Competitor

Gambar tersebut memberi makna bahwa customer ditempatkan sebagai keluarga besar lembaga sehingga dengan demikian customer dapat selalu memberikan masukan kepada lembaga dalam menjalankan roda organisasi yang produktif, efisien dan efektif. Corporate dimaknai fungsi kelembagaan pendidikan dalam menghasilkan lulusan dapat bersaing secara global, melaksanakan pola kerja dengan instansi negeri maupun swasta agar para alumni dapat bekerja di lembaga-lembaga yang ada. Competitor dimaknai bahwa fungsi lembaga pendidikan dalam memenangi persaingan dalam produk-produk unggulan dengan membentuk pola kerjasama antar lembaga pendidikan yang saling menguntungkan.

Bab II

Perubahan Budaya

ergumulan pergaulan global, telah banyak dibicarakan bahwa kemajuan dan perkembangan suatu negara ditentukan oleh keberadaan dan pendayagunaan sumber daya yang berkualitas dan sebaliknya bahwa kemunduran suatu negara dan kekalahan bersaing suatu bisnis sangat ditentukan sumber daya manusia tidak berkualitas dan daya saing rendah. Kualitas sumber daya manusia diantaranya ditentukan lewat lembaga pendidikan yang menghargai produk kualitas dan budaya pengelolaan yang mendukung kualitas.

Secara konseptual, lembaga pendidikan mendesain daya saing yang merupakan hasil puncak dari berbagai keunggulan dan nilai lebih yang dimiliki untuk membuat produk, baik berupa organisasi, produk maupun jasa yang diorganisir dan dicitrakan sebagai suatu kekuatan terbaik, yang kemudian melahirkan satu jati diri. Jati diri ini diharapkan mampu menciptakan kualitas identitas produk yang unggul dan kompetitif.

Dokumen terkait