• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran Program/Kegiatan “Meningkatnya Koordinasi

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

B. ANALISIS AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2013

11. Sasaran Program/Kegiatan “Meningkatnya Koordinasi

11. Sasaran Program/Kegiatan “Meningkatnya Koordinasi Pelaksanaan Tugas, Pembinaan dan Pemberian Dukungan Manajemen Kementerian Kesehatan”

Untuk mengukur keberhasilan sasaran program/kegiatan tersebut di atas ditetapkan indikator :

a. Persentase provinsi dan kabupaten/kota yang memiliki bank data kesehatan

Bank data kesehatan menampung berbagai database terkait indikator-indikator kesehatan yang dihasilkan dari sistem pencatatan dan pelaporan yang ada. Bentuk fisik bank data kesehatan adalah suatu aplikasi yang digunakan untuk menampung dan mengelola berbagai database kesehatan.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

Kondisi yang dicapai:

Pada tahun 2013, realisasi kinerja indikator ini adalah 76,10 % dari target yang ditetapkan sebesar 75 %. Jika dibandingkan dengan tahun 2012 realisasi sebesar 70,10 % dan 2011 sebesar 65,05 % maka terdapat kenaikan realisasi secara terus menerus. Kondisi tersebut tergambar dalam grafik berikut.

Grafik 19

Perbandingan Target dan Realisasi Capaian Indikator Provinsi dan Kab/Kota yang Memiliki Bank Data Kesehatan Tahun 2010-2013

Grafik di atas merupakan perbandingan target dan realisasi capaian indikator kinerja persentase provinsi dan kabupaten/kota yang memiliki bank data kesehatan tahun 2013 dengan tahun 2010, 2011 dan 2012. Pada tahun 2010, capaian kinerja untuk indikator ini adalah 60% dari target 60%, tahun 2011 capaian kinerjanya mengalami kenaikan menjadi 65,05% dari target 65%, tahun 2012 naik menjadi 70,10% dari target 70% dan tahun 2013 naik menjadi 76,1% dari target 75% yang ditetapkan.

Kegiatan yang menunjang keberhasilan pencapaian indikator tersebut antara lain :

1. Pengelolaan konten website secara intensif dengan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

2. Penyusunan format database, pengelolaan bank data, pengembangan bank data dan pengelolaan admin jaringan.

Keberhasilan indikator ini dikarenakan telah tersambungnya 33 Provinsi dan 497 kabupaten/kota melalui jaringan Siknas Online, pemberian honor pengelola SIK di 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota melalui dana dekonsentrasi, dan meningkatkan tersedianya data profil yang sudah dimasukkan ke dalam website masing-masing provinsi dan kabupaten/kota sehingga dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkannya. Disamping upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan tahun 2013 yaitu:

1. Perbaikan dan penataan bank data

2. Pendampingan dalam implementasi bank data 3. Sosialisasi bank data

4. Peningkatan kapasitas tenaga pengelola bank data dengan pelatihan dan pendampingan

5. Advokasi kepada pejabat daerah terkait tenaga pengelola bank data.

Permasalahan :

1) Masih terbatasnya kelengkapan dan kontinuitas data.

2) Dukungan sumber daya terutama sumber daya manusia masih terbatas

Usul Pemecahan Masalah:

1) Pendampingan penyusunan dan implementasi penilaian kualitas data, dan update muatan bank data serta sosialisasi bank data. 2) Peningkatan kapasitas tenaga pengelola bank data melalui

kegiatan pelatihan.

3) Penguatan pentingnya tenaga pengelola bank data yang tetap kepada pejabat agar data berkesinambungan.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

b. Persentase produk administrasi kepegawaian yang dikelola melalui Sistem Layanan Kepegawaian (SILK)

Pengelolaan administrasi kepegawaian melalui SILK menjadikan terintegrasinya database kepegawaian (SIMKA untuk pegawai PNS dan SIMPEG untuk PTT). Penggunaan SILK ini meningkatkan kecepatan waktu dalam penyelesaian produk kepegawaian sehingga menjadi lebih tertib administrasi, tepat jadwal, menghindari hubungan langsung antara petugas dengan klien, menghindari kesalahan produk dan lebih transparan karena seluruh tahapan proses dan permasalahan secara otomatis dapat dan mudah diakses melalui website.

Saat ini telah dilakukan upaya peningkatan kualitas SILK yang diarahkan untuk mengintegrasikan pengelolaan database pegawai Kementerian Kesehatan, Sistem Penilaian Kerja Pegawai, pengembangan pegawai, dan keperluan kepegawaian lainnya. Sertifikasi ISO 9001 : 2008 dilakukan untuk menjaga mutu layanan. Kemudahan akses proses kenaikan pangkat dapat digambarkan seperti terlihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 17

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

Dalam kurun waktu 2013, Kementerian Kesehatan terus melakukan upaya dalam meningkatkan transparansi pelayanan administrasi kepegawaian melalui penguatan kualitas dan pengembangan Sistem Informasi berbasis WEB secara On-line. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan adalah dengan penilaian sertifikasi kembali pada 14 (empat) belas produk pengelolaan administrasi kepegawaian yang dilakukan sertifikasi ISO 9001:2008 yaitu Penerbitan SK Peningkatan status CPNS menjadi PNS, Penerbitan Surat Keterangan Kenaikan Gaji Berkala di lingkungan Setjen, Pengelolaan penyimpanan arsip Ujian Dinas, Penyesuaian Ijazah, Penerbitan SK Pengangkatan Pertama Jabatan Fungsional, dan Pemberian Penghargaan KBH dan Satya Karya Lencana. Selain itu alur dan mekanisme penyelesaian administrasi kepegawaian terus disempurnakan sebagaimana gambar di bawah ini :

Gambar 18

Bagan Mekanisme Usul dan Pengelolaan Proses Administrasi Kepegawaian

Keberhasilan sistem online dan penerapan sertifikasi ISO ini terlihat dengan semakin tertib administrasi dan tertib aturan dibidang kepegawaian, sehingga dapat diselesaikan dengan lebih cepat, lebih

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

tepat, lebih transparan dan dapat dimonitor perkembangan proses kepegawaiannya. Demikian juga untuk produk administrasi kepegawaian yang lainnya terus dikembangkan seperti proses penyelesaian pensiun dan pemindahan dapat dimonitor dalam website Kementerian Kesehatan.

Adapun pengukuran pada indikator kinerja “Presentase Produk

Administrasi Kepegawaian yang dikelola melalui layanan

kepegawaian (SILK)” adalah jumlah penyempurnaan, pengembangan dan penguatan kualitas fungsi-fungsi yang ada pada SILK terkait dengan pemanfaatan database pegawai SIMKA/SIMPEG terhadap jumlah produk administrasi kepegawaian.

Grafik 20

Persentase produk administrasi kepegawaian yang dikelola melalui Sistem Layanan Kepegawaian (SILK)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 2010 2011 2012 2013 2014 Target Realisasi

Kondisi yang dicapai

Secara umum, hasil capaian kinerja Biro Kepegawaian tahun 2013 pada indikator kinerja Presentase produk administrasi kepegawaian yang dikelola melalui layanan kepegawaian (SILK) telah mencapai target yang telah ditetapkan yaitu 60% dengan realisasi 79%, yang tercermin dari proses administrasi kepegawaian semula dikelola secara manual saat ini telah beralih melalui sistem layanan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

kepegawaian (SILK) yang secara penuh sudah menggunakan satu database pegawai dan terintegrasi dengan SIMKA dan SIMPEG yang dilakukan satu pintu secara on-line. Namun demikian capaian kinerja ini dirasa masih belum optimal dan terus dikembangan, disempurnakan dan ditingkatkan kualitasnya secara komprehensif.

Permasalahan :

1) Kurangnya sosialisasi tentang manajemen kepegawaian (pemahaman tentang alur, mekanisme, tatacara, pedoman, persyaratan, aturan-aturan yang berlaku) dan sumber daya yang dimiliki (termasuk SDM).

2) Kurangnya koordinasi pengelolaan administrasi kepegawaian. 3) Belum optimalnya penggunaan dan pengelolaan sistem informasi

layanan kepegawaian di Unit Pelaksana Teknis (UPT).

4) Kurangnya peran dan fungsi tim pengelola kepegawaian di Unit Pelaksana Teknis (UPT).

Upaya pemecahan masalah :

1) Meningkatkan kualitas manajemen kepegawaian dan sumber daya yang dimiliki (termasuk SDM), sehingga seluruh sumber daya yang dimiliki mendukung dalam penyelesaian kepegawaian. 2) Mengoptimalkan peran dan fungsi koordinasi kegiatan

pengelolaan administrasi kepegawaian secara lintas program maupun lintas sector.

3) Meningkatkan penggunaan dan pengelolaan sistem informasi layanan kepegawaian (SILK) dengan melakukan update data SIMKA setiap kali ada perubahan data kepegawaian.

4) Membangun komitmen sesuai dengan peran dan fungsi pengelola kepegawaian di tingkat Pusat maupun di Unit Pelaksana Teknis (UPT).

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

c. Persentase pengadaan menggunakan e-procurement

Penetapan indikator ini bertujuan untuk mewujudkan pelaksanaan APBN yang berkualitas, transparan dan akuntabel. Indikator ini merupakan komponen penting dalam rangka mewujudkan upaya meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Kondisi yang dicapai:

Target pengadaan barang dan jasa di lingkungan Kementerian Kesehatan menggunakan e-procurement untuk tahun 2013 sebesar 85% dan terealisasi sebesar 93,94%. Dengan demikian, persentase pencapaian kinerja telah mencapai sebesar 110,59%. Dasar penetapan target dan realisasi ini adalah penghitungan jumlah satker Kantor Pusat dan Kantor Daerah di Provinsi Jakarta yang melaksanakan pengadaan dengan menggunakan e-procurement Kementerian Kesehatan.

Besarnya realisasi pengadaan yang dicapai didukung oleh inovasi terobosan yang telah dilakukan, antara lain:

1) Pembentukan Unit Layanan Pengadaan yang ditetapkan melalui Permenkes Nomor 1893/MENKES/PER/IX/2011 tentang Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa di lingkungan Kementerian Kesehatan.

2) Dilakukannya Nota Kesepahaman antara Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dengan Kementerian Kesehatan Nomor 22 Tahun 2013/Nomor 446.a/Menkes/SK/XI/2013 tentang Pengembangan Unit Layanan Pengadaan Percontohan pada Kementerian Kesehatan.

3) Dilaksanakannya Kesepakatan Tingkat Layanan Service Level Agreement (SLA) antara Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kementerian Kesehatan.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

4) Pembentukan Tim Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri di lingkungan Kementerian Kesehatan yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 311/Menkes/SK/IX/2013.

Keberhasilan penghematan keuangan negara melalui kegiatan

pengadaan menggunakan e-procurement, sebesar Rp.

657.196.718.779 atau sebesar 9,88% dari pagu Kementerian Kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI meraih penghargaan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri Cinta Karya Bangsa

Berikut disampaikan pula grafik perbandingan Target dan Realisasi capaian indikator persentase pengadaan menggunakan e-procurement dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013.

Gambar19- Wakil Menteri Kesehatan saat menerima penghargaan Cinta Karya Bangsa dari Wakil Presiden

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

Grafik 21

Perbandingan Target dan Realisasi capaian indikator ” Persentase pengadaan menggunakan e-procurement“

Tahun 2010- 2013 dan Tahun Akhir Renstra

Permasalahan :

1) Belum tersusunnya SOP pelayanan pengadaan pada Unit Layanan Pengadaan.

2) Belum dilaksanakannya proses pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Pengadaan Barang/Jasa melalui Mekanisme Penyesuaian/Inpassing.

3) Belum optimalnya pengisian Sistem Rencana Umum Pengadaan (SIRUP).

Usul Pemecahan masalah :

1) Mengusulkan pada pimpinan agar ditetapkannya SOP pelayanan pengadaan pada Unit Layanan Pengadaan sehingga tugas dan fungsi ULP dapat lebih jelas.

2) Dalam rangka pengembangan karier dan peningkatan profesionalisme ULP perlu pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Pengadaan Barang/Jasa melalui Mekanisme Penyesuaian/Inpassing.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

4) Meningkatkan koordinasi dan konsultasi yang berkelanjutan dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

Rencana Tindak Lanjut

1) Membuat Peraturan Menteri Kesehatan tentang SOP Pelayanan Pengadaan pada Unit Layanan Pengadaan di lingkungan Kementerian Kesehatan.

2) Segera melakukan penyesuaian/inpassing Jabatan Fungsional Pengadaan Barang/Jasa.

3) Mengusulkan ULP kedalam Struktur Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.

4) Peningkatan koordinasi dan konsultasi yang berkelanjutan

dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

12. Sasaran Program/Kegiatan “Meningkatnya Pengawasan dan